Monster

Hunhan

M

Sebelas

.

.

.

.

Dua jam tak terasa, Sehun tertidur dengan wajah basahnya di atas atap mobil sambil memeluk foto polaroid di dadanya, berharap walaupun hanya sekedar dalam mimpi ia bisa bertemu Luhan lagi.

Sedari tadi, orang-orang yang berlalu lalang tidak memperhatikannya dengan seksama. Hanya ada cibiran dan ejekan memaki bahwa Sehun hanya orang bodoh yang sedang mencari perhatian. Tidak ada yang tau bahwa lelaki tersebut adalah seorang idol yang sedang meratapi hidupnya. Ia terlalu banyak menerima kehilangan hingga lupa bagaimana rasa bahagia tanpa ada Luhan di hidupnya.

Hingga akhirnya, terlihat seorang perempuan memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Sehun. Perempuan itu memakai mantel yang terlihat menambah keanggunan cara berjalannya. Ia mendekati Sehun dan mengelus pipinya pelan, mencoba membangunkannya.

"Sehun,"

Sehun merasakan halus tangan seseorang mengelus pipinya. Ia berusaha keras membuka matanya yang berat karena membengkak akibat menangis di luar kendalinya. Pelan-pelan mata yang tadinya terpejam tersebut kini menyipit memperjelas pandangannya untuk mengungkap siapa sosok yang membangunkannya.

Pria itu pelan-pelan mendudukkan tubuhnya, tangannya masih menggenggam foto polaroid tadi. Dan dalam hitungan detik ia memeluk sosok itu seerat yang ia bisa.

"Lu, aku merindukanmu!" lirihnya dengan suara parau.

Seseorang yang dipeluk hanya diam, ia malah tersenyum miris, namun membalas pelukan Sehun, bahkan mengelus punggung pemuda itu dan mengecup pipinya pelan.

"Sehun, aku Irene, bukan Luhan.."

Sehun yang mendengar suara tersebut, suara yang bukan suara pria yang seumur hidup selalu dicintainya, kini melepaskan pelukan itu cepat. Matanya sedikit melotot memastikan siapa sebenarnya yang tadi ia peluk.

Betapa bodohnya ia bahkan sampai berhalusinasi menganggap orang lain adalah Luhan.

"I—Irene, maaf.." gagapnya yang langsung meraupi wajahnya dengan kedua tangan sampai ke rambutnya dan membuat rambut bagian depannya menjadi mundur ke belakang.

Irene, sosok yang selama ini selalu berusaha untuk membuat Sehun bahagia dan kembali menjadi pribadinya yang dulu tentu saja hanya bisa mengangguk dan tersenyum manis. Ia tau bahwa hubungannya dengan Donghae telah berakhir hanya karena kesalah pahaman sang kekasih dan kecemburuannya pada Sehun.

Namun sungguh dalam hati Irene terdalam, ia tidak menyalahkan Sehun sama sekali. Yang ia tahu, Sehun menderita, dia sakit namun tidak secara fisik. Mentalnya sakit dan itu bHkan lebih buruk dari sekedar kehilangan. Mental dan fikirnya yang harus diobati. Dan itu adalah kewajibannya sebagai sang psikiater.

Sehun menangkap senyuman Irene yang ditujukan padanya, pria itu kini merubah raut wajah sedihnya menjadi penuh penyesalan. Ia teringat apa yang menyebabkan ia berkelahi dengan Kai. Teringat apa yang membuatnya tidur disini dan bukannya tidur di rumah.

"Maafkan aku Irene, karena aku..."

Irene mengeluarkan bunyi 'ssssh' dari mulutnya agar Sehun diam. Jari telunjuknya bahkan ia letakkan di depan mulut Sehun agar pria itu berhenti bicara.

"Kau bisa tidur di apartemenku, ayo kita bicara."

.

.

.

Sehun menyetir dengan matanya yang sembab, mengekori mobil Irene yang melaju agak kencang di depannya. Berkali-kali ia menekan clackson mobil ketika sang psikiater terlihat kehilangan kontrol mengemudinya, seperti misalnya ketika akan menyebrangi perempatan dan tak sadar traffic light.

Pria itu meringis sedih, ia benar-benar tahu apa yang sedang dirasakan Irene saat ini, patah hati. Namun sama seperti kasus yang dialaminya, patah hati tak semudah itu disembuhkan. Apalagi Irene baru saja putus. Dirinya yang sudah beberapa tahun saja tetap terhinggapi bayang-bayang, bagaimana Irene yang masih dengan sangat jelas merasakan hangat cinta Donghae?

Mobil merah Irene terparkir di basement apartemennya bersama Donghae, diikuti ferari hitam Sehun yang terparkir di sampingnya. Perempuan itu keluar dari mobil dan menghampiri Sehun, ketika sang pasien membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalam, ia bisa melihat senyum Irene merekah menyambutnya.

"Ku fikir kau akan kabur, jadi aku sengaja ngebut tadi," kekeh Irene. Namun dengan sangat jelas Sehun menangkap kebohongan darinya, merasakan bahwa perempuan di hadapannya ini sedang mencoba tegar.

"Aku takkan lari." jawab Sehun seraya keluar dan tangannya menutup pintu mobilnya.

Keduanya kini melangkah beriringan menuju lift. Masih terpenjara dalam kebisuan, tak ada yang mengeluarkan suara antara Irene dan Sehun. Perhatian sang pria tersita pada rentetan angka-angka di depannya, sedangkan mata sendu Irene hanya menatap kosong.

Irene menyuruh Sehun untuk membersihkan diri terlebih dulu di kamar mandi sembari perempuan itu menyiapkan makanan untuk makan malam. Sehun yang biasanya akan selalu berargumen kini tanpa pergulatan argumen ia menuruti apa yang Irene perintahkan padanya. Membasuh wajahnya, menyikat gigi, dan bahkan mandi.

Waktu yang dihabiskan Sehun di kamar mandi berakhir seiringan dengan siapnya masakan Irene yang kini sedang ia tata rapi di atas meja bersama dengan perlengkapan makannya. "Butuh bantuan?" Sehun menawarkan bantuan, membantu Irene menata gelas wine di samping piring-piring yang tadi sudah ia letakkan.

"Thanks Sehun." Irene tersenyum menatap Sehun, ia merasa sedikit bangga akhirnya Sehun mangalami kemajuan, mau menawarkan diri untuk menolong orang lain. Pria yang sadar bahwa dirinya sedang ditatap oleh perempuan berambut coklat itu pun membalas Irene dengan senyuman pula.

Dalam hati Irene berfikir, Sehun mengingatkannya pada seseorang, yang tidak bisa ia katakan sekarang. Mata yang meneduhkan dan garis wajahnya yang keras menambah aura ketampanan pria itu. Irene terlarut dalam ketampanannya, di luar sana, pasti banyak orang yang tak habis fikir mengapa Luhan tega meninggalkan pria setampan Sehun, bahkan masih tetap mencintainya walau Luhan sudah meninggalkannya untuk pria lain.

Keduanya makan dalam diam, hanya ada suara pisau kecil dan garpu yang beradu dengan piring. Irene dan Sehun menatap makanan mereka masing-masing dan bergulat dalam pikiran mereka sendiri. Irene yang malam ini merindukan Donghae, dan Sehun yang tetap selalu akan merindukan Luhan, dengan desakan perasaan yang mendorongnya untuk menghibur Irene.

Tapi masalahnya, ia bingung harus mengatakan apa untuk menghibur psikiaternya itu.

"Irene.." Sehun memulai.

Irene yang perhatiannya berhasil ditarik oleh Sehun, menatapnya sambil mengunyah makananya pelan dan menelannya cepat-cepat. "Ada apa Sehun?"

Helaan nafas panjang terdengar dari pria itu. Garpu dan pisau kecil yang ada di kedua tangannya bergerak-gerak seolah merajut kata apa yang akan dia ucapkan. Matanya melirik Irene dan piringnya secara bergantian.

Melihat Sehun jatuh dalam kegugupan, Irene hanya menggeleng sambil tersenyum. Mereka bersama dan berinteraksi sudah bukan dalam waktu yang sebentar. Perempuan itu kenal betul siapa Sehun. "Jika kau gugup, kau bisa mengatakannya nanti," ucapnya sambil tersenyum dan kembali pada makanannya.

Ketika tangannya mencoba mencabik hidangannya kembali, Sehun mengambil gelasnya yang sudah terisi wine penuh secara kilat dan berucap, "selama ini, aku selalu menyusahkanmu, membuatmu memikirkan cara bagaimana agar aku bisa sembuh dari kegilaanku karena Luhan. apa sekarang aku tidak boleh menjadi psikiatermu untuk semalam saja?"

Irene mematung. Waktu seolah berhenti berputar dalam dimensinya, perempuan itu menatap Sehun yang sudah menyunggingkan senyuman kaku ke arahnya. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir, Irene bahkan tak tau kenapa ia menangis. Rasa penat dalam dadanya seolah meluap karena ucapan Sehun tadi.

Jujur saja dia memikirkan Donghae, dan Sehun bisa menebaknya dengan mudah.

Melihat perempuan di hadapannya menangis, Sehun segera bangkit dari kursinya dan memutar menuju ke Irene, lelaki itu berlutut menghadap Irene yang sudah memiringkan tubuhnya menghadap Sehun. "Irene.." lirihnya yang didominasi oleh perasaan bersalah.

Tidak tau harus bicara apa lagi, Irene memejamkan matanya. Alhasil air mata yang tadinya menumpuk, kini mengalir pelan tanpa henti.

Irene tidak mau kehilangan Donghae.

Sehun mengelus punggungnya, mengusap kedua pipi Irene dan membersihkannya dari air mata. Irene membuka matanya atas perlakuan Sehun, kedua mata itu bertemu seiring angin berhembus pelan membunyikan lonceng yang ada di depan pintu apartemen Irene.

Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Sehun mulai mencondongkan tubuhnya menuju Irene, dan dengan begitu jantannya, bibir pria asal bermarga Oh itu menyatu dengan milik Irene.

.

.

.

.

.

Part ini nyebelin ya? Hehe