Querencia

Soonhoon Slice Of Life Fanfiction

Chapter 8 : Supermarket

Starring : Kwon Soonyoung; Lee Jihoon; Hong Jisoo

!Mention! Kim Mingyu! Jeon Wonwoo!

PG 15+

.

.


HAPPY READING YALL^^


.

.

Hari ini adalah hari sabtu pagi di musim panas. Keluarga kecil Soonyoung dan Jihoon sedang libur dengan pekerjaan nya masing-masing. Jihoon mengambil cuti lima hari dari rumah sakit sementara Soonyoung digantikan posisinya oleh Mingyu selama beberapa hari kedepan. Mereka memang sudah merencanakan ini sebelumnya. Soonyoung pikir hubungan mereka jadi sedikit renggang karena kesibukan masing-masing dan ia sangat benci fakta itu. Oleh karena nya ia membujuk Jihoon untuk pergi 'bermalas-malasan' di rumah selama seminggu. Untung saja Jihoon nya setuju.

"Astaga Jihoon!"

Soonyoung baru saja turun dari tangga ketika melihat penampakan Jihoon sedang memasak di dapur. Awalnya tidak ada reaksi bermakna dari Soonyoung—sampai tiba ketika Jihoon berjalan mendekati kulkas dan terlihatlah penampakan Jihoon yang berjalan hanya dengan atasan tanpa celana.

"Pakai celanamu, sayang!"

Bak orang gila Soonyoung langsung memeluk Jihoon erat-erat, berharap kedua paha putih Jihoon tidak terekspos—meskipun semua orang tau bahwa itu sama sekali tak membantu.

"Santai saja Soonyoung, tidak ada orang lain kecuali kita di rumah ini."

"Apa maksudmu?"

Jihoon melepas paksa pelukan Soonyoung, "aku meliburkan semua maid, security, dan driver, Soon. Aku memberikan jatah satu minggu libur supaya mereka bisa bertemu dengan keluarga."

Soonyoung yang mendengarnya langsung lega. Hampir saja ia punya pikiran untuk memecat seluruh pegawai pria di rumah nya karena berpikir mereka mungkin sudah melihat paha mulus dari 'harta' terindah milik Soonyoung.

"mau bantu aku masak?" Jihoon mengelus lembut pundak Soonyoung

"apa yang ingin kau masak, hm?"

"entahlah, kita lihat apa saja yang ada dalam kulkas kita."

Jihoon berjalan mendekati kulkas dan setelah membukanya, ia menyesal setengah mati. Ekspektasi nya akan kulkas yang penuh dengan sayur dan buah lenyap begitu saja. Kulkas empat pintu besar itu nyaris kosong—hanya tersisa beberapa botol soju dan jus strawberi yang sudah ditenggak setengah. Jihoon baru ingat kalau tadi malam beberapa teman kerja Soonyoung berkunjung dan mengadakan pesta kecil-kecilan di halaman rumah. Telebih lagi sekarang sudah memasuki akhir bulan. Pantas saja persediaan makanan mereka jadi habis gini.

"Ganti rencana—kita pergi ke supermarket sekarang."

Jihoon berjalan lemas menuju ponselnya untuk menelfon rumah makan delivery terdekat. Soonyoung sempat iseng dengan menampar gemas kedua pipi bokongnya.

"Tunggu sampai sarapan pagi kita sampai, setelah itu kita pergi ke supermarket."


Querencia


Soonyoung dan Jihoon sudah tiba di supermarket. Perjalanan mereka sempat terganggu sedikit karena kemacetan didepan komplek perumahan mereka. Setelah dicari tahu ternyata ada kecelakaan disana sehingga lalu lintas jadi terganggu.

Soonyoung bertugas mengambil troli sementara Jihoon sudah masuk terlebih dahulu untuk mengecek buah-buahan segar.

"Soonyoung, kenapa lama sekali sih?" Ucap Jihoon sembari meletakan sebuah melon didalam troli ketika Soonyoung datang.

"beberapa orang mengenaliku tadi—mereka mengajak foto."

Jihoon hanya menggeleng. Soonyoung memang bukan seorang artis ataupun idola remaja tapi nyatanya ia cukup populer di kalangan penduduk seoul. Bagaimana tidak, Soonyoung merupakan pebisnis muda tampan yang wajah nya kerap muncul di majalah atau talkshow bisnis. Tentu saja gak heran kalau beberapa orang bisa mengenalinya.

"Astaga soonyoung, kita sedang dalam masalah besar."

"Apa maksudmu, Ji?"

Jihoon menoleh pada Soonyoung dengan wajah melasnya, "aku tidak tahu merek makanan apa yang biasa nya para maid gunakan. Aku takut kita salah beli."

Jihoon sedih dan kesal tentu saja. Memang biasanya para maid lah yang rutin berbelanja ke supermarket. Mereka yang tau persis merk makanan apa yang sesuai dengan lidah tuannya. Jihoon jadi menyesal karena tidak pernah mencoba berbelanja bersama mereka—sekarang ia jadi kelabakan sendiri kan.

"Sssh hei tenanglah sayang—tidak usah sedih begitu."

Soonyoung meraih lengan Jihoon dan memeluknya. Ia tau persis bahwa sekarang Jihoon tengah menyesal karena terlalu apatis dengan urusan rumah tangga.

"Tidak perlu sedih begitu, Jihoon. Sekarang kita coba belanja dengan insting kita sendiri. Bukankah seperti itu akan lebih menarik?"

Jihoon setuju dengan ide Soonyoung dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan berbelanja.

"Baiklah, akan kucoba soon."

Setelahnya mereka lanjut beberlanja dengan ria. Mereka menelusuri banyak tempat mulai dari makanan ringan, minuman botolan—sampai tempat yang berisikan banyak daging sapi dan babi yang cukup membuat Jihoon bergidik ngeri.

Ketika sedang asyik mendorong troli Jihoon tiba-tiba saja mencegat Soonyoung

"Soonyoung, aku mau beli ini."

Jihoon menunjukan sesuatu dan Soonyoung kaget betul melihatnya

"Sayang, apa kamu sadar kalau yang kamu pegang itu adalah mainan anak umur lima tahun?"

Bukan hoax belaka tapi Jihoon benar-benar ingin membeli sebuah set mainan berisi boneka kayu warna-warni yang mirip badut pasar malam.

Jihoon memang tetaplah seorang Jihoon—galak tapi menggemaskan.

"Ini lucu sekali kau tau? Aku mau meletakkan mereka di ruang praktek ku—duh anak-anak pasti akan menyukainya."

Soonyoung tersenyum manis. Bahkan dalam situasi seperti ini, Jihoon masih bisa memikirkan pasien-pasien ciliknya di rumah sakit. Soonyoung memang tidak pernah salah memilih Jihoon sebagai pedamping hidupnya.

"Tidak apa sayang, beli lah sebanyak yang kamu mau."

Setelahnya Jihoon tersenyum sangat bahagia seakan ia baru saja memenangkan undian lotre.

Tanpa sadar mereka sudah menghabiskan waktu dua jam untuk berbelanja. Mereka dengan sabar menunggu giliran kasir dengan obrolan cerita ringan seperti 'kemarin aku salah masuk ruangan praktek, aku malu' ataupun 'kemarin aku memerogoki Mingyu sedang berciuman dengan Wonwoo di rumahnya'.

Hingga tiba giliran mereka di kasir dan tanpa diduga pegawai yang melayani mereka adalah teman masa kecil Jihoon semasa smp.

"Lee Jihoon, kaukah itu?"

"Astaga, apa kau Jisoo hyung?"

Setelahnya mereka mengadakan reuni manis yang singkat blablabla inti nya Jisoo sedang kerja separuh waktu sembari menunggu waktu wisuda magister nya. Jihoon terkejut setelah mengetahui fakta bahwa Jisoo berhasil menjadi seorang designer. Jisoo sendiri tidak kalah terkejut mengetahui fakta bahwa adik kecil nya telah sukses menjadi seorang dokter sekaligus istri pebisnis terkenal.

Soonyoung disisi lain hanya bisa tersenyum mendengar cuitan mereka sambil sibuk memikirkan 'aku lapar, aku ingin pulang, kapan ini semua selesai….'.


Querencia


Mereka sudah kembali kerumah. Soonyoung sudah tidak tahan dengan rasa lapar sehingga ia mengunyah sebuah chocopie sembari menunggu masakan Jihoon matang. Jihoon sendiri rencananya akan membuat kimbap jumbo dengan kimchi jiggae yang resepnya ia pelajari dari salah satu maid rumah.

"Soonyoung, kemarilah."

Mereka memilih untuk makan di teras halaman sebab meja makan mereka terlalu besar jika hanya diisi dua manusia.

"Ini enak sekali, Jihoon."

Jihoon itu memang uke yang pintar memasak. Semua orang yang mengenal Jihoon tahu itu. Oleh karenanya setiap minggu Soonyoung selalu membuat request masakan untuk dimasak Jihoon di akhir pekan.

"Apa kamu tau Soon? Hari ini, aku mendapatkan banyak pelajaran baru."

Soonyoung memang tidak menjawab tetapi Jihoon tau bahwa ia tetap mendengarkan.

"Terimakasih sudah mengajakku untuk libur kerja, Soonyoung. Hari ini aku merasakan banyak hal baru yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya."

Jihoon tersenyum manis. Ia meringsek berdiri dari tempat duduk kemudian memeluk Soonyoung dari belakang. Tidak lupa dengan kecupan hangat yang Jihoon tuangkan di pipi gembul suaminya.

"kamu memang suami terbaik, Soonyoung. Aku cinta banget sama kamu."

Jihoon sadar akan sesuatu hari ini. Ia sadar bahwa ada banyak hal yang menanti nya diluar sana. Ia menyadari bahwa kehidupan nya selama ini terlalu monoton dengan pekerjaan sehingga ia bahkan tidak punya waktu untuk melihat sekitar. Waktu bersama suaminya menjadi sangat minim sehingga pantas saja jika Soonyoung menganggap hubungan mereka menjadi sedikit renggang. Ia sadar ia seharusnya pergi untuk menjalani hidup lebih terbuka dan bebas tanpa terikat dengan formalitas atau sebagai macamnya.

.

.

.

"Soonyoung…"

.

.

.

.

.

"… Haruskah aku berhenti jadi dokter?"

.

.

.

to be continued.


HAYO BINGUNG YAA KO TIBA2 UPDATE. Maaf guys aku sengaja ga masukin scene mature disini karena emang aku mau coba masukin konflik ke series cerita ini (karena ya gaasik kalo hidup isinya bahagia mulu wkwk). Tapi konflik yang kumaksud bukan konflik antartokoh soonyoung-jihoon, melainkan konflik batin tokoh itu sendiri dalam memilih keputusan. Kira2 Jihoon bakal bener berhenti jadi dokter dan melanjutkan hidup sebagai istri rumah tangga atau tetap gas terus jadi dokter? cari tau jawaban nya nanti setelah aku selesai uas matkul umum dan prodi ya huhu.