BECAUSE YOU ARE MINE
—BETH CERY—
————
Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.
————
KIM JONGIN—OH SEHUN
It's HUNKAI.
————
BAB 6
Jongin seperti wanita yang lain. Tapi mungkin juga bukan? Dia menarik perhatian Sehun dengan lukisannya. Itu membuatnya tidak nyaman. Sebagai contoh, seperti duri di bawah kulitnya. Membuat Sehun ingin menangkapnya, di samping itu... membuat Sehun membayar karena melihat pikirannya, melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat dengan bakat uniknya dari ketelitian yang penuh perasaan.
Sehun akan menguasai bagian ini, hasrat yang begitu kuat. Dia berbalik dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dan mempersiapkan latihan anggarnya.
Kemudian, Sehun selesai berpakaian, dia tahu bahwa ereksinya tetap sangat sensitif dan ereksinya benar-benar sangat-sangat merisaukan. Sialan.
Dia mengatakan pada Jongin dan Mrs. Han kalau dia ingin sendirian akhir minggu ini. Jelas saja, Sehun memerlukan seorang wanita berpengalaman yang mengerti tepat bagaimana memuaskan Sehun untuk menundukkan kebutuhan asingnya.
—————
Taemin tidak berbohong. Dia dalam kondisi yang berani. Sehun mundur dari temannya yang lebih agresif, menangkis tusukannya yang cepat, dengan santai menunggu untuk memperpanjang waktu agar Taemin mudah diserang. Sehun secara teratur bermain anggar dengan seorang pria yang selama dua tahun ini mengerti gaya hidupnya—dan bagaimana emosinya berpengaruh pada pertarungan ini. Taemin sangat berbakat, petarung yang pandai, tapi dia juga belajar mengetahui suasana hati Sehun yang berpengaruh pada caranya menggunakan pedang.
Mungkin itulah kenapa Sehun mendapat angka dalam mengontrol emosinya dan bereaksi dari logika murninya.
Sore ini, Taemin bergelora dengan energi bergejolak, lebih kuat dari biasanya, tapi tetap ceroboh. Sehun menunggu sampai dia melihat kemenangan di setiap sudut serangan Taemin.
Taemin mengerti maksud lawannya, dengan akurat menangkis sambaran kedua, berniat untuk mengalahkan Sehun. Taemin menggerutu dalam keputus-asaan ketika Sehun membalas menikam dan menjatuhkannya.
"Kau adalah pembaca pikiran, sialan kau," Taemin menggerutu, ia melepas penutup wajahnya, rambut panjangnya menyapu di sekitar pundaknya.
Sehun juga melepas penutup wajahnya. "Hal ini selalu menjadi alasanmu. Faktanya sungguh logis, dan kau tahu itu."
"Sekali lagi," tantang Taemin, mengangkat pedangnya, mata abu-abunya ganas.
Sehun tersenyum. "Siapa dia?"
"Siapa?"
Sehun memberinya pandangan bosan sambil membuka sarung tangannya. "Wanita yang membuat darahmu memompa seperti kambing kacau."
Itu membingungkannya, keputus-asaan melanda Taemin, dirinya terkenal di antara para wanita.
Ekpresi Taemin mengerat, dan Sehun melihatnya.
Sehun menghentikan aksinya dari membuka sarung tangannya yang lain. Dia mengerutkan kening berkonsentrasi. "Ada yang salah?" Tanya Sehun.
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu," Taemin berkata pelan, nadanya menekan.
"Jadi apa?"
Taemin memandangnya. "Apakah pegawai Oh Enterprises diijinkan untuk bertemu satu sama lain?"
"Hal itu tergantung pada posisi mereka. Hal ini sangat jelas mengacu pada kontrak pegawai. Manager dan supervisor dilarang bertemu bawahannya, dan akan dipecat bila mereka ketahuan. Ini akan mengecilkan hati para manager untuk berkencan, meskipun tidak dilarang. Akan dibuat jelas pada kontrak jika ada hal yang merugikan datang dari hubungan itu untuk perusahaan, alasan pemberhentian yang pantas. Aku pikir kau tahu ini adalah kondisi yang buruk, Taemin. Apakah dia bekerja di Fusion?"
"Tidak."
"Apakah dia bekerja sebagai supervisor yang cakap pada Oh Enterprises?" Sehun bertanya sambil melepaskan sarung tangannya yang lain, pelindung dada, dan jaket, hanya menyisakan celana dan kaus dalam.
"Aku tidak yakin. Bagaimana jika pegawai di Oh Enterprises... menyimpang?"
Sehun memberinya tatapan tajam ketika ia menurunkan pedangnya dan mengambil handuk. "Menyimpang... seperti manager restoran dengan manager departemen bisnis?" Tanya Sehun dengan asam.
Taemin ragu, kemudian mengangguk, wajahnya tidak dapat dibaca.
Mereka berdua terkejut ketika ketukan terdengar di pintu dari ruang anggar.
"Ya?" Sehun bertanya, alisnya miring dalam kebingungan. Mrs. Han biasanya tidak pernah menganggunya selama ia sibuk. Pengetahuan tentang Sehun yang tidak mau diganggu membantunya berkonsentrasi penuh pada anggar dan latihan rutinnya.
Sehun melihat dengan takjub ketika Jongin masuk ke dalam ruangan. Rambut panjangnya tertahan di belakang kepalanya. Beberapa helai menyapu leher dan pipinya. Dia tidak memakai riasan, sepasang jeans ketat, kaus tanpa lekuk bertudung yang berkeringat, dan sepasang sepatu abu-abu dan putih. Sepatunya bukanlah kualitas terbaik, tapi Sehun dengan cepat menghargainya karena itu adalah barang termahal yang dia pakai. Pada bagian jaketnya yang terbuka, dia melihat garis tipis dari tank top. Bayangan tubuhnya yang gemulai terurai pada pakaian ketat memenuhi pikiran Sehun.
"Jongin. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Sehun, tanpa disengaja suaranya menajam jengkel pada gambaran itu, sebuah pikiran yang tidak dapat dikontrol. Jongin berhenti beberapa kaki dari matras anggar. Bibir merah mudanya yang tebal—bahkan ketika dia merengut—seksi bagaikan neraka.
"Minseok perlu bicara denganmu tentang sesuatu yang mendesak. Kau tidak menjawab teleponmu, jadi dia menelepon ke rumah. Mrs. Han sedang dalam perjalanan ke toko untuk mendapatkan beberapa barang yang terlupa untuk makan malammu, maka aku bilang aku akan menyampaikan pesannya."
Sehun mengangguk, memakai handuk di sekeliling lehernya untuk menyeka keringat di wajahnya. "Aku akan segera menghubunginya setelah mandi."
"Aku akan bilang padanya." kata Jongin, berbalik keluar dari kamar.
"Apa? Dia masih ada di telepon?"
Jongin mengangguk.
"Ada sambungan telepon di ruangan di samping ruang latihan. Katakan padanya aku akan segera meneleponnya."
"Baiklah." kata Jongin. Dia menatap cepat Taemin dan memberinya senyuman singkat sebelum berlalu.
Sebuah kejengkelan menghantam Sehun. Baiklah, dengan semua kejujuran, Taemin tidak membentak Jongin seperti yang ia lakukan.
"Jongin."
Dia berbalik.
"Maukah kau kembali ke sini ketika kau sudah selesai menyampaikan pesan pada Minseok? Kita belum memiliki kesempatan untuk berbicara banyak minggu ini. Aku ingin mendengar kemajuanmu."
Jongin ragu untuk bergerak selama beberapa detik. Pandangan Sehun jatuh pada dadanya, membuatnya terpaku dalam kesadaran mendadak.
"Tentu. Aku akan segera kembali," kata Jongin sebelum melangkah keluar kamar. Pintu menuju ruang anggar tertutup di belakangnya.
Taemin menyaringai ketika Sehun menatap ke arahnya. "Ketika aku mengunjungi Amerika bagian Utara, mereka bilang kalau... seseorang yang tinggi, menarik tapi ingin tahu dari mana semua itu berasal."
Sehun melakukan pukulan dobel, "Jangan ikut campur," kata Sehun dengan jelas.
Taemin terlihat terkejut. Sehun mengerjap, perpaduan dari serangan primitif dan malu pada kekerasan, berperang dalam darahnya.
Sesuatu terjadi padanya, dan Sehun menyipitkan matanya. "Tunggu dulu... wanita yang kau bicarakan tadi bekerja untuk Oh Enterprises."
"Bukan Jongin," kata Taemin, matanya berkilat ketika ia memberi Sehun pandangan dari samping dan membuka lemari es untuk sebotol air. "Menurutku lebih baik kau memakai saranmu sendiri tentang hubungan romantis antar perusahaan."
"Jangan aneh."
"Jadi kau tidak tertarik pada orang yang menarik itu?" Tanya Taemin.
Sehun menyeka handuk pada lehernya. "Aku rasa aku tidak punya pegawai kontrak," katanya, nadanya yang tajam memperjelas bahwa percakapan telah berakhir.
"Aku pikir itu adalah tanda untuk pergi," kata Taemin dengan masam. "Aku akan menemuimu hari Senin."
"Taemin."
Taemin berbalik.
"Aku minta maaf telah membentakmu," kata Sehun.
Taemin mengangkat bahu, "Aku tahu bagaimana artinya terikat kuat. Cenderung membuat pria sedikit… lebih cepat marah."
Sehun tidak merespon, hanya melihat temannya berjalan pergi. Sehun berpikir mengenai apa yang Taemin katakan tentang Jongin, mengenai seseorang yang tinggi dan menarik. Namun, dia tidak mengerti dari mana semua itu berasal.
Sehun seperti benar-benar kehausan di padang pasir. Dia memandang hati-hati ke arah pintu masuk dan melihat Jongin berjalan masuk ke kamar.
Jongin menyesal melihat Taemin memberinya lambaian yang ramah dan berjalan keluar kamar ketika ia masuk. Suasana meluas, melengkapi ruang latihan dan bertambah berat ketika pintu tertutup di belakangnya dan tinggal dirinya sendiri bersama Sehun. Jongin berhenti pada tepi meja.
"Mendekatlah. Tidak apa-apa. Kau bisa berjalan menyeberangi jalur dengan sepatu berlarimu." Kata Sehun.
Jongin mendekatinya dengan hati-hati. Hal ini membuatnya tidak nyaman untuk melihat ke arah Sehun. Wajah tampannya tenang, seperti biasa. Sehun terlihat mengagumkan dengan memakai sepasang celana dan kaus putih sederhana. Jongin mengira kaus ketat itu terlihat karena dia memakai baju lain di atasnya.
Meninggalkan bayangan kecil, memperlihatkan daerah punggung dan garis miring dari tubuhnya yang berotot.
Sesungguhnya, prioritas terbesar adalah bekerja untuk Sehun. Namun, tubuhnya begitu indah, seperti mesin yang terasah.
"Jalur?" Jongin mengulang ketika ia melintasi meja dan mendekat pada Sehun.
"Matras untuk anggar."
"Oh." Matanya menatap pedang penuh curiga, mencoba untuk mengabaikan bau harum yang keluar dari tubuh bersih, sabun rempah bercampur dengan keringat pria, "Bagaimana kabarmu?" Tanya Sehun dengan sopan, suaranya yang tenang cocok dengan sinar di mata birunya. Sehun membingungkannya tanpa akhir.
TBC
geser ke kanan. ㅋㅋㅋㅋ
