- Time -

CHANBAEK

BxB | Boys Love

Jangan menghakimi author jika cerita ini kurang berkenan, tapi kasih kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki segala kekurangannya.

- 6104 -

BGM Dean & Bonnie - Clyde

"Maafkan aku ya Baek."

Baekhyun menoleh, alisnya berkerut- sebentuk ketidak mengertiannya akan perkataan Jongdae yang meminta maaf padanya. Ia baru selesai bercerita, jika dirinya tidak bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan ijasah yang dimilikinya.

"Kenapa kau meminta maaf Dae?"

Jongdae mendekat, lalu duduk disampingnya yang tengah duduk dilantai dan menyender pada sofa ruang tengah apartemen Jongdae.

"Aku dan kekasihku tidak bisa memberikanmu pekerjaan di Cafe. Kau tahu sendiri, cafe kami kecil dan ya...memperkerjakan pegawai baru lagi akan menambah pengeluaran lebih banyak." Jongdae menghela nafasnya dan kembali melanjutkan perkataannya "Tapi aku janji, kalau ada pegawaiku yang keluar- kau bisa bekerja disana."

"Tidak apa-apa Dae. Lagipula, aku sudah ditampung disini saja sudah sangat menyusahkan kalian. Dan aku tidak mau tambah menyusahkan kalian dengan meminta pekerjaan di Cafe kalian." Baekhyun menepuk bahu temannya tersebut dan tersenyum.

Seharian mencari pekerjaan dengan hanya modal ijasah JHS, tidak membuahkan hasil sama sekali. Setiap cafe atau restoran dan bahkan perusahaan yang ia datangi, tidak ada yang mau menerima Baekhyun. Bahkan untuk bagian office boys saja, mereka mengatakan tidak ada lowongan.

Padahal, Baekhyun melihat ada sebuah pengumuman di depan perusahaan tersebut. Mungkin yang dicari oleh mereka yang memiliki ijasah lebih tinggi darinya. Tapi, apa seorang office boys juga harus lulusan universitas?

"Kau sudah mencari ke semua tempat? Yakin mereka tidak membuka lowongan pekerjaan?" Jongdae juga merasa sedikit aneh.

Sekalipun tidak banyak lowongan, setidaknya pasti ada satu tempat yang mau menerima Baekhyun bekerja kan?

"Tidak ada. Bahkan ada perusahaan yang menolakku m saat melihat berkas lamaranku. Padahal, ada pengumuman lowongan pekerjaan untuk bagian office boys disana." Baekhyun menghela nafasnya.

Sesulit inikah hidup di Seoul?.

"Mungkin aku harus kembali ke Jeju, jika aku tidak menemukan pekerjaan juga." Ucapnya final merasa menyerah dengan perjuangannya yang bahkan baru sehari.

"Lelaki macam apa kau? Baru juga sehari sudah menyerah. Besok kau coba lagi cari ditempat lain." Jongdae menggeleng tidak percaya pada temannya.

"Tidak mungkin aku terus menumpang ditempatmu Dae, jadi- kalau seminggu aku tidak menemukan pekerjaan. Aku akan kembali ke Jeju dan berjualan kerajinan kerang laut lagi." Baekhyun melihat berkas-berkas lamarannya.

Membereskannya, mengecek apa ada yang kurang sehingga mereka menolak lamarannya.

"Tenanglah. Lagipula memberimu makan tidaklah sulit. Jadi, kau bisa disini sampai kau menemukan pekerjaan." Jongdae menepuk-nepuk bahu Baekhyun.

"Yeah, aku merasa tidak enak dengan kekasihmu. Kau tahu, aku sangat menyusahkan kalian karena menumpang disini."

"Siapa yang kau bilang menyusahkan puppy?."

Baik Baekhyun dan Jongdae, keduanya sontak menoleh pada sebuah suara yang baru saja terdengar dari pintu depan. Baekhyun tersenyum canggung kala melihat Xiumin- kekasih Jongdae yang begitu sedikit...tergila-gila padanya sudah pulang dari cafe.

Xiumin mendekat, lalu mencubit pipi Baekhyun sampai Baekhyun merasakan sedikit sakit akibat cubitan manja itu.

"Dengar ya puppy, kau bisa tinggal disini selama kau mau. Hanya saja, jangan membuat tempat ini kotor, itu sudah bisa membuatku tenang."

Yeah, Xiumin yang mencintai kebersihan.

Baekhyun mengangguk saja. Tidak ingin membuat lelaki itu banyak berbicara dan justru menceramahinya panjang lebar.

"Kalian sudah makan?" Xiumin bertanya seraya membawa belanjaan yang semula dipegangnya ke arah dapur. Jongdae dan Baekhyun ikut membantu membawa sisanya.

Ada tiga kantung belanjaan yang dibawa Xiumin. Dan Baekhyun bukan seseorang yang tidak tahu diri untuk diam dan tidak membantu.

"Kami menunggumu." Jongdae menjawab, tangannya ia gunakan untuk membereskan belanjaan itu kedalam lemari es.

Baekhyun juga ikut mengeluarkan-nya dari kantong plastik.

"Baekhyun kau bisa memasak?" tanya Xiumin yang mendapat anggukan dari si mungil lucu seperti puppy itu "Kalau begitu, kita masak berdua malam ini. Dae-ah, tolong bantu kami mencuci sayurnya."

Xiumin memberikan sayuran yang harus dicuci oleh kekasihnya itu. Sementara Baekhyun dan Xiumin menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Baekhyun memang sedikit bisa memasak, tapi hanya masakan sederhana. Sekarang ia akan mencoba membantu Xiumin membuat beberapa makanan yang tidak biasanya ia masak.

Semoga saja, dapur Xiumin tidak hancur karena ia memasak. Tapi, untungnya ia hanya membantu, jadi kemungkinan hancurnya dapur Xiumin tidak akan terjadi malam ini.

Jangan suruh Baekhyun memasak yang aneh-aneh. Karena ia hanya bisa memasak air, ramyeon, dan omlette. Selain itu, ia harus dibantu dengan buku panduan memasak, atau dibantu orang lain.

"Baek, kau sudah mencoba melamar di perusahaan depan cafe kami? PCY Enterprise."

Baekhyun menoleh kearah Xiumin, lalu menggeleng sebagai jawaban "Belum Hyung. Memangnya, disana sedang membuka lowongan pekerjaan?" ia kembali memotong kentang, wortel dan bawang bombay.

"Coba saja besok. Siapa tahu saja kan mereka sedang mencari pegawai." Usul Xiumin.

"Baiklah. Aku akan mencobanya besok."

Xiumin tersenyum. Ia sebenarnya tidak yakin jika perusahaan itu membuka lowongan pekerjaan, mengingat mereka selalu mengambil pegawai dari universitas-universitas secara langsung. Kecuali untuk bagian OB, mereka memang membuka lowongan. Tapi itupun memang hanya untuk yang memiliki ijasah SHS.

Tapi, tidak ada salahnya kan Baekhyun mencoba.

- 6104 -

"Aku sudah mem-blacklist Byun Baekhyun diperusahaan, cafe, restoran dan tempat lainnya yang kemungkinan untuk ia melamar pekerjaan." Ucap seorang sekretaris pribadi Chanyeol yang saat ini tengah melaporkan hasil pekerjaannya.

Lee Taemin. Sekretaris pribadi Chanyeol diperusahaan, yang sudah tahu semuanya tentang Chanyeol dan kebiasaan Chanyeol yang suka mengontrak wanita / lelaki untuk menjadi teman ranjangnya. Taemin ada di urutan kedua setelah Junmyeon, yang membantu mengurus keperluaan teman ranjang Chanyeol.

Chanyeol menyuruh Taemin untuk membuat perusahaan, cafe, restoran dan tempat lain yang membuka lowongan pekerjaan agar tidak menerima pegawai bernama Byun Baekhyun.

Pantas saja Baekhyun ditolak terus, semua adalah ulah Chanyeol. Lelaki itu menyuruh sekretaris dan anak buahnya memberitahu semua perusahaan yang berada dibawah tangannya, untuk menolak lamaran pekerjaan yang diajukan Baekhyun. Semua ia lakukan semata-mata agar Baekhyun nanti bisa bekerja ditempatnya.

Sebesar itukah pengaruh Chanyeol sampai bisa melakukan semua itu?

"Bagus. Laporkan semua perkembangan tentang dia padaku. Dan, kalau dia melamar pekerjaan disini- kau harus menyuruhnya datang ke mansionku jika ia ingin bekerja ditempatku." Chanyeol mengambil jas kerjanya "Besok ia pasti akan datang kesini untuk melamar pekerjaan, jadi besok- aku akan cuti untuk menunggunya di mansionku. Pastikan dia sampai di mansionku tanpa lecet sedikitpun, kalau sampai dia kenapa-kenapa- gajimu akan kupotong."

"Lakukan saja Chanyeol, dan aku akan menjauhkan Baekhyun-mu itu." ancam Taemin balik, yang mendapat tatapan tajam dari Chanyeol.

Ia berlalu keluar dari ruang kerjanya. Bersama dengan dua bodyguard yang selalu mengawalnya kemanapun ia pergi. Ia bukan bermaksud manja menyuruh dua bodyguard terus mengikutinya, hanya untuk mencegah sesuatu hal yang tidak di inginkannya terjadi. Dunia itu kejam, dia sudah diatas dan memegang kendali bisnis orang lain- nyawanya sendiri bisa berada dalam bahaya. Siapun pasti ingin menjatuhkan Chanyeol yang memiliki kekuasaan besar.

Besok ia akan cuti bekerja untuk menunggu Baekhyun kesayangannya itu datang ke mansionnya. Semua rencana yang ia susun sudah hampir berhasil, hanya tinggal menunggu Baekhyun datang padanya- membuatnya bekerja di mansionya. Lalu, memaksa Baekhyun menandatangani surat perjanjian untuk menjadi teman ranjangnya.

Mungkin menipu Baekhyun tidak ada salahnya kan? Nanti juga Baekhyun akan menikmatinya.

Terutama menikmati permainannya diatas ranjang. Chanyeol yakin, jika Baekhyun akan meminta untuk terus ia cumbu dan ia setubuhi- ketika tangannya sudah menyentuh tubuh polos dan menggiurkan itu.

Memikirkannya saja, Chanyeol sudah sangat bergairah.

Ia terpaksa memacu kendaraannya ke arah club malam milik temannya. Untuk sekedar melampiaskan nafsu birahi-nya karena terangsang ketika mengingat tangannya bersentuhan dengan kulit mulus Baekhyun.

Chanyeol tidak biasanya sampai seperti ini. Gairah dalam dirinya yang biasanya bisa ia kendalikan, mendadak kalah hanya dengan membayangkan dan mengingat Baekhyun. Bayangan akan Baekhyun yang mendesah dibawah tubuhnya terus membayangi. Baekhyun seorang lelaki yang mampu membuatnya nyaris gila hanya dengan menyentuh kulit lelaki itu. Mungkin Chanyeol akan benar-benar gila ketika ia berhasil menyetubuhi Baekhyun.

Ketika pagi menjemput, Baekhyun ikut bersama Jongdae dan Xiumin ke cafe. Rencananya, sebelum ia pergi melamar pekerjaan di perusahaan dekat cafe Jongdae- ia akan sedikit membantu Jongdae di cafe. Sekalian, ikut sarapan pagi disana bersama Jongdae dan Xiumin.

Beberapa pegawai Jongdae yang kebanyakan adalah seorang lelaki, terlihat berkali-kali mencuri ke arah Baekhyun. Mereka tidak percaya ketika Jongdae mengenalkan Baekhyun itu adalah seorang lelaki. Wajah cantik dan manis Baekhyun terlihat tidak layak untuk ukuran seorang lelaki. Baekhyun tampak imut mengenakan celemek pelayan ketika lelaki mungil itu membantu Xiumin menyiapkan sarapan untuknya.

"Nah puppy-ku, semoga kau berhasil mendapatkan pekerjaan hari ini." Xiumin menepuk-nepuk puncak kepala Baekhyun, seolah Baekhyun itu anak kecil.

"Terima kasih Hyung." Baekhyun merapikan pakaiannya, lalu tersenyum ke arah Xiumin dan Jongdae yang tidak berhenti menyemangatinya.

Langkah kaki mungilnya ia bawa keluar dari cafe, menyebrang jalan untuk bisa sampai di perusahaan PCY Enterprise. Yang memang berada dekat dengan cafe milik Xiumin dan Jongdae.

Baekhyun sempat takjub ketika melihat perusahaan itu. Gedung berlantai 20 itu begitu tinggi dan juga mewah dengan interiornya yang tidak biasa dari gedung perusahaan lainnya. Terlihat seperti, pemilik gedung itu benar-benar seorang yang elegan dan keren.

"Kau akan diterima disini Baekhyun. Semoga saja." Baekhyun menyemangati dirinya sebelum ia benar-benar melangkah kedalam perusahaan itu.

Waktu menunjukan pukul sembilan pagi, ketika perusahaan itu terlihat ramai oleh para pegawai dan juga beberapa orang yang sepertinya bukan pegawai perusahaan teesebut. Gedung perusahaan itu terlihat lebih mewah didalamnya. Lobi utama gedung itu terdapat banyak meja dan kursi yang sengaja diletakkan lebih banyak untuk para pengunjung dan pegawai yang ingin bersantai selama istirahat kerja. Bahkan di sudut lobi, ada sebuah kedai kopi kecil yang bisa digunakan para pegawai jika menginginkan kopi.

Ada air mancur ditengah lobi, dengan pinggirannya berisi kolam ikan yang jelas memiliki banyak jenis ikan didalamnya.

Baekhyun merasa perusahaan itu lebih terlihat seperti tempat santai, dibanding sebuah perusahaan. Tapi, itu memang sangat bagus. Karena membuat para pegawainya tidak bosan ketika bekerja.

Baekhyun mendekat ke meja resepsionis untuk bertanya. Gugupnya semakin bertambah kala ia sudah benar-benar didepan meja resepsionis. Seorang wanita cantik berambut pirang menyambutnya begitu ia sampai disana.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" wanita itu menyapa Baekhyun dan bertanya maksud dari kedatangannya.

"Saya, ingin melamar disini. Apakah..." belum sempat Baekhyun selesai berkata, resepsionis itu sudah bertanya tentang berkas-berkas lamarannya.

"Bisa saya lihat lebih dulu berkas lamarannya!" pinta wanita itu dengan sopan.

Baekhyun yang kelewat senang langsung saja memberikan berkas-berkas lamarannya dengan senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Resepsionis wanita itu mengecek nama Baekhyun, lalu meneliti Baekhyun setelah tahu jika ia benar-benar Baekhyun. Byun Baekhyun, sebuah nama yang diperintahkan oleh atasannya untuk langsung disuruh naik kelantai atas, ketika lelaki bernama Byun Baekhyun itu mengajukan lamaran pekerjaan.

"Security," panggil resepsionis tersebut kepada salah satu security yang ada disana "Tolong antarkan tuan Baekhyun keruangan sekretaris Lee."

Baekhyun cukup dibuat terkejut kala ia tidak di usir dan justru akan dibawa keruangan sekretaris perusahaan tersebut, bukan ke bagian HRD yang biasanya mengurusi penerimaan pegawai baru.

Security itu membawa Baekhyun sampai ke lantai 20. Dimana ruangan Sekretaris Lee berhadapan dengan ruangan presdir perusahaan tersebut. Ruangan milik Chanyeol tentunya.

"Tuan Lee, saudara Baekhyun ingin bertemu dengan anda." Security itu mengetuk terlebih dulu seraya berkata jika lelaki bernama Baekhyun bersamanya.

"Suruh dia masuk."

Security itu langsung membukakan pintu dan menyuruh Baekhyun masuk kedalam.

Ruangan sekretaris itu- benar-benar membuat Baekhyun kembali takjub. Dibanding ruangan kerja, ruangan itu lebih terlihat seperti sebuah apartemen. Tentunya dengan hanya tambahan meja kerja dan tidak adanya kasur besar yang biasanya ada didalam sebuah apartemen/rumah.

"Silahkan duduk Baekhyun." Taemin menyuruh Baekhyun duduk bersamanya yang ikut duduk disofa ruangan itu.

Sofa yang benar-benar empuk itu membuat Baekhyun ingin menjerit karena merasa nyaman. Namun akan terlihat kampungan jika ia menjerit heboh hanya karena sebuah sofa empuk.

Walau kenyataannya, ia memang baru pertama kalinya menduduki sofa senyaman dan se-empuk itu. Karena di panti, kasurnya saja bahkan tidak se-empuk ini.

"Kau ingin bekerja disini?" Taemin mengulurkan tangannya, sebagai isyarat agar Baekhyun menyerahkan surat lamarannya.

"Ah. Nee, tuan." Baekhyun menyerahkan berkasnya dengan sedikit bergetar.

Jelas saja, ia cukup takjub dengan wajah Taemin yang- cantik. Padahal ia sendiri sering dipuji cantik.

Tapi, Baekhyun bersikeras dirinya tampan karena ia seorang lelaki. Dan sekarang, ketika melihat Taemin, ia mengakui jika lelaki memang ada yang cantik.

"Panggil aku Hyung, aku belum se-tua itu untuk dipanggil tuan olehmu."

Baekhyun mengangguk kaku, tersenyum ke arah Taemin yang sibuk melirik biodata Baekhyun- yang sebenarnya sudah ia hapal benar karena ia sendiri mempunyai data pribadi Baekhyun.

Ia bersikap seolah tengah mempertimbangkan untuk menerima Baekhyun bekerja atau tidaknya. Meneliti apa keahlian anak itu, yang sedikit ditulis oleh Baekhyun disana.

"Kau seorang perantau dari Jeju?" tanya Taemin agar tidak kentara jika ia sudah tahu Baekhyun berasal dari Jeju.

"Nee, tu-ah maksudku Hyung." Baekhyun duduk dengan tubuh sedikit kaku, cukup membuat Taemin merasa tidak nyaman.

Karena ia seolah tengah menghukum anak kecil yang telah berbuat salah.

"Apa yang kau lakukan di Jeju? Kau anak panti asuhan?"

Baekhyun mengangguk cepat. Membuat helai'an poninya yang terumbai didepan sedikit bergoyang. Taemin benar-benar dibuat gemas. Pantas saja, Chanyeol sampai dibuat nyaris gila karena menginginkan anak lelaki didepannya saat ini- untuk menjadi milik lelaki pemaksa itu.

"Aku berjualan kerajinan kerang yang kubuat sendiri. Kadang aku berjualan bersama anak panti lainnya. Dan kadang aku juga menjadi pemandu pengunjung yang berasal dari Seoul dan kota lainnya, selama itu bukan dari luar negeri. Karena aku tidak bisa berbahasa asing."

Taemin mengangguk mengerti, ia menutup berkas lamaran Baekhyun, mengetik sesuatu di ponselnya, lalu bangkit berjalan ke mejanya. Meraih telepon dan kemudian menghubungi supir pribadinya.

"Siapkan mobil, kita ke mansion Park sebentar lagi." Kemudian dia kembali menatap Baekhyun "Bawa berkas lamaranmu, kau harus menemui presdir dimansionnya- jika ingin bekerja padanya."

Baekhyun membawa berkas lamarannya dan mengikuti Taemin dari belakang. Ketika mereka didalam lift, ia memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang akan ia kerjakan nantinya- dan dibagian mana ia dipekerjakan.

"Hyung, kalau aku boleh tahu. Nanti, aku akan bekerja dibagian apa?" Baekhyun berada dibalakang tubuh Taemin, dan sedikit mendongkak ke arah Taemin.

"Kau akan tahu nanti setibanya disana."

Baekhyun tidak lagi bertanya, ia hanya ikut saja kemana Taemin membawanya. Yang terpenting sekarang, ia akan mendapat pekerjaan. Itu saja sudah membahagiakn untuknya. Maka, ketika Taemin menyuruhnya masuk kedalam mobil beserta dengan lelaki itu- Baekhyun menurut dan duduk dengan manis didalam mobil.

Baekhyun kembali takjub ketika ia masuk mobil yang ditumpangi-nya. Baekhyun cukup tahu jika mobil yang ditumpangi-nya saat ini adalah mobil mewah dan mahal. Baekhyun yakin, karena ia tidak pernah melihat mobil sejenis ini di Jeju.

Perjalanan menuju mansion yang dikatakan Taemin adalah milik presdir perusahaan itu cukup jauh.

Sesampainya didepan gerbang mansion itu, Baekhyun juga dibuat kaget. Jarak gerbang utama dan mansion itu, cukup menyita waktu. Benar-benar seperti dalam sebuah drama yang sering Baekhyun lihat jika ia ada waktu menonton drama. Megah, mewah dan juga elegan.

Ia seperti melihat rumah milik Gyu Jun Pyo dalam drama Boys Before Flower.

Tidak, ini bahkan lebih besar. Pemiliknya pasti benar-benar kaya raya.

Bodoh. Kenapa Baekhyun berpikir seperti itu? Jawabannya sudah jelas jika pemiliknya pastilah kaya raya.

Setibanya disana, Baekhyun diajak masuk kedalam.

Dan ketika mereka berdua berada didalam mansion, Baekhyun dibuat terkejut akan keberadaan seseorang yang dikenalnya- tengah bertelanjang dada. Duduk disofa mewah ruang tengah mansion tersebut, tengah membaca koran dan juga meminum secangkir kopi yang berada ditangan kanannya.

"Kami datang." Ucap Taemin.

Chanyeol, lelaki itu menaruh kopi dan korannya kala melihat Taemin datang bersama dengan Baekhyun-nya. Chanyeol ingin tertawa melihat wajah memerah Baekhyun saat melihat ketelanjangan dadanya.

Ah, puppy manisnya tengah merona.

Chanyeol memang sengaja. Ia sengaja bertelanjang dada agar Baekhyun terpesona padanya. Ia tahu jika lelaki mungil itu Gay, jadi ia sedikit merayunya dengan cara seperti ini untuk membuat Baekhyun semakin terpesona padanya.

"Oh tamuku sudah datang." Chanyeol sedikit menegakkan duduknya "Duduklah Baekhyun, dan Taemin- kau bisa kembali ke perusahaan." Usir Chanyeol secara halus.

Keryitan di dahi Baekhyun terlihat kala mendengar perintah Chanyeol yang menyuruh Taemin kembali ke perusahaan, sementara dirinya diam disana.

"Ada pertemuan dengan nanti malam, kau harus datang Chanyeol." Taemin mengingatkan pertemuan yang sudah sebulan ditunda terus oleh Chanyeol, hanya karena lelaki itu malas bertemu dengan Alex. Rekan bisninya dari Amerika.

"Aku akan datang bersama Baekhyun. Kau bisa pergi sekarang Taemin. Kau jelas tahu, aku tidak suka mengulang perkataanku berkali-kali." Chanyeol berujar cukup serius.

Baekhyun hanya diam memperhatikan kedua orang itu tanpa ada niat untuk ikut campur, meskipun ia mendengar dengan jelas jika namanya disebut-sebut.

"Kau tidak bisa datang dengan Baekhyun. Karena..." Taemin menjeda ucapannya "Kau jelas tahu Alex akan memberikan jamuan seperti apa padamu." Taemin belum beranjak dari sana, meskipun Chanyeol sudah jelas mengatakan jika ia akan datang bersama Baekhyun.

"Dan Alex harus menerima, jika aku tidak akan menerima jamuannya."

Seharusnya Chanyeol yang memberikan jamuan pada Alex karena ia tuan rumahnya di Korea. Tapi, karena Alex yang membutuhkan Chanyeol- jelas lelaki Amerika itu akan melakukan apapun untuk Chanyeol. Semua tidak lain untuk membuat Chanyeol mau bekerja sama dengan perusahaan Alex.

"Tapi..."

"Cukup Taemin, jangan mencoba memancing kemarahanku." Chanyeol menatap nyalak ke arah Taemin.

Ia sudah tidak sabar untuk berbicara berdua dengan Baekhyun, dan Taemin masih saja enggan untuk beranjak pergi.

"Ok fine." Taemin akhirnya melangkah pergi. Meninggalkan Baekhyun sendirian bersama Chanyeol disana.

Chanyeol beralih menatap Baekhyun yang masih menatap kepergian Taemin. Lelaki mungil itu tampak begitu imut dengan kemeja putih dipadukan dengan sweater berwarna coklat, dan juga celana bahan berwarna hitam. Jika saja Baekhyun sudah menandatangi kontrak kerja mereka, ia mungkin sudah menerkam Baekhyun saat ini.

Mati-matian Chanyeol menahannya. Ia tidak boleh membiarkan Baekhyun lolos dari genggamannya.

"Baekhyun." panggil Chanyeol, membuat Baekhyun sedikit berjegit kaget.

Ia menoleh dan baru sadar jika Chanyeol sudah berpindah duduk disampingnya. Terlalu dekat, Baekhyun sampai mundur sedikit ketika merasa Chanyeol terlalu dekat dengannya.

"Tu-..." bibirnya terhenti saat ingin memanggil Chanyeol dengan panggilan tuan.

Lebih tepatnya, jari telunjuk Chanyeol menghentikan gerakan bibirnya.

Baekhyun menelan salivanya dengan susah payah. Ia takut jika Chanyeol tahu ia adalah seorang gay, pecinta sesama lelaki. Dan perbuatan yang Chanyeol lakukan saat ini, bisa saja membuatnya terlena. Terlena akan sentuhan lelaki itu.

"Chanyeol. Panggil aku Chanyeol." Chanyeol tidak memindahkan jarinya di bibir Baekhyun.

Untuk beberapa menit mereka berdua terpaku pada kedua iris mata masing-masing. Sampai akhirnya Chanyeol menarik tangannya, dan tersenyum tampan pada Baekhyun.

Baekhyun berdehem dan meringsut mundur, agar tidak terlihat sedikit sopan pada Chanyeol.

"Jadi, kau seorang presdir diperusahaan besar itu?" tanya Baekhyun berbasa-basi.

Pertemuan mereka kala itu disebuah cafe, Chanyeol tidak menceritakan siapa ia sebenarnya. Jadi, jelas Baekhyun cukup terkejut kala tahu kalau lelaki yang duduk satu meja dengannya saat itu- adalah orang kaya raya.

"Yeah. Aku pemilik perusahaan itu." jawab Chanyeol seraya masih berada dekat dengan tubuh Baekhyun.

Baekhyun mati-matian menahan hasratnya yang ingin meraba perut kotak-kotak milik Chanyeol. Ia juga seorang lelaki, tapi kenapa perutnya tidak memiiki kotak se-hot dan semenggairah-kan milik Chanyeol.

"Apa kau...mau menolongku? Aku butuh pekerjaan, bisakah kau memperkejakanku diperusahaanmu?" Baekhyun sedikit menundukan wajahnya, dan mengintip dari balik bulu matanya untuk menunggu jawaban dari Chanyeol.

"Kau tidak akan bekerja di perusahaan Baekhyun." ucap Chanyeol, membuat Baekhyun sontak mendongkak dan menatapnya tidak percaya.

Baekhyun bahkan sampai berkedip berulang kali. Ia tidak menyangka jika lelaki itu juga menolaknya bekerja diperusahaannya. Ia berpikir jika kali ini-pun ia tidak mendapatkan pekerjaan.

'Malang sekali nasibku.' – batin Baekhyun berujar.

"Maksudku, kau akan bekerja disini. Dimansionku." Chanyeol kembali bersuara kala melihat keterkejutan diwajah mungil Baekhyun.

"Huh?"

Baekhyun benar-benar tidak tahu apa yang dimaksudkan Chanyeol. Wajah imutnya yang kaget dan terkejut terlihat menggemaskan. Nyaris membuat Chanyeol hilang kendali.

"Aku sudah dengar dari Taemin jika kau melamar pekerjaan diperusahaanku. Daripada bekerja disana, aku lebih suka kau bekerja disini. Itu sebabnya, aku menyuruh dia membawamu kesini." Chanyeol mengambil map berisi berkas perjanjian kontrak kerja yang akan ditanda-tangani Baekhyun.

"Kau hanya akan bekerja disini, sesuai dengan perintahku. Gaji yang akan kuberikan lebih besar dari gaji pokok para pegawaiku diperusahaan. Kau juga bisa tinggal disini selama kau bekerja padaku." Chanyeol memberikannya pada Baekhyun "Kau bisa mem..."

"Aku mau. Dengan senang hati aku akan menerima pekerjaan itu." Mendengar gaji dan tawaran tinggal di mansion Chanyeol, membuat Baeknyun tidak berpikir panjang lagi untuk menerima pekerjaan yang ditawarkan Chanyeol.

Meskipun ia tidak tahu lebih detail pekerjaan yang diberikan Chanyeol padanya, namun saat ini ia hanya akan menerima pekerjaan itu.

Baekhyun mencari-cari pulpennya. Lalu menanda-tangani berkas yang diberikan Chanyeol tanpa membacanya lebih dulu. Dengan senyum mengambang diwajahnya, Baekhyun memberikan kembali berkas itu pada Chanyeol setelah selesai ia tanda-tangani.

"Jadi, apa yang harus aku kerjakan?" tanya Baekhyun dengan wajah polosnya.

Chanyeol menyeringai, sedikit membuat Baekhyun merasa aneh dengan seringai'an lelaki itu. Namun Baekhyun tidak mau ambil pusing. Ia sudah sangat senang mendapatkan pekerjaan dengan upah besar dan juga sekaligus mendapatkan tempat tinggal.

Ia akan membalas kebaikan Jongdae dan Xiumin karena telah menampungnya, ketika nanti ia mendapatkan gaji pertamanya. Ia juga sudah berniat akan mengirimkan uang untuk ibu panti di Jeju. Membeli banyak pakaian untuk anak-anak panti dan juga makanan yang layak untuk dikomsumsi anak-anak panti disana.

Baekhyun tidak sadar, jika sebenarnya kontrak kerja yang ia tanda-tangani berbeda dengan kontrak kerja yang biasa ditanda-tangani para pegawai baru diperusahaan Chanyeol. Ia terlalu senang untuk menolak tawaran pekerjaan itu, yang bahkan belum jelas apa yang harus dikerjakannya. Yang terpenting baginya, ia sudah mendapatkan pekerjaan dan akan mendapatkan uang banyak dari hasil kerjanya.

Namun, saat jawaban dari Chanyeol selanjutnya terucap, perkataan yang keluar dari bibir Chanyeol itu- cukup membuat jantung Baekhyun nyaris melompat dari tempatnya.

"Kau hanya harus melayaniku. Itu pekerjaanmu."

'Melayani?' – Baekhyun

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Huhu. Makasih buat respon kalian yang membuat aku seneng.

Sumpah kalian yang komen buat aku semangat lanjutin ini cerita. Thanks bgt pokoknya.