MONSTER
M
OTP: HUNHAN
Additional casts: Irene (Red Velvet) and Donghae (Super Junior)
Warning: M-Preg, OOC
bagian lima
.
.
.
.
.
"Irene!" Sehun membuka pintu ruangan Irene di rumah rehabilitasi ini. Namun kosong, perempuan itu tidak ada disana.
Saat seorang pekerja melewatinya, Sehun segera bertanya pada perempuan tak dikenalnya itu dengan perasaan tergesa dan cemas. Ia harus memastikan sendiri kepada Irene.
Semua tentang Luhan.
"Kau tau dimana Irene?"
"Oh, dokter Irene baru saja pulang. Barusan kekasihnya menjemput kesini."
"Terima kasih," dan dengan itu, Sehun melenggang meninggalkan tempat rehabilitasi, membawa baju basahnya dan juga milik Luhan.
Sehun menyetir ugal-ugalan. Yang ia inginkan adalah cepat sampai di tempat tujuannya. Ketika sampai di rumah Irene setelah melalui perjalanan yang panjang dan lama. Ia mengetuk, tidak bahkan menggedor pintu apartemen Irene dengan tidak sabaran.
"Irene! Buka pintunya!"
"Irene!"
"BERISIK! INI RUMAH ORANG! SABAR DONG!"
Dan dari dalam, sahutan suara bariton seorang pria menjawab gedorannya, bukannya membukakan. Sehun sudah tidak sabaran, tetapi mendengar sahutan dari dalam, keberanian dan amarahnya menciut. Takut-takut jika Donghae, kekasih Irene akan menghajarnya atas ketidaksopanan cara bertamu Sehun.
Dan benar saja, yang membukakan pintu untuk Sehun kini adalah Donghae, kekasih Irene yang juga seniornya di managemen. Pria berambut hitam dan bergaris wajah mirip Sehun dengan gaya rambut yang mempesona dengan jidat menawannya. Pria yang tidak lebih tinggi dari Sehun tersebut membawa cangkir coffee latte dengan hanya memakai bokser putih, dan bertelanjang dada.
"Yaampun, pagi-pagi kau sudah berisik sekali sih anak ayam! Mau apa kesini? Numpang wi-fi?" omel Donghae sambil menggerutu tak jelas dan menyesap lattenya.
"Dimana Irene?"
"Baru saja dia keluar membeli makanan untuk Peny."
"Peny?"
"Anak kami."
"Kalian sudah punya anak?"
"Anjing kami Sehun, cepat masuk jangan ngobrol di luar."
Dan dengan itu Sehun masuk ke apartemen Donghae dan Irene.
Keduanya duduk di ruang tamu dengan Donghae yang sudah memakai kaos abu-abu dan tak bertelanjang dada lagi. "Aku tau kau homo sama Luhan, makanya aku pakai baju saja. Aku tidak mau ambil resiko pantatku sakit."
"Sialan. Siapa juga yang berselera padamu Fishy." Sehun memutar bola matanya malas.
"Hey, harus ku katakan berapa kali Sehun? Yang boleh memanggilku begitu cuma Irene."
Dan seperti itulah gaya bicara Donghae. Agak kasar dan selalu tinggi dengan intonasi. Tapi di balik itu semua, Donghae adalah orang yang menyenangkan kocak dan bisa diandalkan. Sangat cocok melengkapi sifat Irene yang lembut dan akan mengimbanginya.
Sehun sendiri suka berbicara dengan Donghae. Orang kedua selain Irene yang notabene adalah psikiaternya. Baginya Donghae seperti psikiater keduanya yang lebih mengajaknya bersenang-senang dan melakukan hal-hal di lapangan daripada harus mengobrol di dalam kamar menghabiskan waktu berjam-jam.
"Donghae hyung, aku datang kesini untuk meminta penjelasan tentang Luhan dari Irene."
Donghae tau kalau Sehun, sang superstar yang bermasalah dengan kesehatan otak dan mentalnya itu tidak bisa melupakan Luhan, lelaki yang memang selama ini mewarnai harinya. Dan meninggalkan Sehun menjadi seorang yang hampir gila karena selalu menangisinya.
Dan Donghae sendiri tau semuanya.
Dia bahkan mengenal Luhan jauh dibandingkan orang-orang di luar sana mengenal pria kecil itu.
Seekor anjing berbulu putih dengan tompel coklat tiba-tiba saja melompat ke pangkuan Sehun dan menggoyang-goyangkan ekornya, lidahnya keluar meminta perlakuan manja pada pria termuda di band EXO yang kini mengunjunginya tersebut.
"Peny?" tanya Sehun sambil mengelus anjing tersebut.
"Yup," angguk Donghae.
Sehun hanya mengangguk kecil dan meneruskan elusan-elusan tangannya pada anjing tersebut. Melihat anjing, pikirannya kini jauh terlempar pada memory dimana dulu saat tahun pertamanya bersama dengan Luhan, Sehun memiliki anjing mereka sendiri untuk pertama kalinya.
"Lu, kalau nanti kita punya anak, kau mau berapa?"
"Satu saja Sehun, astaga kita baru saja officially beberapa minggu yang lalu kau sudah memikirkan anak?"
"Haha! Kenapa hanya satu? Kalau satu nanti dia kesepian."
"Melahirkannya itu loh, aku takut, sakit tau,"
"Benarkah? Kalau bisa sih aku yang melahirkan juga tidak papa."
"Astaga, kau ini bicara apa Sehun? Kau ini seme tidak bisa melahirkan. Kau bahkan tidak bisa mengandung karena kau tidak mempunyai organ reproduksi perempuan seperti aku. Dasar ada-ada saja."
"Tapi aku serius, daripada harus melihatmu menderita melahirkan anak kita besok, lebih baik aku saja kan yang menggantikanmu? Aku tidak mau melihat kau kesakitan."
"Sehun, kau mabuk, lebih baik sekarang kita segera pulang, langit sudah mendung."
"Aku serius babe."
"Baby, kau ini berlebihan. Aku tidak akan keberatan melahirkan berapa anak pun asal itu adalah anakmu."
"Sehun, wajahmu memerah,"
"Kau fikir kau tidak? Lihat pipimu."
"Aw, Sehun jangan dicubit!"
"Sial, hujan!"
"Sehun, jangan lari terlalu cepat! Sol sepatuku lepas!"
"Sini biar ku gendong,"
"Whoaaa! Sehun malu dilihat banyak orang."
"Aku tidak peduli."
"Sehun ada anjing di samping mobilmu."
"Kita bawa pulang saja,"
"Kau serius?"
"Hitung-hitung latihan merawat anak."
Tanpa sadar air mata nya meluncur lagi. Masih tetap menatap anjing yang ada di pelukannya. Sehun terus mengelusnya seolah itu adalah Vivi, anjingnya dengan Luhan yang kini pergi entah kemana.
"Sehun, astaga, apa yang terjadi?" Donghae yang menyaksikan Sehun menangis tanpa sebab secara tiba-tiba langsung bangkit dan mendekati pria itu. Ia mengambil Peny dari pelukannya dan mengusir anjing itu untuk meninggalkan mereka.
"Tidak papa hyung," Sehun menghapus air matanya kasar kemudian memalingkan pandangannya ke jendela agar mata merahnya tak tertangkap oleh Donghae.
Melihat Sehun seperti ini, sebagai rekan dalam industri musik dan sekaligus pasien paling menguras perhatian dari kekasihnya, Donghae menghela nafas berat. Ia sebagai pria tau bagaimana rasanya ketika mencintai seseorang, bahkan hampir menuju jenjang pelaminan. Orang yang kita cintai malah pergi begitu saja.
"Sehun, mau minum?"
Donghae menuangkan Jack Daniel's ke dalam gelas Sehun. Keduanya kini berada di dapur apartemen Donghae dan Irene. Perempuan itu tak kunjung kembali dari perginya. Saat Donghae hanya menuangkan sedikit takaran, Sehun mendecih, merebut botol dari tangannya dan menuangkannya sesuka hatinya sendiri hingga penuh.
"Jangan banyak-banyak, Sehun."
Ia minum seperti orang kehausan. Rasanya hanya ingin tambah lagi dan terus. Hingga gelas demi gelas bisa menghapus ingatannya tentang Luhan.
"Sehun, stop."
"Tidak mau!"
Dan benar saja, kepala Sehun sudah berputar sekarang. Efek minuman mulai menguasai akal sehatnya. Ia bahkan sudah jatuh ke pelukan Donghae, dengan kepala yang bersandar pada bahu pria berambut hitam itu.
"Kau mabuk Sehun."
"Luhan.."
Dan benar dugaan Donghae, mau sadar ataupun tidak. Sehun hanya selalu memikirkan Luhan. Menangis, memelas dan meminta pria imut itu kembali dalam dekapannya.
"Kembalilah Luhan.. aku merindukanmu sayang.."
Donghae memapah tubuh jangkung Sehun yang sudah bercucuran air mata ke sofa. Meletakkannya yang langsung terbaring terlentang dan masih tetap meracau memanggil nama Luhan.
"Luhan.."
"Iya sayang, apa? Aku disini," sahut Donghae yang juga mulai merasakan pengaruh alkohol di kepalanya.
"Kenapa kau meninggalkanku?"
"Aku tidak meninggalkanmu aku hanya mau pipis sebentar, bentar ya aku mau pipis, kamu mau pegangin?"
"Apa maksudmu Luhan.. aku tidak mengerti.."
Dan dengan itu Donghae melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Sehun yang terus memanggil-manggil nama Luhan.
"Baby, aku pulang!"
Suara Irene masuk ke pendengaran Donghae saat ia masih membuang ampasnya. Cepat-cepat ia menyelesaikan urusannya dan berlari kecil memeluk Irene dari belakang. Gadisnya sudah berdiri di ruang tengah, menatap Sehun dengan tatapan tak percaya.
"Donghae, apa yang kau lakukan?" Irene melepas pelukan kekasihnya tersebut dan berbalik menatap kekasihnya marah.
"Cuma membantu Sehun.." Donghae dengan wajah memerah karena alkoholnya tersenyum seperti orang bodoh.
"Demi tuhan Donghae, Sehun tidak boleh mengkonsumsi minuman keras jam segini. Ini adalah waktunya untuk minum obat dan kau malah menyulitkanku karena ini?"
Donghae mengerutkan keningnya. Pengaruh alkohol kini menguasainya. "Kau lebih memikirkan klien mu daripada aku?"
"Apa? Donghae, kau juga minum?" pekik Irene kaget, pandangannya terarah pada secangkir latte di atas meja ruang tamu. "Kau minum alkohol dicampur dengan kopi? Astaga apa yang kau pikirkan sebenarnya?!"
Irene, sang psikiater tau betul kombinasi-kombinasi apa saja yang membahayakan saat dikonsumsi. Apalagi untuk orang seperti Sehun yang sedang dalam masa penyembuhan.
Donghae sebenarnya sudah tau bahwa Sehun harus jauh dari alkohol. Untuk satu dua kali saja boleh. Tapi ia benar-benar tidak tau jam-jam mana yang harus dihindari. Misalkan seperti pagi ini, ia telah salah membuat pilihan.
Niat Donghae hanya ingin membantu tapi ternyata malah memancing pertengkaran diantara dirinya dan kekasihnya. Pengaruh alkohol pun menuntunnya untuk membalas perlakuan Irene yang lebih memperhatikan Sehun daripada dirinya.
Rasa cemburu kini menguasainya.
"Aku tidak tau jam kapan saja yang kau maksud! Jadi sekarang kau menyalahkanku sepenuhnya?!"
"Donghae, oh my god, aku tidak menyalahkanmu! Tapi ini semua demi kebaikan Sehun! Kau mau dia sembuh atau tidak!?"
Tepat bersamaan dengan Irene mengatakan hal itu, Donghae menepis tangan sang kekasih yang mencoba meraih pipinya. Irene tercekat karena tindakan tak terduga Donghae.
Belum sempat ia menjelaskan, lelaki itu sudah menyambar kunci mobil dan keluar membanting pintu apartemen mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
a/n
mulai dari sini nanti bakal bermunculan karakter-karakter baru guys btw gue suka baca review walaupun gaje atau sekedar lo cuma ngomen 'ih sedih' 'ih kok gini' 'ih kepo' gue lebih suka yang kaya gitu daripada cuman sekedar komen 'wkwkwk' apaan bacanya ae males wqwq jadi gosah takut kalo mo kenalan sama gua, kalo ada pertanyaan atau kalian mo ngasih predict gua bolehin banget tenang, gua ga gigit cuma agak mesum :v
xoxo, Josie
