.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
.
Siang ini, Sasuke menemani Ino menuju taman di rumah sakit. Sasuke mencari tempat yang lumayan luas dengan banyak bayangan pohon, sehingga suasana yang dihasilkan akan sejuk. Ia mendorong kursi roda Ino menuju tempat yang menurutnya nyaman. Awalnya, Sasuke menawarkan diri menggendong Ino untuk memenuhi permintaan sang gadis, yang teramat sangat ingin pergi keluar kamar. Ino nya tidak keberatan, hanya saja, pengunjung rumah sakit yang lain pasti keberatan.
Apalagi yang jomblo, pfft. /slap/
Akhirnya, Ino lebih memilih menggunakan kursi roda. Meskipun keberatan karena Sasuke tidak bisa peluk-peluk manja pada Ino, ia tetap menuruti permintaan gadisnya untuk menggunakan kursi roda saja. Batin Sasuke ngedumel kesal, menyalahkan penghuni rumah sakit yang lain.
Siapa suruh menjadi rakyat jelata yang mengemis karena tidak mendapatkan cinta ?
Huh.
Kalau saja Sakura mendengarnya, Sasuke pasti tidak akan dijinkan menginjak rumah sakit keluarganya lagi dan otomatis tidak bisa bertemu Ino. Mampus dia.
Kheheheh ... kayaknya seru kalau author aduin ke Sakura ...
Roda penggerak kursi roda Ino menyentuh rumput-rumput di tempat tujuan mereka. Mata biru Ino mengeluarkan kilat-kilat cahaya kecil ketika melihat bagaimana indahnya taman rumah sakit yang dikelola keluarga Haruno. Sasuke hanya tersenyum kecil menonton reaksi gadisnya dari belakang.
'Manis sekali,'
"Ne, ne, Sasuke- kun, aku mau dibawa kesini setiap hari bersamamu. Mau kan ?" sorak Ino tanpa berpaling dari pohon-pohon besar yang hampir menutupi langit yang dapat dilihat Ino.
Sasuke merasa sesuatu menghantam dadanya keras, 'Membawamu ke pelaminan saja, aku bersedia kok!'
Sas, jangan gombal Sas. Jijiq.
Sebagai jawabannya, Sasuke hanya menjawab dengan singkat. Tentu saja ia setuju, wong batinnya saja kayak begitu.
"Aku jadi teringat saat kau pertama kali menyatakan perasaanmu kepadaku. Meskipun seharusnya bukan taman hijau melainkan taman sakura," ujar Ino tiba-tiba.
Sasuke menahan napas. Badannya kaku. Otaknya kembali memutar masa lalu.
Kelam.
Pikirannya tidak bisa menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang kembali muncul. Hatinya merasa tidak nyaman. Terasa tidak enak. Terlalu sakit.
Sasuke mendorong lagi kursi roda Ino menuju tempat yang agak sepi. Tetap berada di bayang-bayang pohon yang membuat terasa di sebuah hutan di dongeng peri. Angin tetap meniupkan udara-udara sejuk kepada mereka. Dan Sasuke tetap belum membalas kalimat Ino. Meskipun itu tidak harus dibalas.
Mereka berhenti di dekat pohon besar yang terlihat lebih tua dari pohon lainnya. Sasuke masih diam. Ia melangkah dan menggendong Ino turun dari kursi roda. Membiarkan gadis dengan baju satu setelan berwarna peach lembutitu duduk di samping akar pohon yang terlihat menyembul dari tanah. Sasuke mendudukkan diri sebelah Ino setelahnya. Keadaan masih tetap hening. Setidaknya sebelum Ino membuka suara.
"Ingin bilang sesuatu ?"
Sasuke menoleh cepat ke arah Ino. Gadis itu mengadahkan kepalanya ke atas. Terlihat antusias. Penasaran, Sasuke mengikuti pandangan Ino, menatap daun-daun yang bergerak pelan. Cahaya-cahaya kecil dari sang matahari menyelinap masuk dari sela yang mereka ciptakan. Tidak membuat silau, namun entah kata apa yang tepat untuk mendeskripsikannya. Tapi satu hal yang Sasuke dapat setelah melihatnya.
Indah.
"Kau harus selalu dapat melihat hal-hal seperti ini, Sasuke- kun. Saat kau bingung untuk memikirkan sesu atu, ini dapat meringankan bebanmu," ujar Ino setelahnya. Lalu tersenyum manis ke arah Sasuke hingga membuat matanya terlihat seperti bulan sabit.
"Dan jangan lupa tersenyum untuk mengisi bermacam momen di hari-harimu." lanjut Ino sambil mengulurkan tangannya dan menarik dua sudut bibir Sasuke ke atas, membentuk sebuah senyuman yang lucu.
Sasuke mendengus geli. Menggenggam kedua tangan Ino dan menariknya turun dari wajahnya sambil memperlihatkan senyum lepas dari bibirnya. Ino memperlebar senyum manisnya melihat Sasuke.
"Nah, seperti itu. Kan jadi lebih enak dilihat dari pada muka masam, meskipun kau tetap tampan berwajah seperti itu." Ino memperlihatkan gigi-gigi depannya. Lalu kembali melihat ke atas.
Sasuke tergelak samar. Badannya terlihat lebih rileks. Perasaannya menjadi lebih baik.
"Ino," Sasuke akhirnya mengeluarkan suaranya, meskipun terdengar berat. Sasuke berusaha melepaskan suaranya yang seperti tersendat di tenggorokannya.
Ino masih belum bersuara. Ia memberikan waktu untuk Sasuke, tidak ingin memberatkan pikirannya. Sasuke menarik napas panjang yang berat. Dan Ino masih menatap ke atas. Melihat daun-daun yang seperti saling berkomunikasi, menghasilkan suara gemerisik pelan menenangkan.
"Apa ... yang terjadi waktu kau tidak bersamaku ? Saat aku juga tidak bersamamu ? Waktu 'itu' ?" tanya Sasuke pada akhirnya. Matanya tidak berpaling dari Ino. Atensinya menatap gadis cantik itu dengan kuat.
Dahi Ino mengkerut bingung pada awalnya, lalu berubah menjadi muram. Ia masih tidak mengalihkan perhatiannya dari daun-daun di atas. Namun tatapannya tidak nampak sefokus tadi. Sasuke sempat merasa bersalah, namun ia tidak bisa terus menahan rasa penasarannya. Ino memejamkan kelopak matanya dan menyenderkan punggungnya ke batang pohon. Entah karena lelah atau yang lain.
Sasuke jadi benar-benar tidak enak. Ino terlihat frustasi untuk menjawab pertanyaannya.
"Tidak usah kau jawab bila kau keberatan." ujar Sasuke pada akhirnya. Tidak ingin membuat Ino terlihat makin stress.
Ino terhenyak. Ia membuka matanya dan menolehkan kepalanya ke arah Sasuke. Menatap intens onyx lawannya. Lalu membuka mulutnya.
"Aku ingin menjawabnya," mata Ino terlihat sedih, "Aku sangat ingin menjawabnya. Namun aku takut, Sasuke. Aku takut pada akhirnya kau akan meninggalkanku –tidak, aku lebih takut kau akan membenciku karena ini,"
Ino menahan gejolak perasaannya. Sekarang, ganti suaranya yang tersangkut di lehernya. "Aku ingin menjawabnya sesegera mungkin, Sasuke- kun. Tapi aku ragu bukan hari ini. Dan aku ragu, aku akan benar-benar mengatakannya."
Ino tidak bisa menahannya lagi. Air matanya tumpah. Sedikit-sedikit mengalir di wajahnya. Deras namun tanpa ada isakan yang keluar. Suaranya seperti benar-benar tertinggal di tenggorokan.
Tidak ada kata lagi yang keluar. Sasuke mendekapnya erat. Tanpa celah. Seolah tidak membiarkan Ino keluar dari dekapannya.
"Aku berjanji padamu Ino. Pada saat itu, dan sekarang untuk saat ini, dan selamanya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah bisa membencimu. Tolong, jangan memaksakan diri dan membuatku khawatir." ujar Sasuke, tenang, namun membuat perasaan Ino berantakan.
Ino tidak dapat menahan kedua tangannya untuk membalas pelukan Sasuke. Ia membenamkan wajahnya di bahu tegap milik lelaki bermarga Uchiha itu. Menahan isakannya yang terdengar semakin kencang.
"Terimakasih." ucap Ino kemudian.
.
.
.
.
.
Ino tidak mengatakan apa-apa lagi ke Sasuke setelah mereka kembali dari taman. Sasuke berniat meminta maaf sebelum Ino berkata bahwa ia baik-baik saja. Sasuke mengangguk mengiyakan, meskipun perasaannya tidak setuju. Ia pergi meninggalkan kamar inap Ino karena jam kunjungan ke rumah sakit sudah habis. Ino mengucapkan 'Sasu, smile.' seperti biasa, meskipun suaranya menandakan bahwa ia tidak baik seperti biasa.
Sasuke menggeram pusing setelah menutup pintu kamar Ino. Pikirannya yang biasanya tenang, sekarang kalut. Ia tidak menyangka bahwa satu kalimat itu dapat membuat keadaan makin rumit seperti ini. Ia merutuki dirinya sendiri, mengapa ia tidak memilih kalimat lain saja untuk diutarakan ? Keadaan yang sebelumnya baik-baik saja kembali menjadi runyam.
Sasuke mendecih saat berada di lorong menuju jalan keluar. Pikirannya memang kalut namun badannya tetap bisa berfungsi baik meskipun sedikit terasa lemas. Seperti sekarang, saat Sasuke berhenti karena tidak sengaja mendengar suara dari sahabat Ino sedang menangis di sebuah ruangan. Suara tangisnya diikuti suara lelaki remaja, yang Sasuke kenali sebagai suara kekasihnya, Naruto.
Tidak-tidak. Sasuke tidak akan berhenti bila itu tidak menyangkut salah satu urusan dalam hidupnya. Tentu Sasuke berhenti karena mendengar nama Ino disebut di sela tangis sang gadis Haruno. Sasuke mulai merasakan perasaan tidak nyaman merasuk dalam hatinya. Ia memutuskan untuk mendengarkan percakapan kedua orang itu. Untuk membuat perasaannya tenang, yang sekarang semakin tidak menjadi-jadi.
"Bagaimana ini Naruto- kun ? Ino tidak bisa terus-terusan seperti ini. Terapinya mulai tidak bekerja untuknya. Aku tidak ingin penyakit itu benar-benar memakan kepalanya. Ia akan frustasi sekali bila mendengar ini. Tapi kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi," ujar Sakura. Suaranya seperti terbenam sesuatu.
"Bagaimana mungkin Ino bisa terjangkit penyakit ini ? Ia tidak melakukan dosa apapun. Tuhan, kumohon, biarkan sahabatku sembuh. Meskipun tidak ada obat untuk penyakitnya," ujar Sakura. Tangisnya terdengar makin keras. Naruto tetap memeluknya erat. Ia sangat tahu bahwa kekasihnya memiliki perasaan yang sangat besar terhadap siapapun, apalagi orang-orang terdekatnya.
"Sakura- chan, jika kau yakin kita sudah tidak bisa berbuat apapun lagi, maka setidaknya bila Ino benar-benar tidak dapat disembuhkan, berdoalah untuk kebahagiaannya. Aku tahu kau sudah melakukan yang tebaik untuknya. Aku bangga kepadamu," ujar Naruto sambil menepuk sayang punggung Sakura, membiarkannya mengeluarkan seluruh emosinya.
"Tapi, aku yakin bahwa Ino akan sembuh. Ia adalah adik sepupuku walau bagaimanapun, ia kuat dan berani," lanjut Naruto setelahnya. Sepercik kelegaan tercipta di hati yang mendengar kalimat Naruto.
"Aku tahu. Namun setelah kecelakaan itu, kepalanya terbentur keras dan itu memberikan efek yang cukup besar." terdengar nada amarah samar dari suara Sakura.
Sasuke tertohok mendengarnya. Perasaannya makin kacau sekarang. Ia sudah tidak bisa menahan rasa tidak nyaman di hatinya.
"Ceritakan. Katakan padaku semuanya, semua pada Ino,"
Sakura dan Naruto terlihat terkejut melihat Sasuke yang ada di depan pintu ruangan Sakura yang terbuka. Hening sempat menguasai suasana di tempat ketiga orang itu berada.
Sakura melepas pelukannya dari Naruto perlahan, namun tetap mencengkram baju yang dipakai kekasihnya erat. Matanya sempat memincing tidak suka pada Sasuke yang menurutnya breng*** itu. Tapi setelah menatap Sasuke, tepat pada matanya yang terlihat sangat kacau, Sakura paham apa yang nampak disitu.
Rasa khawatir.
"Ino tidak menceritakan ini padamu. Aku ragu ia memiliki keberanian untuk mengatakan ini padamu," ujar Sakura memulai kalimatnya.
"Katakan dengan ringkas, jangan membuatku pusing." balas Sasuke geram. Perasaannya gusar mendengar ini.
Sakura menghela napas pendek dan pelan. "Ino menderita sebuah penyakit sejak lama. Namun kami baru mengetahuinya akhir-akhir ini karena tanda-tandanya baru nampak. Dan penyakit ini perlahan mengikis kepala Ino,"
Sasuke masih mendengarkan dengan cemas. Jantungnya tak berhenti bertalu-talu, otaknya memberi peringatan untuk sebaiknya tidak jadi mendengar ini.
"Ino menderita alzeimer, sebuah penyakit yang tidak seharusnya ia dapat di usianya."
.
.
.
.
.
TBC
Semoga yang kali ini lebih baik dari yang biasanya. Meskipun Mee sadar ini cetek banget dan soalnya Mee beberapa kali ngerusak cerita Mee sendiri, mueheheheh.
Oiyak, untuk penjelasan penyakitnya Ino, Mee jelaskan di chap selanjutnya yak. Separuhnya Sakura yang jelasin sih ntar, Mee mah #nambahinaja ngueheheheh.
Balasan review kali ini disini semua yaa :
ino-chan : yak ternyata jalan cerita masih gampang ketebak yak. Hmm.. Mee ga bikin Ino- chan meninggal kok ino-chan- san, ga tega. Meski Mee diam-diam pecinta tragedy. /slap/ makasih mau ninggalin jejak
Cloesalsabilaahh : aiiihh~ Mee jadi malu~ Mee lop yu juga Cloe- san. Wkwkwk, Sasukenya mulai bangke yak XD. Makasi uda ripiw
Lazyper : astaga Lazyper- san, itu emang diem-diem bawaan sifatnya Sasuke XD. Makasi udah mampir
Fina : rasa penasaran Fina- san udah terjawab! *jengjeng* dan Sasueksuek akhirnya tahu penyakit Ino karena dibocorin Sakura~ *anjir emang* *ditabok Sakura*. Makasi ripiw nya
