You and Me in One Story
Chapter: 10
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Story by: PhiruFi
Rate: M
Cast: Ino. Y, Itachi. U, Hideo. U (OC), Naruto. U, Shion
WARNING: Mature content (di bawah umur boleh pencet tombol close ya, ada adegan yang ga baik dibaca kalo masih di bawah umur), OOC, Mainstream, Membosankan, Bahasa diksi EYD, TYPO.
Author Note: Sebelumnya aku meminta maaf untuk kalian yang kecewa dengan cerita yang aku buat. Fanfic ini adalah fanfic pertama yang aku publish jadi, aku rasa banyak sekali kekurangan dan aku sadari itu. Aku tidak heran apabila kalian banyak sekali yang kecewa. Untuk itu, aku meminta maaf kepada kalian. Aku tidak memaksa kalian untuk terus mengikuti kelanjutan cerita ini, tapi untuk kalian yang selalu penasaran dan menunggu kelanjutannya aku sangat sangat sangat berterimakasih kepada teman-teman semua. Terimakasih juga untuk feedback teman-teman semua. Kedepannya aku akan belajar lebih baik di fanficku selanjutnya. Aku janji, akan terus belajar dan mengikis kekuranganku perlahan. Terimakasih, aku sangat menyayangi kalian!
(Maaf note-nya agak panjang. Aku harap kalian memaafkan. Terimakasih.)
Selamat membaca~
"Oh ya! Hidan menitipkan ini padamu. Katanya kau memerlukan ini saat pergi berlibur nanti," Kisame melemparkan bungkusan kecil dan Itachi berhasil menangkapnya.
Itachi melihat bungkusan itu sambil mengernyitkan dahinya.
"Aku pikir Hidan tidak perlu diladeni. Dia terlalu bodoh," Kisame pergi dari ruangan itu.
Itachi baru ingat, dua hari lagi Ia akan berangkat berlibur dengan Ino, tanpa Hideo tentunya. Perjalanan honeymoon sesuai keinginan ibunya.
ooooo
Setelah pekerjaan di kantornya selesai, Itachi tidak langsung pulang melainkan menerima ajakan minum-minum dari Hidan. Seperti kebiasaan barunya, Ia suka sekali minum bersama teman-temannya.
"Wah! Lihat siapa yang melepas status duda-nya ahahah," Hidan tertawa namun Itachi tidak memperdulikannya. Mereka tidak hanya berdua, melainkan ada Deidara juga.
"Benda yang kau titipkan pada Kisame, untuk apa?" tanya Itachi, Ia duduk di sebelah Hidan dan menuangkan wiski ke gelasnya.
"Coba campurkan obat itu ke dalam minuman istrimu. Dan lihatlah apa yang akan terjadi, kau pasti senang," jawab Hidan.
Itachi menatap curiga, "Kau mencoba membunuh istriku?"
Hidan lantas tertawa kembali. Ia sampai menepuk perut beberapa kali saat tertawa.
"Oh ayolah... Itu hanya obat perangsang. Bukankah menyenangkan bisa menjahili anak gadis?" tanya Hidan.
Deidara yang kesal langsung memukul bahu Hidan dengan keras.
"BODOH! Jangan mengajari Itachi hal yang buruk!" bentak pria berambut kuning itu.
Hidan mengusap bekas pukulan yang terasa sedikit panas, "Bukankah Itachi tidak mencintai gadis itu, lalu kenapa? Atau jangan-jangan kau mulai jatuh cinta kepadanya?"
"Jangan gila," Itachi meminum wiski di gelas dengan sekali teguk.
"Kalau begitu buktikan, aku sudah bertaruh bukan? Rusak saja dia Itachi, mungkin saja gadis itu sama seperti Konan. Mereka hanya menginginkan uangmu saja," ujar Hidan dan tidak ditanggapi sama sekali oleh Itachi.
Itachi memasuki pekarangan rumahnya dan memarkirkan mobilnya di garasi. Ia turun dengan sedikit sempoyongan karena efek dari wiski yang Ia minum tadi.
"Ugh!" kepalanya sedikit terasa pusing.
Itachi membuka kunci pintu rumah dan memutar knopnya. Ia masuk dan menutup kembali pintu. Lampu rumah seharusnya sudah gelap mengingat ini sudah tengah malam, tapi kenapa masih menyala. Apa Ino belum tidur?
Langkah Itachi terhenti saat melihat Ino tertidur dengan posisi duduk di atas sofa. Itachi meraih remot TV dan berniat mematikannya, namun sebelum tangannya sampai, Ino terbangun dengan sedikit terkejut.
"Oh! Sudah pulang?" Ino segera berdiri dan berbalik menghadap Itachi.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Itachi. Ada sedikit perasaan hangat menyentuh hati Ino saat Itachi begitu peduli bertanya.
"Aku ingin menjadi istri yang baik, menunggu suami pulang," jawab Ino dengan seulas senyum.
Itachi mengernyitkan dahinya, "lalu?"
Ino berusaha melupakan kejadian tadi pagi dan ingin memulai hubungannya yang lebih baik, namun sekarang Itachi sama sekali tidak berubah. Ia sama sekali tidak mau membalas kebaikan Ino. Dulu saat Ino kecil, sering sekali melihat Ibunya menunggu Ayahnya pulang dari bekerja. Saat Ino kecil bertanya soal mengapa Ibu harus repot menunggu Ayah, Ibunya menjawab dengan senyum tulus.
'Seorang Suami akan merasa diperhatikan jika Istrinya rela menahan kantuk untuk menunggunya pulang. Suatu saat nanti kau akan mengerti setelah memiliki keluarga, Ino-chan...,'
Tapi yang Ino dapatkan sekarang adalah seorang suami yang tidak memperdulikan istrinya sedikitpun. Sekuat apapun Ino berusaha jika Itachi tidak berniat membuka hatinya maka hanya akan sia-sia saja. Haruskah Ino menyerah? Tapi bagaimana jika Ia menyerah? Semua kebahagiaannya tidak mungkin Ia dapatkan.
"Kau sudah makan? Aku akan panaskan sup-nya untukmu," Ino berniat menuju dapur namun Itachi menahan pergelangan tangannya.
"Aku sudah makan di luar," jawab Itachi.
"Oh..." hanya kata itu yang mampu terucap di bibir Ino. Sedikit kecewa karena Itachi lebih memilih makan malam di luar dibanding makan masakannya.
Itachi melepaskan pegangan dari pergelangan tangan Ino. Ia meninggalkan Ino sendirian di ruang tengah. Kepalanya pusing dan Itachi butuh tidur.
"Sia-sia..., apa sih sebenarnya yang aku harapkan?" tanya Ino pada dirinya sendiri. Ia tersenyum miris menyadari takdirnya yang begitu sial.
ooooo
Pagi keduanya sebagai Uchiha, Ino menyiapkan sarapan menu omelet untuk mereka bertiga.
"Selamat pagi, Hideo-kun!" sapa Ino. Ia meletakkan segelas susu vanilla untuk Hideo. Hideo membalas sapaan Ino dengan anggukan kepala. Ia merasa sangat canggung mempunyai Ibu baru, apalagi Ibu barunya ini lebih pantas jika dipanggil kakak.
"Masih libur, kan? Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" tanya Ino. Ia selesai membuat teh untuk Itachi dan dirinya.
Hideo tersenyum kaku, "Tidak usah. Aku mau bermain video games saja di rumah." Anak laki-laki itu duduk di kursinya.
Ino tersenyum dengan terpaksa karena penolakan Hideo barusan. Sepertinya memang sulit untuk diakui sebagai keluarga bagi Itachi ataupun Hideo. Mereka berdua seolah menyuruhnya menyerah dan menyudahi semua usaha kerasnya.
"Baiklah. Tidak masalah, kalau ada yang dibutuhkan, Hideo-kun bisa memanggilku. Tidak perlu memanggilku dengan sebutan Ibu. Apa saja, tidak masalah. Ahahaha...," Ino tertawa renyah berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
Itachi ke luar sama seperti hari sebelumnya, telah rapi dengan setelan jas kantornya.
"Uchiha-san, sarapan sudah siap...," ujar Ino.
Itachi duduk di kursi begitu pula dengan Ino. Mereka bertiga menyantap sarapan dengan tenang. Tidak ada obrolan sama sekali. Selesai dengan sarapan, Itachi segera berangkat ke kantor sedangkan Hideo kembali ke kamarnya untuk bermain games. Tinggal Ino seorang diri, mencuci piring bekas mereka sarapan tadi.
"Hah... Ternyata menikah itu membosankan," ucap Ino.
Dua hari ini terlihat begitu membosankan dan monoton. Tidak ada sesuatu yang spesial terlebih lagi besok adalah hari ulang tahunnya. Apa yang bisa Ia harapkan, paling juga tidak akan ada yang mengucapkan selamat kepadanya. Tapi setidaknya, Ia sedikit merasa senang karena besok Ia akan terbang ke New York untuk berlibur. Setelah sampai di sana, Ino bersumpah akan menikmati waktunya dan melupakan semua kesedihannya saat ini.
Sore hari, Ino selesai menyiram tanaman di pekarangan rumahnya. Ia duduk di kursi depan rumahnya. Ia seperti hidup seorang diri, tanpa keluarga ataupun teman. Suaminya saja terlihat seperti orang asing baginya.
"Lebih enak tinggal di rumah kecil bersama Ayah. Meski harus kesulitan makan sekalipun, setidaknya aku bisa bercerita banyak hal dengan Ayah. Ayah... Aku merindukanmu," ucap Ino. Ia mengamati cincin yang terpasang di jari manisnya. Cincin pernikahannya dengan Itachi.
"Uchiha-san sangat sulit untuk didekati, Ayah. Apa aku terlalu menyebalkan? Atau mungkin aku jelek. Tidak seperti mantan Istrinya. Oh! Bahkan aku sama sekali belum melihat mantan istrinya seperti apa...," Ino berbicara sendiri. Toh, tidak akan ada yang tau.
Diam-diam Hideo mendengar ucapan Ino dari dalam rumah. Anak laki-laki itu teringat dengan janjinya untuk menjaga Ino, namun yang Ia lakukan malah mendorong Ino untuk ke luar dari hidupnya. Ia tidak membenci Ibu barunya, hanya saja masih terlalu kaku baginya. Umurnya dengan Ino hanya terpaut 11 tahun. Apa kata teman-temannya nanti. Mereka pasti akan meledeknya.
"Maaf, Kakek, aku belum bisa menepati janjiku!" Hideo kembali berlari ke kamarnya.
ooooo
Ino bangun lebih awal, begitupula dengan Itachi. Mereka menyiapkan beberapa pakaian yang harus dibawa saat berlibur. Masih jam lima tapi kediaman Uchiha sudah cukup gaduh.
Kring!
Ponsel Ino berdering. Ia mengangkat panggilan itu.
"Ya, Dekorin, ada apa?" tanya Ino kepada Sakura, orang yang meneleponnya sepagi ini.
'Kok kenapa, sih? Kamu lupa?' tanya balik Sakura.
'Selamat ulang tahun yang ke-18, Pig!' teriak Sakura dipanggil hingga membuat Ino menjauhkan ponselnya.
"Suaramu hampir menulikan telingaku!" omel Ino dan ditanggapi dengan gelak tawa Sakura, meski begitu hatinya serasa bahagia. Sahabatnya masih meluangkan waktu untuk sekedar menelepon dan mengucapkan selamat kepadanya.
"Yah... Tapi terimakasih ya, kau rela bangun sepagi ini untuk mengucapkan selamat kepadaku," ucap Ino. Ia hampir menagis karena terharu.
'Masa aku lupa. Kau kan sahabatku. Oh, hari ini mau berangkat, yah? Jangan lupa oleh-olehnya. Oh! Yaampun aku baru ingat! Ada harus berangkat kuliah pagi! Ya sudah, jaa, Ino. Aku akan menghubungimu nanti,'
"Jaa...,"
Tut...tut... Panggilan diakhiri.
Ino penasaran, sahabat pink-nya saja mengingat hari spesialnya. Lalu kenapa Naruto tidak? Apa Naruto membencinya sampai-sampai untuk berkirim pesan saja tidak mau. Ia membuka e-mail untuk mengecek siapa tau, Naruto mengirimkan ucapan melalui pesan. Dan benar, ada satu pesan masuk dari Naruto dan email itu masuk tepat pukul dua belas lewat satu menit.
'Ino-chan... Selamat ulang tahun. Ahahaha terdengar aneh, di New York masih tanggal 22 tapi di sana Kau sudah berulang tahun. Jadi aku mengucapkannya sekarang.'
Entah kenapa pipi Ino bersemu merah setelah membaca pesan dari Naruto.
"Terimakasih, Naruto-kun...," ucap Ino pelan. Ia meletakkan ponselnya di dada dan memejamkan matanya sejenak.
Tanpa disadari sedari tadi Itachi mendengarkan pembicaran Ino dan Sakura melalui telepon. Ia baru tau kalau hari ini adalah hari ulang tahun Ino. Lalu peduli apa? Tidak ada. Namun saat Ino bertingkah aneh dengan ponselnya, Itachi mengernyitkan dahinya. Ia sempat memandang tidak suka sikap Ino barusan kemudian Ia melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
ooooo
"Jangan lupa kabari jika sudah sampai," ucap Mikoto. Ia dan Hideo mengantar Itachi dan Ino di bandara. Mereka akan pergi berlibur ke New York selama tiga hari, tepatnya di wilayah New Paltz.
"Iya, Kaa-san. Kami titip Hideo-kun ya...," Ino mengusap lembut rambut jabrik Hideo. Sementara itu, Hideo memalingkan mukanya, malu.
'Your attention please, passengers of ANA Wings on flight number GA328 to New York please boarding from door A12, Thank you."
"Kami berangkat, Kaa-san. Hideo-kun, jadi anak yang baik ya selama kami pergi...," Ino melambaikan tangannya sejenak sebelum berjalan menjauh bersama dengan Itachi.
Itachi dan Ino berada di penerbangan first class. Waktu yang akan mereka tempuh sekitar 12 jam untuk sampai di New York. Penerbangan yang cukup lama dan pastinya akan melelahkan. Mereka berangkat pukul sembilan pagi dan akan mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy kurang lebih sekitar jam delapan pagi waktu New York.
Sama sekali tidak ada percakapan antara keduanya. Itachi sibuk membaca buku yang Ia bawa sedangkan Ino mulai merasa bosan. Ino menikmati layanan inflight entertainment, Ia terus mengganti channel dan tidak berniat menontonnya. Jika saja ini penerbangannya bersama dengan Sakura pasti akan sangat menyenangkan. Sayangnya, sekarang Ia bersama dengan Itachi.
'Yang benar saja, aku harus diam seperti ini selama dua belas jam? Seolah aku pergi seorang diri? Gila!' batin Ino menjerit. Ia menyandarkan dirinya di kursi dan terpaksa mendengarkan musik untuk mengurangi rasa bosan. Semoga saja bisa.
Sekitar pukul delapan, mereka mendarat dengan selamat. Itachi dan Ino kini menikmati layanan Limousine Service yaitu layanan yang mengantar ke tempat tujuan mereka setelah penerbangan selesai. Tujuannya adalah Sam's Cottage on the Greens Bed and Breakfast. Cottage atau bisa di sebut pondok kecil yang Mikoto pilih memiliki kualitasbintangempatdengan pemandangan yang indah dan menyejukkan.
Itachi membuka pintu dan masuk terlebih dahulu, baru setelah itu Ino menyusul. Perjalanan dari bandara ke penginapan memakan waktu hampir dua jam. Jadi mereka baru bisa beristirahat tepat pukul sepuluh pagi waktu setempat.
"Hah..." Ino menghela nafas lega. Akhirnya Ia bisa beristirahat sekarang. Ini adalah penerbangan pertama dan terlama dalam hidupnya. Meski pelayanan di pesawat memuaskan, tapi tetap saja lebih enak tidur di ranjang daripada di kursi pesawat. Meski di New York masih pagi sekarang, tapi tidak ada salahnya untuk tidur sebentar, kan? Lagipula mereka berdua tidak ada rencana ingin melakukan apa selama berlibur.
Seperti biasanya, setelah perjalanan jauh yang paling enak dilakukan adalah mandi. Selain menyegarkan juga membuat tubuh menjadi lebih rileks. Selesai dengan ritual mandinya, Ino duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang sedikit basah. Ino melakukan aktivitas dengan bebas tanpa memperdulikan Itachi. Ino tidak memperdulikan apa yang dilakukan suaminya itu. Begitu sampai tadi, Itachi sudah sibuk dengan ponselnya. Apalagi kalau bukan pekerjaan? Seorang Uchiha Itachi memang gila kerja!
Dari cermin, Ino dapat melihat Itachi masih sibuk dengan benda persegi panjang itu. Pria itu bahkan tidak mengganti bajunya terlebih dahulu.
'Aku tidak peduli,' batin Ino.
Itachi P.O.V
Aku menerima pesan terus menerus dari temanku, Hidan. Orang paling aneh yang pernah Aku temui namun begitu Aku tetap mengakuinya sebagai teman.
'Bagaimana? Apa kau berniat mencobanya sekarang? Apa kau tidak mau membuatnya memohon-mohon dengan raut wajah kacaunya?'
Pesan terakhir yang aku baca dan tidak ada niatan untuk membalasnya. Jika tetap aku lanjutkan maka ini tidak pernah berakhir. Aku meletakkan ponsel di meja nakas di sampingku. Bukan hal baru jika aku harus berpergian selama berjam-jam seperti tadi, karena aku biasa melakukannya untuk urusan pekerjaan. Tubuhku lelah? Hampir setiap hari, tidak hanya tubuhku saja bahkan pikiranku juga lelah seharian bekerja tanpa henti. Aku berdiri dan melepas satu persatu kancing kemeja. Aku melihat Ino sedang sibuk merawat diri di depan cermin. Hampir setiap hari kami tidak pernah berbicara.
'Apa aku harus mencoba saran Hidan?' batinku.
Normal P.O.V
ooooo
Ino selesai memoleskan lipbalm di bibirnya baru setelah itu Ia berdiri dan berjalan menuju ranjang untuk tidur. Ia butuh dua jam untuk tidur jadi Ia mengatur alarm di ponselnya.
"Kau tidak mandi, Uchiha-san? tanya Ino saat melihat Itachi sudah tidak lagi sibuk dengan ponselnya.
"Aku butuh tidur," jawab Itachi. Ia melepas baju atasannya.
"Oh!" Melihat itu Ino menjadi salah tingkah. Ia memalingkan wajahnya dan segera membaringkan dirinya. Ia membelakangi Itachi dan menarik selimut sampai sebatas leher.
'Dia sibuk bekerja, tapi tubuhnya bisa se-bagus itu? How?' batin Ino. Untung saja Ia bisa menahan sifat fangirling-nya tadi. Jika tidak mungkin Ia bisa melongo atau menjerit. Ino harus menahan sisi buruknya di depan seorang Uchiha jika tidak mau semua bertambah buruk.
Itachi mendudukkan dirinya di ranjang, Ia melirik Ino dan menebak gadis itu sudah tertidur karena kelelahan.
"Kalau kau butuh cerita, aku akan mendengarmu. Aku tau kau lelah setelah bekerja seharian," ucapan Ino membuat Itachi sedikit terkejut. Hanya dua orang yang mengatakan itu kepadanya, pertama Ibunya dan kedua adalah Ino tentunya. Bahkan mantan Istrinya tidak pernah sekalipun menawarkan diri untuk menjadi pendengar di kala Ia dalam masalah.
"Hn," gumam Itachi. Ia ikut membaringkan diri namun Ia memilih menatap punggung Ino. Ia melihat rambut pirang panjang yang cukup mengusik penglihatannya. Apakah ini saatnya Ia mencoba untuk membuka diri? Tapi kenapa Ia harus melakukannya?
Itachi mengulurkan tangannya dan menyentuh rambut Ino —halus.
"Oh! Rambutku mengganggumu, yah?" Ino buru-buru berbalik badan dan memperbaiki rambutnya agar lebih tertata rapi. Ia bersemu melihat Itachi berada dekat dengannya. Dan kini mata aquamarine bertemu dengan obsidian gelap.
"O—oh! M—maaf! Aku bisa sedikit me—memotong rambutku," Ino ingin kembali berbalik membelakangi Itachi namun sebelum itu, Itachi terlebih dulu menahan tangannya.
"Tidak perlu," balas Itachi.
"A—! Baiklah! Sekarang tidurlah, kau pasti lelah, kan? Aku juga lelah," ucap Ino. Ternyata berhadapan langsung dengan Itachi membuat jantungnya tidak karuan. Apa secepat ini Ino jatuh cinta dengan suaminya? Atau ini hanya perasaan gugup dan canggung berhadapan langsung dengan orang asing?
Tanpa Ino duga, Itachi menarik Ino lebih dekat padanya. Hingga keduanya tidak terpisahkan oleh jarak sedikitpun. Tubuh Ino menempel dengan tubuh Itachi. Tanpa disengaja tangan Ino menyentuh dada bidang Itachi yang tak memakai pakaian sama sekali. Hangat.
"A-apa?" tanya Ino gugup. Tidak hanya tubuh mereka saling berdekatan, wajah mereka juga. Ino dapat merasakan hembusan nafas teratur milik Itachi. Suaminya terlihat amat tenang, tidak seperti dirinya yang terlihat tidak nyaman.
Itachi memajukan wajahnya dan mencium Ino tepat di bibir. Tidak hanya menempelkan bibir saja namun Itachi melumat lembut bibir ranum dengan rasa stroberi itu. Pria dewasa itu memejamkan mata dan mulai menikmatinya. Sementara itu, Ino terkejut bukan main. Ciuman ini sedikit berbeda dari beberapa waktu lalu saat di kantor. Seolah terhipnotis Ino mulai memejamkan matanya.
Lumatan yang semula lembut kini berubah menjadi menuntut dan sedikit kasar. Lidah Itachi memaksa masuk dan mengajak Ino bermain lebih jauh lagi. Keduanya saling melilit dan menyesap satu sama lain. Ini pengalaman baru bagi Ino tapi Ia berusaha mengimbangi permainan Itachi. Tangan Itachi tidak tinggal diam. Tangannya menelusup masuk di balik piyama yang dikenakan Ino dan mengelus punggung halusnya.
Pasokan oksigen berkurang hingga memaksa mereka mengakhiri ciuman panasnya. Keduanya membuka mata namun Ino tak sanggup melihat Itachi dari dekat. Ia memilih melirik ke arah samping menghindari bertatap langsung.
Itachi kembali memajukan wajahnya, Ia ingin melanjutkan ciumannya namun sesuatu menginterupsi.
Kring! —dering panggilan yang berasal dari ponsel Ino yang Ia letakkan di meja nakas samping tempat tidur.
"Maaf!" buru-buru Ino bangun dan mengangkat panggilan itu. Sebuah panggilan dengan nomer yang tidak dikenal.
"Moshi-moshi...," jawab Ino.
"Oh! Ino-chan! Tanjoubi Omedetou!" balasan dari si penelepon. Suara itu, Ino sangat mengenalnya.
"Naruto-kun? Arigatou! Kau mengucapkan dua kali," balas Ino. Ia sangat senang bisa mendengar suara Naruto kembali.
"Yah.. Karena di New York sudah tanggal 23,"
"Sebenarnya tidak perlu sampai dua kali juga, kan? Bagaimana kabarmu? Sakura selalu marah-marah saat kau lupa mengabarinya walau satu hari," jelas Ino. Ia cukup antusias hingga melupakan Itachi. Sementara Ino menerima telepon, Itachi hanya diam memandangi punggung Ino.
"Oh... Baiklah, aku juga berharap bisa bertemu denganmu lagi, Naruto-kun. Jaa," Ino meletakkan kembali ponselnya. Berbicara dengan Naruto membuat rasa lelahnya sedikit berkurang. Setidaknya obrolan tadi sedikit menjelaskan bahwa Naruto tidak membencinya.
Ino menoleh dan mendapati Itachi sudah tidur. Sepertinya memang Itachi benar-benar butuh istirahat.
"Hah... Aku tidak mengantuk lagi, apa sebaiknya aku jalan-jalan sendiri saja, yah... Tapi aku harus izin, kan?" Ino menimang keputusannya. Ia ingin keluar sebentar mencari udara segar namun tidak mungkin jika Ia harus keluar secara diam-diam. Itacho bisa saja marah dan semakin menjauh darinya. Tiba-tiba pipi Ino memerah saat mengingat ciumannya tadi. Kalau saja Naruto tidak menelepon, apakah Ia akan melakukan 'itu' dengan suaminya? Ah! Memikirkannya saja sudah membuatnya malu.
"Sebaiknya aku tunggu Uchiha-san bangun," Ino membaringkan dirinya kembali. Ia akan mencoba memejamkan mata, siapa tau Ia ketiduran dan setelah itu baru Ia akan keluar untuk jalan-jalan.
ooooo
Naruto meletakkan kembali teleponnya. Suara yang sangat Ia rindukan. Ia tau, suatu kesalahan bila mencintai Istri orang. Tapi, hatinya tidak bisa berkata tidak.
"ARG!" teriak frustasi Naruto. Ia masih saja berharap bisa merebut Ino kembali. Sungguh keinginan yang amat buruk!
Tok... Tok... Tok...
Naruto memutar bola matanya, Ia sudah tau siapa tamu yang berkunjung ke apartemennya. Siapa lagi kalau bukan Shion.
Naruto melangkahkan kakinya dengan malas. Ia membuka pintu dan melihat Shion tersenyum lebar ke arahnya. Wanita itu langsung memeluknya dengan erat.
"Selamat pagi, Naruto!" sapa Shion.
"Hn," balas Naruto. Ia terlalu malas menanggapi Shion.
Wanita itu melepaskan pelukan dan mengerucutkan bibirnya. Ia kecewa dengan respon yang diberikan Naruto. Meski begitu Ia tidak akan menyerah.
"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?" tanyanya.
"Oh... Maaf," Naruto sedikit menggeser tubuhnya.
Shion masuk dengan santai seolah ini adalah tempat tinggalnya. Ia melepas jaket dan melemparnya asal ke atas sofa.
"Hei! Yang sopan!" Naruto langsung mengambil jaketnya dan meletakkannya di gantungan.
"Maaf...," Shion tersenyum tanpa dosa.
Shion menarik tangan Naruto dan menuntunnya untuk duduk di sofa. Ia mengambil kotak kecil dari dalam tasnya dan memberikan benda itu kepada Naruto.
"Apa ini?" tanya Naruto keheranan. Ia menerima kotak itu dengan sedikit keraguan.
"Buka saja!"
Naruto membuka kotak itu dan melihat isinya. Ia mematung sejenak dan otaknya dipaksa untuk berfikir keras. Dalam kotak itu terdapat dua benda, satu adalah benda yang belum pernah Ia lihat sebelumnya dan satu lagi adalah sebuah surat. Naruto memilih membaca isi dari surat itu.
"A—!" mulutnya menganga dan Naruto tak mampu berucap satu katapun. Satu buah surat mampu membuat seorang Naruto yang berisik menjadi diam tanpa kata.
ooooo
Tririring... Tririring...!
Bunyi alarm membangunkan Ino dari tidurnya. Ia meraih ponselnya dan mematikan alarmnya.
"Hoam!" Ia menguap dan merenggangkan tubuhnya. Tidur selama dua jam sudah lebih dari cukup baginya untuk mengisi tenaga.
Ino menoleh dan melihat sisi ranjangnya kosong. Kemana Itachi? Segera Ino bangun dan mencari suaminya itu. Kejam sekali jika Itachi meninggalkannya sendirian. Kalau saja Ia tau akan seperti ini, lebih baik Ia tidak menunggu Itachi bangun. Ia berjalan keluar dari kamarnya.
"Sudah bangun?" tanya Itachi. Rupanya pria itu tengah duduk sambil menonton TV.
"Kaa-san membayar mahal untukmu liburan bukan tidur," sindir Itachi. Ia berkata tanpa menoleh ke arah Ino sedikitpun.
Ino memanyunkan bibirnya, "Kau yang tidur duluan. Bukan aku."
"Maksudmu, aku harus menunggumu menerima panggilan dari pria lain? Istri macam apa kau?" tanya Itachi. Ia melihat ke arah Ino dengan tatapan tajamnya.
Sindiran Itachi cukup tajam hingga membuat Ino diam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia tidak menduga kalau Itachi akan bersikap seperti ini setelah mendengar Ino berbicara dengan Naruto di telepon.
"Apa salahnya? Aku hanya menelepon," sikap kekanak-kanakan Ino membuatnya tidak mau kalah berdebat dengan Itachi.
"Kau tidak lebih baik dari Konan," balas Itachi dengan senyum sinisnya.
Mendengar Ia telah dibanding-bandingkan oleh suaminya sendiri membuat Ino marah.
"Ya! Karena aku bukan Konan!" teriak Ino. Ia berlari keluar rumah. Dalam hatinya, Ino berharap Itachi akan memanggilnya untuk berhenti, namun sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.
Ino berlari tanpa tujuan. Yang ada dipikirannya sekarang hanya kekesalan dan kemarahan. Ia paling tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan orang lain.
Ino melangkahkan kakinya menuju sebuah taman yang cukup ramai. Tidak terlalu jauh dari pondok tempatnya tinggal, setidaknya tempat ini cukup indah baginya. Ino duduk di salah satu bangku di sana. Ia melihat ke sekeliling. Banyak sekali orang-orang bermain di taman itu. Ada beberapa orang dewasa hingga anak-anak.
"Pemandangan di sini jauh berbeda dari Tokyo. Sama ramainya," ucap Ino bermonolog.
"Ya. Kau benar," tiba-tiba ada suara menyahut ucapannya. Ino menoleh dan melihat seorang perempuan. Warna rambutnya hampir sama dengannya, pirang.
"Orang Jepang juga?" tanya Ino.
"Iya. Boleh aku duduk?" tanya perempuan itu.
"Tentu," Ino sedikit bergeser memberi tempat yang lebih luas untuk orang itu.
"Perkenalkan, aku Shion. Dan kau?"
"Ino, senang berkenalan denganmu," keduanya saling berjabat tangan dan tersenyum.
"Kau ke New York sendirian?" tanya Shion.
Ino menoleh dan menjawab, "Tidak, aku kesini bersama suamiku."
Shion memasang ekspresi terkejutnya, "Kau sudah menikah?"
Ino meringis. Entah kenapa Ia merasa malu dengan pertanyaan Shion. Yah... Ia sendiri sebenarnya belum siap berubah status, namun kenyataan berkata lain. Kini Ia sekarang sudah menjadi istri.
"Ya begitulah. Aku baru menikah tiga hari yang lalu," jawab Ino diselingi tawa renyah.
Shion ikut tertawa. Lucu juga bertemu orang lain yang tampak seumuran dengannya namun sudah lebih dulu menikah.
"Beruntung sekali," ucap Shion.
Ino menoleh dan melihat Shion menundukkan kepalanya.
"Kenapa begitu?" tanya Ino heran. Dalam hati Ino sebenarnya sedang tersenyum miris. Benar Ia sudah menikah tapi sejauh ini Ia belum bahagia. Pernikahannya sama sekali tidak menyenangkan.
"Ya karena kau sudah menemukan pria yang mencintaimu. Aku sedikit iri," jawab Shion. Ia kembali menegakkan kepalanya dan melihat ke arah Ino.
"Kau pasti akan menemukannya. Jangan khawatir. Oh ya, kau sendirian di sini?" tanya Ino. Ia penasaran dengan Shion. Sepertinya Ino tidak asing dengan wajah Shion. Ino seperti sudah pernah melihat perempuan ini sebelumnya. Tapi di mana? Ia tidak ingat.
"Dengan ayah dari bayi yang aku kandung," Shion mengelus perutnya yang masih rata.
"Kau sedang hamil?" Ino sedikit terkejut sementara Shion hanya tertawa melihat ekspresi keterkejutan Ino.
"Iya. Kau mau berkenalan dengan ayah bayiku? Itu orangnya," Shion menunjuk salah satu pria yang sedang menunggu antrian di depan penjual es keliling. Pria dengan ciri-ciri yang Ino kenal. Rambut jabrik berwarna kuning dan postur tingginya itu.
'jangan bilang kalau dia adalah...' batin Ino menduga-duga.
"Naruto!" Shion berdiri dan melambaikan tangan ke arah Naruto. Sementara itu, tanpa diperintah Ino ikut berdiri dan memandang tidak percaya ke arah pria yang dipanggil Shion barusan. Ino sangat terkejut dengan penuturan yang baru saja Ia dengar.
Naruto merasa terpanggil dan Ia menoleh ke arah asal suara itu. Sama hal-nya dengan Ino, Naruto-pun ikut terkejut melihat sosok Ino. Setau-nya, Ino tidak ada di sini. Bahkan Sakura tidak memberitahunya. Ino juga, sewaktu mereka berbicara melalui telepon, Ino tidak mengatakan bahwa dirinya sedang ada di New York.
Diam-diam, Shion melirik ke arah Ino dan Ia menyeringai.
-to be continued-
Yey! Selesai. Lagi pengen ngebut ahahah.. Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian yang sudah menunggu.
Kira-kira apakah Ino mengenal Shion? Atau justru sebaliknya, Shion mengenal Ino? Bagaimana hubungan Itachi selanjutnya yah... Apa Itachi bisa merasakan kepedulian Ino? Kira-kira usaha seperti apa yang dilakukan Ino untuk mendekati Itachi maupun Hideo ya... Tunggu kelanjutannya di next chapter. Kira-kira ditambah lagi ga nih scene dewasanya. Maaf kalo kurang ngena soalnya ini pertama kalinya ahahah, jadi masih kaku.
Maaf apabila ada beberapa informasi soal perbedaan waktu Jepang dan Amerika ya. Selanjutnya lagi aku akan memperbaiki kesalahanku.
Terimakasih untuk kalian semua. Mungkin terimakasih saja sebenarnya tidak cukup ya ahaha...
Kyudo Yl: terimakasih untuk dukungannya. Semoga chapter selanjutnya tidak akan mengecewakanmu.
Guest: aku minta maaf karena telah membuatmu kecewa. Aku benar-benar minta maaf. Selanjutnya aku akan berusaha memberikan cerita yang lebih baik lagi. Terimakasih untuk reviewnya.
Yamanaka mei: Terimakasih banyak untuk dukunganmu, Mei-san. Semoga untuk chapter selanjutnya tidak mengecewakan ya...
JeanneJeans: Itachi emang kejam nih ahahah. Terimakasih banyak sudah mampir!
Sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak atas dukungannya.
A/N: untuk chapter 11 agak dipending ya. Aku mau melanjutkan ffn yang satunya. Perkiraan untuk update chapter baru sekitar minggu ketiga (paling lambat). Terimakasih!
See you next chapter!
