.

.

.


"Murder In Konoha"

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Hyuugadevit-cherry

[Uchiha Sakura & Uchiha Sasuke]


.

.

.


If You don't like, don't ever try to read


.

.

.

Kali ini kita akan sedikit membahas di mana saat itu Sakura baru saja mendapatkan Sasori sebagai target utama atasannya─ Uchiha Sasuke. Wajah cerahnya yang menunjukkan bahwa ia telah membuktikan bahwa ia layak untuk menjadi bagian dari kepolisian Konoha. Bahkan ketika ia memasuki kantornya, senior-senior lainnya memandangnya dengan takjub. Sementara Sasori dan kawan-kawan ditahan sebelum pengacaranya datang. Sasuke sendiri mengatakan akan melakukan laporan terlebih dahulu pada atasannya.

Dihujaninya Sakura dengan berbagai pertanyaan tentang bagaimana ia mempelajari cara balapan mobil dan sebagainya, dan sebagainya.

Tak satupun pertanyaan dari mereka yang mendapatkan jawaban dari gadis merah muda ini. Karena tak mungkin jika Sakura menceritakan bahwa ia mempelajarinya ketika ia berlibur bersama Uchiha Madara, seorang penisunan dari kepolisian Konoha. Si gadis hanya mengulum senyumnya dengan pipi yang merona. Membuat semua pemuda dan pria yang ada di ruangan itu gemas sendiri.

Untuk menghindari hal-hal yang senonoh─ yang mungkin dapat mereka lakukan pada Sakura karena gemas, mereka hanya mampu mengucapkan kata "Omedetou" , lalu pergi.

Di arah lain, Sakura melihat teman pertamanya di Konoha─ Shii. Gadis itu menghampiri teman pertamanya itu dengan senyum ceria dan mendapatkan tanggapan yang menggebu.

"Lihat, siapa yang datang.," seru Shii dengan senyum lembutnya.

Sakura kembali mengulum senyumnya. "Seorang hero, kah?" canda Shii lagi dan mendapatkan pukulan main-main di dadanya.

"Terlalu! Mengatakan bahwa aku seorang hero, sementara kau telah berhasil mendapatkan beberapa kasus." Sakura mencibir. Gadis itu menduduki bangku di hadapan Shii dan menumpukan kepalanya di sebelah tangannya.

"Kau benar," balasnya. "Tapi semuanya karena atasanku yang luar biasa itu."

"Wuuahh? Siapa atasanmu? Benarkah ia hebat?" tanya Sakura penasaran.

Shii yang semula menduduki bangkunya kini sedikit mengangkat pantatnya dan memajukan wajahnya di depan muka. "Dia seorang Uchiha," bisiknya.

"Uchiha?"

"Benar! Kau sendiri tahu bagaimana mereka para Uchiha. Kau bahkan sekarang berada di bawah pengawasan seorang Uchiha."

"Uchiha yang mana dia itu?" tanyanya dengan tampang polos.

"Dia bernama─ Uchiha Shisui. Ku rasa kau belum pernah bertemu dengannya. Ketika kau bertemu dengannya, kau akan tahu kehebatannya." Malam itu Sakura menghabiskan malamnya dengan bercakap-cakap bersama Shii juga beberapa senior yang ikut bergabung─ menahan gadis merah muda hingga menjelang pagi. Sial! Padahal ia harus kembali bertugas pagi ini.

.

.

.

.

.

Pagi harinya setelah tadi malam melakukan perbincangan yang panjang bersama Shii tentang Uchiha Shisui, Sakura bagai di anugerahi Dewa. Ia kini melihat langsung Uchiha Shisui yang katanya tampan itu. Menurut Sakura, Uchiha Shisui memang benar tampan adanya. Pria itu adalah seniornya di kepolisian konoha, atasan dari Shii. Umur pria itu sekitar 30 tahunan. Pemuda berkepala tiga itu sangat sibuk dengan berbagai kasusnya. Banyak sekali kasus yang ia selesaikan dengan jangka waktu yang singkat dan memuaskan.

Kala itu Sakura mengatakan pada Shii bahwa ia belum mengetahui tentang pria bernama Shisui karena ketika menginjak pertama kali di Konoha, Shisui-senpainya itu tengah menangani kasusnya. Dan kembalinya Shisui ke kantor, Sakura justru berada di pos kepolisian.

Namun sekarang Sakura telah melihatnya. Uchiha Shisui yang sungguh mengagumkan prestasinya dan tak kalah tampan dari atasannya. Kalau boleh memilih jodoh atau jika ia diperkenankan memerankan cerita romance-romance-an, ia akan memilih Uchiha Shisui sebagai pasangannya.

"Merah muda!"

Brugh

Sakura membentur dada bidang Sasuke. Buru-buru Sakura berdiri tegak, namun ia juga segera mengusap-usap dada atasannya yang mungkin saja sakit. Ughh~ Ini semua gara-gara matanya yang tak henti-hentinya mengamati seorang Uchiha Shisui yang baru saja lewat di hadapannya, hingga ia tidak bisa fokus.

"Apa yang kau lakukan, merah muda!" desis Sasuke ketika Sakura terus mengusap-usap dadanya. Belum lagi kini semua orang menatap mereka dengan pandangan bertanya.

Sakura tersentak. Menyadari perbuatannya tak disukai seniornya ini, gadis merah muda itu segera menarik tangannya, "Ma-maaf sir.., saya rasa Anda kesakit─ an." Kata Sakura ragu-ragu. Ia menunduk, tak berani mengangkat kepalanya.

Bahkan ia yakin─ seyakin-yakinnya, saat ini Uchiha Sasuke sedang menatapnya tajam bak elang yang ingin memangsanya. "Hentikan ini dan ikut denganku!"

.

.

.

.

.

Sasuke berdiri tegak di dekat beberapa barisan meja, yang mana beberapa di antaranya telah di tempati oleh senior dan anggotanya.

"Haruno Sakura," kalimat pertama yang keluar dari mulut atasanya adalah namanya, membuat emerladnya berinar-binar. Akhirnya untuk pertama kalinya atasannya itu mau memanggilnya dengan benar. Tanpa nada tinggi, tanpa emosi yang berarti. Tentunya!

"Konoha telah memberikan kesempatan padamu untuk bergabung bersama kami. Kepala kepolisian Konoha pun melakukan hal yang sama dengan menempatkanmu di bawah pengawasanku. Bahkan setelah perdebatanku dengan beliau, dengan berbagai tantangan yang telah ku berikan padamu─ pada akhirnya, aku harus mengakui mu sebagai seseorang yang layak untuk diperhitungkan." Mendengar penuturan yang sangat panjang dari atasnnya itu membuat kedua emerlad Sakura semakin cerah. Senyum indahnya kembali terbit di wajahnya yang memang memesona. "Ingat ini baik-baik!"

Gadis itu mengangguk, mantap.

"Ini adalah meja kerjaku," Sasuke mengarahkan tangannya ke meja di depan Sakura. kini tangannya mengarah ke arah lain, barisan yang lainnya, namun tak jauh dari meja Uchiha Sasuke, "dan itu adalah meja mu." Katanya sambil menyerahkan tanda pengenal si gadis.

Mendengar bahwa Sakura mendapatkan meja pertamanya juga kartu pengenalnya, Sakura lekas menyambar seniornya itu dan mendekapnya erat. "Arigatou sir, arigatou~.."

Astaga! Kebiasaan Sakura ketika ia mendapatkan kebahagiaan yang terlampau luar biasa adalah memeluk siapa saja yang ada di sekitarnya, hingga ia merasa benar-benar dapat menguasai dirinya kembali. Serta menyadari bahwa kabar itu benarlah adanya.

Tapi─ Ya Tuhan!

Orang yang saat ini tengah di peluknya erat-erat itu adalah Uchiha Sasuke─ seniornya yang sangat sulit tersentuh bahkan oleh teman satu angkatannya karena sifatnya yang tertutup dan terlalu perfect.

Belum lagi saat ini mereka tengah berada di kantor dengan berpasang-pasang mata yang menyaksikan adegan mereka saat ini. Bukan tidak mungkin, kini tiap kepala di ruangan itu pasti memiliki pemikiran yang luar biasa tentang hubungan mereka. Melihat semua mata memandang ke arahnya, Uchiha Sasuke lekas melepaskan pelukan gadis merah muda itu dengan paksa.

"Kau pikir apa yang kau lakukan Haruno?" hardiknya galak. Tak lupa dengan tekanan di setiap kalimatnya. Membuat Haruno Sakura kembali ke alam sadarnya.

"Ahehe~.." Sakura tertawa canggung. Aduh, ia terlalu bahagia, hingga melupakan fakta bahwa saat ini ia sedang berhadapan dengan seorang Uchiha Sasuke. Bukan Uchiha Madara atau Uchiha Obito yang akan dengan senang hati menerima pelukannya. "Ma-maaf sir, sa-saya terlalu bahagia mendapatkan semua ini." sahut Sakura canggung.

Tak ingin terlalu lama berada di ruangan ini dengan keadaan canggung, Sasuke kembali berkata. "Hn! Ikuti aku." Sasuke segera membalikkan badannya. Tanpa di sadari oleh siapapun, Uchiha Sasuke si senior sedingin kotak es itu─ merona.

.

.

.

.

.

Seperti sebelumnya. Untuk yang pertama kali adalah Sasuke dan Sakura melakukan introgasi pada Sasori dan kawan-kawan. Masing-masing dari mereka adalah bagian dari keluarga orang-orang terhormat. Bahkan seorang Akasuna Sasori masih berdarah bangsawan yang di turunkan dari ibunya.

Introgasi berjalan cukup lancar. Sakura masih mengawasi, belum benar-benar terjun. Karena ini yang pertama kali untuknya. Setelah proses introgasi selesai, atasannya itu mendapatkan panggilan dari sang kepala.

"Kembalilah ke meja kerjamu. Kerjakan laporan ini sesuai dengan contoh ini." titah Sasuke.

"Siap Sir..," setelah mendapat jawaban dari Sakura, Sasuke bergegas menuju ruangan yang ia tuju. Dan Sakura mulai mengerjakan tugasnya setelah berbincang beberapa menit bersama Akasuna Sasori.

.

.

.

.

.

"Uchiha Sasuke melapor. Akasuna Sasori dan kawan-kawan telah melalui sesi introgasi dengan didampingi pengacara masing-maisng." katanya. "Laporan secara tertulis sedang dalam proses."

Uchiha Fugaku menganggukkan kepalanya. wajahnya terlihat puas dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Lihat, siapa yang akhirnya mendapatkan si pembalap liar asal Sunagakure?" Ujar Fugaku dengan angkuhnya melipatkan tangannya di depan dada. wajahnya menyiratkan kepuasan yang kentara.

Uchiha Sasuke memandang ayah sekaligus atasannya itu dengan rahang sekaku papan. Dieratkannya jari-jari tangannya yang kini mengepal. Dikatupkannya bibirnya, tak mampu menjawab setiap deretan kalimat yang dilontarkan atasannya itu.

"Berhentilah bersikap kekanakan Sasuke," katanya kembali ke mode serius. "Mulailah bangun kepercayaan pada Haruno Sakura."

"Baik. Akan saya laksankan." Jawab Sasuke dengan formal.

"Bagus." Fugaku berbalik menuju tempat duduknya. Diambilnya salah satu berkas di meja kerjanya dan diserahkannya berkas bersampulkan map merah itu padanya.

Diambilnya berkas yang di berikan kepala kepolisian padanya. Dipandangnya lamat-lamat berkas bermap merah yang artinya meragukan.

"Apa ini?" tanyanya serius.

Namun Uchiha Fugaku masih dengan kebisuannya. Wajahnya penuh dengan misteri, tak mampu tertebak. Satu sampai dua menit masih hening. Lalu─

"Aku meragukan kasus itu, kasus yang belum benar-benar selesai," suara berat itu pun kembali terdengar bagai sebuah lonceng peringatan bagi Uchiha Sasuke. Onyx yang semula terlihat biasa saja, mulai terlihat menyala. "Buka kembali kasus itu, cari kebenarannya bersama Haruno Sakura."

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke kembali ke meja kerjanya dengan tenang. Di seberangnya, Haruno Sakura tengah mengerjakan laporan yang diperintahkannya. Jari-jari lentik si gadis yang bergerak lincah di atas keyboard dengan wajah serius membuat tatapannya sedikit teralihkan.

Putra satu-satunya Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto itu menggelengkan kepalanya pelan dan menduduki bangkunya. Dibukanya map tersebut dan dibacanya berkas tersebut. Diamat-amatinya satu persatu data si korban.

Lembar berikutnya adalah data si tersangka, mulai dari data pribadi, motivnya melakukan kejahatan, alibi yang di milikinya dan yang sebagainya. Kembali ia mengamati tiap deretan kalimat yang tertuang di kertas putih bertuliskan tinta tersebut.

Tak ada yang ganjil. Benar, tak ada yang ganjil. Kemudian lembar ketiga. Lembar ketiga ini juga sama. Benar-benar tak ada yang ganjil. Semuanya masuk akal. Sangat masuk akal. Bahkan dalam keadaan apapun Anda akan mempercayai itu. Sayangnya, mata Uchiha Sasuke telah terlatih.

Dengan tenang dipanggilnya Haruno Sakura dengan nama kesukaannya, yakni; "merah muda." Mendengar panggilan atasannya membuat Sakura menghentikan pekerjaannya.

"Haruno Sakura siap melaksanakan perintah, Sir.." serunya antusias. Namun setitik di wajahnya menyiratkan kebingungan.

"Aku ingin kau sesegera mungkin menyelesaikan laporanmu." Titahnya. "Karena, kasus yang kau harapkan sudah di depan mata!" katanya sambil mengacungkan map merahnya, membuat bibir mungil si gadis terbuka, tak percaya.

.

.

.

Keesokan harinya, Sakura datang pagi-pagi sekali ke kantor. Begitupula Uchiha Sasuke. Melihat seniornya, Sakura bergegas menghampirinya dan menyerahkan laporan tersebut.

"Ini laporan yang anda minta. Saya telah menyelesaikannya semua." Kata Sakura. "Mungkin Anda harus membacanya ulang sir, agar tidak terjadi kesalahan." Tambahnya.

Sasuke mengangguk.

"Kita akan membicarakan ini di tempat lain." tegasnya.


.


Sasuke dan Sakura saat ini berada di sebuah restoran ternama di Konoha, berdua saja dengan Uchiha Sasuke. Selain itu mereka berada di ruang reservasi. Yang mana hanya ada dirinya dan si atasan yang kini masih membolak-balik halaman demi halaman pekerjaan yang dikerjakannya.

"Hn, pesanlah apapun yang kau inginkan," ucap Sasuke datar, tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas itu.

Sakura membasahi kerongkongannya.

"Saya─ menunggu Anda sir.." Seketika itu Sasuke menutup laporannya dan memandang gadis di hadapannya datar, membuat Sakura lagi-lagi gugup. Aduh, kenapa sih ia harus memiliki atasan yang super duper tampan? Dan kenapa pula semua laki-laki di Konoha Police ini tampan-tampan? Membuatnya kurang berkonsentrasi pada pekerjaanya.

"Pesankan kopi dengan sedikit gula, satu paket nasi dengan sup miso ekstra tomat." Setelah mengatakan itu, Uchiha tampan namun galak itu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Membuat Sakura manyun.

Diketikkannya pesanan atasannya itu, kemudian ia sendiri memilih makanan kesukaannya. Tahu aja nih si atasan jika Sakura belum sempat sarapan. Kalau diingat-ingat, makannya akhir-akhir ini kurang teratur. Bahkan mungkin saja tidak bergizi.

Kemudian ia pun mengetikkan apa yang ia inginkan, lalu mengirimkan pesanannya melalui tablet tersebut.

"Saya telah mengirimkan pesanan kita sir.." ucap Sakura.

"Hn," Tanggapnya. Sasuke menutup laporan Sakura dan memandang gadis di hadapannya dengan wajah datar.

"Laporan mu bagus. Semua kalimat mudah diserap, selain itu sesuai dengan yang ku harapkan." Senyum merekah terbit di wajah si gadis.

"Terimakasih sir.. atas pujiannya." kata Sakura malu-malu.

Senyum sinis ditampilkan atasnanya, Uchiha Sasuke itu mendecih.

"Jangan senang dulu. Kali ini─ kau harus membaca laporan ini." dilemparkannya map merah itu ke meja.

Prak

Sakura mengambi berkas itu segera dan membukanya dengan tak sabaran. Pada halaman pertama dilihatnya data seroang gadis bernama Hatake Shizuka. Pada foto berukuran 3x4 itu menampilkan seorang gadis berhelaian hitam berkilau yang sangat panjang dengan poni serata alis.

Gadis bernama Shizuka itu bermata giok, ia cantik di tambah dengan wajahnya yang ayu. Data di bawahnya menerangkan lebih detail penampilan Shizuka.

*Nama: Hatake Shizuka.

Jenis kelamin: Perempuan.

Usia: 26 tahun.

Status: Korban.

Penampilan: berkulit putih.

Tinggi: 160 cm.

Keluarga: Hatake Kakashi ( Jabatan Mayor Jendral).

─Kemudian Sakura membalikkan halaman lainnya, data seorang pemuda.

*Nama: Sagiri (Nama keluarga tidak diketahui).

Jenis kelamin: Laki-laki.

Umur: 27 tahun.

Penampilan:

Berambut coklat panjang dengan poni yang tergantung di atas matanya.

Bermata coklat.

Tinggi 172 cm.

Status: Tersangka.

Motiv pembunuhan: Cinta.

Benar sesuai data, pada foto itu Sakura dapat melihat pemuda yang lumayan tampan. Rambutnya berwarna cokelat panjang dengan poni yang tergantung di atas matanya. Ia juga memiliki mata berwarna coklat, sekilas melihat kalian akan berpendapat bahwa orang itu adalah seseorang yang polos. Ya, wajahnya sangat polos.

Namun jika kalian menelitinya lebih lanjut, wajah itu menegaskan bahwa si pemuda adalah seseorang yang memiliki kemauan yang kuat.

Belum selesai Sakura membaca data-data itu, pintu terbuka dan menampakkan seorang bulter dengan berbagai macam makanan di meja dorongnya. Bulter itu menghidangkan makanan dengan gesit, ia pun undur diri.

Melihat makanannya siap membuat Sakura nyengir seperti orang bodoh. "Wuuahh,, aku sudah tidak sabar.. aku sangat lapar sekali.." ujarnya, mengabaikan Uchiha Sasuke atasannya yang kini memandangnya dengan dahi yang berkerut.

Pikirnya; kenapa gadis ini mudah berubah-ubah? Kadang terlihat seperti anak kecil seperti sekarang, kadang terlihat pintar, kadang terlihat bodoh, kadang menggemaskan, kadang terlihat dewasa seperti tempo hari di dalam mobil atau seperti ketika memberikan ceramah pendeknya pada gadis senior high school tempo hari.

Tentang keluarga Haruno ini.. keluarga yang cukup berpengaruh?

Ahh, jika dipikir-pikir kembali.. mereka memang seorang atasan dan bawahan. Namun diantara mereka tidak ada yang benar-benar mengenal baik. Sakura segera mengambil makanannya.

Banyak sekali yang dipesan gadis itu. Satu paket makanan khas jepang di mana satu makuk terdapat daging sapi, semangkuk nasi dengan toping irisan daging ayam goreng yang crunchy, dan ditemani dengan varian sayuran yang disiram saus teriyaki. Ada juga satu mangkuk sup kaldu ayam yang ditambahkan lada dan saus sambal oleh Sakura.

"Kau akan memakan semuanya?" tanya Sasuke heran.

"Huh? Emm.. Ya!" jawabnya ceria. "Itadakimashu."

Disantapnya hidangan itu dengan gayanya yang terlihat sekali kelaparan. Sangat tidak elit! pikir Sasuke. Harusnya seorang gadis itu punya aturannya kan ketika menyantap makanannya? Tapi gadis ini─ ahh, sudahlah! Sebenarnya apa yang dipikir oleh mu Uchiha?

Setelah mengatakan 'Itadakimashu' Sasuke pun menyantap menu sarapannya. Mereka makan dalam diam. Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti mereka. Namun, setelah selesainya acara santap menyantap makanan, Sasuke lekas memberikan pertanyaan yang sejak tadi ia tahan.

"Merah muda!" katanya. Sakura mengangkat wajahnya mendengar atasannya memanggilnya dengan nama kesukaannya.

"Ya sir..,"

Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah lain. kemudian dengan nada angkuhnya ia bertanya. "Seperti apa keluargamu?"

DHEG

Aku ingin merahasiakan segalanya, kakek. Kau dengar aku?

Jangan pernah membuat aku berada di atas hanya karena jabatanmu! Biar aku berusaha sendiri!

Tou-san, Kaa-san~ Biarkan aku tetap menggunakan nama keluarga asalku!

Tiba-tiba kedua bola matanya berair mengingat semua kata-kata yang ia lontarkan. Selain itu mendengar kata keluarga─ keluarga yang mana yang dimaksud Uchiha Sasuke?

Ahh, sayang sekali, kenyataan tentang dirinya yang memiliki dua nama keluarga harus tetap menjadi rahasia hingga semua yang ia capai atas namanya sendiri.

Melihat gadis di hadapannya yang selalu ceria itu kini berwajah sendu membuat Sasuke kelabakan. Entah kenapa hatinya berdenyut nyeri. "Hey, apa yang terjadi.. merah muda?" katanya dengan nada sedikit khawatir. Ingat! sedikit khawatir!

Gadis itu menggeleng lemah. Ia mengusap kedua matanya, lalu tersenyum, senyum yang terluka. "Keluargaku hanya orang-orang biasa, ayah adalah seorang karyawan bank dan ibu adalah seorang balerina." Katanya dengan nada yang tersendat-sendat. Karena merasa tak mampu menahan diri lebih lama lagi, tangis Sakura pun pecah di sana. Dan entah kemasukan roh apa, Sasuke bergerak dengan cepat memberikan pelukan menenangkan untuk Sakura.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke berdiri dengan wajah yang ditekuk. Kini mereka berada di tepi sungai Kosaga, hanya berdua. Hanya Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke. Dapatkah kalian menebak kenapa wajah Sasuke ditekuk sebegitunya?

Benar, semua itu karena tindakan yang dilakukannya pada Haruno Sakura satu jam yang lalu. Bukan Uchiha sekali rasanya jika ia ingat bagaimana ia memeluk Sakura dan memberikan kata-kata yang menenangkan si gadis hingga bisa berwajah ceria kembali seperti sekarang. Bahkan ketika Sasuke memandang si gadis; gadis itu langsung tersenyum cerah dan kedua pipinya bersemu merah.

Astaga!

Apa yang telah ia lakukan?

Di mana kewarasannya saat itu?

Dari mana datangnya roh kebaikan itu?

Bahkan ketika jaman high school dulu, ia tak pernah berminat sedikit pun memberikan kata-kata atau menenangkan seorang gadis yang menangis.

Sasuke jadi bergidik geli. Rasa-rasanya itu bukan dirinya sekali.

Baiklah cukup! Ini harus diakhiri, atau jika tidak kasus mereka tidak akan pernah dapat terselesaikan.

"Oke, Merah muda! Berhenti tersenyum bodoh seperti itu dan─ ber-hent-i bersemu!" katanya tajam dan penuh penekanan ditiap kalimatnya. Terutama pada kata 'Berhenti'.

"Ha i sir.." balas Sakura sambil mengulum senyumnya. Rambut merah mudanya yang panjang berkibar-kibar mengikuti arah angin. Dan Sasuke rasanya tak pernah bisa fokus jika terus melihat pemandangan yang kata orang indah itu.

"Ck.. bisakah kau mengikat rambutmu? Atau potong sajalah sekalian!" geram Sasuke membuat Sakura sedikit terperanjat.

Sial! Kenapa ia yang semula melihat gadis merah muda ini biasa-biasa saja sekarang menjadi sedikit menarik? Ingat! Sedikit! "Ini pasti ada yang salah, ya salah .. mataku bermasalah!" gumamnya pada dirinya sendiri.

Disisi lain, Sakura tengah mengikat rambunya menjadi ekor kuda dengan menyisakan beberapa helaian di pinggir kanan dan kirinya. Membiarkan jidatnya yang lebar terekspos juga lehernya yang putih bersih. Membuat Uchiha Sasuke semakin tak dapat berkonsentrasi.

Sial! Apa-apaan ini?

.

.

.

Mari kita beranjak dari perasaan Sasuke yang tak tentu itu. Kini keduanya masih di tempat yang sama. "Ini sangat serius," kata Sasuke. "Kau bisa melihat bagian mana yang terlihat janggal dari bagian lembar ketiga ini?"

"Mungkinkah bagian mereka saling mencintai, sir?" tanya Sakura.

"Tepat! Mereka saling mencintai. Baik Shizuka ataupun Sagiri. Tapi apakah benar Sagiri membunuh Shizuka? Itulah yang menjadi pertanyaannya!" kata Sasuke kesal. "Aku tak begitu mengerti cinta-cintaan seperti itu! Sial benar aku mendapat tugas yang seperti ini!"

"Sir, jika boleh tahu─ apa prinsip Anda ketika memecahkan suatu kasus?" tanya Sakura serius.

Sasuke hanya diam. Ia melirik bawahannya sekilas. Mungkin tak ada salahnya menjawab pertanyaannya ini. "Speed boat. " Balasnya .

Sakura mengangguk paham. Jadi prinsip atasannya bertolak belakang dengannya. Pantas saja Uchiha Sasuke ini sangat cepat marah ketika berhadapan dengannya, karena prinsip yang digunakannya adalah melesat secepat mungkin. Melaksanakan atau mengerjakan sesuatu dengan cepat.

Beda halnya dengan Sakura yang berpegang pada prinsip kapal selamnya. Tenang, tidak terburu-buru tapi mendalam, pasti, jeli dan cermat.

"Jika Saya─ Saya memiliki prinsip kapal selam sir.." katanya memberi tahu, "Tenang, tidak terburu-buru tapi pasti, cermat, teliti dan mendalam." Jelasnya.

"Bagaimana jika dalam menangani kasus ini─ kita menggunakan metode ku sir? Anda bilang Anda tidak mengerti cinta? Akan saya perlihatkan bagaimana cinta itu bekerja." Katanya.

.

.

.

Rasanya aneh sekali bagi Uchiha Sasuke bekerja bertentangan dengan prinsip kerjanya. Harus slow? Oh yang benar saja? Berapa banyak waktu yang nantinya akan terbuang? Berapa banyak berbagai hal yang tidak penting akan mereka lewati? Tapi─

"Saya tahu Anda tidak menyukai cara kerja saya sir.." kata Sakura, "Tapi beginilah keadaannya. Anda bisa menemukan berbagai kenyataan, tidak hanya satu peristiwa, bahkan mungkin lebih!"

"Baiklah," balasnya dengan nada tak peduli. "jelaskan cara kerjamu!"

"Dalam novel seorang Hyuuga yang pernah ku baca bahwa dalam menyelesaikan masalah kita tidak hanya harus melihat fakta-fakt─"

"HARUNO! Ini bukan serial drama atau novel yang kau baca.. tapi bagaimana cara kita menyelesaikan semua persoalan ini dan menemukan titik terangnya!"

Sakura langsung bungkam. Ia menatap atasannya takut-takut. Kenapa sih Uchiha ini tidak setenang Uchiha lainnya? Kenapa Uchiha yang satu ini cenderung meledak-ledak?

Sasuke sendiri memejamkan matanya, berusaha kembali mengendalikan emosinya. Ya Tuhan, ia sendiri bingung kemana perginya pengendalian dirinya yang hebat itu? Dan kenapa ia meledak hanya ketika berhubugan dengan gadis ini?

"Oke merah muda dengar," Sasuke menduduki bangku disekitar yang tersedia. "Kau lihat ini, fakta-fakta yang mereka temukan sebelumnya terlalu rapih. Kau mengerti maksudnya?"

"Tidak sir,"

"Begini, semua persoalan selalu menunjukkan keadaan. Melalui tanda-tanda dan bukti yang ditemukan tentu mengarah pada siapa si pelaku bukan? Sakura mengangguk. Sasuke melanjutkan. Tapi lihatlah, karena ketepatannya dan kerapihannya inilah yang membuatku bingung dan ragu. Tidak semua petunjuk biasanya mengarah pada si pembunuh. Apa kau pikir para pembunuh akan melakukan kesalahan yang begitu banyak hingga ia dapat ditemukan dengan cepat?"

"Saya rasa─ tidak sir."

"Benar," kata Sasuke mulai bersemangat. "Aku meragukan kasus ini karena semua bukti terlalu jelas mengarah pada satu orang, yaitu─"

"Sagiri sir.."

"Tepat! Maka, kita analogikan dengan novel-novel mu itu? Apa para pembunuh selalu menampakkan ciri mereka?"

"Tidak sir, mereka cenderung cerdik. Mereka membuat petunjuk yang menyesatkan para penyidik atau paling tidak, mereka membuat petunjuk ganda. Tapi ini─" Sakura menggantung kalimatnya. Matanya menyala-nyala. Ia melihat wajah atasannya yang menyeringai sangat tampan. Namun bukan itu, ia rasa─ ia tahu apa jawabannya. "Mungkinkah? Mungkinkah ada pembunuh lain, sir?" tambah Sakura antusias.

"Aku rasa itulah tugas kita sekarang!" Ucap Sasuke penuh arti. "Tapi sebelum itu, kita harus menemui seseorang yang sangat menarik perhatianku."

Dan di sinilah Sakura berada.

Di sebuah ruangan yang pengap karena ukurannya yang sempit, warna dinding yang bercat abu-abu tua, dan pencahayaan yang minim. Benar-benar ruang introgasi yang mengintimidasi. Mereka berdua mulai menduduki bangku yang telah tersedia, di hadapan Haruno Sakura telah duduk seorang pemuda dengan wajah yang polos.

Pemuda itu memiliki rambut cokelat panjang dengan poni yang tergantung di atas matanya. Pemuda itu juga memiliki iris berwarna cokelat.

Mengabaikan hal itu, Sakura segera membuka laptopnya dan siap menuliskan setiap kalimat yang keluar dari mulut kedua pemuda diruangan ini.

"Saya tidak bersalah." Kedua iris coklatnya itu bergerak-gerak liar. Wajahnya yang polos mampu menyembunyikan segala hal yang mungkin saja benar adanya.

"Kau telah membunuh kekasihmu.. Hatake Shizuka!" Ucap Sasuke dengan penuh penekanan.

"Bukan," sanggah pemuda yang ternyata bernama Sagiri itu. "Bukan aku! Aku tak melakukan itu.. dia.. dia─"

"Katakan yang sebenarnya!" Uchiha Sasuke mulai mengeluarkan aura mengintimidasinya. Dan ruangan itu semakin terasa pengap bagi siapapun yang berada di tempat.

Astaga! Bagi Sakura, tatapan Uchiha Sasuke saja sangat menyakitkan. Apalagi didukung dengan ruangan introgasi yang berukuran sempit ini, dengan keadaan dan pencahayaan remang-remang yang menambah seseorang akan tertekan secara psikologis.

"Aku.. aku sangat mencintainya. Aku bahkan tidak pernah menyangka jika kami akan berakhir seperti ini. aku kira ia akan menikah dengannya tapi.. tapi ternyata ia justru meninggal. HUUAAAA... AKU TIDAK TAHU! AKU TIDAK TAHAN DENGAN SEMUA INI! IA BAHKAN SEDANG MENGANDUNG ANAKKU! BUNUH SAJA AKU! BUNUH SAJA AKU! dan membelalaklah iris onyx dan emerlad itu mendengar kata-kata yang bahkan tidak tercatat dalam laporan itu.

.

.

.

.

.

Pernahkah kalian mendengar suatu daerah bernama Lisbon di suatu negara Portugal? Begitulah kurang lebihnya gambaran daerah Nadeshiko. Daerah kediaman dari seorang Hatake Shizuka di mana daerahnya bertempatkan di perbuktian rendah, di sebelah utara sungai Nam. Pesona daerah ini dikenal dengan masa lalu. Konon katanya di daerah ini pernah berdiri suatu istana kuno jaman samurai. Tempat ini juga tidak begitu jauh dari pusatnya kota. Hanya dengan menempuh waktu sekitar 27 menit kita bisa sampai di tempat yang kita tuju.

Di sinilah Sakura dan Sasuke berada. Berada di daerah Nadeshiko. Mereka akan melakukan sesi introgasi. Namun sebelum itu, tentunya ia telah mengantongi surat izin dari atasannya. Kini mereka bergerak ke arah rumah keluarga besar seorang Mayor Jendral bernamakan Hatake Kakashi.

Sakura memandang takjub rumah di hadapannya. Rumah seorang Mayor yang satu ini sangat berbeda dengan rumah-rumah lainnya. Rumah ini bukan rumah ala Jepang. Namun rumah ini lebih kepada rumah gaya Skandinavia. Benar-benar mengikuti perkembangan globalisasi.

Rumah yang terlihat dari luar memang simpel, tapi bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan sedikit mengenai interior global seperti Sakura akan mengetahui betapa bernilainya rumah ini.

Mengenyampingkan kekaguman Sakura pada rumah ini, Sasuke menekan bel rumah. Tak harus menunggu lama, seorang gadis ─ salah satu pelayan di rumah itu membukakan gerbang.

"Maaf?" Kata pertama yang keluar dari mulut pelayan itu. Pelayan perempuan itu bersemu merah melihat pemuda tampan di hadapannya. Ia tersenyum malu-malu.

"Ingin bertemu dengan siapa?" Pertanyaan pelayan itu menyadarkan kembali Sakura dari rasa kagumnya.

"Mayor Jendral Hatake Kakashi," kata Sasuke sambil memperlihatkan tanda pengenalnya sebagai seorang aparat kepolisian.

Pelayan perempuan itu mengangguk pelan. "A-ah, perkenalkan nama saya Ayame. Saya pelayan di sini. Ano, apa Anda sudah membuat janji dengan tuan kami terlebih dahulu?" tanyanya.

"Tidak, tapi kami harus bertemu dengannya." Tegas Sasuke. "Aku yakin dia berada di rumah bukan? Ia sudah pensiun, tentunya." Tambah Sasuke cepat.

"B-Benar sekali Tuan ─ ee─ Uchiha?" katanya sambil melirik name tag pemuda tampan di hadapannya. "Tapi ─ Tuan saya─"

"Ini sangat penting!" katanya dengan nada memaksa. "Ini mengenai Nyonya Shizuka." Bagai sebuah lonceng yang diperdengarkan sangat kencang pada indra pendengaran si pelayan, wajah gadis bernama Ayame itu memucat dan tatapannya menjadi kosong.

"Anda baik-baik saja?" tanya Sakura yang melihat perubahan ekspresi Ayame.

"Aaa─ saya baik-baik saja. Kalau begitu, silahkan ikuti saya." Mereka pun mengikuti pelayan bernama Ayame itu.

Ketika memasuki rumah, Sakura kembali dibuat terkagum-kagum dengan rumah ini. benar-benar model Skandinavia. Penataan rumahnya sangat simpel, minimalis, multifungsi namun tidak mengurangi estetika dari sebuah rumah.

Rumah ini sangat elegan yang memiliki kekentalan pada edukasi. Terlihat dari berbagai macam buku bacaan yang tertata rapih di lemari-lemari, kemudian pencahayaan yang lebih ke alami. Warna rumahnya adalah putih, seputih awan dan berbagai macam kemudahan teknologi lainnya.

"Silahkan duduk Tuan, Nona. Saya akan panggilkan Tuan besar."

Selang beberapa menit kemudian, terdengar langkah kaki yang tegas. Onyx dan emerlad itu dapat melihat seorang pria baya, tengah menuruni tangga. Pria itu berambut putih, mata hitamnya kecil, sebagian wajahnya terututupi sebuah masker, membuat kedua detektif ini tidak bisa mengenali wajah asli dari orang ini.

"Selamat siang Mayor Jendral Hatake Kakashi." Ucap Sasuke dengan nada orang-orang kemiliteran. Ia berdiri dan saling berjabat tangan. Begitupula Sakura, Ia melakukan hal yang sama.

"Selamat siang." Balasnya kalem.

Setelah berbasa-basi, Sasuke mulai memasuki perbincangan mengenai tujuan datangnya mereka kemari. Putra Uchiha Fugaku itu menjelaskan bahwa sepertinya ada kekeliruan dari pembuatan laporan yang telah dibuat oleh detektif yang menangani kasus anak dari Mayor Hatake ini sebelumnya. Mayor jendral ini menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

"Tidak heran. Kesalahan bahkan kerap terjadi di kehidupan manusia. Itu sangat manusiawi, bukan begitu?" ujar Hatake Kakashi. Sakura mengangguk dengan senang melihat Mayor Jendral itu menerima alasan mereka ingin kembali membuka kasus mengenai kematian putrinya. "Tapi─ saya tidak ingin siapapun mengungkit ini lagi. Pembunuhnya jelas telah tertangkap!"

"Saya rasa Anda terlalu─ yakin?" pernyataan Sasuke yang bernada tanya itu membuat Tuan Kakashi itu menyipitkan matanya.

"Apa maksud Anda ehh? Detektif Uchiha?"

Detektif muda itu menggeleng tegas. "Saya dengar Anda adalah seorang Mayor Jendral yang terkenal di jamannya. Jadi saya rasa harusnya Anda merasa curiga dengan semua kenyataan ini?" Sasuke menyodorkan copyan laporan catatan kematian putri Kakashi beserta pelaku pembunuhan. Ia melanjutkan─ "Saya rasa, meskipun Anda bukan dari bagian penyelidikan seperti kami berdua, Anda dapat menebak dan dapat memahami situasi. Tidak langsung menerima begitu saja laporan yang telampau jelas siapa si pelakunya."

"Anda merendahkan Saya?" nada dari Mayor Jendral Hatake itu mulai tidak bersahabat. Menyadari aura-aura yang tak mengenakan dari keduanya, Sakura berusaha menengahi.

"Ahh, Tuan Hatake.., bukan maksud kami berkata kasar. Tapi kami memiliki surat perintah untuk menyelidiki ulang kasus tersebut. Kami tidak ingin ada kesalahan dan kami ingin lebih meyakin─"

"Meyakinkan apa Nona? Saya rasa semuanya telah jelas!" tukasnya.

Sasuke menyeringai. "Saya lebih suka jika Anda mengizinkan kami melakukan penyelidikan ulang. Jika tidak─ saya justru meragukan Anda. Apakah Anda orang yang ada dibalik kematian putri Anda ini?"

"APA? KAU─" Mayor Jendral Hatake itu menyembunyikan kedua bola matanya. Mencoba menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Baiklah!" akhirnya!

"Baiklah! Kalian berhak melakukan penyelidikan ulang! Tapi jika semuanya benar, maka kalian akan Saya tuntut!" dengan itu Mayor Jendral Hatake itu meninggalkan ruangan. Namun, sebelum benar-benar pergi.. ia menambahkan, "Kalian boleh melakukan introgasi pada siapapun yang kalian mau! Dan gunakan ruangan yang akan diarahkan oleh Ayame." pernyataan itu membuat semakin mengembang seringai di wajah si tampan Uchiha Sasuke

.

.

.

.

.

"Terimakasih Nona Ayame telah bersedia melakukan sesi tanya jawab bersama kami." Ujar Sakura ceria. Namun Ayame nampak gelisah. Wajahnya terus bersemu merah menatap ragu-ragu pada Sasuke.

Membuat Sakura sedikit kesal.

"Tidak perlu takut atau gelisah. Anggap saja kita hanya sedang mengobrol biasa. Ini hanya berbicara seputar Nyonya anda yang cantik itu." Kata Sakura tetap ramah.

"Nyonya muda Saya," gumamnya.

"Benar. Sebelum itu ceritakan tentang keluarga Hatake itu." titah Sasuke tegas.

Gadis bernama Ayame itu sedikit bingung, ia seperti sedang merenungkan sesuatu. "Nyonya muda Hatake adalah nyonya yang baik. Ia adalah putri satu-satunya di keluarga Hatake. Tuan Hatake memiliki tiga putra dan semuanya bekerja di kemiliteran. Putra pertamanya adalah Hatake Yamato, putra keduanya Hatake Son dan Putra ketiganya adalah Hatake Zaku. Mereka semua adalah kapten. Setelah beberapa tahun.. katanya, barulah lahir Nyonya muda kami. Nyonya Hatake Shizune adalah istri sah dari Tuan besar─"

"Apa maksudmu mengenai istri sah? Apa artinya ada istri tidak sahnya? " Sasuke kembali bertanya.

"A-aah, bu-bukan begitu. Anda tahu b-bukan bahwa orang-orang pemerintahan apabila menikah akan ada pernikahan pemerintahan lagi. Yang mana artinya mereka tidak bisa menikah lagi, meskipun ingin dan─"

"Dapat dimengerti. Lanjutkan!"

"Y-ya..," Ayame nampak ketakutan. Atasan Sakura itu tak membiarkan sedikitpun terlewatkan. Gadis bernama Ayame itu melanjutkan dengan nada pelan sekali. "Tapi seperti yang Anda ketahui bahwa seorang laki-laki selalu memiliki wanita lain di hatinya dan─ dan─"

"Dan apa?" desak Sakura membuat Ayame dan Sasuke terjengit. Terutama Sasuke. Ia tak menyangka gadis merah muda ini tertarik dengan kisah cinta mayor tua itu.

"Dan Tuan menikah lagi. Tentunya tidak tercantum dalam buku kenegaraan. Itulah menurut ornag tua saya. Saya yakin jika anda bertanya pada orang tua saya atau yang lainnya bahkan tuan Hatake sekalipun, mereka tidak akan mengaku. Karena mereka sangat setia pada tuan. Termasuk saya." Bisiknya.

"Kau tidak setia! Kau baru saja membeberkan rahasia besar yang mungkin saja akan merubah semua laporan kasus pembunuhan ini!" sentak Sasuke. Membuat Ayame menangis.

Sakura yang mengerti hati seorang gadis mencoba menenangkan. "Saya.. saya tidak bersalah, saya hanya menjalankan apa yang Anda perintahkan. Tapi mereka yang sebelumnya tidak seperti itu. Mereka hanya bertanya seputar kisah cinta antara Nyonya muda bersama kekasihnya itu─ Sagiri? Ya Sagiri. Juga melakukan penyelidikan seputar itu itu saja." Ujarnya disela tangisannya.

Mendengar penuturan semua itu membuat Sasuke berdecak. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang. Ternyata detektif yang menangani kasus ini sebelumnya benar-benar payah. Dilihat dari siapa yang menyelidiki tercantum nama Uchiha Hikaku.

"Pantas." Gumam Sasuke. "Meskipun seorang Uchiha, orang itu tak pernah menunjukkan kelasnya."

Ia melanjutkan, "Kau tahu bahwa Nyonya muda mu tengah mengandung?"

"A-apa? A-aku tidak tahu." Katanya berdusta. Sasuke tahu itu. Gadis ini berdusta. Kemudian Sasuke memberikan kode pada Sakura untuk melakukan sesi introgasi pada anggota rumah yang lainnya.

"Untuk saat ini cukup." Sakura berkata dengan nada ramah. "Saya harap Nona tidak tersinggung dengan perkataan kami. Karena ini semua demi mendapatkan kebenaran dari kasus ini. Anda tahu bukan bahwa Nyonya muda Anda tidak akan senang di alam sana jika pelaku sesungguhnya tidak ditemukan dan justru kekasihnya sendirilah yang harus mendekam di penjara." Mendengar penuturan Sakura, Ayame semakin menangis. gadis itu keluar ruangan dengan tergesa.

"Saya tidak mengerti mengapa ia begitu sedih sir.., menurut Anda apa ada sesuatu yang salah?"

"Banyak sekali kesalahan. Misalkan saja jika di sini kita memperkirakan karena cinta yang terhalang status sosial. Mungkin saja kenyataannya lain. Mengingat kita tidak tahu siapa pembunuh yang sebenarnya. Mungkinkah salah satu di antara Hatake bersaudara? Mungkinkah Ibu tirinya? Mungkinkah salah satu di antara pelayan? Mungkinkah orang lain? atau mungkin juga ─ Mayor Jendral sendiri?"

Perkiraan yang dilontarkan atasannya itu membuat Sakura menganga tak percaya. "Jadi anda mencurigai semua anggota keluarga? Bahkan Mayor Jendral?"

"Kenapa tidak?"

"Tapi mereka adalah adik dan kakak, juga Tuan Hatake adalah ayahnya Nona Shizuka. Tidak mungkin orang tua melakukan─"

"Mungkin saja. Banyak faktor yang bisa terjadi. Maka dari itu diam dan amati setiap gerak gerik dari mereka. Jangan percayai apa yang mereka kataakan begitu saja, tapi percayai apa yang kau pikirkan dan menjadikannya sebagai kemungkinan paling baik."

"Selanjutnya adalah Ichiraku." Ia─ Haruno Sakura, merasa ingin sesegera mungkin mendapatkan kasus menantangnya. Melakukan penyelidikan-penyelidikan, memperkirakan segala sesuatu. Kemudian sekarang, Tuhan telah mengabulkan keinginannya, setelah ia diberikan kesempatan untuk menyelesaikan suatu kasus, Sakura ─ merasa takut dan tidak percaya diri.

Kemampuan Uchiha Sasuke begitu luar biasa dalam memperkirakan segala sesuatu. Ia pemimpin yang tegas dan memiliki aura mengintimidasi. Dan Sakura lebih takut juga malu untuk berdiri di samping seseorang yang begitu hebat seperti atasannya ini.

.

.

.

Selanjutnya introgasi dilakukan pada Ichiraku, seorang pelayan yang bertugas sebagai koki rumah itu. Pelayan yang bertugas sebagai koki di rumah itu adalah sosok yang besar dan tangguh. Wajahnya sudah tak muda lagi, bahkan lebih tua dari Mayor Jendral Hatake itu.

"Terimakasih Tuan sudah bersedia melakukan sesi introgasi ini. seperti yang Anda ketahui ini hanya sekedar formalitas." Ucap Sakura dengan nada ramah. Pria bernama Ichiraku itu mengangguk tanda mengerti. Kini gilirian Uchiha Sasuke yang melanjutkan.

"Bagaimana pandangan anda mengenai keluarga Hatake ini?"

Saat itu juga Tuan bernama Ichiraku menceritakan mengenai kisah awalnya bekerja di rumah ini. Ia menceritakan sewajar-wajarnya mengenai keluarga Hatake. Tidak banyak yang ia katakan. Ia hanya memberika keterangan yang sangat sedikit sekali.

"Dapatkah Anda mengingat menu makan apa yang Anda masak ketika kejadiaan naas tersebut?"

Tuan Ichiraku itu terdiam. Ia sedikit berpikir, "Tidak. Saya tidak mengingatnya." Sasuke menyeringai, tapi ia hanya mengangguk.

Dilanjut dengan ibu dari Ayame atau Nyonya Ichiraku, yang sama tidak memberikan banyak informasi. Bahkan terkesan tidak membantu sama sekali. Benar juga kata Ayame, bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dari orang tua ini, karena alasan kesetiaan.

Bahkan cerita mengenai pernikahan kedua tuan Hatake juga kabar mengandungnya Hatake Shizuka pun tak terungkit sama sekali. Sehingga segera Sasuke menyudahi sesi tanya jawab itu.

"Saya rasa cukup untuk hari ini" Ucap Sasuke pada Mayor Jendral Hatake. "Saya harap pemanggilan selanjutnya pada Hatake bersaudara dapat terpenuhi."

"Akan saya perintahkan mereka untuk datang dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai kakak dari Shizuka."

"Tentunya." Balas Sasuke datar.

"Ahaha.. " Sakura tertawa canggung mendengar nada bicara dari kedua laki-laki ini. "kalau begitu, kami undur diri. Terimakasih atas kerjasamanya Tuan."

.

.

.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Sasuke ketika mereka memasuki mobil, menuju markas mereka.

"Aku rasa tidak ada yang bisa membantu sir.., mungkin itu juga yang membuat Uchiha Hikaku-senpai kesulitan dalam mencari informasi mengenai pelaku lain."

"Benar, tapi keterangan Ayame yang sedikit itu bisa mengubah segalanya."

"Saya rasa kita harus menemukan Nyonya Hatake itu Sir.. karena─ entah kenapa saya merasa ia banyak tahu. Sehingga keberadaannya disembunyikan."

Sasuke tersenyum, senyum yang sangat tulus. Satu tangannya mengarah ke kepala Sakura dan mengacak-acaknya di sana. "Aku setuju denganmu." Dan Haruno Sakura merasakan denyut nadinya berpacu sangat kencang.

Di samping Sakura, Uchiha Sasuke akhirnya menyadari sikapnya yang melunak pada si gadis merah muda itu, membuatnya tersentak dan melepaskan tangannya dengan tergesa.

"SHIT! umpatnya.


.

.

.

.

.


TBC─


A/N:

Tidak sempat balas reviews, yang pasti fic ini mungkin akan terasa membosankan. Karena penyelidikan yang mengikuti prinsip kapal selam. Selain itu, dhe-chan rasa minna-san tidak terlalu asing pada Shizuka dan Sagiri. Mereka ada pada film Naruto di episode sekitar 235. Jadi bagaimana tanggapan minna-san tentang kasus ini? benarkah pembunuhan? Siapakah kira-kira yang membunuhnya? Ayo kita memperkirakan siapa kira-kira di antara mereka ^_^ terakhir, maaf untuk segala keanehan & typo ^_^


.


Mind to reviews?


.


Kuningan, 01 Juli 2017