UNBREAKABLE PROMISE

.

Disclaimer : Karakter yang dipakai di dalam ff ini adalah milik Masashi Kishimoto

.

.

.

Original Story : Si Hitam

Written by : Valentinexxx, Si Hitam and ForgetMeNot09

Editor : ForgetMeNot09


Chapter 7

...

Resepsi pernikahan telah usai sejak dua jam yang lalu. Dan di sinilah pasangan pengantin baru ini berada, pintu kamar menyambut keduanya. Mei sudah ingin menyentuh kenop pintu saat suara Naruto di sebelahnya menginterupsi.

"Boleh aku ke bawah sebentar? Ada hal yang ingin kulakukan."

"..."

"Hanya sebentar," lanjut Naruto saat Mei menatapnya penuh tanda tanya. Ia takut Mei mengira ia akan meninggalkannya untuk tidur di kamar lain di malam pernikahan mereka.

"Baiklah."

Mei mengangguk sekali.

Wanita itu mengamati Naruto menuruni tangga hingga sosoknya menghilang, lalu perhatiannya kembali pada pintu kamar. Ia masuk, disambut oleh aroma mawar yang samar tercium, tidak terlalu kuat sampai menusuk hidung tapi cukup segar dan menenangkan.

Kamar ini adalah kamar pribadi Mei yang telah diatur sedemikian rupa sehingga menjadi kamar pengantin untuk mereka berdua. Melihat ke arah kasur, terhampar kelopak-kelopak mawar. Sepertinya para pelayan dan Kushina terlalu berlebihan dalam menghias ruang kamar ini. Mei mengulas senyum. Meski bukan pernikahan pertamanya, tapi ia senang melihat antusiasme orang-orang terdekatnya dalam merancang segala keperluan pernikahan termasuk kamar pengantin.

Selembar kertas yang sedari tadi dipegang ia masukkan ke dalam laci meja rias. Ia sama sekali tidak ingat siapa dari salah satu tamu yang menyelipkan kertas itu di tangannya. Bisa saja membuang kertas itu tetapi ia merasa ada yang tidak beres, itulah sebabnya ia memilih menyimpan dan akan mengurusnya besok. Lebih baik sekarang ia mandi sembari menunggu Naruto kembali.

Sementara itu, Naruto berjalan menyusuri mansion. Beruntung semua penghuni mansion sudah beristirahat di kamar masing-masing, mungkin karena lelah setelah sibuk dengan acara pernikahannya, jadi tidak akan ada yang mencurigainya sebab berkeliaran tengah malam. Apalagi ini adalah malam pertama usai pernikahannya dengan Mei.

Sebuah ruangan di ujung lorong adalah tujuannya. Derit pintu terdengar saat ia buka, temaram cahaya keemasan terpantul dalam mata biru Naruto. Ruangan ini masih sama saat terakhir kali ia kemari, hanya saja kursi goyang tua yang seingatnya terletak di depan meja kini sudah berpindah ke sudut ruangan.

Naruto berdiri menghadap foto yang terpajang di dinding. Foto mendiang suami Mei. Ia tidak mengerti mengapa hatinya merasa perlu kemari.

Meminta restu?

Terdengar tidak logis.

Hatinya merasa ada sesuatu menjadi beban, terasa seperti ia merebut Mei dari suaminya meski kenyataannya tidak seperti itu. Meilah yang memintanya untuk menjadi teman hidup sampai ajal menjemput, dan sudah seharusnya Naruto menyanggupi. Ia tulus ingin menemani Mei agar wanita itu tidak lagi merasa kesepian.

"Mei rapuh sejak kepergianmu, sekarang menjadi tugasku untuk menguatkan dan melindunginya."

Naruto bermonolog di depan foto itu.

Ia bertekad akan memberikan seluruh hidupnya untuk kebahagiaan Mei, ia akan melindungi dan menemaninya sampai ujung usia. Bukan sekadar alasan balas budi, tapi juga karena Naruto memang menginginkannya. Tidak lagi ingin melihat Mei yang rapuh dan kesepian, ia ingin melihat wanita itu terus diliputi kebahagiaan.

Ia memejamkan mata dan mulai menunduk, sebagai penghormatan pada almarhum suami Mei.

Setelahnya ia kembali mengangkat kepala dan menatap lurus penuh keyakinan pada foto itu.

"Aku akan berusaha membahagiakannya."

...

Mei keluar dari kamar mandi dengan kimono handuk sebagai penutup tubuhnya. Rambut yang masih basah ia usap lalu digerai. Ia mengamati ruangan kamarnya yang kosong. Naruto belum kembali, pikirnya.

Suara bising pengering rambut memecah sunyinya malam. Wajah berhadapan dengan bayangannya sendiri dalam cermin. Ia nikmati embusan hangat dari mesin pengering rambut itu.

Saat dirasa rambutnya sudah tak lagi basah, Mei membuka lemari untuk mencari baju yang bisa ia pakai malam ini. Sebuah gaun tidur berwarna fuchsia dengan corak bunga lili yang agak tipis menjadi pilihannya.

Gaun tidur yang ... tampak seksi ketika Mei memakainya, sangat seksi. Gaun yang cukup terbuka sehingga memperlihatkan beberapa bagian tubuh Mei, bahkan kian terlihat ketika temaram lampu kamar menembus kain tipisnya. Lekukan dan tonjolan tercetak jelas di tempat yang memang seharusnya, dengan ukuran ideal dan proporsional sehingga memberi nilai keindahan jauh melebihi wanita pada umumnya.

Tirai balkon kamar bergerak-gerak saat angin malam berhembus melewati jendela yang tak tertutup, mengantarkan hawa dingin menembus gaun tidurnya yang panjang. Ia belum ingin tidur sekarang, ya memang ia tak boleh tidur dahulu sehingga ia lebih memilih ke balkon kamar menikmati semilir angin malam. Tangannya menggenggam pagar besi pembatas balkon, menengadah memandang langit. Ia tidak menyangka dirinya benar-benar sudah menikah untuk yang kedua kali. Yang kedua dengan Naruto, anak yang sepuluh tahun lalu ia pungut di pinggir jalan, lalu ia rawat dan pelihara, hingga sekarang sudah matang dan dewasa. Mei mengandaikan diri memetik buah manis dari bibit yang dulu ia semai.

Lama Mei berdiri. Banyak hal melintas di benaknya selama melamun. Ia yang tak lagi muda dan telah melewati cukup banyak asam garam kehidupan, tentunya memiliki banyak kenangan.

Semua kenangan itulah, sebagai pelajaran dan pengalaman hidup, yang menjadikan dirinya seperti sekarang ini.

Mei berjengit saat sebuah mantel tersampir di bahunya, ketika menoleh, sosok Naruto yang ia lihat.

"Kau bisa sakit jika terlalu lama terkena angin malam."

Terasa seperti de javu. Mei pernah mendapat perlakuan seperti ini saat sendirian berkutat dengan sedih di perpustakaan kecil pribadinya, oleh Naruto yang memamerkan senyum menenangkan.

Mei baru menyadari kehadiran Naruto yang entah sudah sejak kapan ada di dekatnya. Aroma sabun yang segar dan rambut kuningnya yang basah menandakan pria itu baru selesai mandi. Laki-laki itu mengenakan kaos polos yang sedikit longgar.

Dalam hati Mei memuji keberanian Naruto yang berani memakai kamar mandinya tanpa meminta izin lebih dahulu. Naruto terkesan tak sopan, tapi Mei tak memiliki alasan untuk tidak memakluminya. Toh, mereka sudah resmi menikah.

"Kapan kau datang?"

"Cukup lama untuk menyaksikan kau yangs edang melamun," kata Naruto sembari ikut berdiri di samping Mei.

Mei merapatkan mantel yang disampirkan Naruto di bahunya. Dirinya memang sedikit menggigil karena terlalu lama membiarkan kulit bercumbu dengan angin malam. Ia melirik ke arah Naruto, gurat dewasa jelas terlihat meski ia memandangnya dari samping. Perlahan, senyumnya mengembang. Hatinya merasa lega mungkin karena sekarang ia tidak sendiri lagi. Ia sudah memiliki Naruto sebagai teman hidup yang akan melengkapinya.

"Kau dari mana?"

Mei bertanya.

"Aku ..."

Naruto memberi jeda, berpikir apa perlu ia mengatakannya atau tidak, "Ruang perpustakaan kecil di ujung lorong yang ada foto besar ..."

Naruto berujar ragu, melihat Mei yang memandangnya dengan mata terkejut membuatnya urung melanjutkan kalimat.

"Kau sungguh dari sana!"

Pertanyaan Mei menuntut ketegasan jawaban. Naruto mengangguk, sedikit takut. Mei mengalihkan pandangannya ke arah lain, wajahnya berubah sendu. Ia hampir selalu tak mampu menahan air mata bila teringat mendiang sang suami, satu-satunya pria yang ia cintai dengan segenap hati dan hidupnya.

Naruto yang menyadari perubahan Mei dengan lembut menarik tubuh wanita itu dalam pelukan.

"Semua akan baik-baik saja," bisik Naruto pada Mei yang berada dalam dekapannya.

Ia tahu Mei sangat mencintai almarhum suaminya, sampai sekarang. Dan Naruto tidak akan memaksa perasaan Mei untuk berubah. Sudah cukup baginya mendampingi dan melindungi Mei Terumi sebagai seorang suami. Mereka telah berikrar untuk menjalani kehidupan rumah tangga bersama sebagai suami istri.

Untuk sekarang, Naruto hanya tahu inilah satu-satunya cara membuat Mei jadi lebih kuat dan tegar mengarungi hidup serta melepaskan diri dari jerat penderitaan masa lalu.

Naruto tak perlu mendengar suara isakan hanya untuk mengetahui kalau istrinya ini sedang menangis. Ia yakin setelah Mei menumpahkan semua sakit dan derita yang terakumulasi selama belasan tahun ini, pundak Mei pasti akan sangat ringan. Mei akan melalui hari-hari menyenangkan.

Pelukan Naruto makin erat, ia seolah mengatakan, "Berikan seribu rasa sakit dan deritamu padaku lalu aku akan menggantinya dengan seribu kebahagiaan."

Sampai dua belas menit berlalu.

"N-naruto, s-sesak."

"Ah, maaf."

Sontak Naruto melepas dekapannya. Ia merasa bersalah karena terlalu jauh bertindak.

"Tak apa."

Mei menyeka bulir air mata terakhir di sudut matanya, "Lagi pula aku senang," lanjutnya dengan senyuman lebar.

Sebuah senyuman yang muncul menggantikan tangis, itu nampak seperti langit cerah pagi hari yang datang menggantikan hujan badai semalaman. Dalam hati, Mei percaya bahwa itu adalah bulir air mata kesedihannya yang terakhir. Bersama Naruto, tak akan pernah lagi ia meneteskan air mata itu.

Mei menutup mata sembari menghirup napas dalam, ia mencukupkan diri dari gelombang perasaan lalu beralih kepada kenyataan, di mana ia adalah seorang istri dengan tugas barunya.

"Mau ke sana sekarang, Naruto?"

Naruto berpaling muka menuju ke arah yang ditunjuk Mei.

Ranjang

Di mata Naruto, tempat itu tiba-tiba tampak lebih sakral dari sebelumnya, lebih gemerlap dari sudut-sudut lain di dalam kamar.

Naruto meneguk ludah, gugup juga malu. Dia tampak kikuk. Seharusnya sebagai pengantin pria dialah yang mengajak Mei, bukan sebaliknya.

Mungkin Mei mengambil inisiatif lebih dulu sebab wanita ini pernah bersuami, pun sadar kalau Naruto masih belum berani. Atau bisa jadi sebab hati nakal Mei sudah sejak lama menginginkan malam ini semenjak menjanda dari belasan tahun lalu, dan ia hampir tak sanggup lagi menahan hasratnya.

Perlahan Naruto mengangguk. Mei mununggu sejenak.

Langkah pertama berasal dari kaki Naruto, Mei pun mengikuti tepat di belakangnya.

Mei menyukai tindakan impulsif Naruto yang cepat sesuai gerak hatinya.

Tanpa tahu yang sebenarnya, Naruto hendak pingsan karena pikirannya penuh dengan kehati-hatian agar tidak berbuat sesuatu yang tak istrinya sukai, ditambah dengan detak jantungnya yang kian kencang tak keruan.

Naruto duduk di tepi ranjang sementara Mei menempatkan diri persis di sisi kiri Naruto. Pandangan mereka searah, menuju langit malam di balik jendela.

Naruto memberanikan diri menyentuh tangan kanan Mei yang bebas di sisi kasur, ia taut dan genggam dengan lembut. Mei tersenyum dalam hati. Memang sengaja ia meletakkan tangan di sana, persis di dekat Naruto duduk.

"Emm, tidak adakah yang kau ingin bicarakan?"

Mei buka suara, ingin mencairkan suasana. Ia kasihan pada Naruto yang wajahnya tampak sangat gugup dan tegang, walau sebenarnya ia sendiri juga begitu. Hanya saja ia lebih bisa mengendalikan diri.

"Tidak tahu."

"Hm?"

"Ya, aku bingung ingin membicarakan apa denganmu. Maaf."

"Kalau begitu, tidakkah kau ingin menciumku?"

"A..."

Naruto kelimpungan. Ia masih belum siap.

"Tadi di altar depan pendeta kau berani, di depan banyak orang pula. Kenapa saat hanya kita berdua saja kau enggan?"

Pernyataan Mei tidak bermaksud buruk, ia hanya ingin memotivasi Naruto agar lebih berani mengambil langkah maju.

Naruto berusaha mengendalikan dirinya. Ketika ia merasa sudah siap, ia pun berpaling menghadap Mei. Meski wajahnya masih menunjukkan raut tegang, tetapi wajah itu bergerak maju menuju wanitanya.

Mei menutup mata.

Chuuuu

Mei membuka mata dengan wajah masam, "Kenapa hanya di kening?"

"Ya, kau tahu kan apa arti ciuman di kening?"

Pertanyaan dari Naruto membuat Mei terdiam. Ciuman di kening dari suami kepada istri seringkali diartikan sebagai ungkapan cinta yang begitu mendalam.

Tiba-tiba Mei mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanan Naruto.

Naruto menganga dan mengeluarkan suara tak jelas, " uuuuu ..."

"Jawabanmu atas pertanyaanku tadi, harus kuakui kalau itu membuatku sedikit tersentuh."

Ya, itu memaksa Mei harus menghadiahkan ciuman balasan.

Sementara nyawa Naruto masih belum kembali ke raga akibat kejutan tadi, Mei terkikik geli.

"Fufuuu, Naruto. Kau lucu sekali."

"Ah, it ... anoo ..."

Kemudian Mei memasang ekspresi serius di wajahnya.

"Ketika masih di ruang ganti, aku sudah bilang padamu alasan aku ingin kau menikahiku?"

Naruto coba lebih santai, ia tanggapi pertanyaan Mei sewajarnya, "Ya. Kau takut masa tuamu dihabiskan bersama sepi dan kesendirian. Kau tidak ingin merasakan penderitaan itu lagi, dan ingin ada orang yang menemanimu sampai ajal menjemput. Begitu?"

"Ya, bertahun-tahun aku berusaha hidup tegar di mata orang lain, tapi rapuhnya hatiku tak pernah sembuh. Sekarang, aku merasa sudah tak sanggup lagi hidup sendiri. Tidak ingin berakhir sepi dan sendirian di penghujung usiaku nanti adalah alasan aku menginginkan seseorang di sisiku, seseorang yang mau saling berbagi segala hal denganku."

"Uhm, ya aku sendiri pun tak sanggup membayangkan masa tuaku seperti itu. Jadi, aku mengerti perasaanmu."

"Tapi apa kau tahu, kenapa kau laki-laki yang kupilih?"

Naruto menggeleng, "Jujur, aku penasaran tentang itu."

"Ketika aku mulai berpikir siapa laki-laki itu, siapa yang dapat aku percaya. Satu-satunya jawaban yang kudapat adalah kau, Naruto."

"Alasannya?"

"Bagiku, tak ada alasan maupun setitik keraguan yang membuatku tidak memilihmu sebagai suami. Hanya kau satu-satunya orang yang tepat. Kau satu-satunya orang terdekat yang aku percayai sepenuhnya. Kau tidak akan pernah mengkhianati dan meninggalkanku, yang pasti akan melakukan apa pun untukku. Itu adalah balas budimu atas jasaku padamu selama ini. Aku akan jadi orang jahat kalau ternyata aku memanfaatkan balas budimu itu, jadi aku tak akan memintamu menikahiku kalau kau merasa bahwa balas budi itu sebagai kewajiban. Namun belakangan aku sadar kalau kau ingin membalas budi bukan karena merasa itu kewajibanmu tapi karena memang kau menginginkannya dari dalam lubuk hatimu. Bukan kewajiban melainkan keinginan, sebab itulah aku yakin pernikahan kita tak akan menjadi beban bagimu."

Naruto speechless. Apa benar dirinya seperti itu, sebaik apa yang dituturkan Mei tadi. Ia sendiri bahkan tak menyadari. Benarkah Mei lebih mengerti tentang isi hatinya daripada ia sendiri?

"Naruto, kalau boleh aku ingin menciummu sekarang. Di bibir."

"Hah!?"

Mata Naruto melotot tak percaya.

Mei tertawa, "Hei. Bukankan itu wajar? Aku tidak tahu lagi dengan cara apa aku menanggapi kebaikan hatimu itu."

Naruto mengangguk setuju. Toh, cepat atau lambat pasti akan tiba saatnya ia berciuman dengan Mei di bibir.

"Aaahh, aku sungguh sudah menantikannya sejak tadi."

Mei terlihat sangat senang. Ia mencondongkan badan kearah Naruto, mendongak sedikit pada tubuh Naruto yang lebih tinggi sembari menutup mata.

Tanpa bicara apa pun lagi, Naruto ikut menutup mata lalu mendekatkan wajahnya pada Mei.

Ciuman mereka lembut, pelan dan tak terburu-buru. Keduanya sama-sama ingin meresapi perasaan masing-masing.

Pertemuan kedua bibir itu tidak terlalu lama. Baik Mei maupun Naruto merasakan hatinya terus menghangat, rasanya begitu nyaman sampai ia melupakan dirinya sendiri. Perasaan ini, perasaan luar biasa yang baru pertama kali Naruto rasakan, serta perasaan nyaman yang baru Mei rasakan lagi setelah belasan tahun lamanya.

Ciuman bibir mereka, hampir persis seperti saat di altar pernikahan siang tadi. Hanya saja untuk malam ini sensasinya sedikit berbeda, terasa lebih dalam dan sedikit erotis.

Mei bahagia, begitu pula Naruto. Hati keduanya tak bisa dibohongi.

Tiba-tiba Mei bertanya, "Aku ingin tahu rasa apa yang kau dapat dari ciuman tadi, Naruto?"

"Lembut dan manis," jawab Naruto terus terang, "Kalau kau?"

"Hangat dan basah."

Blusshh

Pikiran Naruto langsung ke mana-mana. Pipinya memerah akibat godaan Mei.

Dimata Mei, pemuda pirang ini begitu lucu. Setiap tingkahnya begitu natural, khas anak-anak yang polos. Ia tak bisa untuk tidak bersyukur setiap kali melihat Naruto berada di sisinya.

"Anooo ... Mei."

Naruto tampak ragu, "Tentang semua alasanmu memintaku menikahimu, Mei. Kalau hanya untuk menjadi temanmu sampai ajal menjemput, menghilangkan rasa takutmu akan sepi dan sendirian kala itu, aku pasti akan melakukan apa pun yang kau minta. Namun kenapa harus dengan menikah? Bisa saja bukan dengan cara lain?"

Naruto pernah menanyakan pertanyaan ini pada ibunya, tapi ia belum mendapat jawaban memuaskan, "Aku minta maaf kalau pertanyaanku membuatmu tersinggung," lanjutnya.

Mei mengulas senyum simpul, "Tidak. Aku tidak tersinggung. Justru aku ingin membahas hal ini, tapi kau malah menanyakannya lebih dulu. Aku senang, itu artinya kau tidak hanya menerima keputusanku begitu saja tapi ingin ikut serta memastikan posisimu dalam hubungan ini."

"..."

"Jawaban untuk pertanyaanmu itu tidak kusandarkan pada hati dan perasaan tapi pada logika. Aku wanita dan kau pria. Menurutmu hubungan seperti apa yang harus dibentuk antara kita agar dapat saling berbagi dan melengkapi?"

Pertanyaan Mei tepat mengenai sasaran pada logika berpikir Naruto. Sedari awal sampai sebelum menikah, Naruto sama sekali tidak bisa menentukan posisi Mei bagi dirinya, pun sebaliknya bagaimana posisi dirinya dalam hidup Mei. Itu karena saat Mei memungut Naruto sepuluh tahun lalu, Mei sama sekali tidak menetapkan apa-apa tentang hubungan mereka. Hubungan mereka tidak jelas. Namun mulai hari ini, hubungan mereka berubah drastis menjadi sepasang suami istri.

Seolah ada lompatan waktu yang membuat Naruto merasa tidak logis dengan perubahan hubungan mereka yang begitu tiba-tiba.

"Umur kita memang terpaut jauh, tapi apa kau merasa kita seperti ibu dan anak?"

Itu hubungan sakral yang Naruto dapat dari ibunya, Mei tidak akan mampu menggantikan posisi Kushina untuk itu. Ibu dengan kewajiban melahirkan, menyayangi, mengasihi, mendidik, membesarkan dan memanusiakan, tidak mungkin dapat digantikan dengan perempuan lain. Kalau ibu dan anak angkat? Tidak bisa juga, sebab Kushina masih hidup. Dan tidak pernah terucap sekali pun pernyataan bahwa Mei mengangkat Naruto sebagai anak.

"Ataukah kakak dan adik?"

Mei lanjut bertanya.

Mei pun Naruto adalah anak tunggal, tak pernah memiliki saudara. Namun mereka berdua jelas merasa kalau hubungan mereka tidak seperti itu. Hubungan kakak dan adik sudah terikat dengan ikatan untuk saling mengasihi dan melindungi tanpa ada istilah balas budi. Kakak dan adik sudah terikat takdir sedari lahir sehingga sayang, kasih, dan apa pun itu, datang dengan sendirinya. Dalam hal ini, Mei punya jasa besar sedangkan Naruto mendapatkan budi baik yang ingin ia balas. Jika diperinci, maka hubungan ini akan menjadi kebohongan. Bohong kalau ada di dunia ini sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mengangkat saudara.

"Tuan dengan bawahannya?"

Sudah jelas tidak ada hubungan seperti itu antara Mei dengan Naruto. Mana ada tuan dan bawahan yang punya hubungan seintim mereka.

"Bagaimana dengan teman? Atau sahabat?"

Mei tak berhenti menyerang logika Naruto. Semua orang mengatakan bahwa tidak ada persahabatan maupun pertemanan antara sepasang laki-laki dan perempuan. Kecuali jika itu adalah 'sahabat mengarungi hidup' atau 'teman tinggal satu atap'.

Mei menggunakan metode eliminasi untuk menentukan keputusannya. Wanita itu membuang semua kemungkinan yang tertolak logika demi mendapatkan satu kesimpulan yang paling tepat.

Atas dasar semua pertimbangan logika itulah, Naruto bisa menerima keputusan Mei mengajukan proposal kepada dirinya untuk menjadi teman hidup sampai ajal menjemput dalam hubungan suami istri.

Mei menatap lurus dan dalam tepat pada kedua bola mata Naruto. Segera ia ketahui kalau Naruto pun berpikiran sama dengannya.

"Kupikir sekarang sudah tidak ada setitik pun keraguan di hatiku akan pernikahan ini, Mei."

"Syukurlah. Jika kau sudah tak ragu lagi, aku pun begitu."

Lalu, tatapan mereka perlahan berubah. Kabut nafsu gairah mulai datang bersama suhu tubuh yang meningkat. Entah siapa yang lebih dulu memulai, bibir mereka kembalibertaut. Awalnya hanya ciuman biasa, tapi tak butuh waktu lama hingga menjadi ciuman yang menuntut. Ketika ciuman itu terlepas tampak jelas rona merah di wajah masing-masing bersamaan dengan cucuran peluh yang mengalir sampai ke leher.

Posisi mereka yang duduk berhadapan di tepi kasur tidak berubah sejak tadi, tapi kini Mei sudah mendudukkan dirinya di pangkuan Naruto. Mei merapatkan tubuh pada tubuh Naruto. Dada mereka bersentuhan dan sedikit saling menekan. Meskipun terhalang pakaian, mereka bisa saling merasakan tekstur tubuh lawannya. Dada Naruto yang keras dan berotot, berbanding terbalik dengan dada Mei yang besar namun kenyal dan lembut. Mei juga menempatkan tangannya di pipi Naruto, ia usap perlahan sembari mata mereka saling tatap. Tatapan mendamba yang bercampur dengan nafsu. Ibu jarinya mengusap pelan bibir pemuda itu sehingga sedikit terbuka.

Mereka berdua menutup mata, sampai bibir bertemu lagi. Tidak seperti kecupan sebelumnya yang minim gerakan, ciuman mereka kali ini lebih aktif. Khususnya oleh Mei, ia tak ragu menyapukan bibirnya sampai ke sudut bibir Naruto. Bahkan ia sedikit mengeluarkan lidahnya, demi memberi sapuan pada bibir Naruto yang terasa kering.

Ia yang memimpin.

Satu menit kemudian Mei menyudahi ciumannya, lagipula Naruto masih pasif. Ia harus perlahan mengajari suami barunya ini agar mengerti.

Embusan napas disertai uap-uap tipis seolah saling bersambut kala tautan bibir mereka terlepas.

Naruto jelas merasakan suhu tubuhnya meningkat drastis. Panas itu dengan cepat menjalar ke seluruh permukaan kulitnya.

"Hahhhh ..."

Tarikan napas yang begitu kuat terdengar, mengais oksigen demi mempertahankan hidup. Saat napas sudah terkendali, Mei bertanya, "Bagaimana ciuman tadi, Naruto? Kau menyukainya?"

"Mana mungkin tidak," jawab Naruto terus terang.

Ia mulai terbawa nafsu.

"Lagi, kumohon," pinta Mei, dirinya pun mulai dikuasai nafsu.

Bersama dengan satu anggukan, satu tangan Naruto menarik pinggul Mei lebih rapat duduk di pangkuannya sementara tangan yang lain menarik tengkuk wanita itu. Rasa yang mulai sesak di bawah sana, ditambah dengan tekanan dari pantat Mei tidak ia pedulikan.

Ternyata Naruto cepat belajar dalam hal berciuman. Persis seperti yang Mei ajarkan, begitu pula Naruto melakukannya. Lebih dari itu, sesapan Naruto pada bibir Mei semakin kuat.

Tangannya yang berada di tengkuk, menekan kepala bermahkotakan helain merah bata itu untuk memperdalam ciumannya. Sementara tangan lainnya, mulai bergerak liar dan meraba setiap inci kulit punggung istrinya yang begitu halus dan lembut. Gaun tidur Mei memang masih utuh, hanya saja bagian punggungnya terlalu terbuka.

Mei tersenyum dalam hati. Perlakuan Naruto membuatnya melayang. Sudah lama sekali ia tak merasakan hal seperti ini, dan bisa merasakannya lagi adalah sebuah keajaiban.

Entah sejak kapan, sadar atau tidak, Mei begitu menikmati ciuman dari suaminya. Ia membiarkan dirinya didominasi, ia biarkan Naruto mencumbunya mesra dan panas. Pada saat bersamaan, ia juga merasakan serangan oleh berbagai sensasi berbeda dari gerakan tangan Naruto di punggungnya. Semua itu terasa sangat nikmat luar biasa.

Mei menjilat-jilat bibirnya sendiri setelah melepas pagutannya dari bibir Naruto. Ia menyesap campuran air liurnya dan air liur suaminya yang rasanya manis memabukkan.

Dengan wajah merona merah yang di kuasai nafsu Mei berkata, "Aku ingin lebih."

Naruto berpaling muka, ia malu, "Ambil saja semua yang kau ingin dari diriku," ujar Naruto seolah dirinya telah menyerah.

Mereka menutup mata. Malam ini mereka menyatu dalam hubungan intim, perlahan dalam desahan penuh nafsu. Hingga saat penyatuan mereka sempurna, keduanya diam, meresapi setiap denyut kenikmatan yang terasa luar biasa.

Sekarang kehidupan Naruto sebagai laki-laki dewasa kini telah lengkap, pun dengan Mei yang berhasil menghilangkan rasa hausnya akan kehangatan tubuh lelaki setelah belasan tahun.

Lalu bagaimana dengan cinta?

Cinta

Cinta yang sudah sewajarnya ada di antara dua insan yang membina rumah tangga bersama.

Nyatanya tidak pernah ada kata cinta terucap antara keduanya. Orang lain mungkin tak ada yang menyadari. Hingga sekarang, cinta Mei pada mendiang suaminya tidak akan luntur dan tergantikan. Sedangkan cinta Naruto kepada Mei bukan dalam bentuk romansa laki-laki kepada perempuan, melainkan bentuk cinta yang lain.

Besarnya cinta Mei pada mendiang suaminya tidak akan membuat Naruto cemburu dan tersakiti sebab perasaan Naruto kepada Mei bukan dalam bentuk itu. Mei pun tidak akan sakit jika suatu saat timbul perasaan cinta dalam hati Naruto kepada wanita lain sebab yang Mei cintai hanyalah mendiang suaminya.

Mudahnya, mereka tidak akan saling menyakiti.

Hubungan mereka kuat dan kokoh, tetapi rapuh di saat bersamaan. Ada banyak hal yang melandasi sehingga pernikahan Naruto dan Mei bisa terjadi, tapi cinta yang menegakkannya sama sekali tak ada.

Meski begitu, bukan berarti mereka tidak bisa membina rumah tangga yang bahagia. Realitanya mereka sama-sama membutuhkan ikatan pernikahan ini. Bagi Mei, ia tidak akan sendirian dan menghilangkan kerapuhannya dalam hidup. Dan bagi Naruto, ia senang dapat menjadi sumber kebahagiaan Mei karena inilah bentuk balas budinya.

Begitulah, makna kebahagiaan bagi mereka.

...

Jalanan malam ini di Konoha terlihat lengang. Sebagian besar warga disibukkan oleh kegiatan mereka di dalam rumah, maklum saja, hujan sedang turun meski dengan kecepatan sedang. Dingin memang tak sebanding dengan saat musim dingin, tetapi jalanan yang licin menjadi penyebab mengapa mereka memilih menghabiskan waktu di dalam bangunan berdinding. Pun hari telah gelap. Ya, Konoha memang kota besar, tetapi dia bukan Tokyo yang notabene ibukota negara ini.

Tiba-tiba terdengar deru sebuah mesin kendaraan, tak lantang tetapi cukup untuk tertangkap indera pendengaran. Sebuah Audi Cabriolet putih meluncur membelah jalanan dan keheningan malam. Mobil dengan simbol rantai itu bergerak lurus lalu berbelok tajam di tikungan, berhenti di depan sebuah bangunan bertingkat yang cukup megah.

Pintu mobil terbuka, memperlihatkan sosok wanita cantik dengan tubuh langsing dan gerakan gemulai. Rambut merahnya tersurai bebas. Gaun hitam yang terhenti satu senti di atas lutut membungkus erat tubuhnya. Tatapannya beralih bergantian dari selembar kertas yang ia pegang ke papan nama gedung tersebut yang dihiasi lampu warna warni.

Wisconsin Hotel

Wanita itu berjalan memasuki hotel. Segera saja ia mendapat sapaan penuh hormat dari para pegawai hotel. Beberapa dari mereka malah terheran, ada apa gerangan seorang Mei Terumi datang ke hotel di malam sehari setelah pernikahannya? Tidak mungkin bukan dia akan memesan hotel di dalam kota ini sebagai tempat untuk berbulan madu? Seharusnya ia menghabiskan waktu tersebut untuk berkunjung ke negara Eropa, Perancis misalnya, dan melakukan hal romantis di sana. Namun raut serius yang ditunjukkan Mei membuat nyali mereka ciut, sepertinya wanita itu punya keperluan lain di sini.

"Selamat malam," ucap Mei setelah sampai di depan meja resepsionis.

"Selamat malam, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?"

"Saya ingin bertemu dengan tamu di kamar nomor 1240."

Gadis di balik meja resepsionis langsung membuka buku tamu dan mulai mencari nomor tersebut. Matanya berbinar senang saat apa yang ia menemukan apa yang ia cari.

"Inuzuka Kiba dan Aburame Shino?"

Dilihatnya Mei mengangguk. Kiba dan Shino, inisial nama mereka jelas sama dengan yang tercantum di kertas memo itu.

"Mereka sedang keluar hotel, Nyonya."

Mei mengerutkan dahinya, matanya memincing tajam. Ia melipat kedua tangan di depan dada dan menghela napas dalam.

"Apakah mereka mengatakan tujuan mereka?"

Gadis di depannya menggeleng. Sedikit ketakutan dan suaranya bergetar, "Tidak, Nyonya, tetapi sepertinya mereka mencari udara segar."

"Di malam sedingin ini!?"

Nada meninggi dari Mei membuat gadis itu berjengit kaget. Mei sadar, ia melakukan kesalahan dengan membentak gadis itu padahal dia tidak tahu apa-apa. Sebenarnya perasaannya sedang tidak enak. Sejak ia keluar rumah, degup jantungnya mendadak laju tanpa sebab. Ia seperti memiliki firasat akan terjadi sesuatu yang buruk, entah apa, mungkin sesuatu yang buruk mengenai perusahaan besar yang miliknya.

"Maaf, baiklah jika begitu, saya tunggu saja mereka di sini."

"Ba-baik, Nyonya."

Dengan diantar petugas laki-laki, Mei berjalan menuju sofa lobi dan duduk di sana. Memutuskan untuk menunggu hingga dua orang itu datang.

Satu jam berjalan, yang ditunggu tak jua datang. Mei sudah mulai habis kesabaran. Sayangnya ia tidak memiliki nomor ponsel orang bernama Kiba dan Shino itu, jika iya bisa dipastikan wanita itu akan berbicara dengan nada tinggi kepada mereka karena telah berani membuatnya membuang waktu.

Aneh, ini bukan Mei yang biasanya. Seorang Mei Terumi adalah wanita yang sabar dan elegan. Tak pernah sekali pun menunjukkan amarah di depan orang lain. Hanya sikap tegas yang selalu ada padanya. Mengapa kali ini berbeda? Apa rasa tak keruan yang memenuhi kepala dan dadanya yang menjadi sebab? Ada apa gerangan?

Tidak mau mengulur waktu lebih lama, Mei berjalan keluar hotel setelah mengucapkan terima kasih kepada gadis resepsionis kemudian ia membawa mobilnya keluar. Jalan pulang yang ia tempuh berbeda arah dengan jalan ia datang. Memang di sini banyak jalan searah sehingga mengharuskan pengemudi untuk berputar demi menempuh arah yang dituju.

Belum sampai sepuluh menit mobil itu melaju, Mei dikejutkan dengan kerumunan orang di dekat tikungan ujung jalan. Ia yang merasa penasaran turun dari mobil dan bertemu dengan beberapa petugas kepolisian yang berjaga-jaga di sana. Ia mendekati salah satu petugas yang terlihat sedang memotret lokasi.

"Ada apa ya?"

Petugas kepolisian itu terlihat marah ketika ada yang mengganggu pekerjaannya. Namun segera sadar dan berubah begitu tahu bahwa si penanya adalah salah seorang berpengaruh di negeri Sakura ini.

"A ... Nyonya Terumi?"

Mei mengabaikan pertanyaan itu, ia menatap mobil yang terguling dan ada ceceran darah di sana sini. Seakan paham dengan kebingungan Mei, petugas kepolisian dengan nametag Haku itu menjelaskan.

"Baru saja ada kecelakaan di sini, Nyonya."

Mei menoleh menatap petugas itu.

"Kecelakaan?"

"Ya, mobil turis itu ditabrak mobil Range Rover putih yang pengemudinya sedang mabuk."

"Mabuk?"

Haku mengangguk, sambil terus melanjutkan pekerjaannya, ia menceritakan kronologis kecelakaan yang ia dengar dari salah seorang saksi.

"Mobil itu baru saja berbelok di tikungan ujung jalan sana," ia menunjuk ke tikungan yang baru saja dilewati Mei, "jadi tidak melihat ketika ada Range Rover dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi, kecelakaan tidak bisa dihindari."

Mei menekuk alisnya heran.

"Arah Range Rover itu lurus?"

Dan keheranannya semakin menjadi saat Haku mengangguk.

"Siapa yang mengatakan bahwa pengemudinya mabuk?"

Haku mendongak. Ia memandang bingung, entah bingung dengan pertanyaan Mei, atau dia sendiri juga baru menyadari sesuatu.

"Uhm, baiklah, terima kasih atas informasinya, Haku-san. Saya permisi dulu."

Dengan pikiran berkecamuk berusaha mengurai kejanggalan apa yang baru saja ia dengar, ditambah perasaannya yang masih kacau, Mei menyetir mobil menuju rumahnya. Padahal baru sejak kemarin ia bahagia lagi, tapi ada saja hal yang datang mengganggu pikirannya.

Mei tidak memiliki petunjuk apapun lagi, tapi dua nama Inuzuka Kiba dan Aburame Shino, tidak akan membiarkan dirinya tenang sebelum kejanggalan ini terselesaikan.

...

Amegakure

Hari ini Hinata berangkat lebih pagi dari biasanya. Tidak ada alasan khusus, hanya saja ia terlanjur bangun pagi dan jika terlalu lama berada di rumah rasanya tiada manfaat. Sambil berjalan santai sepanjang rumah tinggalnya menuju stasiun terdekat, ia sempatkan mampir ke toko kue langganan hanya untuk melihat menu kue hari ini. Tentu saja, sepagi ini toko itu belum buka, para pekerjanya sibuk membuat adonan untuk diolah.

Ada yang sedikit berbeda, entah mengapa sejak bangun tidur tadi perasaan Hinata tidak enak. Seperti ada sesuatu yang terlupa, atau sesuatu yang seharusnya menjadi pikiran. Namun semakin berusaha diingat, semakin kabur saja.

"Mungkin cuma perasaaan," gerutunya.

Inginnya seperti itu, nyatanya jantungnya mendadak berdegup laju. Saat di atas kereta Hinata tak henti meremas dadanya yang terasa sakit akibat detakan di atas rerata itu. Berkali-kali ia menghela napas dalam dan mengembusnya perlahan.

"Mungkin aku kurang minum?"

Memang salah satu efek dari kekurangan cairan adalah kerja organ tubuh menjadi kacau dan tidak beraturan. Hinata berusaha berpikir positif.

Lantas ketika kereta berhenti, ia turun dan setengah berlari menuju mesin penjual minuman. Memilih air mineral untuk menetralkan keadaan tubuhnya.

Sepertinya masih tidak berpengaruh hingga sampai ke kantor pun ia semakin merasa tidak keruan. Secepat mungkin ia berjalan agar lekas sampai ke ruangan kerja.

Barulah ia bisa duduk dan kembali mengatur napas. Bersandar pada kursi kerja, ia menengadah, menatap terawang pada langit-langit ruangan. Entah mengapa kini ingatannya memutar kenangan-kenangan saat dirinya bersama Kiba dan Shino. Sesekali ia tersenyum mengingat betapa konyol tingkah mereka berdua. Padahal menilik sikap dan kepribadian masing-masing, orang akan sulit menerima kenyataan bahwa mereka mampu berkomunikasi dengan baik lalu menjadi sahabat dalam waktu singkat. Padahal Hinata yang pemalu, Shino yang pendiam, lalu Kiba yang hiperaktif adalah kombinasi aneh untuk sekelompok manusia.

"Hinata-san."

Sebuah suara berat menyentaknya. Hinata gugup memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak kemudian menatap ke arah seorang pria yang baru saja memanggilnya.

"Ah, Sakon-san," gugupnya.

Hinata melihat Sakon memutar kursinya dan menggesernya tepat di depan meja Hinata. Mereka berhadapan sekarang. Ekspresi sedih mendadak terlihat dari wajah Sakon. Hinata mengernyit heran, ada apa gerangan? Wajah temannya itu seperti orang yang hendak meminjam uang. Hinata nyaris tertawa tetapi jika mengingat bahwa nama Sakon ada dalam daftar orang-orang yang terlibat penggelapan perusahaan, Hinata menjadi benci. Ia tidak mau berurusan dengan para kriminal.

Ditatapnya laki-laki itu jijik, hanya dalam hati sebab ekspresi wajahnya tetap berusaha santun. "Ada apa?"

Perubahan nada pada suara Hinata jelas, terdengar sedikit lebih sarkas. Tak acuh apakah Sakon akan menyadarinya atau tidak.

"Apa kau belum mendengar kabarnya?"

Hinata semakin bingung, "Kabar apa?"

Sakon bergerak gelisah. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan tapi merasa tidak enak. Atau semacam itulah.

"Katakan saja," ujar Hinata.

"Apa kau belum tau jika Inuzuka-san dan Aburame-san mengalami kecelakaan di Konoha?"

Hinata terlonjak berdiri saking kagetnya. Tangannya gemetar memegang tepian meja.

"A-apa?"

Sakon mengangguk.

Tanpa sadar Hinata meremas tepian meja hingga jemarinya sakit. Bayangan kedua sahabatnya, yang begitu baik dan pengertian pada dirinya, selalu membantunya saat ia butuh. Namun realita menghempaskan bayangannya, dengan fakta bahwa wajah kedua sahabatnya itu tak akan pernah ia lagi di dunia ini. Kesedihan yang ia rasakan seolah tak terukur dalamnya, ini sama persis dengan yang ia rasakan dulu mendapati berita meninggalnya seorang Senpai yang sangat ia hormati dan kagumi di tempat kerjanya dulu. Rasanya amat sangat menyakitkan, lalu mengalami hal ini sebanyak dua kali hampir membuat dirinya jera memiliki ikatan terlalu dekat dengan orang lain. Sungguh, jika sampai ketiga kalinya merasakan hal ini, Hinata berniat mengasingkan dirinya sendiri dari dunia.

Oh Tuhan. Padahal jalinan ikatan persahabatan mereka baru seumur jagung, tapi kenapa putus secepat ini. Apa tidak ada cara selain kematian, yang setidaknya bisa membuat Hinata mampu ikhlas dan berlapang dada? Inuzuka Kiba dan Aburame Shino, serta Kurenai Yuhi. Tiga orang dengan nama itu, mungkin tak akan pernah Hinata temui lagi sampai ia mati meninggalkan dunia ini.

Sebagai perempuan, wajar kalau ia menangis menumpahkan air mata sebanyak ini, bersama isakan berat yang menyesakkan dada. Bahkan lebih dari lima belas menit lamanya, tangisan itu tak kunjung reda.

Hinata sangat terpukul.

"Hinata-san."

Hinata berjengit, ia sapu lelehan air matanya yang berurai dengan serampangan. Hatinya tak memedulikan kalau penampilannya ini akan membuatnya malu.

"Sabarlah, aku mengerti rasa kehilanganmu," ucap Sakon lagi.

Sabar? Kehilangan?

Bersama dengan satu tegukan ludah, emosi Hinata berubah drastis. Apa ia tidak salah mendengar kata-kata Sakon tadi? Dasar bajingan, Hinata mengumpat dalam hati.

Hinata melihat wajah sedih yang Sakon tunjukkan di depan matanya, yang ia yakini sebagai kepalsuan belaka, bersamaan dengan bayangan wajah tertawa Sakon yang mengejek dirinya, semua itu membuat Hinata muak.

Sakon melanjutkan penuturannya, "Benar. Aku baru pulang semalam dan memang diminta menyampaikan berita tersebut terlebih kepadamu."

Sepertinya Sakon ini memang sangat pandai berakting. Lihat saja, raut sedihnya benar-benar nyaris membuat Hinata meleleh dan percaya. Tapi ia tak akan mempercayai sedikitpun ucapan yang terlontar dari kriminal penggelap uang perusahaan macam laki-laki itu.

"Kecelakaan apa? Bagaimana mereka bisa kecelakaan?"

Meski dirundung duka, ia tetap ingin tahu lebih banyak informasi mengenai kedua sahabatnya.

Sakon memulai ceritanya tanpa menunggu persetujuan Hinata. Cerita biasa, seperti kecelakaan yang umum terjadi dimana-mana. Bagi Hinata seakan memang ia sengaja menunggu waktu untuk mengungkapkan cerita rekayasa itu hingga Hinata percaya. Hinata tetap berusaha fokus untuk mendengarkan meski pandangannya terlihat kosong. Ia hanya tidak ingin terlewat satu kata pun, demi bisa menemukan kejanggalan di dalamnya.

Pasti

Harusnya ada yang aneh dengan cerita itu. Tanpa sadar Hinata bahkan tak henti memandang bibir Sakon yang bergerak merangkai cerita. Bukan ia hendak berburuk sangka, tapi siapapun pasti akan bersangka buruk pada seorang penjahat.

Selama waktu itu, Hinata juga berusaha mengaitkan kejadian itu dengan kejadian yang ada di pikirannya.

"Ini pembunuhan," pikirnya.

Pasti

Terlalu dipaksakan jika ini disebut kecelakaan yang tak disengaja.

Mengapa hanya Kiba dan Shino?

Mengapa harus Kiba dan Shino?

Sudah jelas jika kecelakaan itu dibuat-buat. Kiba dan Shino dibunuh, lalu pelaku yang paling mungkin atas kasus pembunuhan ini, Hinata yakini tak lain adalah sekomplot orang-orang yang berkonspirasi melakukan penggelapan uang perusahaan, yang tindak mereka tercium oleh Kiba dan Shino dan hendak dibongkar sehingga dapat diperkarakan oleh pemilik perusahaan Mizu Tech Inc.

Sebersit sesal kemudian melambung, mengapa ia tidak mencegah kedua temannya itu pergi ke Konoha? Namun, Hinata juga tidak tahu menahu skandal perusahaan jika Kiba dan Shino tidak pergi, bukan? Lantas, kepada siapa ia harus menyalahkan?

Kami-sama? Bukankah Dia yang membuat takdir agar Kiba dan Shino tewas? Mengapa? Bukankah niat kedua temannya itu adalah niat yang mulia? Mengapa orang-orang baik selalu saja dihadapkan pada kematian yang cepat?

Kemudian Hinata menggeleng. Bukan haknya turut campur atas takdir yang digariskan oleh Kami-sama. Ia sebagai manusia hanya perlu berjalan, sesuai dengan petunjuk yang Dia berikan.

Hinata masih enggan duduk. Rasanya pantat tidak sudi duduk sementara pria iblis di depannya berceloteh dusta tentang sahabatnya.

Setelah Sakon selesai dengan bualannya, barulah Hinata duduk. Air matanya meleleh menjadi bulir yang turun di pipi. Sesuatu yang terjadi di luar sana sedang telah merenggut nyawa dua sahabatnya.

Sekarang hanya ada dia yang mengetahui kenyataan tentang kecurangan beberapa manusia serakah di perusahaan ini.

Dengan semua informasi yang ketahui ini, apa yang harus ia lakukan?

Apakah berdiam diri saja. Mementingkan diri sendiri agar bisa hidup aman dan selamat.

Sama sekali tidak. Hinata yakin dirinya tidak seperti itu.

Sebelum meninggal, senpainya ditempat kerja dahulu mengatakan kepadanya bahwa bagaimanapun kondisinya bahkan disaat yang terburuk sekalipun, tetaplah pegang teguh kejujuran.

Kemudian tindakan Kiba dan Shino mengajarkan kepadanya apa itu keberanian. Berani menjunjung kebenaran walau semengerikan apapun bahaya yang menunggu.

Lalu, dengan pengorbanan ketiga orang yang terlebih dahulu meninggalkannya itu demi memberikan pada dirinya pelajaran hidup, lantas masih adakah alasan bagi Hinata untuk berdiam diri.

Tidak.

Tidak akan pernah.

Keputusannya sudah bulat, tekadnya sudah sekeras baja.

Hinata, akan melanjutkan perjuangan Kiba dan Shino sampai masalah ini tuntas. Apa pun yang terjadi ia akan melakukannya. Ia tidak ingin dikenang, ia tidak ingin mendapat pujian dan balasan jasa, tapi ini ia lakukan murni demi menghargai orang-orang terdekat yang telah banyak mengajarinya bagaimana sesungguhnya cara hidup manusia yang manusiawi.

Ia bulatkan tekad dan kuatkan hati. Mengucap sumpah dalam hati untuk membuat perhitungan dengan komplotan penjahat itu. Ia tidak akan membantah kalau ada orang lain yang mengatakan ini adalah tindakan pembalasan dendamnya untuk kematian Kiba dan Shino. Akan tetapi, ia memutuskan untuk melakukan ini dari dasar lubuk hati yang menginginkannya.

Tangan Hinata mengepal, sebelum kembali terkulai.

Akan dengan apa Hinata menghakimi mereka? Berbicara langsung ke hadapan publik? Menyudutkan mereka? Membuat mereka mengakui kejahatan? Sementara bukti yang ia miliki sekadar data yang ada di komputer Shino. Itu pun bukan bukti yang cukup kuat digunakan untuk membawa mereka ke penjara. Bukti yang lebih kuat mungkin sudah raib bersama kematian kedua sahabatnya.

Hinata mendesah kesal. Kakinya menghentak keras. Jika saja ini bukan di kantor, ia sudah menangis dan berteriak.

Lantas sepercik ide muncul di kepala.

"Baiklah, aku akan menyusup masuk ke jaringan mereka," ujarnya mantap.

...

Satu minggu telah berlalu sejak pernikahan Naruto dan Mei. Mereka berdua tetap tinggal bersama di mansion Mizukage. Meski terlihat sama, jelas ada perubahan dari tata hidup mereka.

Naruto kini menempati kamar yang sama dengan Mei. Segala keperluannya kini Mei yang menyiapkan, sejak ia bangun tidur hingga ia tidur lagi. Kendati peristiwa memalukan macam malam pertama mereka masih kerap terjadi, mereka tak lagi merasa canggung. Yang ada justru menertawakan kekonyolan yang sempat Naruto tunjukkan.

Sempat ada yang menanyakan perihal bulan madu kepada mereka, lantas Mei langsung menjawab kalau itu tidak perlu. Saat orang itu ingin tahu alasannya, ia hanya menatap Naruto. Lantaran tak mendapat jawaban yang diinginkan, orang-orang pun mulai menganggap aneh. Tapi sesaat saja, sebab selanjutnya mereka harus memakan ludah sendiri akibat Naruto dan Mei yang mempertontonkan kemesraannya. Kemesraan yang menunjukkan bahwa, baik dirumah ini atau dimanapun adalah tempat bulan madu mereka.

Oh, mereka tak tahu saja. Ini rahasia perasaan Naruto dan Mei yang mereka simpan berdua. Kalau melakukan perjalanan bulan madu sebagaimana pasangan pada umumnya, malah akan menjadi aneh. Ya, aneh bagi mereka. Sebabnya ialah, mereka menikah tidak atas dasar cinta seperti pasangan lain. Namun meski tak saling cinta, mereka tetap bisa menjadi suami istri. Mereka saling melengkapi dan saling membutuhkan sampai urusan ranjang sekalipun.

Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan pernikahan Naruto dan Mei.

Sejak pernikahan itu pula, Mei resmi menjadi ibu rumah tangga. Ia melepas segala pekerjaan di perusahaan dan melimpahkannya secara penuh kepada sang suami. Ia lebih banyak tinggal di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah. Awalnya memang sedikit canggung, mengingat terlalu lama jeda waktu bagi dirinya untuk berperan sebagai seorang istri lagi. Memasak, membersihkan rumah, dan sebagainya. Kadang ia sengaja turun dan meminta Kushina atau para pelayan untuk mengajari. Bukannya tidak bisa, sekali lagi, Mei hanya sedikit melupakan kebiasaannya.

Seperti hari ini, wanita itu sudah bangun bahkan sebelum matahari terbit. Setelah membersihkan badan, ia turun ke dapur dan dengan dibantu oleh Kushina dan Shizune, ia mulai memasak untuk sarapan pagi. Sepanjang memasak mereka berceloteh ringan, Mei yang biasanya serius, kini mulai menikmati peran. Ia berusaha melebur dan bergabung bercanda tawa dengan mereka.

"Aku yakin Mei-sama bisa membuatnya. Itu sangat mudah," ucap Shizune berapi-api.

Mei hanya tersenyum, pandangannya beralih pada Kushina yang tertawa. Mertuanya itu membusungkan dada dan berlagak, "Aku yang mengajari Shizune dulu."

Shizune ikut tertawa, "Benar, Kushina-san yang mengajariku. Memasak ramen sungguh menyenangkan, Mei-sama."

Mei mengangguk dan mereka bertiga kembali sibuk mengacak-acak berbagai bahan dapur serta mengeksplorasi resep turun temurun di keluarga Uzumaki. Ramen spesial, makanan kesukaan Uzumaki Naruto, sang suami.

Untuk awalan, Mei mendapat tugas yang paling ringan, mengiris bawang dan berbagai bumbu dapur yang lain. Matanya sempat memerah dan berkaca karena air irisan bawang mengenainya. Mei tertawa, menertawakan dirinya sementara sang mertua justru panik melihat keadaan wanita itu.

"Kau baik-baik saja Mei-san?"

Mei menggeleng, ia bermaksud mengatakan, "Jangan panggil aku dengan sufiks itu lagi,"

Tetapi yang ditangkap Kushina justru hal lain. "Ah, maafkan aku, seharusnya kau mengiris sayuran saja yang tidak membuat mata perih," panik Kushina.

Mei menggeleng lagi. Ia meletakkan pisau di meja dapur dan beringsut mundur, mendudukkan diri di kursi tedekat. Matanya memejam dan meneteskan air mata. Ia tak berhenti tertawa.

"Aku baik-baik saja, Kushina-san."

Perlahan ia membuka mata yang ternyata sudah memerah. Hidungnya juga terlihat mengeluarkan cairan bening. Ia lekas mengusapnya. Ia memandang pada dua wanita di depan yang sedang menatapnya penuh rasa khawatir.

"Ahahaha ... aku baik-baik saja, sungguh."

Kushina dan Shizune menghela napas lega. Shizune mengusap mata majikannya dengan tisu basah.

"Terima kasih, Shizune. Uhm, Kushina-san, jangan memanggilku dengan sufiks itu lagi. Aku sekarang istri anakmu, yang artinya aku adalah anakmu juga," jelas Mei.

Kushina bingung sejenak, kemudian mengangguk malu. Ia lupa bahwa wanita yang pernah menjadi majikannya itu kini adalah menantunya.

"Baiklah, jika begitu Mei juga cukup memanggilku dengan ..."

"Kaa-san," potong Mei.

Kushina membelalakkan mata. Rasanya ada senyar hangat yang merambat saat Mei memanggilnya dengan sebutan ibu. Ya, dulu sekali Kushina pernah menginginkan anak perempuan. Sebelum ia divonis tidak bisa hamil lagi karena rahimnya telah diangkat sebab kista yang tumbuh di dalamnya.

Kushina menatap haru yang disambut senyum lembut oleh Mei. Shizune yang menyaksikan adegan ini pun turut haru.

"He? Apa aku melewatkan sesuatu?"

Mendadak suasana mengharu biru menjadi kacau sebab suara bariton yang terdengar dari dekat pintu. Ketiga wanita itu menoleh ke arah pemilik suara dengan ekspresi yang berbeda. Shizune dengan tampang ingin tertawa melihat kondisi berantakan Naruto, Kushina dengan raut seperti banteng akan mengamuk dengan alasan yang sama, serta Mei dengan senyum tulusnya melihat sang suami sudah berdiri di ambang pintu.

"Kau ini, tega sekali menemui istrimu dengan penampilan berantakan seperti itu!" Kushina membentak, membuat Naruto nyaris terjungkal.

Namun tak berlangsung lama, pria itu menggaruk-garuk perutnya hingga kaus yang ia kenakan tersibak. Melihat itu Kushina nyaris meledak lagi, jika saja tidak terpotong oleh deheman Mei.

"Ehem ... tidak apa-apa Kaa-san, lagipula aku pernah melihat Naruto yang lebih berantakan dari ini."

Seketika suasana hening. Satu lontaran kalimat ambigu dari Mei memaksa Kushina dan Shizune berpikir keras. Lantas ketika Mei tertawa terbahak-bahak, mereka tersadarkan. Muka keduanya memerah saat mengerti apa yang dimaksudkan oleh wanita itu.

"Sudah, Naruto, kau mandi dulu saja. Kami belum selesai memasak. Nanti selepas mandi, baru kau sarapan."

Mei berjalan mendekati Naruto dan mendorong pria itu menuju kamar mandi di kamar mereka.

Suasana hening kembali, setelah Kushina dan Shizune tertinggal berdua saja di dapur.

Beberapa saat kemudian, gerutuan Kushina terdengar, "Ya, menantuku pergi. Padahal aku masih ingin mengajarinya memasak ramen."

"Tak perlu menggerutu, Kushina-san. Mei-sama pasti akan kembali kesini sebentar lagi," ucap Shizune bijak.

"Menurutku tidak mungkin," bantah Kushina mantap.

"Bagaimana bisa begitu?"

"Mereka pasti akan mandi bersama."

"A .…"

"Huwaaaaaa," pekik Kushina tiba-tiba, "Pagi-pagi sudah panas begini. Ufufuuu, sebaiknya aku mencari Minato-kun ah. Biar bisa melakukan hal begini dan begitu juga."

Dasar, Kushina tak ingat umur. Padahal dia sudah kepala lima.

Shizune mau tak mau jadi panic, "Ah, Kushina-san. Kita belum selesai memasak."

"Kau lanjutkan saja sendiri," tolak Kushina ketus.

".…"

Shizune ternganga.

"Kheh, makanya cepatlah menikah," sambung Kushina sinis.

Shizune pun menangis dibuat-buat, "Huuwweeeeeeeee. Siapa pun kalian wahai laki-laki, tolong segera nikahi aku."

...

"Baiklah, nanti aku kabari Kaa-san kalau kau akan pulang terlambat."

Mei memutus sambungan telepon di ponselnya. Ia tersenyum menatap benda kotak tipis itu. Siapa sangka, ia yang seakan pernah menyerah perihal dirinya berkeluarga, kini tidak lagi. Semua mimpi buruknya seakan lenyap sebab pernikahannya dengan Naruto. Ia tak perlu lagi takut sendirian di hari tuanya, di sisa umurnya, karena ada Naruto yang akan selalu menemaninya. Sudah hampir sebulan usia pernikahan mereka, yang tak satu haripun ia lalui tanpa rasa bahagia.

Tiba-tiba perutnya berbunyi. Wanita itu menatap kesal pada perut ratanya. Padahal dua jam berlalu sejak sarapan, tapi ia sudah lapar lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari camilan atau makanan ringan di dapur.

"Mudah-mudahan saja ada, jika tidak, aku terpaksa pergi ke minimarket."

Langkahnya terhenti di depan pintu samping. Pintu itu menghubungkan ruang tengah dengan taman samping rumah. Terbuat dari kayu sehingga suara apa pun di luar sana, akan mudah terdengar oleh orang di dalam sini.

Sepertinya heboh sekali di luar.

"Ahahaha ... kau benar sekali Fu."

Sepertinya itu suara Kushina. Karena merasa penasaran, Mei pun mendekati pintu itu. Ia tidak langsung membukanya dan bergabung dengan mereka, setidaknya ia harus tahu dulu topik lucu apa yang sedang mereka bicarakan, jadi seandainya ia menyela nanti, ia tidak terlihat bodoh.

"Ternyata bukan hanya aku yang suka dengan anak-anak batita," ujar Fu riang. "Padahal mereka kadang mengesalkan. Suka seenaknya, suka mengotori rumah, suka menangis. Namun, jika mereka sedang merajuk, itu lucu sekali. Aku selalu ingin mencubit pipi keponakanku, Kushina-san. Apa itu wajar?"

Kushina tergelak. Ditatapnya muka polos Fu yang cemberut karena tawanya. Wanita paruh baya itu menepuk punggung Fu sedikit keras.

"Tentu saja itu wajar, asal kau tidak benar-benar mencubitnya. Kau tahu, itu pasti membuat mereka kesakitan."

Di dalam Mei tertawa dalam hati. Ia benar-benar menyukai pelayan muda enerjik bernama Fu itu, karena kepolosannya. Bukan berarti mudah dikelabui, tetapi mengatur seorang anak muda yang polos seperti Fu itu memang lebih mudah. Tidak banyak membantah dan tidak banyak menolak.

"Lalu, Kushina-san, Anda pasti ingin punya cucu juga bukan?"

Deg

Jantung Mei berhenti satu detakan.

"Hahahaha, tentu saja, Fu. Aku ingin sekali punya cucu. Jika dia sudah ada, pasti aku akan mengasuhnya dan mengajaknya bermain setiap hari. Ia pasti lucu sekali, kan?"

Deg

Kembali napas Mei tercekat.

"Benar sekali, Kushina-san. Kau pasti akan menyayanginya. Kalau nanti Mei-sama dan Naruto-sama sudah punya anak, aku boleh ikut menggendongnya? Ijinkan aku yaa."

"Past-"

Ucapan Kushina terhenti. Mei yang ada di balik pintu menatap nyalang pada atap rumah. Bersamaan dengan rasa penasaran akan kelanjutan ucapan mertuanya.

Suasana hening. Sepertinya baik Kushina maupun Fu baru saja menyadari sesuatu.

"A-ah, saya mohon pamit, Kushina-san. Saya lupa tadi belum membereskan taman belakang," ucap Fu dengan nada panik dan salah tingkah.

Kushina pun hanya bisa mengangguk, "I-iya, aku juga akan membereskan kamar. Kalau lupa bisa-bisa Minato marah nanti ahahahaha ..."

Kushina menggaruk belakang kepalanya salah tingkah. Namun tak kunjung berlalu dari tempatnya berdiri.

Merasa keheningan kembali mengisi, Mei menggeser posisinya menuju jendela. Melalui tirai kaca itu ia mengintip. Hatinya tercubit, dilihatnya Kushina terdiam, atau melamun. Mimiknya jelas sedang bersedih dan tenggelam dalam pemikiran rumit. Bahkan wanita tua itu tidak sadar ia tengah berdiri sambil memegang selang penyiram air.

Puk

Tepukan di bahu menyadarkan Kushina dari pemikirannya. Ia menoleh, dilihatnya Minato tersenyum lembut.

"Jangan terlalu dipikirkan. Apa kau lupa, semua yang terjadi pada kita semua itu kehendak Tuhan."

Ucapan bijak Minato mencipta senyum tipis di bibir kering Kushina. Wanita itu mengangguk meski kesedihan belum sepenuhnya menghilang dari wajah tua itu. Mereka berdua pun beranjak pergi dari taman.

Tinggallah Mei dengan segala kekacauan hati dan pikirannya. Ia sandarkan tubuh pada daun pintu yang masih tertutup. Matanya memejam, menyembunyikan iris cantiknya dalam kesedihan. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan hal penting seperti ini. Hal sakral yang pasti terjadi pada setiap pasangan menikah. Bukan hanya pasangan tersebut saja, orang tua mereka juga sudah pasti menginginkan kelahiran generasi penerus mereka, kelahiran cucu. Begitu pun Kushina dan Minato. Kendati Minato terlihat lebih bijak tadi, tapi Mei memiliki keyakinan dalam hati bahwa ayah mertuanya pun memiliki harap yang sama.

Bulir air mata menetes di kedua sudut mata Mei. Ia mengingat umurnya sendiri yang sudah lebih dari 40 tahun. Memiliki anak di rentang usia tersebut sangatlah kecil kemungkinannya. Belum lagi ia pernah memiliki riwayat keguguran janin dari mendiang suami pertamanya. Keguguran yang terjadi akibat kecelakaan di tangga saat itu tidak hanya membunuh janin yang ia kandung tapi juga berakibat cukup fatal pada organ rahimnya. Di umur lebih 40 dengan rahim yang pernah kecelakaan, berapa peluang dapat memiliki anak? Hampir nol, nyaris mustahil.

Air mata Mei semakin deras membasahi pipi. Bagaimana mungkin ia menjadi makhluk egois yang menginginkan kebahagiaannya sendiri, dan melupakan kebahagiaan orang lain? Bagaimana mungkin ia hanya terfokus pada tujuan menghilangkan kesepiannya di hari tua, tanpa ia memahami bahwa Naruto dan keluarganya sudah pasti menginginkan penerus?

Mei terduduk lemas, meratapi kebodohannya. Ia begitu bodoh, hingga tanpa sadar telah merenggut harapan dan kebahagiaan sebuah keluarga kecil

...

Gedung megah dengan tulisan Mizu Group yang besar itu berdiri dengan gagahnya. Seakan tak ada yang mampu menyaingi kebesarannya di Konoha ini, pun di Jepang sendiri. Pagi hari sudah banyak orang terlibat keramaian di jalan raya menuju gedung itu. Hal yang wajar mengingat perusahaan itu memang memiliki banyak karyawan. Mereka bahkan berdatangan dari kota lain, merantau dan mengadu nasib di sana. Sebuah keputusan yang tepat karena rerata gaji karyawan di Mizu Group cukup untuk menutup biaya hidup mereka selama tinggal di Konoha, dan menyisakannya lebih dari cukup untuk ditabung.

Di gedung inilah kendali terhadap Mizu Group dilaksanakan. Semua kelengkapan administratif termasuk data-data perusahaan yang berada di bawahnya tersimpan dengan rapi dalam ruang-ruang yang diberi nama khusus dengan nama anak perusahaan. Dan diberi rak-rak khusus di dalamnya sesuai dengan divisi yang ada di setiap anak perusahaan.

Di lantai dasar, ruang CEO Mizu Group berada. Dulu, ruangan itu ada di lantai enam belas, tetapi sejak Naruto memimpin, ia meminta ruang tersebut dipindah ke lantai dasar. Tepat di belakang lobi utama gedung. Alasannya hanya satu, pria itu terlalu pelit waktu. Ia tidak mau waktunya untuk bekerja berkurang karena ia habiskan di dalam lift. Aneh memang, tetapi apa mau dikata, itu sudah menjadi keputusan mutlaknya.

Pagi ini pria berambut kuning itu tampak ceria. Ya, seperti hari-hari yang dilaluinya setelah menikah. Memang, ia tidak pernah mencintai Mei Terumi seperti cinta seorang pria terhadap wanitanya. Cintanya tidak dalam bentuk itu, tapi dalam bentuk lain yang ia sendiripun sukar mendeskripsikan. Buktinya ia akan dengan senang hati dan suka rela melakukan apapun dan berkorban untuk Mei.

Meskipun begitu, bukan berarti pernikahan ini membuatnya tidak bahagia. Memang, disebabkan pernikahan ini ia harus rela mengubur cinta masa lalunya yang telah tertanam begitu kuat, tetapi bukan berarti ia tidak bisa mencintai lagi bukan? Semua ini sudah ditakdirkan untuknya. Biarlah cintanya kepada Hinata cukup ia simpan dalam hati. Biarlah keinginannya untuk bertemu dengan Hinata menjadi impian tak terkabul. Toh, jika ia bertemu dengan Hinata pun, bukan menjadi jaminan bahwa ia dan gadis itu akan bahagia. Apalagi jika ternyata Hinata telah menikah dengan orang lain, tentu akan aneh bukan? Dan ia bisa menjadi perusak kebahagiaan mereka.

Saat ini ada Mei di sampingnya, ada Mei yang menunggu sebuah kebahagiaan bersamanya, meski itu tanpa cinta. Dan ia mendadak teringat ucapan sang ibu beberapa waktu lalu.

"Cinta bisa datang dan pergi kapan pun tanpa kau sadari."

Naruto tersenyum. Ia tidak akan melupakan Hinata dan seluruh cintanya pada wanita itu.

Dering pengingat di ponsel mengagetkan pria berambut kuning itu. Sontak ia membaca tulisan yang terpampang di layar.

"Rapat dengan divisi keuangan," ejanya.

Naruto berdiri dan bergegas mengambil laptop Applenya di atas meja. Kemudian berjalan keluar ruangan. Ia disambut beberapa karyawan yang langsung membungkukkan badan. Ia pun membalas dengan senyum lima jari andalannya.

Ruang rapat ada di lantai enam belas jadi ia harus berjalan cepat jika tidak ingin terlambat. Namun, sebisik suara mengalihkan perhatiannya. Awalnya ia hanya penasaran, barangkali mereka membicarakan kebijakan perusahaan yang tidak mereka sukai. Jadi Naruto bisa menampung sementara dan menyimpannya sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan kebijakan di lain waktu.

Ia tajamkan pendengaran, sambil berpura-pura sedang mengirim pesan teks melalui ponselnya.

...

"Semuanya sudah jelas," ucap salah seorang karyawan wanita yang dari suara, ia ketahui bernama Isaribi.

"Kau benar, Isaribi. Pernikahan mereka itu terlalu dipaksakan."

Naruto mendengar suara lain yang berbicara. Ia perlahan mengintip untuk memastikan siapa saja yang terlibat dalam percakapan itu. Sebenarnya ia tidak tahu apakah perbincangan itu mengenai dirinya, tetapi rasa penasaran yang menggelitik membuatnya memutuskan untuk mendengarkan percakapan itu hingga akhir. Ada dua orang wanita dan seorang pria di sana. Sepertinya itu Isaribi, Hotaru dan Utakata.

Isaribi dan Hotaru adalah dua wanita cantik dari divisi pemasaran. Ia ingat betul karena keduanya pernah menyatakan cinta kepada dirinya saat makan siang bersama. Namun tentu saja Naruto menolak, saat itu ia masih menyimpan nama Hinata sebagai satu-satunya wanita yang ia inginkan dalam hidupnya.

Kemudian Utakata, dia dari tim Quality Control. Pria tampan yang sering menjadi sorotan para karyawati muda di sini. Dan konon kabarnya, kharisma Utakata langsung tersingkir begitu Naruto pertama kali menginjakkan kaki di gedung ini.

"Menurutmu, apa yang dipikirkan wanita tua itu dengan menikahi pria muda nan tampan seperti Naruto-sama?"

Deg

Jadi itu memang tentang dirinya, dan apa itu tadi? Wanita tua? Mereka berani memanggil Mei sebagai sebutan wanita tua? Bukan masalah istilah itu sebenarnya, tapi mereka mengatakan itu dengan nada yang jelas sekali meremehkan. Tangan Naruto terkepal, tetapi masih berusaha menahan diri.

"Ish, dia seperti tante-tante keriput yang doyan daun muda saja. Dia pikir Naruto-sama akan bahagia dengan menikahinya?"

Kalimat yang keluar dari bibir Hotaru sungguh membuat Naruto nyaris hilang kendali. Giginya bergemeletuk menahan emosi.

"Kau benar, Hotaru. Mungkin dia ingin mainan yang lebih "besar" dan "kuat" jadi hasratnya bisa selalu terpuaskan."

"Menjijikkan! Dasar wanita tua murahan!"

Naruto sudah melangkahkan kaki kanannya hendak menghampiri mereka, sebelum ...

"Hei, kalian ini. Jangan terlalu menyudutkan Mei-sama."

Naruto menghela napas lega, setidaknya ada Utakata yang berusaha meredam kekurangajaran kedua wanita itu.

"Kalian pikir kenapa Naruto mau menikahi Mei-sama?" Tanya Utakata

Telinga Naruto menegak.

"Kenapa memangnya?"

"Jawabannya sudah jelas bukan? Mei-sama pemilik perusahaan sebesar Mizu Group, sayang jika wanita sekaya itu dilewatkan bukan? Terlebih Mei-sama jauh lebih tua dari Naruto. Jika ia mati, tentu Naruto sebagai suaminya yang akan mendapatkan hak waris. Lalu dia bisa menikahi wanita lain yang lebih segar. Kalau saja aku tidak lambat, mungkin akulah yang berada diposisi Naruto, dan jadi calon pemilik perusahaan besar ini. Lagian ya meski sudah tua, Mei-sama tubuh masih sangat manis kalau dinikmati. Hahahaa."

Runtuh sudah dinding penghalang amarah Naruto. Utakata itu benar-benar bajingan!

Bagai seekor rubah kelaparan, pria itu mendekati mereka bertiga. Awalnya Isaribi yang terkejut karena melihat kedatangan Naruto, tetapi belum sempat ia memperingatkan teman-temannya, tinju Naruto sudah mendarat di pipi Utakata.

Tinju pertama itu bahkan membuat tubuh Utakata terpental jauh jauh saking kuatnya, hingga membuat sekat kaca pemisah ruangan pecah berhamburan akibat tak mampu menahannya.

Tanpa ampun pria itu menghujani tubuh Utakata dengan tinju dan tendangan. Teriakan Utakata bahkan menggema, memanggil beberapa karyawan yang ada di sana untuk berkumpul. Namun, tidak ada yang berani menghentikan. Tak ada satupun yang berani setelah melihat langsung siapa orang yang mengamuk, siapalagi kalau bukan CEO mereka.

Naruto sudah seperti orang kesetanan, tanpa henti dipukulnya wajah Utakata hingga lebam di sana sini. Ia tak peduli. Terlanjur sakit hati dengan ucapan pria itu tadi.

Isaribi dan Hotaru hanya bisa menangis. Memohon pada Naruto untuk menghentikan tindakannya, tanpa melangkah sebab mereka dikuasai ketakutan.

Setelah Utakata tak sadarkan diri, barulah Naruto berhenti. Napasnya memburu, mukanya memerah padam, rahangnya mengeras, kentara menunjukkan emosi yang menguar.

Ia menoleh pada dua wanita di belakangnya. Isaribi dan Hotaru seketika menciut, mereka sadar kesalahan mereka. Gemetar tubuh tak memberikan rasa iba pada diri Naruto. Setelah membenarkan letak dasinya yang berantakan, ia mengacungkan telunjuk pada keduanya.

"Kalian dipecat! Kemasi barang kalian dan jangan pernah menampakkan muka di depanku lagi."

Mereka lantas berlari ketakutan. Menangis pun Naruto tak peduli, mereka sudah keterlaluan. Berani dan lancang memberikan tuduhan menjijikkan pada wanita yang sangat ia hormati.

"Dan kalian," tunjuknya pada seluruh karyawan lain yang mengerumuni, "jika ada yang berani membocorkan kejadian ini keluar, apalagi jika sampai ke telinga Mei-sama, aku jamin hidup kalian tidak akan selamat! Jangan lupa, lempar tubuh laki-laki brengsek ini keluar gedung! Aku tidak peduli jika dia dilahap anjing jalanan."

Naruto pun berlalu pergi meninggalkan kantor. Peduli setan dengan rapat kali ini, ia butuh penenang sebagai ganti kejadian yang baginya sangat memuakkan.

...

Naruto memacu mobilnya gila-gilaan. Tangannya mencengkeram setir kemudi erat-erat. Emosi masih menguasainya. Pembicaraan buruk tentang dirinya dan Mei oleh ketiga karyawannya tadi benar-benar membuat darahnya mendidih.

Jugo hampir menyemburkan kopi yang baru diminumnya saat suara klakson terdengar. Ia nyaris mengumpat.

"Ck, siapa yang datang bertamu siang-siang begini," rutuknya.

Namun ia telan kembali rutukannya saat melihat mobil Naruto di luar. Jugo berlari keluar pos jaga dan segera membuka gerbang. Ia sedikit heran karena Naruto pulang lebih awal dari biasanya. Melihat kaca samping kemudi terbuka, Jugo membungkuk hormat. Ia bahkan tidak jadi melontarkan kalimat sapaan ketika dilihatnya raut wajah Naruto nampak kurang bersahabat. Tidak biasanya lelaki yang telah resmi menjadi suami majikannya itu menampilkan raut wajah garang ketika pulang.

Naruto tak kunjung beranjak meski mobilnya sudah terparkir di garasi. Butuh beberapa menit baginya menenangkan diri.

Ketika memasuki rumah, Naruto melihat Mei berdiri di dekat jendela samping rumah membelakanginya. Ia mengira istrinya itu sedang memandangi taman. Naruto mendekat saat Mei berbalik, tubuh mereka nyaris bertabrakan.

Mei yang terkejut karena kehadiran Naruto buru-buru mengusap wajahnya. Meski begitu sisa air mata di wajahnya masih terlihat di mata Naruto.

"Matamu basah, kau habis menangis?"

Naruto mencoba menyentuh pipi istrinya tetapi Mei menjauhkan wajah, menghindari sentuhan Naruto.

"Aku tidak apa-apa, ini hanya kelilipan," kilahnya, "Kau bilang akan pulang terlambat," tanya Mei mencoba mengalihkan topik.

"Ya, ada sedikit masalah jadi aku ingin pulang saja," kata Naruto sembari melirik ke arah lain.

Wajahnya berubah kaku mengingat kejadian di kantor tadi. Ia masih marah. Bukan Mei namanya jika tidak bisa membuat Naruto menceritakan apa yang terjadi. Tatapan intimidasinya mau tak mau membuat Naruto membuka mulut.

"Aku memecat tiga karyawan kantor."

"Apa kinerja mereka buruk?"

Naruto menggeleng.

"Lalu?"

"Mereka berbicara buruk tentangmu, tentang kita," jawab Naruto.

Ia mengepalkan tangan menahan emosi yang meluap tiap kali mengingat kalimat-kalimat tak pantas yang orang lain katakan tentang wanita yang sekarang menjadi istrinya.

Tanpa Naruto jelaskan dengan detail pun Mei bisa menebak arah pembicaraan. Pernikahannya dengan Naruto yang notabene berusia jauh lebih muda darinya pasti menimbulkan omongan yang tidak-tidak. Mei sudah menduga hal ini sebelumnya, ia sudah mempersiapkan diri dengan perkataan orang tentangnya. Ia tidak peduli. Ia bahagia dengan pernikahan ini meski di satu sisi ia merasa bersalah karena Naruto juga terkena imbasnya.

Digunjing orang mungkin sanggup Mei tahan, tapi soal keturunan yang tidak dapat ia berikan pada Naruto dari rahimnya sungguh membuatnya kalut. Mei benar-benar merasa bersalah. Matanya kembali berkaca-kaca.

"Aku ingin ke kamar," kata Mei kemudian berlalu meninggalkan Naruto.

Naruto merutuk dalam hati. Ia tadi menumpahkan semua isi pikirannya kepada Mei, tapi ia lupa berbuat sebaliknya. Mei pandai mengendalikan suasana. Padahal ia jelas tahu kalau Mei habis menangis, tapi gagal mengetahui apa penyebab tangisan istrinya itu.

Dia merasa payah sebagai suami.

Apa dengan kondisi begini, rumah tangga mereka bisa berjalan baik?

Naruto mengusap mukanya dengan keras.

"Tck. Ya Tuhaaaaan."

Naruto ragu kalau ia bisa bersikap biasa, setelah kejadian barusan yang membuat hubungan mereka canggung.

...

Seperti biasa, Hinata mondar mandir di koridor menunggu seseorang. Saat melihat orang yang ditunggunya tampak dari kejauhan, Hinata bersiap mencegatnya.

"Kou-san, mau menemui Fuuka-san ya?"

Kou adalah karyawan bagian produksi. Ia sering bolak-balik ke ruang divisi keuangan untuk mengantarkan berkas anggaran biaya produksi yang nantinya akan disusun ulang oleh divisi keuangan.

"Iya Hinata-san, aku harus cepat memberikan berkas ini," jawab Kou menunjukkan beberapa dokumen di tangannya.

"Fuuka-san sedang keluar, biar aku saja yang nanti memberikan berkas itu padanya."

"Syukurlah, kau memang selalu datang di saat yang tepat, Hinata-san. Aku memang sedang buru-buru sekarang."

Kou memberikan semua dokumen di tangannya kepada Hinata, "Tolong berikan pada Fuuka-san ya."

"Beres, kau bisa mengandalkanku."

Hinata menyunggingkan senyum menerima berkas yang disodorkan padanya.

Setelah kepergian Kou, Hinata segera menuju ruang fotokopi. Ia harus cepat-cepat menyalin semua berkas laporan serta nota-nota belanja yang didapatnya dari Kou sebelum diberikan pada Fuuka.

Akan tetapi, Hinata tidak menyadari bahwa sedari tadi sepasang mata mengawasinya.

Hinata meletakkan dokumen yang didapatnya dari Kou dan meletakkannya di meja Fuuka kemudian berputar menuju mejanya sendiri.

Meski sudah memasuki jam makan siang, ia sama sekali tidak ingin keluar untuk sekadar membeli makan siang di kantin. Justru jam istirahat inilah kesempatannya untuk menyusun berkas rahasia di tengah sepinya ruangan. Bukti bagi dirinya untuk membuat perhitungan pada sekomplotan orang yang telah melenyapkan dua nyawa sahabatnya. Hinata berjanji, mereka harus membayar mahal sebagai harganya.

Hinata memilah dokumen kantor yang sudah ia selesaikan, menyusunnya di sisi meja untuk diserahkan pada Tuan Kakuzu nanti. Lalu menata dokumen dan nota salinan dari divisi produksi yang ia dapat dari Kou. Kemudian ia meraih tasnya dan mengeluarkan beberapa dokumen lain. Dokumen anggaran keuangan perusahaan dibuat oleh Fuuka dan Sakon, rekan satu ruangannya. Hinata diam-diam menyalinnya kemarin. Hinata celingak-celinguk mengawasi ruangan. Merasa tidak ada orang lain selain dirinya, ia mengkaji ulang dokumen yang dibuat rekannya untuk disesuaikan dengan nota yang tertulis di berkas Kou.

Ringkasnya, pekerjaan Hinata dua kali lipat dari yang seharusnya. Sebab setiap berkas hasil pekerjaannya dibuat dua rangkap, satu untuk divisi keuangan dan satu lagi ia arsipkan sebagai rahasia pribadinya. Ini sudah menjadi kegiatannya sejak sebulan lalu. Mengcopy semua file dari divisi produksi dan divisi lainnya, lalu menyusun ulang semua laporan keuangan perusahaan.

Hinata sudah bertekad untuk mengusut tuntas kecurangan yang dilakukan komplotan penjahat pembunuh dua sahabatnya di perusahaan ini. Untuk itu, ia butuh banyak bukti yang akan memberatkan mereka semua di pengadilan.

Berkat berkas yang tersimpan di komputer milik Shino, serta dokumen milik rekan-rekan satu divisinya yang berhasil ia salin diam-diam selama ini, beberapa bundel dokumen yang bisa menjadi bukti adanya kecurangan sudah berhasil ia kumpulkan. Termasuk dokumen-dokumen palsu, laporan keuangan yang tidak sesuai, aliran transfer dana perusahaan yang mengalirnya ke tempat yang tidak jelas dan masih banyak dokumen sejenis yang sudah ia kumpulkan sejak satu bulan yang lalu.

...

Hinata POV

"Hinata-san, apa Kou menitipkan berkasnya padamu lagi?"

Aku hampir memekik saat mendengar suara Fuuka di belakangku. Buru-buru aku menutupi berkas-berkas pentingku dengan map-map yang berserakan di meja.

"Ah, i-iya, a-aku sudah meletakkannya di mejamu."

Aku gugup luar biasa.

"Huh dia itu! Padahal sudah kuminta untuk membawakan semuanya langsung padaku, tapi selalu saja dia merepotkanmu. Maaf ya, Hinata-san."

"Ti-tidak masalah, lagi pula kita berada di satu ruangan, a-aku tidak merasa repot sama sekali."

Aku tersenyum sebisa mungkin untuk menutupi wajah gugupku.

"Sepertinya kau masih punya banyak berkas yang harus dikerjakan ya? Apa kau perlu bantuan?"

Fuuka- san tiba-tiba menawarkan bantuan. Namun saat kulihat wajahnya, ia sama sekali tak tampak serius dengan tawarannya. Aku sadar kalau dia hanya penasaran dengan apa yang sedang kukerjakan.

Dia berdiri menyandarkan pinggulnya pada meja dan tangannya bergerak hendak mengambil salah satu berkas yang ada di mejaku.

Berkas itu kan ...

Bahaya

"Tidak perlu, i-ini sudah selesai kok hehe ..."

Aku bertindak cepat, semoga tingkahku yang aneh ini tidak dia sadari. Dengan hati-hati kurapikan berkas-berkas di mejaku. Dari sudut mataku dapat kulihat ia berjalan mendekat ke kursiku. Dan aku sedikit berjengit saat ia meletakkan tangannya di pundakku.

"Oh ya Hinata-san, kusarankan padamu untuk mengerjakan apa yang jadi bagianmu saja, tidak perlu repot-repot mengerjakan yang 'lain'," bisiknya.

Tangannya sedikit meremas pundakku. Tubuhku menegang mendengarkan ucapan Fuuka-san. Aku menoleh padanya yang sudah berjalan ke luar ruangan. Aku semakin waswas, apa dia sudah tahu? Apa mungkin dia menyadari perbuatanku selama sebulan ini? Aku tidak yakin, tapi kalau benar begitu setidaknya dia menyadarinya akhir-akhir ini.

Dan … kalau dia tahu, pasti komplotannya juga sudah tahu.

Tidak

Ini buruk.

Mungkin inilah yang dirasakan Kiba-kun dan Shino-kun sebelum kematian mereka. Kuenyahkan rasa takutku, sungguh aku tidak memerhitungkan nasibku akan seperti ini. Aku tidak ingat seberapa banyak bukti yang telah berhasil aku kumpulkan, tetapi sepertinya ini sudah cukup.

Aku harus melaporkan ke pihak berwenang secepatnya. Apa sebaiknya aku langsung melapor polisi saja?

"Tidak tidak tidak. Itu bahaya. Polisi bisa saja disuap dan aku akan kena masalah," ucapku dalam hati.

Ini urusan internal perusahaan, aku tidak bisa melaporkannya ke polisi begitu saja sampai pihak atasan yang berwenang di perusahaan yang melaporkannya.

Lalu kepada siapa aku melaporkannya? Aku menumpukan wajah pada meja. Berpikir keras. Tidak mungkin aku mengadukan hal ini pada atasanku. Tuan Kakuzu bahkan terlibat, keluhku dalam hati. Siapa yang bisa kupercaya? Direktur Obito juga pasti menutupi semua ini karena dia dalang utamanya dan tidak ada orang di perusahaan ini yang jabatannya lebih tinggi dari Direktur Obito.

Aarrggh harusnya pemilik perusahaan yang melaporkan ini semua. Aku mengacak rambutku gemas.

Eh tunggu

Pemilik

Itu dia.

Satu-satunya cara adalah aku harus menemui pemilik perusahaan ini secara langsung. Aku masih ingat siapa orangnya. Wanita yang membuka agenda rapat keuangan tahunan di Konoha, pemilik saham terbesar perusahaan induk Mizu Group, Mei Terumi.

Ya, aku harus ke Konoha menemui Mei Terumi.

Malam ini, Neji-nii tidak pulang kerumah dan Hanabi-chan menginap di rumah temannya. Aku bisa bersiap-siap tanpa ditanyai oleh mereka. Pagi-pagi sekali aku pergi ke Konoha dengan kereta keberangkatan pertama.

Mungkin komplotan penjahat itu akan langsung mengejarku saat tahu besok aku tidak masuk ke kantor dan malah pergi ke Konoha. Semoga aku tidak tertangkap oleh mereka sebelum bertemu dengan Mei Terumi. Kalau iya, aku mungkin akan dibunuh juga. Oh Tuhan, aku berdoa padamu, berikan aku keselamatan sampai urusan ini selesai.

...

Author POV

Perasaan Naruto tidak enak. Mei tiba-tiba memintanya berkumpul di ruang tengah bersama ayah dan ibunya.

"Maaf mengumpulkan kalian seperti ini. Ada hal yang ingin aku diskusikan dengan kalian," kata Mei.

Tidak ada dari mereka bertiga yang membuka suara meski untuk sekedar bertanya, semua larut dalam pikiran masing-masing, menanti apa yang ingin Mei katakan selanjutnya.

Ini seperti de javu. Ya, persis seperti ketika Mei mengumpulkan semua orang lalu mengungkapkan keinginannya untuk menikah dengan Naruto. Tempat dan waktunya sama persis, juga orang-orangnya.

"Aku berpikir, mungkin akan lebih baik jika Naruto menikah lagi."

Naruto terkesiap. Serta seluruh yang hadir di sana. Apa kata Mei tadi? Ia itu ingin Naruto menikah lagi?

Kejadian seperti ini terulang lagi. Naruto tidak mau lagi ditimpa gamang yang menyakitkan seperti ketika ia harus mengambil keputusan untuk melupakan Hinata. Ia berdiri dari sofa yang didudukinya, meminta penjelasan dari ucapan Mei.

"Mei, apa maksudmu? Tadi itu bohong kan?"

Mei menggeleng.

"Katakan kalau tadi itu bercanda!"

"Tidak."

Naruto gusar. Tidak ada alasan untuknya menerima hal itu, "Aku tidak ingin menikah lagi."

Kushina dan Minato terdiam. Apalagi saat suara Naruto mulai meninggi, mereka tidak bisa berbuat banyak.

"Kau harus menikah lagi Naruto, ini demi kebaikanmu juga!"

"Apanya yang baik? Mei, dengarkan aku!"

Naruto meraih tangan Mei, menggenggamnya dengan kedua tangan besarnya, "Aku sudah berjanji untuk menemanimu. Aku tidak ingin menikah lagi. Hidupku hanya akan kuhabiskan denganmu saja."

Mei menggeleng, menarik kembali tangannya dari genggaman Naruto.

"Pokoknya aku akan membawakanmu seorang gadis dalam waktu dekat ke rumah ini," putus Mei final.

Setelah memikirkannya matang-matang sejak kemarin, Mei memutuskan akan mencari gadis lain untuk menjadi istri kedua Naruto. Demi kebaikan Naruto, sekali lagi ia harus bertindak egois.

"Percayalah padaku, Naruto, ini demi kebahagiaanmu juga," ucap Mei sebelum beranjak meninggalkan suami dan kedua mertuanya.

Mei telah mengeluarkan perintah mutlak. Tiada seorang pun di dalam rumah ini yang bisa membantahnya.

.

.

.

TBC


A/N:

Si Hitam note:

Akan dirilis Unbreakable Promise Side Story: Mei Chapter sebagai FF terpisah dalam bentuk oneshot. Isinya menceritakan versi penuh dari adegan malam pengantin NaruMei lengkap dengan semua adegan vulgar tanpa ada yang dipotong-potong seperti pada chapter ini. Tidak disarankan membaca jika anda adalah pecinta NH garis keras. Dan tujuan kami memisahkan bagian itu dari FF ini pun, karena kami fans NH yang masih ga rela jika FF untuk archive NH ini malah berisi adegan vulgar Naruto dengan karakter wanita lain. Tapi jika anda ingin mengetahui secara utuh cerita FF ini, kami pikir side story tersebut layak dibaca. Lebih khusus bagi Anda yang menyukai adegan ranjang, utamanya kalian para MilfLovers. Hahahaa