You and Me in One Story

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story by : PhiruFi

Rate : T

Pairing : Ino. Y x Itachi. U

WARNING : OOC ( Maybe :3 ) , mainstream (?) , membosankan, Bahasa diksi EYD ( masih harus belajar XD )

Selamat membaca, kuharap kalian suka

ooooo

Sehari setelah kejadian mengejutkan itu, tepatnya setelah Nyonya besar Uchiha melontarkan permohonannya agar Ino menikah dengan putranya. Ino tidak bisa berfikir jernih. Sering mengacak-acak rambut, menghela nafas panjang, menggeleng-gelengkan kepala dan sesekali menggigit selimut dan bantal Rumah Sakit. Tampak seperti pasien rumah sakit jiwa dibanding korban kecelakaan. Sedikit berlebihan aku rasa. Baiklah memang berlebihan.

Ino memposisikan tubuhnya, duduk diranjang pasien dengan kaki mengggantung. Kondisinya sudah lumayan pulih, meski untuk berjalan ia sedikit terpincang dan ingat dengan luka di pipi kirinya, membekas diparas ayunya. Tapi hal itu bukan masalah yang serius. Bisa dikatakan ia layak meninggalkan rumah sakit.

"Ah, cukup. Aku tidak tahan. Ini sangat menyedihkan dan sangat buruk. Ayah aku merindukanmu. Aku-"Belum sempat Ino menyelesaikan perkataannya tiba-tiba terputus dengan suara lain. Suara baritone milik sulung Uchiha.

"Berhenti mengeluh dan ganti bajumu. Kau akan keluar dari Rumah Sakit sekarang!" Perintah Itachi yang sedang berdiir diambang pintu.

"I-Iya," Respon singkat Ino atas keterkejutannya dengan suara Itachi.

'Sejak kapan dia masuk? Bahkan aku tidak mendengar pintu dibuka,' Batin Ino kesal sambil melihat kearah pintu yang sudah tertutup. Ya, Itachi sudah pergi setelah mendengar respon Ino. Segera Ino turun dan bersiap sebelum pria menyebalkan itu menyeretnya keluar karena telah membuatnya menunggu lama.

ooooo

Berada di mobil yang sama dengan orang seperti Itachi Uchiha ternyata cukup membosankan. Hanya diam sambil menatap keluar jendela, melihat mobil-mobil melaju dan sesekali berhenti karena lampu merah. Jika kalian bertanya kenapa tidak mencoba memulai pembicaraan saja, tentu sudah Ino coba. Tapi apa respon yang diberikan sulung Uchiha di sampingnya itu? Tentu saja kalau tidak 'Hm?' 'Hn' dan lebih parahnya lagi, Itachi sering mengacuhkan pertanyaan yang diberikan Ino.

Terpaksa Ino harus meikmati pemandangan ramai lalu lintas yang terkadang membuat kepalanya pusing. Meski pandangannya tertuju keluar jendela tapi tidak dengan pikirannya. Ino merindukan Kyoto, Ayah, Sakura dan Naruto. Eh, Naruto? Sejak kapan Ia jadi kepikiran Naruto? Lupakan soal itu.

"Ne, Uchiha-san," panggil Ino saat setelah mobil Itachi berhenti karna lampu merah. Ia menoleh kearah Itachi yang masih terfokus dengan acara menyetirnya.

"Boleh aku pinjam ponsel anda? Aku ingin menghubungi temanku di Kyoto," Lanjut Ino sedikit ragu. Takut ditolak? Tentu saja!

1 detik

2 detik

3 detik-

10 detik

Tidak ada jawaban dari Itachi. Bahkan sampai mobil Maybach Exelero kembali melaju setelah lampu hijau menyala. Setelah kejadian singkat itu, membuat urung niatan Ino untuk mencairkan suasana canggung antara keduanya. Mungkin melihat kearah depan menjadi pilihan yang lebih baik dibanding menelan rasa sakit karna diacuhkan pria tampan disampingnya itu.

"Eh?" Ino terkejut dengan benda persegi panjang yang menghalangi padangannya. Ponsel berwarna hitam milik siapa lagi kalau bukan milik Itachi.

"Cepat atau aku ambil lagi," Ucap Itachi menyadarkan kinerja lambat otak Ino dalam merespon keterkejutannya.

"Ah, Iya maaf," segera gadis pirang itu meraih ponsel Itachi dan mulai menekan nomor sahabatnya.

Tidak butuh lama untuk tersambung dengan nomor tujuannya.

"Moshi-moshi, Itachi-nii," Terdengar suara seorang gadis, cukup ragu dan pelan namun masih terdengar oleh Ino.

"Dekorin, ini aku!" Pekik Ino kegirangan. Sudah 2 bulan lebih ia tidak mendengar suara Sakura sejak kejadian pencurian dan kecelakaan yang menimpanya. Jujur, ia merindukannya. Sangat merindukan sahabat pink-nya itu.

"Pig! Itu kah kau? Atau aku hanya berhalusinasi?"

"Tentu saja ini aku, siapa lagi orang di dunia ini yang memiliki suara seindah milikku,"

Oh, Hell!. Ino lupa dimana ia sekarang. Bukankah tindakan narsis-nya ini terlalu memuakkan? Ino tidak berani menoleh kearah pria disampinya itu, sudah cukup sakit ia diacuhkan. Dan tidak lagi untuk melihat respon sulung Uchiha menanggapi ucapan bodoh dari bibirnya itu. Seulas senyum tipis, sangat tipis terukir di wajah tampan Itachi. Tentu saja Ino tidak melihat itu.

"Baiklah lupakan soal suara menjijikanmu itu. Sekarang katakan dimana kau? Dan kenapa dengan nomor lamamu? Kami menkhawatirkanmu, baka Ino-pig! Sudah lebih 2 bulan tidak ada kabar. Kau pikir ini lucu hah?!" Omel Sakura tanpa jeda dan tanpa tarikan nafas.

"Sesuatu terjadi dan aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon. Ini aku meminjam, Dekorin! Dan aku janji akan pulang akhir bulan ini dan menceritakan semuanya. Aku hanya ingin memberitaumu, aku baik-baik saja disini. Sampai jumpa, Dekorin. Aku menyayangimu. Sampaikan rinduku juga pada Ayah, Hana-nee dan Naruto, ya. Jaa na~" belum sempat lawan bicaranya menjawab, Ino sudah memutus sambungan panggilan dan tidak membiarkan Sakura mengomel lebih panjang lagi.

Masih dengan pandangan kearah depan dan kedua tangan yang menggenggam ponsel milik Itachi, Ino tidak berani berucap dan hanya diam sampai—

"Sudah?" tanya Itachi sambil melirik kearah Ino yang hanya diam.

"Ah, Iya. Maaf lama. Dan terimakasih," Jawab Ino kemudian ia segera menyerahkan ponsel dan disambut dengan uluran tangan Itachi.

"Tidak gratis, sekarang keluar dan jemput putraku," perintah Itachi dengan jari telunjuk yang mengarah pada seorang anak lelaki yang duduk sendirian di dekat pos satpam. Umurnya mungkin sekitar 7 tahun.

Tunggu? Sejak kapan mobil Itachi berhenti didepan sekolah dasar? Atau jangan-jangan sudah sedari tadi, dan ia tidak sadar? Mungkin karena terlalu asik bertelepon dengan sahabatnya. Lagi-lagi Ino tersadar bukan karena ucapan tapi karena kibasan tangan Itachi didepan wajahnya.

"M-Maaf, aku akan segera kembali," Cepat-cepat, Ino melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil. Menghampiri bocah yang tak lain adalah putera dari Itachi Uchiha.

'Tidak gratis katanya? Dasar, pelit sekali. Dan lagi, kenapa juga aku langsung patuh pada perintahnya? Tidak lihat apa aku susah jalan?' Omel Ino dalam hatinya

Sedikit terpincang Ino melangkah mendekat kearah tujuannya. Terlihat dengan jelas, sesosok bocah mirip dengan Itachi. Replika Itachi versi anak umur 6 tahun. Rambut hitam berantakan, mata obsidian dan kulit putih. Benar-benar tampan. Bisa-bisa Ino dibuat jatuh cinta dengan bocah berumur 7 tahun. Sebuah tindak kejahatan, bukan? Mencintai anak dibawah umur. Tunggu, Ia bukan pedofil. Ingat itu.

"Hei, mobil jemputan sudah datang," Ucap Ino setelah berhenti di depan anak lelaki itu. Tentunya Ino sudah mensejajarkan tinggi badannya agar anak lelaki didepannya itu tidak perlu repot-repot mendongakkan kepalanya.

"Supir barunya Ayah, ya?" Tanggapan anak lelaki didepan Ino sambil menatapnya dengan ekspresi polos.

Parah! Anak ini kelewat polos atau bagaimana sih? Mana ada supir secantik Ino. Lagipula mungkin ini salah Ino. Seharusnya ia tidak berkata bahwa 'jemputan sudah datang' Mungkin akan lebih baik jika berkata 'Ayahmu sudah menjemput' mungkin dengan begitu, Ino bisa disangka kekasih Ayahnya. Atau Ibu baru? Tunggu? Apa barusan? Ibu baru? Kenapa berfikir seperti itu!

"Tentu saja bukan, maksudku. Ayahmu, Uchiha Itachi sudah menunggumu didalam mobil itu," Ino menunjuk kearah mobil dimana Itachi berada didalam.

"Oh."

'Oh? Kalau kau bukan putra pria menakutkan itu, sudah aku tarik pipimu itu!' inner Ino berteriak gemas dengan respon anak lelaki didepannya itu.

"Ayo! Oh ya, siapa namamu?" tanya Ino yang sudah berdiri dengan tangan terulur. Dan uluran tangannya berbuahkan hasil. Kini tangan mereka saling terkait.

"Hideo," jawab Hideo dengan pandangan lurus kedepan, kearah mobil Itachi berada.

"Keren," respon singkat Ino.

Hideo menoleh dan mendongak kearah Ino dengan ekspresi sulit dibaca. Dan berucap, "Ayah menjemputku?"

"Tentu saja, memangnya biasanya tidak begitu, ya?" Ino balik bertanya dan menatap Hideo yang lebih rendah dibandingnya.

"Hn,"

Gemas dengan respon Hideo, sepertinya benar-benar replika Itachi. Tidak hanya dari segi penampilan, kebiasaannya juga sama. Berkata seperlunya dan respon yang singkat. Tapi mungkin Uchiha kecil ini lebih hangat dan sopan dibanding Ayahnya. Atau karena Hideo masih kecil? Entahlah.

Sesampainya disamping mobil, Ino melepas genggaman tangannya dan membukakan pintu depan untuk Hideo. Tapi, Hideo tidak segera masuk dan malah membuka pintu belakang dan segera duduk meninggalkan Ino diluar yang mematung.

"Masuk!" Lagi-lagi suara itu menyadarkannya.

"Ah, I-Iya," Buru-buru Ino masuk dan memakai sabuk pengaman. Tak lama setelah itu, mobil segera melaju meninggalkan tempat pemberhentian semulanya tadi.

Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan ringan yang mencairkan suasana. Beginilah rasanya, berada semobil dengan makhluk dingin, Ayah dan anak sama saja. Sampai suara Hideo memecah keheningan, "Kebentur tembok, heh?"

"Hah?" Ino dibuat mengangga dengan pertanyaan yang terucap dari bibir Uchiha kecil itu. Tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Hideo yang terdengar sinis. Ino hanya dapat menoleh ke samping dan kebelakang. Kearah Itachi dan Hideo secara bergantian.

"Tidak suka?" Kini Itachi gantian bertanya.

'Apa-apaan ini? Bukannya bercerita tentang kejadian disekolah yang dapat mencairkan suasana, malah membuat semakin menegangkan saja,' batin Ino dongkol melihat sikap Ayah-Anak ini.

"Aneh, tidak jelas!" Nada bicara Hideo lebih tinggi kali ini. Sebelum sempat Itachi merespon, Ino sudah mendahuluinya, "Hei, hei pembicaraan apa ini? Bisakah kita ganti-" Ino berhenti meneruskan ucapannya saat Itachi melirik dengan tatapan tajam.

"Okay, aku diam. Lanjutkan saja," ucap pelan Ino dan memilih menatap keluar jendela.

Setelah kejadian itu, perjalanan semakin diliputi atmosfer ketegangan. Dan Ino tidak mau ambil pusing lagi. Toh tidak ada gunanya juga. Paling-paling ia akan dapat lirikan tajam lagi dari Itachi.

ooooo

Mobil mereka mulai memasuki pekarangan cukup luas. Mereka sudah sampai ditujuan akhir, Mansion Uchiha. Seperti istana, sangat mewah dan sangat besar. Coba tebak, berapa jumlah manusia yang menempati Mansion sebesar ini. 20? Mungkin cukup. Tapi entahlah berapa, Ino tidak tau.

Berhenti di depan pintu utama yang cukup besar, mereka bertiga turun. Baru beberapa langkah, keluar seseorang dari dalam sudah mengenalnya. Ibu Itachi, Uchiha Mikoto.

"Kalian sudah sampai, syukurlah. Hideo-kun!" pekik Mikoto dengan cepat ia melangkah mendekat kearah Hideo dan memeluknya. Sungguh pemandangan mengharukan mengingat Ino sudah tidak punya Ibu.

"Ayo masuk. Sudah sore, sebaiknya kalian mandi dan menunggu makan malam. Kau juga Hideo-kun, jangan main game dulu," lanjut Mikoto dengan seulas senyum di paras cantiknya dan segera melepas pelukan erat dengan cucunya itu.

Akhirnya mereka bertiga masuk, dengan Hideo yang terlebih dulu masuk dan menaiki tangga, kemudian Itachi dengan langkah santainya dan Ino berjalan beriringan dengan Mikoto.

Ino sedikit canggung mengingat ia belum menjawab pertanyaan atau lebih tepatnya permintaan dari wanita paruh baya disampingnya itu.

"Baiklah, kau masuk saja kekamar untuk istirahat, Ino-chan. Kaa-san akan siapkan makan malam. Kamarmu ada diatas, biar pelayan yang menunjukkannya," Ucap Mikoto.

"Tidak aku akan membantu, Bibi menyiapkan makan malam. Saya bisa diandalkan dalam urusan memasak," Ino tersenyum dan meyakinkan pada Mikoto, bahwa ia jago dalam memasak. Sempat terjadi penolakan namun pada akhirnya Ino yang menang. Mereka berdua memutuskan untuk pergi kedapur dan menyiapkan menu untuk makan malam.

Acara masak lebih menyenangkan walaupun sedikit pegal karena berdiri dan jalan kesana kemari mengambil bahan makanan, tapi ini lebih baik dibanding harus duduk semobil dengan atmosfer ketegangan antara 2 Uchiha seperti tadi. Setelah semuanya siap, Ino dibantu para pelayan menyajikan masakan ke meja yang cukup besar. Muat untuk 20 orang, keluarga besar rupanya.

"Ino-chan, tolong pastikan bahwa cucuku sudah mandi dan tidak menyentuh gamenya saat ini. Dan bilang, makan malam sudah akan dimulai," pinta Mikoto dan membuat Ino menghentikan kegiatan awalnya tadi.

"Biar ini, Kaa-san dan para pelayan yang bereskan. Sebentar lagi siap," lanjutnya.

"Baik."

Ino berdiri dipintu kamar dengan kertas yang bertuliskan 'Jangan masuk sembarangan' menempel disana. Tentunya Ino tau maksudnya dan ia mengetuk pintu setelah pelayan wanita bernama Yugao mengantarnya tadi pergi.

Tok... tok... tok...

"Masuk."

Perizinan sudah didapat dari pemilik kamar, segera Ino membuka pintu dan masuk kedalam. Terlihat kamar bernuansa putih dengan sedikit warna biru gelap. Cukup rapi bagi anak seumuran Hideo dan sangat luas melebihi kamar di Rumah sewaan miliknya.

Diluar bayangan Ino sebelumnya. Membayangkan Hideo masih dengan seragam sekolah yang tengah asik bermain game. Nihil. Pemandangan yang ia dapat adalah, Hideo sudah dengan setelan casual duduk di meja belajar, tumpukan buku dan kertas berantakan berada di atas meja. Apa ini memang hal biasa bagi seorang keturunan Uchiha?

"Belajarnya nanti lagi, ya. Makan malam sudah siap. Ayo turun," Ino mendekat dan berdiri disamping Hideo yang masih sibuk membaca buku-buku tebalnya.

"Apa kau kesini karena akan menikah dengan Ayahku?" Pertanyaan Hideo dengan nada tenang itu cukup membuat Ino menegang.

'P-Pertanyaan itu? Kenapa Hideo bisa tau soal ini?' batin Ino.

ooooo

Dua sosok berbeda jenis tengah duduk berhadapan di salah satu cafe di Tokyo. Sakura dan Naruto asik memandang coffe mereka masing-masing. Cukup puas berdiam diri, akhirnya Naruto memulai pembicaraan, "Jadi Ino baik-baik saja, ya. Syukurlah. Lalu apa yang membuatmu cemas, Sakura-chan?"

Setelah menerima telepon dari sahabat pirangnya itu, Sakura memutuskan untuk bertemu dengan Naruto dan memberitau soal Ino. Meski belum banyak yang ia ketahui, setidaknya akan membuat Naruto sedikit tenang. Lagipula, Naruto sangat dekat dengan Ino. Mereka bertiga bersahabat sangat baik.

"Tidakkah aneh, Naruto? Ino menelepon dengan nomor Uchiha Itachi?" tanya Sakura, kini pandangannya teralih. Menatap lawan bicaranya dengan tatapan khawatir.

"Bagus bukan? Daripada Ino menelepon dengan nomor penculik dan meminta tebusan." Jawab Naruto enteng, ia lega mendengar kabar sahabatnya baik-baik saja.

"Ayolah, Naruto-baka. Uchiha kau tau?"

"Jangan bilang kau curiga dengan Ino? Kau berfikir dia ada sesuatu dengan Teme? Uhm- maksudku Uchiha Sasuke? Tidak mungkin!"

"Siapa tau saja."

"Jika iya? Kau akan melabrak sahabat lamamu, begitu?"

"Harusnya aku bilang sebelumnya kalau Sasuke milikku," ucap Sakura dengan raut wajah kecewa dan sedikit kemarahan dan tekanan di bagian kata 'milikku'. Meski Ino sahabatnya, Ia tidak mau jika harus melepas Sasuke. Sakura hanyalah gadis biasa. Tentu akan marah jika pacarnya menjadi milik orang lain.

"Jika kau bersikap seperti ini, itu artinya kau cemburu dan merasa dirimu lebih buruk dibanding Ino, Sakura-chan," Naruto menatap Sakura dengan tajam, seringai tipis terlihat diwajahnya. Sebelum benar-benar marah, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan gadis pink yang terlihat bertarung dengan pikirannya sendiri.

To Be Continue

Gomen minna, bener-bener akhir chapter yang terlihat buruk bukan? Maafkan Phi-chan. Dan lebih panjang dari sebelumnya, aku rasa.

Maaf juga untuk lama Update buat yang menunggu Fanfic ini :3 aku harap ada ya. Maaf juga kemunculan Naruto-kun sangat singkat. Phi-chan bergulat dengan batin, antara Itachi atau Naruto mohon maaf mungkin Itachi akan lebih ditonjolkan, atau justru akan jadi tokoh utama. Naruto hanya pelengkap :3 jika Naruto jadi pelengkap, kalian maunya di pasangin dengan Sakura apa Chara baru?

Oh ya maaf yang buat review, Phi-chan baru balas disini. Gapapa kan?

beerahma terimakasih. Phi-chan akan berusaha keras agar tidak mengecewakan

ai chan 19 ah, Ai-san, Phi-chan ga tau nih. Naruto atau Itachi ya

itakun Phi-chan usahakan, ItaIno '-')/

Apocalypse201 siap kak, aku rasa Naruto di chapter selanjutnya akan jadi pelengkap saja. Tapi tunggu bagian Ino Naruto akan hadir kok.

Kimparkemiko iya kak, Phi-chan akan berusaha dan belajar lagi akan kesalahan berkurang. Terimakasih ya.

Piggypow oke kak

Lmlsn iya kak, terimakasih ya

AnneMarie28 uhm, maaf sebelumnya kalau NaruIno muncul sedikit ya. Bahkan baru muncul diawal :3 maaf kak mengecewakan.

quest iya kak, maaf – maaaf ya mengecewakan. Kali ini Phi-Chan akan menetapkan hati pada satu pilihan. Semoga saja.

Terimakasih sekali lagi buat minna yang bersedia membaca Fanfic pertama Phi-Chan. Janji bakal terus belajar dan berusaha agar tidak mengecewakan. Semoga kalian puas dan menunggu kelanjutannya ya.

Terimakasih...

Review kalian adalah semangat untuk terus menjadi lebih baik