BECAUSE YOU ARE MINE

—BETH CERY—

—————

Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.

—————

KIM JONGIN—OH SEHUN

It's HUNKAI.

—————

BAB 2

Jongin berharap itu bukan Sehun. Jongin merasa aneh dan canggung.

Setelah dia duduk, Sehun meluncur duduk di sampingnya dengan anggun, bergerak ke bawah.

Jongin memakai rok model baby dol dengan manik-manik klasik yang halus yang dibelinya di toko baju bekas di Wicker Park .

Pada awal bulan September, malam menjadi lebih sejuk dari yang dia harapkan untuk pesta koktail. Jaket jeans yang kasual yang dia pakai hanya itu yang ia miliki, ada lipatan kecil-kecil pada gaunnya. Itu mengingatkan Jongin betapa menggelikan penampilannya, duduk di samping pria maskulin berpenampilan menarik.

Jongin bingung dengan dirinya sendiri, dan dengan pandangan Sehun padanya. Mata mereka bertatapan. Dia mengangkat dagunya. Senyum kecil melintasi bibirnya, dan sesuatu mengepal di perut terbawahnya.

"Jadi kau sekarang di tahun kedua program mastermu?"

"Ya, di Institut Seni."

"Sekolah yang bagus," bisik Sehun. Dia meletakkan tangannya di meja dan punggungnya yang berotot di belakang, terlihat begitu nyaman. Tubuhnya yang begitu tinggi, santai dan tegang mengingatkan Jongin pada hewan predator yang terlihat tenang sebelum melakukan aksinya dalam beberapa detik. Meskipun begitu pinggangnya ramping, bahunya lebar, memberikan gambaran serius pada otot di bawah kemejanya yang rapi.

"Sepertinya aku ingat tentang surat lamaran kerjamu. Kau belajar di bidang seni dan arsitektur di Universitas Nortwestern?"

"Ya," kata Jongin tanpa nafas, menarik pandangan dari tangan Sehun. Tangannya begitu elegan, tapi juga lebar, kasar dan terlihat sangat cakap. Pemandangan itu mengganggunya untuk beberapa alasan. Tapi dia tidak bisa menolak imajinasinya tentang bagaimana sensasi tangan Sehun pada kulitnya... membungkus pinggangnya.

"Kenapa?"

Dia mulai berpikiran tidak senonoh dan bertemu dengan pandangan Sehun yang kokoh. "Kenapa aku belajar seni dan arsitektur?"

Sehun mengangguk.

"Arsitektur untuk orang tuaku dan seni untukku," jawab Jongin, terkejut dengan jawaban jujurnya. Jongin selalu terlihat tak peduli ketika seseorang bertanya hal yang sama. Kenapa dia harus memilih salah satu bakatnya?

"Kedua orang tuaku adalah arsitek, dan dalam hidup mereka berharap aku juga menjadi arsitek."

"Jadi kau mengakui bahwa ini adalah harapan mereka. Kau bisa jadi seorang arsitek tapi tidak berencana menjadikannya sebagai pekerjaan."

"Aku akan selalu jadi arsitek."

"Aku ikut senang," kata Sehun ketika seorang pria yang tampan dengan tatapan terkunci dan mata abu-abu pucat yang begitu kontras dengan kulit gelapnya mendekati meja. Sehun mengulurkan tangannya.

"Taemin, bagaimana dengan bisnis?"

"Meledak," Jawab Taemin, pandangannya ke arah Jongin dengan penuh minat.

"Ms. Kim, ini Taemin. Dia manajer untuk Fusion. Aku mengambilnya dari restoran terbaik di Paris. Lee Taemin, perkenalkan Kim Jongin."

"Senang bertemu anda." Taemin berkata dengan lembut, aksen Prancis ada dalam suaranya. "Ada yang bisa saya bantu?"

Sehun menatap ke arah Jongin dengan penuh harap. Bibirnya yang terlihat begitu penuh dan kasar, pria maskulin, menegaskan pada Jongin sisi sensualnya.

Tegang.

Dari mana pikiran asing itu berasal?

"Terima kasih," jawab Jongin, walaupaun dadanya mulai berdetak tak karuan.

"Apa itu?" Sehun bertanya, menunjuk ke arah gelasnya yang setengah kosong.

"Hanya minuman biasa, air soda dengan lemon."

"Kau seharusnya lebih bersenang-senang Ms. Kim." Mengapa ketika Sehun menekankan namanya membuat telinga dan lehernya menajam?

Jongin sadar, ada beberapa hal unik tentang itu. Itu aksen Inggris, tapi beberapa di antaranya kadang terlihat pada cara bicaranya, sesuatu yang tidak bisa dikenalinya. "Bawakan kami sebotol Roederee Brut," kata Sehun pada Taemin yang tersenyum, membungkuk dan berjalan pergi.

Sehun terlihat bingung. Mengapa dia menghabiskan waktunya untuk minum bersama gadis itu? Tentu saja dia tidak minum champagne bersama semua pemenang. "Seperti yang aku katakan sebelum kedatangan Taemin, aku senang dengan latar belakang arsitekturmu. Bakatmu dan pengetahuanmu di lapangan tidak diragukan lagi. hasil karyamu penuh dengan ketelitian, dalam, dan bergaya. Lukisanmu yang ikut perlombaan begitu spektakuler. Kau dapat menangkap semangat yang aku inginkan untuk ruang masukku."

Pandangannya meluncur di sepanjang setelan tanpa cela milik Sehun. Bagaimana pun juga Sehun terlihat begitu menyukai kesempurnaan dan itu tidak mengejutkannya. Memang benar kebanyakan hasil karyanya terinspirasi dari kecintaannya pada bentuk dan bangunan. Tapi ketelitian bukanlah apa yang dia kerjakan. Sejauh ini.

"Aku senang bila kau menyukainya," kata Jongin dan berharap terdengar biasa saja.

Sebuah senyum menghantui bibirnya. "Ada sesuatu di balik ucapanmu. Apakah kau senang jika menyenangkan aku?"

Mulutnya melongo. Kata-kata yang hendak keluar tercekik di tenggorokan. Aku mengerjakan karya seni untuk diriku sendiri bukan untuk orang lain.

Jongin menghentikan dirinya sendiri sekarang. Ada apa dengannya? Pria ini punya andil mengubah hidupnya.

"Seperti sebelumnya yang aku katakan padamu, aku tidak gembira memenangkan kontes ini. Aku tersentuh."

"Ah," dia berbisik ketika Taemin datang dengan champagne dan ember es. Sehun tidak memandang ke arah Taemin yang sibuk membuka botol, tapi meneruskan untuk mengamati Jongin seolah dia adalah proyek ilmu pengatahuan alam yang paling penting. "Tapi bukankah suatu kebahagiaan jika ikut bahagia atas kemenanganmu sama dengan kau menyenangkan aku?"

"Bukan seperti itu maksudku." Jongin tergagap, sambil melihat ke arah Taemin yang sedang membuka champagne dengan suara letusan yang teredam.

Pandangan matanya kembali pada Sehun dengan kebingungan. Matanya berkilat tapi sebaliknya wajahnya tampak tenang.

Apa yang akan Jongin katakan pada dunia? Lagipula, walaupun Jongin tidak memberi jawaban atas pertanyaannya, mengapa pertanyaan Sehun begitu membuatnya begitu frustrasi?

"Aku gembira jika kau menyukai lukisanku. Aku sangat gembira."

Sehun tidak menjawab, hanya melihat pada Taemin yang sedang menuangkan cairan yang berkilauan ke dalam gelas. Dia mengangguk dan membisikkan ucapan terima kasihnya sebelum Taemin pergi. Jongin mengambil gelasnya ketika dia bersulang untuknya.

"Selamat."

Jongin mengatur senyumnya ketika gelas mereka bersentuhan dengan cepat. Jongin tidak pernah merasakan hal seperti ini, champagnenya kering dan sejuk terasa segar melintasi sepanjang lidahnya dan turun ke tenggorokannya.

Jongin memberikan pandangan sekilas pada Sehun.

Bagaimana mungkin Sehun bisa terlihat seolah lupa akan ketegangan di sekitar mereka padahal dia merasa mati lemas karena hal itu?

"Aku rasa karena kau adalah keturunan bangsawan, para pelayan di pesta koktail tidak mau melayani anda." Kata Jongin, berharap suaranya tidak gemetar.

"Maaf?"

"Oh maksudku—" Jongin mengutuk pelan pada dirinya sendiri. "Aku dulu pelayan koktail—Aku melakukannya ketika masih sekolah untuk membayar tagihan," tambahnya, betapa panik dan sedikit terintimidasi, Sehun tampak tertarik. Jongin mengangkat gelasnya dan meminum sekali teguk minuman dingin. Tunggu sampai dia mengatakan pada Taehyung betapa banyaknya minuman dingin itu. Tunggu sampai dia bilang pada Krystal dia sudah merusak hal ini. Teman baiknya itu akan jengkel padanya, walaupun teman sekamarnya yang lain—Suga dan Jin—akan menertawakannya pada kejadian tentang perbandingan kelas sosial yang nyata.

Jika saja Oh Sehun tidak terlalu tampan. Hal itu juga sangat mengganggu.

"Aku minta maaf," Jongin bekomat-kamit, "Aku tidak bermaksud bilang seperti itu. Ini hanya—Aku membaca bahwa kakek dan nenekmu adalah anggota keluarga kerajaan Inggris—seorang Earl dan Countess."

"Lalu kau berfikir aku akan memandang rendah pada seorang gadis yang menjadi pelayan, bukan begitu?" Tanya Sehun. Tidak ada kelembutan yang terlihat dari wajahnya, hanya membuat terlihat lebih memaksa.

Jongin mengambil nafas dan santai sejenak. Dia benar-benar tidak tahu kalau itu menyakiti Sehun.

"Aku menghabiskan waktu sekolahku lebih banyak di Amerika," kata Sehun. "Aku memutuskan untuk menjadi orang Amerika. Aku meyakinkan padamu, satu-satunya alasan Taemin datang untuk melayani kita adalah karena dia ingin. Kami adalah rekan bisnis dan sebagai tambahannya adalah persahabatan. Pelanggan kalangan atas dari Inggris lebih suka pelayan laki-laki sementara itu pelayan wanita hanya ada di novel kerajaan Inggris baru-baru ini, Ms. Kim. Bahkan jika mereka masih ada, aku ragu mereka bertingkah seperti penjahat. Maaf kalau aku mengecewakanmu."

Pipi Jongin seolah terbakar. Kapan dia akan belajar untuk menjaga mulut besarnya? Apakah tadi Sehun mengatakan padanya bahwa hal itu terlarang? Dia tidak pernah membaca mengenai hal ini sebelumnya.

"Di mana kau bekerja?" Tanya Sehun, tampak memberi warna merah padam di pipinya.

"Di High Jink di daerah Bucktown."

"Aku tidak pernah mendengarnya."

"Itu tidak mengejutkanku," Jongin berbicara dengan bernafas sambil menyesap champagnenya. Sehun mengerjap terkejut dengan suaranya yang merdu, tawanya yang kasar. Mata Jongin melebar ketika dia melihat wajah Sehun. Dia terlihat begitu senang. Hatinya mencelos. Oh Sehun begitu mengagumkan untuk dipeluk di setiap kesempatan, tapi ketika dia tersenyum, dia benar-benar ancaman bagi kesabaran wanita.

"Maukah kau berjalan denganku... berjalan beberapa blok? Ada hal penting yang ingin kutunjukkan padamu," kata Sehun.

Tangan Jongin berhenti dari gelas ke bibirnya. Apa yang terjadi di sini?

"Ini berhubungan dengan pekerjaanmu," katanya, terdengar mengena. Berwibawa. "Aku ingin menunjukkan pemandangan tentang apa yang aku ingin kau lukis untukku."

Kemarahan memecah keterkejutannya. Dagunya terangkat. "Jadi aku diminta untuk melukis apa yang kau inginkan?"

"Ya." Kata Sehun tanpa terbantahkan.

TBC

—————

Hello

Terimakasih untuk semua yang udah menyempatkan untuk review

Sebelumnya, aku minta maaf karena latar cerita yang aku ganti.

Part sebelumnya, aku ngambil latar Korea Selatan, tapi karena Novel aslinya bertalar di Amerika—dan aku juga ga terlalu paham dengan Korea Selatan. Hihi.

Jadi latar cerita akan aku ganti menjadi di Amerika. Part Sebelumnya juga aku ralat kok.

5 review for next chapter, again

Love, heorayoung.