You and Me in One Story
Chapter: 7
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Story by: Phiru Fi
Rate: T- semi M (untuk konflik)
Cast: Ino. Y, itachi. U, Naruto. U, Sasuke. U, Sakura. H, Hideo. U (OC)
WARNING: OOC, Mainstream, Membosankan, Bahasa diksi EYD, TYPO
Author Note: Maaf sebelumnya karena keterlambatan 1 tahun lebih. Pertama, Phi ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya untuk reader yang setia menunggu dan selalu memberikan CC positif untuk cerita ini. Semoga kedepannya Phi bisa makin semangat melanjutkan fanfic ini sampai tamat.
Selamat membaca~
ooooo
"Kau harus ikut mengiring Itachi saat pernikahan, ya..." ucap Mikoto mengulangi kalimat yang diacuhkan oleh Naruto.
Naruto hanya diam memperhatikan ekspresi Mikoto yang berubah keheranan dengan keheningan yang diciptakan Naruto. Fugaku juga ikut terheran. Ada sesuatu yang aneh disembunyikan Naruto. Ino yang terlebih dahulu menyadari mulai khawatir.
'Jangan konyol, Naruto!' batin Ino. Ia mempunyai firasat buruk dari semua ini. Ia semakin was-was saat perlahan mulut Naruto terbuka.
"Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi...,"
Ucapan Naruto membuat semua penghuni ruangan terkejut, terlebih Mikoto. Wanita paruh baya itu amat terkejut dengan perkataan Naruto. Apa calon menantunya itu berhubungan dengan Naruto sebelum bertemu dengan Putranya. Jika memang benar dugaannya, itu artinya ia sangat jahat memisahkan mereka berdua. Itu hanya dugaan, Mikoto berusaha untuk berfikir jernih dan menganggap ini semua hanya salah dengar.
"Pasti aku salah dengar. Bisa kau ulangi lagi Naruto?" Tanya Mikoto diselingi dengan tawa renyahnya.
Naruto menggaruk kepala bagian belakangnya, "Ah! Aku salah bicara Ba-san. Tapi besok aku harus kembali ke Kyoto mengurus keperluan untuk ke Amerika. Jadi kemungkinan aku tidak bisa datang ke pernikahan Itachi-nii."
"Sayang sekali, iya kan Anata?" Tanya Mikoto menyentuh lengan suaminya.
Fugaku tersenyum tipis, "Semoga urusanmu di Amerika berjalan baik." Sejujurnya Fugaku memilih tidak percaya. Semua penjelasan Naruto hanya sebuah dusta. Pemuda jabrik itu menyembunyikan sesuatu dengan calon menantunya. Fugaku ingin menanyakan lebih lanjut lagi, tapi ia tau hanya akan berujung sia-sia saja. Terkadang pemikiran anak muda sekarang sulit untuk dimengerti.
Naruto meng-iya-kan dan mengangguk. Setelah itu ia memilih pamit dengan alasannya tadi. Kembali ke Kyoto dan akan segera berangkat ke Amerika, begitu katanya.
Ino menatap punggung Naruto sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu yang kembali tertutup. Serasa ada duri kecil yang menancap didadanya. Sebenarnya apa yang bisa ia harapkan dari pernikahannya nanti? Seorang pria dengan umur yang terpaut jauh darinya, terlebih lagi ia tidak hanya menjadi seorang istri saja namun juga seorang ibu. Lalu apa yang bisa ia lakukan sekarang? Ia sudah 'menolak' Naruto meski tersirat dan pemuda itu memilih mundur —bisa dikatakan begitu. Apa ia sanggup memainkan peran barunya nanti diumur-nya yang belum genap 20 tahun. Beberapa bulan yang lalu ia mengatakan bahwa dirinya bukan putri kecil ayahnya, tapi sekarang ia merasa rapuh dan tak berdaya. Ayahnya benar, ia belum sanggup untuk melangkah lebih jauh dari ini.
Ino P.O.V
Apa aku tidak salah dengar? Amerika? Naruto tidak pernah membicarakan soal rencananya untuk keluar negri, tapi sekarang ia benar-benar ingin pergi meninggalkanku sendiri. Lagipula ini salahku, menolaknya dan memilih untuk melanjutkan pernikahan. Apa aku bisa menolak?
Tunggu! Bukankah baru kemarin malam Naruto mengatakan cinta kepadaku, tapi kenapa secepat ini dia memilih untuk mundur. Terdengar egois memang, jika aku meminta Naruto terus berasa disampingku, sementara diriku menikah dengan Pria lain. Naruto benar, bagaimanapun pilihan Naruto memanglah yang paling tepat. Pergi jika dirinya tidak diharapkan. Aku harus mengerti, tidak mudah bagi Naruto untuk terus mendukungnya sebagai sahabat setelah apa yang telah terjadi diantara aku dan dia.
Normal P.O.V
Kepergian Naruto disusul dengan Fugaku, Mikoto dan Hideo. Mereka memberikan waktu untuk Ino beristirahat setelah peristiwa menyedihkan yang ia alami. Tidur adalah hal yang ia butuhkan sekarang, kepalanya berat begitu juga dengan matanya. Ia memejamkan mata dan berharap semua ini hanya mimpi buruk meski ia tau bahwa tidaklah mungkin harapannya terjadi. Ia butuh waktu sendiri sekarang.
ooooo
Sudah genap satu minggu Ino tinggal di Rumah Sakit dan kini ia bisa kembali pulang. Ke Mansion Uchiha tentunya, ia tidak mempunyai tempat tinggal selain di kediaman Uchiha.
Meskipun masih pagi semua anggota keluarga di Mansion cukup disibukkan dengan acara pernikahan Putra Sulung Uchiha dengan Ino, kurang lebih 3 minggu dihitung dari sekarang. Sakura sementara ini diminta untuk tinggal disini dan ikut andil dalam persiapan pernikahan. Kini Sakura dan Ino tengah duduk di teras belakang dengan form wedding organizer paling mahal di Ibukota.
"Aku tidak menyangka Ino, kita akan menjadi saudara. Bukankah itu lucu?" Tanya Sakura, ia cukup antusias membolak-balikkan form itu.
"Bukankah sebelumnya kita memang saudara? Aku, Kau dan Naruto," Balas Ino, sebisa mungkin Ia terlihat bahagia karena Ia tau sahabat pink-nya ini akan curiga dengan isi hatinya sekarang.
Sakura berhenti melakukan aktivasinya tadi dan beralih menggenggam tangan Ino dan menatapnya.
"Bukan itu maksudku. Kau adalah kakak iparku, padahal umur kita sama. Dan kita akan menjadi sangat-sangat dekat," Seulas senyum terukir diwajah Sakura. Tampaknya disituasi seperti ini Sakura-lah yang paling senang. Mau tidak mau, Ino ikut tersenyum. Ia tidak bisa jika harus bersedih disaat Sahabat tercinta-nya itu bahagia.
"Ngomong-ngomong soal si Bodoh itu, aku bahkan tidak tau dia akan ke Amerika. Aku rasa itu hanya omong kosong. Aku tidak mengerti apa yang ada diotaknya," Ekspresi wajah senang Sakura berganti menjadi jengkel.
Ino menepuk pundak Sakura beberapa kali dengan perlahan. Tidak hanya dirinya seorang yang merasa sedih dnegan keputusan Naruto tapi Sakura juga.
"Itu pilihan Naruto. Sama seperti denganku, Aku bahkan melangkah lebih jauh dibanding kalian. Menikah—" Ucapan Ino terpotong karena Mikoto memanggilnya dari ruang makan. Ino beranjak bangun dan berniat meninggalkan Sakura sebelum sahabatnya itu menanyakan hal yang ia hindari untuk dijawab.
"Kau menyesal?" Tanya Sakura. Nada bicaranya menjadi serius.
Ino menggelengkan kepalanya dan menyakinkan Sakura dengan senyum manisnya.
"Apa yang aku sesali? Kau tau semua Uchiha itu sangat tampan dan sexy," Jawab Ino dengan memelankan suaranya.
"Bodoh!" Sakura hampir menarik kesal rambut pirang Ino kalau saja timing-nya tidak tepat. Ino berlari masuk dan menemui Mikoto yang memanggilnya tadi.
ooooo
Tidak hanya memanggil Ino, Mikoto juga memanggil Itachi. Wanita paruh baya itu menyuruh Itachi dan Ino pergi ke Butik langganan keluarga besarnya. Butik yang sama dengan tempat Itachi membelikan gaun pernikahan untuk Konan, mantan istrinya. Mikoto juga memesan mereka berdua pergi ke toko perhiasan, membeli cincin pernikahan.
Mereka berdua saling diam selama perjalanan. Tidak ada yang membuka percakapan. Ino sendiri lebih memilih diam dan menatap keluar kaca mobil hingga keduanya sampai di Butik.
"Berikan gaun paling mahal disini!" Perintah Itachi. Beberapa pelayan terlihat keheranan pasalnya yang mereka tau Uchiha Itachi sudah menikah dengan wanita anggun berambut biru 7 tahun yang lalu. Dan hari ini Uchiha sulung membawa gadis muda yang terlihat jauh dibawah usianya.
Beberapa pelayan mengeluarkan design gaun termahalnya. Semua kelewat mewah dan Ino merasa tidak cocok memakainya.
"Ini design terbaik kami. Anda bisa mencobanya satu persatu, Nona. Mari," Ino sempat menoleh kearah Itachi namun Pria dewasa itu malah sibuk bermain dengan ponselnya.
Ino berdiri di depan cermin besar. Ia memperhatikan dirinya yang sedang mengenakan model A-Line Dress berwarna Wisteria. Ino senang dengan gaun pilihannya tapi sebelum itu ia harus bertanya pada Itachi, calon mempelai pria.
"Uchiha-san..." panggil Ino. Ia berdiri didepan Itacho yang sedang duduk sedari tadi.
Itachi menegakkan kepalanya dan memperhatikan Ino tanpa ekpresi, seperti biasanya.
"Hn," Tak menjawab Itachi malah berdiri dan berjalan ke pintu keluar. Ino sedikit meringis melihat kelakuan Uchiha sulung itu. Jujur saja Ia malu. Siapa juga yang tidak malu, apalagi beberapa pelayan Butik memperhatikan mereka sedaritadi. Bisa jadi bahan gosip hangat, 'Calon pengantin wanita yang memprihatinkan'.
"Aku pesan gaun ini. Simpan untuk kami ya, dan tolong perbaiki pinggangnya, sedikit longgar dan membuatku kurang nyaman," pinta Ino.
"Dan Tuxedo yang aku pilih tadi," lanjutnya dan dibalas dengan anggukkan paham pelayan Butik.
Jangan salahkan Ino nantinya jika Itachi tidak menyukai Tuxedo pilihannya. Ino memilih setelan jas dan celana hitam dengan rompi dan dasi berwarna Westeria, senada dengan gaun pernikahannya tadi.
Ino segera menyusul Itachi. Tujuan selanjutnya adalah toko perhiasan. Memesan cincin pernikahan mereka. Ino tidak menyangka ia akan menikah diumur muda-nya.
ooooo
Ino melihat deretan perhiasan di etalase. Bermacam jenis dan bentuk, sangat indah.
"Kami pesan cincin emas 18 karat, paling mahal disini," ucap Itachi dengan nada sedikit angkuh.
Ino langsung menoleh dan buru-buru menolak, "Itu terlalu mahal, bisakah aku memilih design-nya?"
Itachi menatao heran Ino yang lebih pendek darinya. Apa yang gadis muda ini harapkan?
"Untuk apa? Pernikahan ini hanya formalitas dan keinginan Ibuku. Apa yang kau harapkan selain harta? Kau bisa menjualnya setelah acara pernikahan selesai," tanya Itachi. Lagi-lagi Ino dibuat meringis, ia melirik pelayan toko yang terkejut dengan pertanyaan Itachi.
ooooo
New York City, 11 P.M
Suara musik menggema dan lampu-lampu menyorot dengan terangnya. Sudah 5 gelas vodka yang dia teguk. Naruto memilih menghabiskan setiap malamnya di club. Bukan kebiasaannya, bahkan ini hal baru baginya. Dia juga bukan tipe Pemuda yang kuat dengan minuman beralkohol. Mau bagaimana lagi, dengan begini pikirannya bisa teralihkan dari seorang Yamanaka Ino, siapa lagi.
"Hei, Bung! Lupakan soal gadismu itu. Nikmati malam ini dengan wanita jalang saja. Sudah seminggu dan Kau hanya ditemani minuman-minuman ini. Ayolah! Kau kurang asik," ledek Kiba, pemuda yang ia kenal pertama kali setelah tiba di Amerika.
"Tch!" decak kesal Naruto. Dia tidak pernah menyesal mengenal Kiba walaupun pemuda itu sangat berandalan dan kacau.
"Terserah. Tapi bercinta akan membuatmu lupa gadis itu. Percayalah!" Kiba pergi meninggalkan Naruto duduk sendirian di meja counter bar.
'glek'
Naruto meneguk gelas vodka ke-6 nya. Kepalanya terasa sangat berat begitu pula dengan kedua matanya. Ia benar-benar lemah dalam urusan minuman beralkohol.
ooooo
Sorot cahaya matahari memasuki celah tirai terbuka, mengusik tidur seorang pemuda jabrik berwarna kuning. Naruto enggan membuka mata meskipun Dia merasa kurang nyaman karena silau. Naruto memperbaiki selimut tebalnya.
Tunggu sebentar! Selimut? Seingatnya, kemarin malam Dia berada di club dan mabuk. Lalu–?
"Hey, Babe! Sudah pagi lho, aku akan membuatkanmu sarapan..." suara seorang wanita dan kini jemari lentiknya menelusuri dadanya yang polos.
"Apa!?" Naruto terlonjak kaget. Dia bangun meski kepalanya masih terasa berat. Sepertinya Dia terkena hangover.
Naruto mengabaikan selimutnya jatuh dan membiarkan dadanya polos terekspos. Dia terkejut bukan main melihat seorang wanita dengan penampilan berantakan tidur seranjang dengannya.
"Jelaskan apa yang terjadi!" bentak Naruto. Dia tidak mengingat kejadian semalam setelah ia mabuk berat. Bagaimana bisa Dia sampai disini dan keadaannya tanpa pakaian dengan seorang wanita yang tidak ia kenal.
To be continue
Yosh! Akhirnya Phi bisa melanjutkan fanfic ini setelah vakum sekian lama. Sekali lagi Phi ucapkan banyak terimakasih kepada reader yang sabar menunggu. Maaf apabila banyak kekurangan di chapter 7 ini, dan untuk konflik-nya juga kurang greget. Jika ada banyak typo karena Phi nulisnya di ponsel, Phi minta maaf ya. Semoga reader selalu mendukung Phi untuk kedepannya.
zielavienaz96: makasih banyak sudah mau menunggu. Aku harap Zie cukup puas dengan chapter kelanjutan cerita Phi ya~
Kyudo Yl: maaf Kyu-san kalau Phi mengecewakan. Terimakasih untuk semangatnya!
Azure: aku harap Azure-san tidak kecewa. Maafkan Phi sebelumnya.
See you next chapter~
