Dan banyak yang harus ia lakukan. Tentang keadaan Ino, dirinya, dan apa yang terjadi dulu. Mengapa Ino menghilang tanpa kabar selama beberapa waktu dan menjauhinya.

Tapi, mungkin ... untuk sekarang ia akan tetap memandangi raut wajah yang tampak senang dalam khayal mimpinya. .

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

.

Bunga cosmos terlihat mekar dan tersebar. Pohon berwarna merah muda yang berada disana menggoyangkan daunnya, menciptakan kesejukan bagi taman yang mereka tempati. Gadis itu terlihat bersemangat. Melompat kesana-kemari dan memperdengarkan suara tawa yang lembut. Seorang pria yang mengikutinya tersenyum senang melihat sang gadis sangat senang berada di tempat itu.

Gadis itu merik lengan sang lelaki, mengajaknya untuk ikut menikmati musik yang diciptakan alam. Dengungan angin, gesekan daun, desiran bunga, dan lambaian rumput hijau yang mereka tapak. Terlihat sangat indah.

Menenangkan. Sang pria tersenyum lembut.

Mendebarkan. Sang gadis tertawa riang.

Sambil menggenggam erat tangan sang gadis, tangan besar pria itu mengambil benda kubus dari dalam sakunya. Menarik sang gadis dalam pelukannya dan mengangkat benda itu.

Suara dari benda itu mulai terdengar. Gambar di dalamnya mulai terlihat. Seorang lelaki dengan rambut hitam yang mencium kening gadis dengan rambut pirang. Tersenyum bahagia di tengah taman sambil diiringi pohon-pohon sakura yang tengah mekar dengan megahnya. Mempercantik kurva di kedua wajah yang tengah bahagia.

"Jangan lupakan aku, ne ? Sasuke- kun,"

.

.

.

.

.

Lagi-lagi mimpi aneh. Mimpi aneh yang selalu ia dapatkan akhir-akhir ini. Sasuke memejamkan kembali matanya. Ia juga ketiduran saat menemani Ino di kamar rawatnya. Pertama kali ia bermimpi aneh seperti ini adalah saat ia sedang sakit dan dirawat oleh gadis yang saat ini sedang tidur di depannya. Sasuke menegakkan badannya. Capek juga tidur dengan posisi duduk seperti ini.

Sasuke merenggangkan badannya. Lalu kembali tegak.

Apa ia harus pulang sekarang ? Ino ditinggal begitu saja ? Apa menunggu Ino bangun lalu ia pamit ? Sudah malam, ia juga belum mandi. Apa boleh menyewa kamar mandi disini ?

Krek

"Kau boleh pergi sekarang." gadis Haruno itu menatapnya tanpa ekspresi. Entah kenapa Sasuke tidak bisa marah karena ditatap seperti itu. Karena Sasuke tahu makna dibalik tatapan dingin bercampur iba itu.

Sasuke beranjak mendekati pintu masuk. Sakura menyingkir, tidak menghalangi Sasuke.

"Tolong jaga Ino, aku akan kembali sebentar lagi." lalu Sasuke menutup pintu.

Sakura tersentak. Ia tetap diam di tempat beberapa saat lalu berjalan mendekati sahabatnya yang terlelap.

"Entah aku harus berbahagia atau bersedih karena keadaanmu sekarang, Ino." Sakura menghapus air di pucuk matanya. Seberat mungkin masalah Ino sekarang, ia tetap harus menyemangati sahabatnya sebisa mungkin.

Sakura tersenyum. Ia berjalan menuju pintu keluar. Beruntung rumah sakit ini adalah milik keluarganya, jadi ia diperbolehkan keluar masuk kapan saja. "Ino- buta bersemangatlah, semua mengkhawatirkanmu, termasuk Sasuke. Aku akan selalu mendukungmu ok ?" ucap Sakura sebelum menutup pintu.

'Sebelum semua hilang,'

.

.

.

.

.

Ino terbaring di atas tempat tidurnya. Ia menatap ke arah luar melalui jendela di sebelah kanannya. Taman terlihat begitu segar, mungkin karena hujan semalam. Semalam juga ia mengalami kecelakaan. Yang terjadi pada kedua kakinya dijelaskan dengan kata-kata yang 'menggenaskan' dari mulut Sakura. Dasar calon dokter, semuanya diucapkan dengan kata yang sulit dimengerti. Tinggal bilang bahwa kaki Ino tidak bisa digunakan lagi saja susah sekali. Ino kan bukan calon dokter.

Ino tersenyum.

Ah, ia harus mengucapkan selamat pada Sakura saat ia benar-benar menjadi dokter nanti. Ino harus mengingatnya. Ia harus ingat.

Tengah hari ini terasa sedikit dingin. Ino merindukan lelaki itu. Sasuke. Ino jadi ingin menangis tanpa tahu penyebabnya.

Capek. Ia ingin duduk, namun kakinya tak bisa ia gerakkan. Sakit. Mengandalkan kedua tangannya yang masih terpasang selang infus, ia berusaha mengangkat tubuhnya.

'Sedikit lagi...' batinnya.

"AAH, INO- CHAN JANGAN TERLALU BANYAK GERAK DULU!" teriak seorang wanita berambut hitam.

Eh ?

"Okaa- san, ini masih di rumah sakit." tegur seorang pria yang sama-sama berambut hitam.

Siapa ?

"Lebih baik kau bantu dia Ita- kun dari pada kau mengomentari ibumu." wanita itu mutlak. Apalagi dengan marga Uchiha di belakangnya.

Itachi -sang anak- hanya mengangguk-angguk tanpa berkomentar apapun. "Nah cantik, ku bantu ya ?" ujarnya ramah. Ino hanya mengangguk manis saja. Itachi tersenyum melihatnya, kedua tangannya terulur ke arah Ino.

PLAK

"Kh, berani-beraninya kau menyentuhnya." Sasuke menepis tangan sang kakak 'pelan', lalu membantu Ino duduk. Itachi meringis melihat kedua tangannya yang berubah menjadi warna merah. "Lembutlah kepada aniki mu ini sedikit, otouto." ucap Itachi.

Sasuke mendicih, "Mana ada seorang kakak yang menggombali calon adik iparnya sendiri ?" lalu kedua kakak-beradik itu memulai 'pembicaraan' mereka lagi.

Ino masih diam tidak mengerti. Siapa kedua orang itu ? Sasuke yang membawanya ? Tadi ia sempat dengar bahwa sang lelaki yang dipanggil 'Ita- kun' adalah kakak laki-laki Sasuke. Lalu sang wanita menyebut dirinya sebagai ibu dari kakak Sasuke, berarti ibu Sasuke kan ? Lalu apa tadi calon adik ipar ? Siapa ?

"A-ano.." Ino mulai bersuara, semua tatapan mengarah padanya. Ino jadi gugup. "Gomen, apakah saya mengenal kalian ? Se-selain Sasuke- kun maksud saya." lanjutnya.

Keadaan tetap hening. Ino mati gaya sekarang.

"KYAAA, suaramu manis sekali Ino- chan~" ujar wanita itu lagi. Ino memiringkan kepalanya, bingung.

"Okaa- san, ini masih di rumah sakit." ganti Sasuke yang menegur ibunya.

Wanita itu memajukan bibirnya, "Kalian berdua sama saja," ujarnya. Wanita itu menoleh ke arah Ino tiba-tiba, Ino tersentak kaget. "Ah, perkenalkan Ino- chan, aku ibu dari Sasuke dan Itachi. Namaku Uchiha Mikoto." ujarnya. "Dan ini kakak Sasuke, Uchiha Itachi." lanjut Mikoto.

Ino membungkukan kepalanya, "A-ah salam kenal," ucapnya. Lalu menatap mereka semua lagi. Rambut hitam, jadi mereka benar keluarga Sasuke ya ?

Sasuke menatap Ino, "Maaf aku terlambat." ucap Sasuke sambil mengelus puncak kepala Ino.

Ino mendongak ke arah Sasuke, lalu tersenyum manis. "Mm, daijobu yo Sasuke- kun," balas Ino. Terlalu manis.

"Okaa- san, izinkan aku menikahinya lebih dahulu dari pada Sasuke," ujar Itachi yang entah kapan sudah berada di depan Ino dan menggenggam tangan kecilnya.

BUAK

"Menyentuhnya lagi, kubunuh kau." ancam Sasuke dingin. Itachi terdorong kebelakang karena hantaman pada perutnya. Ino meringis melihatnya.

"Ekhem, kalian berdua, ini masih di rumah sakit." ujar Mikoto, terlihat puas. Sasuke dan Itachi berdeham kecil.

"Ne, ne Ino- chan, kau baik sekali ya ? Cantik, manis, putih, rambutmu indah, matamu berkilau, KYAA IMUT SEKALI!" Mikota kesenangan tidak jelas. Lalu suasana berubah menjadi sedikit berat.

"Sebelumnya, maafkan kami Ino- chan. Karena keteledoranku menjaga Sasuke, kau menjadi seperti ini. Kumohon maafkan aku Ino- chan." Mikoto menundukkan badan sedalam-dalamnya ke Ino. Itachi dan Sasuke juga melakukan hal yang sama.

Ino jadi salah tingkah, "Kumohon jangan seperti ini. Aku melakukannya karena keinginanku sendiri, Uchiha- san. Dari pada Sasuke- kun dan-" Ino melirik Sasuke yang menunjukkan mimik bersalah, "-seseorang lagi yang terluka lebih baik aku saja, meskipun aku juga mengharapkan kita semua selamat. Tapi ini adalah luka yang jauh lebih kecil dari pada luka dua orang, Uchiha- san."

Mikoto menegakkan badannya dan memeluk badan Ino erat. Air matanya mengalir deras di balik punggung Ino. Ino balas memeluk Mikoto lembut, sesekali mengusap pungunggungnya.

Mikotp menarik badannya kembali dan mengusap air mata yang masih ada pada wajahnya. Lalu ia tersenyum dan mengangguk penuh arti ke arah Sasuke. Ekspresi Sasuke nampak ... tak bisa dijelaskan.

Sasuke menggenggam kedua tangan Ino dan menatap kedua aquamarine itu serius."Ino kedatanganku kesini membawa keluargaku adalah," ucapan Sasuke terputus. Ia 'sedikit' gugup, di belakangnya terlihat Mikoto yang berdebar dan Itachi yang menahan tawa. Ingatkan Sasuke untuk menghajar Itachi setelah ini selesai.

"Untuk melamarmu menjadi istriku. Bagaimana ?" tuntasnya. Onyx itu terlihat serius. Ino tidak bisa berkata-kata maupun memalingkan pandangannya sekarang. Wajahnya bersemu, lalu berubah muram.

"Bolehkah ? Aku yang seperti ini ? Aku yang tidak memiliki keluarga lagi ? Yang tidak punya apa-apa, bahkan ... fungsi kakiku lagi ?" kepalanya tertunduk, air matanya mulai menetes. "Aku tidak mau Sasuke melakukan ini karena rasa bersalah padaku saja. Jadi-!"

Ino bungkam. Sasuke yang membungkamnya dengan ciuman lembut tepat di bibirnya. Mikoto menahan jerit, Itachi menatap kejadian di depannya dengan tidak percaya.

Selama beberapa detik, lalu Sasuke menjauhkan wajahnya dari Ino. Dilihatnya wajah Ino yang merona terang sekali.

Duh. Tenanglah sebentar wahai nafsuku. Wajah Ino ini saja membuat goyah iman, apalagi yang nanti.

SASUKEEEE! JANGAN GANTI RATE NYA! *author ngerusak, parah*

"Aku mencintaimu, apa kurang jelas ? Maafkan aku yang dulu, mungkin aku hanya cemburu saat kau pergi. Aku harap kau bisa menjelaskannya nanti, tapi sekarang, aku lebih berharap untuk jawabanmu Ino." ucap Sasuke dalam sekali hembusan nafas.

Ino mangatupkan bibirnya, matanya mulai berair, dan air matanya pun tumpah. Sasuke kaget, gelagapan. Mikoto panik, Itachi menahan tawa.

"Okaa- san, aku rasa Sasuke telah melakukan tindak pidana." bisik Itachi pada ibunya. Ingatkan Sasuke lagi untuk menghajar Itachi dua kali lipat.

Sasuke kembali kepada Ino yang menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Masih terisak. Lalu dengan suara kecil menjawab,

.

.

.

"Maaf,"

.

.

.

SIING

Suasana berubah hening. Sasuke merasa telinganya sudah rusak. "Kau.. bilang apa Ino ?" tanya Sasuke.

"Maaf," ulang Ino. Sasuke merasa otaknya tidak berfungsi. Atau telinganya benar bermasalah.

"A..pa ?" ulang Sasuke sekali lagi.

Ino menatap wajah Sasuke, bukan dengan raut terisak tadi melainkan dengan senyum yang membuat Sasuke berdebar, "Maaf, jika aku nanti merepotkan. Mohon bantuannya lagi mulai sekarang ya ? Sasuke- kun."

Sasuke kicep. Mikoto kicep. Itachi baper.

"KYAAAAAA INO- CHAN MANISNYA! CEPAT KELIAN MENIKAH! AKU SUDAH TAK PEDULI DENGAN ITACHI, AKU INGIN SECEPATNYA PUNYA MENANTU!" teriak Mikoto kegirangan, lupa kalau ia masih berada di rumah sakit. Ia menggoyang-goyangkan lengan Itachi -yang sakit hati akibat komentar menusuk hati dari ibunya sendiri- untuk menyalurkan rasa 'fanatik' nya.

Ino merona hebat, ia mencengkram lengan Sasuke kuat sambil menundukkan kepalanya. Sasuke masih membeku, mencerna apa yang terjadi.

.

.

.

.

Lama banget Sas. *author diiket*

.

.

.

.

Greb

"Terima kasih. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."

TBC

KYAHAHAHAH! MEE BALIK DENGAN CERITA NYAMPAH LAGI! PERSETAN DENGAN LAMA APDET MUAHAAHHAHAHH! *seketika itu Perang Dunia ke 3 baru saja dimulai*

Saatnya bales riview yang login maupun yang ga login di chap 3 disini ya :)

Fina : Ino baru kecelakaan Fina- san dan sakitnya Ino bakalan dikasih tau di chap selanjutnya. Iya kayak TTS ya kisahnya, Mee juga pusing bacanya :v. Ditunggu reviewnya ya ;D

inosasu-chan : terima kasih banyak, datang lagi ya ;*

jung jessica yamanaka : ... untuk segala pertanyaan jung-san Mee jawab "Iya bener." *praktis kan :v* makasih semangatnya, datang lagi ya :D

xoxo : iyap bener banget xoxo- san, hebat.

ino-chan : makasih semangatnya, ganbarimasu!

YI : makasih semangatnya YI- san :D Huahahahah, Mee berjuang agar cepat apdet deh *persetan dengan habis ini UN MUEHEHEHEH*

Arichy : sampai nangis baca cerita Mee?! Mee terharu~ *ikutan nangis* terima kasih banyak, datang lagi ya ;D