You and Me in One Story
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story by : PhiruFi
Rate : T
Pairing : ( Ino. Y x Naruto. U ) Itachi. U ( di chapter ini Naruto hanya muncul `` sedikit. Gomen ne. Itachi akan mendominasi )
WARNING : OOC ( Maybe :3 ) , mainstream (?) , membosankan, Bahasa diksi EYD ( masih harus belajar XD )
Selamat membaca, kuharap kalian suka
Summary :
Yamanaka Ino, gadis remaja yang biasanya ceria, hiperaktif dan selalu cerewet ini tiba-tiba terdiam dan berubah dari sifat biasanya itu. Bukan tanpa sebab ia seperti itu, semua ini karna masalahnya. Masalah yang menurutnya begitu berat. Bisakah ia melewati semuanya? Dengan perjalanan kehidupan ke dunia luar yang asing baginya? Kehidupan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Akankah ia menemukan takdir benang merahnya?
Kyoto, 11 p.m
Gadis seumuran dengan Ino tampak mondar-mandir di depan seorang laki-laki yang mendudukkan dirinya di sofa, tak lain adalah sahabatnya sendiri, Uzumaki Naruto.
" Naruto! Jangan diam saja. Ayo cepat ke Tokyo sekarang juga! " perintah Gadis merah jambu itu kepada Naruto.
Mengacak pelan rambut pirangnya, Naruto menanggapi perkataan Sakura, " Aku tau, Sakura. Aku juga mengkhawatirkannya. Tapi tidakkah kau lihat jam berapa ini? Besok pagi kita akan berangkat. Kemasi barangmu. "
Mendengar ucapan Naruto, Sakura sedikit lega. " Ada yang tidak beres dengan Ino. Baikah aku akan berkemas. Oh ya, sebaiknya kau menginap disini saja, Naruto. Kau bisa pakai pakaian Ayah. Aku akan siapkan untukmu. "
Tokyo Hospital Center, 1 a.m
Hening dan sepi. Itu yang tejadi sekarang. Tidak ada yang memulai pembicaraan antara dua orang pria berbeda usia dan seorang wanita. Ketiganya larut dalam suasana ketegangan. Pria paruh baya yang semulanya terduduk di salah satu bangku tunggu, akhirnya berdiri dan memulai pembicaraan, " Mabuk dan menabrak seorang gadis, apa itu yang kau pelajari selama ini, Uchiha Itachi? "
Pria yang menjadi lawan bicara hanya diam. Menghadap sang Ayah namun tak berani menatap kedua mata yang sama hitam dengan miliknya.
PLAK
Bunyi tamparan keras di pipi kiri Itachi menggema.
" Anak yang selama ini ku banggakan, membuatku kecewa! " bentak Fugaku sebelum ia melangkah meninggalkan Itachi dan seorang wanita yang tadi datang bersamanya. Menjauh. Tujuannya hanya satu, mencari tempat lain untuk meredam kemarahan terhadap Sulung Uchiha. Akan jadi rebot jika ia semakin marah dan melayangkan tambaran lagi, atau mungkin pukulan.
Itachi hanya terdiam dengan kedua tangan yang mengepal. Ia akui, ia memang salah. Mabuk dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi bukan solusi dalam memecahkan masalah. Namun,keberuntungan masih berpihak padanya. Hanya luka sobek di dahi dan lebam sedikit diarea wajah yang ia dapat. Tidak seperti gadis yang menjadi korbannya. Terbaring lemah dengan banyak luka diwajah dan patah tulang di kaki kiri. Memang sedikit lega, Tuhan masih membiarkann ia bertanggungjawab atas kesalahannya dengan membiarkan gadis itu masih bernafas.
Melihat Itachi hanya diam, mebuat wanita yang tak ayal adalah Ibu si Sulung Uchiha mulai bersuara, " Itachi-kun..."
" Iya, Kaa-san." Respon Itachi menanggapi panggilan Ibunya. Ia melihat Ibunya mendekat, berdiri di hadapannya dan meletakkan tangan kanan di pipi bekas tamparan.
" Semua akan baik-baik saja. Berminat untuk bercerita, Itachi-kun? " Mikoto menatap lekat mata Itachi dan menariknya untuk duduk di kursi. Sebelumnya Itachi enggan bercerita. Tapi, melihat raut kekhawatiran dari Ibu yang sangat ia sayangi, membuat hatinya melunak. Keduanya saling bertukar cerita walaupun disini, Ibunyalah yang mendominasi. Itachi hanya berbicara kalau dibutuhkan, sesuai sifat seorang Uchiha, dingin dan hemat kata.
Ino P.O.V
Apa ini? Dimana aku sekarang? Kenapa semuanya putih dan –kosong. Kuedarkan pandangan ke segala penjuru arah, namun nihil. Yang kulihat sekarang hanyalah warna putih. Tunggu sebentar. Kugosok kedua mataku saat aku melihat sesosok yang sangat aku rindukan, Ibu. Ibu hanya diam menatapku dengan senyum tulusnya. Tuhan, apa ini mimpi? Atau jangan-jangan aku sudah, -mati. Ku beranikan kakiku untuk melangkah mendekat, namun sesuatu menghalangiku. Sekelebat bayangan Ayah melintas dibenakku. Yah, detik sebelumnya, aku berfikir ikut dengan Ibu lebih baik karna aku sangat merindukannya. Merindukan pelukan dan belaian tangan disurai pirangku. Tapi, aku baru ingat ada Ayah yang menungguku sekarang. Ayah membutuhkanku.
Normal P.O.V
Sorot cahaya sang surya menembus melalui celah tirai yang sedikit terbuka. Cahayanya tidak begitu menyilaukan dan tidak terdengar kicauan burung seperti biasanya. Daun-daun yang semula hijau, berubah menjadi orange –kecoklatan. Pertanda musim gugur telah tiba.
Ino masih terbaring lemah dengan alat medis yang masih menempel ditubuhnya. Iris aquamarine yang sebelumnya bersembunyi dibalik kelopak matannya, kini mulai terbuka. Pertama kali yang Ino lihat adalah atap putih. Tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Ia arahkan pandangan kesisi kanannya. Kaget saat ia melihat seorang pria tertidur dengan posisi duduk dan meletakkan kepalanya disisi ranjang yang kosong. Tidak hanya itu, tangannya digenggam oleh pria itu. Oh hell. Kepalanya pusing sekarang. Setelah mimpi aneh bertemu dengan Ibunya, tempat asing yang berbau obat dan sekarang kehadiran seorang pria yang tidak ia kenal cukup membuat otaknya bekerja keras. Mengingat semua kejadian yang terjadi sebelumnya. Dan ia menyerah sekarang. Mungkin membangunkan pria ini adalah tindakan yang tepat. Lebih baik bertanya dibanding harus berpusing ria bukan?
" T-Tuan... " ucap pelan Ino. Lidahnya kelu dan sulit berucap meskipun hanya dua sampai tiga kata. Tidak ada respon dari pria yang ia panggil membuatnya berinisiatif. Mengangkat tangan kiri yang terbebas untuk ia arahkan ke rambut pria disampingnya. Namun, sebelum tangan pucatnya sampai ke tujuan awal, tangan pria itu sudah duluan mencengkramnya.
" Aduh duh. S-Sakit." Rintih Ino. Dengan tenaga ia menarik tangannya agar terlepas namun sia-sia. Tangan besar milik pria masih setia mencengkram kuat pergelangan tangan Ino.
" Jika kau sudah sadar, segera menjauh dan jangan ganggu hidupku! " Itachi menegakkan kepalanya dan menatap lekat iris Aquamarine milik Ino. Bukan bentakan memang, tapi nada dingin dan ketus membuat Ino kehilangan nyali untuk bersuara. Biasanya Ino akan membentak orang yang dengan semena-mena berkata kurang sopan dan sangat menusuk hati. Tapi kini berbeda, pria yang ia hadapi sangat menyeramkan.
" Berapa uang yang kau butuhkan? " tanya Itachi kemudian ia melepaskan cengkraman pada tangan Ino. Segera Ino menarik tangan kirinya dan mengusapnya perlahan dengan tangan kanan yang sudah terlepas dari genggaman Itachi, entah sejak kapan. Ia tidak sadar akan hal itu.
Ino hanya terdiam, masih shock dengan apa yang terjadi. Pria disampingnya itu, bukannya membantu menjelaskan malah membuatnya semakin bingung. Ia hanya butuh kejelasan itu saja. Semua akan jelas dan dengan itu Ia tidak akan mengganggu dan segera pergi seperti apa yang diinginkan pria –aneh. Atmosfer ketegangan menyelubungi keduanya. Namun pecah begitu saja karna sebuah ketukan dan terlihat wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan membawa kerajang penuh buah-buahan segar.
" Itachi-kun, kenapa tidak memberitau Kaa-san? Sudah bangun rupanya. " mikoto melangkah semakin mendekat dan berdiri di sisi sebelah kiri, bersebrangan dengan Itachi.
" Aku ada rapat. " ucap Itachi sebelum pergi keluar ruangan.
' Oh God, tidak sopan sekali. Hai Tuan yang sedang mengajak bicara ini adalah Ibumu, kan? ' batin Ino kesal dengan sikap Itachi yang tiba-tiba keluar begitu saja setelah berucap dengan nada yang menurutnya sangat tidak wajar jika digunakan untuk membalas pertanyaan dari orang yang lebih tua, apalagi ini seorang Ibu.
" Apa kau mau buah? Biar Kaa-san kupaskan. " Mikoto menarik kursi yang tidak jauh dari jangkauannya dan mendudukkan dirinya. Gelengan kepala mewakilkan penolakan akan tawaran yang Mikoto berikan.
" Maaf atas kelakuan Putraku. Sebenarnya dia tidak seperti itu. " ucap Mikoto, tangannya yang semula memegang keranjang buah kini berubah menggenggam tanganku.
" Tidak apa. Tapi, saya butuh penjelasan. Sebenarnya apa yang terjadi? " tanya Ino penasaran.
Mikoto menatap wajah Ino dan menjelaskan semuanya. Dan sekarang Ino tau apa yang terjadi. Ia ditabrak karna putranya yang sedang mabuk dan koma selama 2 bulan, itu singkatnya. Terlebih yang aneh, wanita paruh baya yang masih terlihat seperti remaja ini menceritakan profil pria tadi, Putranya Uchiha Itachi.
Pria itu berumur 30 tahun seorang penerus Uchiha Corp. Dan blablabla. Sempat terbesit firasat buruk di otak Ino, tapi ia buang jauh-jauh semua itu.
Mikoto menatap Ino, ia perlihatkan senyum tipis dan semakin mengeratkan genggaman. " Itachi-kun baru saja bercerai. Dan kau tau, Ino. Sejak saat itu Itachi menjadi pria yang kaku dan berubah menjadi sedikit kasar. Tolong ubah dia, Ino. Menikahah dengan Putraku. "
Oh Hell! Bagai tersambar petir disiang bolong. Firasat buruk memang benar terjadi sekarang. Bukan itu kalimat yang ingin ia dengar. Cukup dengan tujuan awal ia ke Tokyo. Membantu Ayahnya bukan untuk menikah dan mengorbankan dirinya begitu saja.
" Kaa-san yakin, kau adalah gadis yang baik. Maka dari itu Kaa-san percaya padamu untuk merawat Putra dan cucuku. " Mikoto tidak lagi menatapnya, ia alihkan pandangannya melihat ke tangannya yang masih setia menggenggam erat tangan Ino.
' Kami-sama, apa-apaan ini? Takdirku benar-benar tidak bisa kuduga sendiri. Seorang wanita datang kepadaku dan memintaku untuk menikahi seorang pria menyeramkan? Sadarkan aku jika ini mimpi." Batin Ino diselingi dengan helaan nafas.
Setelah sekian lama terdiam, Ino memberanikan diri untuk berucap," Maaf jika saya tidak sopan. Tapi saya rasa, ini tidak akan bisa terjadi. Tujuan awal saya kesini adalah untuk mencari pekerjaan, untuk Ayah. Dan - " belum sempat Ino melanjutkan, ucapannya terputus oleh Mikoto.
" Tidak perlu bekerja, Ayahmu biar kami yang menyelesaikan. Segala urusan keuangan dan lainnya, akan kami urus. Ku mohon, Ino-chan." Pinta Mikoto kini tatapannya kembali terarah ke wajah Ino.
Yah, Ino salah. Keputusan untuk menjelaskan tujuan awalnya hanya menjadi bumerang. Alasan apa lagi yang harus ia berikan? Ia teringat dengan Ayahnya lagi. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa semua baik-baik saja? Dan lagi, ia teringat ucapan Dokter yang menangani Ayahnya itu.
' Tuan Inoichi harus segera di operasi jika tidak, maka dugaan terburuk akan terjadi. Tuan Inoichi tidak dapat di selamatkan.'
Kata-kata itu terngiang dibenaknya. Terus dan terus. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menerima lamaran karna uang yang diiming-imingi kepadanya? Tentu itu bukan hal yang diajarkan kedua orang tuanya. Pernikahan bukan sesuatu yang pantas untuk dipermainkan, bukan?
Tokyo, ditempat lain
Seorang pemuda berjalan di trotoar jalan raya. Perlahan sambil mengedarkan pandangan ke segala arah. Berharap keberuntungan memihak kepadanya. Menemukan seorang gadis yang menjadi alasan ia sekarang berada di Tokyo.
" Ino... " Ucap pelan pemuda dengan Iris Shappire itu.
" Apa kau akan membiarkanku berputar-putar mengelilingi kota sebesar ini seorang diri? Hei ini bukan petak umpet, Ino-chan." Gumamnya.
to be continue
Give review and like for me, arigatou~
Kali ini Phi-chan akan tetapkan pairing, biar ga mengecewakan kalian Minna~ maaf jika kurang memuaskan...
Review kalian akan jadi motivasi buat Phi-chan.
Arigatou
