Querencia

Chapter 5 : Throwback

Starring! Kwon Soonyoung, Lee Jihoon

Mention! Lee Seokmin, Choi Seungcheol

.

.

.


Jauh sebelum Soonyoung mengucap janji hidup semati dengan Jihoon di altar, tidak kah kalian penasaran bagaimana bisa si tampan nan tajir Soonyoung kenal dan jadi satu dengan Jihoon yang notabene cowok lugu dan apatis?—Bak sinetron picis murahan yang tayang setiap minggu, hubungan Soonyoung dan Jihoon sebelum menikah memang diwarnai dengan banyak rasa yang kadang manis kadang pahit.

Semua itu dimulai enam tahun yang lalu ketika sekolah memasuki tahun ajaran baru. Saat itu Soonyoung resmi jadi anak kelas tiga disekolah yang tentu saja semua tatanan kelas harus berubah. Soonyoung sempat protes keras karena sekolah memasukkan nya ke kelas 'favorit' yang isinya hanya murid – murid berkacamata yang tidak seru sama sekali. Soonyoung mana betah kalau harus belajar dikelas yang isinya hanya orang yang pelit suara?—tapi ia bisa apa, nilai Soonyoung jika diakumulasikan memang memenuhi syarat kelas favorit—tapi tetap saja Soonyoung tidak suka! Ia tau ia berotak encer tapi ayolah, Soonyoung itu paling benci dengan sunyi .

"Soonyoung, apa kamu tidak tahu kalau banyak sekali siswa diluar sana yang mau berada diposisi mu?"

"Iya saya tau pak, oleh karena itu saya mau hibahkan saja posisi saya untuk mereka."

Jawaban Soonyoung membuat kepala sekolah sakit kepala.

"Apa kamu merencanakan ini dengan Lee Jihoon?"

Soonyoung bingung tentu saja,"Lee Jihoon?"

"Iya Lee Jihoon, barusan dia juga protes sama saya minta dikeluarkan dari kelas favorit. Saya pikir kamu kenal?"

Hening sebentar

"Saya tidak kenal dan—ayolah pak, jangan mengalihkan pembicaraan. Tolong izinkan saya masuk kelas biasa."

Kepala sekolah heran kenapa anak ini keras kepala sekali. Tapi mau bagaimanapun juga ia harus tetap 'mengiyakan' karena tanpa sepengetahuan Soonyoung, orangtuanya telah berinvestasi selama sepuluh tahun disekolah ini jadi demi terus mengalirnya asupan dana, permintaan sang 'tuan' harus tetap dituruti.


Querencia


Soonyoung senang bukan main karena dihari kedua namanya telah dipindah masuk ke kelas biasa. Soonyoung itu luar biasa terkenal jadi semua orang tau dia dan tak mengelak berharap dapat jadi temannya. Siapa coba yang gamau jadi teman orang ganteng plus tajir kaya dia?

Soonyoung makin bahagia ketika tahu siapa chairmatenya

"Dasar bodoh, kau ini capek jadi pinter makanya mau belajar jadi bodoh ya?"

"diam Seokmin, bukankah kau bahagia aku disini?"

"Tidak sama sekali."

Soonyoung itu kan pecicilan, jadi tidak mungkin ia tidak mengobservasi orang disekelilingnya. Banyak muka baru yang Soonyoung tidak pernah lihat. Banyak juga sih muka lama yang membuat Soonyoung sampai muak sendiri. Ia mengobservasi semua anak dari yang duduk paling depan terusss hingga ia tiba di meja yang berada disebelahnya

"Jadi ini orang yang kemarin disebut si kepala sekolah?"

Lee Jihoon, itulah yang tertulis di buku yang tergeletak diatas meja orang disampingnya. Pria mungil berpipi chubby dengan kacamata besar yang kalau nunduk sedikit pasti bakal melorot. Soonyoung memperhatikan orang itu terus hingga tanpa sadar mulutnya tersenyum sendiri. Cieeee.

Sepulang sekolah Soonyoung bertekad mencegat Lee Jihoon didepan kelas. Ia menunggu semua orang pergi meninggalkan kelas sebelum akhirnya menarik bahu Lee Jihoon sedikit dan memutarnya sopan agar jadi berhadapan.

"Apa kamu yang namanya Lee Jihoon?"

Hening sebentar—Lee Jihoon memasang muka jutek yang gak ketulungan

"Iya aku Lee Jihoon ada urusan apa?"

Soonyoung kaget. Belum pernah ia mendapat respon sedingin ini dari orang-orang disekolah. Menarik sekali, pikir Soonyoung.

"Maaf aku sok kenal tapi apa benar kamu seharusnya jadi anak kelas favorit?"

Muka Lee Jihoon semakin jutek dan Soonyoung mulai takut

"Kalau aku kasih tau, apa kamu akan pergi dari hadapanku?"

Soonyoung langsung mati kutu—tapi kepalanya tetap mengangguk setuju

"Iya."

"Aha jadi benar kamu itu an—"

"Sekarang kamu sudah tau jawabannya kan? Kalau gitu bisa kamu pergi? Aku mau melakukan sesuatu dikelas sendiri."

Demi janggut merlin, Soonyoung baru saja merasakan pengalaman baru berbicara dengan orang se-to the point ini. Sangat dingin tapi at the same time, Sangat menggemaskan.

Akhirnya Soonyoung menyerah saja. Ia masih belum tahu apa alasan Jihoon mengundurkan diri dari kelas favorit jadi ia terus saja mengikuti si mungil hingga yang diikuti jadi jengah sendiri. Soonyoung melakukan berbagai macam cara—mulai dari mengajak ngobrol dikala waktu senggang sampai nekat mengambil buku matematika Jihoon demi harapan mendapat imbalan jawaban. Cara yang terakhir efektif. Jihoon menyerah dan akhirnya Soonyoung tahu kalau Jihoon mengundurkan diri dengan alasan yang sangat manusiawi.

"Kalau aku masuk kesana, orang akan punya ekspektasi tinggi dan aku tidak suka itu."

"aku tidak mau hidup diatas ekspektasi banyak orang, Soonyoung."

Mulai saat itu Soonyoung tahu kalau Jihoon adalah orang yang selama ini ia cari.

Bisa dibilang Soonyoung menyukai Jihoon, Sangat menyukai malah. Jadi Soonyoung, untuk kedua kalinya, kembali mengejar Jihoon—tapi kali ini bukan untuk mendapat jawaban, melainkan hati dan perasaan.

Soonyoung berkali-kali mengajak Jihoon untuk jalan bersama—berkali-kali pula Soonyoung mendapat penolakan. Tapi untuk beberapa kali, Soonyoung dapat persetujuan. 'Kencan' pertama mereka dihabiskan diperpustakaan kota dan 'kencan' terakhir dilakukan di festival kembang api tahunan kota.

Mereka duduk berdua dengan Jihoon sibuk memakan bola ubi panas dan Soonyoung yang sibuk memperhatikan Jihoon makan.

"Jangan ngeliatin aku terus, Soonyoung."

Hening sebentar. Soonyoung meneguk air sebentar sebelum kembali menatap Jihoon.

"Jihoon, kamu tau kan kalau aku suka kamu?"

Soonyoung membawa satu tangan Jihoon ke genggaman, membawa dirinya semakin dekat dengan Jihoon. Yang didekatin panik tapi berusaha stay cool.

Soonyoung membawa wajah Jihoon menoleh kearahnya, "Kita sudah kencan berkali-kali jadi aku harap kamu bisa lihat ketulusan aku sama kamu, Ji."

"Iya Soonyoung aku bisa lihat, aku tidak buta."

Soonyoung tersenyum manis dan shit, Jihoon lemah sekali dengan senyum itu.

"Jadi kalau kamu sudah tau, sekarang kamu mau gak jadi pacar aku?"

Jihoon sudah punya jawabannya tapi ia bingung setengah mampus bagaimana cara menjawabnya.

"Kamu gak akan seperti Seungcheol kan?" Jihoon menjawab dan sedetik kemudian ia menepuki mulutnya sendiri.

Seungcheol itu mantan pacar Jihoon kalau mau tau. Soonyoung tahu karena Jihoon sendiri yang cerita bagaimana Seungcheol tega mencampakan dirinya.

"Percayalah Jihoon, aku akan jadi orang yang menggandeng kamu ke altar gereja nanti."

Siapa sangka janji Soonyoung barusan benar berubah jadi kenyataan?

Setelah itu semua sudah jelas. Mereka pulang kerumah dengan status Soonyoung sebagai pacar Jihoon dan Jihoon sebagai pacar Soonyoung. Sempat berseteru kecil karena Soonyoung nekat mencium pipi Jihoon dijalan.


Querencia


"SOONYOUNG KAMU BELUM PAKAI DASI"

Jihoon berlari dari wardrobe kamar menuju Soonyoung yang lagi kelabakan karena telat bangun padahal flightnya satu jam lagi.

"Kamu panik tapi jangan gitu dong masa dasi saja lupa?"

"Iya sayang maaf tidak akan lagi."

Jihoon memakaikan dasi Soonyoung—sedikit kencang sampai Soonyoung nyaris tercekik tapi Jihoon cukup peka dan membetulkannya.

"Aku pergi dulu sayang, aku pulang dua hari dari sekarang."

Soonyoung mencium Jihoon. Hanya kecupan kecil yang diselingin beberapa lumatan memabukan.

"Cepat pulang dan ambil jatahmu."

.

Satu kalimat yang selalu membuat Soonyoung ingin cepat pulang

.

"Cannot wait for the Hongkong, baby."

.

.

END / CONTINUE?


Hayoloh pasti pada nungguin scene mature-nya ya? Maaf teman2 aku belum bisa ngasih di chapter ini karena emang susah masukin scene itu dichapter ini. Tapi kalian bisa ko punya ekpektasi tinggi untuk chapter depan hihi. Makasih semoga cerita ini menghiburr.