Naruto © Masashi Kishimoto
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Genre : Friendshiep & Humor
Opera Sabun dalam Basket
Bola itu mendarat mulus di kedua tangan yang dilapisi sarung tangan. "Kupikir latihan sudah selesai."
"Ayo, sekarang giliranmu." Riko tersenyum licik dengan satu tangan berkacak pinggang. "Anak kelas satu kembali ke lapangan dan lawan Namikaze-kun!"
"APAAAA!" Kecuali Sasuke anak kelas satu berteriak.
"Curang!" Teriak Naruto seketika.
Sasuke tidak bereaksi, mata hitamnya diam-diam menatap pelatih Seirin penuh selidik. Uchiha bungsu mencoba menebak apa maksud Naruto diminta melawan lima sekaligus. "Mungkinkah dia tahu?"
"Cepat berikan kami pertunjukkan satu putaran anak-anak atau kalian akan mendapatkan hal terburuk dalam hidupmu! " Perintah Hyuga penuh aura mengancam. Kapten tim Seirin sudah tahu rencana Riko, mereka sudah mendiskusikan hal ini sebelumnya dan saat inilah waktu yang paling tepat.
"Tapi senpai itu tidak adil!" Protes Naruto tidak terima. Satu lawan lima? Apa yang dipikirkan kakak kelasnya itu?
Pelatih Seirin menatap garang. "Kau menentangku Namikaze-kun? Ne, jadi ini pemberontakan pertamamu, bahkan sebelum kau resmi jadi anggota Seirin?"
"Bu-bukan begitu! Tapi-" Si pirang berusaha menyanggah namun tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat.
Sang kapten masuk mode iblis. Dua ruas buku-buku tangannya mengepal. "Rupanya kita mendapat anggota kelas satu yang pembangkang."
SERAM!
Semua anak kelas satu punya pikiran sama. "Hai! Senpai!
Siswa baru mengangguk pasrah lalu menuju arena bola basket. Mereka belum tahu apa maksud sesungguhnya dari pelatih perempuan Seirin dan hanya bisa terpaksa mengikutinya. Yang jelas satu lawan lima itu sangat berlebihan.
Kuroko masih mencoba mencerna situasi. Iris birunya mengamati baik-baik rekan sesama kelas satu yang kini melangkah ke tengah lapangan. Sebagai tipe pengamat dia merasa akan menemukan sesuatu yang menarik hari ini.
"Aku siap," kata Naruto dengan suara setenang mungkin dari tengah lapangan. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia mampu. Jika dinding pertama ini tidak bisa dilewatinya maka semakin sulit keinginannya tercapai.
Lima lawannya telah menyebar ke posisinya masing-masing. Kelas satu yang maju memiliki formasi sama dengan yang melawan kelas 2.
Seperti pada pertandingan pertama, satu sosok yang paling bersemangat diantara yang lain adalah Kagami Taiga. Kepala merah itu bahkan menyeringai seperti orang bodoh.
"Ayo, pirang. Tunjukkan kekuatanmu," tantang Kagami penuh kesombongan.
"Ck, tentu saja. Memangnya untuk apa aku disini," jawabnya tidak mau kalah.
Naruto menghela napas sekali lagi untuk mengumpulkan ketenangan.
"Aku mulai."
Aksi si pirang dimulai dari mendribble bola dengan tangan kanan. Posisi badannya merendah, dia membuka kaki selebar bahu dengan lutut menekuk. Pantulan bolanya stabil dengan dengan tempo yang cepat. Tidak seperti pemula yang masih perlu fokus melihat bola saat mendribble, iris biru matanya sudah fokus mengamati posisi lawan di depan.
Riko terkesan dengan tampilan pertama yang ditunjukkan Naruto.
Penderita Germaphobia ini tahu barangnya.
Pemilik iris biru lain terhenyak. "Posisi tubuhnya lebih baik dari Kagami!"
Naruto mulai.
Dia mulai melakukan dribble bola untuk maju ke depan lalu memindahkannya ke samping pada sisi bagian luar untuk membawa bola. Lawan pertamanya adalah Fukuda.
"Aku tidak akan membiarkanmu lewat." Fukuda bergerak menghadang pemuda Germaphobia.
Tidak sampai mendekat si pirang melakukan crossover ke sisi lain dan dengan cepat menghilang dari pandangan Fukuda. Pria jangkung terperanjat sesaat, awalnya dia begitu yakin akan bisa menghadang Namikaze karena si pirang memulai dengan kecepatan lambat dalam bergerak.
Satu terlewat tapi dua lain masih menunggu di depan Naruto.
Kawahara dan Furihata mendekat, sayangnya hal sama juga terjadi pada keduanya, Naruto mengindari mereka tanpa tersentuh. Tanpa membiarkan tubuhnya tersentuh, Naruto membuat tipuan sehingga Kawahara dan Furihara mati langkah.
Sekarang dia hanya berjarak sekitar lima meter dari ring. Ada lawan tak terlihat disana dan dirinya tahu apa yang harus dilakukan. Dipindahkannya posisi bola dari tangan kanan ke kiri lalu dia berputar badan untuk menembak ke ring tanpa ambil posisi.
Bola melambung tinggi dengan rotasi tak beraturan menuju ring. Detik itu juga semua atensi tertuju pada bola dan melupakan pirang kelas satu yang sudah berlari menuju ring. Seringai suka cita Naruto sekilas terlihat di bibir si pirang.
Semua mata melihat bola orange melesat tepat ke ring.
Tak!
Bola memantul karena pinggiran. Tapi bukan itu yang menakutkan. Mereka tidak sadar jika si pirang datang untuk mengambil rebound lalu memasukkannya tanpa gangguan.
"Eh?"
Kagami bahkan baru sadar jika dia tidak bergerak dari tempatnya.
Bukan Kagami saja yang terpukul. Pemain bayangan juga masih tidak mencerna apa yang terjadi, dia dilewati begitu saja.
2-0 untuk Namikaze Naruto.
Sungguh di luar dugaan.
"Sudah kuduga, Namikaze-kun juga punya batasnya sendiri," ucap Riko puas. Melihat pemain pirang kelas satu menghindari lawan tanpa tersentuh membuatnya bersemangat dan yang lebih membuatnya senang adalah permainan indah tadi.
Calon manajer mengangguk sependapat. "Jadi kau sudah tahu?"
"Atlet dengan kasus Germaphobia memang langka tapi bukan satu-satunya. Aku sudah mencari informasi dan menemukan ada atlet yang mengalami kasus serupa dengan Namikaze-kun."
Informasi yang tidak mengejutkan bagi Sasuke. Dia sudah tahu bahkan sebelum pelatih perempuan Seirin mencari tahu. Sasuke mengetahui siapa atlet yang dimaksud sang pelatih.
Izuki menggosok dagunya. "Jadi ada orang lain, ya?"
Riko membuka telephone genggamnya lalu mengetikkan sesuatu. "Nomor punggung sepuluh dari SMA Fujimi, Aoyama. Pemain inti tim sekolah sekaligus tim inti Youth Japan. Dia juga mengidap Germaphobia."
"Wooahhh, benarkah?" Koganei terkejut. Dia tadinya sudah pesimis.
"Benar, dan itu artinya masih ada harapan untuk Namikaze-kun bermain normal." Riko menyadari tidak mungkin pertandingan resmi mengizinkan pemainnya menggunakan pakaian layaknya Namikaze sekarang. Dia berpikir, jika Namikaze bisa sebaik ini dengan segala atribut merepotkannya maka dia bisa lebih baik dari ini.
"Kita harus bekerja lebih keras setelah ini, Uchiha-kun!" Ajak Riko penuh semangat pada sang manajer.
"Ya, aku yakin kita bisa melakukan sesuatu pada si bodoh itu." Bicara soal nama panggilan, Sasuke awalnya cukup risih dipanggil dengan nama keluarga. Dia memang tumbuh di keluarga yang menjunjung kesopanan tapi tidak sesopan itu untuk urusan pertemanan. Apa mau di kata, sekolah Seirin juga punya budaya sendiri.
Mereka semua lalu fokus lagi pertandingan. Sebentar saja mereka beralih, Namikaze telah di depan ring lagi dan kini berduel dengan Kagami.
One on one.
Murni satu lawan satu karena Kuroko yang datang membantu berhasil dilewati. Merah dan biru saling menatap sengit.
Tidak seperti melawan empat lainnya, tidak mudah bagi Naruto untuk melewati Kagami kali ini. Entah mengapa Kagami terlihat berbeda dari yang tadi.
Naruto melakukan tipuan ke kanan lalu bergerak cepat ke kiri. Kagami terlihat mati langkah karena si pirang telah bebas. Tanpa ada yang menganggu Naruto akan melakukan dunk.
"Aku tidak akan membiarkanmu!"
Bola yang tadinya sudah sampai di bibir ring ditampar oleh Kagami. Bola orange terlepas dari tangan Naruto bersamaan dengan dua tubuh yang saling bertubrukan.
Kagami menyeringai sombong sementara Naruto terjatuh.
Tapi reaksi yang ditunjukkan Naruto adalah sesuatu yang aneh. Selepas jatuh bukannya bangkit, Naruto justru terduduk dengan mata kosong menatap lantai. Tubuhnya mulai bergetar.
Naruto mengalami tremor.
Kagami menatap ngeri dan menjadi panik. "Oi...oi... Kau kenapa? Pelatih! Namikaze!"
Teriakan si anak Amerika berhasil menyita seluruh orang.
Dipinggir lapangan Sasuke Uchiha menghela pasrah. "Sudah kuduga hal ini akan terjadi."
Ini baru dua menit berjalan dan pertandingan harus diakhiri dengan cara tidak elit. Para senpai dan rekan-rekannya sudah terlihat panik dengan keadaan Naruto.
"Uchiha-kun! Lakukan sesuatu!" Perintah Riko panik dari tengah lapangan. Dia baru sadar hanya dia yang masih tertinggal di pinggir lapangan. Sasuke lalu berjalan mengambil botol minum di tas sang sahabat.
Sasuke berjalan santai ke arah kerumunan. Sebagai orang yang paling pengalaman dengan Naruto dia tahu apa yang harus dilakukan dan si bodoh itu harus mulai membayarnya lebih banyak setelah ini.
"Minggir!" Perintahnya pada yang lain. Semua memberi ruang pada Sasuke. Manajer dengan sigap membuka penutup botol.
Byur!
"EHHHHH!"
Tim Seirin terkejut bukan main dengan tindakan si manajer. Bukannya memberi bantuan dia justru bisa memperburuk keadaan. Tanpa raut penyesalan, manajer bersurai unik itu baru saja menyiram sebotol air mineral ke wajah Namikaze.
"APA YANG KAU LAKUKAN TEME SIALAN!"
Sasuke tersenyum jahat. "Menyadarkanmu, Dobe. Apalagi?"
Tim Seirin hanya bisa menatap takjub. Semudah itu bagi Uchiha Sasuke menyadarkan Namikaze Naruto.
Lima menit berikutnya tim Seirin harus secara suka rela mendengar kontes saling memaki kata kotor terjadi di gym. Dua sahabat saling berteriak dan mereka tidak tahu bagaimana caranya melerai. Akhirnya, Riko sendiri turun tangan untuk menghentikan keduanya bertengkar. Dua pukulan dilayangkan (walau satunya gagal) pada akhirnya berhasil menghentikan perdebatan.
"Ne, Uchiha-kun dan Namikaze-kun kalian tidak akan mengulangi hal ini, bukan?" Sang pelatih bertanya manis dengan mode setan.
"Ha-hai!" Balas Naruto.
.
.
"Terimakasih, banyak!" Ucap sang pelayan perempuan kepada pelanggannya. Pria bersurai merah itu cuek membawa nampan yang kini jadi pusat perhatian pelanggan lain. Dua puluh burger tertata menggunung di nampan yang dibawa dengan mudah menuju ke salah satu kursi kosong di dekat jendela.
Di luar, langit jingga telah menghiasi Kota Tokyo dan itu jadi pemandangan yang ingin dinikmati oleh pemuda bersurai merah sembari memakan burger. Kagami lalu duduk, tanpa mempedulikan suasana sekitar, dia menggigit burgernya. Mata merahnya berpaling ke depan ketika merasa janggal.
"Domo!"
Hal berikutnya yang terjadi dia tersedak ketika melihat pemuda berhawa tipis. "Sejak kapan?" Tapi, rasanya percuma menanyakan hal itu. Kagami mengubah pertanyaan. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku sudah disini sejak tadi. Aku suka vanilla shake restoran ini," jawabnya retoris tanpa ekspresi.
"Carilah tempat lain!" Usirnya kasar.
"Tidak mau," jawab Kuroko tidak mau mengalah.
Pemuda kecil ini benar-benar membuat Kagami kesal. Sama seperti pertemuan sebelumnya mereka akan berbicara omong kosong sebelum salah satu ada yang mengalah. Walau kesal, tapi pemuda yang besar di Amerika sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun.
Dia melempar satu burger pada Kuroko. "Buatmu! Jangan salah sangka, aku tidak berminat dengan orang sepertimu yang tidak becus bermain basket. Tapi, harus aku akui, permainanmu boleh juga."
Kuroko terdiam sejenak, dia tidak tersinggung dengan perkataan arogan Kagami. "Terimakasih."
Makan malam di Maji Burger terasa singkat karena mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Percakapan baru mulai di buka ketika mereka pulang. Takdir sepertinya sedang banyak bermain dengan hidup mereka, nyatanya arah rumah keduanya secara kebetulan sama.
Topik utama tentu saja tentang Kiseki no Sedai yang dikenal sebagai kelompok monster atlet basket tingkat pelajar di Jepang. Tapi, ada juga hal lain yang menganggu Kagami dan kebetulan subjek orangnya ada di sini.
"Sebenarnya ada yang menganggu pikiranku."
Kuroko menoleh pada Kagami.
"Tadi, ketika melawan Namikaze, apa yang terjadi?"
Mantan pemain Teiko mengalihkan pandangan ke jalan, dia tidak ingin ekspresinya dilihat rekan berkepala merah. "Tak kusangka Kagami-kun yang bodoh memperhatikan hal ini."
"OI ! APA KATAMU!"
Kuroko mengabaikan teriakan itu. "Namikaze-kun mengetahui keberadaanku didekatnya."
Kagami terheran, tadinya dia ingin menjawab tapi Kuroko sudah terlebih dahulu memberi jawaban lanjut.
"Aku tidak tahu itu hanya kebetulan atau dia memang mengetahuinya. Jarang ada pemain yang bisa adaptasi dengan keberadaanku dengan cepat."
"Dan kau terkejut karena itu?"
Kuroko mengangguk.
"Jangan dipikirkan, orang itu ada tim kita. Bukan musuh dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan," jawabnya pada Kuroko. Kagami merasa tidak perlu ada alasan khawatir pada Namikaze selama mereka ada di tim yang sama.
Kuroko mengangguk lagi.
Harus diakui keduanya Namikaze punya potensi yang bisa dikembangkan terlepas germaphobia yang diidap. Apa yang ditunjukkan tadi sudah cukup membuktikan bahwa si pirang adalah orang yang pantas. Kagami dan Kuroko terus mengobrol banyak hal dan baru berhenti karena mata mereka teralihkan pada sosok di halte.
Menunggu di halte adalah rutinitas umum masyarakat Jepang tapi akan aneh bila kau menunggu sementara kau membawa sepeda. Di sana, duduk sendiri Uchiha Sasuke.
"Hoi! Uchiha!" Sapa Kagami sambil melambai.
"Domo, Uchiha-kun." kata Kuroko memberi salam begitu jarak mereka sudah dekat.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Sebelah alisnya terangkat heran melihat kepala merah dan biru.
"Seharusnya kami yang bertanya itu padamu!" Jawab Kagami kesal. Kalau dipikir-pikir lagi manajer tim Seirin ini juga sedikit aneh. Kagami merasakan aura kuat dari pemuda ini. Walau dia tahu Uchiha tidak bisa bermain basket tapi tetap saja dia tidak bisa mengabaikan nalurinya
"Aku menunggu beberapa temanku," jawabnya singkat.
Kuroko memperhatikan paper bag di samping tempat duduk pemuda bernetra onix. Tas itu berisi DVD yang Kuroko perkirakan berjumlah belasan.
Pemuda bersurai biru muda sangat penasaran karena ada label nama sekolah di atasnya. "Ini apa Uchiha-kun?"
Sasuke melirik paper bag warna warna merah disampingnya. "Oh, itu. Itu rekaman pertandingan beberapa SMA dan SMP di Tokyo."
Kagami dan Kuroko terheran.
"Memangnya untuk apa itu?" Tanya Kagami.
"Membangun informasi," jawab pria raven cuek.
Jawaban itu menyegel pikiran mereka. Sekarang Kagami dan Kuroko mengerti bila dia memilih jadi manajer. Uchiha benar-benar cocok untuk pekerjaan ini.
Bersambung
Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca . . .terima kasih yang sudah memberikan review, follow dan fav. Saya sejujurnya sangat berterimakasih atas apreasiasinya, walau hanya meninggalkan kata 'next, lanjut dll tapi akan lebih baik bila memberi saran yang bermanfaat. Kalau bingung memberi review boleh hanya dibaca saja kok, atau PM saja kalau mau curhat ^_^.
Aku bangsat? Yuhuuuuuuu, yes I am. Thank you.
Siapa yang lagi stress UNBK? Memangnya ada apa dengan UNBK? #maaf saya kudet , efek sudah tidak sekolah.
Wordnya dipanjangin? Ya bisa, tapi updatenya setengah tahun sekali mau? #bercanda. Entahlah tidak janji, saya sedang berusaha bisa update rutin terlepas jumlah wordnya. Saya juga sedang berusaha menaikkan mood untuk nulis, jadi tolong dibantu.
Semoga harimu menyenangkan! Kurang lebihnya mohon maaf . . .
