You and Me in One Story
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story by : PhiruFi
Rate : T
Cast : Ino. Y, Itachi. U, Naruto. U, Hideo (Oc), Sasuke. U, Sakura. H, Shisui. U
WARNING : OOC ( Maybe :3 ) , mainstream (?) , membosankan, Bahasa diksi EYD ( masih harus belajar XD ) , typo
Note : Karena banyak review yang menanyakan kepastian tentang pair, Phi akan jelaskan. Ini akan terlihat seperti mendongeng, maaf sebelumnya yah...
Jadi, sebenarnya awal terbentuk fanfic ini Phi mau jadiin ItachiIno, tapi karena banyak yang memilih NaruIno, jadi cerita akan sedikit dirombak. Tentunya ada beberapa cerita yang harus diselingi supaya dapet ending sesuai. Maka dari itu, scene NaruIno juga masih singkat dan jarang muncul. Sebisa mungkin Phi usahakan tidak akan mengecewakan. Karena Phi sudah tentukan endingnya.Phi bakal selesai-in ini dulu baru buat pair ItaIno buat reader yang kecewa. Tenang ya jangan demo Phi takut nanti ngilang lagi (Ga Xd bercanda kok).
Selamat membaca, kuharap kalian suka
ooooo
"Dokter bodoh! Kenapa kau tidak bisa menyelamatkan Ayahku!" teriak Ino kesetanan. Ia tidak peduli dengan ucapannya. Ia sangat kecewa pada semua orang, hidupnya bahkan Kami-sama yang selama ini ia percaya. Tubuh Ino limbung dan hampir terjatuh kalau saja tidak ditahan oleh Shisui yang lebih sigap dibanding Itachi.
"Ino!" Pekik semua orang kecuali Fugaku, Itachi dan Hideo tentunya.
Dan benar... semua telah berakhir sekarang...
'Ini tidak adil...' batin Ino sebelum dirinya tak sadarkan diri sepenuhnya.
"Aku akan bawa Ino-chan ke ruangan, biar Dokter bisa memeriksa kondisinya," ucap Shisui. Kemudian ia menggendong Ino dan membawanya ke salah satu ruangan untuk ditangani.
Ooooo
Ruang Rawat 110, 8 a.m
"Baka! Mereka akan mengubur Ayahku! Ayahku masih hidup! Lepaskan aku! Dia akan bangun! Dia tidak mati! Kalian semua bodoh! Lepas!"
Teriakan dari seorang gadis bersurai pirang itu terus terdengar di salah satu ruang rawat di rumah sakit. Yah... siapa lagi kalau bukan Ino. Ia baru saja kehilangan Ayahnya beberapa jam yang lalu. Setelah ia sadar dari pingsan, ia terus berteriak dan memberontok kalau saja tidak ditahan oleh Shisui. Tidak hanya Shisui yang berada diruangan itu, tapi juga Tsunade Senju yang menangani Ino, Mikoto, Itachi dan Hideo. Lalu kemana yang lain? Tentu saja mengurus keperluan untuk pemakaman Inoichi.
"Ino-chan..." Shisui mulai kesusahan terus menahan Ino sendirian. Ia memberi kode kepada Itachi untuk membantunya, tapi Itachi tetap diam dan memilih berdiri di samping Ibunya.
"Bagaimana keadaan Ino, Tsunade-san?" tanya Mikoto mulai cemas dengan keadaan calon menantunnya itu.
"Yah... Sepertinya Ino sangat terguncang. Dan mengalami depresi yang cukup... uhm... berat. Berikan Ino dukungan dan jangan menekan hal yang terlalu berat. Mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama agar kondisinya seperti semula. Dan jangan heran jika nanti emosinya mudah berubah," jawab Tsunade sambil menepuk pelan bahu Mikoto berusaha mengurangi kecemasan Nyonya besar Uchiha itu.
"Pindahkan saja gadis itu ke Rumah Sakit Jiwa," usul Itachi yang berujung tatapan tajam dari Ibunya.
"Ino butuh dukungan. jika dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa itu sama sekali tidak membantu," ucap Tsunade sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu meninggalkan ruang rawat Ino.
"Kami-sama..." Mikoto mendekat ke tempat dimana Ino terus memberontak. Ia berusaha meraih tubuh ringkih itu kedalam pelukannya dan membiarkan Shisui sedikit menyingkir untuk mengambil alih tubuh Ino.
"Tenanglah, Ino-chan," lanjut Mikoto setelah ia berhasil memeluk calon menantunya itu. Tidak sia-sia Mikoto berusaha memeluk Ino, karena Ino bisa lebih tenang dan memilih menenggelamkan wajahnya di bahu Mikoto dan menangis sejadi-jadinya.
Beberapa menit kemudian isakan Ino sudah mulai berhenti, namun ia masih menangis tanpa bersuara.
"Tou-san... dia akan bangun, ne Kaa-san?" Ino mulai menegakkan kepalanya dan menatap Mikoto dengan air mata yang terus mengalir.
"Inoichi-san akan bangun ketika bertemu dengan ibumu 'disana'. Inoichi-san akan lebih bahagia, Ino-chan. Sekarang, kau harus mengantar Ayahmu keperistirahatan terakhirnya," Mikoto perlahan mengusap air mata Ino dan memberikan senyuman kepadanya. Semoga saja dengan begitu Ino bisa paham.
"Tidak Tidak! Tou-san akan bangun sebentar lagi! Kaa-san tidak tau! Diamlah!" bentak Ino kepada Mikoto sambil mendorong tubuhnya dengan kasar. Hampir saja Mikoto terjatuh kalau tidak ada Itachi dibelakangnya yang siap menahan beban wanita paruh baya itu.
Melihat kejadian itu membuat Itachi geram. Setelah ia memastikan Ibunya baik-baik saja ia langsung mendekat kearah Ino dan mencekram kuat pergelangan tangannya.
"Diam dan tenanglah! Jika kau masih saja seperti ini, aku akan mengikat tangan ini!" ancam Itachi dengan tatapan tajam tepat terarah pada iris aquamarine milik Ino.
"Hiks..." Ino hanya terisak tanpa berusaha menarik paksa tangannya.
Sementara Hideo hanya bisa diam sambil melihat adegan tepat didepan matanya. Sebenarnya ia ingin sekali melakukan sesuatu, tapi apa yang bisa ia lakukan? Disisi lain, ia hanyalah bocah 7 tahun yang tidak mengerti sikap apapun yang sesuai dalam situasi seperti ini, tapi ia juga teringat dengan janjinya untuk membuat Putri tunggal Yamanaka itu terus tersenyum.
'Janji adalah hutang... yah!' batin Hideo.
"Tou-san, kau tidak ikut membantu Kakek?!" tanya Hideo dengan nada terdengar seperti berteriak. Bisa dibilang ia takut untuk berbicara lagi dengan Ayahnya itu.
"Hn?" respon singkat Itachi setelah melepas cengkraman kuat ditangan Ino. Tanpa berkata lagi, ia melangkahkan kakinya keluar ruangan. Sebenarnya ia sedikit heran, ia pikir putranya itu tidak mau berbicara dengannya lagi. Tapi ia tidak mau ambil pusing tentang itu.
"Paman Shisui dan Nenek juga, biar aku yang menemani Ino-san..." lanjut Hideo tapi kini nada bicaranya sudah normal. Mikoto sedikit terkejut dengan ucapan cucunya ini. Ada badai apa yang membuat cucunya menjadi 'lebih peduli'. Haruskah ia bersyukur atau malah khawatir. Terjadi perubahan sifat yang menurutnya cukup aneh.
"Kau yakin?" tanya Mikoto memastikan. Diliriknya sejenak kondisi Ino sudah mulai tenang.
"Tentu, Nek!"
"Kalau ada apa-apa, telepon Nenek atau Paman Shisui ne Hideo-kun," pesan Mikoto yang ditanggap dengan anggukan paham cucunya.
Mikoto dan Shisui memutuskan untuk meninggalkan Hideo dan Ino sendirian, mereka berdua pergi kepemakaman sesuai dengan perintah Fugaku melalui e-mail beberapa menit yang lalu. Kenapa Mikoto dengan tanpa khawatir membiarkan Ino bersama Hideo? Tentunya hal itu bukan tanpa alasan, siapa tau setelah ini Hideo mendukung rencananya untuk menikahkan putra sulungnya dengan putri Yamanaka itu. Demi kebaikan keduannya. Siapa tau Ino bisa membuat Itachi kembali menjadi pria yang lembut dan Hideo mempunyai sosok ibu yang lebih baik.
ooooo
Hideo mendekat dengan cukup ragu kearah Ino yang tengah duduk diatas ranjang rumah sakit dengan kepala yang tertunduk. Ia berhenti tepat disisi kanan dan meletakkan kedua tangan yang ia lipat di sisi ranjang yang kosong.
"Ino-san..." panggil Hideo. Dengan postur anak normal berumur 7 tahun, ia dapat dengan mudah melihat wajah Ino yang tertunduk. Diluar dugaan, Hideo pikir Ino masih menangis dalam diam, namun yang ia lihat adalah senyum samar diparas gadis itu.
"Ino-san tidak apa-apa, kan?" tanya Hideo dengan heran. Pandangan Ino semula tertuju kebawah kini teralih. Ia menoleh dan melihat Hideo.
"Tentu," jawab singkat Ino tak lupa dengan senyuman. Dan hal itu semakin membuat Hideo sedikit 'ketakutan'.
"Syukurlah," Hideo menghela nafas lega mendengar jawaban dari Ino walau sebenarnya ia khawatir.
CKLEK
Pintu ruangan terbuka menampakkan seorang pemuda dengan rambut jabrik. Siapalagi kalau bukan Uzumaki Naruto. Semalam sahabat pink-nya terus menelepon tapi sengaja tidak ia angkat. Dan saat Sakura mulai putus asa terus menghubungi tanpa jawaban, Sakura lebih memilih mengirim e-mail untuk mengabari kalau Paman Inoichi meninggal. Naruto segera melajukan mobilnya ke Kyoto. Menemui Ino Yamanaka, siapalagi.
Ino menoleh memastikan siapa yang datang sedangkan Hideo
"Ino-chan..." panggil Naruto sambil melangkahkan kakinya mendekat.
Pemakaman Kyoto, 9 a.m
'Telah terbaring dengan Tenang, Inoichi Yamanaka'
Dengan mempertimbangan beberapa alasan, seperti halnya kondisi Ino yang sedikit terganggu membuat Kepala keluarga Uchiha, yaitu Fugaku memutuskan pemakaman dilangsungkan tanpa kehadiran Ino sebagai putri dari mendiang Inoichi. Fugaku juga meminta untuk tidak memberitau tempat dimana Inoichi disemayamkan, tentu hanya sementara sampai Ino bisa menerima kenyataan bahwa Ayahnya sudah tidak ada.
"Sampai kapan kau akan menangis, Sakura?" tanya Sasuke mulai cemas dengan kekasihnya yang tidak berhenti menangis. Sebenarnya ia ingin berkata 'Hei, Inoichi-san bukan Ayahmu. Jadi berhentilah menangis!' tapi bukankah itu terdengar sangat tidak sopan?
"Paman Inoichi adalah ayah dari sahabatku, itu artinya ayahku juga, Sasuke-kun," ucap Sakura disela isak tangisnya.
"Lalu dimana Dobe?" bukannya menanggapi ucapan Sakura, Sasuke lebih memilih menanyakan sahabat jabriknya itu.
"Naruto sulit dihubungi sejak kemarin malam. Aku rasa masih di Tokyo. Mungkin dirumah sepupunya," Sakura menerka dimana keberadaan Sahabat berisiknya itu.
"Hn," respon singkat Sasuke. Sahabat duriannya itu benar-benar tidak bisa diandalkan disaat seperti ini.
"Aku sudah mengirim e-mail. Seharusnya Naruto sudah membacanya," Sakura mengusap airmatanya. Ia harus menahan tangisnya. Ia tidak boleh ikut sedih seperti sahabatnya.
Fugaku meneput bahu Sasuke dan Sakura bersamaan. Pria paruh baya itu mencoba memberi isyarat untuk keduanya untuk tidak bersedih, mungkin lebih tepatnya hanya Sakura yang terlihat menangis. Dan putra bungsunya itu juga tidak mungkin menangis.
"Sakura, kau harus kuat. Kau beri dukungan untuk Ino. Aku yakin kau yang paling paham," ucap Fugaku yang ditanggapi dengan anggukan Sakura.
Dari kejauhan Shisui, Mikoto dan Itachi terlihat berjalan menghampiri semua orang yang ada dipemakaman. Mikoto berhenti didekat suaminya. Tidak hanya Ino yang terguncang tapi Mikoto juga. Meskipun ia belum pernah berbicara dengan Inoichi.
"Bagaimana keadaan Ino? Apa dia baik-baik saja?" tanya Fugaku. Ia mencemaskan calon menantunya itu.
"Aku tidak sanggup mengatakannya. Tapi keadaannya kurang baik. Aku tidak tau lagi harus bagaimana," Mikoto menjawab dengan suara pelan. Ia menjadi semakin khawatir dan cemas mengingat kondisi Ino.
Fugaku sedikit tersentak, "lalu dengan siapa? Hideo? Bukankah itu menghawatirkan?"
Mikoto menepuk pundak Fugaku. Ia menenangkan suaminya yang terlihat cemas karena meninggalkan Ino dan Hideo. Hanya mereka berdua. Semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi.
"Tenanglah. Hideo cucu kita. Aku rasa Hideo mampu mengatasi masalahnya. Lagipula timing-nya tepat bukan? Semoga saja Hideo sedikit luluh dengan keputusan perjodohan ini," ucap Mikoto dengan seulas senyum hangatnya.
Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Fugaku percaya dengan ucapan Istrinya dan ia juga percaya dengan Hideo. Bocah itu mampu mengatasi persoalan dengan caranya sendiri meski umurnya masih terlalu muda.
Itachi hanya menjadi pendengar. Ia melihat kearah nissan yang bertuliskan Inoichi. Entah apa yang ia pikirkan.
Selesai dengan pemakaman, mereka segera kembali. Sasuke dan Sakura sudah mendapat izin untuk sedikit menikmati waktu bersama karena mereka jarang bertemu, meskipun awalnya tadi Sakura menolak karena mereka masih dalam suasana berduka. Tapi Mikoto kali ini yang memaksa. Sesekali tidak masalah lagipula Sasuke jarang sekali bertemu dengan kekasihnya itu. Ia harus mengerti kondisi putranya yang ia yakini sedang sangat merindukan kekasih merah muda-nya itu. Sedangkan Itachi dan Shisui pergi bersama, bisa dibilang Shisui menyeret Itachi. Sepertinya mereka berdua pergi ke Cafe. Dua sahabat itu biasanya menghabiskan waktu seharian di cafe setelah melalui waktu yang 'tidak mengenakkan'. Dan dua orang terakhir yaitu Mikoto dan Fugaku dalam perjalanan kembali ke rumah sakit. Mereka ingin melihat kondisi Ino.
Ruang Rawat 110, 11 a.m
Beberapa menit yang lalu Naruto baru sampai dan ia dengan sopan meminta Hideo untuk keluar sejenak. Ia ingin berbicara hanya berdua dengan Ino. Hideo hanya mengangguk dan menurut dengan permintaan paman Naruto, begitulah bocah Uchiha itu menyebutnya. Hanya sekedar memberitahu, Hideo pernah sekali bertemu dengan Naruto saat ia dan kakaknya pergi bersama. Jadi ia tidak perlu khawatir meninggalkan Ino hanya berdua saja. 'Semua teman, Sasuke-nii itu baik' begitu pikirnya.
Naruto menarik kursi dan duduk disamping ranjang dimana Ino terduduk dengan tatapan kosong. Sekitar 5 menit ia tidak bersuara dan memilih diam sejenak. Mengambil jeda untuk berbicara agar ia tidak salah langkah. Ia tidak mau Ino sulit dikendalikan. Beruntung ia bertemu dengan dokter Tsunade yang lebih sering ia sebut 'Tsunade baa-chan' memberitaunya tentang kondisi Ino.
Sedikit terkejut memang. Yang ia tau Ino bukanlah gadis yang rapuh meskipun ia tau juga bahwa Ino bukan sepenuhnya gadis yang kuat. Lebih tepatnya Ino adalah gadis dengan keahlian menyembunyikan perasaan. Sejak mereka bersahabat Ino tidak pernah menunjukan kesedihan walaupun masalah seberat apapun. Gadis pirang itu akan tetap tersenyum bahkan ia sendiri yang menghibur temannya agar tidak terlalu menghawatirkan kondisi pribadinya sendiri. Cukup aneh bukan? Masih ada orang yang mau tersiska terus-menerus dengan cara menyembunyikan perasaannya dan memilih memasang topeng tersenyumnya dihadapan orang lain. Tapi begitulah kenyataannya. Ino mulai menunjukkan kesedihan dan kekalutannya akhir-akhir ini setelah mereka lulus SMA.
"Hei " panggil Naruto. Pemuda jabrik itu tidak tau harus memulai pembicaraan seperti apa. Ia takut salah tapi ia tidak mau terus diselimuti keheningan semacam ini.
Ino yang merasa dipanggil hanya menoleh tanpa menyahut sekalipun. Ia menatap Naruto dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Naruto dengan cukup berhati-hati.
"Aku sadar. Ayahku sudah mati," bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Ino malah melontarkan kalimat kebenaran yang sedikit menyayat hati.
"Aku hanya tidak bisa memaafkan diriku karena tidak bisa membuatnya tersenyum disaat terakhirnya. Aku juga tidak ada disampingnya. Aku lengah," lanjut Ino. Tidak dengan air mata lagi. Sudah cukup lama ia menangis dan kini air matanya sudah mengering.
"Jangan salahkan dirimu. Ini semua sudah takdir dari Kami-sama. Bukankah kau percaya takdir? Kau sendiri yang bilang kalau kita tidak bisa mengubah takdir itu, meskipun dengan 1000 cara sekalipun. Itu kepercayaanmu bukan?" terang Naruto. Lagi-lagi ia harus berhati-hati dengan ucapannya.
"Ya, aku tau. Tapi tetap saja. Biarkan aku menghukum diriku sendiri sampai rasa sakit ini pergi," balas Ino sambil mengepalkan kedua tangannya. Kali ini selimut yang menjadi korban. Ia mencengkram erat, menahan emosi agar tidak kembali meluap.
Naruto hanya bisa diam. Ia membiarkan Ino sejenak dengan kekalutannya. Ia tidak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk menerima semua takdir yang diberika Tuhan. Ia sendiri pasti juga akan merasa sedih jika berada diposisi Ino sekarang.
Keheningan kembali mengelilingi mereka berdua sampai bunyi knop pintu terdengar dan menampakkan Fugaku, Mikoto dan Hideo.
"Naruto?" cukup kaget Mikoto melihat Naruto disana. Ia tidak pernah menyadari kalau calon menantu dan sahabat putranya itu saling mengenal.
Naruto refleks berdiri dan menghadap kearah pintu yang terbuka, "Paman dan Bibi. Maaf aku tidak mengabari kalian terlebih dahulu," ia sejenak membungkuk saat melontarkan kalimat maafnya.
"Tidak masalah. Bibi hanya sedikit kaget dan tidak menyangka kalau kalian saling mengenal. Atau jangan-jangan kalian berempat juga bersahabat?" ucap Mikoto menyimpulkan fakta yang ia lihat. Naruto hanya mengangguk meng-iyakan perkataan Mikoto.
Mikoto mendekat dan melihat kondisi Ino dari dekat. Ia tidak takut meskipun sebelumnya ia sempat didorong dan hampir terjatuh karena Ino.
"Kau sudah lebih baik? Kau harus tenang dan fokus dengan kondisimu agar segera pulih," ucap Mikoto sambil mengelus kepala Ino dengan pelan.
Sejenak Ino terdiam dan menikmati rasa nyaman karena elusan dikepalanya. Namun, ia mulai membuka mulut dan bersuara, "Maaf membuat kalian khawatir. Aku akan fokus pada diriku sendiri agar tidak menghambat acara pernikahan jika Kaa-san mengizinkan."
Kata-kata yang keluar dimulut Ino membuat empat orang diruangan itu terkejut. Terlebih untuk Naruto. Pemuda itu mencengkram jahitan samping celananya. Bahkan Mikoto yang mengharapkan pernikahan putra sulungnya itu tersentak. Ada perasaan senang karena Ino peduli dengan pernikahan yang ia susun, namun juga ada sedikit rasa heran dibenaknya. Bagaimana bisa disaat seperti ini Ino masih memikirkan pernikahannya?
Ino sendiri sengaja menyinggung kata 'pernikahan' lagi. Ia bermaksud untuk menegaskan bahwa ia tidak akan bisa bersama dengan Naruto setelah apa yang mereka berdua perbincangkan ditaman. Singkatnya, Ino berusaha menolak Naruto tanpa harus menjelaskan secara gamblang kepada pemuda jabrik itu.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Ino. Lagipula kau masih punya waktu satu bulan sebelum pernikahan," Mikoto tersenyum lega.
Naruto yang melihat dan mendengar adegan didepan matanya itu ingin sekali menutup telinga rapat-rapat. Atau ia ingin langsung pergi dari sini. Ia tidak tahan sekaligus ingin berteriak. Ino-nya bukan milik Uchiha Itachi. Melainkan miliknya. Kalau saja ia bisa mengulang waktu, ia akan terus memaksa membiayai operasi Inoichi kalau saja tidak diancam dengan kata-kata Ino sendiri.
Flashback
"Aku tidak peduli. Jika kau melangkah tanpa kehendakku, kau bukan temanku lagi. Dan aku tidak akan mau lagi bertemu dengan pria konyol sepertimu," ucap Ino kemudia ia tertawa. Meskipun ucapan Ino penuh dengan 'ancaman' tapi gadis itu masih saja menyelingi dengan gelak tawa. Seoalah ia kuat menahan beban ini sendirian.
"Tapi Ino" lagi-lagi Naruto tidak diberi waktu untuk membantah. Ino langsung membekap mulut Naruto.
"Tidak ada penolakan, Tuan Uzumaki. Perkataan seorang Yamanaka adalah mutlak," seulas senyum terpatri diparas cantiknya. Senyum yang membuat seorang Uzumaki tersihir untuk patuh dan tidak dapat mengelak.
End Flashback
Lamunan Naruto buyar saat Mikoto memanggil namanya dengan cukup keras.
"Apa kau mendengarku, Naruto?" tanya Mikoto keheranan dengan sikap Naruto. Ia hampir tidak mengenali sikap Naruto yang begitu tenang dan ditambah lagi sahabat putranya itu melamun. Tidak seperti biasanya. Seperti ada yang difikirkan, batinnya.
"Ah iya! Maaf... ," Bisa-bisanya ia melamun dan tidak menyadari kalau sedang diajak berbicara.
"Kau harus ikut mengiring Itachi saat pernikahan, ya..." ucap Mikoto mengulangi kalimat yang diacuhkan oleh Naruto.
Naruto hanya diam memperhatikan ekspresi Mikoto yang berubah keheranan dengan keheningan yang diciptakan Naruto. Fugaku juga ikut terheran. Ada sesuatu yang aneh disembunyikan Naruto. Ino yang terlebih dahulu menyadari mulai khawatir.
'Jangan konyol, Naruto!' batin Ino. Ia mempunyai firasat buruk dari semua ini. Ia semakin was-was saat perlahan mulut Naruto terbuka.
"Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi...,"
To be continue
Yosh! Akhirnya update... maaf sebelumnya Phi menghilang selama setahun. Ada beberapa masalah dan karena Phi disibukkan dengan pekerjaan. Aku harap chapter 6 ini tidak mengecewakan yah...
Terimakasih untuk reader yang sudah mau menunggu dan review tentang apa saja plus minus dari apa yang Phi tulis. Phi akan terus berusaha! Ganbaaaaa! See you next Chapter! ~
