My Kitty Zizi
Kristao
AstagaKriswu
--
Kris Wu masih bertahan dalam ketiadaan kata-kata atas apa yang diucapkan gadis di depannya. Tepat saat itu, suara langkah kaki terdengar.
Kris secara alami tau siapa yang datang. Melihat kembali pada gadis yang memasang wajah mendung di depannya, pria dewasa itu menghela nafas. "Kembali ke kamarmu, mandi. Jangan melakukan apapun selain membersihkan dirimu."
Mendengar itu, Zizi memandang pria di depannya dengan alis yang terangkat antusias, sepertinya gadis itu sudah melupakan begitu saja kemarahan Kris padanya. "Apa Uncle Kris sudah mandi? Ayo mandi bersama!"
Cough. Chough.
Kris Wu melemparkan pandangan sengit pada gadis di depannya, lalu dia melihat waspada ke belakang, dia khawatir orang yang baru datang mendengar kalimat yang baru saja dikatakan gadis di depannya.
Dan benar saja, disana tiga orang wanita yang mengenakan seragam pelayan berdiri mematung, dengan wajah yang terlihat konyol karena rahang mereka menganga. Keadaan itu seolah mereka baru saja melihat seekor sapi terbang di depan mereka lalu mengatakan 'hai'. Luar biasa.
Mengikuti pandangan Kris Wu, Zizi juga menoleh ke sana. "Ah siapa itu?" Pekiknya, lalu bibirnya terangkat mengembangkan beberapa senyuman untuk orang-orang disana. Zizi juga melambai-lambai ke arah tiga orang yang masih belum menemukan jiwa mereka yang tersesat.
Orang-orang itu, mereka tidak tau keajaiban langit apa yang datang sehingga melihat bos mereka benar-benar memiliki seorang gadis di rumahnya!
Kris Wu, pria dua puluh tujuh tahun dengan segala jenis kesempurnaan nya. Walaupun dia adalah seseorang yang terlahir dengan sendok perak di mulutnya, dia masih berkembang menjadi sosok workaholic yang tidak pernah memikirkan hal-hal seperti kecantikan. Dia bahkan menepis wanita-wanita yang silih berganti mendekatinya!
Tapi kini, seorang gadis yang terlihat masih tujuh belas tahun benar-benar ada disana! Ah jadi sepertinya selera Tuan Muda Wu adalah daun muda. Hm hm.. ketiga pelayan itu diam-diam memiliki pemahaman tersembunyi di kepala mereka.
"Apa yang kalian lakukan memasang wajah bodoh di pagi hari? Kerjakan tugas kalian!" Kris Wu mulai mendikte setelah merasakan suasana aneh masih bertahan di udara. Mendengar bos besar sudah memerintah, ketiga pelayan itu berlari ke segala arah.
Setelah itu, Kris Wu menoleh ke arah Zizi yang masih melihat orang-orang dengan penasaran. "Jangan terlalu dekat dengan mereka." Kris Wu memberi titah.
"Kenapa?" Zizi mengedipkan matanya,
"Mereka suka memakan kucing." Kris Wu menjawab asal, lalu dia melenggang maju untuk mengambil air dingin dari kulkas. Mengenai beberapa hal, sebenarnya dia memiliki banyak pemikiran di kepalanya.
Tentu saja gadis ini tidak boleh dekat-dekat dengan siapapun yang menjadi pekerjanya. Gadis kucing itu memiliki kosa kata aneh yang terdengar ambigu. Itu tidak akan bagus jika ada yang mendengarnya berbicara ngawur.
Setelah mengambil beberapa teguk minuman dingin, Kris Wu berbalik, tapi kemudian dia memiliki garis diantara alisnya, mengernyit saat gadis kucing ternyata masih mengekorinya dari tadi.
"Kenapa kau belum bergegas?"
"Zizi menunggu Uncle Kris untuk memandikan Zizi..." Gadis itu berkata, merengek.
Ah!
Seorang pelayan yang bertugas memasak terlihat berbalik badan begitu saja. Dia tadi ikut berlari menjauh, tapi kemudian dia ingat bahwa pekerjaan nya ada di dapur. Tapi saat kembali, itu sepertinya bukan waktu yang tepat.
Melihat itu, Kris Wu menggelengkan kepalanya, dia merasa hal-hal mulai berkembang ke arah yang benar-benar aneh. Aneh dan gila. "Take a bath now. Aku tidak akan memandikan mu, aku harus pergi."
Zizi terlihat memasang wajah kecewa, "Uncle mau kemana?"
"Bekerja. Sekarang, kemari." Kris berjalan keluar dari dapur dengan Zizi yang secara alami yang mengekorinya. Kemudian dia membawa gadis itu ke lantai atas.
"Zizi mau ikut, boleh?" Gadis itu memasang wajah memohon setelah mereka sampai di depan pintu kamar.
"Tentu saja!"
Mendengar jawaban Kris Wu, Zizi memiliki beberapa ekspresi antusias di wajahnya, "Jadi Zizi boleh ikut?!"
"Tentu saja! Tidak."
Wajah antusias gadis itu terdistorsi begitu saja. Mata dengan kilauan cahaya seperti manik jernih di danau tengah malam mulai dilapisi air tipis. "Zizi tidak akan mengacau Uncle, ajak Zizi, Ajak Zizi... Uncle bilang semua orang itu suka memakan kucing, bagaimana Zizi bisa tetap ada disini?"
Mendengar rengekan yang berulang, Kris Wu mendapati sakit kepalanya menjadi lebih parah. Tapi salah siapa itu?
Memang dia sendiri yang mengatakan hal seperti itu tadi. "Kau tenang saja, aku akan memberi mu senjata."
"Senjata?" Zizi membeo, "Apa itu?" Gadis itu mengejar kata-kata Kris Wu karena saraf dimana rasa penasaran gadis itu berdiam sudah disinggung.
"Nanti. Sekarang mandi dan temui aku di meja makan." Kris Wu berkata dengan tonasi yang tidak bisa di ajak bernegosiasi lagi.
"Baiklah, baiklah.. Zizi akan berangkat sekarang!"
Setelah gadis kucing berbalik menuju kamar mandi, saat itulah Kris Wu seperti merasa tercerahkan. Ternyata itu hanya butuh beberapa trik untuk membuat gadis kucing menurut. Pikir pria itu sambil menuruni tangga.
Saat mencapai lantai dasar, pelayan lain sudah berdatangan, itu sekitar sepuluh orang. Dia memang mengatur agar pelayan membersihkan rumahnya hanya lima kali dalam seminggu, meninggalkan hari sabtu dan minggu untuk hari tenangnya dirumah.
Mereka juga dijadwalkan hanya datang di pagi hari, mengenai hal-hal lain seperti makan siang dan makan malam, dia ahli mengatur untuk dirinya sendiri. Tapi berfikir ulang tentang adanya gadis itu sekarang, sepertinya dia harus menerapkan beberapa perubahan.
"Kalian, kemari." Pria itu menunjuk satu persatu wanita berseragam yang hampir menyelesaikan pekerjaan mereka. Itu adalah satu untuk juru masak, satu lainnya mengambil tugas untuk membereskan debu, dan yang satu lagi adalah pelayan senior yang dipekerjakan orang tuanya saat pertama kali dia memutuskan tinggal sendiri.
"Untuk hari-hari mendatang, selama aku belum pulang, kalian akan tetap tinggal untuk mengawasi gadis yang ada disini."
Ketiga wanita itu menjawab bersama menunjukkan mereka paham, lalu mereka terlihat saling memandang satu sama lain setelah bos mereka berbalik.
"Uncle, baju Zizi basah,"
Semua orang menoleh ke arah tangga, dan hal yang mereka lihat membuat semua orang memiliki wajah yang beragam. Beberapa pelayan mulai berbisik satu sama lain lalu terkikik, yang lain malah memiliki rona merah muda disana. Bagaimanapun juga, gadis itu hanya mengenakan bathrobe yang dipakai asal-asalan. Dan kalimat yang di ucapkan gadis itu juga menimbulkan spekulasi di kepala para pelayan.
Gadis itu ada dirumah ini, tadi pagi dia terlihat memakai pakaian milik bos mereka, lalu kali ini dia meminta pakaian yang lain. Mata para pelayan beralih dari gadis di tangga lalu pada bos mereka yang mematung di sofa.
Apakah Tuan Muda Wu benar-benar membawa gadis dibawah umur kabur dari rumah orang tuanya, kemudian membawanya ke kediamannya sendiri?
Merasakan tatapan semua orang mengarah padanya, Kris Wu tersadar setelah beberapa lama terpaku. Kemudian dia berjalan menghampiri gadis itu, meraih pergelangan tangannya lalu menyeretnya ke lantai atas.
"Sakit Uncle," Zizi meringis setelah tangannya dihempaskan begitu saja saat sudah berada di kamarnya.
"Sebenarnya ada apa denganmu?! Kau membuat semua hal menjadi sebuah kegilaan!" Kris Wu menggeram dari balik rahangnya yang mengeras.
Sebenarnya hal konyol apa yang dia lakukan tadi malam? Kenapa dia membawa biang masalah ini kembali ke rumahnya!
Dia selalu memiliki kendali atas semua hal di tangannya, setidaknya begitu sampai gadis ini datang. Gadis yang membawa beberapa perasaan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Itu jelas tidak akan berkembang menjadi sesuatu yang bagus jika dibiarkan lebih lama!
"Uncle, uncle.. jangan marah," Zizi bergerak maju memeluk lengan pria di depannya. Dengan mata yang dilapisi air tipis, gadis itu melihat ke arah pria dewasa itu. "Zizi benar-benar tidak sengaja membasahi baju yang uncle berikan, jadi Zizi tidak memiliki gantinya.." Gadis itu menjelaskan dirinya dengan beberapa air mata yang menetes dari mata bening nya.
Itu sebenarnya penjelasan yang keluar dari topik, gadis itu benar-benar memiliki kesalahpahaman atas dasar apa Kris Wu mulai memarahinya lagi.
Tapi walaupun begitu, kalimat gadis itu berhasil membuat Kris Wu terdiam, melihat bulu mata panjang itu bergetar di atas mata yang terlihat rapuh dan rapuh, pria itu memiliki beberapa hal asing yang merayap di hatinya. Dia bersimpati.
Ah itu bohong.
Sebenarnya bukan itu, tapi dia mematung karena merasakan perasaan hangat yang menekan bisep nya. Dia tidak bisa membantu tetapi matanya meluncur begitu saja ke arah dimana tekanan itu terasa.
Dari jarak pandangnya, itu ada hamparan kulit yang terlihat halus dan halus dibawah kain putih. Melihat itu, dia sebenarnya tidak percaya dia memiliki beberapa perasaan tidak nyaman di salah satu anggota tubuhnya!
Dia mencoba mengalihkan perhatiannya, pandangannya bergulir ke atas, tapi hanya untuk menemui bibir berwarna persik yang terlihat berkilau disana. Apa bibir seseorang memang bisa terlihat sesegar itu? Perasaan kering mulai menyapa tenggorokan nya, itu terlihat sangat bagus jika dia bisa sedikit menyesap hal segar itu.
Satu pemikiran impulsif sudah muncul ke permukaan, apalagi selanjutnya? Tidak ada pertimbangan lain. Detik selanjutnya dia sudah menyesap bibir itu dibawah kendalinya, mencecap dengan lidah dan membawa hal-hal manis untuk dirinya sendiri.
Sementara gadis itu masih diam dan diam, tangannya tanpa halangan apapun menggali jubah putih yang mengganggu. Dia ingin merasakan kelembutan dengan tangannya. Saat ini siapa yang akan menghentikannya?!
Tiba-tiba dering ponsel menggantikan dominasi kecapan ciuman basah. Itu terdengar benar-benar mengganggu. Kris Wu mengambil jarak dan tidak bisa tidak mengumpat pada benda di saku celananya.
Mengambil benda itu ke arah telinganya, pria itu mengatakan halo dengan keras pada orang di seberang sana.
'Ada apa dengan mood mu hari ini? Brother, apa aku mengganggu waktu pagi mu untuk beronani?'
Wtf!
Kris Wu secara serampangan melirik gadis di sampingnya yang masih terdiam. Pria itu menutup matanya gusar, kemudian dia dengan marah menendang pantat dari visualisasi dirinya sendiri ke dalam jurang di pikirannya.
Dia benar-benar ingin membunuh pikiran kotor apapun itu yang berhasil mengambil alih! Memalukan.. benar-benar memalukan..
Setelah berbicara singkat, itu sebenarnya adalah panggilan untuk dia bergegas pergi ke kantor.
Kemudian Kris Wu memandang kembali gadis di sampingnya, dia tidak tau kenapa tapi dia melihat wajah gadis itu memucat. Dia pasti ketakutan.
"Kau tidak apa-apa?" Pria itu bertanya ragu,
Dan mata gadis itu terangkat untuk melihatnya dengan binar mata yang terlihat kebingungan. Hidung gadis itu bahkan juga memerah disana. "Uncle Kris juga suka memakan kucing ya?"
"Apa?!" Kris Wu sekali lagi meninggikan suaranya. Apa-apaan itu?!
"Zizi tidak apa-apa dimakan Uncle Kris seperti tadi, tapi Uncle Kris jangan terus memarahi Zizi, ya?"
" ... " Kris Wu.
Tbc bosQue
A/N: Yang pakai wattpad bisa cek cerita lain saya disana. User name nya sama, AstagaKriswu.. hhh3
