Querencia

Last Chapter : Happy Ending

Soonhoon slice of life fanfiction

Starring : Kwon Soonyoung; Lee Jihoon; etc

MATURE 17+

.

.

.


Tidak pernah ada kata gugup dalam kamus hidup Soonyoung. Selama 32 tahun hidup sebagai bagian keluarga Kwon, hidupnya selalu dipenuhi dengan rasa percaya diri yang memuncah dan itu sudah menjadi kharisma tersendiri untuknya. Kwon ini pernah nekat bertaruh dua persen saham perusahaan di pengalaman pertama nya dengan mesin kasino. Ia kalah telak, namun keadaan dengan cepat diputarbalikan ketika Kwon menyentuh pengalaman kedua. Berkat keberanian yang luar biasa dengan otak yang punya predikat cerdas, Kwon dengan percuma berhasil mendapatkan 50 juta won uang tunai beserta pengembalian saham. Kemudian ia berhenti datang sebab Jihoon menyuruhnya untuk demikian.

Kadang ada desas-desus berkeliaran di rumpun patembayan perusahaan yang mengatakan bahwa bos Kwon merupakan seorang dengan kepribadian ganda. Sebagian dari mereka percaya, sebab bukan jadi rahasia umum lagi bahwa perilaku bos Kwon memang selalu berubah, tergantung dengan siapa ia berbicara. Kwon dengan segala aura mengitimidasi akan perlahan membunuh lawan bicara jika lingkup pembicaraan membahas tentang perusahaan. Tetapi semua pertahanan gelap itu akan pudar, tergantikan dengan sinar matahari pagi yang super hangat dan menggemaskan, ketika bos Kwon sudah berhadapan dengan istri dan keluarga nya. Perubahan sifat yang signifikan ini tentu saja menimbulkan tanda tanya besar. Entah siapa yang memulai rumor, yang jelas hampir seluruh instansi terkait bertanya-tanya mengenai kefaktualan rumor itu. Kwon nya sendiri sih tetap hidup nyaman sentosa.

"Aku punya cerita yang lucu banget."

Jihoon berucap ketika ia merasakan kehadiran Soonyoung di sampingnya, sedang membuka kulkas untuk mengambil sekotak susu.

"Tell me, sayang." Soonyoung mengecup pipi Jihoon kemudian memilih mengimpir di kursi pantry, masih meneguk susu langsung dari karton nya.

Jihoon mengocok telur sembari merangkai kata di dalam otak sebelum ia mulai berbicara "Kemarin Seungkwan sengaja menyusup ke ruangan para perawat baru. Dia dengan sangat cerdiknya membaur seakan ia juga bagian dari perawat-perawat itu. Ia bercerita banyak, terlalu banyak sampai aku bingung mengapa para perawat itu handal sekali dalam memasang wajah batu. Mereka manis diluar tetapi sangat handal menghina didalam"

Jihoon terdiam sebentar

"Tapi apa kamu tahu? cerita perawat baru tentang dirimu lah yang paling lucu."

"Ah ya? Kutebak pasti mereka berdiskusi mengapa aku ini tampan sekali."

"Oh tentu saja tidak, itu tidak akan terdengar lucu, bodoh."

Soonyoung tersenyum seperti remaja sehabis mengalami masa pubertas, "Apa mereka membicarakan soal aku yang katanya punya kepribadian ganda?"

Jihoon langsung menoleh, "Eh, ko kamu tahu duluan sih?"

Wajah Jihoon mengindikasikan rasa tidak terima dan Soonyoung membalasnya dengan tawaan renyah seperti layaknya senyum palsu artis di depan kamera

"Itu rumor lama, Ji. Sudah lama tersebar, hanya saja memang baru masuk ke instansi kesehatan beberapa bulan lalu. Di kantor ku, rumor itu sudah menyebar sampai ke satpam front-line dari dua tahun lalu."

Jika kalian lupa, Soonyoung itu bukan hanya sekedar sosok pemberani saja. Bos itu juga punya titel tajir melintir dengan kepemilikan tujuh sekolah internasional, lima komplek apartemen, dua gedung pusat perbelanjaan, dan satu rumah sakit umum keluarga. Kwon Foundation lah pengendali itu semua-dan jika kalian ketinggalan berita, well sekarang bos Kwon sudah resmi menjadi ceo nya. Ayahnya sudah mundur tiga tahun lalu dan mewariskan seluruh harta nya pada bos Kwon notabene anak satu-satunya.

"Pertama kali mendengar Seungkwan bercerita, aku tertawa kencang sekali sampai tidak sadar membangunkan pasien yang ada di ruang sebelah."

Bahkan sampai sekarang pun Jihoon masih belum bisa menyembunyikan gelak tawa yang ditimbulkan dari rumor konyol itu. Telur dadar buatan nya sudah diletakan di depan Soonyoung namun belum ada tanda-tanda Jihoon akan segera berhenti dengan kegiatan tawa nya

"Dari sekian banyak rumor yang dibuat perawat-perawat itu, kenapa harus kamu dengan kepribadian ganda sih? Hiburan sekali."

gelak tawa Jihoon bagikan sebuah pandemi virus yang menyebar cepat—Soonyoung tidak bisa untuk tidak ikut tertawa. Sugesti yang diberikan gelak tawa itu sangat kuat hingga tanpa sadar sudah muncul peristiwa dimana seantero rumah dipenuhi dengan suara gelak tawa pasangan muda.

"Mama?"

Kedua laki-laki dewasa itu masih tenggelam dengan humor rendah hingga tanpa sadar suara sumbang mereka telah membangunkan sesosok anak kecil berambut coklat dengan piyama satin berjalan pelan dengan sebuah robot optimus prime di tangan

"Haneul-ah~!"

Soonyoung bisa saja mencumbu Jihoon saat itu juga jika saja suara Kwon Haneul tidak menginterupsi di pertengahan acara

"Anak mama kenapa sudah bangun hmm?" Intonasi suara Jihoon berubah 180 derajat seakan sedang terjadi rehearsal kiamat

Anak laki-laki itu melingkari pinggang Jihoon seperti koala yang baru saja dilepas liarkan setelah kebakaran Australia, "Suara tawa papa kencang sekali, aku bangun karena suara tawa papa."

Kwon Haneul, merupakan hasil biologis dari kegiatan reproduksi antara pasangan yang tidak perlu lagi disebutkan namanya. Lahir empat tahun lalu dengan prematur namun semakin kesini kondisinya semakin stabil hingga tanpa sadar ia mampu berbicara lebih lihai dari anak seumuran nya

Kalian ingat kegiatan menginap Soonyoung dan Jihoon di rumah Mingyu? Disanalah Haneul dibuat. Seminggu setelah mereka pulang dan terselesaikan nya bunker rumah, Jihoon membuat seantero rumah panik sebab ia mengalami muntah-muntah cairan jernih yang ternyata mengindikasi kehamilan. Soonyoung tidak sadarkan diri mendengar berita itu dan Mingyu Wonwoo menyusul menikah setelahnya.

"Tanggung jawab, kamu sudah membangunkan dia."

"Loh? Kamu tahu kan siapa yang sudah buat aku jadi tertawa?"

"Aku tertawa untuk diriku sendiri, kwon. Tidak pernah aku mengajakmu untuk ikut tertawa."

Jihoon memang bukan orangtua yang sempurna tetapi ia berani bersumpah pada bumi dan langit bahwa ia sangat menyayangi Haneul. Sebelum Haneul lahir di dunia, prioritas Jihoon sebagai manusia hanya (1) Pekerjaan dan (2) Soonyoung. Semua itu baru akhirnya berubah, menjadi turning point yang luar biasa indah sebab prioritas utama nya sekarang menjadi Haneul, Haneul, dan Haneul. Pekerjaan berpindah di posisi empat dan Soonyoung entah pada posisi berapa, Jihoon terlalu malas untuk memutuskan.

"Papa tidak bekerja hari ini?"

"Hari ini hari minggu, sayang. Setiap hari minggu, papa tidak akan kerja."

Entah seberapa beruntung seorang Kwon Haneul mempunyai orang tua seperti Soonyoung dan Jihoon. Hubungan timbal-balik simbiosis mutualisme terjalin erat di keluarga ini. Haneul tumbuh menjadi anak yang bahkan sudah mengerti percakapan bahasa inggris ringan di usia empat tahun. Tidak perlu heran, latar belakang orang tua nya sebagai orang dengan pekerjaan terpandang sungguh berpengaruh besar. Jihoon sebagai sosok mama adalah kunci utama. Lelaki mungil itu sungguh luar biasa, ia dapat menjadikan dirinya sebagai sosok ibu dan guru bagi Haneul di rumah.

"Haneul, kamu tidak boleh mulai makan sebelum yang lebih tua mempersilahkan."

"Kalau ayah baru pulang bekerja, jangan langsung merajuk ya? Ayah lelah, ayah harus istirahat dulu sebelum menuruti perkataan Haneul."

"Hari ini nenek akan berkunjung ke rumah. Nanti kalau nenek sudah sampai, Haneul jangan lupa untuk menyapa dan memeluk nenek ya?"

Jihoon menyiapkan dirinya dengan peralatan dapur berupa celemek yang kembali dipasangkan dan spatula hitam yang baru selesai dicuci "Hari ini Haneul mau makan apa?"

"Haneul mau makan makanan yang papa makan, ma."

"eung? kenapa?"

"Tadi papa yang bilang, katanya biar enggak bikin mama repot."

Kepolosan anak itu wajar. Itu merupakan hal positif yang seharusnya dipreasiasi orang tua. Namun terkadang, sesuatu hal yang positif bisa saja menjadi titik balik yang justru memberikan balasan merugikan. Dan Soonyoung sedang merasakannya sekarang. Punya anak cepu banget, raung pria itu tidak terus terang.

"Yasudah, Haneul mama buatkan nugget ya?"

Haneul hanya mengangguk layaknya anak yang masih mengantuk. Ah tidak, ia memang masih mengantuk. Bukan rencana nya untuk bangun sepagi ini. Tentu saja ia masih butuh waktu tidur lebih lama dan Soonyoung cukup peka karena membiarkan anak itu tidur di dalam gendongan nya.

"Dia tidur lagi, Ji."

"Bawa dia ke kamar, dan jangan tertawa lagi."

Soonyoung terkadang heran, mengapa ia hidup dalam fenomena sosial aneh yang disebut 'suami takut istri'. Well, technically, Jihoon memang bukan perempuan, tapi kita tidak boleh lupa bahwa mahluk kecil itu tetap mengandung anak. Semenjak Haneul hadir, Soonyoung semakin saja terpojokan posisi. Bukan dalam hal negatif, ini semua lebih seperti eksistensi nya di hidup Jihoon yang sudah tidak 'seintim' dulu. Soonyoung masih hidup damai akan itu tetapi tentu saja rasa iri dan cemburu kerap hadir entah mengapa.

"Jihoon, aku mau berduaan sama kamu."

"Sekarang kan sudah berduaan."

"Maksudku, aku mau pergi kencan denganmu. Berdua, tanpa Haneul dan tidak hanya di rumah."

Menjaga keromantisan rumah tangga juga perlu. Tidak mungkin mereka hidup hanya demi buah hati tanpa ada alasan fundamental berupa cinta. Jihoon sangat paham akan hal itu.

Jihoon kemudian merapatkan posisi tidurnya pada Soonyoung yang sedang tidak menggunakan apa-apa dibagian atas tubuhnya, "Ke Islandia lagi, atau mau coba ke Alaska?" Jihoon berbagi layar ponsel nya yang berisi hasil pencarian lokasi wisata yang baru disebutkan.

Soonyoung tidak bisa lebih senang untuk hari ini. Jihoon memang yang terbaik, dokter anak itu tahu situasi dan Ia bersedia jadi pihak pertama yang memberikan solusi

Soonyoung mengendus lembut permukaan kulit pundak Jihoon, "Keduanya terlalu jauh sayang, Haneul mungkin akan protes kalau ditinggal selama itu." Kemudian dengan penuh rasa nyaman, Ia meraba perut rata Jihoon yang memang sudah tidak seindah dulu sebab Haneul "merusak" nya.

"Bagaimana kalau kita ke Jepang?"

"Tidak kah kamu bosan?"

"Memang bosan jika hanya mengunjungi Tokyo atau Osaka. Tapi, kita belum pernah pergi ke tempat lain yang lebih rural, kan? Takayama mungkin?"

Takayama. Jihoon ingat tempat itu. Disanalah Soonyoung lahir. Hanya menumpang tempat untuk lahir karena saat itu Ibu Soonyoung memang sedang berwisata ketika melahirkan. Soonyoung keluar lebih awal dari prediksi dokter sehingga mau tidak mau, Ibu Soonyoung harus melahirkan di desa itu. Tidak ada sanak saudara maupun rekan kerja, sehingga memang tidak pernah ada alasan untuk Soonyoung berkunjung kesana.

"Baiklah, kita pergi minggu depan." Jihoon mengetikan nama mereka berdua di form aplikasi pemesanan tiket pesawat. Jangan berharap mereka menaiki kursi First-Class, sebab Jihoon bukan penikmat itu dan ia sudah cukup puas hanya dengan kursi business. Jihoon memang tidak akan pernah terbiasa dengan hidup mewah, dan pujilah tuhan sebab Soonyoung memahami itu.

"Kemana sebaiknya kita menitipkan Haneul?"

Jihoon melamun sebentar, "Kita tidak bisa menitipkan nya di rumah orang tuaku sebab sekarang sedang masa panen jadi mereka pasti sibuk."

Jihoon tidak menyebutkan opsi orang tua Soonyoung bukan tanpa alasan. Kedua orang tua Soonyoung itu memang memilih untuk menghabiskan masa tua mereka dengan meninggalkan korea dan hidup bersahaja di kaki perbuktian Selandia Baru. Mereka rajin berkunjung setiap tiga bulan sekali.

"Kalau begitu, aku akan hubungi Wonwoo. Seharusnya Ia senang karena Minwoo akan punya teman sepermainan."

Ah, Kim Minwoo merupakan anak dari pasangan Dokter Jeon Wonwoo dan Direktur Perusahaan Kim Mingyu. Lahir tiga tahun lalu, menyusul euforia keluarga Soonyoung yang sempat membuat iri keluarga itu.

"Apa kamu tidak merasakan dingin?"

Jihoon tidak tertarik dengan pertanyaan Soonyoung, "tidak."

"Tapi aku kedinginan, sayang."

Jihoon merupakan mantan mahasiswa berprestasi yang berhasil menyelesaikan studi kedokteran hanya dalam tiga tahun dengan gelar sempurna. Ia berhasil menjadi dokter anak bahkan sebelum ia menyelesaikan studi medis berkelanjutan dan berhasil meraih penghormatan sebagai dokter termuda di bidang nya. Jihoon cerdas, Ia tidak akan mungkin mudah terlena dengan probabilitas tidak masuk akal yang hanya mengutamakan hasil. Omongan Soonyoung barusan adalah contohnya.

"Aku tau apa yang kamu inginkan dan aku dengan sudi menolak, Soon."

"Oh ayolah, Haneul masih tidur."

"Terus kenapa dengan Haneul yang masih tidur?"

"Kita tidak akan tertangkap basah, kau tahu."

Jihoon menyelos, "Sudah kubilang aku tidak mau."

Bukan tanpa alasan mengapa keluarga Soonyoung sukses meraih pamor sebagai salah satu keluarga terkaya di Korea. Keluarga mereka sudah hidup diatas gemerlap perusahaan konglomerat bahkan jauh sebelum terjadi perang saudara. Apa yang membuat keluarga itu bertahan? Tentu saja bukan hanya masalah akal dan pikiran. Ilmu bukan segalanya, namun insting dan keberanian adalah utama. Untuk apa seorang manusia mempunyai akal normal dan menguasai ilmu berbagai bidang jika berbicara dengan sesama manusia saja ia masih bergetar? Mungkin penyataan spekulatif yang disebar para pegawai perusahaan itu benar. Soonyoung memang nyaman hidup pada situasi takut dengan istri, tetapi bukan berarti ia tidak punya kemampuan untuk membalikan situasi, kan?

"Sudah, kamu nikmati saja ya?"

Soonyoung suka dengan hidupnya yang seperti ini. Hidup dengan dominasi Jihoon yang mengatur semuanya, termasuk kapan waktu terbaik ia harus mencukur rambut. Soonyoung sangat menyukai nya, apalagi ketika momentum untuk melakukan "pembalasan" tiba. Seperti sekarang ini. Alur bercinta mereka selalu sama : Soonyoung menguasai, dan Jihoon dengan senang hati mengikuti.

"Soonyoung—jangan terlalu cepat."

"Sebut namaku dengan benar, sayang."

Jihoon kelimpungan seperti baru disuntikan kokain, "Soonyoung, aku mau datang—"

"Tahan, sayang. aku—ah sebentar lagi.."

Mereka tidak bisa menghitung sudah berapa kali mereka melakukan kegiatan semacam ini. Ini semua dimulai sejak sma, sudah lebih dari sepuluh tahun sejak pengalaman pertama. Seperti sekarang, ketika Soonyoung terus menggerakan tubuh bagian selatan nya diatas Jihoon, sensasi nikmat dan gairah ini selalu datang namun tidak pernah membuatnya bosan.

Soonyoung bergerak dengan ciuman lembut yang ia berikan pada bibir Jihoon, kemudian berpindah pada puting dada nya dan diakhiri dengan kecupan lembut di sekitar telinga. Kemudian surga dunia tibaketika pelepasan mereka datang di waktu bersamaan.

"Sial, aku harus pergi mandi lagi."

"Ide bagus, ayo mandi bersama."

Sebuah lemparan bantal yang telak mengenai wajah Soonyoung menjadi jawaban. Jihoon menyukai proses nya namun tidak pernah sekalipun menyukai dampak setelahnya. Kecuali kehamilan, ia tidak pernah punya ketertarikan lain.

"Kamu masuk ke kamar mandi, kita cerai."

Setelah menerima penolakan, Soonyoung tertarik untuk melihat jam. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas pagi dan seharusnya Haneul sudah terbangun dari tidur. Lelaki itu menjadi tidak sabar. Ia mengenakan kembali pakaian nya dan berjalan menuju kamar Haneul.

"Papa, aku disini~"

Soonyoung baru saja menutup pintu kamarnya ketika suara anak kecil menarik atensi nya untuk menoleh kebelakang. Menemukan Haneul terduduk di samping pintu dengan dua robot autobot yang salah satu tangan nya hilang sebelah.

"Haneul, sudah berapa lama kamu duduk disana?"

Haneul tersenyum seakan matahari baru saja terbit disana, "Sejak papa dan mama masuk kamar. Aku mendengar banyak suara, papa sedang bermain robot sama mama kan?"

.

.

Soonyoung tidak bisa mengatakan sepatah kata, sekarang yang ada dipikiran nya hanya prediksi "dengan cara apa Jihoon akan membunuhku?"

.

.

.

Done


Halo teman2 makasih ya udah mau baca cerita aneh ini. aku tau cerita ini kurang feel, gak nyambung sama judul, dan sama sekali gak lucu.. tapi semoga aja cerita ini bisa menghibur kalian terutama di situasi yang lagi semrawut karena pandemi ini. Terimakasih atas review, following, dan likes yang sudah diberikan. maaf gabisa bales review kalian. Maaf juga kalau ceritanya update lama, maklum aku nulis kalo lagi senggang atau mood aja. Chapter yang ini udah kubuat lebih panjang dengan bahasa yang lebih formal. Semoga kalian suka dan remember, stay at home~ aku janji bakal comeback dengan cerita yang jauh lebih bermutu lagi^^

.

.

.

.

.

"Makasih ya udah mau ngepoin cerita cinta saya dengan si mungil."-Soonyoung

"Maaf teman-teman yang barusan ngomong itu setan, gausah dipikirin."-Jihoon

"Tenang aja, Kita juga udah hidup bahagia ko:')"-Mingyu, Wonwoo