Naruto © Masashi Kishimoto
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Genre : Friendshiep & Humor
.
.
Perang Akan Dimulai
Hampir seminggu ajaran baru telah dimulai dan hampir seminggu pula anak kelas satu tergabung di tim basket Seirin. Tidak banyak peristiwa yang terjadi tapi ada satu gagasan penting yang bisa ditarik oleh Uchiha Sasuke.
Tim ini dipenuhi oleh para idiot basket. Senin pagi kemarin puncaknya. Mereka diminta berkumpul di atap sekolah pada pukul 08.40. Siswa kelas satu diminta berteriak di depan seluruh sekolah untuk serius menjadi juara nasional.
Bagi Sasuke ini tindakan memalukan dan dia tidak percaya juga melakukan hal serupa. Untunglah guru segera datang menyelamatkan mukanya. Tapi itu belum apa-apa, pagi ini seluruh siswa Seirin dihebohkan dengan tulisan besar di tengah lapangan yang berbunyi 'menjadi nomor satu di jepang.'
"Sulit dipercaya aku akan terjebak dengan kalian untuk beberapa tahun ke depan," keluh Sasuke sembari memandangi tulisan dari jendela kelas I-A.
Naruto dan Kawahara menertawakan keluhan Sasuke. Kawahara Koichi, rekan lain kelas satu sekarang masuk ke lingkup keduanya. Ketiganya kebetulan ada di kelas yang sama dan membuat mereka berinteraksi lebih banyak daripada yang lain.
"Bersemangatlah Teme! Bukan kau yang akan menderita di sini," kata Naruto untuk meringankan suasana hati sahabatnya.
"Aku yakin kita akan dapat banyak pengalaman menyenangkan." Kawahara memberi kata-kata penyemangat pada sang raven. Dia sudah mulai punya gagasan tentang bagaimana kepribadian dua orang ini setelah beberapa hari saling berinteraksi. Sifat Uchiha dan Namikaze layaknya bumi dan langit. Saling bertolak belakang tapi anehnya menjadi sahabat baik.
Sasuke menghela napas. "Lebih banyak idiot bola basket disekitarku."
Bagi Sasuke, tim Seirin sejak awal adalah tim yang menarik. Tim ini belum genap dua tahun dibentuk, tapi pada turnamen perdana di Kanto berhasil melaju ke semifinal. Jumlah anggotanya masih sangat sedikit bahkan dengan tambahan kelas satu baru, jumlah anggotanya masih di bawah dua puluh. Bukan itu saja yang menarik, tim basket Seirin dilatih oleh perempuan yang duduk di kelas 2. Fakta yang masih sulit dipercaya sampai sekarang.
Dua orang di depannya tertawa kecil. Tanpa sadar bel masuk telah berbunyi. Pelajaran pertama kebetulan adalah P.E. Minggu ini akan jadi praktek perdana mereka di lapangan karena minggu lalu mereka masih memasuki masa orientasi. Ketiganya segera berganti baju dan tentunya si pirang memakai pakaian khususnya sendiri.
Naruto mendapat tatapan aneh dari anak-anak lain di ruang ganti, tapi dia tidak mempedulikannya.
Kawahara menatap heran. "Apa kau nyaman dengan pakaian itu?"
Penderita Germaphobia memakai model pakaian olahraga panjang dan sarung tangan yang sama persis digunakan ketika latihan perdana. Pembedanya hanya warna dan corak yang sesuai seragam olahraga Seirin.
"Ini lebih baik daripada aku harus bersentuhan dengan barang-barang kotor itu."
Kawahara berjengit ngeri dengan ekpresi si pirang yang berubah tiba-tiba. Dia tidak tahu bagaimana iris safire yang kekanakan menampilkan sorot jijik dalam sekejap. 'Barang-barang kotor katanya? Apa kami juga termasuk?'
Sasuke memutar bola mata. "Tidak ada yang cukup bersih bagimu."
"Ne, kau memang yang paling mengerti Sasuke-kun." Naruto berkata dengan suara dibuat-buat dan mengedipkan mata nakal untuk menggoda.
"Serius Dobe! Wajahmu terlihat menjijikan."
Sang sahabat bertahan dengan wajah itu. Dia tidak mau melewatkan hiburannya untuk menganggu Sasuke. "Tidak, Sasuke-kun! Aku tampan!"
Sasuke mulai kesal. "Singkirkan wajah busukmu atau aku menghajarmu!"
"Kyaaaaaa! Sasuke-sama akan memperkosaku!" Naruto berteriak layaknya perempuan teraniaya dan itu benar-benar mengganggu. Uchiha bungsu tanpa peringatan melayangkan pukulan ke kepala si pirang namun dapat dihindari dengan baik.
Naruto tahu menggoda sahabatnya bukanlah tanpa konsekuensi. Dia harus melarikan diri sejauh mungkin jika ingin selamat. Si pirang langsung kabur dari ruang ganti dengan cepat dan tentunya tanpa menyentuh yang lain.
Uchiha tidak tinggal diam dan segera berlari mengejar. Si germaphobia mungkin pelari cepat tapi Uchiha rupanya juga lebih cepat. Semua anak laki-laki kelas 1A bisa memastikan hal itu setelah tidak berselang lama mereka mendengar rintihan permintaan tolong dari pemuda blonde.
Catatan untuk mereka. Jangan menggoda Uchiha Sasuke!
Kelas P.E berlangsung lancar tanpa insiden. Pada jam itu Hiroki, sensei mereka menjelaskan beberapa hal penting termasuk kondisi rekan mereka yang berbeda. Sontak semua mata mengarah pada si pirang yang kini wajahnya memerah karena malu. Keluarga Namikaze sudah secara khusus memberi tahu detail kondisi putranya pada pihak sekolah dan kabar baiknya sekolah ini menerima dengan terbuka.
Sungguh nasib baik dan tampaknya nasib baik masih berlanjut padanya. Setelah mendapat penjelasan dari sensei, rekan-rekan kelasnya justru memberi dukungan moril dengan kata-kata penyemangat. Naruto terharu dan dia berjanji untuk berusaha tindak membuat rekan-rekannya repot.
Jam P.E selesai dan siswa kelas 1 A segera berganti pakaian. Trio kelas 1A bersiap ke kantin tapi terhenti oleh Sasuke yang terdiam menatap smartphone miliknya.
Pesan itu dari Riko Aida. "Aku dipanggil Aida-senpai."
Keduanya reflek mendekat. "Ada apa Teme?"
Sasuke menggedikkan bahu, dia juga belum tahu. "Entahlah, aku hanya diminta ke kelasnya. Sebaiknya aku segera kesana."
Sasuke memberikan salam perpisahan singkat pada keduanya lalu berjalan ke luar.
"Uchiha-kun!" Sungguh melegakan ketika Riko rupanya telah menunggu di depan kelas hingga dia tidak perlu mengetuk pintu kelas si senior. Sudah cukup dengan kecanggungan yang timbul dengan kehadirannya di lorong siswa kelas dua.
"Ya, senpai?" Sasuke bertanya tidak yakin. Dia perlu curiga pada kakak kelasnya karena menampilkan senyum lebar yang menyaingi sang sahabat.
Riko menarik tangan sang manajer dan meletakkan beberapa lembar kertas. "Tugas pertamamu. Jangan sampai gagal, oke!"
Sang pelatih tidak lupa memberikan tepukan penyemangat ke bahunya sebelum melenggang pergi dengan santai. Pertemuan yang benar-benar singkat.
Iris onix sang Uchiha segera membaca sekilas apa yang ada ditangan.
"Tugas pertama katanya." Sasuke tersenyum sinis.
.
.
Hari berikutnya, sepulang sekolah beberapa anggota tim Seirin akan berkumpul. Beberapa siswa kelas dua baru saja keluar dari kelas. Hyuuga, Izuki dan Furihata yang terlihat menuju ke ruang basket bersama.
"WHOAAAAAHH! AP-APAAN INI!" Teriakan kapten tim basket menggema begitu dia masuk ke ruang klub basket. Izuki dan Kogenei ikut tercengang keduanya melihat apa yang membuat pemuda berkacamata berteriak.
Lagi-lagi kejutan telah menanti.
Ruang klub basket tertata sangat rapi, bersih mengkilat dengan bau yang sangat segar. Benda-benda yang semula berserakan tertata dan dalam keadaan bersih. Seluruh siswa kelas dua terkagum dengan kondisi ruang klub mereka.
"Selamat siang senpai!"
Rupanya sudah ada siswa kelas satu, di sana yaitu Kawahara dan Furihata. Setelah dinyatakan resmi bergabung, siswa kelas satu sudah diperbolehkan masuk ke ruang tim basket SMA Seirin. Ini pertama kalinya mereka menginjakkan kakinya di sini.
Izuki memeriksa lokernya. Handuk dan barang-barang di loker semua juga dalam kondisi bersih. "Semuanya bersih! Ini . . . . ah! Tetap saja aku belum terbiasa!" Semua sudah tahu siapa pelakunya.
"Namikaze-kun melakukan semua ini!" Suara penghuni lain terdengar.
"Gyaaaaahhhh!" Lagi-lagi teriakkan menggema di ruang klub Seirin.
Tiga kakak kelas reflek memegang jantungnya ketika melihat pemuda pucat dengan surai biru muda muncul tiba-tiba.
"Kau ingin membunuh kami Kuroko? Jangan muncul tiba-tiba!" Pinta Koganei penuh harap. Adik kelasnya satu ini benar-benar seperti hantu. Jika seperti ini terus mereka bisa terkena serangan jantung.
"Aku sudah disini dari tadi senpai, bersama Kawahara-kun dan Furihata-kun. Aku bahkan sudah disini ketika masih ada Namikaze-kun." Kuroko berkata tanpa merasa bersalah.
"Tetap saja muncullah secara normal!" Kata Izuki mendukung rekan-rekannya.
Kuroko membungkuk sopan. "Sumimasen."
Ketiga kakak menghela napas. Lagipula bukan salah si pria bayangan juga jika hawa keberadaannya tipis. Rekrutan tim baru tahun ini benar-benar unik. Ada trio amatir, si pemuda buas Amerika, pengidap germaphobia, pemuda bayangan dan manajer atletis tapi tidak bisa bermain basket.
"Tidak masalah, itu juga pasti bukan keinginanmu," jawab Koganei secara bijak. Satu-satunya pria yang mengerti bahasa Mitobe kemudian terpikir sesuatu. "Hei! Apa kalian bisa memikirkan apa yang terjadi bila Namikaze-kun terus membersihkan tempat ini?"
"Tempat ini akan selalu bersih?" Tanya Kawahara secara polos.
Koganei menggeleng.
"Menjadi tempat yang nyaman," jawab Furihata.
Koganei lagi-lagi menggeleng.
"Aku tidak akan keberatan berlama-lama disini. Aku bisa membaca novel." Kuroko menjawab untuk dirinya sendiri.
"Dan nanti akan tersebar desas-desas hantu penunggu ruang klub basket. Aku bisa membayangkannya!" Ucap Hyuuga lalu tertawa keras.
Kecuali Kuroko dan Koganei mereka tertawa dengan ucapan kapten. Kuroko tampak tidak tersinggung sedangkan Koganei terlihat di jalur yang berbeda dengan semuanya.
"Heiii! Bukan itu yang kumaksud. Hyuuga kau ingat acara di minggu terakhir bulan November tahun lalu?" Tanya Koganei pada kaptennya.
Pria berkacamata berusaha mengingat sesuatu. "Deklarasi hari kebersihan di Seirin?" Tanya kapten tidak yakin.
Wajah Koganei seketika bersemangat. "YA! ITU!"
Izuki tersentak. Jawaban Hyuuga berhasil menghidupkan bola lampu di kepalanya. "Penilaian kebersihan setiap kelas dan ruang klub!" Sekarang dia tahu kemana arah pikiran Koganei.
"Namikaze dan germaphobianya!" Hyuuga berhasil menghubungkan titik-titik itu.
Reflek tiga pemuda kelas dua melompat senang seolah baru saja memenangkan pertandingan. "KITA AKAN MENANG!"
Ketiga kakak kelas bersorak senang meninggalkan para adik kelas yang kebingungan
"Apa yang kita akan menangkan?" Tanya Furihata menginterupsi kesenangan kakak kelas.
Hyuuga tersenyum jahat. "Di Seirin, setiap tahun akan diadakan penilaian kebersihan untuk kelas dan klub. Bagi kelas dan klub yang dengan penilaian tertinggi akan mendapat hadiah."
"Kelas yang menang bisa mendapatkan voucer belanja akhir tahun sedangkan untuk klub yang menang bisa mendapatkan tiket liburan tiga hari," kata Izuki menambah jawaban Hyuuga.
"Namikaze-kun! Akan membawa kita menuju kemenangan!" Kata ketiganya kompak.
Anak kelas satu hanya bisa terhenyak. Mereka tidak tahu ada tradisi itu. Mendengar kakak kelas berencana memanfaatkan Namikaze terdengar kejam.
"Itu terdengar seperti rencana licik, Senpai. Memanfaatkan seseorang untuk kepentingan pribadi," kata Kuroko tanpa sensor mengutarakan pikirannya. Mantan pemain Teiko langsung mendapat tatapan tajam yang tidak dihiraukan sama sekali. "Tapi, aku tidak keberatan bila mendapat tiket liburan gratis."
"ITU SAMA SAJA!" Teriak Furihata dan Kawahara bersamaan. Keduanya ingin memarahi Kuroko lebih lanjut tapi tiba-tiba pintu terbuka.
"Selamat siang!" Dari balik pintu muncul satu-satunya pirang di tim Seirin. Dia sudah berpakaian lengkap sesuai standar dirinya. Kali ini dia tidak mengenakan jaket, tapi kaus lengan panjang, celana panjang dan sarung tangan berwarna putih.
Namikaze jadi pusat perhatian. "Ada yang salah di wajahku?"
"Tidak ada..." Kicau mereka (kecuali Kuroko) bersamaan untuk menyembunyikan ekspresinya.
"Selamat siang juga, Namikaze-kun." Pirang kelas satu mengangguk singkat. Anehnya dia tidak terkejut dengan keberadaan Kuroko.
Masih memasang wajah ceria Namikaze menunjukkan sebuah majalah di tangan. "Lihat yang kutemukan!"
Furihata mendekat tapi si pirang langsung mundur.
Pemuda bersurai cokelat langsung menyadari kesalahannya. "Maaf aku tidak bermakud."
"Tidak apa, aku mengerti." Penderita germaphobia segera mengalihkan topik pembicaraan. "Kalian harus melihatnya! Ini edisi majalah basket yang mengulas Kiseki no Sedai. Bahkan mereka di ulas satu persatu disini."
Furihata, Hyuuga dan Izuki tampak penasaran. Sang adik kelas segera menyerahkan majalah tersebut pada kapten.
"Artinya ini edisi ketika Kuroko masih di Teikou!" Hyuuga secara cepat membolak-balik halaman untuk menemukan pemain ke enam yang kini di Seirin.
Si megane dan Furihata terus mencari hingga halaman terakhir namun tidak menemukannya. "Kuroko ...tidak ada?"
Namikaze menoleh ke pria bersurai biru. "Itu juga yang ingin kutanyakan padamu? Kenapa profilmu tidak ada di sana? Apa kau tidak di wawancarai?"
"Mereka melakukannya, tapi sepertinya mereka lupa padaku," kata Kuroko tanpa emosi yang tersirat. Dari ekspresinya dia tampak sama sekali tidak keberatan dilupakan begitu saja.
Naruto tersenyum miris. "Ne, itu menyakitkan."
"Selain itu, aku berbeda dengan mereka berlima. Mereka pemain yang benar-benar berbakat."
"Kau terdengar pesimis. Bakat bukan segalanya tahu," balas Naruto sarkastik. Setelah membaca majalah itu dan melihat reaksi Kuroko si pirang pirang mulai menemukan ide kenapa mereka di sebut sebagai keajaiban.
Pria bertinggi 168 cm tidak menjawab perkataan Namikaze sehingga keheningan sesaat terjadi.
Untunglah Fukuda datang untuk memecah keheningan. Pria itu tergopoh-gopoh ketika membuka pintu. "Dia kembali! Pelatih sudah kembali. Kita akan berlatih tanding."
"Dengan siapa kita akan bertanding?" Hyuuga bertanya pada Fukuda. Dia penasaran karena Riko belum membicarakan apapun mengenai latih tanding.
"Entahlah, dia melompat-lompat kegirangan," jawab siswa kelas satu dan berbalas wajah panik si kapten berkacamata.
"Melompat-lompat kegirangan?" Hyuuga tahu betul tabiat Riko. Bukan kebiasaan si pelatih Seirin melompat-lompat demikian." Semuanya bersiaplah. Kalau dia melompat-lompat kegirangan artinya lawan kita sangatlah tangguh," kata Hyuuga serius. Sang kapten kemudian memberi nasehat singkat untuk menguatkan mental mereka.
"Hai!" Semua kelas satu mengangguk patuh. Mereka akan mengingat baik-baik nasehat Hyuuga supaya lebih selamat ke depannya.
Tidak mau membuang waktu, setelah pembicaraan singkat berakhir mereka bergegas ke gym. Sesuai dugaan, disana sudah hadir Riko Aida dan bebera sisa tim Seirin yang telah menanti. Entah sejak kapan mereka di sana, mereka tidak berjumpa di ruang ganti artinya mereka langsung ke gym.
Riko segera memberi tahu pada timnya bahwa mereka akan berlatih tanding dengan SMA yang kuat. Pelatih perempuan Seirin puas melihat berbagai reaksi di wajah anak buahnya ketika dia memberi bocoran mereka akan melawan salah satu Kiseki no Sedai.
Sasuke kemudian mengambil alih pembicaraan dari Riko. "Kami juga sudah menyiapkan pelatihan khusus baik untuk jangka pendek dan jangka panjang. Kami menyadari beberapa dari kalian amatir tapi itu tidak masalah, semua perlu proses. Persiapkanlah diri kalian."
Wajah tim basket sontak memucat dan itu jadi hiburan tersendiri untuk Sasuke. Pemuda bersurai hitam belum selesai. "Satu lagi, ada kejutan kecil dari pelatih untuk kalian. Lawan latih tanding kita adalah Kaijo, salah satu anggotanya adalah Kise Ryouta dan dia salah satu Kiseki no Sedai."
Satu gym bergemuruh riuh,berbagai reaksi tercipta di sana. Trio amatir terlihat hampir pingsan, para kakak kelas berjengit, Kagami tampak puas, Kuroko dan Naruto diam tidak bereaksi. Sasuke dan pelatih jelas sangat menikmati wajah berantakan teman-temannya.
"Tenang anak-anak, jelas kita tidak akan melepas kalian ke kandang singa tanpa persiapan," ucap Riko dibarengi ekspresi licik.
"Kita masih punya waktu beberapa hari untuk persiapan dan aku sudah menyiapkan beberapa hal penting untuk kalian cermati. " Sasuke lalu membuka tas miliknya yang sedari tadi menempel dipunggung. Dia kemudian mengambil lembaran catatan yang kemudian dibagikan pada tim Seirin.
Semua anggota tim langsung membaca apa yang tertera di sana. Halaman pertama tentang profil tim basket Kaijo, pelatih dan para pemainnya. Semua masih umum sampai mereka membaca di halaman ke dua. Disana dibahas tentang statistik permainan tim, mulai dari keunggulan hingga kelemahan, kecenderungan strategi yang dipakai. Mereka lebih dibuat terperangah dengan data para pemain yang termuat detail. Mulai nama, usia, kemampuan tubuh hingga statistik permainan.
"Video sudah ku kirim ke alamat email masing-masing. Bukalah di rumah untuk mempelajari tim ini," perintah Sasuke pada pemain tim Seirin.
Hyuuga membaca dengan serius. Informasi ini bukan main-main. "Ini gila!"
Mata biru Kuroko juga tidak bisa berpaling dari lembar catatannya. Informasi yang di dapat benar-benar se-level dengan milik manajer Tim Teiko-nya dulu. Uchiha Sasuke benar-benar serius dengan perannya sebagai manajer. Tim ini akan jadi mengerikan bila bisa memanfaatkan potensinya.
"Heh, kau benar-benar berbakat menjadi stalker Uchiha!" Kagami menyeringai puas.
Pria gagak tidak tampak tersanjung. "Ibarat pisau, setajam apapun senjatanya kalau pemakainya bodoh maka tidak akan berguna."
"Astaga! Kau terdengar sangat menyindir, Teme!" ucap si pirang untuk membalas.
"Satu lagi, ini untukmu Namikaze-kun," sela Riko sebelum terjadi adu mulut antar dua sahabat. "Aku sudah menghubungi ayahku untuk berkonsultasi tentang cara melatihmu."
Naruto senang. "Benarkah?"
Riko mengangguk. "Kami sudah menyusun metode latihan yang cocok untukmu. Ayahku berhasil menyusunnya setelah berkonsultasi dengan pelatih Tim Youth Japan dimana Aoyama-kun dibina. Kamu mungkin sudah mulai bisa bermain di kejuaraan musim dingin jika berhasil menyelesaikan latihanmu. Walau tidak bisa bermain penuh kau akan punya waktu beberapa menit untuk bermain normal."
Kegembiraan si pirang tidak bisa disembunyikan lagi. "Itu luar biasa!"
"Tapi apa itu tidak terlalu lama? Kejuaraan musim dingin masih bulan November," Kata Koganei mengutarakan pendapatnya.
Naruto menggeleng tidak setuju. "Aku sudah mencoba berlatih bertahun-tahun, tapi semuanya gagal. Aku tidak akan membuang kesempatanku walau untuk satu menit!"
Aida Riko tersenyum bangga. "Yah, itu semangat yang bagus. Tapi kita punya ikan besar di depan. Kaijo bukan tim lemah."
Tim Seirin mengangguk setuju. Latihan dilakukan sesuai intsruksi Riko. Tim dibagi menjadi dua antara kelas satu dan kelas dua. Sasuke mengawasi jalannya latihan tanding sementara Riko melatih Namikaze secara khusus di bagian lapangan berbeda.
Riko dan Naruto memilih berlatih di sayap kanan gedung dekat pintu. Keduanya saling berhadapan sekarang.
"Kita akan mulai hal-hal dasar Namikaze-kun. Kau tahu bukan bila dalam pertandingan basket dilarang menggunakan sarung tangan," kata Riko yang dibalas anggukan sang junior.
"Buka sarung tanganmu!" Perintah sang pelatih.
"HAH! TIDAK!" Si pirang menjadi panik. Dia sudah tahu kemana arah latihan ini. Walupun pikirannya sadar dia harus mencoba tapi nalurinya untuk menjauh dari hal-hal kotor tidak bisa dihilangkan.
"Buka sarung tanganmu, Namikaze-kun! Kau harus berlatih memegang bola tanpa sarung tangan."
Naruto menggeleng.
Bukannya marah Riko tersenyum lembut. Tidak ada seringai licik yang ditampilkan, hanya ada kepedulian dan rasa simpati yang tinggi.
"Pelatihan ini tidak akan berhasil jika kau masih takut. Kau harus berani menaruh kepercayaanya pada teman-temanmu yang lain seperti halnya kau menaruh kepercayaan pada Uchiha-kun. Biarkan kami membantumu juga."
Pemuda beriris biru masih tidak yakin. "Kepercayaan?"
"Basket adalah permainan satu tim. Dan teman satu tim harus saling percaya. Kau harus bisa membawa dirimu untuk masuk ke dalam ikatan yang bernama tim." Riko menjelaskan. Dia melihat wajah si pirang yang tertekan. Namikaze tidak bisa menyembunyikan wajah tertekannya.
"Menurutmu kenapa kau bisa menyentuh Uchiha-kun dengan bebas?" Tanya sang pelatih dengan nada santai.
Pertanyaan itu bagaikan sambaran petir di siang hari. Dia bahkan tidak pernah memikirkannya. "Entahlah, karena dia sahabatku?"
Riko tertawa ringan. "Mungkin, kau yang tahu jawabannya sendiri."
Riko lalu mengambil satu bola dikeranjang, dia lalu mengelapnya dengan tisu basah. Tanpa membuat kontak langsung dengan bola dia lalu melemparkannya pada Namikaze yang ditangkap dengan sempurna.
Naruto tersenyum senang. Walau dia belum menemukan jawabannya tapi dia akan berusaha sekuat tenaga. Dia harus optimis.
"Kita benar-benar mulai dari awal, oke!" Dia memberi acungan jempol pada juniornya.
Bersambung
Terimakasih sudah membaca, memberi favorit dan follow. Terimakasih untuk Frwt saya coba wujudkan gagasannya tentang juara klub kebersihan he he he. Silahkan berikan kritik dan Saran. Terimakasih.
.
.
