BECAUSE YOU ARE MINE
—BETH CERY—
—————
Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.
—————
KIM JONGIN—OH SEHUN
It's HUNKAI.
—————
BAB 3
Jongin meletakkan gelas dengan membantingnya, menggetarkan meja. Sehun terdengar benar-benar keras kepala. Sombong sama seperti yang dia pikirkan. Seperti yang dia kira, memenangkan hadiah berakhir menjadi malam yang mengerikan. Lubang hidung Sehun mengembang dengan tatapan tajam ke arahnya tanpa berkedip, dan Jongin balik memandang.
"Aku mengusulkan agar kau melihat pemandangan itu, sebelum kau melontarkan perrnyataan yang tak pantas, Ms. Kim."
"Jongin."
Sesuatu yang menyilaukan dari mata birunya seperti sebuah sinar yang panas. Selama beberapa detik, Jongin menyesali nada bicaranya. Tapi kemudian Sehun memandangnya.
"Jongin, kan?" katanya lembut. "Panggil saja Sehun."
Jongin menipu dirinya sendiri dengan mengabaikan getaran pada perutnya. Jangan menjadi pembohong, Jongin memperingatkan dirinya sendiri. Sehun adalah tipe seorang penguasa hingga mencoba untuk mendikte, menghancurkan insting kreatifnya dalam proses ini.
Ini lebih buruk dari yang ia takutkan.
Tanpa berbicara lagi, Jongun keluar dari kursi dan berjalan ke arah pintu masuk restoran, setiap sel dalam tubuhnya, bergetar, merasakan gerakan Sehun di belakangnya.
————
Jongin tidak banyak bicara ketika mereka meninggalkan Fusion. Sehun mengarahkannya pada trotoar di sepanjang Sungai Chicago dan Lower Wacker Drive.
"Kemana kita akan pergi?" Jongin memecah keheningan setelah satu atau dua menit.
"Ke tempatku."
Sandal hak tingginya tersandung dengan sembrono pada tepi jalan, kemudian terhenti, "Kita pergi ke tempatmu?"
Sehun berhenti dan melihat ke belakang, jas hitamnya berkibar di sepanjang tubuhnya, pahanya terlihat lebih kuat dari angin Danau Michigan. "Ya, kita akan pergi ke tempatku." kata Sehun dengan lembut, dengan nada yang mengancam.
Jongin mengerut. Sehun jelas-jelas tertawa diam-diam padanya.
"Aku sangat senang bila aku dapat menghiburmu, Mr. Oh." Sehun menarik nafas dan memandang ke arah Danau Michigan, benar-benar jengkel pada gadis itu dan mencoba untuk mengumpulkan pikirannya.
"Aku bisa melihat jika kau merasa tidak nyaman, Tapi kau bisa memegang kata-kataku: ini semua hanya profesionalitas. Ini hanya tentang lukisan. Pemandangan yang ingin kau lukiskan untukku dari kondominium tempatku tinggal. Tentu saja kau bisa tidak percaya bahwa aku tidak mungkin menyakitimu. Tapi semua orang di dalam ruangan itu melihat ketika kita berjalan keluar restoran bersama."
Sehun tidak perlu mengingatkannya. Rasanya seolah semua mata di Fussion menatap mereka ketika mereka pergi.
Jongin memberikan tatapan waspada ketika mereka mulai berjalan lagi. Rambut hitamnya yang tertiup angin telah dikenal baik oleh Sehun sekarang. Dia mengerjap dan merasa de javu.
"Apakah kau mengharuskan aku untuk bekerja di apartemenmu?"
"Apartemenku sangat luas," Sehun berbicara dengan bosan. "Kalau kau lebih suka, kau tidak perlu melihatku seterusnya."
Jongin terbelalak pada kuku kakinya, menyembunyikan keterkejutan dari Sehun. Ia tidak ingin gambaran yang tidak diundang terlihat pada matanya; gambaran tentang Sehun yang berjalan keluar dari shower, tubuh telanjangnya memancarkan kelembutan. Handuk kecil melilit pinggangnya, satu-satunya hal yang memisahkan pandangan Jongin dari tampilan kebangggaan pria.
"Ini sedikit tidak lazim." kata Jongin.
"Aku benar-benar tidak lazim," Sehun berbisik. "Kau akan mengerti ketika kau melihat pemandangannya."
Sehun tinggal di 340 East Archer, sebuah gedung dengan gaya Italia Renaissance klasik yang dibangun sekitar tahun 1920-an yang Jongin kagumi sejak mempelajarinya di sekolah. Bagaimanapun juga, gedung ini cocok untuk Sehun, elegan, tenang, bangunan dengan tembok batasan hitam. Jongin tidak telalu terkejut ketika Sehun mengatakan padanya bahwa tempat tinggalnya meliputi dua lantai.
Pintu lift pribadi Sehun bergeser tanpa suara, dan ia melebarkan tangannya sebagai ajakan untuk Jongin berjalan sebelum dirinya.
Jongin masuk ke tempat yang ajaib.
Kain yang mewah dan perabot yang bagus, tapi terlepas dari kekayaannya, pintu masuknya diatur untuk menyampaikan sambutan-sambutan—sebuah sambutan sederhana, mungkin, meski begitu merupakan sebuah sambutan. Dia melihat cepat bayangan dirinya pada cermin antik. Rambut pirang panjangnya yang kemerah-merahan tertiup angin dan pipinya menjadi kemerahan. Dia sedang berfikir apa warna dari angin itu, tapi khawatir dari akibat kebersamaannya dengan Oh Sehun.
Kemudian dia ingat akan karya seninya, dan melupakan segalanya.
Jongin turun ke bawah menuju ke ruangan depan yang luas yang juga berfungsi sebagai galeri, mulutnya menganga ketika dia melihat-lihat lukisan, beberapa baru untuknya, beberapa merupakan karya besar yang mengirimkan kejutan menyenangkan pada dirinya sebagai orang pertama yang melihatnya.
Jongin berhenti di samping miniatur patung yang terletak di dalam lajur, sebuah replika yang sangat bagus dan terkenal bagian dari seni Yunani kuno.
"Aku sangat menyukai Aphrodite dari Argos," Sehun berbisik, pandangannya begitu detail pada topeng yang begitu indah dan corak yang anggun dari tubuh telanjang yang terukir pada batu pualam yang indah.
"Kau suka?" Tanya Sehun, terdengar begitu intens.
Jongin mengangguk, dipenuhi kekaguman dan kembali berjalan.
"Aku baru mempoleh salah satunya beberapa bulan lalu. Itu susah didapatkan." Kata Sehun, mulai membawa Jongin keluar dari kekaguman yang luar biasa.
"Aku menyukai Sorenburg." Kata Jongin, menunjuk pada seniman yang menciptakan lukisan di depan tempat mereka berdiri.
Sehun melihat kembali padanya, tiba-tiba tersadar bahwa beberapa menit terlewati dan Sehun merasa seolah berjalan sambil tidur dalam suasana yang menenangkan di kondominiumnya—tanpa diundang, bahwa Jongin pun mengikuti arahannya tanpa berkomentar.
Jongin sekarang berdiri di sebuah kamar yang didekorasi dengan kain berwarna kuning mewah, biru pucat, dan cokelat gelap.
"Aku tahu. Kau menyebutnya sebagai kepribadianmu pada surat lamaran untuk perlombaan."
"Aku tidak percaya kau suka expresionisme."
"Kenapa kau tidak percaya?" Tanya Sehun, dengan suaranya yang rendah dan membuat telinga Jongin menajam dan kulitnya meremang sepanjang lehernya. Sehun memendang sekilas padanya. Lukisan yang Jongin sukai digantung di atas kanvas beludru kecil. Sehun terlalu dekat tanpa disadarinya, Jongin menjadi heran sekaligus senang.
"Karena... kau memilih lukisanku," Jongin berkata dengan lemah. Tatapannya meluncur ke seluruh tubuhnya. Jongin menelan ludah. Sehun membuka kancing mantelnya. Bersih, bau yang lezat dari sabun masuk ke hidungnya. Berat, sebuah tekanan yang berat terjadi pada kelaminnya. "Kau sepertinya... meminta terlalu banyak," Jongin mencoba menjelaskan, suaranya hanya berupa bisikan.
"Kau benar," kata Sehun. Sebuah bayangan terlihat menutupi sosok tegasnya. "Aku tidak suka kecerobohan dan kekacauan. Tapi bukankah Sorenburg seperti itu." Dia memandang pada lukisan. "Ini tentang arti dari kekacauan. Apakah kau setuju?"
Mulut Jongin menganga ketika Sehun melihat wajahnya. Dia tidak pernah dengar karya Sorenburg diuraikan begitu ringkas.
"Ya, tentu saja," kata Jongin pelan.
Sehun memberikannya senyum kecil. Bibirnya yang penuh menjadi hal paling menarik, disamping matanya. Dagunya yang kokoh. Juga tubuhnya yang luar biasa.
"Apakah telingaku sedang menipuku," Sehun berbisik, "Atau dari nada jawabanmu yang kudengar, Jongin?"
Sehun kembali memandang lukisan Sorenburg. Napasnya terbakar di paru-parunya. "Kau berhak mendapatkan kehormatan ini. Kau memiliki selera seni tinggi."
"Terima kasih. Aku setuju."
Jongin mengambil resiko dengan menatap sekilas ke samping.
Sehun menatapnya dalam kegelapan—mata malaikat.
"Biarkan aku membuka jaketmu," kata Sehun, sambil mengulurkan tangannya.
"Tidak." Pipi Jongin memanas ketika suaranya terdengar kasar.
Kesadaran dirinya hilang pada ketertarikannya. Tangan Sehun menjangkaunya.
"Aku akan mengambilnya."
Jongin membuka mulutnya untuk mendebat Sehun, tapi terhenti ketika dia sadar bahwa tatapan Sehun menguncinya dan sedikit meninggikan alisnya.
"Wanita memakai baju, Jongin. Tidak ada siapa-siapa di sini. Pelajaran pertama yang akan kuajarkan padamu."
Jongin memberi pandangan pura-pura jengkel terhadap Sehun dan menarik keluar jaket jeansnya. Udara terasa begitu sejuk di sekitar bahu telanjangnya.
Tatapan Sehun terasa hangat. Dia meluruskan punggungnya.
"Kau bilang akan berencana untuk mengajariku lebih banyak."
Jongin cemberut, memberikan jaket itu pada Sehun.
"Mungkin aku mau. Ikut aku."
Sehun menggantungkan jaketnya, kemudian membawa Jongin turun ke lorong galeri di mana terdapat sebuah cahaya kekuningan. Dia membuka salah satu pintu masuk tinggi, dan Jongin berjalan masuk ke dalam. Jongin mengira akan melihat kamar lain yang luas dengan heran, yang malah lebih besar, tapi ruangan sempit dengan lantai bertingkat—ke langit-langit jendela. Sehun tidak menyalakan lampu. Dia tidak membutuhkannya. Kamar itu ilustrasi dari pencakar langit dan memantulkan cahaya mereka dalam sungai gelap. Sehun berjalan ke arah jendela tanpa berbicara. Jongin pun berdiri disamping Sehun.
"Mereka hidup, gedung... lebih dari lainnya," Jongin menenangkan suaranya tak lama kemudian. Sehun memberikan pandangan padanya dan menghadiahi sebuah senyuman. Rasa malu membanjiri Jongin.
"Maksudku, mereka tampak seperti itu. Aku pikir selalu seperti itu. Salah satunya memiliki jiwa. Terutama, di malam hari... Aku bisa merasakannya."
"Aku tahu kau bisa. Itulah kenapa aku memilih lukisan mu."
"Bukan karena kesempurnaan dari garis lurus dan barang tiruan yang tepat?" Tanya Jongin dengan gemetar.
"Tidak, Bukan karena itu."
Ekspresi Sehun datar ketika dia tersenyum. Perasaan senang memenuhi Jongin. Sehun akhirnya mengerti tentang karyanya selama ini. Dan... dia akan memberikannya hal yang Sehun inginkan.
TBC
Hello!
Sekai's Lover, bksekaii, jongiebottom, jjong86, hkhs88, PeriRumah, jeyjong, Park Eun Yeong, jongdaetrash, dinda94, sexkai94, Jamurlumutan434
Terimakasih sudah ikut untuk memberikan review.
Seperti chapter sebelumnya, setelah 5 review aku akan lanjut lagi. Hihi.
