MONSTER
M
bagian tiga
.
.
.
Pagi ini Sehun tidak menemukan satupun dari sahabatnya di dalam dorm. Ia bangun dengan wajah kacau dan kantung mata menghitam karena kelelahan mental.
Berjalan ling lung seperti orang bingung menuju ke dapur dan melihat sepiring tacos dengan segelas susu coklat besar dan beberapa pil berwarna merah terang tersaji di meja makan. Sehun duduk disitu dan mengambil kertas yang ada di samping kiri hidangan tersebut. Sebuah catatan bertuliskan:
Sehun, kami pergi ke studio untuk menulis. Kau bisa menyusul nanti, tapi jika kau merasa tidak mampu kau tidak perlu melakukannya. Tinggal saja di rumah dan istirahat.
Sarapanmu ada di meja, jangan lupa minum susu dan vitaminnya agar stamina mu terjaga.
We love you,
Suho, PCY and Kai
Sehun tersenyum pedih setelah membacanya. Ia kadang, bukan, tapi selalu ia selalu merasa bahwa dirinya hanya akan merepotkan ketiga temannya. Bukan dalam waktu yang singkat tapi ini sudah memasuki tahun ketiga dimana teman-temannya selalu memberikan perhatian lebih untuk kesehatannya.
Setelah menghabiskan makanannya, meminum susu dan vitaminnya sesuai perintah Suho, Kai dan Chanyeol, Sehun membersihkan tubuhnya. Ia mandi dan kemudian mengambil diam-diam rokok persediaan Kai yang selalu ditaruh di atas kulkas.
Walaupun ia diam-diam merokok di belakang sahabat-sahabatnya, namun tidak menolak kemungkinan bahwa ketiganya sudah tau. Suho, Kai dan Chanyeol hanya membiarkannya asalkan kamera paparazi tidak memergokinya.
Ia merokok setelah Luhan pergi. Dengan harapan bayang-bayang Luhan akan menghilang bersama kepulan asap yang menguap di udara. Namun yang ada hal itu malah memancing fans dan management menjadi lebih protektif terhadapnya.
Setelah menghabiskan 3 batang sekali duduk, Sehun memenuhi jadwal pertemuannya dengan psikiater pribadinya karena ini adalah hari rabu minggu ke tiga, karena sekali selama tiga minggu Sehun harus mengkonsultasikan kesehatan pikir dan mentalnya.
Biasanya Sehun akan datang ke tempat praktek psikiaternya yang hanya menggunakan mobil akan memakan waktu 10 menit. Tapi kini ia harus rela menghabiskan waktunya di jalanan untuk memakan waktu pergi ke tempat rehabilitasi, dimana psikiaternya bekerja disana.
Jaraknya jauh dan harus memakan waktu satu setengah jam untuk mencapainya. Ini adalah waktu pertama kali dalam dua tahun terakhir masa terpuruknya.
"Pagi Sehun," sapa dokter Irene yang sudah setahun terakhir ini menjadi psikiater yang menanganinya.
"Pagi Irene."
Dokter yang berumur sepantaran dengan Sehun ini memiliki mata biru dan rambut gelap sebahu. Membuat Sehun merasakan sensasi tersendiri ketika menceritakan semua yang ada di hati dan pikirannya.
Hanya ada Luhan, Luhan dan Luhan.
Bahkan untuk berfikir tentang fans dan karir saja Sehun seolah tidak peduli. Jangankan fans, makan saja jika tidak diingatkan oleh teman-temannya dia tidak akan mengisi perutnya dan hanya terus mengurung diri di dalam kamar.
Sehun berbaring di sofa panjang berwarna merah khusus untuk orang-orang yang punya masalah seperti dirinya. Kali ini tidak di sofa yang biasanya karena ia berada di kantor Irene yang ada di rumah rehabilitasi.
"Masih memikirkan Luhan?" tanya Irene yang duduk di samping tempat berbaringnya Sehun. Tangannya siap mencatat apa saja yang akan diucapkan Sehun dari mulutnya.
"Setiap detik Irene.." jawab Sehun lirih, matanya menerawang menatap langit-langit ruangan.
"Kau bilang Luhan sudah punya kekasih sekarang, sebenarnya apa yang kau harapkan?"
Sehun menghela nafas berat, ia menggigit bibir bawahnya sebelum mengucap, "Luhan adalah nafasku Irene, aku tidak bisa berhenti menangisinya ketika mendengar dan melihat apapun yang selalu membuatku mengingat memory tentang kami. Aku merasa tak ada lagi yang tersisa tentangku dalam perasaannya. Dia sudah benar-benar melupakanku dan aku tidak bisa melakukan hal yang sama.."
"Apa kau sudah berusaha mencari Luhan dan mencoba berbicara dengannya?"
"Aku tidak tau dia ada dimana. Aku terus-menerus mencarinya namun media sosialnya semuanya menghilang. Bahkan nomernya sudah tidak aktif lagi sejak setahun yang lalu. Teman-temannya tak pernah hang out dengannya lagi. Dia menghilang bagaikan ditelan bumi.."
"Apakah kau merasa hampa tanpa dia?"
"Hidupku bukan lagi terasa hampa, namun lebih dari itu.. bahkan aku tidak bisa menjelaskannya Irene.. aku selalu bertanya apakah dia pernah memikirkanku sekali saja disana? Tapi jawaban yang ku temukan selalu dan selalu adalah tidak.. Luhan tidak akan pernah memikirkanku lagi.."
Irene menghela nafas lesu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Perkembangan Sehun sangatlah lamban, bahkan mungkin tidak ada kemajuan selama setahun ini.
"Sehun, sepertinya—"
"Maaf aku terlambat!"
Belum sempat Irene memberi tahukan hal yang ada di fikirannya. Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka keras bahkan hingga daun pintu membentur tembok di sisinya saking kerasnya orang tersebut membukanya.
Irene menoleh ke arah orang itu, diikuti Sehun yang tetap berbaring namun meliriknya dari ekor matanya, karena orang tersebut masuk dari pintu yang ada tepat di hadapannya.
"Lu—Luhan.." lirih Sehun terbata, iris cokelatnya membulat dan berkaca.
Sosok yang ada di hadapannya, orang yang membuka pintu dengan kasar tadi adalah Luhan, sosok yang selama ini membuatnya kacau dan harus berada disini. Di tempat rehabilitasi dan mengkonsumsi obat penenang agar tak mengalami insomnia yang berlebihan.
Pria yang sangat dicintainya dan apapun akan diberikannya hanya untuk kebahagiaan Luhan.
Dia masih sama seperti terakhir mereka bertemu tiga tahun yang lalu. Sehun masih bertahan dengan harapan bahwa Luhan akan memikirkannya. Menanti cinta mereka bersatu kembali.
Kini semuanya tidak sia-sia. Luhan muncul tepat di hadapannya secara nyata.
Luhan, pria berambut cat blonde yang memakai snapback dan juga sweater lengan panjang tersebut membelalak. Tak berbeda dengan reaksi yang Sehun berikan, ia bahkan menutup mulutnya yang terbuka di luar kesadarannya.
Terkejut dan lega karena bisa saling melihat satu sama lain kembali namun menyakitkan. Itulah yang dirasakan keduanya. Kenapa mereka harus bertemu lagi? Itulah batin Luhan. Sedangkan Sehun, ia bersyukur dan hampir menangis bahagia karena bisa melihat sosok malaikat dalam tubuh manusia.
Malaikatnya. Luhan. Namun bukan Luhan-nya.
Luhan melangkah mundur masih dengan tatapan waspada dan kaget karena bertemu dengan Sehun di tempat yang selama ini selalu ia datangi. Ia membalikkan badannya secepat dan sereflek yang dia bisa kemudian berlari sekencang mungkin.
"LUHAN!" Sehun tak tinggal diam. Ia melompat dari posisi berbaringnya. Energi yang selama ini tidak ada, lemas dan putus asa kini tergantikan sekejap. Hanya dengan sedetik tatapan mata, Sehun merasa bahagia yang tak terdefinisikan atas pertemuan ini.
Sehun berlari menyusuri lorong rumah sakit rehabilitasi, larinya kencang dengan kaki kaki panjangnya yang mendukung. Luhan yang jauh berada di depannya sebentar lagi bisa dia capai hanya dengan sekali raih.
"Luhan berhenti!" Sehun melompat, menubruk Luhan dan memeluknya erat. Kecepatan mereka membuat tubrukan itu menjatuhkan Sehun dan Luhan hingga keduanya terguling jatuh ke sungai kecil buatan di dekat tempat mereka jatuh. Keduanya basah tercebur ke dalamnya.
"Luhan, aku merindukanmu.." Sehun menangis, bibirnya bergetar seraya menatap Luhan yang saat ini menindih tubuhnya.
Kecil ramping dan semakin kurus sejak terakhir kali mereka bertemu. Pria asal Beijing itu tidak lagi sesehat dulu. Ketika mata mereka bertemu, Sehun menyelami mata sayu Luhan sedalam mungkin.
Sama seperti miliknya, cahaya matanya redup kehilangan sumbernya. Bahkan, Sehun menemukan lebam yang membiru di pelipis kanan Luhan. Bekas luka mengering di sudut bibirnya.
Dan dengan ini, Sehun tahu bahwa Luhan tidak baik-baik saja.
.
.
.
.
a/n
gimana? ehe
