You and Me in One Story

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story by : PhiruFi

Rate : T

Cast : Ino. Y, Itachi. U, Naruto. U, Sakura. H, Sasuke. U

WARNING : OOC ( Maybe :3 ) , mainstream (?) , membosankan, Bahasa diksi EYD ( masih harus belajar XD ) , typo

Selamat membaca, kuharap kalian suka

OOOOO

"Apa kau kesini karena akan menikah dengan Ayahku?"

Kalimat yang terucap dari bibir Hideo sukses membuat Ino bungkan cukup lama. Ino bingung harus menjawab apa. Toh, masalah ini belum lagi dibahas oleh anggota keluarga yang lainnya.

"Iya atau tidak?" Tanya singkat Hideo, pandangan yang semula tertuju kearah tumpukan buku-buku di depannya kini teralih untuk melihat wajah perempuan yang lebih tua dibanding dirinya.

"Aku tidak butuh 'makhluk itu'," Lanjut Hideo tanpa ekspresi.

Tunggu! Apa maksud Hideo dengan 'makhluk itu'? apa yang Hideo maksud adalah sosok seorang Ibu?

'Tidak sopan sekali' Batin Ino miris, hatinya sedikit nyeri setelah mendengar ucapan bocah Uchiha ini.

"Tidak ada gunanya seorang Ibu. Dia menyedihkan. Atau aku? Ibu, ah tidak! 'Makhluk itu' penuh kepalsuan! " Hideo meninggikan nada suaranya. Dengan sedikit bergetar kalimat panjang itu terucap.

'Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka bertiga? Kenapa Hideo begitu terlihat terluka dan rapuh?' Tanya Ino dalam hati. Ingin sekali ia rengkuh bocah 'lemah' didepannya ini. Tapi apa dayanya? Bisa-bisa ia semakin dibenci mengingat kondisi sekarang yang cukup 'menegangkan'.

"Aku tidak tau apa yang terjadi antara kalian bertiga. Tapi aku juga tidak menyalahkanmu, jika kau membenci dia atau siapalah yang kau maksud itu. Tapi percayalah, aku juga tidak ingin terus menerus melihat seseorang terluka seperti sekarang ini," Perlahan Ino memberanikan diri untuk memeluk tubuh Hideo. Namun sebelum itu terwujud, Hideo sudah menepisnya. Menatap tajam pada Ino dan berkata,

"Kalian sama saja, menyedihkan, buruk dan memuakkan."

Ino tidak habis pikir dengan perlakuan dan sikap Hideo terhadapnya. Untuk ukuran bocah berumur 7 tahun, ini sangat tidak pantas. Bagaimana bisa bocah polos bisa bersikap dan berpikiran seperti ini? Menilai seseorang dengan kata-kata yang cukup mencengangkan. Oh, Kami-sama! Seberapa dalam luka yang Hideo dapatkan? Dan perlakuan seperti apa yang membuatnya jadi seperti ini?

"Aku-" Kalimat Ino terpotong saat setelah suara deheman terdengan diindra pendengarannya. Suara asing. Ino belum pernah mendengarnya. Dengan bersamaan, Ino dan Hideo memutar kepala dan melihat siapa yang menganggu 'acara' mereka berdua.

"Sampai kapan drama ini berlangsung? Hei Jagoan!" Ucap seorang pemuda. Pemuda itu bersandar di pintu. Mengamati Ino dan Hideo dengan ekspresi sulit diartikan.

Tanpa menunggu lama, Hideo berlari dan memeluk pemuda yang lebih tinggi didepannya.

"Sejak kapan?" Tanya Hideo sambil mendongakkan kepala menatap pemuda yang tengah ia peluk.

"Baru saja. Semuanya ada dibawah," jawab pemuda itu kemudian mengacak-acak rambut Hideo. Membuat rambut hitamnya menjadi semakin berantakan.

"Hn," Hideo melepas pelukan dan berlari keluar kamar. Meninggalkan dua makhluk berlain gender saling menatap dalam diam. Tidak ada yang memecah keheningan sampai suara dering telepon terdengar. Pemuda itu merogoh saku celananya dan menempelkan benda persegi panjang itu ditelinganya.

"Hm?" Pemuda itu menautkan alis. Ekspresi bingung terpancar di wajah tampannya.

"Iya, aku dengannya. Kira-kira 162 cm dengan rambut pirang panjang, dan mata seindah biru lautan? Benar?" Ucap pemuda itu dengan tenang, tatapannya tertuju pada objek yang tadi ia jabarkan lewat telepon.

"Hei, tunggu! Apa salahku? Aku tidak mungkin berhubungan lebih dengan kakak iparku sendiri kan? Sudahlah Sakura, aku akan menemuimu segera," Pemuda itu segera memutus panggilan telepon dan memasukkan kembali ke saku celana.

Ino diam. Ia mencerna apa yang tadi ia dengar saat pemuda didepannya itu berbicara ditelepon. Dengannya? Apa yang tadi pemuda itu bermaksud mendiskripsikan dirinya kepada seseorang di sebrang sana? Dan apa tadi? Sakura? Apa yang tadi menelepon adalah sahabat pink-nya itu? Lalu kenapa ia tidak mengenal pemuda didepannya ini. Okay, Ino. Tentunya Sakura punya privasi sendiri dan tidak mungkin ia akan berbagi semua ceritanya padamu, meski kau adalah sahabatnya. Privasi tetaplah privasi.

"Kau siapa?" Dengan polos, Ino akhirnya berucap. Pemuda yang merasa ditanya hanya diam, menatap Ino dengan seringai. Oh hell! dia tampan, bahkan lebih tampan dibanding Itachi. Mungkin?

"Uchiha Sasuke," jawab pemuda itu, kemudian ia berbalik dan meninggalkan Ino. Tapi sebelum tubuhnya benar-benar menjauh, ia berkata, "Turunlah, semua sudah menunggu."

Cukup lama Ino terdiam sebelum akhirnya ia tersadar dan segera menyusul Sasuke. Kenalan barunya, mungkin? Yang pasti Ino penasaran dan bersumpah akan mencari tau lebih tentang Sasuke perihal hubungannya dengan 'Sakura'. Apakah sama dengan 'Sakura' miliknya atau tidak. Uhm- mungkin lebih cocok dengan 'Sakura' sahabatnya.

Sasuke P.O.V

Flashback

Suara dering telepon menyadarkanku. Segera aku merogoh ponsel dan menempelkan benda itu di telingaku.

"Sasuke-kun kau jahat! Bagaimana bisa kau berselingkuh saat aku tidak ada disampingmu? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Sudah kuduga, kau tidak suka dengan gadis berambut pendek. Dan akhirnya kau memilihnya," terdengar suara yang sangat aku rindukan keberadaannya. Sakura Haruno, kekasihku.

Kami berdua telah menjalin hubungan cukup lama, dan tahun ini memasuki tahun ketiga kisah asmara kami. Ah, aku benar-benar merindukannya dan ingin memeluknya. Menghirup aroma yang sangat aku sukai.

"Hm?" Aku menautkan alis. Bingung dengan apa yang telah terjadi pada kekasihku. Kenpa tiba-tiba seperti ini?

"Jangan bohong! Aku tau pasti kau dengan dia sekarang. Iya, kan?"

"Iya, aku dengannya. Kira-kira 162 cm dengan rambut pirang panjang, dan mata seindah biru lautan? Benar?" Ucapku santai berniat menggoda kekasihku sendiri. Tidak apa-apa, kan? Toh dia milikku. Yah, milikku seorang.

"Tuh, kan! Kau jahat! Hiks... Kenapa? Aku membencimu!"

"Hei, tunggu! Apa salahku? Aku tidak mungkin berhubungan lebih dengan kakak iparku sendiri kan? Sudahlah Sakura, aku akan menemuimu segera."

Aku segera akhiri perdebatan 'aneh' yang secara tiba-tiba terjadi. Bahkan aku tidak tau apa yang dimaksudnya. Ah, baiklah. Aku rasa membuatnya penasaran dan kalut cukup menarik. Aku kejam? Siapa peduli?

End flashback

Normal P.O.V

Baru beberapa langkah Ino meninggalkan kamar Hideo sesuatu terjadi.

"Ah!" pekik Ino kaget ketika seseorang menggenggam dan penarik pergelangan tangannya dari arah belakang.

Sebelum Ino bersumpah serapah memekik dengan kalimat angkuhnya, suara cukup lembut menyadarkannya dan mengurungkan niatan buruk itu terjadi.

"Saya akan membantu Nona mempersiapkan diri," seorang wanita dewasa memamerkan senyum kepada Ino.

"Saya Yugao. Mari!"

Tidak ada respon ucapan dari Ino. Ia hanya menuruti kemana tujuan Yugao. Ia tau maksud dari kata 'mempersiapkan diri'.Apalagi kalau tidak berdandan? Tidak buruk! Bahkan ia sangat senang. Tidak mungkin, kan? Turun kebawah untuk makan malam di tempat 'asing'.Apalagi ini adalah kediaman Uchiha. Mewah. Bagaimana bisa ia turun dengan setelan casual kebanggaannya. Kaos polos berwarna kuning pucat, tidak lupa dengan celana jeans selutut. Tidak berkesan tentunya.

oooooo

Tidak lama, Ino sudah rapi dengan hasil karya Yugao. Ino berdiri didepan cermin, melihat pantulan dirinya. Ia terkesan. Yugao memang hebat! Ino tersenyum lebar. Gaun biru gelap selutut lengan pendek dangan pita hitam melingkar di pinggangnya. Rambut panjangnya tersanggul dengan sedikit berantakan, memberikan kesan natural. Semakin sempurna dengan polesan tipis diparas ayu-nya. Ino benar-benar berterimaksih dan bersyukur telah bertemu dengan Yugao. Ia harus belajar lebih darinya. Yosh!

Selama acara mempercantik diri tadi, Ino dan Yugao saling bertukar cerita. Bukan tema berat memang, hanya perbicaraan ringan. Tapi tidak terduga, Yugao malah menceritakan kehidupannya pada Ino. Wanita yang telah menyandang marga baru, ia sudah menikah dengan kepala pelayan disini, Hayate Gekkou.

"Tunggu apa lagi, Nona? Nona harus segera turun. Semua pasti sudah menunggu," ucap Yugao menyadarkan Ino dari kekaguman terhadap dirinya. Bukan bermaksud sombong. Yah, tapi Ia sekarang benar-benar cantik.

"Yugao-nee, bukankah aku sudah megingatkan tadi. Cukup dengan Ino saja. Kita sudah saling mengenalkan? Bahkan mungkin cukup dekat," Ino mendekat dan memeluk Yugao dengan tiba-tiba.

"Terimakasih, ini sangat cantik. Aku sangat berterimakasih," lanjut Ino segera ia melepas pelukan dan tersenyum tulus kearah Yugao. Wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Selain Ayame-nee di Kyoto tentunya.

"Ah, Ino-chan. Itu bukan masalah. Baiklah, kau harus segera turun. Cinderella, pangeran anda sudah menunggu tentunya," Yugao mengerlingkan mata, berniat menggoda Ino. Dan sukses membuat kedua pipi Ino merona.

"Yugao-nee..." rengek Ino.

Mengakhiri pertemuan keduanya, Ino segera pergi turun ke tujuan utamanya. Ruang makan kediaman Uchiha.

ooooo

"Lihat, Aniki! Calon istrimu sudah muncul, tuh," Ucapan Sasuke membuat semua mata anggota keluarga Uchiha tertuju pada Ino dari kejauhan saat ia menuruni tangga.

'Sudah seperti Tuan Putri beneran saja. Aku harap ini bukan mimpi. Ayah, lihat putrimu ini, jadi Cinderella dalam semalam. Konyol," batin Ino tidak percaya.

"Duduk sini, Ino-chan," Mikoto mendekat dan menuntun Ino untuk duduk di kursi disamping Itachi dan Hideo. Kejadian tadi dengan Hideo membuat Ino semakin canggung. Ia hanya memamerkan senyum ragu saat Hideo menatapnya tanpa ekspresi.

Ino mengedarkan pandangannya. Dapat ia lihat, seorang pria dengan wajah tegas dan cukup berwibawa. Duduk di kursi kepala keluarga. Mungkin seumuran dengan, Ayahnya. Begitu pikir Ino.

'Suami Bibi Mikoto? Aku rasa, siapa lagi,' batin Ino.

Ada seorang wanita yang tak lain adalah Ibu Itachi duduk besebrangan dengan kursi Itachi. Seorang pemuda tadi, Uchiha Sasuke duduk disamping Mikoto. Dan seorang pemuda asing, dengan rambut hitam pendek seperti Naruto tapi berantakan. Sama seperti rambut Hideo duduk di samping Sasuke. Ino tidak mngenalnya. Tapi cukup tampan dengan bulu mata lentik. Tampan atau cantik? Apa semua keluarga Uchiha sangat sempurna? Beruntunglah kalian yang terlahir digaris keturunan Uchiha.

"Senangnya semua sudah berkumpul disini. Oh ya, Ino-chan. Perkenalkan, suamiku dan kepala keluarga disini. Uchiha Fugaku," ucap Mikoto memperkenalkan kepala keluarga Uchiha. Dengan wajah kaku, Fugaku melihat Ino. Ino hanya memamerkan senyum, daripada harus menyapa tidak jelas, malah nanti citranya menjadi buruk. Jangan sampai!

"Dan ini, Uchiha Sasuke. Putra bungsuku. Dan ini, Uchiha Shisui, sahabat Itachi. Dia seperti anak kami juga," lanjut Mikoto memperkenalkan Sasuke masing dengan tampang stoic-nya dan juga Shisui dengan senyum hangatnya. Oh hell! dia sangat manis.

"Salam kenal ya, Ino-chan," ucap Shisui tak lupa dengan senyum karismatiknya. Oh, Ino benar-benar dibuat meleleh sekarang. Apa Shisui adalah satu-satunya lelaki Uchiha yang ramah? Sangat sempurna.

"Itachi..." ucap Fugaku dengan suara berat miliknya berhasil menciptakan atmosfer ketegangan diantara mereka bertujuh.

"Tentu kau sudah tau kan? Jadi, bagaimana?" lanjut Fugaku, pandangannya beralih kearah Itachi yang juga melihat kearahnya. Ino hanya menundukkan kepalanya, menerka-nerka arah pembicaraan Ayah dan Anak ini.

"Ya," balas Itachi dengan tenang. Ino semakin dibuat pusing. Apakah semua keluarga Uchiha hemat bicara? Dan hebatnya mereka saling terkait dan paham dengan arah tujuan pembicaraan masing-masing. Tidak seperti dirinya sekarang yang kebingungan. Layaknya anak SD yang dicekoki materi anak kuliahan. Bodoh. Ino hanya bisa mengumpat dalam hatinya.

"Pernikahan kalian akan diadakan 1 bulan dari sekarang," Fugaku sedikit meninggikan nada suaranya, dan sukses membuat Ino menegakkan kepala. Jangan tanya bagaimaman ekspresinya sekarang. Membulatkan mata dengan mulut yang sedikit terbuka. Hei! Mana Ino yang anggun? Kenapa terlihat konyol sekarang?

"Soal keluargamu, sudah kami urus. Bagaimana, Ino?" Tiba-tiba Fugaku bertanya pada Ino. Segera tersadar dari ekspresi tidak indah di wajahnya, Ino memberanikan diri menatap Fugaku.

"Aku-" belum sempat Ino melanjutkan kalimat, Hideo dengan kasar berdiri dan mendorong kursinya kebelakang.

"Aku sudah kenyang," Ucap singkat Hideo sebelum pergi meninggalkan ruang makan. Namun, suara dengan nada tinggi menghentikan langkah santainya, "Hideo! Begitukah sikapmu, apa yang kau pelajari selama ini, hah!"

Itachi. Yah, suara Itachi menghentikan langkah Hideo. Terlihat Hideo hanya diam mematung tanpa menoleh kearah asal suara. Tidak menunggu lama Itachi sudah berdiri dibelakang Hideo hendak meraih tangan mungil itu kalau saja suara Hideo menahannya, "Tidak ada, bahkan Ayah tidak pernah mengajariku. Mengajari? Menyentuhku saja tidak pernah. Dan sekarang kau, mau menahanku?"

Anak dan Ayah itu kini saling berhadapan. Dengan sang anak yang memilih untuk menunduk dan sang Ayah yang menatap tajam anaknya dengan kilat amarah.

"Aku ini anakmu bukan? Aku membencimu!" Hideo yang semula menunduk, kini menatap sang Ayah, tak kalah tajam.

PLAK

Bunyi tamparan keras berhasil membuat keterkejutan hebat. Tamparan di pipi kiri Hideo, membuat pipi yang semula putih menjadi sedikit kemerahan. Hideo memegangi pipi kirinya dan menunduk dalam. Semua yakin bahwa kini bocah tampan itu sedang menangis dalam diam.

"Itachi! Apa yang kau lakukan!" bentak Fugaku tak kalah hebat. Ia berdiri dan melangkah mendekat kearah Ayah-Anak itu berada.

"Tunggu, Anata," cegah Mikoto kepada Fugaku. Menahan sang Suaminya agar tidak mendekat. Ia tidak mau masalah ini semakin runyam jika ia membiarkan Suaminya mendekat dan memperparah suasana. Ia tau betul, kalau Fugaku tidak akan segan-segan memperlihatkan adegan kekerasan yang tidak baik bagi anak dibawah umur.

"Mikoto..." Fugaku menatap Istrinya. Biasanya Istrinya lah yang tidak tahan dengan perlakuan kasar Itachi pada cucu satu-satunya itu. Tapi kini, kenapa ia malah mencegahnya?

Hening. Tidak ada yang memecah keheningan. Shisui dengan wajah tidak percayanya menatap Itachi dan Hideo, Sasuke dengan wajah stoic-nya dan Ino, bagaimana dengannya sekarang?

Diam dengan pikirannya sendiri. Pemandangan didepannya benar-benar baru baginya. Setelah hidup lebih dari 17 tahun, kali pertama ia melihat adegan seperti ini secara langsung didepan matanya. Dan terlebih, ini karenanya? Iya, jika saja tidak karena pernikahannya yang mendadak, Hideo tidak akan terkena amarah dari Ayahnya, kan?

"Kau hanya menyentuhku hiks... saat menampar. Tapi aku cukup bahagia. Setidaknya kau tidak jijik dengan Anakmu ini. Ah- atau mungkin bukan? Kau sangat menyedihkan!" Dengan susah payah Hideo berucap agar terdengar jelas karena sekarang ia sedang terisak.

"Jaga bicaramu!" Hampir saja pipi Hideo kembali terkena tamparan kalau saja tangan tidak menahannya. Tangan Ino menahan tanga Itachi. Tunggu? Sejak kapan Ino beranjak dari duduknya? Ayolah siapa yang tidak tahan dengan adegan seperti ini? Tentunya Ino masih punya hati.

"Hentikan, Uchiha-san. Jangan buat Hideo semakin terluka! Apa kau tidak lihat? Dia itu putramu? Dan apa yang kau lakukan? Bukankan orang tua akan marah jika anaknya terluka? Tapi kenapa au malah melukainya?" sedikit membentak Ino mengeratkan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Itachi.

"Tau apa kau tentang hidup kami? Tidak!" membalas bentakan Ino dengan nada yang sangat tinggi. Itachi benar-benar seperti kerasukan setan rupanya. Ia menarik tangannya dengan kasar dan berhasil terlepas dari cengkraman tangan Ino.

"Munafik!" kalimat terakhir terucap dari mulut Itachi sebelum ia beranjak meninggalkan ruang makan. Tepatnya pergi kearah pintu utama, dan saat setelah itu terdengar deru mobil meninggalkan Mansion. Itachi pergi meninggalkan keenam manusia yang masih shock dengan apa yang telah terjadi.

"Aku ingin tidur," kaat Hideo sebelum ia menaiki tangga dan meninggalkan semua diam mematung.

Terlihat Fugaku mengusap kasar wajahnya dan Mikoto disampingnya sudah menitikan air mata. Tak lama, mereka berdua memutuskan masuk kekamar meraka. Meninggalkan Shisui, Sasuke dan Ino.

"Ah, aku juga tidur," Kemudian Sasuke meninggalkan ruang makan dengan santai.

Ino tidak kuat lagi, ia jatuh terduduk dengan wajah yang tertunduk. Ia meremas ujung gaunya dengan kasar, dan pertahanannya kali ini runtuh. Ia menangis, mengutuk dirinya dengan sumpah serapah dalam gumaman tidak jelasnya.

'Oh, bagus. Semua ini salahmu. Yamanaka Ino! Kau tidak lebih dari gadis pembawa sial sekarang!' umpat Ino dalam hati.

"Hei," suara dan tepukan ringan dikepalanya membuat Ino mendongak. Dapat ia lihat kini Shisui berjongkok didekatnya. Masih dengan tangan yang tertempel di surai platinanya, ia berkata, "Semua akan baik-baik saja. Jangan salahkan dirimu, Okay? Beristirahatlah!"

Kemudian Shisui mengacak pelan rambut Ino sebelum pergi meninggalkannya sendirian.

ooooo

Sakura dan Naruto duduk bersebelahan. Menungggu dikoridor ruang tunggu dekat ruang operasi. Mereka menunggu Ayah sahabatnya yang tengah dioperasi.

"Ternyata bukan Sasuke. Tapi Ino benar-benar ada hubunga dengan Uchiha, Naruto. Kau mendengarku, kan?" tanya Sakura sedikit kesal karena merasa ia tidak diperhatikan oleh sahabat lelakinya itu.

"Ah, Iya. Aku mendengarnya. Jadi apa maksudmu?" tanya balik Naruto, menatap gadis pink disampingnya. Penasaran dengan topik pembicaraan yang menyangkut Ino-nya. Hei, Naruto! Sejak kapan kau mengklaim bahwa Ino adalah milikmu? Berhenti mengaku, Okay!

"Ino dan kakak Sasuke."

"Uchiha Itachi? Bukankah dia sudah punya Istri?"

"Aku baru dapat email dari Sasuke tadi, katanya Itachi-nii sudah bercerai. Memang sih, publik belum tau soal perceraiannya ini."

"Masa bodoh dengan perceraian, Sakura. Lalu apa hubungannya dengan Ino?" Naruto mulai tidak sabar dengan pembicaraan Sakura yang tidak langsung keintinya.

"Aku tadi mendengar, Sasuke menyebut Ino dengan Kakak ipar."

"Jangan bercanda. Memangnya gadis yang dimaksud Teme itu Ino? Siapa tau dia sedang dengan wanita lain yang sama dengan Ino," ucap enteng Naruto. Sebenarnya ada sedikit perasaan tidak suka saat Sakura berucap tadi. Jangan gila, mana mungkin Ino akan menikah. Setaunya, Ino tidak mengenal salah satu dari keturunan Uchiha Itu. Lagipula umur Ino terbilang cukup muda untuk menikah.

"Hey! Sasuke tidak mungkin seperti itu!" teriak Sakura, ia kemudian menjitak kepala Naruto cukup keras.

"Berhenti, Sakura-chan. Sakit!"

"Habisnya kau itu. Lagipula siapa lagi yang memiliki mata seindah biru lautan kalau bukan Ino, Naruto-baka!" lanjut Sakura berusaha meyakinkan sahabat rubah disampingnya yang sedang kesakitan sambil memegangi kepalanya.

"Aku tidak percaya sebelum Ino sendiri yang bilang," Naruto berdiri dari tempat duduknya.

"Kau mau kemana?," tanya Sakura kaget saat Naruto tiba-tiba berdiri dan terlihat gelagat aneh untuk pergi meninggalkannya.

"Aku akan ke Tokyo, membawa Ino kesini. Paman Inoichi mmebutuhkan Ino, kan?"

"Aku yakin Sasuke-kun pasti sudah memberitau Ino. Dia akan segera kesini. Pasti besok Ino sampai," Sakura meyakinkan Naruto agar tidak pergi.

"Sekalian aku ada urusan di Tokyo. Tidak apa-apa kan aku menninggalkanmu disini?" tanya Naruto sedikit khawatir.

"Baiklah, aku akan baik-baik saja. Lagian besok pagi Ayame-nee kemari kok. Pergilah, kalau memang Ino belum tau, segera bawa dia kesini," jawab Sakura.

"Baik, aku pergi. Jaa," ucap Naruto sebelum sosoknya benar-benar hilang dari pandangan Sakura.

ooooo

Bugatti Veyron melaju pelan membelah jalan di komplek mewah di Tokyo. Cukup sepi karena ini sudah jam 11 malam. Sang pengemudi terfokus melihat jalan didepannya. Meski begitu, pikirannya kalut sekarang. Mengingat ucapan Sakura barusan. Yah, Naruto kacau dengan penuturan bahwa Ino-nya akan menikah dengan seorang Uchiha.

"Aku akan segera menemukanmu, Ino. Tunggu aku. Aku harap semua belum terlambat," Naruto mengacak kasar rambutnya dengan tangan kiri yang terbebas dari setir mobilnya.

Mengemudi cukup jauh membuatnya lelah. Naruto memarkirkan mobilnya ke toko 24 jam untuk berhenti sejenak membeli beberapa minuman kaleng. Biasanya Ia akan membeli coffee, setidaknya akan membuat ia terjaga semalaman saat mengemudi.

Naruto masuk ke toko dan berjalan memilih-milih beberapa camilan dan coffee kesukaannya. Atau mungkin ramen cup, ia sedikit lapar. Se-cup Ramen instan cukup untuk mengganjal perut kosongnya agar tidak meraung-raung.

ooooo

Kekacauan hebat yang terjadi beberapa jam yang lalu di kediaman Uchiha cukup membuat seorang Yamanaka kacau, kalut dan terlihat menyedihkan. Sangat menyedihkan. Beberapa menit yang lalu, Ino memutuskan untuk pergi keluar. Mungkin jalan-jalan akan membuatnya sedikit tenang. Eh? Bukankah ini lingkungan baru baginya? Dan benar saja, Ino hanya pergi tidak jauh dari Mansion. Pergi ke taman dekat toko 24 jam. Biasanya kalau Ino sedang bersedih atau sesuatu yang buruk terjadi, Ia akan membeli 2 es krim coklat kesukaannya dan berbagi dengan Naruto. Sahabat berisik namun cukup menghibur Ino. Bersedia memberi sandaran untuk Ino bercerita ataupun menangis.

Ino melangkah gontai memasuki toko. Tidak peduli dengan tatapan penjaga toko yang melihatnya aneh. Bagaimana tidak? Seorang gadis dengan tatanan rambut berantakan berjalan layaknya orang yang kehilangan semangat hidup masuk kedalam toko tanpa alas kaki. Sungguh bukan seorang Yamanaka.

"Ice Cream..." gumam Ino pelan. Berdiri di depan kotak penuh berisi bermacam jenis Ice cream. Mencari Ice cream kesukaannya.

Tatapannya tertuju pada 2 ice cream coklat yang menjadi incarannya. Tangan Ino terulur untuk meraihnya, tapi suara yang amat ia kenal menghentikan gerakannya.

"Ino-chan..."

to be cantinue

Yosh! Selesai untuk chapter 4. Aku harap tidak mengecewakan yah. Phi-chan kasih adegan Shisui. ehehehe, entah kenapa jadi terhipnotis dengan ketampanan Shisui

Aku harap chapter ini tidak alay. Tapi Phi-chan rasa ini benar-benar aneh. Iya tidak? Ah malunya...

Tapi terimakasih untuk yang setia menunggu kelanjutan fanfic ini ya, terimakasih untuk review nya juga review kalian adalah motivasi bagi Phi-chan

Phi-chan akan balas review disini ya...

kimparkemino makasih kak, Phi-chan akan berusaha agar bagian TBC nya tepat. Aku akan berusaha. Terimakasih kak

ai chan 19 uhm... ide bagus tuh kak tapi tunggu aja kelanjutannya yah. Untuk naruino, Phi-chan akan tambahkan dichapter selanjutnya nanti. Karna sejujurnya Phi-chan juga suka pairing naruino. Aahhaah

Lmlsn ahahah iya kak, siap. Phi-chan akan lanjutkan. Aku harap sudah panas sekarang. Eh, tapi aku rasa belum deh. Eheheh, entahlah kak

Semoga kalian tidak kecewa ya maafkan jika mengecewakan.

Jangan lupa review kalian. Ehehehehe