Greb

"Terima kasih. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."

.

.

.

.


Happy Reading

.

.

.

Dan maafkan bila masih ada typo ya :D


.

.

.

.

.

Kejadian tadi membuat Ino tidak bisa tidur malam harinya. Hari dimana Sasuke datang membawa keluarganya dan melamarnya. Jika Ino diperbolehkan berteriak, maka ia akan berteriak dengan durasi melebihi rekor dunia.

Ya kali No, inikan rumah sakit.

Sasuke baru saja pulang. Jadi malam ini dia sendirian. Sakura juga tidak menemaninya, mungkin dia sedang sibuk. Ino menatap bulan lewat jendela kamar tempatnya dirawat. Sedikit berawan, sehingga tidak terlalu terlihat. Meskipun begitu, sinar birunya terlihat melintasi awan-awan kelabu, sehingga nampak seperti lesatan cahaya yang membelah langit. Ino mendekatkan wajahnya ke jendela, mencondongkan tubuhnya.

Ia menyukai waktu indah seperti ini. Dikala suara bising dari manusia tidak terdengar. Bukan berarti ia tidak menyukai keramaian. Ia menyukainya, namun ia lebih menyukai 'keramaian' yang dihasilkan murni dari alam itu sendiri.

Baginya itu nampak seperti 'waktu yang indah'. Dimana dunia serasa sedang berhenti.

Ino melupakan sesuatu. Ia hampir melupakan sesuatu. Segera ia mengambil notebook berukuran sedang di laci sebelahnya dan menulis kejadian hari ini disana. Goresan-goresan tinta dari bolpoin di tangannya masih tetap berjalan. Ia mengistirahatkan tangannya sebentar lalu kembali menatap bulan. Ia mengeluarkan senyum samar dari bibirnya. Berdoa.

Semoga aku tidak akan melupakan kejadian hari ini.

Semoga aku tetap dapat menjalani kejadian seperti ini.

Semoga aku tetap akan mencintainya seperti ini.

Semoga ia juga akan tetap mencintaiku yang seperti ini.

Banyak sekali yang ia inginkan. Terlalu banyak malahan. Sambil menatap bulan. Seperti mengajaknya bicara. Seolah sang bulan akan mengabulkan doanya. Awan-awan yang sedari tadi menutupu purnama, perlahan menyingkir. Seakan-akan memberi jalan antara Ino dan sang rembulan.

Cahaya bulan yang berwarna kebiruan masuk melewati jendela. Sedikit menyilaukan, namun membuat perasaan tersedot kedalam heningnya, kedalam ketenangan sang rembulan. Membantu Ino yang menulis di antara kegelapan. Cahaya itu tumpah mengenai wajah cantiknya yang meneruskan tulisan di bukunya. Serasa cukup, ia menutup bukunya dan menaruhnya kembali ke dalam laci.

Ino kembali menatap langit yang sekarang berhias bintang dan bulan. Gelap, tetapi indah.

'Memang waktu yang indah,'

Bibir merah mudanya bergerak pelan. Mengatakan sesuatu dengan samar. Bagai bisikan untuk seseorang yang jauh disana. Ino memejamkan matanya saat angin malam berhembus melewatinya. Dingin.

Ino merebahkan tubuhnya. Merapatkan selimutnya, menarik hingga sebatas lehernya. Berdoa sebelum tidurnya dan memejamkan matanya kembali, mencoba terlelap dan memasuki alam dimana berbagai hal yang tak nyata bisa menjadi kenyataan.

Semoga, aku juga takkan melupakannya

.

.

.

.

Siang hari esoknya Sasuke datang lagi ke rumah sakit, tentu saja di jam istirahat kerjanya, ia akan mati di tangan orang tuanya bila ia tidak berangkat kerja hanya karena alasan ingin bersama Ino lebih lama. Meskipun keluarganya, dan Ino tentu saja, sudah memberikan lampu hijau. Tapi tetap saja itu bukan alasan yang bagus untuk membolos kerja.

Sasuke membawa camilan kesukaan Ino untuk dimakan berdua. Tentu saja Sasuke masih ingat apa saja kesukaan gadisnya. Dan sebenarnya, Sasuke masih malu dengan kejadian kemarin. Melamar Ino tanpa membawakan cincin.

Bodoh sekali, membuat malu saja. Mukanya pun masih memerah terang jika mengingatnya kembali. Tapi ia masih bisa mengontrolnya. Memangnya dia siapa ? Uchiha Sasuke gitu loh.

'Yang sebentar lagi bakal menjadi pasangan sehidup sematinya Ino.' tambah Sasuke dalam hati.

Kadar ke-PD an Sasuke ternyata lebih ganas dari pada yang author bayangkan.

Lagipula, bila iya masih tidak bisa mengontrol emosinya, ia masih bisa menghajar Itachi dua kali lipat kan ? Kheheheheh..

Sasuke sudah sampai di depan kamar Ino. Tangannya yang tidak membawa makanan mencengkram jantungnya. Menguatkan diri. Sasuke menarik napas pelan lalu membuka pintunya.

"Ino ? Aku–"

.

.

.

.

Oh my, is this heaven ? Thank God.

.

.

.

.

Ino segera menelusupkan kepalanya diantara selimut yang ia peluk dan kedua lututnya setelah matanya membulat melihat Sasuke. Telinganya terlihat memerah. Sedangkan perawat dibelakangnya terlihat sedikit menganga lalu melangkah mendekati Sasuke.

"Tuan, maaf bisakah anda keluar sebentar ?" kata perawat itu sambil menghalangi pandangan Sasuke dari Ino. Menjaga kenyamanan pasiennya.

Sial. Padahal tadi pemandangan yang indah.

Sasuke membalik badannya, beranjak keluar. Sambil membayangkan Ino tadi di kepalanya. Pipinya memerah samar mengikuti matahari yang juga semakin terik.

"Dan satu lagi tuan," suster itu ternyata belum kembali masuk. Tangannya memegang kenop pintu, seperti hendak menutupnya. Sasuke berbalik menatap perawat itu, sedikit melirik ke dalam.

"Mohon untuk ketuk pintunya sebelum membukanya."

Lalu pintu ditutup dengan sedikit kasar.

Sasuke begeming ditempat. Ah, pemandangan tadi belum memuaskan mata dan batinnya. Kalau sudah melamar kan akan berlanjut ke jenjang berikutnya. Dan dijenjang berikutnya Sasuke dan Ino kan bisa melakukan kegiatan s–

SAYANG SEKALIIIII, D*RAEMOOOONN!

Bodoamat author potong, ini rate nya T tong tong!

Pokoknya, untuk sekarang, Sasuke ingin segera memeluk dan menciumi gadis yang tadi sedang dibersihkan tubuhnya oleh perawat wanita di dalam tadi. Mungkin menggodanya juga akan menarik, hehe.

Sasuke minta diputusin rupanya.

.

.

.

.

Hening.

Ino masih menelusupkan kepalanya ke dalam selimut. Dan Sasuke tidak bisa begitu saja menarik selimutnya. Meskipun ia masih ingin melihat Ino yang sedang dimandikan seperti tadi, ia juga harus membaca situasi dan memikirkan perasaan gadisnya.

Namanya juga cowok peka, ea.

"Kamu ... marah ?"

Akhirnya setelah sekian menit suara dari salah satu orang keluar juga. Walau terdengar agak kaku, tapi setidaknya itu permulaan yang bagus.

Ino menurunkan sedikit selimutnya. Melirik Sasuke disela-sela rambut pirang panjangnya yang menjuntai menutupi wajahnya. Ia menggelengkan kepala lalu kembali memasukkan kepalanya ke dalam selimut. Menyembunyikan wajahnya.

Ya Gusti, makhluk imut dari mana ini ?

Sasuke berdeham sebentar. "Lalu ada apa ?" tanyanya lagi.

Sebenarnya Sasuke sudah tau bahwa Ino malu karena tidak sengaja ia lihat saat mandi tadi. Hanya saja, ia memancing Ino agar berbicara kepadanya. Menghilangkan keheningan yang sedari tadi mengambil tempat.

"Aku ... hanya malu," jawab Ino tanpa mengeluarkan kepalanya dari selimut.

Sasuke menahan kekehannya sekuat tenaga. Apakah Ino tidak berpikir mereka akan apa di masa depan nanti ? Batin Sasuke mengamiini.

Ino masih polos, Sas. Dia bukan makhluk hina macam lu.

Sasuke tersenyum lalu melangkah mendekati ranjang Ino. Sedangkan Ino yang mendengar derap langkah mendekatinya, menyembulkan sedikit kepalanya, ingin mengintip. Lalu tanpa ia duga, ia telah dipeluk erat oleh sang lelaki. Sangat erat sehingga Ino hanya bisa sedikit menggeliat untuk mengubah posisinya.

Merasakan seseorang yang dipeluknya bergerak pelan, Sasuke melonggarkan sedikit pelukannya. Tanpa aba-aba, ia disambut oleh kedua tangan kecil yang sekarang juga melingkar di punggungnya. Ino mrmrluknya erat dan menyembunyikan mukanya di dada bidangnya. Sasuke tidak tahan untuk menahan kekehannya. Badannya berguncang pelan. Membuat Ino mendongak melihat wajahnya yang sedikit tersipu karena tertawa.

Sasuke terkekeh lalu melihat Ino yang ternyata juga melihat ke arahnya. Sasuke menyipitkan matanya dan mencium kening Ino lembut. Membuat wajah Ino lebih merona merah. Setelah Sasuke melepas ciumannya dan tersenyum kecil menatap hasil kerjanya tercetak di wajah gadisnya, Sasuke membisikkan sesuatu di telinga Ino.

"Aku mencintaimu,"

Ino hanya mempererat pelukannya pada Sasuke dan menekankan pada dari bahwa jikadia di peluk lagi oleh Sasuke, jangan pernah menengok ke atas. Karena kejadian yang berikutnya tidak akan baik untuk jantungnya.

"Aku membawakan camilan. Kau mau ?" tanya Sasuke pada Ino.

Ino menggangguk dan melepaskan pelukannya. Sasuke mengikuti Ino, melepas juga pelukannya. Sasuke mengeluarkan tas plastik dengan banyak camilan di dalamnya. Ia membuka bungkusnya dan menyerahkan satu kepada Ino. Ino mengucapkan terimakasih dengan nada yang sangat riang.

"Enak! Apa nama camilannya ?" tanya Ino sambil mengulurkan salah satu tangannya pada Sasuke, meminta lagi.

Sasuke mengernyitkan dahinya bingung, "Kau tidak tahu ? Kau pernah bilang padaku bahwa ini favoritmu dulu. Atau aku salah mengambil ya ?"

Ino menelan makanan di mulutnya dengan sedikit kasar. Napasnya terhenti sejenak. Sepintas ingatan terbesit di kepalanya.

"Ehehe, maaf Sasuke, aku lupa. Mungkin karena sudah lama tidak memakan camilan ini. Terimakaih ya, mau membawakan ini buatku!" ucap Ino diinringi senyuman.

Sasuke membalas senyum Ino. "Tak masalah. Jika kau mau, besok akan kubawakan juga."

Senyum Ino mengembang lebih lebar, "Kalau begitu ayo kita memakan ini di suatu tempat besok, kau mau ?" ajaknya. Sasuke mengangguk untuk menyanggupi permintaan Ino. Gadis itu pun memekik senang.

"Maaf bila mengganggu, bolehkah aku meminjam Ino lebih dulu ?"

Kedua manusia yang berbeda kelamin disana menoleh ke arah pintu yang sekarang terbuka. Disana nampak gadis seumuran Ino dengan potongan rambut pendek berwarna merah muda. Jas putih yang dipakainya menandakan ia adalah seorang dokter. Gadis itu memasuki ruangan dan tersenyum menatap sahabat pirangnya sedang melambaikan tangan menyambut dan juga menyuruhnya masuk.

"Hai Sakura!"

.

.

.

.

.

Sasuke sedang menunggu di depan kamar Ino saat Ino menyuruhnya keluar. Sebenarnya ia tidak ingin keluar disaat ia dan Ino membicarakan tentang masa depan mereka. Sasuke senyum-senyum sendiri, sudah gila. Padahal tadikan mereka sedang memakan camilan sambil mengobrol ringan.

Yah, sebagai lelaki teladan, ia tentu harus mengalah pada perempuan. Karena ia tahu bahwa Ino dan Sakura tidak bisa dipisah bila ingin bertemu dan curhat tentunya. Sebagai penghilang kejenuhan, Sasuke memilih berkeliling rumah sakit. Mungkin ia akan menemukan sesuatu yang menarikkan ?

Dan dugaannya tidak pernah salah. Setelah berjalan sebentar mengelilingi rumah sakit, ia menemukan sebuah taman yang cukup lebar. Taman ini milik rumah sakit Haruno, katena masih berada di dalam area rumah sakit. Pohon-pohon disana besar dan suasananya sejuk. Sepertinya Sasuke menemukan tempat yang tepat untuk ia dan Ino besok.

.

.

.

.

.

Sakura tertawa mendengar cerita dari Ino tentang kejadian saat Sasuke membuka pintu kamarnya ketika ia sedang dimandikan. Matanya mengeluarkan air mata dan tangan kanan yang berbalut jas dokter itu mengusapnya pelan. Sedangkan sang pencerita cemberut sambil menggembungkan pipinya yang memerah. Malu.

"Mou, Saku-jidat! Itu memalukan dan sama sekali tidak lucu!" teriaknya pada Sakura.

Sakura membuka mulutnya, " Ta-tapi Ino ... pfft ... hahahaahhaha!" ucapannya terputus akibat tawanya yang masih berlanjut.

Astaga, astaga. Hahaha! Sakura membayangkan bagaimana jika ia berada disana saat kejadian itu berlangsung. Dia yang hanya mendengar ini saja terbahak seperti ini apalagi melihatnya langsung. Bisa sakit perut berkelanjutan dia.

"Sudahlah Sakura! Jangan tertawa! Pikirkan hal yang lain saja! Ohya, bagaimana denganku ?" tanya Ino sambil menatap Sakura. Juga berharap tawanya akan berhenti.

Sakura mencengkram perutnya yang mulai terasa sakit dan menghapus lagi air matanya. Ia menatap Ino juga sekarang, menghentikan tawanya.

"Kau masih bisa beraktifitas seperti biasa buta. Tapi kau juga harus lebih sering mengikuti terapi. Meskipun kau bisa beraktivitas dengan baik, aku tidak akan menyangkal kalau kau akan terus sakit kepala dan kehilangan–"

"Aku mengerti, Sakura." Ino memutus kalimat Sakura.

Sakura menatap sahabatnya khawatir. Ino membalasnya dengan senyum lebar.

Ino melihat ke arah dinding di depannya, "Jam istirahat Sasuke sudah habis, Sakura. Tolong beritahukan padanya untuk segera pergi ke kantornya agar ia tidak terlambat masuk."

Sakura menghela napas berat. Ia berdiri dan merapikan pakaiannya. Ino mengalihkan pandangannya dari dinding, menatap Sakura yang sekarang juga menatap dirinya.

"Aku pergi dulu, Ino. Panggil aku bila butuh sesuatu ya," ucap Sakura lalu memeluk sahabat terbaiknya. Meninggalkannya sendiri setelah ia mendapat anggukan dari kepala dengan rambut pirang panjang.

Ino menatap pintu yang barusan ditutup pelan oleh Sakura. Mata aquanya berkaca.

"Aku barusaja telah kehilangan sebagian kecil, Sakura."

.

.

.

.

Haiii! Mee balik lagi setelah wisuda kelulusan sekolah Mee! *BANZAI UDAH LULUS SMP!*

Ah, ini Mee nitip sampah lagi ya, moga-moga sampah yang ini lebih baik dari sebelumnya *bungkuk*

Balasan review kali ini disini semua yaa :

Zii-chan ZTS : Ino terbuang ? Oh tidak-tidak. Mee ga bakal tega ngelihat Ino terbuang. Chemistry yang kelihatan begitu ya ? Maaf in Mee kalau buat bingung ya :(

xoxo : Mee juga kepo, ohohohohoo~

Fina : Kalau kata Sasu sih biar ga diambil orang, makanya main lamar aja, gapake cincin lagi *dilindes* Kalau mama Miko sih Ino emang mirip barbi kali yak, hehe. Ini apdet kok Fina- san!

ino-chan : makasih ino-chan -san ;*

Arichy : Ahahah, mami Miko emang bikin suasana jadi hepi ya. Kalau sesuatu yang terjadi, Mee gak janji gak bakal terjadi ya(:v). Makasih udah mampir ;*

Cloesalsabilaahh : Mee gak bisa ganti rate Cloe- san, bakal susah jadinya ntar, mueheheh. Mee kipikiran ripiw nya Cloe- san makanya ada scane Sasuke mikir kesitu, hehe *ditabok*. Makasih udah mampir ya 😊

Tousan : Makasih makasih ;*