.

.

.


Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Hyuugadevit-cherry

[Uchiha Sasuke & Uchiha Sakura]

~If you don't like don't ever try to read~


.

.

.


Setiap manusia pasti memiliki rencana yang diharapkan dapat berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Begitupula Uchiha Sasuke. Pemuda berumur 27 tahun itu selama hidupnya selalu terencana. Segala sesuatunya tersusun dengan rapih dan berjalan sesuai kehendaknya.

Namun untuk pertama kalinya, rencana seorang Uchiha Sasuke membuahkan kegagalan. Pemuda itu menghembuskan nafasnya kasar dan memandang gadis merah muda yang kini tengah tersenyum lima jari ke arahnya dengan posisi berdiri tegap.

Rencana dan usahanya untuk mengusir seorang gadis merah muda dari dunia yang ia banggakan memang gagal total.

Buktinya setelah mengatakan kata-kata terkejam pada gadis itu, si gadis tetap bisa tersenyum sumringah seperti sekarang. Ia juga sudah mengeluarkan aura menyeramkan agar gadis itu mau menyerah pada pekerjaannya ini. Tapi ternyata ehh ternyata, gadis itu benar-benar membuatnya merasakan sial yang luar biasa, karena si gadis sepertinya sulit sekali untuk dienyahkan.

Bahkan berkat seorang gadis bernama ─ee ─ Haruno Sakura?, Ya benar si Haruno itu─ Sasuke sampai harus mendapat teguran keras dari ayahnya yang sekaligus sebagai kepala kepolisian Konoha. Sikapnya yang dianggap bertindak buruk karena memarahi dan mengusir anggota baru kepolisian dianggap melewati batas. Dan sebagai hukumannya, Fugaku menarik Shii dari keanggotaan Sasuke dan kini keanggotaan kelompoknya hanya bersama gadis itu? Oh, yang benar saja!

"Shit!" Umpatnya.

Berbagai emosi melingkupinya. Ayolah, Ia adalah orang yang sangat pintar mengendalikan emosi. Tapi dengan gadis merah muda ini rasanya sulit sekali.

"Sir.." suara ituAh, suara si merah muda. "Apa─ kita hanya akan berdiri saja di sini?" What?, bisa-bisanya gadis itu tak merasakan takut atau apapun setelah mendapatkan tekanan dari nya tadi dan sekarang hanya berduaan saja dengan ketua yang jelas-jelas membencinya di tepi sungai Kosaga?

"Hn, memang apa yang kau harapkan?" Tanyanya dingin. "Kau berpikir kita akan menangani sebuah kasus?" Sasuke melemparkan senyum sinisnya.

"Tentu saja. Bukan kah, kita berada di divisi kriminal? dan itulah tugas kita. Memecahkan suatu misteri." Tutur Sakura lancar.

CTAK

Lihat saja betapa sombongnya gadis itu menjawab pertanyaannya!

Siku-siku muncul di kepala Sasuke. Apakah benar adanya gadis ini? Biasanya para gadis cenderung sensitif, mereka akan mudah tersinggung dengan sindiran-sindiran, atau sikap yang kasar. Tapi si Haruno ini benar-benar berhati baja.

Tampang gadis ini err─ memang cantik lah. Iya dia cantik. Ia mempesona. Ia memiliki aura yang hangat. Emerlad dan senyumnya yang mengembang memang menghangatkan siapa saja yang memandangnya. Ettt─ apaan sih!

Sebuah ide muncul di otaknya yang luar biasa jenius. "Baiklah jika kau meminta misi pertamamu." Emerlad indah gadis berhelaian merah muda itu terlihat berbinar-binar, posisi berdiri tegapnya mulai goyah karena rasa bahagia yang terlalu berlebihan. Dari sudut ini, Sasuke bisa tahu jika gadis merah muda itu pastilah sembrono.

Dan Sasuke yakin, jika ia mendekat, alias tidak menjaga jarak─ gadis itu akan bergerak dan memeluknya karena saking senangnya diberi misi.

"Syaratnya─" ia menggantung kalimatnya. Membuat gadis itu sedikit gugup.

"Siap sir... Saya siap menerima syarat itu." Jawabnya dengan nada yang tidak sabar. Nampaknya si gadis tak menyerah begitu saja ehh?

Melihat sikapnya yang berubah-ubah dengan cepat membuat Sasuke heran. Ia heran juga melihat seorang gadis yang berumur 21 tahun itu memiliki sifat seperti anak kecil yang entah mengapa membuat Sasuke sedikit tergelitik.

Ia melengkungkan bibirnya ke bawah seraya berkata, "Syaratnya untuk mendapatkan misi ini adalah─ tunjukkan padaku kemampuan menembak dasar mu."


.

.

.


Sakura menatap senjata berapi dalam genggamannya dengan percaya diri. Mengenai cara menggunakan senjata api kuncinya adalah ia harus konsentrasi dan tenang. Ya, utamanya ketenangan. Jika kita tenang, apapun masalahnya akan segera terselesaikan dan membuahkan hasil yang baik. Bukan hanya masalah yang satu ini saja, namun yang lainnya juga. Haruno Sakura adalah pemegang prinsip seperti kapal selam untuk setiap tantangan yang diberikan padanya. Tenang, tidak terburu-buru tapi mendalam.

Diangkatnya senjata shotgun itu... Diarahkannya senjata itu pada targetnya. Sebuah papan yang berlukiskan sebuah jaring-jaring laba-laba, namun yang menjadi sasarannya adalah menembak tepat di tengah bundaran hitam tersebut. Ini juga aman. Ia telah menggunakan berbagai pakaian lengkap khas orang-rang bersenjata, jangan lupakan kacamata yang akan membuat emerlad indahnya aman.

DORRR

Yapsss..., Berhasil.

Senyum merekah terbit di wajahnya yang memang selalu terlihat cantik. Sakura menoleh ke arah sampingnya, ke arah atasannya yang bagaikan patung es─ ehh maksudnya sedingin es. Selain minim ekspresi, atasannya ini juga selalu mengeluarkan aura yang mencekam. Sehingga rasanya ia merasa berada di kutub Utara.

"Sir..," katanya sambil nyengir lima jari. "Lihat, tembakan ku tepat sasaran."

Sasuke menoleh dan mengangkat alisnya sebelah tinggi-tinggi. Dilangkahnya nya kaki jenjangnya. Kemudian berbisik tepat di samping telinga si gadis, "Merah muda.. tunjukkan lebih banyak, tanpa berpikir... Anggap ini sedang keadaan mendesak!"

DHEG

Ya Tuhan! Apa lagi ini? Baiklah Ia adalah gadis yang sangat penuh percaya diri. Yup.. Haruno Sakura dibesarkan oleh Uchiha Obito dan Uchiha Rin dengan motivasi yang tinggi. Memberikan sejuta pengetahuan dan kasih sayang yang membuatnya akan selalu berpikiran positif. Tapi untuk menggenggam senjata ini, astagaaa.. itu sangat menakutkan. Ia tak memiliki pengalaman dalam hal ini. Jika yang lain boleh saja lah. Tapi untuk yang satu ini─

"Tunjukkan merah muda!" Sentaknya. "Anggap sekarang kau sedang one bye one bye one! "

"Ta-tapi..."

"Merah muda!"

"Ha'i sir.." kembali digenggamnya senjata tersebut. Diangkatnya senjata senjata itu serata air dan menunggu instruksi selanjutnya dari atasannya ini. Dan ketika atasannya membuka suara, mengeluarkan kalimat perintah dengan nada datar itu─ Sakura segera membidik sasarannya dan menembakkan peluru-peluru tersebut tepat pada sasaran dengan cepat.

Dan entah kenapa, setiap gerakan dan ketangkasan yang ditampakkan si gadis pada si pemilik onyx tajam, menciptakan seulas senyum meski sangat tipis.


.

.

.


Setelah menjalani ujian dari atasannya kini Sakura berada di suatu tempat yang tak pernah gadis itu sangka. Ia berpikir setelah melewati ujian menggunakan senjata api tadi, Ia telah lolos dan mendapatkan kepercayaan atasannya ini. Tapi ─ TIDAK!

Atasannya yang bernama Uchiha Sasuke itu memang benar-benar menyebalkan. Dan lebih menyebalkan lagi ketika seringai pemuda itu semakin lebar akibat melihat wajahnya yang kini merengut.

"Kau tak suka?" Katanya. "Seragam itu bagus untukmu." Tambahnya, kembali ke mode datar.

"Tapi sir.. ini─ aku kira aku akan menangani suatu kasus. Aku bukan bertugas di bagian ini, aku─ "

"Siapa bilang kau tidak akan menangani kasus? Kau pikir di jalanan tidak ada kasus?" Sasuke dengan nada keras. Lalu tertawa meremehkannya, "Seorang gadis tidak akan tahu bahwa dijalanan banyak sekali kasus dibandingkan dengan apa yang selalu mereka pikir, maka dari itu seorang gadis tidak layak menjadi seorang bagian dari kami!"

Sakura mengeratkan tangannya. Ia tak percaya jika Ia akan kalah berargumen. Benar. Semua kasus tidak hanya muncul di kantor kepolisian dengan datangnya orang yang meminta bantuan menyelesaikan suatu masalah. Tapi di jalanan, pada umunya setiap tragedi dimulai. Dan butuh penglihatan yang cermat untuk itu.

"Aku rasa, aku bersalah sir.." sesalnya dengan nada murung.

"Bagus..." Katanya. "Tugas pertamamu adalah menjaga lalu lintas sebisa mungkin dan─ untuk missimu adalah menangkap setiap pengendara yang tidak memiliki surat izin dan terutama mereka yang masih di bawah umur."

Sakura menganggukkan kepalanya mendengar penuturan atasannya.

"Apa yang tidak kau mengerti?"

"Tidak ada sir."

"Hn. Aku akan berjaga di sana," Sasuke menunjuk sebuah mobil bercat hitam. "Jika kau membuat kesalahan aku akan langsung melihatmu dan mendengarmu dari radio ini."

"Siap Sir.."


.

.

.


"Nishigaki-san.." suara Sakura tampak ragu. Ia memanggil rekan barunya ini dengan suara yang formal "Anda─ di sini?" Tanya nya, masih dengan nada ragu.

Mendengar dan melihat rekan merah mudanya membuat Yagura tersenyum. Sumringah. Ia berseru─

"Wahh wahh... Haruno Sakura yang cantik," nada dari Yagura terdengar bersemangat dan tidak formal sama sekali. Pemuda dari Kirigakure itu menambahkan dengan nada sedikit berbisik. "kau kemari? Huh─ sepertinya aku dan kau harus menghadapi senior yang sepertinya meragukan kita."

Mendengar penuturan rekannya membuat Sakura terkekeh geli. "Kenapa sih mereka seperti itu? Senioritas masih ada ya di jaman ini." Keluh Yagura.

"Ini adalah salah satu hal yang menyenangkan. Kita tidak tahu apa yang akan kita dapatkan dari semua peristiwa ini. Tapi Tuhan memiliki rencananya sendiri." Sakura mencoba positif tingking. Sementara Yagura menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Jadi Nishigaki-san, mohon bantuannya. "

"Tentu dan panggil saja aku Yagura."

Sementara itu di arah lain, Sasuke dan Sai menempati tempat yang sama. Mobil bercat hitam dengan kaca yang anti tembus pandang dari arah luar. Mereka berdua duduk sambil memperhatikan keadaan lalu lintas. Onyx keduanya tidak pernah melepaskan sedikitpun objek yang kini mulai melaksanakan tugasnya.

Mengatur lalu lintas. Mereka melakukannya dengan baik. Sasuke sedikit mendecih ketika melihat salah satu pengendara mobil ketika lampu merah mencoba menggoda gadis merah muda yang menjadi bawahannya itu. Selain itu kenapa pula si merah muda terus tersenyum ceria di depan semua orang?

Masyarakat mungkin tidak akan tahu bahwa si gadis seorang polwan jika tidak mengenakan seragam dan rompi lalu lintas. Benar-benar tidak sesuai dengan tampang para polisi atau aparat negara yang terkesan berwajah tegas dan kuat. Tampang gadis itu terlalu lembek, bahkan lebih cenderung kekanak-kanakkan.

"Kau sungguh beruntung satu kelompok dengan gadis cantik idaman polisi Konoha." Celetuk Sai dengan nada mencibir. "Kalau aku bersamanya, akan aku tiduri dan jadikan bawahan yang benar-benar terus berada di bawahku."

Sasuke mendelik tajam ke arah rekannya yang mencintai gadis-gadis cantik. "Dia bukan gadis yang pantas kau samakan seperti wanita-wanita mu itu!" Tegasnya.

"Wah," Sai menatap rekannya dengan tatapan santai. "Sekarang Uchiha Sasuke akan membela gadisnya?"

"Dia bukan gadisku!" Katanya tajam. "Dia junior kita!"

"Yaree...yare..., Kau ini! Memang tidak normal. Masa gadis secantik itu diabaikan sih! Kita bertukar saja bagaimana?" Tawar Sai.

Dan entah kenapa mendengar setiap penuturan dari rekannya yang bernama Sai ini ─ membuat Sasuke kesal dan bertambah kesal pada gadis merah muda itu. Benar-benar! Penghancur mood yang Funtastic. Terlebih ketika melihat junior lainnya yang bernama Nishigaki Yagura itu menghampiri Sakura dan mereka terlibat perbincangan yang menyenangkan.


.

.

.

.

.


Dan waktu selalu berjalan lebih cepat dari pada biasanya ketika kita merasa nyaman dengan apa yang kita miliki. Seperti saat ini, bagi Haruno Sakura waktu satu Minggu menjalani profesinya sebagai seorang Polisi lalu lintas, perempuan itu merasa tidak buruk juga. Ia diterima dengan baik oleh para senior yang berjaga di pos, mendapat teman yang sangat baik seperti Yagura dan senior yang selalu memperhatikannya ─ Shimura Sai.

Ohh, jangan lupakan juga satu senior lain yang menjabat sebagai atasannya yang selalu mengatakan bahwa kerjanya tidak ada peningkatan.

"Huh," Sakura menghela nafasnya. Ia mematikan radio yang menyambungkannya dengan senior jahatnya itu. "Jika aku tidak bisa membuat Sasuke-sama merubah pandangannya padaku─ semuanya akan sia-sia. Ia akan terus meragukanku."

Tatapannya kini ia alihkan ke arah mobil hitam yang terparkir tak jauh darinya. Di dalam sana─ Ia yakini bahwa seniornya tengah memasang tampang menyeramkan karena dengan beraninya memutuskan saluran radionya. "Aduhhh, aku benar-benar tidak bisa merubah pandangannya padaku." Lirih Sakura. Wajahnya menyiratkan kesedihan.

Di arah seberangnya, Yagura memperhatikan rekannya itu. Ketika lampu merah, ia segera melangkah dan menghampirinya. "Apa yang terjadi? Apa kau kurang enak badan?" Tanyanya khawatir.

Ia menggeleng lemah. "Tidak. Tidak begitu." Katanya. "Aku hanya sedikit─ lelah. Ehehe.."

"Kalau begitu─ istirahatlah." Yagura mengusap punggung Sakura hati-hati.

"Tidak, ini tidak apa-apa. Kembalilah bekerja. Kita harus membuat mereka mengubah pikiran senior pada kita." Yagura sedikit tersentak mendengar perkataan rekannya ini.

Yagura merasa, keputusan dari Sai yang menempatkannya di tempat ini adalah keputusan yang tidak bisa ia terima. Namun tetap Ia menerimanya karena Ia ingin membuktikan bahwa Ia memiliki tempat dan tugas yang lebih layak dari pada ini. Ia merasa kesal? Tentunya. Tapi ketika kedatangan gadis ini─ ia jadi lupa akan apa yang ia hendak buktikan. Ia merasa nyaman dan merasa cukup.

Dipikirnya kembali tujuannya datang ke kota ini. Ia adalah anak dari seorang laksmana di Kotanya. Kedatangannya ke kota ini untuk menjadi salah seorang perwakilan Kirigakure yang menjadi seorang agen khusus. Divisi khusus yang bertugas di lapangan menyelidiki setiap kasus yang diembankan padanya. Dan ini jalan di mana ia akan membuktikannya.

"Kau benar," ucapnya dengan nada rendah. "Aku akan kembali." Setelah mengatakan itu; Ia kembali ke tempatnya─ melaksanakan tugasnya dengan baik.

Waktu istirahat pun tiba. Mereka kembali ke pos dan bersiap menyantap makanan mereka. Namun, belum juga Sakura menyantap makanannya dari arah luar Sasuke menghampirinya dengan tampang tidak bersahabat.

"Merah muda!" Panggilnya penuh penekanan.

Melihat seniornya yang terlihat murka, membuat Sakura mengedipkan matanya berkali-kali. Ia lekas berdiri. "Siap sir.."

Diliriknya tangan seniornya yang terlihat mengepal erat menahan emosi. Tangannya yang lain yang menggenggam botol mineral di lemparkannya ke tanah sehingga menimbulkan bunyi yang cukup menarik perhatian.

"Kau pikir─ kau siapa?" Desisnya tajam. "Kau mematikan saluran radio dan─ kau bermesraan ketika bertugas? Apa kau gila?" Bentaknya.

"Apa kau ingin menampilkan opera sabun antara polisi dengan polisi?" Bentaknya lagi. "Jawab aku!"

Sakura tersentak. Ia tak bisa seperti ini. Ia selalu kuat. Ketika Ia di akademi kepolisian Kumogakure mendapatkan tekanan apapun Ia selalu kuat dihina dengan kata-kata tak berbakat dan tak pantas. Namun kali ini, ia merasa bersalah. Ya, ia bersalah. Maka dari itu, ia kini menjatuhkan dirinya. Posisinya saat ini setengah duduk lalu menunduk.

"Sir.., maafkan saya." Katanya. "Saya telah bersalah. Saya benar-benar tak bermaksud seperti itu. Tapi─ "

"─ Saya akan membuktikan bahwa saya akan berguna untuk Anda. Saya akan membuktikan bahwa saya layak untuk memasuki divisi khusus."

Onyx itu menyembunyikan keberadaannya; tertutup kelopak halus. Garis wajah yang terlihat keras dan kokoh itu melemas dan mencoba mengurangi sedikit idealismenya. "Baiklah.." akhirnya. Setelah membiarkan keadaan canggung dan dingin itu, Sasuke kembali membuka suara. "Ku beri kesempatan! Jika kau kembali berulah, maka kau harus mengundurkan diri!" Tegasnya. Setelah mengatakan itu, Sasuke lekas meninggalkan Sakura yang masih mematung di tempatnya.


.

.

.

.

.


"Itu benar-benar kejam Sakura." Kalimat yang keluar dari mulut Yagura adalah kalimat yang membuat Sakura tersenyum. Ia tahu, atasannya memang kejam. "Ia menakutkan. Untunglah aku berada di bawah pengawasan Sai-sama. Jika bersama Uchiha Sasuke, aku mungkin akan dikoyak-koyak."

Kalimat yang dilontarkan Yagura membuat Sakura tertawa. Ia sungguh terhibur dengan rekannya yang satu ini. "Dengar Sakura, aku akan menikahimu."

DOENG

"E-EHH? Apa ini lamaran? Kenapa mendadak sekali?" Kata Sakura. Ia menganggap semuanya lelucon.

"Aku bersungguh-sungguh." Ucap Yagura sedikit gugup. Kedua pipinya merona. Namun Sakura tidak terganggu sama sekali.

"Hahaha, kau sungguh lucu." Gadis itu masih terkekeh.

"CK.. kau tidak percayaan sekali sih." Yagura dengan nada tak suka. "Baiklah , lihat saja nanti. Aku tidak akan membiarkanmu terus terkurung bersama si senior jahatmu itu." Dan kembali derai tawa menggema di pos tersebut.


.

.

.

.


Hari ini Sakura bertugas tanpa Yagura. Pemuda asal Kirigakure itu mengatakan bahwa ia akan sedikit telat karena ia harus ke suatu tempat bersama atasannya. Sedikit demi sedikit matahari mulai meninggi dan Sakura masih mengatur lalu lintas.

Hingga ketika itu, emerladnya melihat seorang gadis mengendarai mobil Audi. Tidak ada yang salah dengan mobil itu. Plat mobil atau body mobil itu sesuai. Namun si pengendaranya lah yang mencurigakan. Wajahnya yang terlihat kaku ketika berhenti di dekatnya, kaca mobil yang langsung di tutup, mengundang kecurigaan.

Diketuknya kaca itu dan meminta si gadis untuk keluar sebentar. Melihat si pengendara tetap di dalam membuat Sakura geram juga. "Maaf nona mengganggu waktu Anda. Tapi bisakah Anda meminggirkan mobil anda."

Mobil itu pun bergerak ke arah pos. Si pengendara keluar dengan seragamnya.

"Aku tak membuat kesalahan." Ketusnya ketika berhadapan dengan Sakura. "Ayahku memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunku dan aku menggunakannya. Apa aku salah?" Tanyanya lagi dengan nada angkuh.

Sakura hanya tersenyum. Ia meminta gadis itu untuk menyerahkan kartu mengemudinya. Si gadis pun memberikan sebuah kartu. Gadis itu bernama Yoshida Kin. Wajahnya yang cantik, matanya yang hitam bulat sangat indah di pandngan, rambut hitamnya yang menggerai membuat nya bagaikan seorang artis papan atas.

Namun, di kartu tersebut ia masih berusia 16 tahun. Dan kemarin adalah hari ulang tahunnya yang ke 17. Itu artinya mobil ini masih sangat baru.

Ditatapnya gadis berhelaian hitam itu dengan senyum tulus. "Apa Nona memiliki surat izin berkendara?" Sakura mengulurkan tangannya meminta gadis itu untuk menyerahkan kartu yang ia maksud. "Ini bukan surat izin berkendara, tapi ini kartu siswi senior high School."

Gadis itu merotasi kan kedua bola matanya. Ia menyilang kan tangannya di depan dada. "Aku sudah bilang aku tidak bersalah meskipun aku tidak mempunyai surat itu!"

"Apa? Anda tidak memilikinya?" Suara itu bukan suara Sakura. Kedua gadis itu mengalihkan perhatiannya ke arah pemuda yang kini berjalan ke arah mereka. "Anda tahu kan, jika Anda berkendara maka Anda harus memiliki suratnya. Jika tidak Anda akan kena hukuman." Keduanya memandang pemuda yang kini menatap gadis bernama Kin itu dengan wajah tegas.

Sakura menghela nafasnnya. "Yagura-san, biarkan ia berbicara terlebih dahulu." Gadis bernama Kin itu kembali menatap Sakura. Dilayangkannya tatapan mengejek. "Aku tidak punya." Katanya santai.

"Kalau begitu nona terpaksa harus ditil─ "

"Ayahku." Katanya. "Ayahku akan mengurus semuanya. Ia adalah seorang Laksmana. Aku harus menghubunginya terlebih dahulu."

Dihubunginya orang tuanya itu. Dan tak lama orang-orang berpakaian rapih datang dan mengurus surat-surat tilang dan berbagai urusan lainnya.

"Baiklah, kami rasa ini cukup." Jelas Sakura. "Saya rasa Anda harus segera mendaftarkan diri sebagai seorang yang berhak berkendara dengan surat izin tersebut. "

Gadis itu tertawa mengejek. "Aku tidak pernah salah. Orang tuaku memberikannya untukku dan itu artinya aku berhak melakukan apapun! Dan aku selalu bebas dari masalah.. karena orang tuaku adalah orang yang berpengaruh."

Mendengar penuturan kasar itu, Sakura tersenyum ceria. Ia berkata─ "Anda benar ─ "

" ─ Tapi ada satu hal yang salah. Anda tidak menunjukkan kelas Anda. Anda adalah gadis dari keluarga terhormat. Anda memiliki segalanya, Anda terpelajar begitu pula orang tua Anda. Tapi Anda menyalahkan semua kekuasaan yang keluarga anda miliki."

"Anda tahu─ keluargaku juga Orang yang cukup berpengaruh. Tapi─ aku tak pernah menyalahi aturan. Aku didik untuk menghormati mereka sebagai keluargaku. Menjunjung mereka dengan prestasi dan kebaikan. Maka nama orang tua ku akan tetap baik. "

Kedua bola mata sehitam malam itu membelalak. Gadis itu menatap kaget dan sekaligus kagum pada gadis merah muda yang ia perkirakan umurnya tidak jauh dengannya.

"Aku rasa kau benar," katanya tetap dengan nada sombong. "Baiklah aku harus pergi. Dan─ Tuan Yagura. Aku rasa─ kita akan bertemu lagi." Diakhir kalimatnya, si gadis bernama Kin itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Yagura dan membuat pemuda itu bergidik ngeri.

Kemudian Sakura dan Yagura kembali bertugas dengan senyum yang terpatri di wajah mereka karena telah berhasil menyelesaikan salah satu tugas mereka.

Dan Sakura tak tahu, bahwa ada bibir lain yang kini tersenyum penuh arti.


.

.

.

.

.


Malam harinya Sakura mendapatkan kabar bahwa ia harus kembali turun ke jalanan. Dengan jaket hitam kepolisian polos. Ia menghampiri Uchiha Sasuke senior yang dingin bagai kotak es dan penuh dengan misteri.

"Haruno Sakura, siap melaksanakan tugas." Katanya melakukan wajib lapor. Sasuke hanya mengangguk dan kembali memasuki mobil yang sejak beberapa hari ini selalu menjadi tempatnya mengawasi si gadis.

"Masuklah." Katanya datar.

Sakura mengangguk mantap. Ia segera memasuki mobil dan duduk di sebelah seniornya. Menyadari bahwa ia tidak sedang bermimpi duduk berduaan di dalam mobil yang gelap─ emerlad matanya berbinar-binar. Ahh, apakah ini yang namanya kencan? Apa seniornya ini jatuh hati padanya? Untuk yang pertama kali, setelah 21 tahun Ia hidup, Sakura baru mensyukuri bahwa Ia memiliki rupa yang cantik.

"Sir.. apa kita─ akan kencan?" Tanyanya dengan semburat merah.

TUING?

Apa katanya tadi? Kencan?

Onyx yang semula berfokus ke arah jalanan kini berubah haluan. Ia menatap gadis merah muda yang kini tersenyum malu-malu dengan semburat merah yang menambah kemanisannya. Astaga, apa karena ini adalah hari ia jadi salah fokus?

"Kencan? Yang benar saja! Kau ingin kita berkencan?" Sakura menganggukkan kepalanya antusias. Wajahnya yang semula menunduk dengan pipi yang merona kini menatap seniornya ragu-ragu. "Mati aja sana!" Katanya sambil keluar dari mobil dan berjalan ke arah toko.

"A-apa?" Sakura celingak-celinguk. "Ya Tuhan! Apa yang aku katakan?" Sakura membenturkan kepalanya ke arah kursi. " Ahh, pasti aku akan dipecat karena berkata seperti itu! Astaga... Maafkan aku." Sakura lekas keluar mobil. Ia hendak mengejar seniornya yang pergi ke toko dan berniat meminta maaf. Tapi, ketika ia hendak menyebrang jalanan─ sebuah kendaraan mobil sport yang dalam sekali lirik akan diketahui bernilai jutaan dolar melesat secepat kilat.

Sakura buru-buru berbalik dan memasuki kendaraan. Ketika Ia sampai, pintu sebelahnya terbuka dan Uchiha Sasuke kini duduk di sampingnya. Sakura tak peduli. Ia kini memegang setir. Diarahkannya mobil menuju jalan. Ia mengendarai kendaraan itu dengan kecepatan penuh.

Uchiha Sasuke memasang sabuknya. Astaga, kenapa ia bisa terpengaruh tadi. Ia seharusnya tidak meninggalkan mobil. Ia harusnya tetap memegang setir karena targetnya setelah sekian lama kini muncul. Kini ia harus berada di bangku penumpang dengan seorang gadis yang kini memegang kendali mobil.

Siiinngggg

Kecepatan mobil yang dikendarai Sakura ini melesat dengan kecepatan yang luar biasa. Membaut Sasuke memelototkan kedua onyx nya.

"Apa yang kau lakukan?" Katanya tajam. "Ini melebihi batas!" Desisnya. Ia tahu Ia laki-laki. Ia sering melakukan adu balap mobil dengan kecepatan yang tidak bisa dikatakan biasa. Tapi tidak dengan saat ini. Gadis ini gilaaa! Apa si merah muda yang tampak tidak bisa apa-apa dan lemah seorang pembalap profesional?

"Berpegangan saja yang erat sir.. saya tahu dia target Anda bukan?" Seru Sakura antusias, tanpa mengurangi kecepatan mobil. Dipegangnya sabuk pengaman sebagai pegangan oleh Sasuke. Ia memegangnya dengan erat.

"Bodoh! Kita tak bisa mengejarnya. Kita bisa melakukannya beso─ "

"Sekarang atau tidak sama sekali!" Potong Sakura. "Jika Ia memiliki kecepatan kilat. Maka aku─ aku memiliki kecepatan cahaya."

Wwwuuusshh

Kecepatan mobil itu semakin menggila.

"Haruno!" Mendengar seniornya meneriakkan namanya untuk pertama kali, tak membuat Sakura mengurangi kecepatan mobil tersebut. Ia semakin memacu mobil itu, dapat Sasuke lihat mobil yang tadi tidak terlihat sama sekali. Kini mereka saling berkejaran. Sakura membuka jendela mobilnya dan Ia bisa melihat si pengendara berwajah baby face yang menatapnya kaget dari mobil itu.

SRAAKKK

KIKKK

"HARUNO SAKURA! KAU PIKIR APA YANG─ " Sakura lekas keluar dari mobil dan menghampiri mobil sport yang kini pengendaranya pun keluar dari mobil.

Sasuke yang masih di dalam mobil pun kini bergerak keluar. Dilihatnya seorang pemuda berhelaian merah itu turun dari mobilnya dengan senyum lebar dan ketika matanya menangkap lain, seorang kepolisian yang selalu mengincarnya membuatnya berseru-

"ck..ck.. ck.., aku tidak tahu jika Konoha memperkerjakan seorang gadis sebagai seorang polisi." Katanya dengan nada menggoda. "Jadi nee-san, siapa nama mu?"

Sakura terkekeh. Ia mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh si pemuda. Gadis merah muda itu menggeleng. "Bukan. Bukan tanganmu yang ku inginkan." Katanya kalem.

"Lalu, apa? Bukan kah nee-san ingin berkenalan denganku?" Ujarnya penuh percaya diri.

"Surat Izin Mengemudimu mana?!" Sergah Sasuke. Ia melepaskan tangan si pemuda berhelaian merah dengan wajah baby facenya.

"MANA!" Bentaknya tegas.

Si pemuda itu mengedikkan bahunya acuh. Diambilnya dompetnya dan dikeluarkannya lah kartu yang dipinta polisi galak di hadapannya. Setelah menyerahkan kartu itu, ia lekas menghampiri gadis merah muda itu lagi.

"Jadi jadi, siapa nama nee-san?" Tanya nya santai. Sepertinya pemuda ini memang perayu ulung.

Sakura hanya nyengir lima jari. Lucu juga ternyata. Semenjak ia bekerja di kepolisian ia sering mendapat godaan dari para kaum Adam.

"Haruno Sakura," bisiknya sambil tersenyum. Sasuke yang merasa diabaikan segera menghampiri mereka.

"Jadi─ Akasuna Sasori, kau selalu membuat ulah. Melakukan balapan liar bersama teman-teman mu. Lalu kenapa sekarang kau hanya sendiri?" Tanya Sasuke datar.

"Aku tidak sendiri." Sangkalnya santai. Kelewat santai.

"Lalu di mana yang lainnya?" Tanya Sakura ceria. Ia merasa pemuda bernama Sasori ini tidak sulit untuk diajak bekerjasama.

"Hn, mereka datang." Selesainya kalimat yang dilontarkan Sasuke, dua mobil sport melaju dengan kecepatan rendah dan berhenti di sana. Melihat Sasori bersama dua orang asing, anak-anak muda itu turun dari mobil dan menghampiri mereka.

"Luar biasa, pacar baru ya?" Kata salah satu pemuda berambut hitam dengan gigi yang runcing.

"Yoi.. " balas Sasori sambil menarik turunkan alisnya jenaka. Sakura terkekeh mendengar obrolan absurd anak-anak muda yang ternyata beda dua tahun dari umurnya.

"Aku Hidan, " katanya. "Siapa nama tuan putriku?" Kata pemuda yang berambut abu klimis. Ia mengulurkan tangannya berharap mendapat balasan dari gadis merah muda di hadapannya ini. Namun segera ditepis oleh Sasori.

"Hentikan!" Suara datar dan tatapan intimidasi itu dilayangkan Sasuke ke arah para pembalap liar itu.

"Siapa dia?" Tanya si gigi runcing yang ternyata bernama Kisame.

"Polisi." Jawab Sasori santai.

Keempat bola mata pemuda itu melotot mendengar kata polisi. Mereka saling pandang dan hendak pergi, tapi Sakura dengan cepat menghalangi mereka.

"Kalian harus ikut bersama kami. Kalian tidak bisa pergi karena, mereka telah tiba." Selesainya kalimat yang diucapkan Sakura, 2 mobil polisi memasuki area jalanan tersebut.

"Wuuaaahh, Sasori.. kau menjebak kami ya?" Orang bernama Hidan terlihat marah. Namun Sasori hanya menanggapinya dengan senyum andalannya.

"Tenang saja. Kalian ikuti saja kemauan mereka. Aku akan menghubungi orangku."

Sakura dan Sasuke pun membawa tiga pemuda itu menuju markas kepolisian. Dengan tenang Sasori memberikan pertanyaan-pertanyaan simpel pada Sakura. Seolah-olah ia sedang tidak berada dalam masalah. Membuat Sasuke muak. Ini bukan cemburu, oh bukan. Yang benar saja ia cemburu. Ia hanya─ hanya kesal karena si merah muda lah yang berhasil mendapatkan incarannya─ si merah darah yang terkenal sangat lihai melarikan diri dari kejaran polisi. Tapi─

"Shit!" Umpatnya.

Mendengar atasannya Sakura langsung diam dan tak menanggapi celotehan pemuda yang lebih muda darinya dua tahun itu. Diliriknya atasannya, wajahnya sangat menakutkan. Ia ingin berbicara, namun diurungkannya.


.

.

.

.

.


"Sebutkan namamu!" Onyx nya menatap datar pada si pemuda berwajah baby face.

"Sasori." Balasnya. "Akasuna Sasori."

Sasuke mengangguk. Ia mengetikkan data-data yang dibutuhkannya. Memberikan pertanyaan-pertanyaan yang ia butuhkan. Sementara Sasori duduk bersama pengacara yang mendapinginya. Disaat ada kesempatan, Sasori akan mengamati wajah dari gadis di hadapannya. Gadis yang memesona. Tidak begitu cantik, tapi berhasil menarik perasaan senang dan terkesima akan senyum yang selalu terpatri diwajahnya.

Lain halnya dengan Sasori , Haruno Sakura harus tetap diam di belakang memperhatikan apa yang dilakukan atasan tampannya itu. Ia tahu, atasannya ini memiliki temperamen yang buruk. Beberapa Minggu bersama menyebabkannya memahami sifat-sifat atasannya ini.

Kembali ke Sasuke. Putra Uchiha Fugaku ini merasa ada yang aneh dengan si pemuda merah di hadapannya. Bagaimana pemuda ini dan kawan-kawan sekarang tidak bisa meloloskan diri? Padahal, setiap kali ia mencoba dengan keras untuk menangkap mereka, tiga pemuda itu selalu berhasil lolos. Dan lagi─ si merah ini bahkan tidak terlalu jauh untuk didapatkan bahkan mungkin dengan kecepatan mobil yang dikendarai Sakura tadi.

"Pertanyaan terakhir," ucap Sasuke. "Untuk kali ini bagaimana kau tidak bisa lolos?"

"Loh, bukannya bagus Anda berhasil menangkap kami?" Pemuda itu balik bertanya.

"Jawab dengan benar!" katanya dengan penuh penekanan.

Sasori terlihat berpikir. Berpikir yang secara bodoh. Dan itu jelas sekali hanya dibuat-buat. "Mmm.. mungkin aku sedang apes. Eheheh."

Di samping Sasori, pengacaranya kini menambahkan. "Tentunya Anda dan rekan Anda tahu, bahwa Anda telah berhasil mendapatkannya. Anda hebat dalam berkendara."

Sasuke tidak pernah lebih kesal dari pada ini.


.

.

.

.

.


"Nee-san tahu─ nee-san sangat cantik." Puji Sasori ketika Ia akhirnya mendapatkan kebebasannya setelah mendapatkan pertanyaan yang beruntun dari pihak kepolisian.

Sakura yang memiliki waktu luang kala itu menyempatkan dirinya menanggapi pemuda ini.

"Benarkah?" Matanya berbinar-binar.

"Benar, eh bukan sih.. . Tapi nee-san sangat menarik." Sasori mengacungkan jempolnya dan Sakura tertawa di sana. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa masih berlaku kekanak-kanakan? Ahh, ia bahkan lupa bahwa ia juga masih kekanakan.

"Hey, ayo jawab padaku bagaimana kau bisa tidak lolos dari kami?" Tanya Sakura. Mencoba mengorek informasi dari pembicaraan non formal.

Pemuda berhelaian merah itu terkekeh. Ia mengatakan bahwa ia ketahuan. Sakura pun menanggapi nya dengan santai. Seolah ini hanya bualan belaka.

"Aku melihat seklias nee-san dan─ tertarik." Katanya dengan nada jenaka. Bagai orang bodoh, pemuda itu mengatakan alasannya rela tertangkap hanya karena dirinya.

"Seperti itu." Tanggap Sakura. "Hmm.. sepertinya ada suatu hal lagi yang ingin kau bicarakan?" Tanya Sakura. Tiba-tiba Sasori merona.

"Emm.. aku sebebarnya adalah seorang putra dari salah satu detektif swasta di kota Sunagakure. Aku di sini bersama ibuku." Katanya malu-malu. Wajahnya bersemu. "Mungkin─ jika nee-san membutuhkan bantuan─ aku rasa─ nee-san harus memiliki emailku begitupula sebaliknya."

Akhirnya, pemuda itu berhasil mengatakan maksud utamanya. Rangkaian kata yang diucapkannya mengenai tukar email untuk informasi adalah hal yang bohong. Yang dibutuhkan pemuda bernama Sasori itu hanyalah email.

Namun, dengan senang hati.. sakura mau bertukar email. Ia rasa ia harus melakukan ini. Anak salah satu informan dari detektif Sunagakure. Daerah yang tak kalah Amazing dari Konoha. Ia harus menyimpannya, menyimpan email ini.. untuk satu waktu di mana ia dapat meminta bantuan dari keluarga Akasuna.


.

.

.

.

.


"Lihat, siapa yang akhirnya mendapatkan si pembalap liar asal Sunagakure?" Fugaku dengan angkuhnya melipatkan tangannya di depan dada. Wajahnya menyiratkan kepuasan yang kentara.

Di hadapannya, Uchiha Sasuke ─ putra satu-satunya ini berdiri tegak dengan rahang yang keras, jari-jari tangannya mengepal. Bibirnya terkatup rapat, tak mampu menjawab setiap deretan kata yang dilontarkan atasan sekaligus ayah padanya.

"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan Sasuke," katanya kembali ke mode serius. Ia kini bukan seorang ayah lagi, tapi kini Fugaku berada pada mode seorang pemimpin kepolisian Konoha. "Mulailah bangun kepercayaan pada Haruno Skaura."

"Baik. Akan Saya laksanakan." Katanya formal.

"Bagus." Fugaku berbalik dan menuju tempat duduknya. Diambilnya salah satu berkas di meja kerjanya.

Melihat kepala kepolisian yang kini memberikan berkas padanya, Sasuke segera mengambil berkas itu. Dipandangnya lamat-lamat berkas yang berwarna 'merah' yang artinya meragukan.

"Apa ini?" Tanya Sasuke serius.

Fugaku diam. Wajahnya penuh misteri. Tak mampu tertebak.

"Aku meragukan kasus itu." Suara berat itu mengalun bagai sebuah lonceng peringatan bagi Sasuke. Onyx Sasuke kini menyala. "Kasus itu─ belum benar-benar selesai."


.

.

.

.

.


"Saya tidak bersalah." Kedua iris hitam kecoklatan itu bergerak-gerak liar. Wajahnya yang polos mampu menyembunyikan segala hal yang mungkin saja benar adanya.

"Katakan yang sebenarnya! " Uchiha Sasuke mulai mengeluarkan aura mengintimidasi. Dan ruangan itu semakin terasa pengap bagi siapapun yang berada di tempat.

Astaga...! Bagi Sakura, tatapan Uchiha Sasuke saja sudah sangat menyakitkan. Apalagi didukung dengan ruangan interogasi yang berukuran sempit ini, dengan keadaan dan pencahayaan remang-remang yang menambah seseorang akan tertekan secara psikologis.

Ia─ Haruno Sakura. Merasa ingin sesegera mungkin mendapatkan kasus menantangnya. Melakukan penyelidikan-penyelidikan, memperkirakan segala sesuatu. Kemudian sekarang, Tuhan telah mengabulkan keinginannya, setelah Ia diberikan kesempatan untuk menyelesaikan suatu kasus, Sakura─ merasa takut dan tidak percaya diri.

Uchiha Sasuke begitu tegas dan mengintimidasi. Dan Sakura lebih takut juga malu untuk berdiri di samping seseorang yang hebat seperti atasannya ini.


.

.

.

.

.


TBC


A/N:

Gzzzz... Lama banget Dhe-chan ga nongol ya -,- maafkan, soalnya kampus lagi bener2 membutuhkan perhatian ekstra bentar lagi mau UAS dan Ujian Praktek drama Dhe-chan menunggu T.T Yoshh..waktunya balas reviews ^^


.


S. Nurfiah: Ini udah next yaa ^^ sankyuu R&R nya Nurfiah :))

furuya: Ini udah update yaa Furuya ^^ .. no no no.. jangan jadi silent rider. Emm btw sankyuuu yaa R&Enya :))

RAN UCHIDA: Akhirnya, ketemu lagi sama RAN UCHIDA ^^ Dhe-chan merona duhh baca Reviewnya kamuuu *merona* hehe oke , ditunggu loh Reviews di setiap FIC nya :D collaborasi ya? Dhe-chan sama dia juga pengen, cuma kami susah bagi waktu.. kebetulan kami beda negara sekarang jadinya susah bagi waktunya T.T tapi apapun itu, sankyuu yaa R&Rnya ^^

Wowoh. Geegee: hahaha kepelet ,tau tuh Sasuke gituan XD sankyuu yaa R&Rnya ^^

Uchiha Nazura: ini udah next yaa ^^ sankyuu yaa R&Rnya ^^

sitilafifah989: betul sekali itu sitilaa XD sankyuu yaa R&Rnya ^^

Mikaella Nanachi: uuuu.. kenapa kamu telaaatt? *Injek bumi* ini udah next yaa ^^ sankyuu yaa R&Rnya ^^

risnusaki: kita liat nanti yaa kelanjutannya risnusaki.. sankyuu yaa udah antusias jadi makin semangat nih XD sankyuu juga R&Rnya ^^

cherryxsasusaku: gzzzz.. aku dibuat merona Mulu ini astagaaa~ *merona hebat* ini udah next yaa , pasti Dhe-chan akan semangat terus ^^ sankyuu yaa R&Rnya ^^

Kychan: betul, kita lihat kapan Sasuke-kun akan tergila-gila wkwkw XD sankyuu yaa R&Rnya ^^

Chandrahan: Chandra gan, ohh no~ kamu selalu memaksaku untuk update kilat.. Dhe-chan kebetulan sibuk dengan tugas2 kuliah. Maafkan T.T masih ada UAS dan ujian praktek drama, ini aja bisa update karena nyuri2 waktu so harap maklum T.T sankyuu yaa R&Rnya ^^

cangcimen: yahh, Cangcimen kan Dhe-chan udah bilang terinspirasi gimana sih *pundung* haha becanda/galucu. Jadi emang CHAPTER kemarin itu terinspirasi dari film itu yaa ^^ sankyuu yaa R&Rnya ^^

rin takeshi: kyaa~ sankyuu *merona again* ini udah update yaa ^^ sankyuu yaa R&Rnya ^^


.


Terakhir, maaf untuk typo dan segala keanehan FIC ini . See u next chap minna-san ^^

Mind to Reviews?


.


Kuningan, 01 Juni 2017