Querencia

Chapter 4 : Permission

Soonhoon Slice Of Life Fanfiction

Starring : Soonyoung; Jihoon;etc

Mention! Wonwoo;Seungkwan

!light-sex!

.

.

.


"Soonyoung, boleh yaaaa?"

Itu Jihoon lagi menggunakan aegyo andalannya untuk mengelabuhi Soonyoung—yang biasanya sih selalu berhasil dan Soonyoung harus mengibarkan bendera putih. Bagaimana tidak? Jihoon sampai merayu dengan bibir seperti bebek dan kancing atas kemeja yang sengaja dibuka oleh yang punya. Kesan seksi dan manis yang disatupadukan, sumpah demi tuhan Kwon Soonyoung mana kuat.

"Tidak Sayang."

Bukan main Soonyoung ingin langsung menerkam anak macan yang ada didepannya—tapi tidak mungkin karena yang ada nanti dia malah kena tendang sampai aula. Soonyoung cukup pintar untuk peka kalau ini semua hanya rayuan maut Jihoon untuk dapat sesuatu yang dia mau. Tipikal uke kaya Jihoon mana mungkin bertingkah laku kaya gini? Yang ada dunia kiamat.

Muka Jihoon memerah. Udah cukup ia menjatuhkan harga dirinya didepan si bodoh ini tapi ternyata tidak membuahkan hasil sama sekali?! Yang ada dia malah dapat penolakan?!

"Bodoamat Soonyoung gaboleh tidur dikamar."

Jihoon mecubit kecil perut Soonyoung karena gemas si bodoh disampingnya tidak mau memberikan izin. Ingin sekali Jihoon menguyel-unyel muka Soonyoung tapi gak mungkin—Jihoon kan sayanggggg banget Soonyoung, si kecil itu mana mungkin tega menyakiti bodohnya?

Padahal Jihoon gak tau kalau cubitan barusan membuat Soonyoung nyaris berteriak kesakitan

Soonyoung ternsenyum manis. Matanya tidak menyipit tapi bibirnya kembang kempis. Mirip pedofil, tapi hey dia bukan pedofil. Itu hanya bentuk senyum gemas Soonyoung kalau sedang berurusan dengan ambekan Jihoon. Jihoon sudah hapal senyum itu dan tidak bohong Jihoon sampai bosan.

"Jihoon, kalau kamu nanti pingsan kecapekan gimana?"

Jadi kalau kalian penasaran, sekitar tigapuluh menit lalu Jihoon datang duduk disamping Soonyoung yang sedang menyesap kopi. Ia datang ke Soonyoung untuk negoisasi tentang 'jam kerja'nya sebagai dokter. Selama ini jadwal praktek Jihoon sebagai dokter anak hanya tiga hari dalam seminggu. Itupun hanya dari pukul 10 pagi sampai jam 3 sore saja. Kadang-kadang malah dipotong setengahnya sama Soonyoung.

Gak heran sih, secara rumah sakit tempat Jihoon bekerja itu milik ayah Soonyoung—dimana secara tidak langsung rumah sakit itu juga jadi milik Soonyoung. Jadi Soonyoung bebas dong mengatur jam kerja semua pegawainya, tak terkecuali istri mungilnya.

Tapi hey—Soonyoung bukan orang semena-mena, ia tetap menyesuaikan semua jam kerja para dokter dengan kondisi mereka. Ia hanya mengatur Jihoon punya jam kerja.

"Soonyoung, aku tidak tahu harus ngapain kalau sedang tidak kerja. Kamu tega aku kebosenan dirumah sementara disana banyak anak kecil mengantri butuh pertolongan?"

Baiklah jika memang 'rayuan mau't tidak bekerja, Jihoon akan mencoba cara rasional lagi saja. Negosiasi. Bagaimanapun Juga mereka berdua adalah orang berpendidikan tinggi yang pasti orientasi hidupnya keatas dan mengikuti perkembangan zaman.

Soonyoung memang benar bodoh tapi untuk perihal seperti ini, dia tahu persis apa yang harus ia lakukan. Soonyoung sebenarnya mau saja mengizinkan Jihoon menambah jam kerja, membiarkan istrinya bermain dan berinteraksi lebih lama dengan anak-anak—tapi sayangnya kondisi fisik Jihoon sangat tidak bisa diajak kerja sama.

"Jihoon, kamu sebenarnya tau kan aku mau?—Tapi sayang, coba lihat kondisimu sekarang. Aku takut kamu kelelahan."

Sebagai suami yang baik dan perhatian, Soonyoung tau persis kondisi fisik Jihoon yang lemah dan rentan. Dulu saat masih kuliah, Jihoon bisa pingsan sampai tiga kali dalam sebulan hanya karena kelelahan dengan belajar dan praktek ujian. Soonyoung sampai stress sendiri kalau mengingat masa-masa itu. Jihoon terlalu keras kepala untuk mendengar nasehat Soonyoung jadi mau tidak mau Soonyoung harus siap jadi 'ugd' nya Jihoon semasa kuliah.

"Kalau kamu pingsan atau apa, kamu tau aku bakal panik kan? Aku gamau kejadian dulu terulang lagi, sayang."

Soonyoung membawa tangan Jihoon ke genggaman

"Sekarang karena kita sudah menikah, aku cuma mau kamu dan pasien kamu itu sehat. Lagipula kan masih ada Wonwoo dan Seungkwan, kondisi fisik mereka kuat dan Seungkwan sendiri masih melajang. Kamu gaperlu khawatir, Jihoon."

Suasana ruang keluarga jadi tenang lagi setelah tadi sempat tegang karena Jihoon yang hampir ngamuk dengan protesan. Soonyoung memang tone of kind, Cuma dia yang bisa mengendalikan sisi kesetanan Jihoon kalau sedang kumat.

Jihoon mengangguk, baiklah ia cukup tersanjung dengan penjelasan panjang lebar Soonyoung. Selama ini ia berpikir Soonyoung mengatur jam kerjanya hanya supaya ia bisa banyak dapat 'jatah' dirumah. Jihoon jadi merasa sedikit bersalah karena sudah berpikir negatif duluan.

Oleh karenanya Jihoon tidak ragu membawa rahang Soonyoung mendekat dan mencium bibirnya. Ya tuhan, Jihoon beneran sayang sama hamster bodoh yang satu ini. Ia mendorong punggung Soonyoung agar bersandar di sofa sementara ia perlahan duduk diatas paha suaminya. Kopi yang kubuat enak juga, batin Jihoon ketika membiarkan lidah Soonyoung masuk kedalam mulutnya.

Soonyoung tau ini masih pagi dan ia harus pergi bekerja sepuluh menit lagi—tapi astaga Jihooon sekarang benar-benar tempting untuk diajak bercinta. Soonyoung membuka sisa kancing kemeja Jihoon dan semua mengalir begitu saja ketika Jihoon ikutan membuka kaitan celana Soonyoung.

Jihoon mendesis ketika Soonyoung masuk kedalamnya. God, mereka sudah melakukan ini puluhan kali tapi kenapa masih saja sakit?!

"Soon—ah Soonyoung—bagaimana kalau aku ahh."

Jihoon mau ngomong sesuatu tapi karena dibawah sana terlalu nikmat, suaranya malah kedengaran seperti ngigau.

"Mau ngomong apa kamu, sayang?" Soonyoung terus bergerak cepat dibawah sana sementara bibirnya menyesap kesana-kemari

"aah aku—tambah dua jam kerja—ahh soonyoung aku dekattt."

Soonyoung mengecup lembut bibir Jihoon ketika mereka selesai dengan pelepasan. Mengusap lembut kepala Jihoon, menganggumi karya tuhan yang indah ini.

Soonyoung buka suara, "Kamu tadi mau ngomong apa Jihoon?"

Jihoon menggeleng sebentar, kemudian lanjut mengangguk "baiklah kalau kamu tidak memberiku izin tambah hari kerja, tapi gimana kalau jam kerjanya saja ditambah? Dua jam lebih lama mungkin? Biar kamu bisa jemput aku juga."

Dan Jihoon lega sekali ketika Soonyoung mengangguk setuju.

"Dan err—sayang, celana ku jadi basah deh hehe. Boleh ambilkan yang baru?" Soonyoung mencicit kaya burung perkutut

Jihoon memukul manja si bodohnya dan pergi menggunakan pakaian lagi kemudian berlari kecil ke wardrobe untuk mengambil setelan baru.

Setelah itu Jihoon akhirnya tiba mengantarkan Soonyoung ke pintu untuk pergi kerja. Soonyoung tidak pernah lupa untuk urusan cheering-kiss, jadi ia tidak pernah absen mencium kening Jihoon sebelum pergi dengan mobilnya.

"Aku pulang pukul lima, jaga dirimu ya? aku cinta kamuuuu."

.

.

"Aku benci kamu jugaaa."

.

TBC


Hai guyss disini aku mau jelasin timeline hubungan nya Soonyoung dan Jihoon supaya kalian gak bingunggg.

Bulan tujuh tahun 2013 ~ Soonyoung pertama kali ketemu Jihoon
Bulan sepuluh tahun 2013 ~ Soonyoung dan Jihoon resmi pacaran
Bulan empat tahun 2014 ~ Soonyoung Jihoon first sex 0_0
Bulan tujuh tahun 2014 ~ Soonyoung Jihoon masuk kuliah; Jihoon anak kedokteran; Soonyoung anak bisnis lah ya
Bulan sebelas tahun 2017 ~ Jihoon lulus kedokteran a.k.a kuliah 3,5 tahun doang dan cumlaude wkwk;')
Bulan empat tahun 2018 ~ chapter 1 sarapan
Bulan tujuh tahun 2018 ~ chapter 2 surprise after work
Bulan sembilan tahun 2018 ~ Soonyoung lulus dan langsung kerja karena lowongan kerja yang nyari dia~ maklum aja orang tajir~
Bulan tiga tahun 2019 ~ Soonyoung dan Jihoon nikah yeyeye
Bulan empat tahun 2019 ~ Chapter 3 Li Shang
Bulan enam tahun 2019 ~ Chapter 4 Permission

Gitu ajasih haha semoga suka ya, chapter ini kubuat bahasanya kembali light dan awam gak kaya chapter kemarin hihi~