Disclaimer: FAIRY TAIL belongs to HIRO MASHIMA

Setting: AU(Alternate Universe)

Warning: EYD belum sesuai, diksi kata kacau, Islamic content.

2. Birrul Walidain (Berbakti kepada Kedua Orang Tua)

.

.

.

"Mama, Storm punya adik baru."

Alis Lucy naik sebelah. Tentu saja ia mengetahui berita itu. Lagipula, ibunya Storm, Juvia, adalah sahabatnya waktu SMA dulu. Bahkan, beberapa jam setelah wanita bermanik biru itu melahirkan, Lucy dan sang suami langsung datang ke rumah sakit untuk menjenguknya.

"Lalu?"

Nashi yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah mendadak berhenti. Anak perempuan itu mengetukan pensilnya ke pelipis kanan berkali-kali. "Melahirkan itu sakit tidak, Ma?"

"Ada apa dengan putri tersayang mama hari ini?" Surai gulali itu dielusnya perlahan.

"Ah, tidak, Ma." Nashi menggeleng. "Hanya saja aku teringat dengan pelajaran Evergreen-sensei tadi pagi. Allah berfirman: Dan kami telah memerintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lelah yang terus bertambah dan menyapihnya selama dua tahun. (Oleh karena itu), hendaklah kalian bersyukur kepadaKu dan kedua orang tua kalian. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali."

Lucy tersenyum simpul. Ia memutuskan untuk membiarkan anak perempuannya ini berbicara.

"Dari ayat itu aku berpikir, Ma." Nashi menengok plafon rumah. "Jika seorang ibu saja sudah kesusahan mengandung seorang bayi … bagaimana nanti jika ia melahirkannya? Pasti rasanya sakit sekali …."

Kenangan bersama almarhumah sang ibu hadir di benak Lucy. Ia benar-benar merindukan sosok penyayang itu. Bagaimana ia dulu dimanja, bagaimana ia dulu disayangi sepenuh hati, jika diizinkan ia ingin kembali menjalani semua fase-fase menyenangkan itu.

"Evergreen-sensei bilang …," lirih Nashi, "seorang ibu siap mengorbankan apapun demi kebahagiaan anaknya, Ma … Bahkan nyawa, Ma …."

Entah sejak kapan air mata telah membasahi pipi Lucy. Ibu dua anak ini kembali mengingat masa-masa jahiliyah yang pernah menjadi bagian hidupnya. Ia yang menjadi bengal, pemberontak, dan … menyakiti hati kedua orang tuanya.

Ia pernah mendengar dalam sebuah kajian, bahwa sikap dan perbuatan kita kepada orang tua di masa lalu akan tercermin dalam diri anak kita. Lucy sungguh tak ingin Nashi menjadi anak durhaka. Ia tak ingin hal itu terjadi.

"Sejak mendengar kata-kata Evergreen-sensei aku terus berpikir, Ma …." Nashi menggenggam batang pensil itu kuat-kuat. "Selama ini Mama selalu ada untukku … Jika aku menginginkan sesuatu Mama selalu berusaha menyanggupinya … Aku tidak bisa membayangkan kalau Mama suatu saat akan pergi jauh dari Nashi … Aku takut memikirkannya, Ma …."

"Ma ... Hiks …." Tak berbeda jauh dengan Lucy, Nashi ternyata juga berderai air mata. "Apakah … hiks … Nashi pernah mengecewakan Mama …? Apakah Nashi pernah membuat Mama menangis …?"

Lucy memeluk Nashi. "Tidak, sayang … Nashi tidak pernah mengecewakan mama … Justru mama bangga sama Nashi … Mama meridai Nashi …."

Kedua ibu anak itu berpelukan, mencari kehangatan juga kenyamanan satu sama lain. Mencoba menyalurkan afeksi agar hubungan mereka lebih erat lagi.

"Nashi, mama ingin kamu tahu hal ini." Lucy mengelap mata sang anak yang sembap. "Papa dan mama akan selalu menyayangimu maupun Luke sepenuh hati. Kami, in syaa Allah, akan terus membimbing kalian supaya tetap berada di jalan yang lurus. Itulah tugas kami sebagai orang tua, Nashi."

"Kalau begitu," ujar Nashi, "aku akan menjadi anak salehah yang berbakti kepada kedua orang tua dan menjadi harapan agama juga bangsa ,Ma."

Tanpa mereka sadari, seorang pria yang bersandar pada pintu kamar Nashi mendengar semua percakapan mereka. Ia tersenyum tipis.

"Robbanā hablanā min azwājinaa wa dzuriyyatinā qurrota akyun, waj'alnā lil muttaqīna imāmā."

.

.

.

Owari.

.

Robbanā hablanā min azwājinaa wa dzuriyyatinā qurrota akyun, waj'alnā lil muttaqīna imāmā: Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin dari orang-orang yang bertakwa. (Surat Al Furqan, ayat 74)

.

Moga feel-nya dapat dan pesan ini bisa tersampaikan kepada pembaca.

Sampai jumpa di karya kami yang berikutnya!

.

~Sincerely,

Zahid Akbar