You and Me in One Story
Chapter: 8
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Story by: Phiru Fi
Rate: M
Cast: Ino. Y, itachi. U, Naruto. U, Sasuke. U, Sakura. H, Hideo. U (OC), Shion
WARNING: OOC, Mainstream, Membosankan, Bahasa diksi EYD, TYPO
Author Note: Phi ganti rate-nya supaya aman jadi warning buat reader yang umurnya 18 tahun kebawah. Karena penggambaran scene dichapter ini dan berikutnya akan ada unsur dewasa.
Selamat membaca~
ooooo
"Jelaskan apa yang terjadi!" bentak Naruto. Dia tidak mengingat kejadian semalam setelah ia mabuk berat. Bagaimana bisa Dia sampai disini dan keadaannya tanpa pakaian dengan seorang wanita yang tidak ia kenal.
"Kau pria tampan namun kau menyebalkan," bukannya menjawab wanita itu turun dari ranjang dengan melilitkan selimut ditubuhnya. Refleks Naruto menutupi tubuh bagian bawahnya dengan bantal.
"Aku sudah melihatnya," Ia berjalan ke kamar mandi dan menutup pintunya. Sedetik kemudian terdengar bunyi gemericik air dari shower.
"Kusso!" umpat Naruto kesal, Dia memungut pakaian dan mengenakannya. Kemeja putih dan celana panjang yang ia kenakan semalam saat pergi ke club.
Hangover-nya serasa makin parah, apalagi saat Naruto memaksakan diri mengingat kejadian semalam. Dia memutuskan untuk keluar kamar berusaha mencari udara segar.
ooooo
Naruto memperhatikan kesekeliling, ini bukan apartemennya. Kini ia berasa didapur membuat segelas air dengan perasan lemon sebagai pereda hangover. Persetan jika semua tindakannya tidak sopan, toh orang yang membawanya kesini bisa dibilang lebih tidak sopan.
Naruto mengambil ponsel dan menghubungi teman barunya, Kiba. Dia rasa Kiba-lah yang bertanggungjawab atas semua ini. Teman mana yang tega membiarkannya 'diculik' oleh seorang wanita asing. Kiba sialan! Ingin sekali Naruto memukul wajah innocent-nya itu.
"Ya, Naruto? Kau sudah bangun?" tanya Kiba diseberang panggilan.
"Kau bodoh ya?! Apa yang kau pikirkan, meninggalkan temanmu yang mabuk diculik orang lain hah?!" Naruto naik pitam. Setelah kejadian ini mungkin Naruto menyesal berteman dengan Kiba. Jelas tanpa harus ditanya, Kiba membawa pengaruh buruk baginya.
"Hey Kawan, santai sedikit. Kau tidak diculik. Kau hanya bersenang-senang dengan temanku,"
"Bodoh! Berapa kali aku bilang aku tidak mau berurusan dengan hal buruk seperti ini! Bahkan aku belum genap 20 tahun!" balas Naruto masih dengan rasa kesal dikepalanya.
"Tapi cara ini ampuh kan? Kau melupakan gadis barbie-mu itu?"
'pip'
Percuma berdebat dengan Kiba, pemuda keras kepala dan susah diatur. Naruto memutuskan panggilannya, Dia melempar asal ponselnya keatas meja. Mengabaikan jika nanti ponselnya rusak. Ia tidak perduli.
"Berhenti marah-marah. Kau membuat mood-ku buruk setelah kejadian semalam," Wanita itu datang dengan setelan casualnya. Sweater peach dan hotpants.
"Berhenti membual. Kau mau menceritakan kejadian semalam atau aku akan pergi. Disini hanya membuang waktuku saja," Naruto menyenderkan tubuhnya di depan lemari es dengan tangan yang menyilang didada.
Naruto memperhatikan penampilan wanita didepannya itu. Mungkinkah mereka pernah bertemu atau ini baru kali pertamanya. Rambut pirang terang dan mata berwarna lavender, dari penampilannya Naruto menduga umurnya hampir sama dengan dirinya.
"Aku Shion. Dan setelah apa yang kita lakukan semalam, kau akan pergi begitu saja?" tanya Shion, wanita itu mendekat dan berdiri tepat didepan Naruto. Memberikan tatapan tajam seolah memberikan isyarat lawan bicaranya untuk tetap tinggal bersamanya.
"Lalu? Aku tidak memintamu. Aku tidak sadar!" Naruto meninggikan suaranya. Dia tidak pernah bertindak kasar di hadapan wanita. Tapi kali ini Dia sudah terlanjur kesal.
"Enak sekali ya, kau merusakku dan kini kau membuangku. Laki-laki sama saja. Semua seperti pengecut," ucap Shion. Ia menyeringai dengan tatapan tidak suka-nya.
"Kita menghabiskan malam yang menyenangkan, hanya kau dan aku. Kau mencium dan mulai merab—" terang Shion terhenti karena teriakan kekesalan Naruto.
"Geh!" Naruto melampiaskan kekesalan dengan menarik rambutnya sendiri.
"Dengar ini kesalahan! Aku tidak bermaksud melakukan apapun padamu. Kita bahkan tidak saling mengenal," lanjut Naruto. Dia berusaha memberi pengertian pada Shion bahwa semua ini hanya kesalahpahaman.
PLAK
Shion menampar dengan keras pipi kiri Naruto. Giliran Shion yang kesal sementata Naruto cukuo terkejut dengan tamparan yang mengakibatkan pipinya terasa panas.
"Kau memintaku menjelaskan dan sekarang kau bilang semua kesalahan?!" tanya Shion. Ia memeluk dan membenamkan wajah didada bidang Naruto. Terdengar isakan dari pemilik mata lavender itu.
Naruto tidak membalas pelukan itu, Dia hanya terdiam mematung seakan sebuah robot tanpa baterai.
"Jangan pergi, Naruto...,"
ooooo
Tokyo, 10 A.M
'hanya formalitas dan keinginan ibuku...'
Kalimat itu terus terngiang-ngiang dibenaknya. Meski Itachi mengucapkannya dengan ekspresi datar namun cukup menyakitkan baginya. Pernikahan yang seharusnya bahagia tapi berbeda dengan kondisinya sekarang. Ia harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya itu sama sekali tidak menyukainya.
Ino baru saja selesai memberikan design cincin pernikahan yang ia inginkan. Masih 5 hari ia harus menunggu cincinnya selesai. Cukup sederhana, hanya cincin emas putih 5 karat dengan ukiran inisial I dan I. Kebetulan sekali namanya sama inisial dengan Itachi. Ia cukup puas. Meskipun pernikahan ini hanya 'keterpaksaan' setidaknya ia bisa menikmati setiap momen persiapannya. Ino juga berprinsip untuk sekali menikah dan selamanya, bagaimanapun itu memang keinginan semua wanita.
BRUK
"Maaf..." ucap Ino. Karena terlalu asik dengan pikirannya sendiri, Ia sampai tidak memperhatikan jalan dan menabrak seorang wanita.
"Lain kali gunakan matamu. Cih! Kotor," Wanita itu mengusap kasar lengannya yang bersinggungan dengan Ino. Seolah ia merasa jijik bersentuhan.
Ino hanya tersenyum kaku. Sebenarnya ingin sekali ia menjambak rambut lavender itu.
'Tahan Ino, wanita itu lebih tua darimu. Ingat pesan Tou-san,' batin Ino.
Wanita itu melangkah dengan angkuh menjauh dari Ino yang tengah berdiri mematung. Menyebalkan!
"Wanita tua aneh, cantik juga tidak. Tapi sombong. Lihat rambut lavender dan mata kuning itu," Ino melontarkan kalimat kekesalannya disepanjang langkahnya menuju parkiran mobil Itachi.
ooooo
Di dalam mobil, Itachi menunggu Ino tanpa melakukan hal-hal berarti. Disituasi seperti ini, Dia teringat dengan mantan istrinya. Saat mereka memesan gaun dan juga cincin pernikahan.
-Flashback-
"Sayang, aku ingin gaun paling mahal dan mewah supaya semua mata tertuju padaku saat pernikahan kita nanti," pinta Konan sambil bergelayut manja memeluk lengan Itachi.
Mereka berdua memesan gaun dan tuxedo senada paling mahal dan mewah. Tidak boleh ada kecacatan di acara pernikahan mereka. Itachi ingin semua berjalan sesuai keinginan Konan. Mewah bak pernikahan Raja dan Ratu. Itachi tidak bisa berkata 'tidak' untuk Konan. Wanita yang sangat ia cintai.
"Cincin berlian ya, please..." Lagi-lagi Itachi tidak bisa berkata 'tidak' untuk Konan. Kekasih hati yang tengah mengandung anaknya.
Pernikahan Itachi memang dipercepat karena kondisi Konan yang tengah hamil. Tentunya dengan Itachi. Mereka sama-sama mencintai, begitu pikir Uchiha sulung itu. Namun kenyataannya, selama 4 tahun mereka lalui bersama hanya kepura-puraan saja yang terjadi. Pintar sekali Konan menyembunyikan perselingkuhannya dengan rekan kerja Itachi sendiri, Yahiko yang menduduki posisi COO di Uchiha Corporation. Selama kurang lebih 4 tahun, Itachi merasa dibodohi karena cintanya yang terlalu dalam. Namun begitu, Itachi tidak segera menceraikan Konan. Dia terlalu mendewakan wanita-nya itu meski semua kelicikan telah terkuak. Sampai akhirnya ditahun ke tujuh, Konan mengajukan gugatan dan meminta harta sebagai tuntutan di pengadilan.
"Berhenti mencintaiku. Aku ingin menikah dengan Yahiko. Dia adalah orang yang aku cintai selama 7 tahun ini dan kau hanyalah uangku, Itachi..."
-end flashback-
Itachi tersenyum miris mengingat pernikahannya yang tidak berjalan mulus seperti yang Dia kira. Itachi bahkan sempat mengira bahwa Hideo bukanlah putra-nya meski gen Uchiha 100% menurun padanya. Dia hanya terlanjur kecewa dan merasa ditipu meski kebodohannya juga ikut andil. Sejak saat itu Itachi tidak pernah memperhatikan Hideo dan memilih sibuk bekerja. Itachi tidak pernah meluangkan waktu-nya sedikitpun untuk Hideo. Sejak umur 4 tahun, orangtua dan adik laki-lakinya lah yang mengurus Hideo. Ayah yang buruk.
Itachi memijit pelipisnya. Ingatan pahit hanya menyebabkan luka semakin terbuka dan rasa sakit kembali menyeruak.
CLEK
Pintu depan mobil terbuka, siapa lagi kalau bukan Ino.
"Maaf lama, Uchiha-san. Ini struk tagihan," dengan ragu dan takut, Ino menyerahkan struk tagihan pemesanan cincin untuk mereka berdua.
Itachi menerima dan melihatnya tanpa berkomentar. Ia membuang struk di laci dasbor mobil. Segera ia nyalakan mobil dan melaju kembali ke Mansion.
"Wanita bodoh ini, apa yang ia inginkan?" batin Itachi.
ooooo
Sesuai yang dijanjikan waktu itu, Sasuke memberikan hadiah Action figure Zoids kesukaan Hideo.
"Paman, terimakasih!" Hideo langsung menerima hadiah itu dan membukanya.
Sasuke tersenyum tipis kelihat begitu senangnya Hideo mendapat pemberian dari dirinya. Baginya Hideo adalah alasannya untuk membuang uang tanpa ragu karena tujuan utamanya hanya ingin membuat bocah 7 tahun itu merasa bahagia, terlepas dari kesedihan atas perceraian kedua orangtuanya.
"Hideo-kun, bagaimana perasaanmu?" Tidak hanya ada Sasuke disana, melainkan kekasih Uchiha bungsu itu duduk disamping Hideo. Sakura mengelus rambut Hideo dengan sayang.
"Maksudnya?" tanya Hideo dengan polosnya. Dia berhenti membuka hadiah dari Sasuke dan beralih memperhatikan Sakura disampingnya.
"Soal Mama barumu, Mama Ino baik kan?" tanya Sakura dengan antusias.
Hideo melemparkan senyum tipis dan kembali sibuk dengan mainannya. Sakura yang tidak puas dengan jawaban Hideo hanya bisa tersenyum kecut. Ia tau, tidak mudah menerima orang lain sebagai Ibu baru. Tapi, baginya Ino orang yang kelewat baik. Siapa yang tidak suka dengan Sahabatnya itu, begitu pikirnya.
'Ino-nee baik...,' pikir Hideo.
ooooo
New York City, 8 A.M
"Pancake with chocolate sause, Scrambled egg and two cups cocacola," pesan Shion.
Setelah kejadian tadi pagi, Naruto berinisiatif mengajak Shion pergi sarapan diluar. Kelihatannya mood Shion sedikit membaik. Jika dipaksakan untuk menjelaskan bahwa semua adalah kesalahan itu tidak akan berujung percaya dan hanya memperburuk suasana hati Shion saja.
Mereka berdua menikmati sarapan seperti biasa hingga akhirnya Shion mengangkat kembali topik pembicaraan pagi itu.
"Kau akan bertanggungjawab kan?" tanya Shion dengan harap-harap cemas.
Naruto meneguk habis cocacola sebelum Dia menjawab pertanyaan Shion yang cukup berat baginya.
"Aku masih 18 tahun. Aku bahkan belum masuk kuliah, tidak punya pemasukan untuk mengurus hidu—"
"Tidak masalah. Aku akan menunggu. Semalam kita menikmatinya berdua, tanpa paksaan. Kau hanya tidak ingat," bantah Shion. Ia mengepalkan kedua tangannya diatas meja.
Naruto mengusap rambutnya dengan kasar. Rencana awalnya datang ke Amerika hanyalah untuk pergi jauh melupakan Ino. Agar Dia tidak terus-menerus mengingat gadis barbie-nya itu dan berencana menggagalkan pernikahannya dengan Pria Uchiha. Tapi sekarang, Dia malah dihadapkan dalam masalah lain yang sama sekali tidak pernah diduga sebelumnya.
"Aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku butuh waktu," Naruto segera beranjak dari duduknya. Dia memutuskan untuk kembali ke apartemen dan mengistirahatkan pikirannya dengan tenang.
"Shit!"umpat Shion.
ooooo
Naruto menelungkupkan kepalanya dibantal. Rasanya baru kemarin dia lulus dari sekolah dan sekarang apa bisa dibilang ini adalah masalah orang dewasa? Jika memang iya, ingin rasanya dia lari dari kenyataan. Kenyataan yang Dia perbuat sendiri dengan bodoh.
"Shit! Aku tidak ingat pernah melakukan itu!" teriak frustrasi Naruto.
Kring...kring...
Tanpa melihat nama panggilan, Naruto mengangkat panggilan itu.
"Hallo?"
"Baru seminggu di Amerika logat dan kebiasaanmu berubah, Naruto-Baka," ledek Sakura. Sahabat pink-nya itu menelepon.
"Oh, tidak juga. Ada apa?" tanya Naruto, Dia terlalu malas dan sedang tidak dalam mood yang baik meskipun sebenarnya Dia sedang merindukan sahabat-nya itu.
"Ada apa katamu? Sudah seminggu kau tidak menghubungi kami dan sekarang kau bilang seolah semua baik-baik saja?" Nada marah Sakura memaksa Naruto menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Pig, dengar tuh. Sahabatmu menyebalkan. Dia sangat sombong sekarang," terdengar Sakura sedang mengobrol dengan Ino.
"Mungkin Naruto sibuk, jangan ganggu Dia Dekorin!"
Tanpa sadar, Naruto tersenyum mendengar suara yang sangat Dia rindukan. Suara Ino terdengar menyejukkan dan membuat beban pikirannya sementara hilang.
"Naruto kapan kau pulang?" tanya Sakura.
Naruto tersadar dari lamunannya, "Aku baru seminggu disini dan Kau sudah merindukanku?" tanya balik Naruto. Kali ini Naruto benar-benar ingin kembali ke Jepang dan menghabiskan waktu bertiga.
"Naruto-kun..."
Ah! Suara Ino? Naruto seketika gelagapan, Dia belum siap untuk berbicara dengan Ino setelah keputusannya yang mendadak.
"Kau masih disana kan? Sakura terus marah-marah karena kau tidak meneleponnya. Kami... Mengkhawatirkanmu...,"
Hanya perasaan Naruto saja atau nada bicara Ino memang sedikit bergetar, terlihat seperti menahan tangis. Naruto hafal itu.
"Baiklah, mulai besok aku akan berkirim pesan untuk kalian. Aku baik disini. Jangan khawatir," jawab Naruto. Sedikit berbohong tidak masalah, Dia tidak mau memperburuk keadaan dengan mengatakan bahwa saat ini Dia berada dalam masalah bodoh karena ulahnya sendiri.
"Kau janji ya, bodoh!" teriak Sakura melengking dari panggilan.
"Iya. Sudah jam 10 malam kan disana? Sebaiknya kalian tidur, aku juga sedikit sibuk,"
"Baiklah. Kalau begitu kami tidur dulu. Bye, Naruto!"
Tut...tut...
Naruto menghela nafas setelah panggilan telepon terputus. Sedikit obrolan ringan dengan kedua sahabatnya cukup membuat otaknya sedikit rileks.
"Terimakasih, Sakura... Ino...,"
ooooo
Kicauan burung bersahut-sahutan dan sinar mentari menyinari dengan eloknya. Pagi hari seperti biasanya, Ino bangun lebih awal dibanding Sakura. Ia melirik sahabatnya itu masih terlelap dibalik selimut tebal. Selama Sakura menginap disini, mereka berdua memang tidur bersama.
Ino turun dari tempat tidur dan bergegas mandi. Selesai dengan rutinitas-nya menyegarkan diri, Ia keluar kamarnya. Pagi ini Ia akan membantu menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Uchiha.
"Selamat pagi, Ino-chan...," sapa Mikoto. Nyonya besar Uchiha memang sering bangun pagi dan ikut membantu beberapa pelayan memasak. Atau bisa juga dibilang, semua kendali menu makanan dan koki utama-nya adalah Mikoto.
"Selamat pagi, kaa-san...," balas Ino. Ino membiasakan diri untuk memanggi Mikoto dengan sebutan Ibu. Karena paksaan Mikoto juga, ia ingin lebih akrab dengan Ino.
Acara memasak sudah beres, satu-persatu anggota keluarga keluar dari kamarnya dengan setelan masing-masing. Tanpa dibangunkan memang semua sudah siap dengan kegiatannya masing-masing.
Hari ini, Sasuke dan Sakura berencana untuk berkencan. Menghabiskan waktu bersama yang sempat terhalang karena jarak mereka. Shisui dengan seragam polisinya, Satu-satunya Uchiha yang mengambil jalan karir diluar bisnis. Shisui lebih memilih menjadi anggota kepolisian dibanding mengurus perusahaan. Itachi dengan setelan jas-nya seperti biasa dan Hideo mengenakan seragam sekolah dasar yang menggemaskan. Sementara Fugaku dengan setelan casualnya, sejak Itachi mengambil alih perusahaan sepenuhnya, Fugaku tidak lagi menjabat sebagai CEO. Ia hanya terkadang datang untuk mengawasi dan memantau kinerja pegawai dan perubahan modal di Perusahaan.
Sudah menjadi etika dan kebiasaan keluarga Uchiha, sarapan dilakukan dengan tenang dan tidak ada obrolan sampai semua anggota selesai menghabiskan makanannya.
"Itachi-kun, tolong sekalian antar Hideo-kun ya," ucap Mikoto yang dibalas dengan anggukan Itachi.
Selesai dengan acara sarapan bersama, masing-masing pergi untuk melakukan aktivitasnya. Sesuai perintah sang Ibu hari ini Itachi yang mengantar Hideo.
ooooo
"Rapat hari ini selesai," Ucap Itachi menutup rapat siang ini. Dia melempar berkas keatas meja dengan asal. Cukup melelahkan dan setiap hari memang seperti itu.
Hari-harinya semakin berat saja, apalagi berita perceraiannya sudah terdengar media. Dan banyak paparazi menangkap fotonya bersama Ino waktu mereka membeli gaun pernikahan. Dia bukan aktor, namun semua berita menjadi asupan para wartawan dan reporter. Sepertinya, keluarga Uchiha memang mengambil peran penting di Jepang.
Itachi kembali ke ruangannya dan terdiam mematung melihat siapa yang duduk di sofa ruangannya.
"Um... Kaa-san menyuruhku datang kesini, menjemput Hideo bersama," ucap Ino ragu-ragu. Mikoto menyuruhnya datang ke perusahaan. Awalnya ia menolak dengan halus tapi tatapan harap Mikoto membuatnya tak tega.
Itachi melewati Ino tanpa meresponnya. Dia duduk dan kembali menyalakan laptopnya, mengecek beberapa e-mail pekerjaan yang masuk.
'Sombong! Menyebalkan! Ingin aku jambak rambut panjangnya itu!' batin Ino menjerit kesal.
Ino mengelus dadanya, berusaha meredam kekesalan dan rasa jengkel melihat tingkah acuh dari Itachi.
"Baiklah, kelihatannya Anda sibuk. Aku bisa menjemput Hideo sendiri," ucap Ino. Dan kali ini perhatian Itachi tertuju kepadanya.
Tatapan Itachi seolah menilainya dari ujung kaki sampai kepala membuat Ino sedikit terganggu dan risih. Pria dewasa itu menutup laptopnya dan berjalan mendekat ketempat ia berdiri sekarang.
"Apa yang kau inginkan dari keluargaku?" tanya Itachi setelah dirinya sampai didepan Ino. Jarak mereka cukup dekat hingga membuat Ino sedikit mendongak untuk melihat wajah Itachi.
"Hah?" Ino kebingungan dengan pertanyaan Itachi.
Ino
Hah? Apa maksud Pria ini menanyakan pertanyaan aneh padaku? Oh! Aku ingat. Apa Dia membahas yang kemarin itu? Bukankah aku tidak memesan cincin paling mahal? Dia pikir aku menginginkan hartanya. Demi Tuhan! Jika bisa memilih Aku tidak mau menikah diusia semuda ini, dan lagi aku tidak hanya menjadi istri tapi juga seorang ibu!. Kalau bukan karena Ibu-mu ya Tuan, aku tidak akan menyanggupi pernikahan ini.
Normal P.O.V
"Gadis kecil sepertimu, bukan seleraku," Itachi menyeringai dengan angkuh.
'Apanya yang gadis kecil? Dasar Pria tua! Siapa juga yang mau menikah denganmu. Iya semua orang tau kalau kau tampan dan sexy, tapi mulutmu itu pedas dan menyebalkan," batin Ino kesal. Beruntung saja Ino masih menjaga etikanya dengan baik. Bisa saja karena kesal Ia memilih menjambak rambut hitan Itachi.
"Dengar ya Tuan! Aku diam bukan berarti Anda bisa seenaknya. Aku menghargai Ibumu seperti Ibuku sendiri," kesabaran Ino hampir menipis.
Itachi menyeringai. Dia bisa saja tertawa terbahak melihat ekspresi kekesalan Ino. Tanpa diduga, Itachi menghapus jarak keduanya, Dia melingkarkan tangan kirinya dipinggang ramping Ino. Tubuh keduanya saling menembel, tak hanya itu wajah mereka saling berdekatan hingga keduanya saling merasakan hembusan nafas.
"Uchiha-san... Bisakah kau lepas— kan ini...," Ino mendorong dada Itachi namun sia-sia. Jarak keduanya tidak berubah satu mili-pun. Semakin kuat Ino mendorong tubuh Itachi, semakin Itachi mendekapnya dengan erat.
Itachi dapat menghirup aroma citrus yang menyegarkan dari tubuh Ino. Itachi semakin mendekat dan kedua matanya tertuju kearah bibir peach Ino. Itachi memejamkan matanya dan mencium bibir ranum gadis di dekapannya. Awalnya dia hanya ingin menempelkan bibirnya saja, namun seketika Itachi merasa dibuat mabuk oleh sensasi yang belum pernah dia rasakan. Ciumannya dengan Ino jelas berbeda dengan Konan, mantan Istrinya.
Itachi meremas lembut pinggang Ino, dia kini memejamkan mata sambil melumat bibir Ino dengan hati-hati. Sementata itu, Ino terkejut dengan tindakan berani Itachi. Sampai-sampai Ia mematung dan tidak memberontak sedikitpun. Kinerja otaknya seolah memaksa gerak motoriknya untuk berhenti berfungsi. Ino memejamkan matanya dengan erat. Ia telah kehilangan ciuman pertamanya karena seorang Uchiha sulung, calon suaminya.
Ino mendorong dada Itachi dengan kuat, pasokan oksigen semakin menipis menuntutnya untuk mengakhiri pangutan. Itachi membuka matanya perlahan namun jarak keduanya tidak berubah. Itachi masih mendekap Ino dengan erat. Dia memperhatikan calon istrinya itu tengah memejamkan mata dengan erat. Rona kemerahan di pipi putihnya menambah kesan menggemaskan.
"Gadis kecil sepertimu buruk dalam hal ini," bisik Itachi ditelinga Ino. Dia bukan tipikal orang yang jahil tapi lain dengan kali ini. Sepertinya Itachi menikmatinya.
Ino membuka mata dan menatap kesal Itachi.
"B—Baka! Kita sudah terlambat!" Usaha Ino mendorong Itachi kali ini berbuahkan hasil. Itachi melepaskan dekapannya dan memberi jarak.
Kembali ke rencana awal, mereka berdua akan menjemput Hideo. Tidak ada yang emmulai pembicaraan setelah kejadian di kantor tadi. Ino diam bukan berarti melupakan. Jantungnya masih sama berdegup dengan cepat. Ia mengatur emosinya agar tidak terlihat salah tingkah didepan Itachi.
'Tenang Ino jangan diingat,' batinnya. Ia berharap segera kembali ke Mansion dan mengunci diri dikamar sampai degup jantungnya kembali stabil seolah tidak terjadi apapun. Ia tidak mau berada didekat Itachi. Tidak mau lagi!
ooooo
"Sejak makan malam tadi, aku tidak melihat Itachi-nii. Dimana dia? Dan kenapa kau bertingkah aneh sejak tadi, Pig?" tanya Sakura penuh kecurigaan.
Ino yang baru saja selesai mengeringkan rambut langsung mati gaya. Ia melihat ke cermin dan semburat merah muda menghiasi pipinya.
"Aku tidak tau. Dia langsung pergi saja setelah mengantar kami pulang," jawab Ino sebisa mungkin terdengar seperti biasa.
"Lalu bagaimana kencanmu tadi?" tanya balik Ino. Mengalihkan topik pembicaraan lain sepertinya menjadi cara yang ampuh untuk melupakan ciumannya dengan Itachi siang tadi.
Dua sahabat itu menghabiskan waktu sebelum tidurnya dengan bercerita. Sakura tidak habis-habisnya merona karena malu bercampur bahagia setelah pergi kencan dengan Sasuke.
ooooo
Hidan menepuk lengan Itachi dengan keras.
"Hwahahah...," Pria berambut abu-abu itu tertawa terbahak-bahak. Itachi mendengus saat merasakan nyeri di lengannya akibat pukulan teman semasa SMA-nya itu.
Mereka berada di sebuat club malam. Tidak hanya mereka berdua, ada beberapa teman semasa sekolahnya. Semacam reuni kecil-kecilan untuk menghilangkan stress sewaktu kerja.
"Jadi, kau melalukan apa yang dikatakan Hidan?" tanya Deidara, pria berambut kuning cerah. Itachi hanya mengangguk lalu ia meneguk segelas wiski.
"Menurutku kau gila, sih," Sasori menuangkan wiski ke gelas milik Itachi dan miliknya yang sudah kosong.
"Hei! Yang aku katakan itu ada benarnya. Itachi tidak akan rugi menikah dengan gadis muda. Gadis bodoh itu mendapatkan harta sedangkan Itachi puas dengan seks. Kapan lagi kau bisa mendapatkan seks dari gadis dibawah umur," Hidan menambahi usulan gilanya.
Deidara memukul lengan Hidan dengan keras, "Kau umat yang taat sekaligus orang gila! Bagaimana bisa kau mengusulkan hal bodoh itu," Nada bicara Deidara menjadi keras. Teman bodohnya berusaha membodohi temannya yang jenius, namun sekarang bisa dibilang bodoh juga.
Hidan mengaduh namun sedetik kemudian dia tertawa.
"Tadi kau sudah menciumnya, besok kau harus mencicipi seks dengan gadis itu. Siapa yang akan menolakmu, heh Itachi? Aku bertaruh 300.000 yen, kau berapa Deidara?" tanya Hidan.
Deidara hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Itachi tidak merespon, dia memilih meneguk wiski digelasnya. Begitu pula dengan teman mereka yang lainnya. Semua sudah terbiasa dengan kegilaan Hidan. Mereka melanjutkan minum-minum sampai malam semakin larut.
To be continue
Okay! Chapter 8 selesai. Lagi seneng-senengnya nulis nih. Jadi terkesan ngebut ehehe. Phi harap kalian udah mulai greget nih sama cerita kelanjutannya. Ada yang mau Phi ralat, Rambut Konan itu Lavender, bukan biru. Maaf ya readers.
zielavienaz96: tidur sama Shion (naruto the movie). Tunggu kelanjutannya yah~
Readers jangan lupa tinggalkan review ya. Akan sangat membantu memberi semangat bagi Phi biar update cepet setiap hari ahahaha~
See you next chapter~
