"Sir.. kenapa kita disangka akan menikah ya oleh pastur tua itu. Padahal kita kan memiliki urusan lain." Ujar Sakura dengan malu-malu. Diperjalanan mereka menuju rumah wanita yang katanya bernama Griselda itu Sakura terus membicarakan perkataan pastur yang sebenarnya hanya salah sangka.
Merasa tak mendapatkan sahutan dari atasannya, Sakura terdiam dan melihat ke arah depan di mana atasannya tadi berjalan di depannya. Namun ternyata atasannya itu tidak berada di sana, bahkan jarak mereka sangat jauh. ADUHH! Jadi ia ditinggalkan? Kini kakinya membawa Sakura berlari-lari kecil dan mencengkram kecil jaket hitam milik atasannya itu.
"Sir.. anda meninggalkanku?" Sakura bertanya hal yang sangat bodoh! Tentu saja ia ditinggalkan! "Kita kan partner, kenapa anda seolah bekerja sendiri."
Keluhan menyebalkan dari juniornya ini membuat Sasuke tak habis pikir. Ia berhenti berjalan dan mengetuk dahi Sakura asal.
"Bodoh. Kita harus bergerak cepat." setelah itu ia kembali berjalan dengan cepat. Astaga! Entah kenapa jantungnya tiba-tiba hampir meloncat ketika melihat raut wajah lucu merajuknya si merah muda itu. Belum lagi ia tadi dengan tidak sadar mengetukkan dua jari pada dahi si gadis. Gilaa... ini benar benar gila. Bagi keluarganya, mengetukkan jari ke dahi seseorang merupakan suatu pertanda.. ahh sudahlah!
Dipercepatnya langkahnya itu. Sesampainya mereka di tempat yang mereka tuju─ Sasuke dengan canggung menatap gadis yang kini sedang manyun dengan kaki yang terus menendang-nendang kerikil disekitar halaman.
"Hey kau, Merah muda!" perintahnya dengan kedua tangan bersidekap , mulai mengeluarkan kebiasaan lamanya. "Ketuklah pintu itu dan berbasa-basi sanah!"
Gadis bermarga Haruno itu semakin memanyunkan bibirnya sambil sesekali menggrutu, tak berusaha menutupi kekesalannya. Ia memberikan tatapan tak sukanya untuk yang pertama kali pada atasannya itu, yang membuat Sasuke hampir melebarkan kedua kelopak matanya.
"Merah muda, merah muda." Grutu Sakura dengan nada mencibir.
Tangannya kini mulai terangkat dan mengetuk pintu bercatkan coklat itu. Satu dua kali tidak mendapatkan respon. Hingga pada ketukan ke empat, seseorang dari dalam membukakan pintu. Ketika pintu terbuka, Sakura dan Sasuke melihat seorang wanita yang sudah tidak muda lagi berdiri dengan pakaian-pakaian yang sering dikenakan oleh biarawati. Ya, Sakura tahu betul kostum itu. Kostum dengan baju yang sangat longgar dan penutup kepala yang gerah itu. Ahh, ia tahu.. ia pernah menggunakannya saat ia high school bermain peran untuk mata pelajaran sastra klasik.
"Ya," kata pertama yang keluar dari wanita itu sangat halus. "Ada yang bisa saya bantu?"
Sakura tersenyum sumeringah. Ia mengulurkan tangannya dengan harapan dapat bersalaman dengan wanita ini. Tapi wanita ini hanya diam dengan senyumnya. Membuat Sakura kikuk dan menarik tangannya. Digaruknya kepalanya yang sebenarnya tak gatal sama sekali. Namun ia merasa itu perlu ia lakukan untuk menutupi kegugupannya. Di sisi lain Sasuke memperhatikannya. Hampir saja ia lepas kendali dan menertawakan Sakura yang polos. Benar- benar bodoh! Batinnya.
Kini Sasuke membuka suara. Ia memperkenalkan dirinya. Kemudian Nyonya Griselda itu membawa keduanya ke dalam rumah dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Gambaran dari rumah ini sangat sederhana. Tidak ada yang spesial. Semuanya yang ada dirumah ini serba sederhana yang membuat penghuninya akan merasa selalu berada dalam keadaan santai.
Kecuali salib-salib besar yang terdapat di beberapa penjuru., membuat Sasuke kurang nyaman. Dilanjutkan kembali oleh Sasuke mengenai maksud dan tujuannya mengunjungi kediaman ini dengan maksud dapat bertemu dengan seorang Nyonya dengan nama Tokiwa.
"Tokiwa adalah nama saya." terangnya. "Namun sekarang saya menggunakan nama baptis saya. Saya sekarang seorang misionaris. Tidak menerima lagi tugas sebagai seorang bodyguard atau apapun itu namanya." Tolaknya halus.
"Tidak. Tidak." Sasuke segera membernarkan kesalah pahaman wanita ini. "Kami memang pihak pemerintahan datang kemari untuk bertemu dengan anda. Tapi bukan dalam artian kami akan meminta bantuan anda untuk tugas yang satu itu. Namun ada tugas lain yang lebih mulia dari itu Nyonya." Sakura mengangguk di samping Sasuke solah membenarkan perkataan atasannya itu.
Ny. Griselda tersenyum tipis, "Kalau begitu.. apa yang bisa saya bantu?" tanyanya ragu-ragu.
Seolah mendapatkan kesempatan emas untuk bersuara, Sakura mengutarakan maksud dan tujuan mereka yang sesungguhnya. "Menghadaplah ke pengadilan dan bersaksi bahwa Tuan dengan nama Sagiri yang dituduh sebagai pelaku kejahatan pembunuhan atas Hatake Shizuka adalah salah."
.
.
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Hyuugadevit-Cherry
[Uchiha Sasuke & Uchiha Sakura]
─If you dont like, dont ever try to read─
.
.
.
Dan sesuai dugaan Sasuke, kedua bola mata itu sukses membulat. Tak lama kemudian mata wanita itu berembun, menandakan bahwa Ny. Tokiwa itu sangat terluka dan hendak menangis. Wanita itu tanpa sadar menumpahkan air matanya dengan ekspresi kosong. Pikirannya seolah kembali pada kejadian di mana ia harus menjadi soseorang yang menyedihkan. Untuk menghentikan hal yang tidak di harapkan, Sakura mengguncang tubuh itu beberapa kali dan itu berhasil. Ny. bernama baptis Griselda itu menghapus air matanya dan berkata. "..Maaf."
"Saya tidak bisa membantu kalian." Katanya dengan raut menyesal. Ia menundukkan kepalanya. "Saya memang menjadi pengawal Nona Shizuka sejak ia kecil sekali. Tapi saya tidak mengetahui apa-apa mengenai hal itu. Yang saya yakini adalah Sagiri memang pelaku sesungguhnya." Katanya sedikit resah.
"Anda begitu yakin. Bagaimana jika saya katakan bahwa pelaku sesungguhnya adalah..." bola mata itu menatap Sasuke khawatir, "Tuan besar Mayor Jendral Hatake Kakashi?"
"Tidak! Anda salah besar! Mayor Jendral sangat mencintai putrinya! Kami semua mencintainya! Kami memberikan yang terbaik untuknya! Dia... dia bayi kami."
"Apa maksud anda bayi kami?" tanya Sakura serius sambil mengguncang bahu wanita setengah baya itu.
"Maksudku.."
"Dia... Shizuka... adalah bayi Anda dan Hatake Kakashi!" Tebak Sasuke yang nampaknya mengenai sasaran.
Wanita itu terkejut, ia menggelengkan kepalanya.. namun kebenaran terpancar dari matanya yang seolah mengatakan segalanya. "Anda.."
"Jika anda benar ibunya maka? Maka kenapa Anda melakukan hal ini? Anda tahu bahwa putri Anda tidak bahagia karena larangan kalian!"
Kini emerlad Sakura berkaca-kaca.
Ia sungguh tidak mengerti dengan pemikiran keluarga Hatake ini. bagaimana seorang ayah dan ibu memberikan tekanan yang teramat dalam pada anak mereka hingga terjadi pembunuhan. Jika benar Mayor Jendral lah pelakunya, maka ia tak bisa berpikir lagi. Kedua orangtuanya telah meninggal.
Tapi Sakura tahu sebelum mereka meninggal, mereka selalu memberikan apapun untuknya. Kemudian ia diberkahi keluarga baru oleh Tuhan dan mendapatkan kasih sayang yang melimpah. Tak pernah ada paksaan padanya dari keluarganya. Bahkan sangat mendukung setiap kegiatan positifnya.
Keputusannya untuk memilih karir pun diberikan sepenuhnya, meski dengan berbagai rayuan maut agar ia benar-benar memilih profesi sebagai salah satu aparat kepolisian. Tapi entah kenapa keluarga ini sangat kacau.
Ayah membunuh anak.
Kata-kata itu sungguh mengerikan. Seorang kepala keluarga yang harusnya melindungi anggota keluarganya justru membunuhnya. Hanya karena satu alasan yang tak disukainya.. jatuh cinta.. pada orang yang salah.
Jika wanita yang mengaku sebagai misionaris ini benar ibu Shizuka, maka sungguh tidak bermanfaat ilmunya itu! Jika ia menutupi kejahatan suaminya dan menyalahkan orang yang jelas-jelas tak bersalah..
"..Anda!" Sakura dengan suara paraunya. "Anda sangat jahat!" serunya.
"Anda mengaku sebagai Griselda, anda mengaku sebagai misionaris, suami anda adalah seorang Mayor Jendral.. tapi kalian, kalian melakukan tindak kejahatan terhadap putri kalian. Kalian membuatnya meninggal!" Sakura memegang kepalanya dan berlari keluar dengan air mata membanjiri wajahnya.
Uchiha Sasuke melihat juniornya itu sulit mengendalikan emosi. Ada apa sih dengan gadis itu? Kenapa setiap berhubungan dengan keluarga, gadis itu selalu menangis histeris. Lalu ia menatap wanita yang kini sama tengah menangis tersedu-sedu di hadapannya.
"Tahukah Anda? Menutupi kejahatan adalah suatu dosa besar? Apalagi menuduh seseorang sebagai pembunuh tidaklah benar. Saya sungguh kasihan pada mendiang Shizuka, ia pasti sangat sedih, keluarga di mana seharusnya ia merasa terlindungi, merasa nyaman, kini menghianatinya. Gadis itu─ tentunya berharap laki-laki yang dicintainya berbahagia, tapi justru keluarganya sendiri yang menambah penderitaannya."
"Baiklah.. saya rasa tidak ada yang bisa saya lakukan lagi di sini.. saya permisi."
Namun ketika Sasuke berada di mulut pintu, wanita itu berkata.. "Sagiri memang tidak membunuh Nona muda Shizuka." Ia menatap pihak pemerintahan itu sungguh-sungguh, "Tapi apapun yang Anda lakukan tidak akan mengubah kenyataan bahwa ia pembunuhnya. Ia telah di hukum." Katanya dengan nada menyesal bercampur luka.
.
.
.
"Sir, maafkan aku." Sakura menghadapkan wajahnya ke arah Sasuke dengan raut menyesal. Ia mulai berani berbicara informal pada atasannya ini. "Aku merasa... tidak mengerti dengan keluarga yang seperti ini dan itu selalu membuatku sedih."
Sasuke mengangguk. Ia mengetukkan kembali jarinya ke dahi Sakura, kemudian berlalu.. berjalan menuju mobilnya. Sementara Sakura merasakan debaran jantungnya kembali berpacu. Entah kenapa ia merasa bahwa perlakuan atasannya tadi itu salah satu bentuk perhatiannya. Ia berjalan dengan langkah malu-malu menuju mobil.. tapi kemudian ia klembali berbalik dan berlari ke arah gereja membuat Sasuke mengerutkan dahinya.
Dan di sinilah Sakura berada. Di gereja pertama kali ia berjumpa dengan pastur itu. Ia berusaha mengungkapkan isi hatinya pada Tuhannya.
"Aku tak tahu harus berkata apa. Tapi aku mohon, lancarkan setiap tugasku dan dia. Kami.. memiliki tanggung jawab yang mana mengungkap kebenaran. Nama baptisku adalah Raphaella, yang artinyaTuhan telah menyembuhkan. Aku tahu kau akan memberikan aku sesuatu yang akan mengembalikan kebenaran dan menyembuhkan hati yang terluka.." Kemudian ia berbalik dan ia melihat wajah itu. Wajah Ny. Griselda yang menatapnya sedih.
Sakura dengan cepat menghampirinya, namun wanita itu tidak di sana. Ahh, ia berdelusi! Dengan langkah yang cepat. Ia berlari kembali ke rumah wanita itu dan menerobos masuk rumah si misionaris.
"Nyonya, maafkan aku dengan tidak sopan menerobos masuk rumah Anda." Katanya dengan nafas yang memburu. "Aku tahu kau sangat mencintai putrimu." Sakura tersenyum lembut. "Aku akan mencoba mengerti, tapi ketika Anda memiliki rasa kemanusiaan dan pencerahan darinya.." Sakura menunjuk lukisan Bunda Maria. "Anda mau memberitahuku sebuah kebenaran.. sebuah cinta sejati dari seorang ibu pada anaknya."
Lalu wanita yang terlihat tenang dan berkepala dingin itu kembali berkaca-kaca. Ia berkata-kata tak jelas. Sakura masih menunggu, hingga ia berbalik dan mendengar wanita itu berkata "Hanya dia yang memiliki bukti ketidak bersalahan Sagiri, hanya dia." Katanya sambil menunjuk lukisan Bunda Maria.
.
"Kau sangat lama." Kata-kata ketus itu dilontarkan Sasuke pada bawahannya sebagai basa-basi. Tidak mungkin kan ia mengatakan bahwa ia ... khawatir.
"Maaf sir.. satu tugasku, telah aku laksanakan dengan baik."
"Apa itu?"
"Berdo'a." Jawabnya. Putra Uchiha Fugaku itu mengangguk dan melajukan kendaraannya kembali menuju pusat kota Konoha. Seulas senyum ditampilkan dua insan yang entah kenapa detik ini merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang berbeda.
.
.
.
Sesampainya mereka di Konoha, Sakura dan Sasuke langsung menghadap atasan mereka Uchiha Fugaku dan melaporkan segalanya. Fugaku mengangguk mengerti akan kesulitan kasus ini. Pria Uchiha yang tak muda lagi itu beberapa kali mengatakan bahwa orang yang menangani tugas ini jelas sekali bersekongkol dengan orang-orang tertentu. Untuk itu ia akan mengeluarkan perintah pindah tugas pada dua detektive yang dianggap tidak kompeten jika benar-benar Sagiri terbukti tidak bersalah.
"Sidang untuk Sagiri akan diadakan kembali lusa." Fugaku memberitahu. "Kemungkinan mereka akan membuat Sagiri mendapatkan hukuman lebih berat."
"Lusa.." Sakura mengumam.
Sementara Sasuke memasang wajah seriusnya. "Saya yakin Sagiri tidak bersalah. Maka dari itu, kami akan berusaha mendaptkan bukti untuk membantunya."
Setelah mengatakan hal itu, keduanya keluar ruangan Uchiha Fugaku dengan wajah yang berbeda. Kemudian Sakura menarik tangan atasannya dan membawa keduanya menuju mobil dan berkendaralah mereka ke tempat yang mereka pikir dapat menemukan bukti kongkret.
.
.
.
[Persidangan Kasus Kematian Hatake Shizuka]
Sagiri menundukkan kepalanya dengan lemas. Ia tak sanggup menatap orang-orang dengan wajah yang tegak. Pasalanya ia sudah lelah menghadapi sidang berkali-kali dan hasilnya selalu kalah. Pengacaranya berkali-kali mencari cara untuk membuktikan ketidak bersalahannya. Namun kekuatan Mayor Jendral sungguh luar biasa, tak bisa begitu saja ditembus oleh orang-orang lemah macam Sagiri.
Jaksa di depan sana bersuara dengan kata-katanya yang tajam dan menusuk. Memojokkan Sagiri sebisa mungkin. Sementara Pengacara Sagiri berusaha membela kliennya.
Hakim memperhatikan tiap untaian kalimat yang terlontar di ruangan sidang. Kemudian, pada detik-detik ia akan memutuskan hukuman untuk Sagiri.. pintu kayu bercatkan coklat besar itu terbuka lebar menampakkan seorang gadis berhelaian merah muda bersama seorang detektive muda nan tampan─ Uchiha Sasuke.
"Maafkan saya hakim karena mengganggu berjalannya sidang pengadilan ini." Sakura membungkukan badannya anggun. "Saya hendak menyampaikan beberapa hal yang memang perlu saya sampaikan." Katanya lantang.
Ia melanjutkan. "Tuan Sagiri... tidaklah bersalah!" katanya tegas.
"Ini adalah kesalahan, Hakim! Bagaimana mungkin seseorang sepertinya mengganggu acara sidang ini." Jaksa itu menentang kedatangan tamu tak diundang yang jelas-jelas menurutnya sangat mengganggu berjalannya persidangan. Sedikit lagi, sedikit lagi ia akan memenuhi tujuannya untuk memberikan kepuasan bagi seseorang yang menginginkan hukuman untuk Sagiri.
"Siapa Anda dengan beraninya mengatakan hal itu tanpa bukti?" tanya hakim dengan nada rendah.
"Nama, Uchiha Sasuke dan ini adalah rekan Saya, Haruno Sakura." Sasuke menunjukkan identitasnya sebagai detektif. Ia melanjutkan, "Tugas kami adalah menyelidiki kasus Sagiri, kami tidak bermaksud mengganggu namun kami akan menyampaikan fakta yang sebenarnya."
"Apa itu?" tanya Hakim.
Sasuke menyeringai. "Bukan saya yang berhak mengatakannya, tapi dia..." Lalu datanglah seorang wanita paruh baya dengan pakaiannya yang khas itu. Ia adalah Griselda Tokiwa. Wanita itu berjalan dengan wajahnya yang damai. Ia memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa ia siap bersaksi. Selain itu ia disumpah atas nama Al Kitab.
Dimulailah kisahnya yang mengharukan. Kisah tentang dirinya yang hidup sebagai pengawal. Ia mendapatkan tugas sebagai pengawal untuk anak bungsu seorang Mayor Jendral yang sangat di hormatinya, Mayor Jendral Hatake Kakashi. Lambat-laun karena lama tinggal bersama keluarga Hatake, hatinya berubah rasa dari hormat menjadi cinta. Ia menyatakan ketertarikannya kepada Hatake senior itu dan perasaannya terbalas.
Mayor Jendral dan dirinya menjalin cinta, lalu ia mengandung. Ia pun dianugerahi putri yang sangat cantik,. Setelah ia melahirkan Mayor jendral hendak membawa putrinya. 'Aku memang mendapatkan izin dari istriku untuk menjalin kasih bersamamu. Namun aku tidak mengatakan bahwa jika bayi ini akan menjadi milikmu. Bayi ini adalah keluarga kami,. Kata Mayor itu dengan tegas. Sebagai seorang ibu .. Nyonya Tokiwa ingin bayinya dianggap oleh ayahnya. Dengan setengah hati ia memberikan bayinya. Maka diangkatlah bayi itu menjadi bagian dari Hatake dengan nama Hatake Shizuka. Dianggapnya bayi itu adalah bayi dari Nyonya Hatake Shizune dan mendapatkan cinta yang mendalam.
Namun, Nyonya Tokiwa juga seorang ibu. Wanita itu ingin bersama bayinya dan ia bersumpah untuk menutup rahasia ini rapat-rapat dari semua orang bahwa ia hanya akan hidup berdampingan dengan putrinya sebagai pengawalnya.
"Tokiwa.." suara Ny. Hatake Shizune dan tatapan terhadapnya lembut, "Aku mengizinkanmu bersama suamiku karena aku sakit.. aku tak bisa memenuhi kewajibanku terhadapnya. Terimakaishku untukmu.. tapi aku mohon, biarkan bayi ini menjadi bagian dari kami dan mendapatkan perlakuan dan pendidikan sama seperti yang lainnya." dan seorang Tokiwa hanya bisa mengangguk dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Maka hiduplah ia bersama putrinya, menyaksikan putrinya tumbuh dan dewasa, mendengarkan setiap keluh kesah sebagai seorang pengawal pribadi putrinya sendiri. Bahkan ia menjadi tempat nya menangis ketika Hatake Shizune meninggal.
Waktu terus beranjak hingga putrinya berhasil menjadi seorang yang berhasil dalam dunia Hukum. Gadis bernama Shizuka itu bertemu dengan Sagiri dalam satu waktu mengenai kasus sengketa tanah. Lalu timbullah perasaan cinta.
"Pada hari kematian Nona Shizuka.. ia selalu mengatakan bahwa apapun yang terjadi padanya bukanlah salah Sagiri. Ia meninggal atas kemauannya sendiri. Gadis kecilku itu... Ia bunuh diri. Saya lah yang menemukannya pertama kali. Namun, dengan tegas Mayor Jendral meminta saya untuk bungkam dengan adanya surat pengakuan Shizuka tentang keresahan dan keputusasaannya. Pada saat itu Mayor jendral melihat gelas yang biasa digunakan gadis kecilku minum. Dengan penglihatannya yang bagus ia melihat jejak tangan dan ia membuat semua ini menjadi suatu pembunuhan. Jejak tangan itu memang milik Sagiri. Tapi Sagiri memegang gelas itu karena ia datang pada kamar Shizuka malam itu dan memeriksanya, apakah kekasihnya itu meminum racun dan .. memang begitulah. Yang didapatinya adalah wanitanya yang telah meninggal dan ia , ia menjadi tersangka."
"Dan.. pada saat itu, aku lari melewati jendela karena.. aku ketakutan." Kata Sagiri dengan kacau.
Selesainya kalimat itu, Mayor Jendral Hatake Kakashi datang. Pria tua itu berkata pada Hakim bahwa yang dikatakan oleh Tokiwa benar adanya. Maka selanjutnya mengenai kasus ini bukan lagi urusan Sasuke maupun Sakura.
.
.
.
Haruno Sakura hari ini merasa harinya indah. Ia menyayangi orang-orang disekitarnya. Ucapan selamat atas pengusutan kasusnya berhasil mengangkat nama atasannya. Uchiha Sasuke semakin terkenal dan digadang-gadang bahwa pemuda itu akan segera naik jabatan. Memang Uchiha Sasuke yang mendapatkan pujian, tapi ia ikut berbahagia dapat membantu seniornya itu.
─dukk
"Kau terlihat sangat bersemangat hari ini." suara berat nan tua itu membuatnya semakin bersemangat. Diangkatnya kaki Sakura, ia membuat gerakan meloncat sedikit ke belakang, lalu membuat ancang-ancang. Gadis itu berputar dan memberikan serangan pada bagian dada lawannya.
─Tak..
Berhasil di tangkis.
Sakura mengerucutkan bibirnya. Ia kembali memberikan serangan. "Gerakan mu semakin baik." Suara tenang itu kembali terdengar.
"Kakek, jika gerakan ku semakin baik, maka aku akan bisa menghajarmu." Katanya pada Uchiha Madara. Ia menghentikan latihannya hari ini. Seperti biasanya, jika ada hari libur ia akan berkunjung ke kediaman kakeknya ini dan melakukan latihan bersama. Utamanya Taekwondo. Sakura sangat bodoh dalam seni bela diri asal Korea ini.
Ia mendudukkan dirinya di atas matras. Kemudian meneguk minumannya. Uchiha Madara masih berdiri satu meter di depannya. Seulas senyum tersungging di wajahnya yang sangat tua.
"Hn. Selamat." Sakura mengangkat wajahnya. Ia merengut, lalu ia tersenyum. "Jika ia tidak mengatakan bahwa Bunda Maria meiliki bukti kongkret, aku tak akan tahu."
Madara terkekeh. "Dan rasa penasaran mu yang aneh membuatmu membuka bingkai Bunda Maria?" Sakura mengangguk malu. "Tidak sopan." Madara memberikan tepukan halus di atas kepalanya.
"Kakek," Sakura menatap serius kakeknya- Madara. "Ada satu hal yang membuatku resah."
"Apa itu?"
"Aku rasa ada yang bermasalah dengan diriku. Orang tuaku.. kisah orang tuaku.. ini sangat mengganggu. Setiap kasus yang berhubungan dengan orang tua akan membuat jiwa ku sedikit terguncang."
"Kau harus membicarakannya dengan doktermu.." Madara terlihat lebih serius dari cucunya. "Aku akan mengirimmu kesana."
"He'em.. Arigatou.."
.
.
.
Mendapatkan jatah libur selama dua hari merupakan sebuah hadiah yang luar biasa bagi Sakura. Ia bisa menghabiskan waktunya untuk terus berlatih macam-macam seni bela diri. Ia mempelajari berbagai teori yang dapat ia pelajari dari berbagai tumpukan buku pendidikan detektif milik Uchiha Madara. Orang tua itu bahkan memberikan sedikit banyak penjelasan. Waktu liburnya ia jadikan kuliah pendek bersama Uchiha Madara dan bertemu dokternya.
Namun, betapa seriusnya ia pada pembelajaran yang di berikan kakeknya dan pertemuannya dengan dokter pribadinya untuk menceritakan segala masalahnya, Sakura tetap merindukan sosok atasannya. Meskipun rewel, judes, dingin, omongannya bikin nyesek.. Sakura menyukainya. Entahlah. Jadi.. saat ia selesai dengan jatah libur nya itu, Sakura lekas menuju kantornya dengan penuh semangat.
Ketika kakinya memasuki kantor dengan senyum sumeringah, senyumnya luntur digantikan dengan kekhawatiran yang dalam. Seorang gadis berumur 13 tahun berdiri dengan mata yang bergerak-gerak gelisah. Matanya memerah karena banyak menangis.
"Sir.." katanya pada Sasuke yang tengah berhadapan dengan gadis itu. "Ada apa dengannya?"
"Aku rasa ia sedang mengigau." Balas Sasuke asal.
"Tidak!" Bantah anak itu. Gadis itu menggenggam tangan Sasuke dan berkata. "Tolong aku.. tolong hukum dia! Dia .. dia yang menyebabkan ayahku meninggal."
"Hey," Sakura meraih bahu kecil itu dan memeluknya. "Tenanglah." Katanya berusaha menenangkan gadis kecil itu. "Siapa namamu dan ceritakanlah pelan-pelan ... okey?"
Gadis itu mengangguk dipelukannya. Ia melepaskan pelukannya dan mengambilkan air mineral. Gadis berhelaian ungu itu menatap Sakura , lalu Sasuke. Kemudian ia mulai membuka suara.
"Namaku... Kakei Sumire." Ia melanjutkan dengan suara yang bergetar. "Ayahku meninggal karena Ibu tiriku. Ia ,.. ia... membunuhnya."
.
.
.
─TBC─
.
A/N:
Minna-san.. Terimakasih untuk waktu yang telah kalian berikan untuk menunggu dan memberikan dukungan, R&R ff saya yang tak seberapa ini ^^
Kuningan, 03 Februari 2018.
