You and Me in One Story

Chapter: 9

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story by: PhiruFi

Rate: M

Cast: Ino. Y, Itachi. U, Hideo. U (OC), Naruto. U, Shion

WARNING: OOC, Mainstream, Membosankan, Bahasa diksi EYD, TYPO.

Author Note: Summary-nya diubah supaya lebih tergambar konfliknya walau secara simple. Maaf ya..., kalimat dalam tanda "..." italic adalah bagian dari flashback.

Selamat membaca~

ooooo

"Tadi kau sudah menciumnya, besok kau harus mencicipi,dengan gadis itu. Siapa yang akan menolakmu, heh Itachi? Aku bertaruh 300.000 yen, kau berapa Deidara?" tanya Hidan.

Deidara hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Itachi tidak merespon, dia memilih meneguk wiski digelasnya. Begitu pula dengan teman mereka yang lainnya. Semua sudah terbiasa dengan kegilaan Hidan. Mereka melanjutkan minum-minum sampai malam semakin larut.

ooooo

Setelah kejadian tak terduga di kantor waktu itu, Ino dan Itachi jarang bertemu meskipun keduanya berada di Mansion yang sama. Hari pernikahan yang semakin dekat membuat Itachi disibukkan dengan deadline laporan dan rapat yang bisa Ia lakukan sesegera mungkin agar Ia dapat mengambil cuti honeymoon. Bukan Itachi yang mengusulkan cuti itu, siapa lagi kalau bukan Mikoto.

"Kaa-san sudah memesan tiket dan hotel untuk kalian bulan madu. New Paltz adalah tempat yang cocok untuk kalian, New York!" ucap Mikoto. Mertua idaman, mulai dari menyiapkan pernikahan sampai dengan urusan honeymoon. Sungguh sangat disyukuri.

Sore ini, Ino duduk bersama dengan Mikoto. Mereka berdua menikmati waktu berdua sambil meminun secangkir teh hijau dan sepiring imagawayaki.

"Tak terasa, seminggu lagi Ino-chan akan menjadi menantuku," ucap Mikoto dengan senyum cantik meski umurnya sudah menginjak kepala lima.

Ino membalas senyuman Mikoto. Ia sangat beruntung bertemu dengan sosok seorang Ibu yang tidak dimilikinya sewaktu Ia beranjak remaja. Mengingat rasa syukurnya bisa saja membuatnya menangis. Ia merindukan Ibunya dan kini Kami-sama menghadirkan Mikoto sebagai obat dari rasa kesepiannya.

"Kaa-san... Boleh aku bertanya?" tanya Ino dengan ragu. Ia tidak mau menyinggung Mikoto sedikitpun.

Mikoto menoleh dan perhatiannya tertuju kepada Ino, lawan bicaranya.

"Tentu," jawab Mikoto. Sesuai harapan, Mikoto bukanlah Itachi yang pelit dalam urusan menjawab pertanyaan.

Ino meletakkan cangkirnya dan menghadap Mikoto, "Kenapa Kaa-san memintaku menikah dengan Uchiha-san? Bukankah banyak wanita di luar sana yang lebih pantas mendampingi Uchiha-san? Aku hanya gadis desa yang miskin bahkan pendidikanku hanya sampai menengah atas saja."

Mikoto terkejut dengan ucapan Ino. Sejujurnya Mikoto sedikit kecewa. Hari pernikahan tinggal sebentar lagi dan Ino melontarkan pertanyaan seolah gadis itu ragu dengan keputusannya. Mikoto juga sedikit merasa bersalah, karena paksaannya mungkin membuat Ino tertekan dan terpaksa menuruti permintaannya. Karena sebenarnya baik Mikoto atau Ino bisa saja mempunyai pilihan lain.

"Maaf Ino-chan. Sepertinya Kaa-san terlalu menekanmu dan—" Buru-buru Ino menyanggah dengan sopan.

"Kaa-san, bukan gitu. Maaf... Aku tidak sopan. Maksudku, Aku adalah orang asing. Apa Kaa-san tidak takut jika aku tidak sebaik yang Kaa-san pikirkan?" tanya Ino lagi.

Mikoto meraih tangan Ino. Ia menggengam dan mengelus punggung tangannya.

"Soal itu ya..." menurut Mikoto, ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan kebenaran yang selama ini Ia sembunyikan. Sebelum bercerita, Mikoto menuntun Ino ke kamar nya.

-flashback-

Setahun sekali keluarga besar Uchiha selalu mengadakan liburan, entah itu hanya ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Tujuan mereka kali ini adalah mengunjungi kuil Toji, salah satu tempat wisata di Kyoto.

"Kaa-san yakin dapat menyetir?" tanya Itachi dengan khawatir.

"Tentu! Hanya sampai kuil, kan? Itu tidak terlalu jauh. Daripada kalian harus menunggu," jawab Mikoto. Jarak penginapan dengan kuil tidak terlalu jauh. Jadi bukan masalah bagi Mikoto jika Ia harus menyetir sendiri.

Mikoto memilih berangkat sendirian sementara anggota keluarga yang lain berangkat bersama. Mikoto ingin bertemu dengan teman lamanya untuk melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Teman lama Mikoto datang menemuinya dan mereka berbincang-bincang di Cafe tak jauh dari kuil. Mikoto dan Kushina bersahabat sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar.

"Lama tidak bertemu, padahal banyak yang ingin aku ceritakan," ucap Kushina.

Mikoto menyesap teh hijaunya, "Mau bagaimana lagi. Kau sibuk di Kyoto dan aku di Tokyo. Kau tidak berencana untuk pindah?" tanya Mikoto.

"Oh itu... Aku dan Minato akan berangkat ke Amerika dan tinggal di sana untuk urusan bisnis," jawab Kushina.

"Eh? Secepat itu? Ah... Aku tidak tau harus sedih atau senang. Kita tidak bisa bertemu lagi," ucap Mikoto.

"Kita pasti akan berkunjung ke Jepang sesekali. Putraku tetap tinggal di sini. Naruto menolak ikut dengan kami, katanya tidak mau berpisah dengan sahabatnya. Lucu sekali, bukan?"

Mereka tertawa bersama dan menghabiskan momen langkanya itu. Sampai akhirnya mereka harus menyudahi obrolan dan Kushina pamit terlebih dahulu. Mikoto selesai membayar pesanannya dan segera menuju ke halaman depan di mana mobilnya terparkir. Ia masuk ke mobil Toyota Sienta berwarna putih dan menyalakannya.

Ping!

Sebuah pesan singkat masuk. Mikoto membuka ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan. Rupanya putra sulungnya, Itachi.

'Kaa-san dimana? Apa perlu aku jemput?'

Mikoto tersenyum saat membaca pesan dari putranya. Ah! Manis sekali. Mikoto mengetik balasan untuk Itachi agar tidak perlu mengkhawatirkannya. Ia meyakinkan putranya untuk tidak terlalu khawatir. Hanya beberapa kilometer saja untuk sampai di Kuil.

Mikoto memasukkan ponselnya kembali dan Ia langsung memundurkan mobilnya tanpa melihat ke arah spion mobil.

Brak!

Mikoto segera menginjak rem dan menoleh ke arah belakang. Ia sangat terkejut.

Duak!

'Aaa!'

Mikoto seolah membeku di tempat. Ia baru saja menerima kenyataan bahwa Ia telah menabrak seorang wanita dengan sepedanya. Dan belum sempat Mikoto menolong wanita itu, mobil lain yang lewat di jalan raya menabrak tubuh wanita itu hingga terpental sejauh satu meter. Mikoto ke luar dari mobilnya dan berlari menghampiri wanita yang terbaring lemah di tengah jalan.

"Maaf!" Mikoto duduk bersimpuh di samping wanita yang Ia tabrak tadi.

Kecelakaan itu membuat lalu lintas terhenti dan beberapa orang mengerumun. Mikoto tidak memperdulikan beberapa orang berbisik membicarakan dirinya yang adalah penyebab kecelakaan itu. Mobil lain yang menabrak wanita itupun sudah kabur entah kemana. Jadi saat ini pelaku utama adalah dirinya.

Mikoto menangis melihat kondisi wanita yang telah Ia tabrak. Wanita yang sepertinya seumuran dengannya. Dari darah yang mengalir dapat disimpulkan bahwa luka yang dialaminya sangatlah parah.

"Tolong..., putriku... Ini...," ucap wanita itu dengan susah payah. Ia menarik kalung yang Ia kenakan. Kalung liontin putih. Dengan tangannya yang penuh darah, Ia memberikannya kepada Mikoto. Mikoto menerima liontin itu tanpa memperdulikan tangannya kotor terkena darah. Ia membuka liontin berbentuk hati itu dan melihat potongan foto, sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang anak perempuan. Wanita yang Mikoto tabrak sudah memiliki keluarga seperti dirinya.

"Tolong! Bantu wanita ini, gendong dia ke mobilku, tolong! Antarkan kami ke rumah sakit! Aku akan bertanggung jawab!" teriak Mikoto. Beberapa orang membantu wanita itu dan salah satunya menyetir mobil untuk mengantarnya ke rumah sakit seperti apa yang dikatakan Mikoto.

Sesampainya di rumah sakit, Mikoto menangis dipelukan suaminya. Ia menceritakan semua kronologinya. Fugaku menepuk pelan bahu istrinya, Ia meminta istrinya untuk tenang. Beberapa menit yang lalu, Mikoto mencari tau siapa nama dari wanita yang Ia tabrak tadi. Rupanya seorang wanita berumur 38 tahun bernama Misaki. Dan wanita itu memiliki nama belakang Yamanaka. Ia memiliki seorang suami dan anak perempuan berumur 10 tahun. Bukan hal sulit bagi Mikoto untuk mencari tau informasi tentang orang lain. Ia seorang Uchiha dan tidak ada yang tidak mungkin.

Dari kejauhan, seorang pria dewasa datang menghampiri Mikoto dan Fugaku.

Mikoto langsung berdiri begitu juga dengan suaminya.

"Maafkan aku... Aku tidak sengaja menabraknya...," Mikoto tak henti menangis.

"Tolong tinggalkan kami, aku tidak ingin melihat kalian," ucap Inoichi. Pria dewasa itu amat sangat marah namun dengan sekuat tenaga Ia menahannya. Ia hanya ingin sendiri, dengan begitu Ia tidak perlu menahan kekesalannya.

"Tapi—"

Inoichi menggelengkan kepalanya pelan, rasanya tidak perlu ada perbincangan lagi di antara keduanya. Tidak perlu. Ia tidak ingin memperparah keadaan, karena yang terpenting saat ini hanyalah doa agar Kami-sama menyelamatkan nyawa Istrinya.

Fugaku membungkukkan badannya sejenak dan Ia merangkul istrinya untuk meninggalkan Inoichi. Fugaku tidak bisa memaksakan Inoichi untuk membicarakan penyelesaian masalah ini.

-end flashback-

Ino menundukkan kepala dan mengepalkan kedua tangannya. Kenyataan ini teramat sangat menyakitkan untuk didengar. Sosok yang sudah Ia anggap seperti Ibunya sendiri adalah penyebab kematian Ibu kandungnya.

Waktu itu, Ino sangat ingat di mana Ibunya pamit untuk mengantarkan bunga ke langganannya. Dan sebelum berangkat, Ibunya berjanji akan membawakan hadiah ulang tahun untuknya. Namun, kenyataan berkata lain Ayahnya pulang dengan raut wajah sedih dan memberikan kabar bahwa Ibunya meninggal saat perjalanan pulang. Tidak ada lagi ucapan ulang tahun untuk hari esok tepat di tanggal kelahirannya, tidak ada pelukan dan tidak ada canda tawa. Semua telah hilang.

"Maaf... Aku seharusnya bertanggung jawab, aku salah...," Mikoto mulai menangis, Ia menyesali kecerobohannya.

Mikoto bangun dari duduknya dan berjalan ke arah almari kayu. Ia membuka laci dan mengambil kotak kayu berukuran kecil. Mikoto kembali menghampiri Ino dan duduk di sampingnya.

"Ini... Hadiah dari Ibumu," Mikoto menyerahkan kalung liontin kepada Ino.

Ino menerima kalung itu. Ia tak dapat menahan tangisnya lagi. Hadiah ulang tahun yang seharusnya Ia terima di saat berumur 10 tahun. Ino membuka liontin itu dan melihat sebuah foto keluarganya. Ada Ayah, Ibu dan Ino kecil tersenyum bahagia.

"Arigatou...," Ino tersenyum miris. Meski hampir 8 tahun, namun Ia masih saja merasa selemah ini mengingat kematian Ibunya. Apalagi kini Ayahnya juga telah tiada, namun ada keyakinan yang Ia percaya bahwa Ayah dan Ibu sudah tersenyum di surga. Mereka berdua kembali dipertemukan dengan cara lain, melalui maut.

"Jadi... Kaa-san memintaku menikah dengan Uchiha-san karena rasa bersalah, begitu? Kaa-san hanya kasihan kepadaku?" tanya Ino.

Mikoto buru-buru menggeleng, "Tidak, jangan salah paham! Kau gadis yang baik dan sangat cantik. Kebaikanmu... Sama seperti Ayahmu. Ayahmu tidak pernah mempermasalahkan kejadian waktu itu, seharusnya aku berada di penjara sekarang... Biarkan aku membalas kebaikan mereka dengan merawatmu, biarkan aku menebus semua kesalahan yang aku perbuat," terang Mikoto.

"Saat aku sadar bahwa kau adalah putri dari Misaki, aku berfikir dengan cara seperti ini aku bisa dekat denganmu. Meskipun alasan ini terdengar egois. Aku ingin merawatmu dan menjauhkan dirimu dari semua penderitaan. Karena semua penderitaan itu adalah salahku," Mikoto menangkupkan kedua tangan di wajahnya, Ia menangis.

Ino mengusap air matanya dan memeluk Mikoto. Sementara itu, Mikoto terkejut dan tangisnya terhenti.

"Kaa-san, maafkan aku...," Ino mengusap punggung Mikoto perlahan. Ino melakukan kesalahan terbesar di saat Ia membuat seorang Ibu menangis. Waktu itu bukanlah kesengajaan, semua adalah takdir. Siapa yang bisa menghindari kematian?

Ino tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Memang amat sakit harus kehilangan orang yang Ia sayang, namun Ia juga tidak boleh egois dengan menyesali atau menyalahkan calon mertuanya itu. Kebetulan saja, waktu itu sangatlah tidak tepat. Kejujuran Mikoto adalah suatu hal yang besar. Mengakui kesalahan dan mengambil resiko untuk dibenci atau dijauhi. Ino harus paham itu.

"Jangan menangis. Kau adalah Ibuku sekarang, aku akan berdosa jika membuat air mata Kaa-san jatuh dengan sia-sia," lanjut Ino.

"Keberanian Kaa-san mengatakan semua ini kepadaku, harusnya aku berterimakasih. Dengan begini tidak ada yang ditutupi lagi," Ino melepaskan pelukan dengan perlahan. Ia tersenyum tipis, dengan begitu Mikoto juga ikut tersenyum. Mereka tidak lagi menangis.

"Kaa-san, janji akan menyayangiku, kan?" tanya Ino.

"Tentu. Ino kau adalah anakku juga," jawab Mikoto.

Kebenaran yang menyakitkan tidak selalu berujung dengan kesedihan saja. Justru keduanya semakin di eratkan dengan ikatan dari kasih sayang.

ooooo

Siang ini adalah hari paling spesial dihidup Ino —seharusnya seperti itu. Hari pernikahannya dengan Uchiha Itachi. Tanggal 20 September, tiga hari sebelum hari ulang tahunnya.

Acara pernikahan diadakan di Mansion dengan mengundang beberapa tamu penting dan kerabat saja. Pernikahan tidak dibuka untuk umum, tidak boleh ada media yang meliput acaranya untuk menjaga privasi. Meski begitu, tetap saja banyak wartawan menunggu di gerbang depan dan beberapa polisi dikerahkan untuk menjaga ketertiban.

Mansion dihias dengan dekorasi perpaduan warna bunga wisteria dan alabaster. Pilihan Ino tentunya, Itachi sama sekali tidak menyumbangkan ide sedikitpun karena sejak awal Ia tidak tertarik dengan pernikahannya. Tidak masalah, meski pernikahan ini tidak diinginkan keduanya, Ino akan tetap menciptakan pernikahan impiannya. Tidak harus seperti negri dongeng, begini saja sudah cukup. Ia cukup puas dengan pilihan dekorasi, gaun dan cincin. Pernikahan adalah suci dan Ino berharap ini akan menjadi pernikahan pertama dan terakhirnya.

Ino memperhatikan penampilannya di depan cermin. Ia mengenakan gaun pernikahan model A-Line berwarna bunga wisteria yang sudah Ia pesan beberapa minggu lalu. Rambut panjangnya disanggul dengan rapi. Wajahnya tidak perlu dipoles dengan make up tebal, Ino lebih suka riasan natural. Lagipula Ia sudah cantik tanpa riasan sedikitpun.

"Ino kau luar biasa!" Sakura yang sejak tadi berdiri di samping Ino tidak henti-hentinya kagum dan memuji Ino.

"Ah! Aku jadi ingin menyusulmu menikah, andai Sasuke-kun sedikit peka...," Sakura memanyunkan bibirnya dan disambut dengan tawa Ino.

"Oh! Dekorin, Sasuke-san pasti akan segera melamarmu. Tenang saja," Ino menepuk bahu Sakura beberapa kali.

"Yah... Semoga saja, tapi kami juga masih sibuk melanjutkan pendidikan, sih. Ah! Kok malah bahas hubunganku. Bagaimana denganmu, Pig? Sudah siap menjadi nyonya Uchiha?" tanya Sakura.

Ino tersenyum tipis. Ia tidak tau harus menjawab seperti apa. Soal siap, tentu saja tidak. Tapi Ino tidak mungkin mengatakan sejujurnya.

"Tentu saja. Uchiha-san tidak terlalu buruk. Jadi, hidupku pasti akan seperti seorang ratu," jawab Ino asal.

Sakura tertawa terbahak-bahak hingga membuat Ino kebingungan.

"Apa yang salah?" tanya Ino bingung.

"Kau sebentar lagi jadi istrinya Itachi-nii, lho. Dan kau memanggilnya denganUchiha-san itu lucu, tau!" jawab Sakura.

"Biasakan memanggilnya Anata," goda Sakura. Ino hanya cemberut dan melipat kedua tangannya di dada.

Clek!

Pintu terbuka dan kedua sahabat itu menoleh. Fugaku berdiri di ambang pintu dengan setelan jas rapinya.

"Sudah waktunya, ayo segera keluar," ucap Fugaku dan dibalas dengan anggukan Ino.

'Ayah... Ibu... Hari ini aku akan menikah. Tolong doakan aku dari sana...," batin Ino. Sebelum keluar, Ia meraih kalung liontin pemberian Ibunya dan memakainya.

Rasanya gugup saat semua mata tertuju kepadanya. Ia berjalan sambil membawa buket bunga wisteria dan carnation ke arah dimana Itachi berdiri bersama dengan pendeta. Itachi mengenakan setelan tuxedo pilihannya. Oh! Jika saat ini Ino adalah fangirl maka Ia tidak segan untuk menjerit kegirangan. Penampilan Itachi semakin tampan dan terlihat lebih muda, mungkin orang lain tidak akan percaya jika pria ini sudah mempunyai seorang anak. Kalau saja mereka berdua menikah atas keinginan sendiri, maka hidup Ino akan sempurna. Mempunyai suami kaya, tampan dan terhormat. Impian semua wanita di dunia ini.

Itachi berdiri berhadapan dengan Ino. Itachi dengan ekspresi tegasnya dan Ino dengan ekspresi gugup yang tidak dapat ditutupi. Ino melirik ke arah tamu undangan, di barisan bangku paling depan di duduki oleh keluarga mempelai. Fugaku, Mikoto, Sasuke, Sakura, Shisui dan Hideo. Ino hampir melupakan keberadaan Hideo. Anak laki-laki itu tak kalah tampan, Ia mengenakan jas hitam dengan sapu tangan di saku berwarna sama dengan gaun pernikahannya. Oh! Manisnya! Melihat Hideo sebentar membuat rasa gugupnya sedikit berkurang.

Pendeta memulai acara pernikahan dengan pertanyaan peneguhan. Pendeta mengajukan beberapa pertanyaan kepada mempelai pria dan wanita dimaksudkan untuk mengetahui kesungguhan keduanya dalam pernikahan suci ini. Acara selanjutnya adalah pengucapan janji setia. Momen paling menegangkan dan sakral, di mana kedua manusia harus berjanji di hadapan Tuhan atas pernikahannya.

"Itachi-san, sekarang ucapkan janji pernikahan dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan," ucap Pendeta.

Itachi menarik kedua tangan Ino perlahan dan mengenggamnya. Ia sedikit meremas tangan mungil digenggamanya dan Ia menyeringai. Sementara itu, beberapa kali di dalam hati Ino berucap untuk tidak terlalu terbawa suasana. Ini hanya pernikahan paksaan bukan atas kehendak pribadi. Sejujurnya mereka telah berdosa di hadapan Tuhan.

"Aku, Uchiha Itachi mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, inilah janji setiaku yang tulus," ucap Itachi tanpa ragu namun ekspresi wajah pria itu membuat hati Ino terasa sakit. Tidak ada senyum tulus seperti apa yang dikatakannya barusan di hadapan Tuhan.

"Ino-san, sekarang ucapkan janji pernikahan dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan," ucap Pendeta. Kini adalah giliran Ino mengucap janji suci.

"Aku, Yamanaka Ino menerima engkau menjadi... suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai... selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk... saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, inilah janji setiaku yang tulus," ucap Ino dengan gugup, tidak selancar saat Itachi mengucapkan janjinya. Ino tersenyum samar.

'Maafkan aku, Kami-sama...,' batinIno.

Pendeta tersenyum, "kini kalian resmi menjadi suami-istri, janji yang kalian ucapkan adalah pengikat pernikahan sampai maut memisahkan."

"Silahkan...," Pendeta mempersilahkan kedua mempelai berciuman.

Itachi melangkah mendekat. Ia menempelkan bibirnya di bibir Ino, hanya beberapa detik saja. Itachi melepas ciumannya dan kembali memundurkan dirinya. Semburat merah muncul di kedua pipi Ino. Bukan pertama kalinya Ino berciuman dengan Itachi, namun rasanya tetap saja mendebarkan.

"Ino-nee! Selamat!" teriak Sakura. Ia sudah menangis bahagia sekarang.

Ino tertawa ringan, Ia sedikit merasa aneh dengan panggilan Sakura barusan. Sangat lucu, biasanya mereka memanggil dengan nama ejekan, pig—dekorin.

Fugaku dan Mikoto tersenyum ke arah Ino. Terlihat kebahagian di mata Mikoto, setidaknya pernikahan ini tidak terlalu sia-sia. Ada hati yang sangat mengharapkan pernikahan ini. Ino penasaran dengan Hideo sekarang, apakah anak itu sudah menerimanya atau belum. Ia memperhatikan Hideo. Anak itu tersenyum tipis dan saat Ino ingin membalasnya, Hideo membuang mukanya.Tanpa sadar Ino tersenyum lebar. Kebahagian orang di sekelilingnya memberikan sedikit kekuatan baginya. Kali ini, Ia belum mendapatkan kebahagian sejatinya, mungkin nanti. Ino harus bersabar.

Pernikahan ini adalah awal dari hidupnya yang sesungguhnya. Ia sudah menyandang marga baru yaitu Uchiha. Sanggupkah Ia memenuhi tugasnya sebagai seorang Istri sekaligus Ibu di umur mudanya sekarang?

"Lebih dekat lagi," ucap fotografer.

Acara pernikahan sudah selesai, kini tamu undangan bebas menyantap hidangan ataupun berfoto dengan mempelai. Sepertu sekarang, Itachi dan Ino berdiri canggung. Mikoto menyuruh Itachi mengabadikan momen penting melalui sebuah foto.

Ino bergeser lebih dekat sesuai arahan dari fotografer. Ia tidak mau orang lain bergosip soal hubungannya dengan Itachi. Biarkan hubungan yang tidak harmonis ini hanya Ino yang tau.

"Tiga... Dua... Satu...,"

Cekrek!

"Hideo-kun, ayo ikut berfoto dengan Ayah dan Ibumu," Mikoto menarik tangan cucunya untuk mendekat ke tengah-tengah Ino dan Itachi. Kehadiran Hideo sedikit membuat rasa canggung Ino menghilang. Mereka bertiga berfoto sesuai dengan arahan fotografer. Banyak foto yang mereka ambil dan satu-satunya yang menjadi favorit Ino adalah salah satu foto di mana Itachi tersenyum samar. Mereka berdiri sejajar dan Hideo berada di tengah. Ino meletakkan kedua tangannya di masing-masing pundak Hideo. Bukan foto romantis tapi Ino senang melihat senyum Itachi yang tanpa disengaja tertangkap kamera.

ooooo

Acara pernikahan selesai pukul sepuluh malam dan Itachi memutuskan membawa Ino dan Hideo ke rumah baru yang Ia beli jauh hari sebelum pernikahan. Ia tidak mungkin tetap tinggal bersama kedua orang tua sementara dirinya sudah memiliki keluarga baru. Awalnya cukup sulit bagi Itachi meminta izin kepada orang tuanya. Mikoto menolak namun Itachi tetap pandai dalam berdalih.

"Aku butuh privasi dengan keluarga baruku,"

Dan akhirnya dengan berat hati, Mikoto menyetujui pilihan Itachi. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi keduanya, salah satunya adalah setiap weekend wajib hukumnya bagi keluarga baru itu mengunjungi orang tuanya. Mereka harus menginap sehari di Mansion.

Itachi memarkirkan mobilnya di garasi. Rumah dua lantai dengan design modern. Tidak terlalu besar, namun cukup untuk ditinggali tiga orang. Mereka bertiga turun dari mobil. Itachi membuka bagasi dan mengeluarkan dua koper besar, satu miliknya dan satu lagi milik Ino. Mereka berdua masuk ke dalam rumah.

"Kamarmu ada di atas," ucap Itachi kepada Hideo. Hideo berlari ke atas sambil menggendong tas ransel besar berisi baju-bajunya.

Sementara Ino, Ia tertegun melihat design bagian dalam rumah. Ternyata selera Itachi sangat baik. Design interior dan beberapa perabotan rumah bahkan sangat sesuai dengan selera Ino. Itachi mempunyai kesamaan dengan dirinya, tidak terlalu menyukai barang-barang 'wah' dan glamor berlebihan. Minimalis seperti ini lebih menarik di matanya walau rumah ini dominan dengan warna hitam dan putih. Sangat identik dengan suaminya.

Itachi menarik kopernya meninggalkan Ino berdiri tertegun sendirian. Itachi masuk ke dalam kamar di lantai bawah.

"Eh? Kejam... Harusnya dia mempersilahkan aku masuk, bukan meninggalkanku, huft!" Ino memanyunkan bibirnya kesal.

"Kamarku?" tanya Ino, Ia melihat ke sekeliling. Sepertinya hanya ada dua kamar saja, satu di lantai atas dan satu lagi di lantai bawah. Jadi... Ia harus sekamar dengan Itachi, kan? Mereka sudah sah. Tapi... Rasanya masih canggung.

Ino menarik kopernya dan masuk ke kamar yang sama dengan Itachi. Langkahnya terhenti saat melihat Itachi tertidur dengan masih mengenakan tuxedo dan sepatunya. Sepertinya Itachi sangat kelelahan. Tidak salah lagi, selama hampir seminggu penuh Itachi selalu pulang larut. Banyak deadline dan rapat, Ino tau itu. Dan setelah menghadapi urusan pekerjaan, sekarang Ia harus berdiri selama 10 jam untuk menyapa para tamu yang datang di acara pernikahannya.

Ino meletakkan kopernya di sudut ruangan sama seperti yang dilakukan Itachi. Membereskan pakaiannya besok saja, Ia ingin segera mandi dan tidur. Selesai menghapus riasannya, Ino menyegarkan dirinya dengan mandi air dingin. Ino ke luar kamar mandi dengan mengenakan piyama berwarna ungu lavender.

Ino berkacak pinggang melihat posisi Itachi sama sekali tidak berubah dari sebelumnya.

"Dia tidur seperti orang pingsan saja," Ino melepaskan sepatu Itachi dengan perlahan agar tidak membangunkannya. Ia meletakkan sepasang sepatu itu di dekat pintu kamar. Selagi Itachi tidur, Ia bisa bersikap seleluasa mungkin dan tidak segugup biasanya. Ia melepaskan kancing rompi dan ikatan dasi agar Itachi bisa bernafas dengan bebas.

"Hah... Kasihan juga, tapi Dia banyak menyebalkannya," ucap Ino. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya. Akhirnya setelah sekian lama Ia bisa mengistirahatkan otot-otot kakinya.

"Oyasumi," Ino berbaring membelakangi Itachi dan mulai memejamkan matanya.

ooooo

New York City, 10 a.m

Naruto sedang berbaring di sofa dengan malas sambil membalas pesan dari Sakura. Ia baru saja menerima e-mail dari sahabatnya itu. Sebuah foto pernikahan Ino dengan Itachi. Hatinya serasa sesak, Ia tidak bisa melihat pemandangan seperti ini.

'Mereka serasi, kan?'

'Ya,' balas Naruto singkat. Ia menatap datar layar ponselnya.

'Harusnya kau ada di sini. Kita bisa berfoto bersama.'

'Kau tidak tidur, Sakura-chan? Sudah jam 11 di sana, kan?' Naruto berusaha mengalihkan pembicaraan.

'Ya, ini aku akan tidur, kok. Selamat malam.'

"Selamat malam, Sakura-chan...," Naruto meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Kenapa Ia tidak bisa membatalkan pernikahan orang yang Ia cintai? Harusnya yang ada di samping Ino saat ini adalah dirinya, bukan Uchiha Itachi. Kenapa Ia se-pengecut ini, memilih melarikan diri dan membiarkan pernikahan Ino terjadi.

"Sial!"

ooooo

Seperti sudah menjadi kebiasaan, Ino bangun tanpa alarm tepat pukul enam. Ia menggosok gigi dan mencuci mukanya. Hari ini, hari pertamanya dengan peran yang baru —seorang istri dan ibu. Ino ke luar kamar dengan hati-hati agar Itachi tidak terbangun, Ino juga tidak membuka tirai kamar agar cahaya tidak masuk dan memgusik tidur suaminya.

Ino sampai di dapur, Ia membuka kulkas dan terkejut karena isi kulkas penuh dengan sayur dan buah. Rupanya Itachi sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.

Ino menyiapkan alat untuk membuat sarapan pagi ini. Ia ingin memasak nasi, tamagoyaki dan roll kyabetsu. Ino sempat bertanya kepada Mikoto soal makanan kesukaan atau yang dihindari Itachi dan Hideo. Ternyata Itachi mempunyai kesukaan pada sayur kubis sedangkan Hideo suka dengan olahan telur. Itachi tidak mempunyai alergi terhadap makanan apapun, namun perlu diingat Hideo alergi dengan kacang.

Ino cukup menikmati perannya sejauh ini, sebelum Ia berhadapan langsung dengan Itachi. Ia menikmati acara memasaknya sampai sepasang tangan melingkari perutnya. Ia terlonjak kaget. Untung saja Ia tidak sampai memotong jarinya.

"Apa— Uchiha-san?" Ino menoleh dan melihat Itachi tengah menyandarkan dagu di pundak Ino.

"Kau melupakan tugasmu," ucap Itachi. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Ino dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya. Sepertinya wangi Ino adalah candu baginya.

"T—tugas apa?" tanya Ino sedikit tergagap. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia meletakkan pisaunya.

"Kau melupakan malam pertama kita," ucap Itachi dengan suara rendah. Ia berbicara tepat di telinga Ino. Ino mendengar ucapan Itachi sontak memerah. Itachi baru saja mengatakan hal yang memalukan.

"K—kau kan tidur duluan, jadi...," balas Ino, Ia tidak bisa mengatur rasa gugupnya.

"Ahahah...," Itachi tertawa dan melepaskan pelukannya dari Ino. Ino sendiri membalik badannya menghadap Itachi. Ia terlihat kebingungan, apa yang salah? Itachi tertawa?

"Kau bukan seleraku," seperti sebelumnya, tatapan Itachi datar dan dingin.

Ino mengernyitkan dahinya, "Kau mempermainkanku?"

Itachi tak menjawab. Ia lantas berbalik dan berniat meninggalkan Ino. Ino sendiri baru sadar, Itachi sudah berpakaian rapi. Yang benar saja, apa Itachi akan pergi bekerja di hari pertama setelah mereka menikah?

"Pernikahan ini terjadi karena keinginan ibuku, jika aku menyentuhmu, kau hanya pemuas nafsuku. Dan sebagai istri, kau tidak bisa menolaknya, bukan?" tanya Itachi. Ia menyeringai.

Ino mengepalkan kedua tangannya. Ia menahan amarah dan kesal. Rasanya sudah memuncak sampai di kepala.

"Kau tidak bisa seperti itu! Jangan seenaknya, kau pikir siapa dirimu?" bentak Ino dengan berani. Ia tidak memperdulikan etika saat ini. Yang ada di kepalanya adalah rasa kesal.

"Suamimu. Aku pergi, jaga rumah dengan baik. Jangan ceroboh!" Itachi berjalan ke luar rumah.

Ino menghentakkan kakinya dengan kesal, "Kenapa dengan dia? Dia pikir siapa? Menyebalkan! Uchiha, aku sangat membencimu!"

ooooo

"Selamat pagi, Uchiha-sama...," sapa salah seorang karyawan kantornya saat berpapasan dengannya.

"Loh... Itachi, kenapa berangkat ke kantor? Bukankah seharusnya kau mengambil cuti?" tanya Kisame, sahabat sekaligus tangan kanan Itachi.

"Tidak," jawab singkat Itachi.

"Kenapa? Istrimu bisa kesepian," mereka berdua berjalan masuk ke dalam lift menuju ruangan Itachi.

"Tidak," lagi-lagi Itachi menjawab dengan singkat dan acuh.

Kisame menggelengkan kepalanya. Ia sudah hafal dengan sikap Itachi. Terlalu kaku dan canggung.

Ting!

Pintu lift terbuka, mereka berjalan masuk ke ruangan pribadi Itachi.

"Kau serius? Istrimu cantik, dia bisa saja berselingkuh dengan orang lain. Sama seperti Konan. Kau mau itu terjadi lagi?" tanya Kisame. Ia penasaran dengan kehidupan pribadi Itachi setelah pernikahan keduanya berlangsung.

"Tidak,"

"Oh! Terserah kau saja," Kisame menyerah menanggapi sikap dingin Itachi.

Ia meletakkan berkas di meja kerja Itachi sebelum berbalik ke luar ruangan.

"Oh ya! Hidan menitipkan ini padamu. Katanya kau memerlukan ini saat pergi berlibur nanti," Kisame melemparkan bungkusan kecil dan Itachi berhasil menangkapnya.

Itachi melihat bungkusan itu sambil mengernyitkan dahinya.

"Aku pikir Hidan tidak perlu diladeni. Dia terlalu bodoh," Kisame pergi dari ruangan itu.

Itachi baru ingat, dua hari lagi Ia akan berangkat berlibur dengan Ino, tanpa Hideo tentunya. Perjalanan honeymoon sesuai keinginan ibunya.

-to be continued-

Okay! Maaf sangat terlambat karena aku terlalu fokus dengan fanfic yang satunya. Maaf ya kalau kalian kecewa. Next chapter bercerita tentang honeymoon ItaIno dan masalah Naruto yang semakin rumit. Ditunggu ya.. Ahahah...

Terimakasih untuk temen-temen yang mau setia nungguin cerita ini. Maaf apabila banyak kekurangan dan ketidakpuasan. Semoga kedepannya aku bisa memperbaiki semuanya.

Aku balas beberapa review di sini ya. Maaf jika ada yang terlewat.

Guest: wah.. Ada ItaIno shipper yah.. Ehehe.. Selamat menikmati cerita ya.. Terimakasih sudah mampir.

Yamanaka mei: semoga saja ya, Itachi bisa terketuk hatinya. Biar dia bisa melihat kebaikan Ino. Terimakasih sudah mampir. Maaf atas keterlambatannya.

Mei-chan: iya! Semoga mereka bisa saling mencintai! Terimakasih sudah mampir.

Jalapeno: terimakasih ya ka! Maaf atas keterlambatannya.

Kyudo Yl: di chapter ini ItaIno sudah menikah nih eheheh. Terimakasih ya sudah mampir!

Pokokya aku ucapkan banyak terimakasih untuk temen-temen yang setia menunggu kelanjutan cerita ini. Aku harap kalian senang dan cukup menikmatinya. Jangan bosan sama aku ya!

See you next chapter!