MONSTER

M

bagian empat

.

.

.

.

Pandangan mata Sehun tak lepas dari Luhan meskipun terhalang tembok putih. Pria yang dia peluk tadi kini sedang berada di ruang ganti dengan pintu yang dijaga ketat oleh Irene. Sedangkan dirinya kini sudah memakai celana piama bermotif Miley Cyrus dan sweater long sleeve hitam.

"Aku tidak akan masuk kesana Irene, tidak perlu berjaga seperti satpam begitu," cibir Sehun yang risih dengan tatapan Irene sedari tadi padanya.

"Oh ya? Kau bahkan sudah tiga tahun tidak bertemu dengannya Sehun.." goda Irene, menyilangkan kedua tangannya dengan alis matanya yang naik sebelah.

Sehun mendecak, namun juga tersenyum. Dalam hatinya ia mengutuk, jika tidak ada Irene, pria itu akan langsung masuk ke dalam ruang ganti dan memeluk Luhan selama yang ia bisa.

"Aku benar kan?" desak Irene lagi.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Luhan dengan sweater berwarna biru dengan celanai training milik Irene yang sangat muat padanya, memperindah kuku kuku cantik Luhan yang terbalut kutek biru juga. Namun Luhan tak mengenakan sepatu sama seperti Sehun karena sepatu keduanya basah saat terguling ke dalam sungai tadi.

"Apa aku terlihat mengerikan?" Luhan memutar tubuhnya hingga membuat sweater biru kebesarannya menggembung. Mengembang seperti senyum Sehun saat ini yang selalu menganggap Luhan sempurna terutama tanpa busana.

"Kau terlihat sempurna," komentar Irene seraya merangkul Luhan yang tersenyum menampakkan gigi depannya balas memeluk pinggang Irene.

"Tapi akan lebih sempurna jika kau tanpa busana, Luhan."

Dan komentar Sehun yang satu ini mengundang tatapan tajam dari keduanya namun tak serius, karena kekehan Luhan dan Irene yang menyelimutinya.

"Aku serius," belanya pada diri sendiri.

Luhan menatap Sehun kemudian, ia tersenyum namun terpaksa. Seolah pikirannya yang memerintahkan senyum itu muncul tapi melawan keinginan hatinya yang tak mau melakukannya.

"Tidak seperti aku, jika aku lari telanjang pun takkan ada orang yang peduli.. karena ditambah lagi mengingat orang yang ku cintai tidak muncul selama waktu yang tidak sebentar untuk menghapus rasa rinduku.."

Luhan mematung atas racauan Sehun yang secara tiba-tiba. Pria tinggi itu menatap lekat matanya nanar tanpa Luhan bisa menolong dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu.

Irene hanya bisa tersenyum melihat cahaya di mata Sehun pelan-pelan kembali nampak walau tak seterang itu. Ia memilih melepaskan rangkulannya pada Luhan dan berjalan mendekati pintu keluar, meninggalkan dua insan yang saling merindu menyelesaikan perasaan tertimbun mereka selama 3 tahun tak bertatap muka.

"Kalian perlu waktu sendiri, aku ada di kantor jika kalian butuh aku," pamit Irene. "Sehun, jaga Luhan." tambahnya sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu yang tertutup.

Sehun tidak mengikuti arah pergi Irene, bahkan tak menatap wajah sang dokter yang menanganinya ketika ia pergi meninggalkannya sendiri bersama Luhan dalam satu ruangan yang tidaklah luas.

Begitupun Luhan, ia hanya sekilas melirik kepergian Irene yang berjalan menjauh dari jendela kaca. Matanya menatap kembali Sehun dengan air yang mulai menggenang disana.

"Seh—"

"I miss you Luhan.."

Luhan hanya tersenyum menanggapi perkataan Sehun namun tidak membalasnya. Ia kemudian mengkode Sehun untuk duduk di atas ranjang dengan menolehkan kepalanya.

Sehun tersenyum lemah, kakinya berjalan menyusul Luhan untuk duduk di atas ranjang tersebut. Hanya berjarak beberapa centi, Sehun bisa mencium aroma tubuh malaikatnya yang tak berubah sama sekali.

Sehun suka keringat Luhan. Menambah sensasi tersendiri saat memeluknya. Tapi jika hal itu ia lakukan sekarang, sangatlah jelas kemungkinan yang akan terjadi adalah sebuah penolakan.

Sehun menunduk dalam-dalam, pikiran dan hatinya berpisah jauh dan menghasilkan kebisuan. Ia merenangi lautan perkataan di dalam otaknya namun tak menemukan satu katapun yang bisa ia keluarkan untuk Luhan.

Yang selalu muncul adalah kata, I , miss, dan you. Tidak ada kata lain lagi. Ia bahkan menjadi lebih dari seorang idiot sekarang.

Luhan pun sama. Dia tidak tau harus berkata apa. Pelariannya selama ini sia-sia jika pada akhirnya harus melihat penderitaan dari nanar tatapan Sehun lagi. Sesuatu yang benar-benar tidak ingin dilihatnya dari mantan kekasihnya menjalin cinta selama ia hidup.

Karena 9 tahun bukanlah sesuatu yang main-main untuk saling menjaga dan mencintai satu sama lain.

"Se—" "Lu—"

Dan sekarang mereka berdua sama-sama tergagap. Bahkan ketika memanggil nama satu sama lain pun Luhan dan Sehun berebut kesempatan.

Sehun menelan ludah kesulitan. Ia bahagia kini bisa melihat Luhan. Sang pujaan hati yang pergi untuk lelaki lain dan meninggalkannya tenggelam dalam lautan kenangan.

"Sehun, kenapa kau bisa ada disini?" Alhasil Luhan memulai, namun masih tetap menunduk. Ia bertanya hal itu pada Sehun. Sedangkan pria yang ditanya masih tetap fokus menatap Luhan dari atas sampai bawah.

Dalam diam, Sehun bersyukur bahwa Luhan baik-baik saja, namun dalam hati ia menangis ketika mendapati lebam dan luka yang mengering di sudut bibirnya.

Apa kekasih baru Luhan memeluknya ketika Luhan tidak bisa tidur?

Apakah kekasih Luhan yang sekarang menyanyikan lagu favorite Luhan setiap moodnya memburuk?

Apakah pria itu tau jika Luhan menyukai film bergenre vampire dan werewolf dan selalu mengajaknya menonton setiap akhir pekan?

Apakah Yifan selalu mengajak Luhan ke parkiran Walmart ketika Luhan menangis di tengah malam?

Akankah Yifan selalu mencintai Luhan dan mengatakannya pada malaikatnya itu setiap pagi, sore dan malam dalam kehidupan mereka?

Apakah Wu Yifan mencintai Luhan seperti Oh Sehun mencintai pria kecil berwajah cantik ini?

"Sehun, kau tidak menjawab pertanyaanku.." Luhan menoleh, akhirnya ia menatap wajah tanpa harapan mantan kekasihnya. Tatapan mereka bertemu kembali dan terkunci.

"A—aku—"

"Kau apa? Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini? Ini bukan tempat yang bisa kau datangi seenaknya dan apalagi kau berbaring di—di atas sofa di ruangan Irene.."

Luhan tidak meneruskan perkataannya saat iris cokelat Sehun membulat menangkap sesuatu.

Luhan mengenal Irene.

"Lalu kau sendiri bagaimana? Apa yang kau lakukan disini? Kau mengenal Irene dan tadi ka—kau mengatakan bahwa kau terlambat."

Perkataan Sehun dalam dengan nada menusuk. Tepat sasaran, Luhan memalingkan pandangannya dari pria itu seraya menggumam, "bukan urusanmu."

Sehun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menangkap sikap Luhan yang jauh dari dugaannya. Ia senang bersama Luhan, ia bahagia menatap wajahnya. Namun kenapa harus seperti ini? Kenapa Luhan sekarang jadi setertutup ini?

Kemana perginya Luhan yang ceria, murah senyum, ramah dan menggemaskan?

Sehun tidak mau Luhan yang ini. Dia ingin Luhan yang dulu. Luhan yang mencintainya.

Kedua tangannya mengepal keras, dengan matanya yang kini memanas bagai menatap bara api. Kilatan kemarahan, kekecewaan dan dinginnya perasaan Sehun menguar dari matanya.

"Kau tau, apa yang aku lakukan disini? Kau adalah alasan aku disini. Cintaku padamu sudah sangat menelan waktuku. Siang malam sore aku hanya memikirkanmu apakah kau puas?!"

Dan bersamaan dengan itu, Sehun melepaskan air matanya. Namun cepat-cepat ia usap dengan punggung tangannya, agar ketika Luhan menoleh menatapnya ia tetap terlihat kuat dan tegar.

Luhan menoleh, ia membelalakkan matanya, namun sungguh bukan hal ini yang Sehun harapkan.

Luhan sudah berlinangan air mata sekarang, ia menangis sesenggukan. Dan sepersekian detik, kedua tangan kekar Sehun mendekapnya erat. Meskipun Luhan tidak membalas dekapan itu.

Setidaknya ia punya tempat untuk menumpahkan seluruh rasa sakit yang selama ini ia tahan.

"Aku juga tidak ingin berada disini Sehun, tapi aku harus, aku tidak mau mengecewakan Yifan, teman-temanku dan semua orang yang sudah mendukungku selama ini.."

Yifan.

Mendengar nama lelaki lain saja Sehun rasanya ingin menghantamkan kepalanya ke tembok sekeras mungkin.

Luhan tidak mau mengecewakan Yifan. Tapi pria kecil itu meninggalkan Sehun menderita sendirian.

"Aku mengerti.." Sehun mengecup puncak kepala Luhan namun tetap saja dan masih, tangisannya keluar ketika tahu hati Luhan benar-benar tak lagi untuknya.

Pelukan itu tak bertahan lama karena seorang pegawai rumah rehabilitasi masuk, membuat keduanya menjauh satu sama lain dan mengusap sisa-sisa air mata mereka masing-masing.

"Luhan? Jong Dae ada di depan untuk menjemputmu." Setelah mengatakan itu, orang tersebut kemudian pergi. Membuat Luhan berdiri sigap dan meraih tasnya, meninggalkan baju basahnya di ruangan tersebut.

"Terima kasih Sehun," ucapnya menoleh sebentar dan tersenyum pada Sehun, kemudian meninggalkan pria itu di dalam ruangan.

Setelah kepergian Luhan, Sehun kembali meledakkan air matanya. Tak bisa lagi ia menahannya, teriakan kesakitan keluar dari tenggorokannya bersama air mata yang tak mau berhenti.

"AAAAAARRRGHH!"

Luhan mendengarnya.

Dia mendengar teriakan Sehun yang ia yakin bahwa mantan kekasihnya juga menangis sama sepertinya yang pengelihatannya mengabur karena tertutup air mata.

.

.

.

kadang gue heran kenapa gue tega bikin mereka sedih di cerita ini T.T