.

.

.


'Murder In Konoha'

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Hyuugadevit─Cherry

[Uchiha Sakura & Uchiha Sasuke]


.

.

.


Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Sakura. hal itu dikarenakan setelah ia mendapatkan kasusnya, makan bersama atasannya, mendapatkan pelukan menangkan darinya, dan yang terakhir adalah perlakuan atasannya yang semakin hari semakin membuatnya nyaman. Andai saja sejak awal atasannya yang bernama Uchiha Sasuke itu mau bersikap baik seperti ini padanya, pastilah ia sejak awal menyadari bahwa ia tertarik untuk mendapatkan seniornya itu. Ayolahh! Sakura bukan remaja yang selalu bertanya-tanya perasaan apa yang baru saja ia rasakan. Perasaan yang bergejolak, perasaan yang memaksanya untuk terus ingin bersama atasannya itu.

CINTA!

Satu kata itu adalah kata yang sangat terkenal dikalangan para kaum hawa. Dan pada akhirnya, setelah sekian lama ia berharap mengalami hal yang sering dialami para remaja kebanyakan, kali ini ia diberikan kesempatan seperti itu.

"Aku mencintainya," gumam Sakura sebelum ia benar-benar menyelami alam mimpinya. "Ya, aku mencintai Uchiha Sasuke." Ia pun tersenyum malu-malu. Lalu pergi mengarungi alam bawah sadarnya.


.

.

.


Mataharipun kembali menampakkan dirinya pagi ini.

Sakura telah siap dengan roti panggang beserta keju di antara dua buah roti yang kini digenggamnya. Disantapnya roti keju itu sambil memasuki bus. Setiap harinya menuju kantornya Sakura akan menaiki kendaraan umum ini. Atau jika waktu menunjukkan masih sedikit lebih pagi, ia akan berjalan kaki. Namun, kali ini ia ingin segera sampai di kantor untuk menemui.. ehem─ orang itu─ Uchiha Sasuke.

Mengingat nama atasannya, membuat gadis merah muda itu membayangkan wajah atasannya yang tampan. Ia tersenyum dan tertawa ringan ketika mengingat wajah atasannya yang tampan, kemudian ekspresi merengutnya, ekspresi ketika mengumpat dan berbagai ekspresi lainnya.

Ahh, betapa Tuhan sangat baik padanya memberikan banyak pemuda dan pria di sekitarnya. Tapi tetap saja baginya hal yang paling membahagiakan adalah ketika ia jatuh cinta pada atasannya itu. Sungguh suatu perasaan yang luar biasa.

Tak lama kemudian bus pun berhenti. Sakura tersadar dari berbagai imajinasi bersama atasannya itu. Ia menuruni bus dan berlari-lari kecil menuju kantornya. Satu suapan terakhir rotinya pun kini telah ia telan bulat-bulat ketika melihat atasannya yang super duper ganteng itu sudah berdiri tegak dengan rambut mencuatnya yang membuatnya terlihat keren. Onyx indahnya melihatnya sejak detik ini dengan tajam? What? Ada apa ini sebenarnya? Kenapa senior itu menatapnya tajam? Kenapa wajahnya kini tertekuk? Kenapa kedua alisnya menukik tajam?

Gadis Haruno itu memperlambat lari-lari kecilnya, lalu melirik jam tangannya. Semuanya biasa saja, bahkan masih ada waktu beberapa belas menit menuju jam kerjanya. Namun, kenapa atasannya itu melihatnya seolah ia─ telat?

"S-sir.." Sakura bersuara dengan nada gugup. "Ohayo, "

"Hn." Katanya sambil berlalu. Membuat Sakura merasa serba salah. kesalahan apa sih sebenarnya yang ia lakukan?

"Maaf Sir, apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Sakura to the point, sambil mengimbangi langkah kaki atasannya yang temperamen.

"Tidak."

"Lalu, apakah Saya─ "

"Diam dan ikuti saja." Tegasnya membuat Sakura mau tidak mau harus mengikuti kemauannya.

Keduanya terus berjalan dan memasuki ruangan yang belum pernah Sakura masuki. Melihat bawahannya yang terlihat bingung, Sasuke langsung menjelaskan bahwa ruangan tersebut adalah ruangan tempat seluruh anggota kepolisian unit khusus seperti mereka berkumpul dan merencanakan sesuatu.

"Jadi─ apakah kita akan merencanakan suatu taktik atau semacamnya, Sir?" tanya Sakura dengan wajah yang bersemu. Bagaimana tidak bersemu, bayangkan saja jika kalian berduaan saja dengan orang yang kau sukai.. tentunya apa yang kita katakan pun bahkan terkadang kacau.

"Menurutmu?" Sasuke memandang bawahannya dengan wajah dingin. Melihat perubahan sikap yang sangat berbeda dari pada tempo hari membuat hati Sakura tercubit. Apakah ia terlalu percaya diri karena merasa atasannya itu mulai bersikap baik padanya?

"Dengar, surat izin melakukan introgasi untuk tiga putra juga Mayor Jendral Hatake telah keluar. Bahkan balasan dari Jendral senior itu berbunyi mereka siap melaksanakannya hari ini juga."

Sakura menganga mendengar penuturan atasannya itu. "Jadi─ hari ini ─ kita akan melakukan sesi introgasi kembali?" atasannya menganggukkan kepala.

"Dimana kita akan melakukannya, Sir?"

"Kita yang akan mengunjungi kediaman mereka. Karena di sana kita akan mendapat banyak hal menarik." Seringai andalannya terbit, membuat Sakura semakin tidak mengerti. Sungguh atasan yang penuh misteri.


.

.

.


27 menit perjalanan menuju daerah Nadeshiko pun kembali ditempuh oleh kedua detektif Konoha ini. perjalanan yang merefresh otak, karena sepanjang jalanan mereka disuguhi dengan pemandangan serba hijau dari pohon-pohon yang rindang.

Namun, sepanjang perjalanan itu Sakura sama sekali tidak menikmatinya. Ia masih bertanya-tanya kenapa atasannya itu kembali bersikap dingin padanya. Tidak ada Uchiha Sasuke yang manis seperti tempo hari. Jadi sepanjang perjalanan ia hanya diam dan merenung. Ia mungkin tidak seharusnya bersikap sok ceria atau baik di hadapan Uchiha Sasuke ini. Ia memang tidak akan bisa menaklukan hati sedingin kotak es itu.

Di samping Sakura, Sasuke merasakan betul perubahan pada gadis di samingnya. Sikap ceria , cerewet si gadis hilang entah kemana. Biasanya seperti yang sudah-sudah gadis ini akan terus berbicara, membuatnya kesal atau apalah. Tapi kali ini mereka saling diam dan itu membuat Sasuke sedikit tidak nyaman. Keheningan itu terus berlanjut hingga kini mereka sampai di kediaman Mayor Jendral Hatake. Seperti biasanya, Sasuke menekan bel dan Ayame membukakan gerbang dengan senyum malu-malunya, tak lupa wajahnya yang bersemu merah.

Gadis bernama Ayame itu membuka suara, "Selamat pagi Tuan Uchiha. Tuan besar dan anggota lainnya sudah menunggu anda." Ucapnya dengan nada yang dibuat-buat. Sungguh! Sakura sangat kesal! Kesal yang bertambah-tambah! Dan .. oh ayolah, di sini tidak hanya ada Uchiha Sasuke, tapi bersamanya ─ Haruno Sakura! Lalu kenapa hanya Uchiha yang disambut?


.

.

.


Kediaman Mayor ini tetap sama dengan apa yang ada diingatan gadis merah muda itu. Tetap rapih dan bersih. Sasuke dan Sakura memasuki ruangan keluarga. Keduanya disambut oleh Mayor Jendral beserta ketiga putranya dengan tambahan seorang perempuan yang katanya menantu keluarga ini.

"Selamat datang detektif Uchiha dan detektif Haruno, silahkan duduk. Bagaimana perjalanan kalian kemari?" Mayor tua itu berbasa-basi yang ditanggapi dengan anggukan singkat oleh Sasuke. Sementara Sakura siap mengeluarkan suaranya. Ia bukan tipe orang yang bisa mengabaikan kebaikan orang tua.

"Selamat pagi Mayor Jendral dan semuanya. Perjalanan kami sangat luar biasa, seperti biasa .. pemandangannya sangat memukau." Balasnya menggebu.

Satu pemuda dari tiga bersaudara ini berbicara dengan suara yang tak kalah antusias, "Ahh, perjalanan kemari memang indah bukan? Pemandangannya sangat indah detektif. Ngomong-ngomong.. perkenalkan namaku Hatake Son."

Hatake Son adalah putra ke dua dari Mayor Jendral Hatake. Ia adalah seseorang yang memiliki tinggi sama persis dengan sang ayah. Memiliki rambut yang sama persis dan wajah yang tampan dengan kulit yang sedikit putih kemerahan karena kenyang dengan sinar cahaya matahari ketika bertugas dilapangan. Sakura dan Sasuke memperkirakan bahwa wajah Hatake Son merupakan gambaran persis dari Mayor Jendral Hatake Kakashi ini.

Son mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Sakura tanpa memedulikan aura menyeramkan dari atasannya. "Anda sangat cantik." Pujinya sambil duduk kembali ke tempatnya. Mungkin hanya sekedar gombalan belaka, Sakura pun hanya menanggapi nya dengan senyum tipisnya.

Mayor Jendral Hatake kembali bersuara. "Saya tidak akan memperkenalkan mereka satu-persatu. Biarkan mereka memperkenalkan diri mereka sendiri pada Anda. Saya sudah menyiapkan satu ruangan untuk kalian melakukan introgasi. Silahkan dilihat apakah sesuai dengan keinginan anda atau tidaknya. Di sana sama sekali tidak ada hal-hal semacam penyadap atau alat perekam. Semuanya aman. Mari!"

Diikutinya langkah kaki Mayor tua itu.

Ketika memasuki ruangan, mereka mendapati ruangan yang lumayan luas. Bercatkan putih dengan dekorasi yang sangat kalem dengan jendela yang menjorok ke luar. Di sana hanya ada satu buah meja persegi berukuran sedang. Dua kursi memberlakangi jendela dan satu kursi yang menghadap jendela.

"Ruangan apakah ini?" tanya Sakura dengan ramah. Seperti ruang belajar atau ruang kerja?

Ruang belajar biasa. Tanggap Mayor Tua itu datar.

Beda halnya dengan Sakura yang langsung menduduki salah satu bangku, Uchiha Sasuke masih berdiri dan mengelilingi sekitar ruangan dan ia tiba-tiba menghampiri Mayor Tua itu dengan wajah yang semakin dingin.

"Saya tidak ingin melakukan introgasi di ruangan ini." tegasnya. "Bolehkah saya menggunakan ruangan tempat terjadiya perkara atau kamar putri anda sebagai ruangan untuk sesi ini?"

Mayor Hatake itu mengrenyitkan dahinya tak mengerti, "Apa maksud anda? Apa anda mengira tempat ini kami sadap?"

"Tidak sama sekali."

"Lalu?"

"Saya ingin menggunakan ruangan itu dengan atau tanpa persetujuan anda!"


.

.

.


"Saya bersedia diminta keterangan sebagai orang pertama. karena pada pertemuan sebelumnya─ saya benar-benar masih dalam keadaan yang tertekan ketika mendengar kasus putriku yang sudah tenang di alam sana kembali di buka." Tutur Mayor Jendral Hatake pada kedua detektif yang kini telah duduk di hadapannya─ di ruangan tempat terjadinya perkara

Ruangan yang katanya kamar dari Hatake Shizuka merupakan rungan yang benar-benar luas. Ada meja belajar, ada sofa untuk menerima tamu pribadi, ada alat-alat elektronik yang dapat digunakan oleh penghuni, ada sebuah dipan yang sangat elegan, sebuah pintu menuju kamar mandi dan pintu yang lain adalah sebuah lemari pakaian. Ruangan itu juga didominasi oleh warna violet. Ada juga sebuah jendela berukuran sangat besar dengan kaca yang dapat dibuka dari dalam.

"Tentu saja Mayor Jendral. Anda bisa memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya. Mohon untuk tidak menyembunyiakan apapun. Karena─ ini akan sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang." Tegas Sasuke.

Mayor jendral itu menyeringai di balik maskernya. "Saya akan mulai dengan putriku. Ia adalah sosok yang sangat ceria. Dia gadis yang cantik dan manis. Gadis harapan keluarga Hatake. Putri bungsuku itu sangat kami sayangi, terutama mendiang istriku─ "

"Siapa istri anda?"

"Hatake Shizune. Dia adalah wanita terhormat. Ibu dari keempat anakku. Ia meninggal ketika Shizuka berumur 10 tahun." Sakura mencatat semua yang diucapkan oleh mayor jendral ini. tak lupa mereka mempersiapkan alat perekam.

"Silahkan lanjutkan." Kata Sasuke.

"Kematian Shizuka 1 tahun yang lalu adalah luka besar yang sangat menyayat hati kami. Kami sangat puas ketika detektif Konoha akhirnya berhasil menemukan pelaku pembunuhan putriku." Kedua bola mata Mayor Jendra bernama Kakashi yang kecil itu semakin menutup seolah kembali mengenang masa itu. Nada suaranya pun menjadi dingin, "Putriku adalah seorang sarjana hukum. Ia gadis terhormat yang ketika menyelesaikan suatu kasus persengketaan tanah, ia harus bertemu dengan pemuda bejat bernama─ siapa dia namanya? ─ Sagiri? Ya betul! Dia Sagiri." geramnya.

"Jadi mereka bertemu ketika putri anda bertugas sebagai pengacara yang menyelamatkan persengketaan tanah?" tanya Sakura.

Pria baya itu mengangguk, "Benar. Tapi sial sekali putriku itu! Gadis polos itu jatuh cinta dan dimanfaatkan oleh orang itu. Kemudian mereka menjalin hubungan," katanya dengan nada tak suka. "Tentu anda tahu detektif. Kita adalah orang orang terhormat, berpendidikan, dan bermartabat. Tapi kenapa harus menikahkan putri kami yang sempurna itu dengan pria bejad macam Sagiri? Ia menghasut putriku! Ia menginginkan harta kami! Karena saya terus menentang pernikahan mereka, si Sialan Sagiri itu membunuh putriku!" jelasnya meledak-ledak.

Sakura mengangguk. Ia segera mencatatkan semuanya. Sementara Sasuke masih memandang Mayor tua itu. "Apakah anda menikah lagi setelah kematian nyonya Hatake Shizune?" mendengar pertanyaan tiba-tiba yang diluar prediksinya, kedua bola mata Mayor tua itu sedikit membesar. Namun dengan segera ia berhasil mengendalikan dirinya.

"Tidak." Jawabnya tegas.

"Tentu saja anda tidak benar-benar menikahinya. Kita sama-sama bekerja dipemerintahan jadi tahu akan hal-hal yang tidak diperbolehkan─ "

"Saya bilang tidak, tentunya tidak pernah terjadi!" sergahnya. "Saya sangat mencintai mendiang istri Saya. Hanya dia satu-satunya ibu dari anak-anakku!"

"Baiklah, kalau begitu untuk saat ini cukup." Mayor tua itu pun meninggalkan ruangan.

Sakura memandang atasannya dengan ragu-ragu.

"Sir," katanya.

Sasuke meliriknya sekilas. "Hn."

"Anda marah padaku?"

Mendengar pertanyaan konyol dari bawahannya ini membuat Sasuke tersentak. Apa-apaan katanya? Marah? Tentu saja tidak. Bagaimana bisa ia marah pada gadis yang ia rindukan setelah satu hari tidak berjumpa karena jadwal libur? Rindu? Ya Sasuke rasa ini gila, tapi ia juga tidak mengerti kan hal ini. Dan ketika ia datang pagi-pagi sekali hanya untuk segera bertemu Haruno Sakura, gadis itu pun datang sedikit lebih pagi dari pada biasanya.

Tentunya itu merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan. Kemudian ia tersadar dari pemikirannya itu. Kenapa ia jadi seperti itu? Kenapa ia ingin sekali bertemu gadis merah muda ini? dan merasa─ bahagia? Ia juga mengingat bagaimana ia sangat lembut pada gadis ini. Maka dari itu, Sasuke kembali membangun tembok di antara mereka, kembali bersikap dingin dan acuh. Tapi, ia kehilangan semangat dan keceriaan dari si gadis..

"Ti─ "sebelum Sasuke sempat menyelesaikan kalimatnya, seorang pria datang dengan wajahnya yang tegas. Inilah mungkin gambaran orang-orang kemiliteran yang sejati. Sakura kembali pada catatannya dan Sasuke kembali ke mode detektifnya.

"Selamat pagi Tuan Hatake. Kami di sini akan melakukan introgasi sebagai formalitas saja," mulai Sakura ramah. Tuan Hatake itu mengangguk. "Baiklah, mari kita mulai dengan data pribadi anda. Seperti nama dan hal-hal yang sekiranya dapat anda beritahukan pada kami."

"Nama Saya Hatake Yamato. Putra pertama dari Hatake Kakashi dan Hatake Shizune. Saya mengabdi pada negara sebagai tentara angkatan darat, pangkat kapten." Terangnya

Seseroang di hadapan Sakura dan Sasuke ini merupakan sosok yang benar-benar memiliki wibawa, sangat cocok dengan pangkatnya, yakni seorang kapten. "Saya akan berbicara langsung saja bahwa keluarga saya ini sedikit bermasalah. Karena kami memang orang-orang berpendidikan sehingga sedikit masalah saja akan berakibat fatal. Termasuk hubungan asmara antara adik saya─ Shizuka dengan Sagiri. Tapi perlu anda ketahui bahwa kami telah menyelesaikan kasus ini dengan sebaik-baiknya." Katanya dengan tegas. Setiap kalimat yang terlontar seolah memiliki penekanan yang luar biasa. Jika orang-orang yang berhadapan dengan orang ini adalah orang biasa-biasa saja atau pemula seperti Sakura saat ini.. pastilah mereka akan berjengit atau apalah itu.

Tapi yang dihadapan Hatake sulung ini adalah seorang Uchiha Sasuke yang tak kalah dengan orang-orang militer berkepribadian yang tegas dan keras kepala.

"Kalau begitu bisa anda jelaskan bagaiamana kedekatan antara anda dan adik anda itu?" mendengar pertanyaan dari seorang detektive muda namun bermata tajam itu membuat Yamato tertawa datar.

"Baiklah.. baiklah. Sesuai keinginan kalian aku akan mengikuti kemuan kalian." Katanya informal. "Kami tidak dekat."

"Hanya itu? tanya Sakura kaget.

Hanya itu."

"Lalu bagaimana dengan saat kejadian itu terjadi? Dapatkah anda menceritakannya?" Onyx Sasuke meneliti orang di hadapannya.

"Aku tidak dekat dengan adikku itu. Tapi aku menyayanginya. Hari itu kami semua berkumpul dan memperingati hari kematian ibu kami. Shizuka hari itu memang terlihat aneh dan gelisah. Ia hanya mengatakan bahwa ia mencintai Sagiri. Gadis polos itu meminta keluarga ini mempertimbangkan Sagiri agar kami mau menerimanya. Kami memang berniat untuk mempertimbangkan hal itu. Tapi seperti yang anda ketahui, gadis bodoh itu meninggal ditangan orang yang ia cintai." paparnya datar.

"Waktu kematian diperkirakan sekitar pukul 23.00 waktu Konoha.. di mana anda saat-saat waktu itu?" tanya Sasuke lagi.

Ia mengedikkan bahunya acuh. "Waktu sekitar itu, baik aku, Son, Zaku dan ayah tengah bercengkrama di teras depan."

"Adakah yang anda curigai selain Sagiri di rumah ini?" kali ini Sasuke bertanya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan muka pria Hatake ini.

"Omong kosong!" balasnya tajam.

"Baiklah, untuk saat ini cukup. Bisakah kami bertemu dengan istri anda?"

"Terimakasih. Akan saya panggilkan dia." Pria itu berdiri, namun sebelum ia benar-benar keluar ia berkata, "Anda tidak akan mendapatkan apapun istriku.!"


.


Kali ini yang datang adalah seorang wanita yang dapat kedua detektive Konoha ini tebak bahwa ia adalah seorang wanita yang berasal dari kalangan terhormat.

"Perkenalkan, nama Saya Hatake Yukimi." Ia memperkenalkan diri dengan berojigini. Yang mana sikap Yukmi membuat Sakura langsung bangkit dan balas berojigini. "Mohon kerjasamanya." Balasnya ceria.

Wanita itu tersenyum tipis. Kemudian ia duduk dengan sangat anggun. Hatake Yukimi ini memiliki kulit yang putih dan rambut yang bergelombang berwana coklat. Dia memiliki iris berwarna biru serta terdapat bintik-bintik di bawah matanya.

"Baiklah Nyonya Hatake. Kami akan memulai sesi introgasi sebagai formalitas. Apakah anda bersedia kami minta keterangan dengan sejujur-jujurnya?" mulai Sakura sangat halus.

"Tentu," balasnya. "Dari mana Saya harus memulai?"

"Bagaimana pandangan anda mengenai Shizuka?" tanya Sakura ceria.

Tapi Sasuke tidak seperti itu, pemuda dingin itu berkata dengan nada dingin sekali, "Ceritakan saja mengenai hari kematian adik ipar anda itu." Membuat Sakura sedikit menyikutnya karena berbicara seperti itu pada seorang wanita. Yang tentunya langsung di hadiahi tatapan tajam dari seniornya itu.

Perubahan wajah yang anggun dan tertata itu pun berubah. Matanya yang biru itu bergerak-gerak tak tentu arah. Namun sedetik kemudian ia nampak mampu kembali menguasai dirinya.

"Tidak banyak yang dapat saya ceritakan." Mulainya. "Karena kami─ maksudku, aku dan suamiku tidak tinggal di sini. Ahh, tapi semua putra di rumah ini memang pergi bekerja bukan? Jadi aku tidak begitu mengenalnya. Aku hanya tahu bahwa Shizuka adalah anak yang cantik dan baik. Mungkin sesekali ia akan manja, itu wajar karena ia anak perempuan satu-satunya dan semua keluarga ini mencintainya."

"Begitukah?" tanya Sasuke dengan nada mengejek. "Apa anda juga menyukainya?"

"Sir.." Sakura melotot.

"Apakah kau juga menyukai Shizuka?" ulang Sasuke dengan nada keras ketika melihat raut wajah menantu Hatake itu berubah.

"Aku sudah bilang.. semua mencintainya. Termasuk─ "

"Siapa saat itu yang menemukan jasad pertama kali?" Sasuke kembali bertanya.

Nampaknya menantu Hatake itu kesal pada tingkah detektive muda ini. Sungguh sikapnya membuatnya tidak nyaman. "Tentu saja penajag─ anya." Jawabnya spontan dengan nada rendah di belakangnya. Membuat seringai Sasuke nampak di wajahnya yang tampan itu.

"Kalau begitu terimakasih Nyonya Hatake. Untuk saat ini anda sangat membantu." Kata Sasuke masih dengan seringai andalannya.

Menantu Hatake itu berdiri dengan wajah yang sangat kesal, kemudian ia pergi dengan tergesa. Sementara itu Sakura masih dengan keterkejutannya.

"Lihat? Satu langkah lebih maju. Kita menemukan fakta yang tak terdapat pada hardcopy ini!." Sasuke menatap bawahannya dengan seringai andalannya. Sakura terdiam. Kenapa juga seniornya ini terus menyeringai padanya. Kan jadi tidak konsentrasi.

Selanjutnya datang lagi seorang pemuda dengan wajah yang sangat ceria. Berbeda dengan Hatake sulung, juga Hatake tua. Kali ini yang datang adalah Hatake Son, yang jelas-jelas sangat tertarik pada Sakura. Tentunya hal ini membuat Sasuke tidak nyaman. Entahlah, ia tak suka dan merasa aneh saja. Masa ada anggota kemiliteran yang seperti ini. pikirnya.

"Hai, Nona Sakura. aku panggil kau begitu saja ya?" katanya dengan nada ceria. Sakura tersenyum sumeringah. Nampaknya kedua orang ini adalah kombinasi dua orang yang ceria. Membuat aura Sasuke yang mendingin pun tak terasa karena hangatnya kedua orang ini.

"Tentu saja. Silahkan duduk." Sakura mempersilahkan dengan antusias. "seperti yang anda ketahui bahwa kami akan melakukan tahap yang sangat penting. Jadi ─ berikanlah kami fakta-fakta bukan sesuatu yang tidak benar."

"Wahh.. Kau tidak mempercayai aku?" tanyanya dengan wajah yang pura-pura terluka.

"Langsung saja. Ceritakan mengenai korban dan di mana anda ketika waktu kematian adik anda?" tanya Sasuke yang tidak suka dengan kedekatan keduanya

"Hahh~ anda sungguh tidak sabaran," Balasnya dengan nada lelah. "Adikku itu sangat baik, cantik, pintar, tapi manja. Ia lahir setelah kami tumbuh sedikit dewasa. Jadi ─ aku tak terlalu dekat dengannya. Tapi jika ingin tahu.. anda dapat bertanya pada Zaku. Dia sangat dekat dengan si bungsu." Baik Sakura maupun Sasuke menganggukkan kepala. Itu tandanya Zaku memiliki kemungkinan yang sangat pasti mengenai korban. Entah itu mendengar keluh keshanya atauapa itu.

Pemuda bernama Son itu melanjutkan. "Ngomong-ngomong mengenai hari kematian Shizuka.. itu juga adalah hari kematian ibu kami." Katanya dengan nada lembut. Pemuda itu tersenyum, namun ada kesedihan di sana. Kini pemuda Hatake Son ini tidak seantusias tadi. "Kalian mengetahui bahwa aku tidak begitu dekat dengannya. Tapi aku menyayanginya. Sayang sebagai seorang kakak. Aku berharap saat kejadian malam itu adalah kejadian yang tidak pernah terjadi. Karena apa? Hari itu adalah hari peringatan kematian ibu kami dan menjadi hari kematian adik kami tercinta juga. Si sagiri itu menjerat adikku dengan tampang sok bodohnya. Harusnya saat itu Shizuka tidak usah menangani kasus itu. Tapi─ sudahlah.. sudah jadi takdirnya seperti itu." Pemuda Hatake itu mengakhiri kalimatnya sambil mengacak rambutnya.

"Aku.." lanjutnya. "Aku sudah menerima kenyataan ini. aku tidak terlalu mempermasalahkan hal apapun. Tapi orang tua punya pandangan mereka dan penilaian pada tiap orang." Ia menghelanafasnya berat. "Ayah benar akan Sagiri. Ia yang menyebabkan kematian adik kami." Katanya dengan wajah yang serius.


.


Dan yang terakhir Sakura dan Sasuke temui adalah seorang pemuda yang lebih muda. Pemuda bernama Hatake Zaku ini tidak banyak berbicara dan hanya diam. Bahkan ia tidak berniat memperkenalkan diri. Maka dari itu Sakura yang harus bertanya.

"Hatake Zaku kah? Sebagai kapten termuda di angkatan laut?" tanya Sakura. pemuda itu hanya menanggapi pertanyaan Sakura dengan menganggukkan kepalanya. "Mohon kerjasamanya Tuan," katanya dengan nada canggung.

"Bolehkah aku berkata fakta yang aku temukan?" Sasuke langsung mengambil alih, membuat Sakura bungkam. Hatake Zaku menatap deketif laki-laki itu dengan pandangan sins. Kini ruangan ini mulai terasa dingin. Sangat dingin. Dua orang yang berwajah serius dan memiliki kepribadian yang hampir sama dinginnya ini membuat Sakura terasa bagaikan tenggelam entah kemana.

"Apa itu?" Tanyanya datar.

"Shizuka.. Hamil." Mendengar kalimat dari lawan bicaranya membuat kedua bola mata hitam Hatake Zaku melebar. Lalu ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Anda bercanda? Tidak ada hal seperti itu! Adikku tidak mengandung!" tanggapnya dengan nada mendesis.

"Dan lagi.. kau tahu, bahwa sebenarnya adikmu lah yang mengejar Sagiri, bukan Sagiri yang mengejarnya. Sagiri menyerah untuk mencintai adik anda.. tapi dia.. dia seperti seorang yang tak tahu malu terus meng─ "

"Jaga mulut anda!" teriak Zaku hilang kendali. "Shizuka mengandung! Tapi bukan berarti dia yang menyerahkan dirinya! Dia melakukannya karena mereka saling mencintai! Baik Sagiri dan Shizuka saling menyukai dan─ kau tak berhak berkata seperti itu. Shizuka sangat berarti untuk kami, untukku. Dia putri keluarga Hatake satu-satunya. Sagiri adalah yang tersisa dari Shizuka.. sementara yang lainnya hanya kenangan yang tak berarti."

"Kalau begitu.. Shizuka sangat mencintai Sagiri?"

"Tentu saja. Dia mencintainya sampai ia rela─ sampai nafas terakhirnya ia tetap mencintai pemuda brengsek itu!"

"Lalu benarkah bahwa Sagiri yang meracuni Shizuka?" Sasuke dengan nada dingin.

"Tentu saja si brengsek itu yang menyebabkannya mati." Balasnya dengan nada tak yakin.

Lalu Sasuke berdiri dan mencondongkan tubunya dan menghadapkan wajahnya di depan muka. "Aku sangat memercayaimu bahwa kau menyayangi adikmu sepenuh hati. Kau adalah orang yang ia percayai dan mengetahui semua tentangnya. Tapi mungkin sejak kebungkamanmu di hari kematiannya, adikmu itu tak bisa memercayaimu lagi dan menganggap rasa sayangmu itu palsu semua."


.


Setelah melakukan introgasi dengan keluarga Hatake kedua detektive muda ini pamit. Wajah keduanya ketika meninggalkan kediaman Hatake itu benar-benar berbeda. Sakura berwajah bingung, sementara Sasuke menyeringai puas. Melihat seringai yang kini terus ditampilkan atasnanya membuat Sakura bertanya-tanya. Maka ia langsung saja mengajukan pertanyaannya itu pada snag atasan.

"Sir.. bagaimana anda terus tersenyum sementara kita tidak mendapatkan apa-apa?"

"Hn, begitu menurutmu?"

"Tentu saja. Semuanya hampir sesuai dengan apa yang terungkap pada hardcopy sebelumnya. Bahkan anda tidak melakukan sesi introgasi pada putra ketiga Hatake. Anda justru mengatakan hal-hal yang... aku tidak mengerti."

"Dengar merah muda, banyak cara untuk menggali informasi. Bukan hanya dengan cara bertanya. Kadang dengan cara lain merka akan membuka mulut mereka sendiri." Jelas Sasuke yang langsung membuat emerlad itu berbinar-binar.

Dan perkataan atasannya itu bagaikan sebuah mantra yang menunjukkan kesaktiannya.

Hari ini Hatake Zaku datang ke kantor tempat kedua detektif in bertugas. Ia meminta waktu untuk berbicara langsung bersama keduanya.

"Aku hanya akan mengatakan ini. aku tak begitu tahu bahwa hal ini mungkin akan menyakiti Shizuka. Tapi kau benar, jika aku terus diam mungkin Shizuka di alam sana terluka."

"Itu pemikiran yang bagus." Kata Sasuke santai.

"Ya. Tapi aku juga tidak memiliki bukti apapun. Benar adanya bahwa sagiri tidak bersalah. Jika kau ingin menemukan bukti itu .. kau harus menemukan wanita ini." di sodorkannya foto seorang wanita dengan penampilan yang sangat kuat. "Ia adalah kunci di mana kebenaran akan terungkap seutuhnya. Setelah ini aku akan langsung pergi menuju tempatku bekerja. Untuk beberapa waktu─ tidak, mungkin untuk waktu yang lama aku tidak akan kembali ke Konoha. Biar... biar aku mengobati luka seorang kakak yang gagal melindungi apa yang ingin dilindungi adiknya."


.

.

.


Pernahkan kalian mengunjungi sebuah daerah yang menurut kalian sangat damai dan menentramkan? Kali ini perjalanan Sasuke dengan junior merah mudanya mengunjungi sebuah daerah yang sepertinya jarang sekali orang tahu tempat ini. padahal Konoha adalah kota yang sangat luar biasa maju, ramai dan bising. Namun daerah damai seperti ini juga masih ada pada bagian-bagian dari kota Konoha yang luas ini.

"Wuaahh, kemarin kita masih di antara keramaian dan kebisingan Konoha. Sekarang kita di daerah yang damai seperti ini. daerah apa ini namanya Sir..?" tanya Sakura polos. Kepala merah mudanya menyembul keluar jendela mobil─ menangkap langsung pemandangan indah yang di tersuguh.

"Masuklah, kau bisa celaka. "Sasuke mulai dengan nada memerintah. "Ini daerah Ai."

Mendengar perintah serta jawaban atasannya tentang nama daerah ini, Sakura segera memasukkan kembali kepalanya ke dalam mobil. ' Cinta? ' tanyanya. "Bagaimana mungkin daerah ini bernama.. Cinta Sir?" sasuke hanya menanggapi gadis polos itu dengan gedikan bahu acuh.

"Hufttt~... mungkin karena daerah ini damai, seperti cinta." Ia menyimpulkan sendiri tentang nama daerah ini. "Semoga saja.. Tuhan memberkati kita berdua, hingga tugas kita kali ini dapat segera terselesaikan." Katanya sambil melakukan gerakan memuja Tuhannya.

Kedua detektive muda ini pun akhirnya sampai di daerah Ai. Sesampainya di sana mereka disuguhi dengan bangunan-bangunan kuno. Khas sekali Jepangnya, namun ada sedikit pengaruh barat pada bangunan-bangunan tertentu. Terutama ketika Sasuke dan Sakura mengunjungi gereja yang menjadi tempat tujuan keduanya datang ke tempat ini. Jelas sekali bahwa gereja ini merupakan peninggalan ketika jama perang dunia dahulu.

Saat itu keduanya di sambut oleh seorang pastur yang kala itu tengah berbincang dengan seorang yang mungkin tengah meminta pencerahannya. Kemudian mereka menghampirinya setelah orang itu pergi.

"Selamat siang, bapak." Sasuke tersenyum tipis menyapa orang yang diharapkannya dapat memberinya informasi.

"Selamat siang anakku." Pastur yang diperkirakan Sakura berumur sudah sangat tua itu tersenyum penuh arti pada kedua tamunya. "Masuklah ke dalam." Katanya sambil lalu.

Dengan tampang kebingungan Sakura mengikuti Pastur yang berjalan bersama Sasuke. Ketika memasuki gereja itu Sakura dibuat terkagum-kagum. Gereja yang nampak biasa saja dari luar itu ternyata sangat indah jika kau melihatnya dari dalam. Gambaran jelasnya mengenai gereja ini hampir sama dengan gereja rotredrik yang berada di Indonesia. Sakura hapal tempat itu ketika keluarga Uchiha Obito membawanya berlibur ke Negara asal bunga Raflesia Arnoldi di temukan.

Pastur itu membawa mereka ke ruangan yang lain. Ruangan yang lebih santai dan bukan tempat peribadatan. Keduanya menduduki tempat duduk dari kayu jati dengan canggung ketika pastur itu meminta mereka untuk duduk berdampingan, sementara pastur itu duduk di hadapan keduanya.

"Adakah sesuatu hal yang membuat anakku kesulitan?" tanyanya dengan nada lembut. "Aku akan mendengarkan dengan baik dan menyimpan rahasia dua insan yang memang membutuhkan tempat untuk berbagi masalahnya.'

Sakura tersenyum sumeringah, ia menjawab dengan antusias. "Aku sungguh suka dengan gereja anda ini. gereja yang sangat indah dan agung. Boleh kah aku mengambil beberapa foto?" lalu Sakura menyadari sikapnya yang kekanakan ketika merasakan aura tak bersahabat dari teman duduknya itu. Jadi ia duduk dengan wajah tertunduk sambil berkata, "Maafkan aku, aku... bersalah."

Pastur itu tertawa dengan ringan melihat gadis muda dihadapannya ini. kini tatapannya di arahkan pada sang pemuda yang berwajah serius. Pemuda yang tampan. "Kalian pasangan kekasih?"

"Tidak." Jawab Sasuke langsung.

"Jangan malu nak. Kalian di sini akan menemukan pencerahan. Apapun itu masalahnya. Jika kalian ingin menikah tapi keluarga kalian tidak merestui, aku mungkin memiliki solusinya."

"Bukan seperti itu bapak." Sasuke mulai gusar, perbincangan ini tentunya sangat melenceng dari apa yang memang ia hendak tuju. Ia tahu sih berangkat ke gereja dengan seorang gadis tanpa keluarga dengan keadaan seperti ini pasti akan membuat asumsi siapapun bahwa keduanya hendak kawin lari. "Kedatangan kami kemari untuk mencari seorang kerabat jauh yang telah lama tidak kami jumpai."

"Begitukah? Maafkan aku. Siapakah yang hendak kau cari nak?"

"Seorang wanita sekitar umur 50 tahunan. Ia memiliki nama Tokiwa." Sela Sakura.

"Aaa- Aku tidak dapat mengingatnya dengan pasti. Tapi aku sepertinya pernah mendengarnya."

"Tunjukkan fotonya." Kata Sasuke.

Ditunjukkannya oleh Sakura foto seorang wanita dengan penampilan kuat itu. Wajah yang kuat. Mata yang tajam dan menggambarkan seseorang yang berkepala dingin.

"Aku ingat." Ucapnya. "Ia Griselda. Ya Griselda, bukan Tokiwa."

"Begitu. Bolehkah kami bertemu dengannya bapak?"

"Tentu saja. Kalian tinggal berjalan tak jauh dari gereja ini. sekitar 5 atau 6 rumah, maka kau akan menemukan rumah Griselda. Di sana ia tinggal sendiri. Kasihan sekali wanita itu. Kasihan sekali. Kunjungilah ia sesekali di lain waktu. Wanita itu pasti mengharapkan kedatangan kalian."

"Terimakasih bapak." mata Sasuke berkilat semangat. Begitupula Sakura.


.

.

.


"Sir.. kenapa kita disangka akan menikah ya oleh pastur tua itu. Padahal kita kan memiliki urusan lain." Ujar Sakura dengan malu-malu diperjalanan mereka menuju rumah wanita yang katanya bernama Griselda itu.

Merasa tak mendapatkan sahutan dari atasannya, Sakura terdiam dan melihat ke arah depan di mana atasannya tadi berjalan di depannya. Namun ternyata atasannya itu tidak berada di sana, bahkan jarak mereka sangat jauh. Sialan! Jadi ia ditinggalkan? Kini kakinya membawa Sakura berlari-lari kecil dan mencengkram kecil jaket hitam milik atasannya itu.

"Sir.. anda meninggalkanku?" Sakura memanyunkan bibirnya. "Kita kan team, kenapa anda seolah bekerja sendiri."

Mendengar keluhan juniornya ini membuat Sasuke tak habis pikir. Ia berhenti berjalan dan mengetuk dahi Sakura asal.

"Bodoh. Kita harus bergerak cepat."

Dan ia kembali berjalan dengan cepat. Astaga! Entah kenapa jantungnya tiba-tiba hampir meloncat ketika melihat raut wajah lucu merajuknya si merah muda itu. Belum lagi ia tadi dengan tidak sadar mengetukkan dua jari pada dahi si gadis. Gilaa... ini benar benar gila! Dipercepatnya langkahnya itu dan sampailah mereka di tempat yang mereka tuju. Sasuke dengan canggung menatap gadis yang kini masih manyun dengan kaki yang terus menendang-nendang kerikil disekitr halaman.

"Hey kau, Merah muda!" katanya mulai mengeluarkan kebiasaan lamanya. "Ketuklah pintu itu dan berbasa-basi sanah!"

Gadis bermarga Haruno itu semakin memanyunkan bibirnya sambil sesekali menggrutu, tak berusaha menutupi kekesalannya. Ia memberikan tatapan tak sukanya untuk yang pertama kali pada atasannya itu, yang membuat Sasuke hampir melebarkan kedua matanya.

"Merah muda, merah muda." Grutu Sakura.

Tangannya kini mulai terangkat dan mengetuk pintu bercatkan coklat itu. Satu dua kali tidak mendapatkan respon. Hingga pada ketukan ke empat, seseorang dari dalam membukakan pintu. Ketika pintu terbuka, baik Sakura dan Sasuke dapat melihat seorang wanita yang sudah tidak muda lagi berdiri dengan pakaian yang sering dikenakan oleh biarawati. Ya, Sakura tahu betul kostum itu. Kostum dengan baju yang sangat longgar dan penutup kepala yang gerah itu. Ahh, ia tahu.. ia pernah menggunakannya saat ia high school bermain peran untuk satu mata pelajaran.

"Ya," kata pertama yang keluar dari wanita itu sangat halus. "Ada yang bisa saya bantu?"

Sakura tersenyum sumeringah. Ia mengulurkan tangannya dengan harapan dapat bersalaman dengan wanita ini. Tapi wanita ini hanya diam dengan senyumnya. Membuat Sakura kikuk dan menarik tangannya. Di sisi lain Sasuke memperhatikannya. Hampir saja ia lepas kendali dan menertawakan Sakura yang polos.

Kini Sasuke membuka suara. Ia memperkenalkan dirinya. Kemudian Nyonya Griselda itu membawa keduanya ke dalam rumah dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Gambaran dari rumah ini sangat sederhana. Tidak ada yang spesial. Semuanya yang ada dirumah ini serba sederhana yang membuat penghuninya akan merasa selalu berada dalam keadaan santai. Dilanjutkan kembali oleh Sasuke mengenai maksud dan tujuannya mengunjungi kediaman ini dengan maksud dapat bertemu dengan seorang Nyonya dengan nama Tokiwa.

"Tokiwa adalah nama saya." Katanya jujur. "Namun sekarang saya menggunakan nama baptis saya. Saya sekarang seorang misionaris. Tidak menerima lagi tugas sebagai seorang bodyguard atau apapun itu namanya." Tolaknya halus.

"Tidak," Sasuke segera membenarkan kesalah pahaman wanita ini. "Kami memang pihak pemerintahan datang kemari untuk bertemu dengan anda. Tapi bukan dalam artian kami akan meminta bantuan anda untuk tugas yang satu itu. Namun ada tugas lain yang lebih mulia dari itu Nyonya." Sakura mengangguk di samping Sasuke solah membenarkan perkataan atasannya itu.

"Apa yang bisa saya bantu?" tanyanya waspada.

"Menghadaplah ke pengadilan dan bersaksi bahwa Tuan dengan nama Sagiri yang dituduh sebagai pelaku kejahatan pembunuhan atas Hatake Shizuka adalah salah."

Dan sesuai dugaan atasan Sakura, kedua bola mata itu sukses membulat.


.

.

.

.

.


TBC─


A/N:

Teriamakasih banyak untuk segala bentuk dukungan teman-teman untuk fic aneh ini ^^ Saya bahagia memiliki kalian sebagai bagian dari hidupku. Ngomong-ngomong hari ini anniversary dhe-chan with TheBlues8 yang k 6th. Membuat kebahagiaan saya bertambah. Sekian, See you next chap...