Ino memegang kenop pintu kamar Sasuke, "Kalau begitu, jaa matta ne ? Sasu, smile," salam Ino seperti biasa sebelum ia meninggalkan suatu tempat, ia pasti memberi ucapan 'smile' di akhirnya.

"..hn, itterashai," terdengar gumaman pelan dari Sasuke di telinga Ino. Sejenak Ino terbelalak, namun tatapannya kembali teduh. Ino menutup pintu kamar Sasuke pelan. Kepalanya terasa sedikit pening tapi ia hiraukan karena jantungnya sedang berdegup kencang mendengar jawaban Sasuke, ia bahagia.

'Terimakasih atas doamu, Sasuke-kun.'

.

.

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

"Deko-chan, jadi bagaimana hubunganmu dengan Naruto-nii ? Lancar ?" tanya Ino pada sahabat gadisnya yang memiliki warna rambut senada dengan bunga kebangsaan negaranya, Haruno Sakura. Sakura mengangguk untuk menjawab pertanyaan Ino. Ino mendadak berhenti sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Sakura ikut menghentikan langkahnya dan berdiri di depan Ino.

"Lebih baik ku antar kau pulang sekarang Ino," kata Sakura khawatir.

"Tapi, tomat-"

"Tidak. Kau kuantar pulang, menulis bukumu, lalu baru kau boleh memasak untuk Sasuke-kun! Setelah itu ku antar kau ke kamarmu lagi. Titik," tegas Sakura. Ino sudah tidak dapat membantah jika sahabatnya sudah berbicara dengan nada tegas. Ino mengangguk pelan dan kembali berjalan bersebelahan dengan sahabatnya. Ukh.. Ino tidak menyukai dirinya.

.

.

.

.

.

'Ino.. lama,' batin Sasuke. Entah kenapa rasanya sunyi jika tidak ada Ino di dekatnya. Sasuke mulai merindukan Ino. Lagi.

Sasuke menatap atap kamarnya yang berwarna putih bersih. Ia menerawang lagi ke masa lalunya yang bahagia.. atau yang 'itu' ? Sasuke langsung menepis bayangan yang baru saja muncul di benaknya. Dadanya terasa tertusuk oleh luka yang sudah lama dipendamnya. Sasuke memfokuskan perhatiannya ke arah ponsel genggam yang entah sejak kapan sudah ada di telapaknya. Sasuke menatap bingung layar di depannya. Apa yang ia cari ? Oh iya, Karin.

Tuut tuut tuut

Sasuke menurunkan ponselnya dari telinga. Ia mencoba berkali-kali, namun hasilnya 'Tidak ada jawaban,' batin Sasuke yang menatap kosong layar ponselnya. Ia lalu beralih ke galeri foto di benda kubus canggih itu. Menggeser beberapa foto yang ia ingat kejadiannya. Ada foto ia dan Karin, Naruto beserta sahabatnya yang lain, keluarganya, lalu berhenti.

Disitu ada Sasuke dan Ino. Saling merangkul dan tersenyum manis. Dengan latar belakang taman sakura dan menggenakan pakaian dengan warna yang cocok satu sama lain.

Ini yang 'waktu itu' ? Sasuke menerawang. Ingatan lama itu tidak ia kubur dengan sempurna, sampai sekarang. Ia ingin menguburnya tapi juga tak ingin membuangnya. Jari telunjuknya bergeser ke arah ikon delete. Namun terhenti, biarlah ia simpan foto itu. Kenangan tidak seharusnya dibuang kan ?

Krek

"Tadaima," ucap Ino. Sasuke segera mengganti aplikasi ponselnya ke layar menu. 'Apa yang ku ributkan ?' Sasuke merutuk. Kenapa ia takut bila Ino melihatnya memperhatikan foto 'itu' ? Sasuke bingung sendiri sekarang. Efek obat mungkin ? Sasuke jadi sibuk menyalahkan efek samping obat yang ia minum, padahal efeknya hanya kantuk.

Karena terlalu sibuk dengan pemikirannya, Sasuke jadi tak sadar bahwa Ino sudah ada di depan pintu kamarnya membawa segelas jus tomat segar favorit Sasuke. Sasuke langsung tersadar kembali setelah Ino memanggil namanya.

"Sasuke-kun, aku buatkan jus," jelas Ino sambil menyerahkan gelas itu ke arah Sasuke.

"Hn," jawab Sasuke. Sasuke meneguk beberapa kali cairan berwarna merah itu. Sasuke meletakkan gelasnya ke atas meja di sampingnya.

Terjadi keheningan sesaat. Baik Ino maupun Sasuke tidak ada yang bersuara. Ino menundukkan lehennya ke arah lantai. Sasuke melihat ke arah langit-langit kamarnya. Dua-duanya telah tertelan oleh keheningan masing-masing. Akhirnya Ino mengangkat kepalanya dan menghadapkan badannya ke arah Sasuke.

"Aku pulang dulu ya Sasuke-kun, ini sudah lebih dari jam lima sore. Sakura bisa mengamuk padaku nanti," Ino tersenyum manis. Sasuke menatap Ino datar.

"Hari ini.. menginap saja," bisik Sasuke. Namun bukan Ino namanya jika tidak bisa mendengar suara Sasuke walaupun pelan.

Sesaat tercetak raut terkejut di wajah Ino, lalu kembali santai. Sasuke memalingkan wajah ke arah berlawanan Ino duduk. Ino mengeluarkan handphone dari saku bajunya, mengetik sesuatu. Lalu terdengar bunyi notifikasi pesan masuk. Lalu Ino mengetik lagi. Begitu terus hingga dua menit ke depan. Sasuke melirik Ino dari ujung matanya. Terlihat Ino tersenyum senang sambil menatap layar smartphonenya.

"Ya, aku menginap! Mohon bantuannya," Ino menundukan kepalanya dan tersenyum senang.

Sasuke mengangguk patah-patah. 'Sial,' Sasuke lupa jika di apartemennya hanya mempunyai satu kamar. Sasuke masih melihat Ino berkutat dengan telepon genggamnya. Sasuke memutuskan untuk berpikir saja terlebih dahulu.

"Eh.. aku tidur dimana ?"

Sial, keduluan!

"Ehm, terserah kau saja. Kau boleh tidur di mana saja," deham Sasuke untuk menutupi kecerobohan yang sangat ceroboh (?).

"Oh, baik. Ng.. kalau begitu akan ku siapkan makan malam. Tunggu ya," jawab Ino sambil bersenandung kecil, keluar dari kamar Sasuke.

Setelah Ino keluar, Sasuke gulung-gulung di ranjangnya. Ke kanan, ke kiri, kulihat saja.. banyak pohon.. eh salah, *author di gotong ke ladang ranjau darat, air, api, dan udara, dahulu.. (ngaco nya kambuh lagi)* ULANGI!

Setelah Ino keluar, Sasuke menggeram kecil. Kenapa bibirnya bisa begitu lancar mengatakan kalimat ajakan untuk menginap di apartemen nya. Otaknya juga tidak memberikan sinyal peringatan saat ia mengucapkan kalimat ajakan tadi. 'Kuso, kuso, kuso!' batinnya geram.

Namun sebagian dirinya merasa senang. Ino bisa meninap di apartemen nya hari ini. Artinya ia bisa bersama Ino malam ini hingga besok. BERDUA! MALAM INI! DI APARTEMEN NYA! IA DAN INO!

HOOOOIII!

Ingat fanfic ini ratingnya T Sasu! Author gak mau di gebukin karna salah kasih rating! Juga hentikan kepala jenius tingkat duniamu itu memikirkan hal yang tidak bermanfaat begitu! Kasihanilah author! Ikuti aja cerita yang di buat author dengan baik walau ceritanya pada ancur semua! *lagi lagi author ngerusak* *di buang ke rumah sakit jiwa*

Sasuke menggelung dirinya di balik selimut. Menghadap arah yang berlawanan dengan pintu masuk. Ino masih belum memberikan tanda bahwa makan malam sudah siap. Sasuke berniat turun dari ranjangnya. Badannya sudah agak mendingan, namun suhunya masih sedikit hangat. Sasuke menyibakkan selimut bergambar bendera Amerika itu dari bagian tubuh bagian bawahnya. Ia berjalan melewati pintu kamarnya dan menuju dapur. Menatap sekelilingnya yang nampak lebih rapi dan bersih.

Ia melanjutkan jalannya ke arah dapur. Disana seorang gadis dengan rambut pirang gaya ponytail berdiri di depan kompor sambil menggunakan celemek abu-abu. Tangan kanannya memegang sendok sayur dan tangan kirinya memegang kepalanya. Mencengkram kepalanya.

Kepala ? Kenapa kepalanya ?

"Hei," tegur Sasuke. Terselip suatu makna di suaranya. Secara reflek Ino berbalik menghadap Sasuke yang entah kapan sudah berdiri di depan meja makan.

Gadis itu memejamkan matanya sebentar sebelum menatap Sasuke. "Kau membuat ku kaget," ujar Ino. Ia kembali menghadap kompor dan mematikan api. Ino mengambil dua mangkuk kecil dan mulai menuangkan isi panci yang mengepulkan uap panas berbau harum. Setelah selesai, ia menaruh mangkuknya dan beberapa makanan ke atas meja makan. Nasi, ikan salmon potong, tempura kepiting, sup tomat dan segelas air putih Ino hidangkan di meja.

"Sudah siap! Silahkan Sasuke-kun," ujar Ino senang. Sasuke mengangkat satu alisnya lalu duduk di salah satu dari empat kursi disitu. Ino duduk di depan Sasuke dan mengambil mangkuk sup nya. Sasuke mengatupkan tangannya, berdoa, sebelum mengambil sumpit. Sasuke menatap Ino, gadis itu makannya lahap sekali. Pipi putihnya menggembung seperti tupai yang menyimpan biji di dalam mulutnya, imut sekali.

Tanpa sadar Sasuke tetap menatap Ino yang sedang makan tanpa menyentuh makanannya sama sekali. Ia hanya memegang sumpit tanpa mau menggunakannya untuk mengambil makanannya. Matanya tetap terfokus pada gadis yang sedang ada di hadapannya ini. Sasuke tidak akan tersentak jika gadis itu tidak menatap matanya balik dengan pandangan bertanya.

"Tidak enak ?" tanya Ino. Tangannya yang memegang sumpit sedikit melemas.

Sasuke berdeham, "Aku belum mencobanya karena masih sedikit panas." ujarnya mencari alasan. Matanya memandang ke arah lain, tak ingin menatap mata sang gadis pirang.

"Oh,"

"Ya.."

Ino mengerjapkan matanya pelan beberapa kali. Terlihat sedang menimang-nimang sesuatu. Ia kembali menatap Sasuke yang sedang memperhatikannya lagi dan berpura-pura meminum air putihnya.

"Mau ku suapi ?"

UHUK!

Sasuke memuncratkan air yang di minumnya ke samping. Ino tiba-tiba menanyakan sesuatu yang memalukan dengan polosnya, dengan tampang itu. Sasuke gagal paham dengan gadis ini. Ia mengelap mulutnya dengan salah satu punggung tangannya dan memalingkan wajahnya. 'Kenapa jantungku berdegub begini ? Padahal itu hanya pertanyaan konyol yang seharusnya tidak membuatku kaget..' batin Sasuke sambil tetap membersihkan mulutnya.

Namun sebelum Sasuke membalas ucapan gadis itu sebuah bunyi bedebam telah terlebih dahulu terdengar dari arah Ino.

Badan gadis itu telah berada di atas lantai.

.

.

.

.

.

.

.

"K-kh! Pusingnya.."

Ino terbangun dari 'tidurnya'. Ino mencoba mendudukkan diri dan bersandar di badan ranjang. Fuh, Ino memegangi kepalanya dengan satu tangan. Mulutnya menghembuskan nafas kecil sambil mengingat apa yang terjadi. Seingatnya ia berada di dapur Sasuke, lalu..

Zkit

"Itte..tte..tte.." rintihnya saat berusaha mengingat kembali apa yang di lupakannya. Saat berusaha mengingat lagi, kepalanya lagi-lagi menolak dan memberikan sakit yang tak tertahan. Ino menyerah.

Omong-omong.. Ino sekarang.. berada di kamar Sasuke.

HEH ?!

Wajah Ino memanas sendiri membayangkan Sasuke yang memindahkan dirinya kesini. Tapi segera digantinya dengan senyuman lebar dangan pipi merona. Ah, iya juga, itu memalukan. Ino bertanya-tanya kemana perginya Sasuke di saat ini.

Krek

'Ah, panjang umur,' batin Ino melihat Sasuke baru saja membuka pintu. Ia menggenggam tas plastik putih di tangannya. Sasuke menatap Ino sebentar sebelum masuk dan berdiri di samping kanannya.

"Kau.. baik ?" tanya Sasuke ragu. Ia tak tahu apa yang harus diucap. Cih, memalihkan pandangan adalah hal paling bagus sekarang. Bodoh sekali menyakan keadaan orang yang baru saja siuman dari pingsannya dengan kata 'kau baik ?'. Sasuke malu sekali. Mungkin Ino akan menertawakannya sebentar lagi.

"Iya, aku baik kok," jawab Ino sambil tersenyum. Sasuke membelalakkan mata sambil menatap Ino yang tersenyum.

'Dia tidak menertawakanku ?'

"Pfft, apa-apaan pertanyaanmu itu ? Tidak seperti kau saja," tambah Ino sambil menutup mulutnya.

'GADIS INI,' inner Sasuke berteriak dengan perempatan di dahinya meskipun wajahnya tetap datar.

"Ahaha, yare-yare.. maaf kau membawa apa omong-omong ?" tanya Ino mengganti topik melihat beberapa aura gelap yang menguar dari tubuh Sasuke.

Sasuke yang tersadar segara mengalihkan pandangannya ke arah tangannya yang membawa bungkus obat-obatan yang baru saja ia beli di apotek. "Ini obat anemia, kukira kau sedang kekurangan zat besi melihat kau memegangi kepalamu tadi." jawab Sasuke. Ino terlihat kaget. Sasuke menatap Ino balik.

"K-kau.." Ino tergagap sambil menatap Sasuke.

Sasuke tersadar, "Jangan salah sangka. Meskipun aku sakit tapi aku sudah baikan, anggap saja ini balas budi dari ku," jawab Sasuke memalingkan wajah sambil menyodorkan obat di tangannya ke depan Ino. Sasuke merasakan jantungnya berdetak cepat sekarang. Efek ia berlari terlalu kencang saat panik membeli obat untuk Ino kah ? Yah, mungkin..

Ino mengerjapkan matanya beberapa kali, "Apasih, padahal yang kutanyakan itu kau menghabiskan makanan buatan ku atau tidak lho.." jawab Ino datar.

Hah ?

"Hahaha.. dasar! Sasuke, kau tsundere ya ?" jawab Ino tertawa lagi, berhasil membuat Sasuke mati kutu.

Uhuk!

Sasuke tetap memalingkan mukanya dari Ino, menahan malu. Apa-apaan lagi ini ?! Bibirnya seolah berbicara sendiri tadi. Sasuke memutuskan keluar dari kamar sebelum harga dirinya hilang disini.

"Tapi terima kasih ya," ucap Ino.

Sasuke berhenti di depan pintu mendengar kalimat Ino. Ia mengangguk samar untuk membalas. Senyuman kecil tercetak di wajahnya, Sasuke rasa, ia akan melanjutkan makan lalu tidur setelahnya.

'...'

Ia... akan tidur dimana ?

.

.

.

.

.

.

.

"Banyaknya kecelakaan yang terjadi di bulan ini, warga diharapkan berhati-hati jika menyebrang jalan. Melihat kanan dan kiri dan juga lampu penyeberangan. Karena banyak pengendara kendaraan yang senang melanggar aturan lalu lintas. Demikian info yang mengakhiri-"

Sasuke mengganti berita yang dilihatnya. Bosan melingkupinya. Ia menidurkan badannya di sofa dan tetap mengganti-ganti channel di tv. Malam juga semakin larut. Ia harap cepat terlelap karena selain bosan, gadis pirang yang sedang duduk di depannya ini tampak menikmati semangkok es krimnya, meskipun Sasuke juga dapat.

Gadis ini tak mau tidur dengan alasan kamar Sasuke terlalu gelap. Sasuke menyuruhnya untuk menyalakan lampunya saja bila takut, Ino malah menyambarnya dengan kalimat yang Sasuke tidak mengerti. Seperti nanti terkena kanker lah, inilah, itulah, dan banyak lagi. Sasuke yang capek mengalah saja.

Lalu kenapa ia tidak pakai saja kamarnya untuk tidur ? Jawabannya tentu saja sebagai lelaki yang gentle (katanya) harus mengalah (lagi) untuk perempuan. Ia tidak mau membiarkan seorang perempuan tidur di sofa kan ?

Ino masih menatap layar televisi sambil menyantap camilannya yang entah kenapa tidak terlihat berkurang sama sekali. Sedangkan Sasuke sudah habis. Akh, apa yang harus Sasuke lakukan sekarang ?!

Ino masih dengan tenang menatap televisi meskipun dari tadi tidak jelas channelnya karena selalu diganti oleh Sasuke.

"Ne Sasu," Ino memecah keheningan diantara mereka. Sasuke melirik Ino yang masih terfokus dengan tv.

"Suatu saat nanti kita akan beranjak ke masa depan kan ?"

"Tentu,"

"Mencapai apa yang kita inginkan dan hidup bahagia kan ?"

"Hm,"

"Jika saat itu datang, apa kau akan melupakan aku ?"

Sasuke tak menjawab. Pertanyaan ini membuatnya bingung. "Kenapa ?" tanya Sasuke meminta penjelasan. Ino bergeming sejenak. Ia memutar badannya dan menatap Sasuke. Sasuke balas menatap Ino.

"Entahlah, aku hanya takut. Jika kau melupakanku, maka aku tidak tau harus bagaimana lagi. Hanya Sasuke sekarang keluargaku yang paling dekat. Aku hanya tak ingin sendirian lagi," jawab Ino mengalihkan pandangannya lagi ke televisi.

Sasuke membelalakkan mata kaget kepada gadis dengan rambut panjang terurai di depannya ini. 'Keluarganya yang paling dekat ?' Sasuke ? Jika diingat benar juga, ayah dan ibu Ino sudah meninggal saat dia SMP. Ino sekarang dirawat bibinya yang juga menjadi pemilik rumah sakit besar disekitar sini. Jadi selama ini ia merasa sendiri ? Kesepian ?

Ah, Sasuke tau bagaimana rasanya. Mungkin jika Ino tidak menunggunya setiap hari disini, Sasuke akan merasa sepi. Rasanya Sasuke sedikit menyesali kelakuannya dulu \. Ino adalah gadis lembut dan keibuan. Jauh berbeda dengan Karin. Haruskah ia meminta maaf ? Sasuke mulai bimbang, ia akhirnya lebih memilih pilihan lain, yaitu membalas kebaikannya.

"Aku.. tidak akan," kata Sasuke pelan.

Ino berbalik menatap Sasuke dengan ekspresi terkejutnya. Dan menjadi lebih kaget lagi sekarang, Sasuke tampak berbaring dengan senyum kecil. Ino menatap televisi lagi untuk kesekian kalinya dan tersenyum lembut.

"Begitukah..?" gumamnya pelan, tak menghiraukan Sasuke yang penasaran akan gumaman yang kelewat pelan dari Ino.

"Ah iya! Sasuke- kun-,"

"..apa ?"

"Apa yang harus kulakukan dengan ini ? Rasanya enak tapi dari tadi tidak habis-habis." ujar Ino sambil mengangkat mangkok berisi es krimnya ke arah Sasuke.

Sasuke menatap Ino dengan satu alis terangkat. Gadis di depannya memang mempunyai sifat yang menarik. Selalu membuatnya merasakan sesuatu yang baru dan membingungkan. Seperti yang baru ini, haruskah dia membalas pertanyaan yang memang 'sesuatu' dari Ino ini. Tapi ia memang masih ingin makan kudapan dingin itu lagi sih..

"...biar ku habiskan,"

"Hahaha, kau sangat ingin makan es krim yah ? Memang yang ada di kulkas cuma rasa tomat sih.." ujar Ino tergelak sambil menatap Sasuke.

"Simpan saja kembali ke dalam kulkas."

"Pfft, nih habiskan ya,"

"Simpan saja kembali."

"..air liurmu keluar tuh."

"...makasih."

"Kau yang cuci ok ? Hehe,"

"...ya, baiklah."

TBC


Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf sekali baru bisa update sekarang T.T Sudah berapa bulan yah.. 1.. 2.. 3.. Hu-huaaa banyaaak XO
Maaf juga kalau yang di atas tidak memuaskan sama sekali T.T Mee masih amatiran yang agak malas buat ngetik di laptop :v (beresin laptop aja males *lagi-lagi buka aib*)

Sekian cin-cong nya, RnR buat Mee ?

Salam,
Meenyaaw