My Kitty Zizi
K r i s t a o
A s t a g a K r i s w u
--x--
Gadis itu belum juga menyelesaikan urusannya di kamar mandi setelah Kris memanggilnya beberapa kali. Pria itu berdiri di ambang pintu kamarnya yang terbuka dengan gestur tubuhnya tidak tenang sambil melihat kearah pintu kamar mandinya.
Decihan kesal beberapa kali terdengar, dia benar-benar tidak tenang. Otaknya masih juga belum menerima jika ternyata gadis itu adalah kucing kecil yang Sophia beri nama Zizi kemarin. Tapi ucapan gadis itu tentang tingkah absurd nya di kamar mandi tadi malam seolah memberi bukti nyata jika gadis itu berkata jujur.
Ya, hanya kucing itu yang pernah melihatnya saat mandi -selain ibu dan kakaknya waktu dia masih balita. Kris sempat bergaya di depan cermin seperti seorang rapper lalu menari dengan konyol. Telanjang. Hm? Tidak-tidak, kalian tidak salah baca. Memang Kris telanjang seperti apa yang dikatakan gadis itu tadi. 'Hei kucing, kau beruntung melihat betapa sempurnanya aku.' Begitulah kata Kris semalam. Sial! Dia berkata konyol begitu ya?
Cklek!
Nafas Kris yang tadinya masih sedikit normal sekarang dirasa menyumpal di paru-parunya saat pintu terbuka dan gadis itu disana dengan wajah dipenuhi titik air, hidungnya memerah, kemeja putih yang dikenakannya basah dan melekat sempurna mengikuti lekukan tubuhnya. Wajah Kris berubah kaku lalu mengumpat dengan sangat keras. Apa yang gadis itu lakukan?!
"Uncle Kris!! Airnya mengamuk!" Ucap gadis itu keras sambil meremas ujung kemejanya dengan panik. "Apa maksud...?" Iris dark-choco pria itu melebar melihat aliran air keluar dari pintu kamar mandi kearah kamarnya.
Kris mengambil langkah seribu ke kamar mandi. Bathub penuh dengan air berbusa dan botol sampo berwarna biru gelapnya mengapung disana, air dari wastafel dibuka maksimal sedangkan penutup bagian bawah wastafel itu masih terpasang. Kris langsung mematikan pusat masalah itu.
Pria itupun berbalik melihat bagaimana hancurnya kamar mandi sempurnanya. Aliran pembuangan tersumpal dengan bebek karet. Air menggenang, alat cukurnya tergeletak di samping kloset, dan pasta giginya lenyap.
Gadis itu berjalan mendekat kearah Kris dengan wajah merasa bersalah yang ketara, dan pria itu langsung menatap gadis di depannya tajam dengan rahangnya yang mengeras. "Kau!" Kris tau intuisinya tidak pernah salah. Dia melakukan kesalahan besar karena telah membiarkan gadis ini tinggal lebih lama. Dia harus mengenyahkan gadis ini dari rumahnya. Sekarang juga.
Kris merangsek maju, targetnya adalah pergelangan tangan gadis itu dan misinya adalah menyeret gadis itu keluar. Tapi tanpa sengaja kakinya menginjak permukaan licin bebek karet yang menyumpal di saluran pembuangan. Tubuhnya terhuyung maju lepas kendali dan dengan pasti menabrak gadis di depannya. Dia tau ini akan berakhir menyakitkan bagi gadis itu, atau mungkin baginya. Bunyi debuman keras bercampur kecipak terdengar setelahnya.
Tubuh keras Kris terjatuh sempurna menindih tubuh gadis itu, satu kaki Kris terjatuh diantara kedua kaki gadis di bawahnya. Dan bibir keduanya bertemu sekilas sebelum si gadis kucing merintih kesakitan karena punggungnya membentur lantai. Kris masih mematung, apa itu tadi? Sangat lembut, manis dan- hangat. Ngomong-ngomong status misi? Gagal total!
"Uncle Kris?" Kris tersadar seketika mendengar suara gadis itu, hidungnya berjengit mencium nafas gadis di bawahnya, itu aroma mint pasta giginya, jangan-jangan gadis itu memakannya? Pria itu menarik nafas dari sela bibirnya merasakan sengatan rasa sakit di punggung tangan sampai pergelangan tangannya karena dia gunakan untuk melindungi kepala gadis itu dari kerasnya lantai.
Tapi gadis di bawahnya tiba-tiba terlihat terkejut bukan main, wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang sangat jelas. "Uncle Kris berdarah!" Jerit gadis itu kemudian menutup bibir pria yang menaungi tubuhnya dengan telapak tangan kanannya. Berdarah? Kenapa? Kris tidak merasakan rasa sakit apapun. Sampai saat rasa besi menyapa indra perasanya. Disingkirkan nya telapak gadis itu, benar saja setitik cairan merah terdapat di telapak tangan gadis itu.
Kris tidak begitu merasakan rasa sakit di bibirnya, tapi hanya rasa tidak nyaman di bagian dalam sudut bibirnya. Mungkin karena saat ini kendali kewarasan nya lah yang sakit parah karena menerima serangan bertubi-tubi mulai dari awal hari minggunya.
Terlebih saat ini, tubuh basah dibawahnya tertindih sempurna olehnya, sedikit banyak merasa dejavu saat rasa hangat kulit dibalik kemeja putih itu dapat dia rasakan kembali dengan jelas dari posisi yang sama seperti tadi pagi.
Detak jantung keduanya yang terpacu setelah serangan panik karena terjatuh seolah bersaing, Kris merasakan itu karena tubuhnya menekan telak dada gadis itu. Dan pada akhirnya ada sesuatu yang menggeliat ngilu di bawah sana. Itu bukan sesuatu yang bagus, tapi sangat buruk. Itu bencana! Kris harus menanggulanginya secepat mungkin.
-My Kitty Zizi-
Gadis itu berdiri didepan pintu utama dengan wajah kuyu, dilihatnya lagi pria yang berdiri di ambang pintu besar yang menatapnya dengan kedua alis tebalnya bertaut dan rahangnya yang mengeras. "Kau bisa pergi sekarang." Ucap pria itu dengan suara beratnya.
"Kemana?" Tanya gadis itu lirih, mata hitam bening gadis itu berkaca-kaca. "Terserah. Aku tidak peduli. Hanya menyingkirlah dari hidupku." Kris berbalik lalu dengan tangan kirinya meraih handle pintu untuk menutupnya. "Maafkan Zizi, Zizi berjanji tidak akan membuat rumah Uncle kris basah lagi..." Gadis itu mulai memohon dengan setitik air yang menetes dari pelupuk matanya. Kris menjilat pipi bagian dalamnya, pria itu terlihat hampir goyah. "Tidak. Pergilah kemanapun asal jangan pernah muncul di depanku." Putusnya final.
"Uncle Kris tau dimana rumah Sophia?" Sampai pertanyaan dengan tonasi meragu gadis yang memakai t-shirt hitam dan celana renang itu menghentikan gerakannya, oh dia sudah memberi gadis itu baju ganti, dan soal celana renang itu karena ya, Kris rasa hanya itu yang pas dengan tubuh gadis itu. "Aku tidak akan membiarkanmu kesana." Jawab Kris sesaat sebelum menutup pintunya dengan sempurna.
Pria bersurai pirang platinum itu berdiri kaku di balik pintu. Isakan lirih didengarnya dari seberang kemudian perlahan menjauh dan tidak lagi terdengar. Satu garis halus tercipta di dahinya. Kepergian gadis itu meninggalkan sesuatu yang mengganjal di celananya. Brengsek. Bukan itu! Tapi di hatinya, mungkin rasa kemanusiaan.
Ini sama sekali tidak masuk akal, tapi kini sebagian dari pemikiran Kris seolah menerima jika gadis itu memang benar-benar kucing kecil yang dibawanya pulang kemarin. Kucing putih yang berusaha memasang wajah manisnya di depan banyaknya lalu lalang orang, mungkin memang dari awal dia berada disana karena berharap ada yang akan mengadopsinya. Dan akhirnya orang itu adalah Kris, tepatnya Sophia. Tapi kucing itu dia bawa kerumahnya. Dan kini dia mengusirnya, itu berarti kucing itu kembali ke dunia luar, tanpa tempat tinggal dan kedinginan.
Kris menarik nafas dari sela bibirnya terlihat gusar. Tapi gambaran betapa hancurnya kamar mandi juga insiden banjir dikamarnya terlintas dan hal itu menekan beberapa keraguannya atas keputusan yang baru diambilnya. "Persetan! Tch." Kris mendecih saat melihat punggung tangan kanannya yang sedikit memar karena melindungi kepala gadis itu. Keberadaan gadis itu sebentar saja sudah membuat paginya berantakan.
-My Kitty Zizi-
Kris berdiri di depan wastafel dengan sikat gigi di tangannya, pria itu baru menyelesaikan mandinya setelah jarum pendek jam mengarah pada angka sembilan. Kris memang lebih memilih mandi malam hari bahkan saat dia tidak sibuk sekalipun, tapi hari ini menjadi terlalu malam karena dia harus membereskan kekacauan di kamarnya. Matanya tanpa sengaja melihat bebek karet yang terletak di depannya dan lagi-lagi wajah cantik dengan mata berkaca-kaca dan hidung manis yang memerah muncul di otaknya.
Kris mematikan laptop di pangkuan nya, punggungnya bersandar di headboard ranjang dan kedua kaki sempurna nya dibawah tebalnya selimut. Biasanya itu membuatnya begitu nyaman untuk mengakhiri hari minggunya dan untuk bersiap mengecek jadwal bekerja esok hari. Ditambah hujan deras yang terlihat samar dari jendelanya. Hal itu luar biasa hangat.
Tapi bagaimana dengan gadis itu? Mungkin dia sedang berdiri sendiri dibawah pohon dan air hujan tetap mengguyurnya. Mungkin orang lain sudah mengadopsinya. Punggung Kris berubah kaku, dia bukan lagi seekor kucing saat ini, bagaimana mungkin akan ada yang mengadopsi seorang gadis?
Jam menunjukkan pukul sebelas, Kris masih terjaga dan terkadang mengerang kesal dengan kekhawatiran konyolnya. Dia berusaha menahan diri begitu lama untuk tidak bersikap impulsif yang mengarah ke tindakan bodoh dengan berlari keluar rumah hanya untuk mencari gadis itu. Tapi bayangan jika mungkin saja gadis itu melakukan hal tidak masuk akal seperti yang terjadi di kamarnya terus saja menghantuinya, bagaimana jika ada orang yang berusaha memanfaatkannya?
Kris meneguk ludahnya payah, gadis polos luar biasa dengan tubuh sempurna. Kedutan familiar dirasakannya dari sudut lain tubuhnya. Sial kenapa pikirannya menjadi tidak terkendali seperti ini?
Kris mengusap wajahnya sedikit frustasi, dia tidak boleh seperti ini. Hm... bagaimana kalau gadis itu melakukan tindakan diluar batas yang mengarah ke kriminal? Mengingat kejadian tadi, bukan tidak mungkin gadis itu melakukan tindakan bodoh diluar sana kan? Lalu namanya akan terseret, mau tidak mau. Karena nyatanya gadis itu tau namanya. Dan setelahnya akan ada hal merepotkan. Pasti begitu. Pria itu sedang mencari alibi yang tepat untuk alasan kekhawatirannya.
Akhirnya pukul sebelas lebih sepuluh menit Kris menyerah. Pria itu menyambar kunci mobil yang dia letakkan diatas nakas. Dia masih sedikit waras untuk tidak berlari menembus hujan ternyata.
Bayangan jika mungkin orang tidak bertanggung jawab menemukan gadis itu silih berganti melintas di kepalanya, mungkin preman yang sedang mencari sasaran untuk dirampok. Tapi gadis itu tidak mempunyai apapun. Mungkin seorang pria tua mesum yang secara beruntung lewat dan melihat tubuh bagian bawah gadis itu yang berbalut celana renangnya. Sial! Itu sangat mungkin terjadi. Kris menginjak gas nya dengan sedikit kelebihan tenaga saat itu juga.
Nah itulah alasan sebenarnya kenapa dia kalang kabut saat ini.
Tbc BosQue
Sampai jumpa chapter selanjutnya..
