MONSTER
M
HUNHAN
bagian tujuh
.
.
.
.
.
.
.
Sehun masih tetap berada di apartemen Irene, dia tidur disana, di kamar Donghae dan Irene dengan sang psikiater yang memijat kakinya, tangannya dan mengompres badannya yang panas karena seharian hanya makan satu kali.
Perempuan itu terus menghubungi Donghae, tapi sang kekasih selalu me-reject panggilannya. Membiarkan Irene terus menghujani pesan-pesan singkat agar pria itu mau mendengar penjelasannya.
Hingga di detik-detik terakhir, Donghae membalas ratusan pesan Irene hanya dengan hanya dua kata.
Kita putus.
Irene hampir kehilangan nafas karena membacanya, hatinya menangis dan menyerah begitu saja setelah menerima keputusan Donghae. Ia tidak bisa menuntut apapun lagi dari pria itu, jika memang takdir yang ditentukan Tuhan, Donghae adalah jodohnya, maka mereka akan bersama. Tapi jika tidak, ia tidak akan meminta.
Irene adalah penganut katolik taat, dia tidak sebrutal Sehun ataupun perempuan lain ketika patah hati. Ia masih bisa berfikir rasional ditambah lagi semua ilmu psikologi yang dikuasainya. Irene akan baik-baik saja meski Donghae tak ada di sampingnya. Setidaknya itulah yang ia yakini.
Namun untuk malam ini saja, ia ingin menangis melepaskan perasaan sakitnya. Merelakan hubungan yang sudah ia bina selama 7 tahun lamanya. Hanya malam ini, dan keesokan harinya ia akan melepaskan Donghae untuk selamanya.
Irene meninggalkan Sehun sendiri, perempuan itupun tidur di sofa di ruang tengah, dengan air matanya yang mengering di kedua pipinya.
Keesokan paginya, Sehun terbangun dengan kepala pusing luar biasa, dia tidak mengingat apapun selain wajah Donghae dan tawa menggelegar pria itu sebelum alkohol menguasainya. Sehun pun bangkit dan berjalan keluar kamar tanpa membersihkan wajahnya.
Saat melewati ruang tamu, Irene tidak ada disitu. Perempuan itu sedang mandi, dan Sehun bisa mendengar suara showernya yang tak jauh dari dapur. Ia tidak bisa menunggu Irene hanya untuk pamit pulang karena perasaan cemas dan gelisahnya yang tak terdefinisikan.
Alhasil Sehun pergi tanpa pamit. Ia melajukan mobilnya kencang menuju kembali ke mansion. Tetap masih dengan perasaan sakit karena memikirkan Luhan yang selalu datang dalam mimpinya.
"Hoek!"
Itulah yang pertama kali Sehun lakukan sesampainya di dorm. Ia memuntahkan semua isi perutnya di wastafel yang ada di dapur. Mendengar suara muntah-muntah yang luar biasa mengganggu, Kai yang paling sensitif langsung bangun dari tidurnya dan turun menuju sumber suara.
"Kau darimana saja bodoh?" tanya nya menusuk ketika melihat Sehun lah yang ternyata membuat suara tak nyaman didengar itu.
"—hoekk!"
Kai memutar bola matanya malas. Ia tau kalau ketahanan Sehun pada alkohol itu setangguh badak bercula, tapi mengingat kalau dialah yang menghancurkan hubungan Donghae dan Irene, Kai membuang perasaan ibanya jauh-jauh untuk menolongnya.
"Sehun jawab, kau ini darimana?"
"Aku—hoeekk!"
Suara derapan kaki menuruni tangga terdengar di telinga Sehun dan Kai, sosok yang berlari itu langsung muncul sambil merangkul Kai secara mengagetkan hingga sang pria yang lebih pendek hampir kehilangan keseimbangan.
"Hoekk!"
"Sehun, kau hamil?"
"Diamlah—hoekk! Chanyeol..
"Darimana saja kau?" kali ini Suho yang ikut terpancing melangkah ke tempat dimana Kai dan Chanyeol berdiri di ambang pintu.
Sehun masih sibuk membersihkan wajahnya dan menyelesaikan pembuangan akhirnya di wastafel. Saat dirasa ia sudah enakan, Suho membuatkannya segelas susu hangat dan Kai yang menyiapkan sandwich untuknya. Dengan Chanyeol yang hanya duduk diam menatap Sehun dari arah berlawanan ketika keduanya kini duduk di meja makan.
"Kenapa kau disitu? Enyahlah.." protes Sehun yang merasa risih karena Chanyeol terus menatapnya dengan tatapan aneh sambil berpangku tangan.
"Aku bosan, Baekhyun belum bangun dia masih tidur di kamarku dan sekarang tolong hibur aku tuan Oh Sehun.." usul Chanyeol yang memang masih mengantuk tersebut. Ia sebenarnya masih ingin memeluk Baekhyun tapi mendengar suara muntah-muntah segera ia turun untuk melihat ada apa sebenarnya.
Jujur saja ia cemas pada Sehun dan ada sedikit rasa lega karena akhirnya pria itu pulang dengan selamat di dorm. Sengaja ia mencari topik dengan meminta dibuatkan lelucon oleh Sehun agar Sehun tetap mempunyai teman bicara. Karena jika tidak, ia akan melamun sendirian dan tentu saja akan teringat pada Luhan.
Ketika Chanyeol menyinggung Baekhyun sedikit pun Sehun tak bereaksi. Pria itu tak peduli. Jika itu bukan tentang Luhan, Sehun tak mau tau.
Sehun terlihat berfikir, ia menerawang ke atas mencoba mencari lelucon apa untuk Chanyeol. Tapi sungguh sial, ketika otaknya mencari topik lelucon. Yang dijumpainya adalah lagi-lagi memori tentang Luhan.
"Luhan,"
"Yup?"
"Mau dengar lelucon?"
"Kau ini tidak bisa melucu, tidak mau"
"Aku jamin kau akan tertawa kali ini Lu,"
"Tidak akan pernah,"
"Kau tau aku bosan dalam perjalanan panjang menuju venue tour di Amerika ini, kalau kau tidak mau mendengar leluconku, aku akan menggelitikimu hingga kau menangis karena tertawa,"
"Ahahaha! Stop! Sehun hentikan! Aku geli!"
"Asalkan kau mau mendengar leluconku."
"Ah, ahahaha, haha okay, okay aku dengar sekarang."
"Knock, knock,"
"Who's there?"
"SLDR"
"SLDR who?"
"Sehun Lelah Disiksa Rindu."
"Sial, kau sungguh tidak tertawa Lu?"
"Huh? A—aku fikir bagian lucunya belum mulai?"
"Sial, kalau begitu jawab pertanyaan ini. LDR artinya adalah Long Distance Relationship kan? Kau tau LDR tidak bisa dipisahkan oleh jarak. Tidak bisa dipisahkan oleh zona waktu yang berbeda. Apa kau tau apa yang bisa memisahkan mereka?"
"Orang ketiga?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Spasi."
"Ayolah, maksudku Long Distance Relationship harus dipisahkan dengan spasi agar bisa terbaca dengan jelas, babe."
"Oh Sehun, aku sudah bilang leluconmu tidak ada yang mempan untukku sayang."
"Aku kan hanya ingin kau tersenyum Luhan."
"Hanya dengan berada di sampingmu saja aku bisa tersenyum sepanjang waktu sayang. Kau tidak perlu berusaha."
"Sehun, kau melamun lagi. Mana leluconmu?!" Chanyeol menggebrak meja karena sedari tadi panggilannya tak masuk ke telinga Sehun dengan fikirannya yang melalang buana kemana-mana.
Saat Sehun sadar dari lamunannya karena gebrakan Chanyeol, Sehun segera menghapus air matanya yang hampir menetes lagi. Chanyeol mengetahui itu, ia sempat melihatnya dan merasa sangat iba pada Sehun. Sebagai sahabat, Chanyeol ingin Sehun 3 tahun yang lalu kembali.
Sehun yang ceria, konyol dan murah senyum.
Bukan Sehun yang selalu menangis, berwajah murung dan sering melamun.
Suho dan Kai bahkan sudah selesai dari dapur dan segera bergabung di meja makan. Suho berada di samping Sehun dan menyodorkan susu padanya sedangkan Kai yang sudah selesai membuatkannya sandwich dan meletakkannya di depan Sehun, duduk di samping Chanyeol. Suho menatap Sehun yang memerah dan mata berkaca. Sudah sangat jelas kalau ia menangis lagi.
"Sehun, aku punya banyak pertanyaan untukmu. Tapi sebelum itu, aku ingin memberi tahukan sesuatu yang penting padamu."
Sehun menatap Suho dengan tatapan nanarnya. Sedangkan pria yang lebih tua darinya itu menatap Kai dan Chanyeol seolah meminta persetujuan.
"Donghae dan Irene putus tadi malam," ucap Suho menusuk, membuat Sehun kaget setengah mati. Ketika pria itu akan bertanya mengapa dan meminta penjelasan tentang apa yang terjadi diantara mereka hingga putus secara tiba-tiba, Suho sudah menyerangnya dengan pertanyaan lain yang benar-benar membuat Sehun ingin memukul wajahnya.
"Apa kau bercinta dengan Irene tadi malam?"
x
o
x
o
,Josie
