- Time -
CHANBAEK
BxB | Boys Love
Jangan menghakimi author jika cerita ini kurang berkenan, tapi kasih kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki segala kekurangannya.
- 6104 -
"Masuklah Baek." Seulgi mengajak Baekhyun masuk kedalam rumah orang tua angkatnya, ketika mereka sudah sampai disana.
Baekhyun tampak kagum kala melihat rumah milik orang tua angkat Seulgi. Rumahnya benar-benar besar dan mewah, pantas saja Seulgi hidupnya menjadi lebih baik ketimbang saat tinggal di panti asuhan bersama dirinya. Baekhyun hanya membawa baju sedikit dalam tas yang ia gendong, tangan kanannya ia gunakan untuk membawa koper milik Seulgi. Setelah mereka masuk kedalam rumah, Seulgi tampak memeluk kedua orang tua angkatnya yang tengah bersantai diruang televisi. Baekhyun berdiri canggung melihat interaksi keluarga tersebut.
Sebagian hatinya merasa tercubit. Dia bukan iri, dia hanya merasa senang sekaligus sedih. Senang karena Seulgi tidak bernasib buruk sepertinya, dan sedih karena ia tidak seberuntung Seulgi, sahabatnya.
"Eomma, appa, kenalkan ini Baekhyun." Seulgi menarik tangan Baekhyun "Sahabatku dari kecil saat aku masih dipanti. Eomma dan appa ingatkan, aku pernah menceritakan Baekhyun pada kalian. Baekhyun akan mencari pekerjaan disini, jadi aku mengajak dia tinggal bersama kita." Seulgi tampak bahagia memperkenalkan Baekhyun kepada kedua orang tua angkatnya.
Namun rupanya, respon yang diberikan kedua orang tua angkat Seulgi berbeda dengan Seulgi. Baekhyun dapat melihat dengan jelas- jika kedua orang tua angkat Seulgi tampak seperti tidak setuju mendengar Seulgi berkata, jika ia akan tinggal dirumah itu, lebih tepatnya menumpang dirumah Seulgi.
Baekhyun membungkuk sebagai bentuk sopan santunnya terhadap kedua orang tua angkat Seulgi.
"Seulgi-ah, bisakah kita berbicara sebentar denganmu?." Ucap nyonya Kang, ibu Seulgi.
"Ne!." Seulgi tampak kaget, namun tetap mengikuti langkah ibunya yang sudah menarik tangannya untuk sedikit menjauh dari Baekhyun.
"Sebentar ya Baekhyun." kata tuan Kang seraya beranjak untuk berbicara bersama Seulgi.
Baekhyun hanya mengangguk dan tetap berdiri disana. Karena sedari awal tidak ada yang mempersilahkan dirinya duduk. Itu bukan masalah untuk Baekhyun, lagipula ia sudah sering berdiri ketika berjualan- jadi bukan masalah serius ketika ia harus menunggu selagi Seulgi berbicara dengan kedua orang tuanya.
Menit demi menit telah berlalu, namun Seulgi dan kedua orang tuanya tidak kunjung kembali. Baekhyun yang penasaran karena merasa sedikit ada yang salah dengan sikap kedua orang tua angkat Seulgi, memilih untuk mengikuti kearah kemana sebelumnya ketiga orang itu pergi.
Sebelum Baekhyun benar-benar dekat dengan ketiga orang tersebut yang ternyata berada belakang rumah. Samar-samar Baekhyun dapat mendengar jika, ternyata ketiga orang itu tengah berdebat mengenai dirinya.
"Eomma, Baekhyun sahabat Seulgi. Tidakkah eomma mengerti?." Seulgi tampak sedih kala mendengar kedua orang tuanya tidak setuju jika Baekhyun harus tinggal dirumah mereka.
"Seulgi, jika rekan kerja bisnis appa bertanya tentang anak lelaki itu- appa harus menjawab apa? Tidak mungkin kan appa menjawab jika dia adalah teman sewaktu kau masih di panti!." Tuan Kang mengusap wajahnya "Jangan merusak semua yang sudah appa lakukan untukmu. Yang orang tahu, kau adalah anak appa yang hilang sewaktu bayi."
Keluarga angkat Seulgi bukanlah orang sembarangan, bisa dibilang mereka masuk kedalam keluarga terpandang. Seulgi bisa saja bekerja menjadi sekretaris diperusahaan ayah angkatnya. Namun ia lebih memilih bekerja sebagai HRD diperusahaan lain. Karena ia tidak ingin dianggap manja menerima semua fasilitas dari orang tua angkatnya tanpa mau berusaha sendiri.
Baekhyun mundur perlahan, langkahnya ia bawa kembali ketempat semula ia menunggu. Ia sedikit terpukul mendengar penuturan kedua orang tua angkat Seulgi. Setidaknya, dari kata-kata yang terucap dari ayah angkat Seulgi- keberadaannya akan membuat Seulgi berada dalam masalah. Baekhyun tampak tengah berpikir, ia harus mencari cara untuk bisa pergi dari rumah Seulgi- namun tidak membuat Seulgi sedih.
Saat pikirannya tengah memikirkan ide untuknya pergi dari sana, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Salah satu pesan masuk dari teman lamanya ternyata bisa membantu Baekhyun saat ini.
Baekhyun, sedang apa kau? Minggu depan aku akan ke Jeju. Siapkan pesta penyambutan untukku. Ha Ha Ha
"Thanks Jongdae. Kau memang penyelamatku." Baekhyun segera menggetikan pesan balasan pada Jongdae agar menjemputnya dirumah Seulgi, atau setidaknya didekat rumah Seulgi.
Saat ia sibuk membalas pesan Jongdae, ketiga orang yang sebelumnya berdebat ditaman belakang rumah sudah kembali kedalam dan menghampiri Baekhyun.
"Baek..." Seulgi memanggilnya kala ia terus pokus pada ponsel jeleknya.
"Ah Seulgi-ah.." Baekhyun tampak kebingungan mengatakan niatnya, namun ia tetap mengatakannya "Sepertinya aku tidak bisa tinggal disini bersamamu. Jongdae mengajakku tinggal bersamanya, dia bilang aku bisa menginap diapartemennya."
Baekhyun menyerahkan koper milik Seulgi yang berada disamping tubuhnya. Ia lalu memeluk sahabatnya tersebut seraya mengucapkan terima kasih karena sudah membawanya ke Seoul.
"Kau tidak marah padaku kan?." Baekhyun tersenyum sampai sipitnya membentuk bulan sabit.
"Baek..."
"Kalau begitu, aku harus pergi dulu. Jongdae sepertinya sudah berangkat menjemputku, aku janjian didepan gang dengannya." Baekhyun membungkuk pada kedua orang tua Seulgi sebelum ia benar-benar pergi. Lalu kembali pamit pada Seulgi.
Ia segera berbalik untuk pergi dari sana. Sebenarnya, ia sengaja mempercepat pamitannya, karena Baekhyun tidak mau membuat Seulgi berada dalam masalah. Dan ia juga merasa sedih.
Ia bukan hanya sedih karena penolakan kedua orang tua angkat Seulgi, tapi ia juga sedih karena tidak bisa menuruti keinginan sahabatnya, Seulgi- untuk bisa tinggal bersama disana.
Mereka sejak kecil sudah sangat dekat layaknya adik dan kakak. Mereka harus terpisah kala Seulgi diadopsi. Seulgi memang sering mengunjunginya di Jeju, dan Seulgi sangat ingin mengajak Baekhyun ke Seoul agar bisa diajak jalan-jalan olehnya.
Namun sekarang, Seulgi tidak bisa melakukan apa yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari karena, kedua orang tua angkatnya tidak setuju jika Baekhyun tinggal dirumahnya.
Seulgi bukan gadis kecil yang bisa dibohongi begitu saja. Ia mengambil kunci mobil dan menyusul Baekhyun. Kedua orang tuanya sudah berteriak kala ia pergi tanpa mendengarkan ucapan kedua orang tua angkatnya. Seulgi harus menyusul Baekhyun untuk meminta maaf pada sahabatnya itu.
Baekhyun tampak berjalan sendirian seraya menelpon Jongdae dan menyuruh temannya itu menjemputnya di sebuah halte bis yang berada tidak jauh darinya sekarang. Namun, belum sempat ia sampai di halte bis- sebuah mobil berwarna merah sudah lebih dulu berhenti didepannya. Seulgi turun dari mobil seraya menangis dan langsung memeluknya.
"Kau lelaki jahat, kenapa pergi begitu saja. Kau bilang kita bersahabat, tapi kenapa kau tidak mau mendengarkanku."
Baekhyun menenangkan gadis manja itu saat isakannya terdengar dan membasahi bajunya.
"Aku tidak ingin membuatmu dalam masalah Seul. Aku mendengar semuanya, orang tuamu tidak setuju aku tinggal disana. Dan lagipula, mereka benar. Tidak seharusnya aku tinggal bersama seorang gadis dirumah yang sama. Akan ada banyak gosip jelek menyebar tentang dirimu." Baekhyun melepas pelukan Seulgi "Sudahlah jangan menangis, kau tampak jelek jika menangis." Seulgi menghentikan tangisannya dan berubah memasang wajah marah pada Baekhyun.
Sementara Baekhyun tertawa renyah melihat wajah Seulgi yang tengah merajuk.
"Aku akan tinggal bersama Jongdae, kita masih bisa bertemu. Aku juga harus segera mencari pekerjaan." Baekhyun menepuk-nepuk bahu Seulgi "Pulanglah, orang tuamu akan hawatir jika kau pergi terlalu lama hanya untuk menyusulku. Kau bisa disangka jatuh cinta padaku kkkkkk."
"Cih. Aku tidak jatuh cinta pada laki-laki gay sepertimu." Seulgi menjulurkan lidahnya, dan sekarang gantian Baekhyun yang memasang wajah kesalnya.
"BAEKHYUN."
Mereka berdua berjengit kaget kala mendengar teriakan seseorang yang memanggil Baekhyun.
Baekhyun mencari darimana asal sumber suara itu berasal, dan tersenyum seraya melambai saat Jongdae memanggilnya di halte bis dengan mobil sedan hitam terparkir disana.
"Lihat Jongdae sudah datang, aku harus segera pergi. Kau pulanglah." Baekhyun mendorong Seulgi masuk kedalam mobilnya "Aku akan menghubungimu nanti."
Seulgi menurut dan segera melajukan mobilnya berbalik arah kembali kerumahnya. Sementara Baekhyun kini juga sudah berada didalam mobil Jongdae dan ikut dengan Jongdae.
"Kenapa dengan orang tua Seulgi? Mereka tidak ingin kau tinggal disana? Astaga orang kaya itu pelit sekali." Komentar Jongdae saat mendengar cerita Baekhyun tentang kejadian dirumah Seulgi.
"Kau kan tinggal bersama kekasihmu Dae, kalau aku tinggal disana- bagaimana dengan kekasihmu? Apa dia akan setuju? Kau tahu kan kalau aku ini gay, nanti kalau dia cemburu bagaimana?." Baekhyun terus mengoceh tentang kekhawatiran kekasih Jongdae yang mungkin saja tidak akan setuju jika ia menumpang diapartemen Jongdae.
"Tenang saja. Kau bisa tidur dikamar tamu, karena kekasihku tidur denganku. Lagipula, kekasihku bukan orang jahat sampai membiarkan temanku terlantar dijalanan."
Baekhyun bernafas lega mendengar jawaban Jongdae. Sepertinya, kekasih Jongdae bukan tipikal orang yang cemburu terhadap teman kekasihnya. Secepatnya, Baekhyun harus mencari pekerjaan lalu mencari tempat tinggal murah yang bisa ia tinggali- agar tidak terus menumpang diapartemen Jongdae dan kekasihnya.
- 6104 -
"Kalian sudah mendapat info dimana dia tinggal?." Pagi ini, Chanyeol yang masih berada di mansionnya dan belum pergi ke kantor, tengah menunggu laporan dari anak buahnya tentang tugas yang ia berikan
Mencari tempat tinggal Baekhyun dan mencari tahu dimana Baekhyun melamar untuk bekerja.
"Sudah tuan."
Chanyeol menyunggingkan senyumnya.
Rupanya tidak sia-sia ia membayar para pekerjanya dengan gaji besar jika mereka bisa diandalkan seperti sekarang ini. Anak buahnya bergerak cepat, untuk mencari keberadaan lelaki cantik dan manis yang kini menjadi incarannya.
"Katakan padaku semua informasi yang kalian dapatkan!." Chanyeol meneguk wine digelasnya selagi mendengarkan anak buahnya melapor.
"Byun Baekhyun tidak tinggal bersama sahabatnya Kang Seulgi, karena sepertinya kedua orang tua Kang Seulgi tidak setuju jika Byun Baekhyun tinggal disana. Byun Baekhyun kini tinggal diapartemen temannya yang bernama Jongdae sejak kemarin malam."
"Jongdae?." Alis Chanyeol tampak mengeryit dan sebentuk rasa cemburu terlihat diwajahnya.
"Kim Jongdae, seorang pengusaha cafe yang berada tidak jauh dari perusahaan anda tuan. Dia tinggal bersama kekasihnya di apartemen tersebut, dan kini bertambah dengan adanya Byun Baekhyun disana."
Ah. Chanyeol bisa bernafas lega kala mendengar orang bernama Jongdae itu, ternyata sudah memiliki kekasih.
Chanyeol seorang pencemburu, jadi mendengar lelaki cantik incarannya dekat dengan lelaki lain- ia jelas merasakan rasa panas dihati dan pikirannya karena cemburu.
Tidak ada yang boleh mendekati incarannya. Baekhyun harus menjadi miliknya, jadi siapapun yang berani mendekatinya- ia akan berhadapan dengan Park Chanyeol.
"Tunggu dulu..." Chanyeol merasa ada yang terlewat olehnya "Kau bilang apa sebelumnya? Orang tua sehabatnya tidak suka jika dia tinggal dirumah itu?."
"Benar tuan. Begitulah yang kami dengar dari percapakan Byun Baekhyun dan Seulgi, sesaat sebelum Byun Baekhyun pergi bersama Jongdae."
Apa anak buah Chanyeol semacam dispatch? Kenapa mereka bisa membuntuti Baekhyun tanpa disadari oleh siapapun.
"Sombong sekali mereka." ucapnya kesal.
Chanyeol marah, karena mereka sudah dengan tega menolak lelaki cantiknya hanya untuk sekedar menumpang tidur dan beristirahat.
"Kalian telah berani mengusir calon kekasihku." Tangan Chanyeol mengerat pada gelas yang tengah dipegangnya "Terus ikuti kemanapun Baekhyun pergi, dan laporkan padaku semua yang dia lakukan. Kecuali saat ia ke toilet, kalian tidak boleh mengikuti- atau mata kalian aku congkel dari tempatnya."
Setelahnya Chanyeol memberi gestur untuk menyuruh mereka keluar dari ruang kerjanya. Ia tersenyum senang melihat potret Baekhyun yang hari ini akan pergi mencari pekerjaan. Ia dapat photonya dari anak buahnya yang saat ini tengah mengikuti Baekhyun. Chanyeol memerintahkan anak buahnya untuk bergantian mengikuti Baekhyun agar Baekhyun tidak merasa tengah diawasi.
Benar-benar cerdas Park Chanyeol ini.
Tok Tok Tok
Ketukan dipintu ruangan kerjanya terdengar kala seseorang mengetuknya.
"Apa aku menganggu?." Tanya seseorang yang ia kenali.
"Tidak Hyung. Ada apa?," Chanyeol menaruh gelas wine-nya dan merubah posisi duduknya yang semula bersender santai pada kursi.
"Shannon mengeluh padaku karena kau meninggalkannya begitu saja di Jeju. Apa terjadi sesuatu yang penting sampai kau lupa pada teman seks-mu itu?." lelaki yang dipanggil Hyung oleh Chanyeol tersebut duduk disofa yang berada diruang kerja Chanyeol.
"Aku sudah tidak akan memakainya lagi Hyung. Jadi segera akhiri kontrak dengannya, dan berikan uang kompensasi pemutusan kontrak padanya." Jawab Chanyeol yang mengejutkan lelaki yang lebih tua dari Chanyeol tersebut.
"Kau baru menggunakannya seminggu, apa dia kurang memuaskan hasratmu?." Tanyanya.
"Tidak. Dia memuaskan." Chanyeol menuangkan wine pada gelas lain lalu membawanya pada lelaki tersebut "Kau akan tahu nanti Hyung." Ucapnya seraya tersenyum sampai menampilkan deretan gigi putihnya.
"Terdengar kau akan menyusahkanku lagi." Keluh lelaki itu.
"Oh ayolah Junmyeon Hyung. Kau tahu diriku."
Adalah Junmyeon, lebih tepatnya Park Junmyeon. Sepupu Chanyeol yang sudah seperti kakak kandung bagi Chanyeol. Karena lelaki itulah yang menemaninya sejak ia kecil, setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan yang juga melibatkan orang tua Junmyeon.
Mereka dibesarkan sama-sama oleh kakek dan nenek mereka. Dan setelah dewasa, mereka menjadi lelaki sukses incaran semua wanita. Karena wanita manapun akan terpesona melihat ketampanan keduanya yang meluluhkan hati. Dengan kekayaan yang melimpah, siapapun tidak akan menolak jika diajak berkencan oleh keduanya.
Tapi, tidak semua wanita bisa dengan mudah mendekati mereka. Junmyeon adalah orang yang lebih memilih menyibukkan dirinya di dunia Entertainment sebagai aktor, penyanyi, dan juga model. Sedangkan Chanyeol, dia adalah si pekerja tekun yang akan menghasilkan uang dengan bisnis yang dijalankannya.
Soal wanita, Chanyeol-lah yang selalu menyusahkan Junmyeon. Karena Junmyeon lah yang mengurus kontrak semua teman ranjang Chanyeol.
"Jadi, siapa dia?." Junmyeon menunggu adik kesayangannya itu memberikan informasi lebih jelas tentang seseorang yang akan Chanyeol jadikan teman seranjangnya.
"Aku menyukainya, dan aku ingin dia menjadi milikku. Hanya milikku." Chanyeol memberikan potret Baekhyun yang ia dapatkan dari anak buahnya.
"Woah. Dia cantik sekali." Junmyeon tersenyum melihatnya "Jadi darimana asal wanita ini?."
Chanyeol terbatuk ketika Junmyeon mengatakannya.
Apa dia tidak salah dengar? Junmyeon berpikir jika Baekhyun adalah seorang wanita?.
"Hyung, apa matamu buta? Kau tidak lihat ia berdada rata dan memiliki belalai mini diselangkangannya?." Chanyeol menatap horor kearah Junmyeon ketika penglihatan lelaki itu tidak bisa diandalkan.
"Yaikkk." Junmyeon hendak memukul kepala belakang Chanyeol, namun lelaki itu telah lebih dulu menghindarinya "Maksudmu dia laki-laki? Secantik ini dia seorang laki-laki? Apa dia menjalani operasi kelamin untuk menjadi laki-laki?."
Oke. Chanyeol mulai muak dengan kebodohan Junmyeon yang tidak masuk akal. Walau ada benarnya juga sih. Baekhyun memang terlalu cantik untuk ukuran seorang lelaki.
"Dia laki-laki sejak lahir." Chanyeol kembali duduk dikursi meja kerjanya.
Karena ia tidak mau menjadi sasaran Junmyeon kalau-kalau lelaki itu hendak memukulnya seperti sebelumnya.
"Kau menemukan dia dimana? Apa ada dua? Kalau ada aku mau satu."
Dan Chanyeol semakin muak.
"Tidak ada. Dia hanya ada satu-satunya di dunia ini, dan dia hanya akan menjadi milikku. Jika Hyung menginginkannya, maka langkahi dulu mayatku." Chanyeol mengucapkannya dengan menggebu-gebu.
Junmyeon sontak terbahak kala mendengar Chanyeol menjadi posesif menyangkut laki-laki cantik yang belum tentu bisa menjadi milik Chanyeol. Sementara Chanyeol memasang wajah datar dan kesalnya, Junmyeon seolah mendapatkan hiburan baru saat ia sadar jika Hyungnya itu tengah menggodanya.
"Dia belum menjadi milikmu Chanyeol. Jangan terlalu yakin jika ia mau menjadi milikmu." Junmyeon menghapus air mata palsu disudut matanya "Lagipula aku tidak tertarik padanya seperti kau menginginkannya. Aku lebih ingin jika lelaki manis ini menjadi adikku, pasti akan menyenangkan mempunyai adik semanis ini."
Chanyeol menghela nafas panjang, ia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. Meninggalkan Junmyeon yang kembali menertawakannya.
Chanyeol mengambil kunci mobilnya, dan berjalan keluar mansion menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Ia baru saja mendapat pesan dari anak buahnya ketika ia berjalan keluar dari ruang kerjanya. Ia mendapat pesan jika Baekhyun tengah beristirahat disalah satu cafe setelah mencari pekerjaan, yang tak kunjung didapat.
Mobilnya ia bawa dengan kecepatan yang tidak biasa. Chanyeol ingin bertemu dan melihat langsung lelaki manis incarannya. Ia tidak puas jika hanya melihat melalui photo yang dikirim anak buahnya, ia harus melihat Baekhyun secara langsung. Dan ia merasa cemburu karena anak buahnya sudah lebih dulu menikmati pemandangan wajah Baekhyun.
Setelah menemukan lokasi tempat yang dikirim oleh anak buahnya. Chanyeol turun dari mobil mewahnya dan masuk kedalam cafe sederhana yang didalamnya ada Baekhyun. Chanyeol melihat sekeliling cafe tersebut, dan ternyata cafe tersebut tengah penuh oleh pengunjung. Satu kesempatan bagus untuk Chanyeol, karena dengan begitu ia bisa pura-pura untuk bisa duduk dengan Baekhyun yang sendirian.
Chanyeol berjalan mendekat ke arah Baekhyun. Dan berhenti tepat didepan meja yang Baekhyun tempati. Baekhyun tidak sadar jika Chanyeol berdiri dihadapannya, ia masih sibuk mencari lowongan pekerjaan dari koran yang ia beli.
"Kenapa semuanya harus memakai ijasah SHS. Apa tidak ada yang mau menerima ijasah JHS-ku?." Gerutu Baekhyun karena tidak menemukan lowongan pekerjaan yang sesuai dengan ijasah terakhir sekolahnya.
Chanyeol tidak meminta izin ketika ia duduk dengan se'enaknya didepan Baekhyun. Mereka hanya terpisah meja cafe yang kecil. Jika Chanyeol mencondongkan wajahnya kedepan, sudah dipastikan wajahnya akan berada dekat dengan wajah Baekhyun.
Baekhyun yang merasakan kehadiran orang lain didepannya, mendongkak. Sipitnya mengerjap beberapa kali ketika melihat seseorang yang duduk satu meja dengannya. Baekhyun terpana akan ketampanan Chanyeol yang...wah benar-benar tampan.
'Tampan sekali.' – batin Baekhyun berkata.
Sebagai seorang yang tertarik terhadap sesama laki-laki, Baekhyun cukup gugup karena keberadaan Chanyeol.
"Nuguseyo?." Tanya Baekhyun dengan pelan dan hati-hati.
"Keberatan aku duduk disini? Meja lain penuh." Jawab Chanyeol dengan masih memandangi wajah Baekhyun tanpa mengalihkannya pada yang lain.
Baekhyun tampak gugup kala terus dipandangi terus oleh Chanyeol. Ia menelan salivanya pelan kala lidahnya terasa kelu untuk berbicara.
"Ah ne. Tidak apa-apa, silahkan." Baekhyun memilih untuk kembali menyibukkan diri dengan mencari lowongan kerja, dibanding harus bertatapan dengan Chanyeol yang tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya.
Chanyeol memesan makanan yang begitu banyak. Meja yang Baekhyun tempati bahkan sampai penuh dengan makanan yang Chanyeol pesan. Baekhyun yang baru memakan sandwich saat di apartemen Jongdae, menjilati bibirnya kala makanan yang dipesan Chanyeol membuat cacing diperutnya berontak minta di isi.
Tak ingin terlihat memalukan, Baekhyun kembali menyibukkan dirinya sendiri agar tidak terlihat menyedihkan didepan lelaki yang tidak Baekhyun kenal sama sekali.
Chanyeol menarik koran yang menutupi wajah Baekhyun, membuat Baekhyun kaget dan menatapnya dengan wajah yang menggemaskan.
"Sebagai permintaan maafku karena ikut duduk dimejamu, makanlah denganku. Kebetulan aku sedang lapar dan aku juga tidak suka makan sendirian." Tawaran Chanyeol yang menggiurkan membuat Baekhyun gundah.
Ia kebingungan. Menolak adalah tindakan yang benar-benar salah disaat perutnya sedang kelaparan. Menerima, ia akan terlihat terkesan seperti lelaki yang mudah sekali di suap.
Tapi, ia kelaparan saat ini. Dan Baekhyun masih ingat ucapan ibu panti ketika ia masih dipanti.
'Tidak baik menolak rezeki.'
"Tapi..." Baekhyun berbasa-basi untuk menolak. Hanya karena tidak ingin imagine nya terlihar buruk.
"Oh ayolah. Aku tidak suka penolakan...eummmm...namamu..."
"Baekhyun. Byun Baekhyun." Baekhyun menyodorkan tangannya sebagai perkenalan dengan Chanyeol.
"Chanyeol, Park Chanyeol. Panggil aku Chanyeol." Chanyeol menerima uluran tangan itu.
Dan ternyata ia salah telah menerima uluran tangan Baekhyun. Karena, setelah kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit mulus lelaki mungil itu. Ia merasakan debaran jantungnya berdebar lebih cepat dan, tiba-tiba rasa ingin menarik lelaki mungil didepannya ini ke atas ranjang semakin besar.
Chanyeol melepaskan jabatan tangan itu sebelum dirinya lepas kendali. Ia tidak bisa secepat itu untuk membawa Baekhyun ke atas ranjangnya. Minimal, ia harus mencari titik kelemahan Baekhyun agar bisa ia jadikan sebagai alasan ketika ia menjadikan Baekhyun sebagai teman ranjangnya.
Bukankah ia bisa menjadikan alasan jika Baekhyun telah merusak mobilnya?.
Ia memang bisa, tapi ia tidak mau melakukannya secepat itu. Ia ingin membuat Baekhyun masuk dulu kedalam perangkapnya. Baru ia akan menangkap lelaki mungil didepannya ini dengan mudah.
"Silahkan dimakan Baekhyun-ssi." Chanyeol mempersilahkan Baekhyun untuk segera memulai makan bersamanya.
Dengan malu-malu Baekhyun memulai makan bersama Chanyeol yang juga mulai makan. Chanyeol tersenyum misterius saat melihat Baekhyun memakan makanan yang ia pesan dengan begitu lahapnya. Chanyeol juga memastikan lebih dulu Baekhyun menghabiskan makanannya, setelahnya ia memesan makanan penutup untuk Baekhyun dan dirinya.
Tidak ada obrolan lain selain Baekhyun yang mengucapkan terima kasih, dan Chanyeol yang juga mengucapkan terima kasih padanya.
Chanyeol pulang setelah memastikan Baekhyun pulang menggunakan bis. Ia sebenarnya menawarkan diri untuk mengantarkan lelaki itu. Namun, Baekhyun menolaknya karena ia akan melanjutkan mencari pekerjaan.
"Lakukan rencana B." Ucap Chanyeol setelah menelpon anak buahnya.
Ia lalu melajukan mobilnya untuk segera ke perusahaannya. Senyumnya terus mengembang sepanjang ia dalam perjalanan. Chanyeol merencanakan sesuatu untuk Baekhyun agar lelaki manis itu berada dalam jangkauannya.
Hanya sebuah rencana untuk membuat Baekhyun bekerja padanya.
Terdengar klasik. Namun, Chanyeol bukan berniat untuk membuat Baekhyun bekerja di perusahaan-nya. Ia akan membuat Baekhyun bekerja di mansionnya.
Dan kali ini, ia akan sediki mengancam Baekhyun.
"Kau benar-benar membuatku bergairah, Byun Baekhyun."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Aku berharap dukungan kalian, maklum masih new hehehe. Kalau ada kesalahan maaf, Review aja biar nanti kedepannya aku perbaiki. Terima kasih.
