"Pfft, nih habiskan ya,"

"Simpan saja kembali."

"..air liurmu keluar tuh."

"...makasih."

"Kau yang cuci ok ? Hehe,"

"...ya, baiklah."

.

.

.

.

Happy Reading

Naruto belongs to Masashi Kishimoto- sensei

.

.

.

.

'Sasuke- kun, sarapan untukmu sudah ku siapkan. Aku harus buru-buru kembali ke apartemenku karena ada janji dengan Sakura- chan. Terimakasih untuk semalam ya!'

Begitu isi surat yang ditinggalkan Ino di meja makan. Pagi-pagi saat Sasuke terbangun, ia sudah tidak melihat Ino di dalam apartemennya. Gadis pirang tersebut ternyata telah meninggalkan tempat tinggal sementara Sasuke.

Sasuke tidak ada masalah sebenarnya, tapi di dalam hatinya seperti ada yang mengganjal. Entah apapun itu, Sasuke tidak mengerti. Rasanya aneh, tidak nyaman dan membuat bingung.

Sasuke tidak peduli lagi. Ia harus berangkat kerja sekarang.

.

.

.

.

.

.

Krek

"Okaeri Sasuke, smile!"

Suara seorang perempuan mengejutkan Sasuke yang baru saja kembali dari kerja. Terlihat seorang gadis yang sama seperti kemarin menginap. Dengan baju one piece berwarna lembut dan rambut pirang yang terjalin menjadi satu, tak lupa senyuman yang merekah di wajahnya. Ino menyambut Sasuke dengan ceria seperti biasa. Dan Sasuke hanya datar, seperti biasa.

Mereka duduk di meja makan. Memakan makan malam yang dibuatkan oleh Ino. Ino tidak menginap, ia bilang akan disini hingga Sasuke mengantuk. Sasuke cuek saja. Lagi pula ia tidak memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan.

Tumben.

Biasanya Sasuke akan menjauhi Ino.

'Masa Bodoh.'

Selesai makan, mereka mulai duduk bersama di ruang tv. Mengganti-ganti channel dan mengobrol sedikit, tentu didominasi Ino. Sasuke tetap diam, entah mendengarkan atau tidak.

"Sasuke, apakah kau akan marah jika suatu saat aku akan melupakanmu ?"

Tik

Tangan Sasuke berhenti menekan tombol remote control tv. Onyxnya melirik ke arah Ino yang terlihat menyembunyikan wajahnya.

"Ada apa ?"

Sasuke tetap berusaha tidak penasaran walau ia sudah terlanjur penasaran dengan kalimat yang gadis itu ucapkan barusan.

"Entahlah, lupakan saja yang tadi. Yang penting sekarang kita bisa tersenyum," jawab Ino sambil menunjukkan senyum, yang tampak mendung.

Sasuke hanya menanggapi kalimat Ino dalam diam sambil tetap menatap paras cantik itu. Yang entah kenapa terlihat kesakitan.

Greb

Hah ?

"Sasuke- kun, ganti channelnya! Aku takut melihat film hantu!" ucap Ino sambil menggenggam erat sebelah lengan Sasuke dan menenggelamkan wajahnya.

Sasuke segera tersadar dan mengganti channel tv dengan cepat. Tangan Sasuke masih digenggam erat oleh Ino.

Nyaman.

Entah sejak kapan mereka menjadi dekat kembali. Sejak kapan juga ia terakhir merasakan perasaan seperti ini ?

Sangat aneh, dan juga .. sangat menggembirakan. Sasuke merasa terlewati oleh waktu. Tangannya yang lain akan mengelus surai Ino sebelum bunyi pintu terbuka terdengar.

BRAK!

"Sasuke- kun! Kau selingkuh dibelakangku ?! Aku membencimu! Kita putus!"

Karin membanting pintu depan apartemen Sasuke kasar. Surai merahnya mulai melambai seiring dengan menjauhnya kakinya dari pintu utama apartemen Sasuke. Tampak ada air yang mengalir dari balik kacamatanya. Karin berlari menjauh dari tempat ia berdiri sebelumnya.

Sasuke tanpa basa-basi melepas kasar tangan Ino dan mengejar Karin. Ia tak menghiraukan seorang gadis yang masih memberikan tatapan terkejut dan hampa di saat bersamaan. Tak lama tetes air pertama datang disusul dengan tetes yang lain.

Hujan mulai terlihat. Pelan, tak bersuara.

Dingin dan ..

.. Hangat.

.

.

.

.

"Karin dengarkan!"

Sasuke tengah menggenggam satu pergelangan tangan Karin, terengah-engah sambil menatap lawan bicaranya. Karin yang berbalik paksa karena Sasuke menarik satu tangannya hanya bisa memperlihatkan tangisnya. Rintik hujan mulai menderas, membasahi apa saja yang dilaluinya.

"Apa yang 'tidak seperti dugaanku' Sasuke ?! Sudah jelas aku melihatmu berpegangan tangan tadi! Aku mendengar semua percakapan kalian juga! Jangan kira aku tidak tahu bahwa ia juga meninap di rumahmu kemarin!" bentak Karin mengeluarkan semua yang ada di tenggorokannya. Suara hujan sedikit membuat pelan suaranya.

Sasuke terdiam, "Tidak. Kami tidak melakukan apapun kemarin, sungguh!"

Karin tersenyum mengejek, " 'Apapun' ? Oh, jangan-jangan ia datang untuk melakukan 'apapun' lagi denganmu ?!"

Sasuke semakin terlihat kesal. Meyakinkan wanita saja sudah susah, apalagi wanita yang keras kepala. Ia sudah penat. Giginya terdengar bergemelutuk.

"Kau salah paham Karin- san, kami sungguh tidak melakukan apapun. Sasuke- kun berkata jujur, aku hanya menginap saja semalam," Ino datang dengan badan penuh dengan peluh, namun cara ia berbicara sungguhlah halus seperti dia tidak pernah berlari tadi meskipun bajunya basah kuyup terkena air hujan.

"Hei jalang! Untuk apa kau menginap di rumah pacarku ?! Butuh belaian ?! Bukannya banyak yang akan meminjammu di luar sana hah ?!" Karin membentak Ino kasar. Tangannya yang lain terlihat menjambak rambut kepala Ino. Ino hanya bisa meringis kesakitan saat telapak Karin menarik kasar rambutnya. Ia sama sekali tidak membalas.

"Karin, jaga ucapanmu!"

Sasuke menarik paksa tangan Karin yang berada di atas rambut Ino dan membentaknya. Ino sedikit terhempas karena kekuatan lengan Sasuke. Karin menatap Sasuke tak percaya.

"Kau membelanya sekarang ?! Baiklah, semua cukup disini. Kita berakhir," Karin menghampaskan tangannya paksa dari cengkraman Sasuke dan berlari menyebrangi jalan.

Sasuke menatap Karin dari kejauhan. Dengan cepat ia berbalik dan mencengkram kedua bahu Ino yang basah kencang.

"Kenapa kau kesini ?! Kau itu memperburuk suasana! Pergilah! DASAR TIDAK TAHU DIRI!" bentak Sasuke keras. Kedua tangannya digunakan untuk menghempaskan badan Ino yang lebih kecil darinya itu. Ino terdorong mundur beberapa langkah karenanya.

Sasuke kembali mengejar Karin yang tengah berada di jalan yang penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang dengan cepat untuk meneduh. Mereka berdua tetap bertukar argumen dengan berteriak keras diantara deras hujan. Tak peduli orang-orang yang memperhatikan mereka dengan pandangan aneh dan suara pejalan yang semakin sepi. Sasuke dan Karin tetap diam di tempat, saling berteriak dan membentak. Sebelum suara klakson truk terdengar samar dan kedua pasang mata melebar terkejut.

Mereka telah terdorong mundur beberapa langkah ke belakang dan jatuh tepat di atas trotoar. Tidak jadi tertabrak oleh transportasi besar yang baru saja membunyikan suara peringatannya. Seseorang telah mendorong mereka dan membiarkan dirinya sendiri dibawa bermeter-meter untuk terpelanting keras di atas aspal basah yang kasar. Seseorang itu- lebih tepatnya gadis itu, tengah dikerubungi sekumpulan orang.

Banyak ekspresi yang tertera. Khawatir, kasihan, mengiba, dan beberapa dari mereka menelpon ambulans. Sasuke yang baru saja tersadar dari keterkejutannya, langsung berlari menuju gadis yang baru saja tertabrak. Menerobos kumpulan-kumpulan orang lalu berjongkok di depan gadis yang terlihat mempunyai banyak luka gores dan mengeluarkan darah yang terus keluar. Kepala dan badannya tidak terlihat memiliki luka serius, namun kedua kakinya tidak bisa dibilang berada pada posisi yang benar.

Badan Sasuke gemetar melihatnya, gadis yang ia kenal dengan nama 'Yamanaka Ino' itu tengah terkulai lemas di atas aspal. Tangannya terasa tidak bertenaga saat mengangkatnya. Badan gadis yang lebih kecil darinya itu ringan sekali, seperti tidak ada apapun yang ia angkat sekarang. Mata Sasuke tidak pernah lepas dari gadis yang tengah berada dalam dekapannya.

Ada sedikit pergerakan. Kepala gadis itu bergerak mendongak, melihat siapa yang tengah mendekapnya.

"Sasuke- kun ? Kau dan pacarmu baik-baik saja kan ?" suaranya terdengar pelan, nyaris tak terdengar.

Sasuke menatap tak percaya pada gadis itu. Bagaimana bisa ia lebih peduli pada keadaan orang lain saat keadaannya sendiri seperti itu ? Apa saat ini ia tidak bisa merasakan sakit pada kakinya sendiri ?!

Sasuke terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan gadis ini. Badannya tiba-tiba berubah menjadi kaku. Matanya terlihat bergetar.

Ambulans itu akhirnya datang, bertepatan dengan hilangnya kesadaran sang gadis.

.

.

.

.

Dua orang terlihat berlari sepanjang koridor rumah sakit. Seorang gadis dan seorang lelaki. Bersurai merah muda dan pirang. Dua orang terdekat lain dari sang gadis pirang bermarga Yamanaka dan lelaki Uchiha.

Sang gadis dengan warna rambut senada dengan bunga sakura itu terlihat menyeka air mata yang tengah deras mengalir dari kedua maniknya. Larinya terhenti saat ia rasa berada di depan ruangan yang tepat. Baru saja mereka menerima kabar dari pemuda Uchiha bahwa Ino mengalami kecelakaan dan mengalami luka parah pada kedua kakinya. Dengan tergesa, kedua remaja itu langsung tancap gas ke rumah sakit tempat Ino di rawat.

Mereka bertiga -dengan sang pemuda Uchiha- berdiri di depan ruang operasi rumah sakit. Menatap ke dalam ruangan cemas dan penuh harapan. Sakura -gadis merah muda- itu menoleh cepat untuk meminta penjelasan kepada sang Uchiha, Sasuke. Kekasih dari Sakura, Namikaze Naruto, juga menetap tajam ke arah sahabat karibnya itu tentang apa yang terjadi pada sepupu yang lebih muda dua tahun darinya itu.

Sasuke menjawab lengkap pertanyaan sepasang kekasih tersebut dan mendapat sebuah tamparan keras dari gadis yang masih menyandang marga Haruno itu. Matanya memperlihatkan kemarahan besar.

Dokter keluar dari ruangan operasi setelahnya. Sakura mengajukan diri sebagai wali. Ia dan dokter wanita itu menuju sebuah ruangan untuk memperbincangkan seputar Ino.

Sasuke tetap diam di tempat. Seperti tidak merasakan apapun, tamparan maupun tatapan penuh kemarahan. Atensinya tetap terfokus pada seorang gadis yang terbaring lemah di atas ranjang operasi.

Naruto hanya menatap sendu. Terhadap sahabatnya, adik sepupunya, dan apa yang terjadi saat ini dan yang akan datang.

.

.

.

.

Ino terbangun setelah dua hari tak sadarkan diri. Yang pertama keluar dari mulutnya adalah sebuah lenguhan kecil dan nama seorang lelaki yang tengah menggenggam tanganya kini.

"Sasuke- kun ?"

Sasuke menatap Ino dengan mata melebar. Tanpa aba-aba, ia memeluk Ino erat namun lembut.

"Maafkan aku," suaranya terdengar bergetar.

Wajah Ino menampakkan raut terkejut. Lalu tersenyum lembut.

"Sasuke- kun , ittai,"

Sasuke segera melepaskan pelukannya, "Gomen," ucapnya sambil menatap wajah gadis yang tengah bersemu lembut dan juga menatapnya. Terlihat salah tingkah.

Sasuke memanggil dokter setelahnya. Dokter datang dengan cepat dan memeriksa Ino sambil menyuntikan obat penghilang rasa sakit. Tak lama setelah dokter keluar, sahabat karib Ino beserta kekasihnya -Sakura dan Naruto- memasuki kamar rawat Ino.

"Ino bagaimana keadaanmu sekarang ? Masih sakit ? Apa kau butuh sesuatu ? Apa yang terasa ?" tanya Sakura bertubi-tubi.

"Saku- chan, Ino tidak akan bisa menjawab karena ia baru saja diberi penghilang rasa sakit. Pasti lidahnya kaku kan ?" Naruto berusaha menenangkan Sakura yang terlihat sangat cemas.

Ino tersenyum haru melihat kedua orang terdekatnya mencemaskannya. Ingin ia mengatakan 'terima kasih' namun tenaganya masih lemah sekarang. Mengucapkan tiga kata di awal ia bangun tadi saja sudah terasa menyakitkan-bagi tubuhnya-. Jadi hanya senyum yang dapat ia tunjukkan sekarang.

"Ino, kita harus membicarakan sesuatu," ucap Sakura serius. Ino mengangguk samar. Sakura memaksa keluar kekasih serta sahabat lelaki kekasihnya itu. Meskipun Sasuke tetap ingin berada di ruangan itu. Tapi, sudahlah. Ia juga ingin mencari Karin yang langsung menghilang setelah kecelakaan Ino. Naruto sempat menghalanginya, tapi mau bagaimanapun Uchiha itu mutlak. Ia berjanji akan kembali setelah semua selesai.

Sekarang hanya Ino dan Sakura yang tersisa di dalam ruangan. Sakura memberitahukan Ino tentang masalah yang sangat berat bagi Ino dari dulu hingga sekarang. Ino terlihat lemas setelah apa yang dikatakan Sakura padanya.

"Semakin memburuk. Kau harus tetap di rumah sakir sekarang,"

Katanya. Sakura berucap tegas. Ino terliat sendu. Bagaimana ia akan memasak untuk Sasuke ? Menemui Sasuke ? Dan menyapa Sasuke sekarang jika ia harus tetap berada di dalam rumah sakit ? Semua ini hanya karena 'masalahnya'. Kapan ia akan sembuh ? Ino menutup kedua aquanya yang terlihat berkaca-kaca. Moodnya terlihat menurun.

Sakura menatap khawatir sekaligus iba pada sahabat kecilnya. Ia yang seorang mahasiswa kedokteran tentu paham apa yang akan dijalani Ino setelah ini. 'Masalah Ino' membuat sahabatnya itu selalu bolak-balik ke rumah sakit untuk di terapi. Ino tidak ingin menganggap itu sebuah penyakit jadi ia menyebutnya 'masalah'. Tapi sekarang, karena kecelakaan yang dialaminya, ia harus tetap di rumah sakit, tidak bisa menemui seorang lelaki yang dicintainya.

Sakura hanya dapat memberikan pelukan ketenangan untuk Ino yang sedang menyalurkan kesedihannya lewat mata air di dalam kelopaknya.

.

.

.

.

Sasuke bergerak cepat. Ia tidak perlu lama-lama mencari Karin karena pasti sekarang ia sedang berada di tempat yang Sasuke tahu dengan nama 'Mall'. Turun dari mobil mewahnya, lelaki dengan marga Uchiha itu langsung berjalan masuk ke dalam mall yang membuatnya menarik perhatian banyak kaum hawa. Namun sifat dinginnya itu tidak akan membiarkan dirinya disentuh semudah itu.

Kaki panjangnya mulai melangkah cepat ketika ia menemukan seorang gadis yang dicarinya ... bersama seorang pria ?

"Jadi menurutmu apa ku putuskan saja si Uchiha itu ?" Sasuke mendengarkan dengan seksama. Jarak tempat ia berdiri sekarang sudah cukup untuk menguping percakapan gadis berambut merah itu.

"Jika ia masih mengejarmu sebaiknya jangan. Kita masih bisa memanfaatkan uangnya kan ? Kenapa kau sudah mulai jatuh cinta padanya ?" lelaki di depan Karin memberikan seringaian.

Karin memajukan bibirnya beberapa senti, "Ih, lelaki dingin seperti itu mana kusuka! Lagi pula semua punyakukan hanya untukmu, Suigetsu- kun! Aku pacarmu satu-satunya dan sebaliknya, itu pasti!" cerocos Karin. Lelaki di depannya hanya terkekeh dan memberikan ciuman pipi kepada Karin.

Sasuke sudah muak. Percakapan mereka terdengar jelas ke telinganya. Sasuke akan mengabulkan permintaan Karin kemarin, untuk berpisah.

"Kalau begitu aku-"

"Putus denganmu. Jangan ganggu waktuku lagi," ucap Sasuke yang tiba-tiba berdiri di depan meja yang di tempati Karin beserta pacarnya.

Bola mata Karin mebulat sempurna melihat orang yang sedang ia bicarakan tiba-tiba berdiri di depannya. Badannya membeku di tempat dan pupilnya hanya dapat mengikuti lelaki Uchiha yang berjalan keluar dari mall dan pergi dengan mobil mewahnya beberapa menit kemudian.

Hilang sudah kesempatannya untuk memanfaatkan Sasuke sekali lagi.

.

.

.

.

Sasuke berkendara dengan tenang. Entah kenapa ia tidak merasakan apa-apa setelah memutuskan Karin. Malah terasa lega. Lagi-lagi Sasuke merasa bingung. Kenapa ini memusingkan sekali ? Berurusan dengan hati itu melelahkan.

Sasuke memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. Ia berjalan melewati koridor untuk sampai di tempat Ino dirawat. Dan hati nya merasa tidak sabar untuk melihat Ino.

Kan ?

Berurusan dengan hati itu melelahkan.

Sasuke sampai di depan pintu kamar Ino. Terlihat sepi, Sasuke tidak melihat Naruto dan Sakura. Mungkin mereka sudah pergi.

Entah mengapa sekarang ia ingin mengucapkan 'salam' Ino yang selalu terucap bila bertemu dengannya.

'Smile'

Ah sudahlah, terdengar memalukan. Sasuke memutar kenop pintu Ino. Melihat orang yang ia temui tertidur dengan tenang. Cantik. Untung ia tidak jadi mengucapkan 'salam'. Sasuke akan terlihat konyol karena itu dan dapat mengusik tidur Ino.

Halah, alasan.

Sasuke duduk di kursi samping ranjang Ino. Ah, cantiknya. Jantung Sasuke terpompa kencang. Ssstt, Ino bisa terbangun nanti.

Haaah.

Sasuke membuka lagi memorinya tentang Ino. Mulai dari pertama mereka bertemu hingga sekarang.

Senyum terbentuk di wajah Sasuke, namun kembali hilang dengan cepat saat mengingat kejadian 'itu'. Saat Ino tiba-tiba menghilang darinya dan membuat ia kehilangan arah sehingga menjadi seperti sekarang. Ino yang tiba-tiba menghilang saat meraka masih mnjalin hubungan.

Meskipun mereka tetap menjalin hubungan sampai sekarang karena memang mereka tidak berpisah. Hubungan yang rumit.

Hanya karena Ino menghilang Sasuke marah dan akhirnya selingkuh. Lalu Ino kembali dan mengejutkan Sasuke. Ino sama sekali tidak merasa cemburu. Sasuke menjadi semakin marah dan bersikap dingin kepada Ino. Ino tetap tidak merasa cemburu. Namun Sasuke luluh kembali sekarang. Memang yang dari dulu ia sayang hanya gadis ini. Gadis aneh yang membuat perasaannya ikut menjadi aneh.

Dan banyak yang harus ia lakukan. Tentang keadaan Ino, dirinya, dan apa yang terjadi dulu. Mengapa Ino menghilang tanpa kabar selama beberapa waktu dan menjauhinya.

Tapi, mungkin ... untuk sekarang ia akan tetap memandangi raut wajah yang tampak senang dalam khayal mimpinya.


TBC

WAHAHAHAHA! Mee balik setelah sekian lama terkubur oleh kegiatan anak SMP tahun akhir yang mematikan karena ini ... AKHIR TAHUN! LIBUR! *DAR*

Ah, Mee minta maaf banget ga pernah apdet lamaaaaaa banget, pr Mee minta nafkah semua soalnya:v *ngaco* *disumpel kain kotor*

Mee minta permohonan maaf sebesar-besarnya, follow, fav dan review *masih ada aja modusnya* ehehe.. *tembak mati*

Mee usahakan ga bakal hiatus! Hmp! *sok imut* *dilempar tomat*

Mee baru sadar Mee belom balas ripiu reader- san yang ga log in di chap-chap sebelumnya T.T Mee akan balas sekarang :

Guest (ch.1) : Guest- san maaf Mee baru jawab sekarang T.T Ino nya ga mati (sekarang) kok Guest- san tenang aja /LOL/ *ditampol* Makasih udah reviev (w )/

Fina (ch.1) : TBC banget kok ini Fina- san *ga nyambung* waaah firasat Fina- san bener, Ino nya kenapa-napa :v *ditoyor* ok makasih semangatnya Fina- san, makasih uda mampir :*

inochan (ch.1) : sama-sama inochan- san (?) wehehe Mee kan juga mesti telat apdet:v *dibuang* ah gak jelas ya? Maafkan Mee ya? Mee masih noob kalau merangkai kata emang T.T Mee akan usahakan buat panjang juga, tapi kalau terlalu panjang dan gak diputus juga enggak greget :v. Makasih review nya :D

komengtator (ch.1) : wii mee dikasih semangat makasih semangatnya, komengtator- san. Bahagia selalu kok :D makasih udah mampir 😉

Juwita830 (ch.1) : Aduh maafin Mee ya, Juwita- san, mee juga masih sering bingung kalau baca ulang, wkwk *dijedorin ke tembok* ok Mee akan lanjutin sampai end! Makasih review nya :D

sasuino23 (ch.1) : iya, kasian ya.. eh, makasih lho udah bilang suka, mee jadi malu.. *halah* makasih semangat berbentuk reviewnya, tetep baca ya :D

Koalasabo (ch.1) : sip sip sip! Ini apdet kok *meskipun telat* thanks jejaknya :D

inochan (ch.2) : Siip! Ini lanjutttt!

IstriSasuke (ch.2) : widih.. disuruh ganti rate XD Ngga boleh IstriSasuke- san, Mee baru umur 14 pertengahan september kemarin XD makasih udah ninggalin jejak :D

Salam,
Meenyaw