You and Me in One Story

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story by : PhiruFi

Rate : T

Pairing : Ino. Y x Itachi. U

WARNING : OOC ( Maybe :3 ) , mainstream (?) , membosankan, Bahasa diksi EYD ( masih harus belajar XD )

Selamat membaca, kuharap kalian suka

Sebelumnya ada yang harus Phi ralat di chapter sebelumnya karena author ini pelupa dan kebetulan tokoh itu akan berkaitan dengan cerita selanjutnya. Jadi memang harus diralat. Maafkan atas kesalahan fatal ini T3T /cry

Karakter yang diralat adalah Ayame-nee yang seharusnya adalah Hana-nee T3T. Maafkan atas ketidaknyamanan ini. Phi tidak akan mengulanginya lagi deh, bener. Kadang kalo lupa ga bisa dikondisikan T3T

ooooo

Tatapannya tertuju pada 2 ice cream coklat yang menjadi incarannya. Tangan Ino terulur untuk meraihnya, tapi suara yang amat ia kenal menghentikan gerakannya.

"Ino-chan..."

Ino terdiam. Bukan berarti telinganya tuli atau sedang bermasalah sehingga ia menghiraukan panggilan namanya itu, tapi ia sedang berdebat dengan pikirannya sendiri.

'Apa aku benar-benar sudah gila? Suara Naruto terngiang diotakku. Mana mungkin. Tapi ini benar benar sangat dekat. Tidak mungkin, Ino!' batin Ino frustasi.

"Ino-chan!" Kali ini suara Naruto lebih keras tentunya tidak membentak. Ino sedikit terkejut dengan panggilan yang kali ini. Sedikit ragu, tapi ia berhasil membalikkan badannya dan melihat siapa yang memanggilnya tadi.

Dan benar saja. Naruto berdiri tegap didepannya dengan menenteng plastik penuh berisi belanjaannya.

"Naruto-kun?" Ino tidak percaya, ia bisa bertemu dengan Naruto disini. Dengan penampilan kacau seperti ini.

"Demi Kami-sama, apa yang terjadi padamu, Ino-chan?" Naruto tidak habis fikir. Disini, ia bertemu kembali dengan Ino. Gadis yang amat sangat ia rindukan. Ingin sekali Naruto mendekat dan memeluk sesosok gadis pirang yang terlihat berantakan itu. Ino yang sekarang berbeda dari Ino yang ia temui malam lalu sewaktu gadis itu masih berada di Kyoto. Penampilannya sungguh bukan barbie hidup yang selama ini mejadi julukannya.

Semenit berlalu tidak ada respon sama sekali membuat Naruto tidak tahan untuk segara menarik tangan dan membawa sahabatnya itu keluar dari toko.

"Ayo, ikut aku! Kau berutang cerita denganku," ucap Naruto seraya menarik tangan Ino dan membawanya kesalah satu bangku yang ada di taman.

ooooo

Uchiha Mansion, 01 a.m

Seorang pemuda dengan rambut pantat ayam melangkah dengan mantap memasuki kamar milik keponakannya. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke? Ia sedikit kesulitan melihat karena lampu kamar yang sudah mati. Hal itu tidak mengurungkan niatan seorang Uchiha Sasuke untuk terus melangkah mendekat. Langkahnya terhenti didepan meja kecil dan menyalakan lampu tidur.

"Hei! Jagoan, jangan terus berpura-pura seperti itu pada Pamanmu ini," ucap Sasuke setelah ia mendudukkan dirinya di kasur berukuran medium dimana ada seorang bocah laki-laki terbaring sambil memeluk guling. Namun yang dipanggil tidak merespon.

"Bagaimana kalau besok kita bertemu dengan Sakura-nee?" tawar Sasuke masih berusaha membuat keponakannya itu bersuara.

"Besok aku ada les Matematika," jawab singkat Hideo masih dengan posisi yang sama. Membelakangi Sasuke sambil memeluk guling.

"Figure Action lengkap Zoids?" Sasuke yakin, tawaran terakhir ini tidak akan ditolak oleh Hideo.

"Setuju," dan benar saja, Hideo langsung mengiyakan tawaran terakhir Pamannya itu. Kini ia telah m erubah posisi dari terbaring membelakangi menjadi duduk menghadap Sasuke.

"Les?" goda Sasuke. Sasuke tau semua jadwal Hideo meskipun ia ada di Eropa tapi ia selalu memantau perkembangan keponakan pertamanya ini. Sungguh Paman yang baik dan calon Ayah yang baik tentunya.

"Aku berbohong, m-m-maaf," ucap Hideo sambil menundukkan kepalanya. Mungkin kalimat 'maaf' sangat sulit diucapkan bagi seorang Uchiha, benarkan?

"Paman tau. Kita akan berangkat besok pagi. Jadi tidurlah sekarang," Sasuke berdiri tapi sebelumnya ia mengacak rambut Hideo dengan lembut. Hideo hanya tersenyum lalu membenarkan posisinya untuk bersiap tidur.

Dengan begini Sasuke bisa tidur tenang. Meskipun kelihatannya Sasuke cuek dan acuh, namun sebenarnya ia paling tidak tega jika keponakannya diperlakukan oleh kakaknya dengan sangat tidak pantas? Iya begitulah pikirnya. Kemana kakaknya yang dulu? Bukankah dulu ia adalah sosok kakak yang baik? Hal itu tentunya tidak akan berbedakan? Hubungan adik-kakak saja sangat akur dulu, kenapa Itachi sebagai seorang Ayah malah terlihat 'gagal'?

ooooo

Taman Kompleks, 1 a.m

Mereka duduk berdua. Tidak ada yang memulai percakapan. Naruto enggan berbicara begitu pula dengan Ino. Hanya terdengar serangga malam dan hembusan angin yang cukup dingin.

"Kenapa tidak cerita?" tanya Naruto memecah keheningan.

"Aku tidak tau memulainya darimana, aku hanya beban bagi kalian," jawab Ino dengan kepala yang tertunduk.

"Kami pernah bilang begitu?" tanya Naruto lagi. Entah kenapa ia ingin marah sekarang. Naruto dan Sakura sudah menganggap Ino sebagai saudara sendiri. Lalu kenapa mereka harus marah ketika Ino butuh bantuan?

Banyak yang mereka bertiga lalui semasa remaja dulu. Mulai dari Ino yang selalu membawakan bento untuk makan siang mereka, sampai membantu mengerjakan semua PR. Bahkan jika salah satu diantara mereka berbuat salah, pasti mereka bertiga rela dihukum hormat dibawah tiang bendera bersama. Sesekali bercanda tanpa memperdulikan tatapan aneh dari teman dan senior di sekolahnya.

"Aku," masih dengan kepala yang tertunduk, Ino berkata demikian. Tidak berani menatap netra Shappire milik Naruto.

"Itu hanya pemikiranmu saja! Kami sedikitpun tidak pernah merasa keberatan!" tanpa disadari Naruto meninggikan suaranya. Ia sudah tidak duduk disamping Ino, melainkan berdiri dihadapan Ino dengan tangan terkepal disamping lipatan celana panjangnya.

Naruto tidak tahan lagi, ia menarik Ino untuk berdiri dan memeluknya dengan erat. Ia sangat menyesal telah meninggikan suaranya. Ia tidak bermaksud melakukannya. Ia hanya sedikit kesal.

"Ikutlah denganku, Ino-chan,"pinta Naruto masih dengan memeluk Ino meskipun tidak ada balasan.

"Maaf, aku tidak bisa," ucap Ino seraya melepaskan pelukan Naruto. Naruto terkejut dengan tindakan Ino. Pelukan bukanlah hal yang baru bagi mereka. Yah, sebagai seorang sahabat mereka saling berpelukan saat salah satu terpuruk dalam masalah. Tapi kenapa dengan Ino-nya kali ini?

"Kenapa? Ayahmu sedang dioperasi sekarang. Ada apa? Jangan bilang kalau, bukan kau yang-" kalimat Naruto terputus.

"Aku akan berangkat bersama calon Suamiku besok," kini Ino berani menatap Naruto. Dan benar, Naruto sangat terkejut. Tangannya kini mengepal lagi. Ingin sekali ia menonjok pohon, tembok atau apapun tapi jangan dengan Ino-nya. Ah, bukan. Ino bukan lagi miliknya. Dan memang bukan.

"Kenapa? Aku bisa menolongmu, Ino! Hentikan semua ini. Kalau kau tidak menghentikannya, biar aku saja!" naruto tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Tidak peduli apakah ucapannya ini melukai gadis didepannya.

"Aku harus pulang, pasti mereka mencariku. Sampai jumpa, Naruto-kun. Terimakasih," belum sempat Ino memutar dirinya, Naruto sudah menahan tangan kanan Ino.

"Aku menyukaimu, Ino! Tidak tidak, lebih tepatnya aku sangat mencintaimu. Kau tau itu kan? Katakan!" kini mereka saling menatap. Naruto dengan tatapan tajam yang serius dan Ino dengan raut yang memperlihatkan keterkejutannya.

1 Detik

2 Detik

5 Detik

"Na-" sebuah dering ponsel milik Naruto membuat Ino tidak jadi melanjutkan bicaranya.

"Dari Sakura? Ada apa ini?" Tanpa menunggu lama, Naruto menerima panggilan itu dengan tangan yang masih bebas tadi. Namun tangan yang satu masih setia menggenggam erat pergelangan tangan Ino.

Naruto P.O.V

'Naruto? Apa Ino sudah ketemu?' terdengar suara yang cukup familiar di telingaku. Suara Sakura dengan nada panik? Ada apa? Apa sesuatu terjadi? Paman Inoichi?

"Ah. Ada apa, Sakura-chan?" tanyaku berusaha mengganti topik pembicaraan tentang Ino.

'Paman Inoichi...'

"Kenapa? Jangan setengah-setengah kalau ngomong, Sakura-chan!" Aku berusaha berpositif thinking menanggapi ucapan Sakura yang terdengar semakin memelan.

'Kondisinya memburuk, tekanan darah naik, jadi operasi dibatalkan. Dokter menunggu sampai besok. Kalau besok sudah stabil, mungkin akan dioperasi. Untuk saat ini, Paman Inoichi masih tidak sadar, Naruto. Cepat kembali, dan bawa Ino!'

"Aku akan kembali, Ino... mungkin besok. Sudah dulu," tanpa menunggu tanggapan dari sahabatku itu, aku langsung memutus sepihak panggilan dan kembali dengan urusanku dan Ino yang sempat terjeda.

Normal P.O.V

"Ada apa? Ayahku kenapa? Katakan, Naruto-kun!" teriak Ino dengan isakan. Iya, kini ia sedang menangis.

"Paman-" lagi. Ucapan Naruto terhenti oleh teriakan seorang pria dewasa yang tengah berlari kearah mereka berdua.

"Nona Ino! Anda harus pulang segera. Tuan Fugaku menunggu. Kita harus segera ke Kyoto," ujar Pria itu yang tak lain adalah Suami dari Yugao. Supir keluarga Uchiha, Hayate Gekkou.

Tanpa menunggu lama, Ino melepas genggaman dipergelangan tangannya dan meninggalkan Naruto tanpa sepatah katapun. Mereka berdua, Ino dan Hayate melaju dengan mobilnya.

Ditempat itu Naruto hanya bisa mengusap kasar wajahnya dan masuk ke mobilnya. Ia juga harus segera kembali ke Kyoto. Sakura membutuhkannya. Mungkin Sakura sedang kacau sekarang. Atau mungkin pergi menenangkan pikirannya yang kalut terlebih dahulu? Ia rasa pilihan kedua lebih tepat. Mobilnya meaju kesuatu tempat, tentunya bukan ke Kyoto.

Tanpa disadari sepasang mata mengawasi mereka sedari tadi dibalik kaca mobil Maybach Exelero.

ooooo

Mansion Uchiha 5 a.m

Beberapa pelayan terlihat mondar-mandir sambil menenteng tas koper milik Tuannya. Mereka menyiapkan keperluan yang akan dibawa ke Kyoto. Selain mereka akan menjenguk Inoichi, mereka memutuskan untuk berlibur selama beberapa hari. Uhm... mungkin lebih tepatnya yang berlibur hanya Sasuke dan Shisui. Cukup lama mereka ada di Eropa, berlibur sejenak untuk melepas kangen tidak ada salahnya, kan? Selain itu Sasuke juga sudah sangat merindukan kekasihnya yang kebetulan di Kyoto juga.

"Mikoto, apa kau sudah menghubungi Itachi? Kenapa dia belum pulang?" tanya Fugaku pada Istrinya.

"Sudah, Anata. Dia bilang sudah dalam perjalanan pulang," jawab Mikoto.

Ino dan Hayate baru saja sampai, mereka berdua langsung masuk dan melihat semua anggota keluarga Uchiha sudah berkumpul di ruang tengah, kecuali Hideo dan Itachi.

"Ino, mandilah dan ganti bajumu, kita akan berangkat sebentar lagi, Itachi masih belum pulang," Mikoto mendekat kemudian mengelus perlahan rambut Ino. Hanya anggukan yang diberikan Ino sebagai balasan dari perintah calon Ibu Mertuanya. Ia segera pergi kekamar dan melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya.

10 menit kemudian,

Ino turun dengan setelan casual di musim gugur. Dapat ia lihat, Itachi sudah ada bersama yang lainnya. Tidak dengan Hideo. Kenapa Hideo belum turun? Langkah Ino berhenti disamping Mikoto.

"Sudah, ya? Kurang Hideo. Dia tidak turun-turun sejak tadi. Kau bisa memanggilnya, Ino-chan?" tanya Mikoto.

'Aku rasa itu ide yang buruk, Ibu,' batin Ino tidak sesuai dengan tindakannya saat ini. Ia malah mengangguk dan pergi ke kamar Hideo dilantai atas.

Tok... tok... tok...

Ino mengetuk pintu dengan sangat hati-hati. Sebenarnya ia sedikit takut. Reaksi apa yang akan diberikan bocah itu kepadanya.

"Hideo, apa kau sudah siap? Semuanya sudah menunggu dibawah," Ino masih diam mematung didepan pintu, menunggu pemilik kamar mepersilahkannya masuk. Sebenarnya ia tau, kalau pintu kamar tidak dikunci. Tapi, akan lebih baik jika ia menunggu diluar, daripada nanti memperburuk hubungannya dengan Hideo.

"Aku tidak ikut! Suruh mereka berangkat tanpa aku!" teriak Hideo dari dalam kamarnya.

"Tapi-" Belum sempat Ino berucap, lagi-lagi terputus oleh suara baritone yang cukup familiar ditelinga Ino. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Itachi. Lagi, untuk kesekian kalinya.

"Cepat turun!" bentak Itachi kepada Hideo setelah ia membuka pintu dan melenggang ke dalam tanpa perizinan Hideo.

"Sudah kubilang aku tidak ikut, Ayah bodoh!" nada Hideo tidak kalah tinggi dengan Ayahnya. Kini Ayah-anak itu tengah berhadap-hadapan dengan tatapan tajam saling menusuk langsung ke mata keduanya.

"Kau meminta lagi?" tanya Itachi tapi nada bicaranya sedikit lebih rendah dari sebelumnya. Sedikit.

"Tampar saja lagi, aku tidak peduli!" pandangan mata Hideo dialihkan kesamping kanan. Ia tidak mau melihat kearah Ayahnya lagi.

Itachi menaikkan tangan kanannya dan bersiap untuk menampar Hideo. Tapi sebelum telapak tangan itu menyentuh pipi kiri Hideo, pergelangan tangan Itachi terlebih dahulu sudah ditahan oleh Ino.

"Kumohon... Sekali saja. Bukan demi diriku, tapi demi Ayahku..." ucap Ino lirih. Ia menangis tapi tanpa isakan. Hanya air mata saja yang menghiasi pipinya.

Tanpa berkata, Itachi melepaskan cengkraman tangan Ino dari pergelangannya. Ia berbalik dan meninggalkan Ino dan Hideo. Tapi sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangan keduanya, ia berkata,

"Cepat turun."

Ino menoleh kearah Hideo yang masih membuang mukanya.

"Ayo!" Ino tersentak dengan ucapan Hideo yang tiba-tiba itu. Ia masih diam memperhatikan Hideo dan berharap bocah ini mengulang lagi ucapannya tadi. Siapa tau ia sedang berhalusinasi atau apa. Bukannya tadi Hideo menolak tapi kenapa tiba-tiba meng-iya-kan?

"Kenapa tidak jalan duluan? Kita akan pergi," lanjut Hideo sambil menatap lurus kedepan.

"Ah- I-Iya... Tapi aku akan menunggumu bersiap disini, tidak-" lagi-lagi ucapan Ino terpotong.

"Aku mandi kalau sudah sampai Kyoto saja," ucap Hideo kemudian setengah berlari ia meninggalkan Ino berdiri mematung di tengah kamarnya.

ooooo

Setelah semua keluarga Uchiha berkumpul termasuk Ino, mereka segera pergi meninggalkan Mansion. Fugaku, Mikoto, Sasuke dan Shisui dalam mobil yang sama sedangkan Ino berada di dalam mobil Itachi dan Hideo. Jangan bertanya kenapa susunannya seperti itu, siapa lagi kalau bukan Ibu Itachi yang mengaturnya. Mempererat hubungan, begitulah fikirnya.

Selama perjalanan hanya didominasi keheningan, tentunya Ino tidak begiru terganggu mengingat ia sudah beberapa kali mengalaminya. Rasanya benar-benar tidak mengasyikkan. Tapi lupakan tentang itu, karena ia sekarang sedang khawatir dengan keadaan Ayahnya. Sedari tadi ia hanya menundukkan kepala sambil menautkan kedua jemarinya. Berdoa pada Kami-sama agar selalu melindungi Ayahnya. Melihat hal itu Itachi sedikit kasian. Meskipun beberapa hari yang lalu sikap Itachi benar-benar kasar, tapi ia juga manusia yang memiliki sikap lembut tentunya.

Cukup lama perjalanan dari Tokyo-Kyoto, entah kenapa jalanan tadi sedikit macet. Mungkin karena perbaikan jalan utama jadi rombongan Uchiha harus memutar memilih jalan yang membutuhkan waktu lama, tapi setidaknya jalanan lebih sepi dan lancar tanpa ada kemacetan.

Mereka bertujuh sampai ke Kyoto sekitar pukul 7 malam segera mereka menuju rumah sakit dimana Ayah Ino dirawat, kecuali Sasuke dan Shisui. mereka berdua ditugaskan Fugaku untuk mencari hotel terdekat tempat mereka istirahat nanti.

Setelah mobil terparkir rapi, Ino segera melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Setengah berlari ia masuk tanpa mengiraukan Uchiha lainnya.

ooooo

Ino semakin mempercepat langkahnya setelah ia tau dimana ruangan Ayahnya dirawat. Langkahnya terhenti saat melihat Sakura duduk diam di kursi koridor rumah sakit.

"Sakura..." panggil Ino dengan suara lirih namun cukup terdengar diindera pendengaran Sakura.

"Ino!" pekik Sakura antara senang bisa bertemu dengan sahabatnya lagi atau sedih karena pertemuan ini bukan pada situasi yang biasanya, melainkan karena keadaan darurat dari Ayah sahabatnya itu.

"Semua akan baik-baik saja, tenanglah..." lanjut Sakura setelah ia berhasil menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya erat.

Tak lama kemudian rombongan Uchiha yang lain datang, lengkap dengan Sasuke dan Shisui, tapi kali ini Itachi yang tidak ada.

"Sebaiknya kau temui Ayahmu, nak!" ucap Fugaku dengan nada tegasnya.

"Untuk saat ini tidak bisa, Tou-san. Paman Inoichi masih dalam kondisi uhm... kritis, masih ada suster didalam yang terus memantau perkembangan Paman," Sakura sedikit memelankan ucapannya pada kata 'kritis'. Ia tidak mau sahabatnya terpuruk lebih dari apa yang ia lihat sekarang. Hanya sekedar memberitahu saja, hubungan Sakura dengan Keluarga Uchiha memang sudah sangat dekta, jadi tidak heran jika Sakura memnggil Fugaku dengan sebutan Tou-san.

"Kalau begitu, kita bisa istirahat sejenak di Hotal sampai ada kabar dari Rumah sakit kalau Inoichi-san bisa dijenguk. Bagaimana?" usul Fugaku melihat anggota keluarganya terlihat sedikit kelelahan berjam-jaam didalam mobil tadi.

"Biarkan aku yang menunggu disini," ucap Ino. Ia benar-benar tidak tenang jika nanti berada jauh dari tempat Ayahnya terbaring.

"Kau terlihat lelah, Ino-chan. Sebaiknya ikut Kaa-san istirahat saja, ya?" bujuk Mikoto melihat Ino sangat kelelahan. Sepertinya calon menantunya itu tidak tidur semalaman, terlihat dari mata sembab dan kantung mata disana.

"Tidak, Kaa-san. Aku baik-baik saja," Ino meyakinkan Mikoto dengan kondisinya. Ia bersumpah akan terus terjaga untuk Ayahnya.

"Hideo-kun bisa menemani disini, kan?" tanya Mikoto kepada cucu tersayangnya. Sementara yang ditanya hanya diam melihat neneknya sambil berkedip beberapa kali. Semenjak kejadian tadi dikamar, ketika ia harus melihat calon Ibu-nya itu menangis dan memohon membuat dirinya iba dan merasa tidak tega. Akhirnya ia memutuskan meng-iya-kan pertanyaan dari neneknya. Ia rasa menunggu disini bukan hal yang menyusahkan, lagipula ia membawa smartphone-nya untuk bermain game sambil duduk.

Fugaku, Mikoto, dan Shisui pergi meninggalkan Sasuke, Sakura, Ino dan juga Hideo. Mereka memutuskan istirahat sejenak di Hotel dan datang pagi hari untuk melihat kondisi Inoichi.

"Aku ikut menemanimu, Ino. Kau tidak perlu-" ucapan Sakura terpotong.

"Tidak, Dekorin, Sasuke-san datang kesini untuk melihatmu. Kau bisa dengannya. Aku baik-baik saja. Lagipula ada Hideo disini," ucap Ino dengan senyum samar di wajahnya. Sakura cukup heran dengan sahabatnya ini, disaat seperti ini ia masih saja memikirkan orang lain, padahal ia sendiri dalam kondisi buruk. Sungguh Sakura harus bersyukur mempunyai sahabat seperti Ino.

"Kau yakin?"

"Tentu saja, cepat pergi dan bersenang-senanglah!" seru Ino sambil mendorong pelan tubuh Sakura mendekat kearah Sasuke. ia tidak boleh egois meminta Sakura menemaninya terus. Sakura sudah sangat baik selama ia menghilang tanpa kabar di Tokyo.

Sakura dan Sasuke meninggalkan Ino tentunya sebelum itu mereka berterimakasih. Kini hanya tersisa Hideo dan Ino. Mereka duduk bersebelahan di kursi koridor, Hideo dengan smartphone-nya dan Ino diam tertunduk sambil berdoa. Cukup lama, sekitar 10 jam mereka dalam posisi seperti itu, kemudian seorang suster keluar dari kamar dimana Inoichi dirawat dan berkata dengan pelan,

"Tuan Inoichi sudah lebih stabil dan sudah bisa dijenguk," Namun tidak ada respon dari Ino membuat Hideo mengalihkan pandangannya kearah samping melihat calon Ibu barunya. Pantas saja tidak ada respon, ternyata calon Ibu baru-nya itu sedang tidur dengan posisi duduk dengan kepala yang tertunduk membuat beberapa helai rambut menutupi wajahnya.

"Terimakasih, suster. Aku akan menemui Paman segera," balas Hideo kepada suster tadi. Dan tidak lama setelah itu, suster meninggalkan mereka berdua.

Hideo bingung, harus membangunkan Ino atau tidak. Sepertinya Ino tampak sangat kelelahan. Jadi ia memutuskan masuk keruangan dan menghampiri ranjang dimana Ayah dari calon Ibu-nya itu terbaring lemah. Ia jadi teringat saat neneknya sakit dulu. Seharian penuh ia menemani nenek Mikoto dan sama sekali tidak mau pergi meskipun itu untuk makan atau tidur. Kemudian ia berinisiatif untuk menggenggam tangan Inoichi dan berkata,

"Cepat bangun, Kakek. Uhm... Ino...san... uhm..." Hideo bingung harus berkata apa, ia juga sedikit kaku saat menyebut nama Ino, ia harus menyebutnya dengan suffix –san, -nee atau bahkan Kaa-san. Baiklah, yang terakhir tidak perlu. Ia tidak mau punya ibu lagi. Dan tidak mau menyebut kata terkutuk itu. Oke, yang terakhir itu juga agak berlebihan,

"Kasihan, Ino-san terus... menangis," lanjut Hideo mash dengan nada ragu. Jangan tanya siapa yang mengajarinya seperti ini. Inisisatif ini tentunya berasal dari ide Pamannya, Sasuke. Pamannya itu bilang, 'kau harus berikan semangat pada orang yang sakit dengan cara menggenggam tangannya, dan katakan sesuatu' kurang lebih seperti itu.

Hideo sedikit tersentak saat genggamannya direspon oleh pemilik tangan yang lebih besar dari tangannya.

"Kau... siapa, nak? Kupikir tadi Putriku... tapi tidak mungkin ia memiliki tangan sekecil ini," ucap Inoichi dengan nada bicara khas seperti orang sehabis tidur lama dengan nada terlihat amat lelah.

"Uchiha Hideo. Kakek ingin bertemu dengan Ino-san? Aku akan panggilkan," Hideo berniat melepaskan genggaman tangan dan ingin pergi keluar untuk membangunkan Ino tapi tertahan oleh genggaman tangan yang lebih kuat dari Inoichi.

"Tidak perlu. Tidak banyak waktu..."

"Apa?" Hideo kebingungan dengan kalimat Inoichi yang terlihat menggantung itu. Ia masih berumur 7 tahun, jadi wajar jika tidak bisa menyimpulkan maksud dari ucapan kakek di depannya itu.

"Aku rasa kau anak yang baik dan sangat pintar. Apa kau bisa membantuku?" tanya Inoichi dengan pandangan mata yang cukup serius terarah pada kedua obsidian milik Hideo.

"Aku akan bantu jika aku bisa," jawab Hideo. Ia menunggu Inoichi melanjutkan ucapannya.

"Putriku... Dia sangat cantik, bukan? Dia juga baik dan sangat penurut. Ino tidak pernah sedikitpun membantah perkataanku ataupun Ibunya..." Hideo hanya diam namun ia terus mendengarkan dengan serius maksud dari ucapan Inoichi.

"Tapi... sungguh menyedihkan Ino harus kehilangan kebahagiaan. Ibunya meninggal karena kecelakaan. Sejak saat itu Ino kehilangan waktu bermainnya untuk melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya dilakukan oleh Istriku..." setelah mendengarkan penuturan dari Inoichi, hati Hideo sedikit bergetar, entah kenapa ia jadi sangat sangat sangat kasihan. Ia sempat berfikir kalau penilaiannya terhadap putri Yamanaka beberapa hari yang lalu salah.

"Terlebih kehidupan kami tidak semakin baik malah makin memburuk. Keadaan ekonomi dan juga kondisiku yang sakit-sakitan ini, membuat putriku semakin menderita..." Inoichi mulai meneteskan air mata. Ia merasa menjadi Ayah yang gagal. Gagal memberikan kebahagiaan pada putri satu-satunya.

"Dia sangat menderita... Aku gagal menjadi seorang Ayah yang baik..." Inoichi memejamkan matanya untuk menahan air mata yang semakin deras turun tanpa sanggup ia cegah.

"Tidak, Kek. Kakek tidak gagal, jangan salahkan diri sendiri, Kek! " Hideo berusaha menenangkan Inoichi. Ia jadi ingin menangis mendengar cerita seorang Ayah yang menganggap dirinya gagal. Dan terlebih lagi ia teringat Ayahnya yang bodoh. Sama sekali tidak merasa bersalah sudah membuat dirinya seperti ini. Tunggu?! Seperti ini bagaimana? Ia masih beruntung, bukan? Meskipun Ayahnya tidak memperhatikannya tapi masih ada Kakek-Nenek, Paman dan juga beberapa pelayan keluarga Uchiha yang menyayanginya. Dan lagi, ia tidak bermasalah dengan kebutuhan materi untuk membeli ini dan itu. Selama ini ia pikir ia-lah yang paling kurang beruntung dan kurang bahagia.

"Bisakah kau membuat Putriku terus tersenyum setelah aku pergi? Berjanjilah untuk menjaganya!" pinta Inoichi tiba-tiba membuat Hideo tersadar dari lamunanya. Ia menyeka air mata yang ternyata turun begitu saja tanpa ia sadari.

"Iya," jawab singkat Hideo. Entah kenapa dengan mudah ia meng-iya-kan permintaan Kakek yang baru saja ia kenal beberapa menit yang lalu.

Inoichi mengangkat tangan kiri yang terbebas dan mengarahkan jari kelingking sebagai isyarat 'pinky promise' terdengar kekanak-kanakan, tapi begitulah kenyataannya.

"Aku berjanji, akan membuat Ino-san tersenyum bagaimanapun caranya," Hideo tersenyum dengan jari kelingking keduanya yang saling bertautan. Itu menandakan Hideo sanggup dengan permintaan pria paruh baya yang akan menjadi kakeknya juga jika Ayahnya jadi menikah.

"Sekarang aku bisa tenang. Dan kau juga bisa keluar, pastikan kalau Putriku akan baik-baik saja. Ia diluar, kan?" tanya Inoichi setelah kedua kelingking mereka terpisah.

"Iya, aku akan keluar dan menjaganya untuk Kakek," jawab Hideo sambil melepas genggaman tangan keduannya dan setengah berlari ia keluar untuk melaksanakan tugas barunya, yaitu, menjaga Putri Yamanaka.

Langkahnya memelan setelah keluar dari ruang rawat dan perlahan menutup kembali pintu rapat-rapat. Kedua matanya sedikit berat, mengingat ia berjam-jam menatap layar smartphone-nya dan tidak tidur semalaman dan ini sudah pagi, tepatnya pukul 5 pagi. Hideo kembali memposisikan dirinya duduk disebelah Ino dan memperhatikan wajah Ino dibalik surai yang menjadi tirai alami yang menutupi paras ayu-nya.

"Masih tidur..." ucap Hideo pelan. Kemudian langkah kaki beberapa orang mengalihkan pandangannya. Ternyata Uchiha yang lain sudah datang kembali, dan kini bersama Ayahnya, Uchiha Itachi.

"Sudah kuduga. Ino-chan sangat kelelahan," ucap Mikoto melihat posisi tidur calon menantunya itu. Ia pastikan setelah ini pasti Ino akan mengalami keluhan di leher dan punggungnya. Mikoto mendekat dan berniat memperbaiki posisi tidur Ino. Tapi sebelum itu, Ino sudah tersadar dengan sedikit terkejut.

"Aku tertidur! Bagaimana Ayahku? Apa terjadi sesuatu?" Ino tampak kelabakan layaknya orang bingung. Niatnya ia ingin terus terjaga menunggu Ayahnya tersadar, tapi malah sebaliknya. Ia tertidur dengan sangat lelapnya.

Belum sempat ada yang menjawab pertanyaan Ino, terdengar bunyi alat medis yang asing ditelinga mereka semua yang hadir disana. Beberapa perawat dan dokter tiba-tiba berlari menghampiri mereka bertujuh. Dokter dan 3 perawat sudah masuk ke ruangan.

"Apa yang terjadi?!" teriak Ino panik, ia seharusnya sudah berada di dalam bersama dokter kalau saja tidak ada perawat yang menahannya.

"Nona, tunggu diluar saja. Biar kami menanganinya," ucap salah seorang perawat yang masih ada diluar menahan Ino didepan pintu rawat. Dan setelah itu pintu ruang rawat Inoichi benar benar tertutup rapat setelah perawat terakhir masuk kedalam.

"Ayah!" Teriak Ino dengan air mata yang sudah mulai turun dengan deras. Ia tidak peduli dengan teriakan kencang yang mengganggu orang lain di sini. Yang ia pikirkan hanya Ayahnya. Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Ayahnya, ini akan menjadi akhir dari senyumnya dan akhir dari perjuangannya selama ini.

Sekitar 10 menit berlalu Dokter keluar dan mendekat menghampiri semua keluarga Uchiha plus Ino yang berdiri dekat di depan Dokter untuk menunggu hasil pemeriksaan Ayahnya.

"Bagaimana dengan Ayahku?" tanya Ino panik. Firasatnya buruk saat melihat raut wajah dokter didepannya berubah, menunjukkan raut kesedihan disana.

"Maaf... Tuan Inoichi tidak berhasil diselamatkan. Kami permisi," setelah penjelasan singkat itu selesai, Dokter dan beberapa perawat pergi.

Mikoto menutup mulutnya menahan isakan dan Fugaku berada disebelah kiri untuk menenangkan istrinya. Sasuke masih dengan wajah stoic-nya. Dan Itachi? Tentu saja hanya diam seperti biasanya. Lalu Hideo? Ia sangat terkejut. Baru saja tadi, ia berbicara dengan Kakek barunya itu. Tapi sekarang? Kami-sama menjemputnya untuk dibawa ke surga.

"Dokter bodoh! Kenapa kau tidak bisa menyelamatkan Ayahku!" teriak Ino kesetanan. Ia tidak peduli dengan ucapannya. Ia sangat kecewa pada semua orang, hidupnya bahkan Kami-sama yang selama ini ia percaya. Tubuh Ino limbung dan hampir terjatuh kalau saja tidak ditahan oleh Shisui yang lebih sigap dibanding Itachi.

"Ino!" Pekik semua orang kecuali Fugaku, Itachi dan Hideo tentunya.

Dan benar... semua telah berakhir sekarang...

to be continue

Hufff... akhirnya bisa upload chapter selanjutnya. Phi rasa chapter ini penuh dorama jaman now ~ Mohon maaf jika tidak sesuai harapan T3T Maaf juga karena keterlambatan yang amat sangat sangat lambat #aih Keterlambatan ini karena Phi terpuruk selama berbulan-bulan #plak (oke ga ada yang peduli sama kamu Phi! ~)

Lagi-lagi ga bisa bikin ending chapter yang pas :") Maaf lagi *nangis bombay*

ai chan 19 wah... terimakasih buat Ai-san yang mau nunggui. Phi akan banyakin scene NaruIno-nya... tapi ntar masih ada dorama lain yang ga menyangkut chara Naruto ~

Sarahelizabahri terimakasih untuk dorongan semangat dari Sara-san ~ Phi akan semangat terun lanjutin! Dan berusaha untuk ga mengecewakan yah!

Terimakasih yang udah baca dan nungguin setiap chapter, Phi akan terus lanjutin cerita kalau memuaskan. Dan Phi tunggu Review yang bakalan jadi motivasi seterusnya ~