BECAUSE YOU ARE MINE
—BETH CERY—
Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.
KIM JONGIN—OH SEHUN
It's HUNKAI.
BAB 5
Meskipun Sehun diam tanpa mengeluarkan suara, Jongin tiba-tiba berbalik dan membeku, memandang terkejut padanya dengan mata cokelatnya, kuasnya tetap berada di atas kanvas. Rambut tebal berkilat jatuh dari jepitan di belakang kepalanya. Terdapat goresan arang di pipi lembutnya, dan bibir merah muda gelapnya terpisah saat terkejut memandangnya.
Sehun bertanya dengan sopan mengenai kemajuannya dan mencoba untuk tidak memperhatikan denyutan pada tenggorokan atau di sekitar payudara gadis itu. Saat bekerja tadi gadis itu melepas jaket dan memakai tank top ketat. Dadanya lebih penuh dibanding perkiraannya, ukuran dadanya berbanding erotis antara pinggang dan pinggulnya yang sempit, dan kaki panjangnya.
Setelah tiga puluh detik percakapan yang kaku, Sehun pergi seperti pengecut.
Sehun mengatakan pada dirinya sendiri akan kesadarannya bahwa gadis itu sangat natural. Selain itu, dia benar benar cantik. Faktanya Sehun seolah lupa akan sisi sensualitas diri gadis itu yang membuatnya terpesona. Apakah dia tumbuh di dalam lubang?
Tentu saja dia membuat pria meneteskan air liur ketika dia berjalan ke kamar, meneteskan air liur pada rambut pirangnya yang lembut, mata cokelat yang lembut, dan tubuhnya yang tinggi. Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui di usianya yang ke dua puluh tiga tahun bahwa kulit mulusnya memabukkan, bibir merah gelap dan tipis, tubuh yang lentur yang memberikan pengaruh yang kuat pada seorang pria?
Sehun tidak tahu harus menjawab apa, tapi setelah mengamati, dia akan bilang bahwa kurang percaya dirinya bukanlah dibuat-buat. Sehun berjalan dengan kaki panjangnya, langkah semampai seperti remaja pria dan berkata hal-hal yang paling canggung.
Jongin terlihat mempesona seolah pandangannya pada karyanya, atau ketika dia melihat keluar jendela pada langit, atau ketika Sehun mencuri pandang padanya saat dia menggambar malam, tersesat sepenuhnya dalam karyanya, kecantikan yang sangat terlihat.
Lalu begitu banyak dorongan, menyebabkan pandangannya tidak dapat melihat lagi.
Sehun tiba-tiba berhenti di serambi rumahnya. Jongin ada di sana. Tidak ada suara yang berasal dari dalam rumahnya, tapi dia mengerti kalau Jongin bekerja di studio khususnya. Apakah dia masih melukis di kanvas besar? Sehun membayangkannya dengan baik, wajah cantiknya tegang penuh konsentrasi, mata gelap berkedip dan bergerak cepat antara kuas dan pemandangan. Ketika gadis itu bekerja dia jadi muram dan hebat—seolah dia hakim, semua kesadarannya hilang berkabut oleh bakat cerdas dan keanggunan yang tidak disadari.
Seolah tidak tahu bagaimana untuk memperlihatkannya.
Dia juga tidak tahu tentang potensi gairah seksualnya. Sehun, di satu sisi yang lain, benar benar tahu bahwa itu menjanjikan dan bertenaga.
Sayangnya, Sehun cukup sadar akan kenaifan Jongin. Dia praktis mencium itu di sekelilingnya; kepolosannya bercampur dengan seksualitas yang belum teruji, menciptakan parfum yang memabukkan bagi ketenangan diri Sehun. Keringat mengalir dari bibir atasnya. Ereksinya mengeras siap dalam beberapa detik.
Mengerutkan dahi, Sehun melihat jam tangannya dan menarik keluar ponsel dari sakunya. Dia menekan beberapa tombol dan berjalan turun ke pintu masuk, berbelok ke arah kamarnya. Bersyukur, atas keheningan tempat ini yang berlawanan dengan kondominium tempat Jongin bekerja. Dia harus mengeluarkan gadis itu dari pikirannya.. menyingkirkannya.
Sebuah suara menjawab panggilannya.
"Taemin. Suatu hal penting terjadi, dan aku ketinggalan. Biasakah kita bertemu pada pukul 5.35?"
"Tentu saja. Aku akan menemuimu dalam empat puluh lima menit. Kuharap kau berkulit tebal, karena aku sedang bersemangat."
Sehun tersenyum masam ketika dia menutup pintu dan menguncinya.
"Aku merasa hari ini pedangku sedang haus darah, temanku, kita lihat saja siapa yang berkulit tebal dan siapa yang tidak."
Taemin tertawa ketika Sehun menutup telepon.
Sehun membawa tas kantor dan mengambil seragam anggar dari ruang ganti, mengeluarkan plastron—pelindung dada di permainan anggar—celana, dan jaket.
Dia melepasnya dengan cepat dan efisien. Dari tas kerjanya, Sehun mengeluarkan kunci. Dua kamar ganti besar berdampingan dengan tempat pribadinya. Mrs.Han—siapapun juga selain Sehun—dilarang masuk ke sana.
Itu adalah wilayah pribadi Sehun.
Sehun tidak mengunci pintu mahoni itu dan berjalan telanjang masuk ke kamar berlangit-langit tinggi. Terdapat sebuah lemari dan lemari kaca di salah satu sisi dan selalu ditutup dengan rapi. Dia membuka lemari di sebelah kanannya dan mengambil benda yang dia inginkan sebelum kembali ke ranjangnya.
Sebuah kesalahan karena dia tidak sadar bahwa hasrat yang tidak berguna ini membawanya ke tingkat berbahaya. Mungkin dia berencana akan membawa wanita kemari saat akhir pekan, tapi saat ini, dia butuh untuk mengurangi ketajaman dari hasratnya yang lapar.
Sehun menyemprotkan pelumas ke tangannya. Ereksinya tidak kunjung mereda. Getaran nikmat berdesir ketika dia menggosokkan pelumas pada ereksinya. Sehun memutuskan untuk berbaring di kasur, tapi tidak... berdiri lebih baik. Dia mengambil lengan silikon dan menggenggamkannya pada ereksinya yang berat. Sehun punya kebiasaan bermasturbasi untuk dirinya sendiri, menentukan pilihan pada silikon agar bersih. Dia menikmati melihat dirinya ejakulasi.
Pabrik pembuatnya mengikuti kemauannya untuk kesempurnaan.
Satu-satunya pengecualian tambahan—lingkaran merah muda gelap yang mengelilingi bagian atas cincin. Sebun berpikir tambahan, tidak cukup aman saat ini, jadi dia tidak protes. Alat masturbasi ini tidak tergantikan. Dia punya banyak keahlian, membuat wanita menyerahkan dirinya dengan segera. Selama beberapa tahun, dia belajar tentang pelajaran penting tentang kebijaksanaan. Dia memotong daftarnya lagi tentang dua wanita yang tahu tepat kalau dia berhasrat dan kembali mengerti parameter dari apa yang dia inginkan.
Masturbasi semata-mata digunakan karena praktis. Dia tidak perlu mainan seks setelah maksudnya tercapai.
Tapi hari ini, rasa tidak suka dari kegembiraan hilang dari pandangannya saat kepala ereksinya yang tebal masuk ke cincin sempit merah muda.
Dia melenturkan lengannya, mendorong silikon sempit dan ketat sepanjang ereksinya yang bengkak beberapa inci dari pangkalnya. Sehun menggerakkan tangannya seolah menghisap, mengapresiasi seberapa cepat benda itu menjulang tebal padanya, silikon yang menyenangkan.
Oh, yah. Inilah yang dia butuhkan—bola yang enak—orgasme kosong.
Perut, pantat, dan otot pahanya mengencang saat dia memompa, membuat tekanan dan menghisap ketika Sehyn bergerak, gambaran tentang oral seks. Dia mengambil lengan di sepanjang kepala ereksinya dan memasukkannya ke dalam kehangatan, sangat licin lagi dan lagi.
Biasanya, dia menutup mata dan membayangkan fantasi seks selama masturbasi. Hari ini, karena beberapa alasan, pandangannya menatap ke ereksinya pada cincin merah muda.
Dia berpikir bibir merah muda penuh menggantikan cincin silikon.
Dia melihat mata gelap yang besar melihat padanya.
Bibir Jongin, mata Jongin.
Kau tidak punya waktu atau urusan untuk menggoda seseorang yang polos.
Apakah kau ingin terbakar lagi karena melakukan itu?
Sehun segan, mungkin, tapi meskipun begitu dorongan seksualnya menguasai. Dia sudah terlalu lama tumbuh menerima sifatnya, mengerti bahwa ini sesuai dengan kehidupannya yang sendirian.
Tidak menjadi masalah karena dia ingin sendiri. Dia cukup bijaksana untuk menyadari bahwa hal ini tak dapat dihindari. Dia menghabiskan waktunya untuk bekerja. Gila kontrol.
Setiap orang bilang padanya—media, salah satu anggota komunitas bisnis... mantan pacarnya. Dia pasrah dengan kenyataan bila mereka semua benar. Sayang sekali, dia tumbuh dengan kesepian.
Tidak ada seorang wanita selain Jongin yang menantang sifatnya.
Suara peringatan di kepalanya tenggelam oleh detak jantungnya dan dengkuran lembut terjadi ketika dia memompa ereksinya.
Dia akan menggunakannya untuk kesenangannya, bibir manisnya yang menggairahkan. Bukankah seharusnya dia menjadi peringatan kecil pada kontrolnya yang kuat? Membangunkan?
Keduanya?
Sehun mengerang dalam pikirannya dan menyentakkan lengannya, bergerak lebih cepat. Setiap otot di tubuhnya menjadi keras dan kaku.
Ereksinya terlihat membesar ketika dia mendorong penuh pada batang di dalam lengan silikon tebal. Dia tidak ingin datang dengan tangannya sendiri. Sehun ingin sesuatu yang tidak dimilikinya. Namun, bagaimanapun juga, tangannya saja sudah cukup.
Meskipun begitu Sehun ingin untuk menahan tungkai yang panjang, rambut pirang yang cantik, memintanya berlutut di depannya, dan memasukkan ereksinya pada miliknya yang basah, mulut yang penuh... Sehun ingin untuk melihat cahaya kegembiraan di matanya ketika Jongin meledak dalam kenikmatan dan menyerahkan diri padanya.
Orgasme datang padanya, dengan tajam dan nikmat. Sehun menghembuskan napas ketika dia berejakulasi pada lengan transparan, maninya mengalir ke salah satu sudut di dalam bagian penghisap.
Setelah itu, dia menutup mata dan merintih, melanjutkan kedatangannya.
Ya Tuhan, dia bodoh karena tidak melakukan hal ini sejak awal minggu. Dia tidak bisa berhenti untuk mencapai puncak. Dia benar-benar butuh pelepasan. Ini bukan dirinya karena mengabaikan hasrat seksnya, dan Sehun tidak bisa membayangkan kenapa dia menahan diri minggu ini. Ini adalah suatu kebodohan.
Ini hampir membuatnya hilang kontrol, sesuatu yang tidak pernah dia kira.
Orang yang tidak perhatian pada kebutuhannya berakhir dengan kesalahan, menjadi lemah dan sembrono.
Ototnya jadi kendur selama rasa jijik dari orgasme yang melumpuhkan. Sehun membungkuskan tangan di sekitarnya. Begitu licin dan berdiri di sana, bernapas cepat.
—TBC—
untuk selanjutnya, aku akan post 2 chapter setiap updatenya
terimakasih udah review:)
