Naruto © Masashi Kishimoto
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Genre : Friendshiep & Humor
Latihan Perdana
.
.
Siswa kelas dua dibuat menganga ketika sampai di gym. Di dalam telah hadir dua orang kelas satu. Bukan masalah kehadiran mereka yang lebih dulu tapi apa yang sedang dilakukan keduanya membuat siswa kelas dua terkejut.
"Yo, senpai akhirnya datang juga!" Sapa Naruto santai di atas tangga sambil mengelap ring basket. Pemuda itu memakai pakaian olahraga panjang, masker dan sepasang sarung tangan lengkap.
Di sudut lain pemuda Sasuke menyiapkan keperluan lain untuk latihan.
"Apa yang sedang kau lakukan di situ?"Hyuga meraung sambil menunjuk pemuda bersurai pirang. Siapa yang tidak terkejut melihat ada orang yang repot-repot mengelap ring basket.
"Membersihkan ring, senpai," jawabnya tanpa beban.
Siswa kelas dua sesaat dibuat terhenyak untuk menyadari situasi gym milik Seirin yang telah benar-benar bersih. Bukannya gym mereka selama ini kotor tapi ini ….
SUPER . . . SUPER . . . SUPER . . . BERSIH!
Dalam hitungan jam penampakan gym milik Seirin sudah seperti lobi hotel bintang lima!
Aida Riko yang pertama ingat. "Namikaze-kun, kau yang melakukan semua ini?"
Naruto mengangguk.
"Menjaga kebersihan adalah bagian dirinya yang tidak bisa dipisahkan. Semua kegiatan itu normal untuknya. Terlebih lagi hari ini turun hujan tentu dia tidak akan lebih bisa diam dari biasanya. Lama-lama senpai akan terbiasa," kata Sasuke sambil mendorong troli yang berisi bola basket tanpa mempedulikan segala tingkah sahabatnya. Ini umum untuk orang pengidap germaphobiadan ini belum apa-apa.
Rasa iba tiba-tiba muncul di benak siswa kelas dua. Pasti bukan perkara mudah hidup dengan keterbatasan seperti itu. Mereka belum bisa membayangkan bagaimana cara pemuda itu akan bermain basket.
Tidak lama kemudian siswa kelas satu datang dan sama seperti para senpai kelas dua mereka dibuat takjub. Entah karena apa, siswa kelas satu yang datang lebih sedikit dari kemarin.
"Sugoi, bersihnya!" Hiroshi Fukuda si siswa kelas satu mecolekkan jarinya di berambut spike dengan tinggi 180 cm itu berdecak kagum.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya siswa kelas satu lain berambut cokelat. Namanya Furihata Kouki.
Semua siswa kelas dua langsung menunjuk si pirang yang kini asyik membersihkan bola dengan sikat.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" Kecuali Kuroko semua siswa kelas satu bertanya dengan nada tinggi.
Naruto menarik maskernya begitu tahu rekan kelas satunya telah datang. Dengan senyuman cerah dia mengangkat bolanya yang baru dibersihkan. "Membersihkannya-ttebayo!"
". . . . ."
Ada keheningan tidak terelakkan. Sasuke menghela nafas, dia harus menjelaskan sebelum mereka bingung. "Dia mengidap germahobia."
Kagami menyela. "Ger-ma, germa- apa itu?"
Istilah alien apa itu? Mulut Kagami sampai tidak bisa mengejanya dengan benar.
"Germaphobia, Kagami-kun. Intinya Namikaze-kun tidak tahan segala sesuatu yang kotor dan dia suka bersih-bersih. Dia memiliki kondisi berbeda dengan kita," kata Riko menjelaskan sesederhana mungkin.
Riko tidak lupa memberi beberapa penjelasan tambahan bagi murid kelas satu tentang kondisi Namikaze dengan harapan mereka mengerti. Semalam dia telah melakukan riset kecil tentang pengidap germahobia dan dia menemukan sesuatu yang menarik. Dia berharap Namikaze juga akan punya sesuatu istimewa. Ini akan jadi pengalaman pertamanya juga mempunyai anggota pengidap germahobia di tim.
Semua kelas satu mengangguk paham dan sama seperti siswa kelas 2, mereka hanya bisa ikut berempati.
Tanpa sepengetahuan yang lain, ada sepasang mata berwarna biru langit memandang Namikaze lebih lama. Meski tampak kosong, iris biru itu menyiratkan perasaan kagum. "Kami sama-sama menyukai bola basket."
Sesuai rencana, setelah penjelasan dan pengenalan dasar-dasar tentang permainan bola basket akan ada pertandingan uji coba.
Riko telah siap dengan peluitnya dan sebelum pertandingan dimulai dia memberi beberapa instruksi. "Uchiha-kun ini tugas pertamamu sebagai calon manajer. Amati baik-baik dan temukan sesuatu yang bisa berguna dalam pertandingan. Namikaze-kun untuk sementara kau mengamati permainan. Sisanya bermainlah melawan kelas 2. Jangan ragu menunjukkan segala kemampuanmu."
Di tepi lapangan Sasuke juga sudah menyiapkan dirinya untuk bekerja pertama kali. Dia sudah mencatat nama-nama kelas 1 dan 2 yang bertanding.
Siswa kelas dua memakai rompi biru, terdiri dari Tscuchida Satoshi, Mitobe Rinnosuke, Koganei Shinji, Izuki Shun dan Hyuga Junpei. Di sisi lain ada siswa kelas satu mereka mengenakan rompi kuning. Mereka adalah Fukuda Hiroshi, Kawahara Koichi, Furihata Kouki, Kagami Taiga.
Satu nama terakhir berhasil mengulik rasa penasaran Sasuke, Kuroko Tetsuya. Satu nama yang hampir dilupakannya bila tidak ditulis. Dia penasaran apa yang mampu dilakukan pemuda dalam permainan?
Sasuke mengalihkan pandangan ke Kagami. Pemuda harimau satu ini sepertinya boleh juga, dia terlihat sangat percaya diri dengan wajah penuh kesombongan.
Tip off dimulai. Riko melemparkan bola basket ke udara disertai tiupan peluit sebagai tanda dimulainya permainan.
Kagami dan Mitobe melompat bersamaan untuk merebut bola pertama. Kagami melompat lebih tinggi dan berhasil mendapatkannya. Bola dilempar ke belakang untuk diterima Kawahara.
Dia menggiring bola maju untuk menembus pertahanan lawan. Kawahara berhenti sedetik untuk mengamati situasi. Semua siswa kelas dua telah membayangi rekan satu timnya. Fukuda sebagai centersudah dibayangi Tscucida. Di Sisi berlawanan dua senpai-nya, Izuki dan Koganei telah menghadang dan di sisi dalam Hyuga telah berjaga.
Kawahara melihat Kagami telah masuk ke area pertahanan dan melambai ke arahnya. Tanpa berpikir panjang dia melempar bolanya pada Kagami. Si merah menangkap dengan tepat seolah tidak terganggu dengan Mitobe yang membayangi. Berputar badan, Kagami melompat lalu memasukan ke ring secara brutal.
Siswa kelas lainnya terpesona. Riko terperangah, Naruto meringis prihatin sementara Sasuke menatap malas.
Di sudut lain, Naruto lebih memperhatikan senpai-nya Mitobe yang ditubruk secara kasar dari pada dunkgila dari Kagami. "Orang itu benar-benar lebih banyak mengandalkan naluri."
Permainan dimulai kembali. Dan lagi-lagi mereka diperlihatkan kekuatan gila dari calon Ace Seirin. Poin berturut-turut kelas satu terus bertambah dan semuanya dari dunk. Terlihat menjanjikan, namun itu hanya permulaan.
Aida Riko meniup peluitnya setelah satu dunkKagami masuk lagi. Riko menatap serius pada jalannya permainan. Tidak butuh kepintaran lebih untuk menilai jalannya pertandingan antara junior melawan senior. Kelas 2 bermain sebagai tim sementara kelas satu terlalu berpusat dan bergantung pada Kagami.
"Kurasa pertunjukkan akan segera berakhir. Tidak mungkin para senpai akan diam saja digempur satu orang kelas satu," ucap Naruto pada Sasuke. Si pirang asyik mengamati jalannya pertandingan disamping manajer berambut hitam.
Sesuai prediksi Naruto, kelas dua mulai melancarkan aksinya dengan membayangi Kagami. Koganei, Izuki dan Hyuga secara sigap menjaga begitu bola berada di tangan kepala merah. Tiga lawan satu, Kagami terkepung oleh senpai-nya.
Sasuke tersenyum tipis ketika bola berhasil direbut kelas 2. Para senpai mulai menunjukkan kelasnya, tembakan tiga angka dilakukan oleh Hyuga setelah berhasil mencuri dari si merah. Pendatang baru terlihat kesusahan bergerak karena penjagaan ketat dari Koganei dan Izuki.
Sasuke lalu mencatat sesuatu di bukunya.
Reputasi sang kakak kelas bukan hisapan jempol belaka. Walau mereka gagal di Inter Hightapi untuk ukuran tim basket yang baru saja dibentuk adalah hal luar biasa. Anak baru seperti Kagami masih terlalu dini untuk bisa sombong.
Keadaan semakin gawat untuk kelas satu. Satu-satunya mesin pencetak poin terkekang bahkan sama sekali tidak punya kesempatan memegang bola. Poin dengan cepat berubah, keadaan telah berbalik dengan skor 15-31 untuk keunggulan siswa kelas 2 di Quarter ke tiga.
"Mereka kuat sekali."
"Aku merasa kita tidak akan menang."
"Rasanya tidak mungkin."
Keluh Fukuda, Kawahara dan Furihata bergantian. Hal itu tentu didengar oleh rekan se-timnya yang lain, Kagami Taiga.
Cukup! Si merah mulai merasa marah. Dia benar-benar merasa kesal karena permainannya dihentikan dan kini ditambah dengan keputus asaan timnya. Pertandingan ini belum apa-apa dan rekan setimnya sudah menyerah.
"Tidak mungkin? Bicara apa kau?" Penuh emosi dia meluapkan kemarahannya. Kagami secara kasar menarik tubuh Furihata yang lebih kecil.
"Hei-hei . . si bodoh itu memperkeruh suasana." Naruto mulai merasakan suasana panas di tim kelas satu.
"Sejujurnya aku tidak terkejut bila permainan tim kelas satu akan berantakan. Mereka masih baru dan tidak semua mempunyai basic dasar yang bagus. Itu bisa dimaklumi. Anak Amerika, dia bagus tapi sangat terlihat jelas masih mentah untuk bermain secara tim. Untuk Kuroko, aku tidak tahu apa yang dilakukannya dalam tim. Dia seperti menghilang di lapangan," ucap Sasuke tanpa melepas pandangannya pada pertandingan.
Riko yang berdiri tidak jauh bisa mendengar percakapan itu dan dalam hati bersorak senang karena dia menemukan manajer yang cocok. Uchiha akan jadi senjata lain di luar lapangan.
Pertandingan berjalan semakin menarik setelah Kuroko berhasil mendinginkan kepala Kagami. Kuroko berbicara sesuatu pada tim dan itu tampaknya berhasil menenangkan suasana.
Serangan kelas satu dimulai lagi dari belakang, Fukuda sebagai center mulai menggiring bola. Dia mulai bergerak tapi Tscuchida mengawalnya secara ketat. Dia tidak mungkin bisa lolos, melihat situasi dia melihat sedikit celah pada rekan berambut biru muda.
Awalnya tampak keraguan di benak tim kelas 1 ketika Kuroko meminta bola untuk dioper padanya. Dia masih ragu, tapi dia tidak punya pilihan. Menepis pikiran negative, Fukuda mengoper bola pada Kuroko.
Ya, pada Kuroko!
Fukuda sangat yakin operannya diberikan pada Kuroko bukan pada Furihata yang ada di dalam arena tiga poin milik kelas dua.
Ada keheningan menakutkan ketika Furihata memasukkan bola ke ring. Tidak ada yang tahu darimana pass itu datang. Dan keanehan makin terjadi ketika banyak pass misterius diterima anggota kelas tahu.
"Hoi-hoi, ini aku yang lupa caranya berhitung atau memang ada setan di tim kelas satu. Aku hanya bisa menemukan empat orang di tim ini." Iris safire Naruto sibuk menghitung ulang pemain berompi kuning dilapangan. Belum pernah dia melihat pertandingan bola basket dengan keadaan seperti ini.
Riko mengamati lebih detail. "Kau tidak lupa caranya berhitung Namikaze-kun, ini semua terjadi karena Kuroko-kun.Dia memanfaatkan hawa keberadaanya yang lemah untuk mengoper. Kuroko-kunmenyentuh bola dengan jeda waktu yang singkat dan memberikan operan akurat pada rekan setimnya. Dia menguasai teknik yang disebut Misdirection. Teknik mengalihkan perhatian orang lain dengan memanfaatkan kecepatan tangan,"jawab Riko untuk memperjelas.
Naruto mengangguk, sedikit memahami cara Kuroko beroperasi setelah sang pelatih memberi penjelasan.
"Seperti yang dilakukan oleh seorang pesulap? Keterampilan kecepatan tangan. Aku tidak menyangka trik itu bisa dipakai dalam dunia basket."
"Ada yang bisa membantuku? Aku bahkan belum bisa menemukannya." Sang manajer baru dibuat terhenyak.
Tiga orang di sisi lapangan harus mengakui pertandingan ini menarik. Selain fakta kemampuan Kuroko yang diperlihatkan mereka juga harus menerima dengan lapang dada mantan siswa Teiko itu buruk dalam segala hal kecuali mengoper. Setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan, hal itu juga berlaku untuk Kuroko Tetsuya. Pemain Bayangan dari Teiko.
"Kurasa malam ini aku harus mulai memancing ikan!" Semangat Sasuke mulai membara dan dia bertekad akan mencari tahu secara detail kemampuan Kiseki no Sedai.
Riko mendengarnya. "Banyak ikan besar di luar sana Uchiha-kun dan kau sepertinya sudah tahu apa yang harus dilakukan."
"Ini semakin menarik."
Ditengah pertandingan, keduanya semakin terlibat dalam percakapan yang menarik. Pelatih dan Manajer Seirin tampak berada dalam kapal yang sama dalam membangun sebuah tim yang kuat.
Di sisi lain, si pengidap germaphobia sudah pucat mendengar rencana sang sahabat dan pelatih. Ini salah dirinya menyatukan dua orang sadis dalam satu wilayah. Dia sudah bisa membayangkan penyiksaan macam apa yang akan tim Seirin terima.
"Ini Bencana!" Naruto tanpa sadar berteriak panik yang untungnya tidak digubris oleh Sasuke dan Riko.
Peluit akhir dibunyikan. Pertandingan selesai dengan kemenangan untuk siswa kelas satu. Riko memberikan evaluasi pada akhir pertandingan. Dia memberikan banyak catatan untuk kinerja kelas satu yang masih jauh dari kata sempurna.
Riko lalu beralih memandang satu-satunya pirang. "Namikaze-kun!"
"Hai!" Panggilan itu seperti alarm di kepala si pirang.
"Kau belum melakukan apapun setelah pemanasan. Tentunya kau tidak akan menyia-nyiakan energi yang belum digunakan, bukan?" Riko menyeringai sambil melemparkan bola basket pada pemuda pirang. Jelas sekali, sesi latihan ini masih jauh dari kata selesai. Sang pelatih masih punya rencana lain di balik bajunya.
Bola itu mendarat mulus di kedua tangan yang dilapisi sarung tangan. "Kupikir latihan sudah selesai."
"Ayo, sekarang giliranmu."
Bersambung
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa berikan saran dan masukan.
Salam hangat An Narra
