BECAUSE YOU ARE MINE

—BETH CERY—

Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.

KIM JONGIN—OH SEHUN

It's HUNKAI.

BAB 4

Dia terbelalak pada pemandangan yang mengagumkan. "Aku mengerti yang kau maksudkan." katanya, suaranya bergetar penuh kegembiraan.

"Aku tidak akan mengambil kelas arsitekturku selama satu setengah tahun, dan aku akan sibuk dengan kelas seniku. Aku tidak akan memperhatikan buku-buku, atau aku tidak tahu lagi. Tapi... aku malu baru melihatnya sekarang." Kata Jongin, menunjuk pada dua gedung paling terkenal yang dilapis garis hitam—dan—berbintik emas berkilauan terang. Jongin menggelengkan kepala dengan heran. "Kau membuat Oh Enterprises begitu modern, bentuk singkat dari arsitektur klasik Chicago. Berbentuk sama dengan Sandusky. Hebat," kata Jongin lagi sambil menunjuk pada gedung Oh Enterprises yang dibuat sama seperti gedung Sandusky, sebuah karya besar Gotik.

Oh Enterprises sama seperti Sehun—garis yang tegas—kuat, elegan, dan versi modern dari nenek moyang Gotik. Jongin tersenyum pada pemikirannya.

"Kebanyakan orang tidak melihat pengaruhnya hingga aku menunjukkan mereka pemandangan ini," kata Sehun.

"Ini jenius, Sehun," kata Jongin penuh perasaan. Dia memberikannya pandangan bertanya, matanya berkilat karena cahaya dari pencakar langit.

"Kenapa kau menyembunyikan ini dari pers?"

"Karena aku tidak melakukannya untuk mereka, aku melakukannya untuk kesenanganku sendiri, seolah aku melakukan hal terbesar."

Dia merasa terjerat oleh tatapan Sehun dan tidak memberikan tanggapan. Bukankah itu hal utama yang ingin dia katakan? Tidak tahu mengapa kata-kata Jongin menyebabkan sensasi yang keras tumbuh pada pahanya saat ini?

"Tapi aku senang, kalau kau juga senang." Kata Sehun, "Aku punya sesuatu yang lain untuk kutunjukkan padamu."

"Benarkah?" Jongin terengah-engah.

Sehun mengangguk lagi. Jongin mengikutinya, senang bahwa Sehun tidak bisa melihat warna pipinya. Sehun membawanya ke sebuah kamar yang dikelilingi, oleh lemari buku kenari hitam. Sehun berhenti di belakang pintu, melihat reaksi Jongin, pandangannya yang penuh curiga. Tatapan Jongin berhenti dan mengunci ke arah lukisan diatas perapian. Dia membeku. Tanpa sadar dia berjalan ke arah lukisan itu dan mempelajari salah satunya adalah karyanya.

"Kau membeli ini dari Taehyung?" bisik Jongin, menunjuk pada teman sekamarnya—Kim Taehyung, seorang pemilik galeri di Wicker Park. Dia menatap lukisan itu, ini adalah lukisan pertamanya yang terjual. Dia bersikeras memberikannya pada Taehyung sebagai deposit atas pinjamannya satu setengah tahun lalu, ketika dia terpuruk sebelum mereka pindah ke kota ini.

"Ya." Kata Sehun, suaranya terdengar bahwa dia berdiri di samping bahu kanan Jongin.

"Taehyung tidak pernah mengatakannya.."

"Aku minta Minseok mendapatkannya untukku. Galeri mungkin tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya yang membeli lukisan ini."

Jongin menelan ludah dan pandangannya beralih pada gambaran seorang pria penyendiri berjalan di tengah Lincoln Park di pagi buta.

Dia kembali pada pria itu. Tatapannya naik turun tanpa melepaskannya, kekebalan tubuhnya nyeri seolah dia tampak begitu menderita. Dia membuka mantelnya ke belakang. Bahu membungkuk melawan angin, dan tangannya berada di dalam saku celana jeansnya. Setiap bagian tubuhnya memancarkan kekuatan, keanggunan, dan terhenti pada kesepian yang sulit untuk dilihat dan dipecahkan.

Dia menyukai bagian ini. Hampir membuatnya menyerah, tapi hutang harus dibayar.

"The Cat That Walks By Himself." Kata Sehun dari samping, suaranya terdengar keras.

Jongin tersenyum dan tertawa pelan ketika mendengar Ian mengatakan judul yang dia berikan pada lukisannya. "'Aku adalah kucing yang berjalan sendiri, dan semua tempat sama bagiku' Aku melukisnya di tahun keduaku. Aku mengambil kelas Sastra Inggris waktu itu, dan kami mempelajari tentang Kliping. Entah bagaimana kata-katanya terlihat cocok..."

Suara Jongin menghilang ketika dia menatap sosok di dalam sebuah lukisan, dia merasakan tatapan tajam dari pria yang berdiri di samping nya. Dia melihat ke arah Sehun dan tersenyum. Sangat memalukan baginya karena tanpa disadari air mata membakar matanya. Cuping hidungnya melebar sedikit dan tiba-tiba menyeka pipinya dengan kasar. Semua ini membuatnya sangat tersentuh, melihat lukisannya ada di dalam rumah Sehun.

"Aku pikir lebih baik aku pulang," kata Jongin.

Hatinya mulai dalam terdengar bergemuruh dalam keheningan yang menyertainya.

"Mungkin itu yang terbaik," pada akhirnya Sehun berkata. Sehun berbalik dan terlihat lega—atau karena menyesal—ketika melihat Jongin di pintu keluar. Sehun mengikutinya, membisikkan ucapan terima kasih ketika memberikan jaket jeansnya, kemudian mereka menuju ke pintu keluar. Jongin menentang ketika mencoba untuk mengambil jaket itu dari Sehun. Jongin menelan ludah dan berbalik, membiarkan Sehun memakaikan jaket itu. Buku-buku jari Sehun menyapu pundaknya.

Sehun menekan tengkuknya saat ini. Sehun dengan lembut menarik rambutnya keluar jaket dan merapikan di punggungnya.

Jongin tidak bisa menahan getaran dan menduga ini berasal dari sentuhan Sehun.

"Warna yang langka," bisik Sehun, tetap memegang rambutnya, mengirimkan tanda bahaya dari kegelisahannya yang naik.

"Aku akan menyuruh sopirku, Ravi mengantarmu pulang," kata Sehun setelah beberapa saat.

"Tidak." Jawab Jongin, yang merasa bodoh karena menjawab. Dia tidak bisa bergerak. Merasa lumpuh. Setiap sel dalam tubuhnya menegang waspada. "Temanku akan datang untuk menjemputku sebentar lagi."

"Maukah kau datang ke sini untuk melukis?" Tanya Sehun, suaranya terasa begitu dalam hanya beberapa inci dari telinga kanannya.

Jongin terbelalak ke depan, tanpa melihatnya.

"Ya."

"Aku ingin kau memulainya hari Senin, aku akan minta Minseok menyediakanmu kartu tanda masuk dan password pada lift-nya. Semua yang kau butuhkan akan disediakan ketika kau datang."

"Aku tidak bisa datang setiap hari. Aku punya kelas—terutama di pagi hari—dan aku menjadi pelayan dari jam tujuh hingga tutup beberapa hari setiap minggunya."

"Datang lah sebisamu. Yang terpenting kau datang."

"Ya, tentu saja," Jongin mengatur tenggorokannya yang serak.

Sehun tidak melepaskan tangannya dari bahunya. Apakah Sehun tahu hatinya berdenyut?

Dia harus keluar dari sini. Sekarang. Sehun harus keluar dari pikirannya.

Dia tiba-tiba bergerak menuju lift, tergesa-gesa menekan tombol kontrol pada dinding. Dia berpikir kalau dia akan menyentuhnya lagi, tapi dia salah.

Pintu lift yang mengkilap terbuka.

"Jongin?" kata Sehun ketika dia tergesa-gesa masuk ke dalam.

"Ya?" dia berbalik.

Sehun berdiri dengan tangan di belakang punggungnya, tubuhnya membuat setelan jaketnya terbuka, kemejanya menampakkan perut yang tak berlemak, pinggang sempit, gesper perak, dan... sesuatu di bawahnya.

"Sekarang kau punya sebuah jaminan keuangan. Aku lebih suka kau tidak berkeliling di jalanan Chicago pada pagi hari untuk mencari inspirasi. Kau tidak pernah tahu apa yang mungkin kau hadapi. Itu berbahaya."

Mulutnya melongo keheranan. Dia melangkah ke depan dan menekan tombol pada dinding, membuat pintu tertutup. Pandangan terakhir yang dia lihat adalah tatapan mata—biru berkilat di wajah Sehun yang tenang. Detak jantungnya bergemuruh di telinganya.

Dia melukisnya empat tahun yang lalu. Itulah yang akan dia katakan pada Sehun—Sehun tahu bahwa dia mengamatinya berjalan dalam kegelapan, jalan sepi pada malam hari sementara dunia beristirahat, hangat, dan puas di ranjang mereka. Jongin tidak mengenali pemikirannya saat ini, tidak mungkin tahu sampai dia melihat lukisan itu, tapi tidak diragukan lagi.

Oh Sehun adalah kucing yang berjalan seorang diri.

Dan dia ingin Jongin tahu.

————

Sehun mengatur pikirannya agar Jongin keluar dari otaknya selama sepuluh hari penuh.

Sehun pergi ke New York selama dua hari dan menyelesaikan akuisisi atas program komputer yang memungkinkannya untuk memulai jaringan baru yang dikombinasikan dengan aspek sosial dan aplikasi permainan unik. Dia dijadwalkan setiap bulan untuk mengunjungi kondominiumnya di London. Ketika berada di Chicago, pekerjaan dan pertemuan-pertemuan itu menahannya di kantor hingga lewat tengah malam. Ketika sampai di tempat tinggalnya, suasananya suram dan sepi.

Secara keseluruhan, sulit untuk dikatakan bahwa Kim Jongin tidak memenuhi pikirannya.

Sejujurnya, Sehun dengan kejam mengaku pada dirinya sendiri ketika dia naik lift menuju tempat tinggalnya pada Rabu malam. Dia tahu bahwa Jongin akan datang ke dunianya dengan cepat, bercahaya, menembus pusat dirinya. Pengurus rumah tangganya, Mrs. Han, tanpa dosa memberinya kabar tentang senda guraunya yang khas pada saat proyek mingguan di rumahnya. Dia senang mengetahui bahwa wanita Inggris tua itu bisa berteman dengan Jongin, sesekali mengundangnya ke dapur untuk minum teh bersama. Dia senang mendengar bahwa Jongin merasa nyaman di rumahnya, dan bertanya pada dirinya sendiri apa ini urusannya. Lukisan itulah satu-satunya hal yang dia inginkan, dan tentu saja kondisi tempat kerja yang memadai untuk itu.

Sekali lagi, Sehun mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia telah berbuat kasar pada gadis itu dengan mengabaikannya. Tentu saja penghindaran dirinya membawa tekanan berlebihan padanya, membuat situasi lebih terjamin. Kamis malam lalu, dia pergi ke studio gadis itu, bermaksud untuk bertanya apakah dia ingin bergabung dengannya untuk minum di dapur. Pintu sedikit terbuka, dan dia masuk tanpa mengetuk pintu. Selama beberapa detik, dia berdiri dan melihat gadis itu bekerja tanpa sepengetahuannya. Dia berdiri di atas tangga pendek, bekerja pada pojok kanan paling atas kanvas, benar benar mengasyikkan.

TBC

hello! terimakasih udah memberikan review

PeriRumah, Jamurlumutan434, nandaputri, Park RinHyun-Uchiha,

5 reviews for next chapter!