You and Me in One Story

Chapter: 11

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story by: PhiruFi

Rate: M

Cast: Ino. Y, Itachi. U, Hideo. U (OC), Naruto. U, Shion

WARNING: OOC, Mainstream, Membosankan, Bahasa diksi EYD, TYPO.

Author Note: Rate M ya ini, jadi yang ga suka konflik dewasa silahkan close ya (asupan 18+).

Selamat membaca~

Tubuh Ino seolah membeku hingga ia tak mampu bergerak sedikitpun. Apa yang ia dengar dan lihat saat ini benar-benar membuatnya terkejut bukan main. Naruto, Shion, seorang ayah? Otak Ino bekerja keras mencerna kalimat itu dan berusaha memulihkan kesadarannya.

Shion menyikut lengan Ino, "kenapa terkejut begitu? Kalian saling kenal?"

Ino tersadar dari kebekuannya dan ia menoleh ke arah Shion.

"Ya. Dia... Sahabatku," ujar Ino dengan keraguan. Ia masih berharap orang yang ia lihat barusan bukanlah Naruto. Namun, siapa orang dengan rambut jabrik kuning mencolok dan mata sapphire selain pemuda itu? Tidak ada!

"Oh! Kebetulan sekali ya. Kalau begitu sepertinya kalian harus mengobrol banyak," Shion tersenyum. Entah mengapa di mata Ino sekarang, senyuman Shion terlihat seperti mengejek.

Shion melambaikan tangannya dan memberi tanda untuk Naruto mendekat ke arahnya. Seperti terhipnotis, tubuh Naruto mengikuti isyarat itu. Pemuda jabrik itu mendekat ke arah Ino dan Shion. Ia berhenti di depan Ino dan tatapannya terkunci kepadanya. Ino sebisa mungkin melirik ke arah lain untuk menghindari tatapan itu.

"Kalian mengobrol saja, biarkan aku yang membeli es krim," ujar Shion. Ia menepuk bahu Naruto dan Ino secara bergantian.

"Ino, mau rasa apa?" tanya Shion.

Ino menoleh dan memasang senyum singkat, "tidak perlu. Aku sudah terlalu banyak gula hari ini."

Shion mengangguk dan ia meninggalkan Naruto dan Ino. Ia sempat menoleh dan melihat Naruto maupun Ino masih mematung di tempat. Ia menyeringai, "Cih... Puaskan dirimu, wanita sialan."

"Setelah itu, Naruto hanya milikku. Tidak ada kesempatan bagimu untuk mendekatinya," Shion mengepalkan tangannya. Ia berjalan ke arah penjual es krim.

Sementara itu, Naruto memilih untuk memecah keheningan dengan bertanya, "kau, di sini? Sejak kapan?"

Ino sempat menggelengkan kepala untuk menghilangkan rasa canggungnya.

"Baru tiba, kok. Ayo duduk, tidak enak mengobrol sambil berdiri, 'kan?" Ino memulai duluan dengan mendudukkan dirinya setelah itu Naruto menyusul.

Mereka berdua duduk dengan canggung layaknya dua orang yang tidak saling mengenal.

"Omedetou," ucap Ino dengan lirih. Ia memberanikan diri untuk sedikit menyampingkan tubuhnya agar dapat menghadap Naruto.

Bukan tak mendengar, Naruto hanya enggan membalas ucapan Ino. Ia tidak menoleh ke Ino sedikitpun. Rasanya jika ia bisa membuang wajahnya sekarang, mungkin ia akan melakukannya. Naruto paham arah pembicaraan Ino. Kata 'selamat' itu untuk dirinya karena ia akan menjadi ayah dari bayi yang tengah dikandung Shion.

-flashback-

Shion menarik tangan Naruto dan menuntunnya untuk duduk di sofa. Ia mengambil kotak kecil dari dalam tasnya dan memberikan benda itu kepada Naruto.

"Apa ini?" tanya Naruto keheranan. Ia menerima kotak itu dengan sedikit keraguan.

"Buka saja!"

Naruto membuka kotak itu dan melihat isinya. Ia mematung sejenak dan otaknya dipaksa untuk berfikir keras. Dalam kotak itu terdapat dua benda, satu adalah benda yang belum pernah Ia lihat sebelumnya dan satu lagi adalah sebuah surat. Naruto memilih membaca isi dari surat itu.

"A—!" mulutnya menganga dan Naruto tak mampu berucap satu katapun. Satu buah surat mampu membuat seorang Naruto yang berisik menjadi diam tanpa kata.

Positif hamil.

Shion mengambil benda kedua di dalam kotak itu —sebuah test pack.

"Lihat! Aku hamil dan kau akan menjadi seorang ayah!" Shion berhambur memeluk Naruto. Pemuda itu tak merespon hingga Shion melepas pelukannya. Ia mengambil surat di tangan Naruto dan memasukkan kedua benda itu kembali ke dalam kotak. Ia meletakkannya di atas meja.

"Ayo, berikan responmu!" pinta Shion. Ia menggembungkan kedua pipinya dengan kesal.

"Bagaimana bisa?" Naruto malah balik bertanya. Tatapan Naruto berubah menjadi serius.

"Harus dijelaskan, nih?" goda Shion. Ia mengusap pipi Naruto dengan gemas.

"Seharusnya kau bahagia. Siapa sih di dunia ini yang tidak mau menjadi ayah?" tanya Shion. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Artinya setelah ini kau memang harus menikahiku dan bersikap manis," lanjutnya.

Seperti tertimpa batu besar, kepala Naruto menjadi pusing dan berat. Ia memijat pelipisnya beberapa kali. Kesalahannya benar-benar sangat fatal.

"Jadi, bagaimana tuan Uzumaki?" tanya Shion dengan senyum manis namun di mata Naruto itu adalah senyuman mengerikan.

Naruto mengepalkan kedua tangannya di atas lutut. Ia tidak ada pilihan, 'kan?

"Aku akan bertanggung jawab."

-end flashback-

Tawa Ino memaksa Naruto menoleh ke arah sahabat pirangnya itu. Tawa yang terdengar dipaksakan.

"Kenapa melamun, sih?" tanya Ino. Ia meringis setelahnya. Tertawa seperti itu memang sukses membuat Naruto tersadar dari lamunan namun tidak terdengar baik.

"Se-la-mat!" Ino mengeja tiap suku kata. Ia tersenyum tipis saat Naruto menatapnya.

"Naruto-kun, selangkah lebih maju di depanku rupanya...," Ino mengalihkan pandangannya. Keberaniannya belum cukup kuat untuk terus memandangi Naruto.

Naruto menghela napasnya sejenak, "tidak. Selamat untukmu. Kau lebih dulu menikah."

Pandangan Ino menerawang dan ia menganggukkan kepalanya.

"Ini tidak seperti yang kau duga, Ino-chan!" Naruto sedikit meninggikan suaranya.

Ino menoleh dan mengibaskan kedua tangannya, "Naruto-kun, jangan salah paham. Ini kan... pilihanmu, jadi tidak ada alasan bagiku untuk menduga-duga apapun itu."

"Lagipula, kita sudah sama-sama bahagia, 'kan?" tanya Ino. Ia tersenyum manis namun dalam hatinya ia meringis. Bahagia darimana, Ino? Kau masih menderita atau mungkin akan terus seperti itu. Sementara itu, Naruto sepertinya tidak bahagia. Dari penuturan Shion tadi, Naruto belum mencintai wanita itu, 'kan? Artinya mereka tak jauh berbeda. Tapi... Tidak ada yang bisa diharapkan juga.

Naruto kembali memijat pelipisnya. Kepalanya kembali terasa pusing. Ia tidak mau membuat Ino menduga hal yang tidak benar. Ini semua kesalahan dan ia melakukannya bukan atas dasar cinta.

"Ini kesalahan—!" ucapan Naruto terpotong karena tamparan Ino pada pipi kirinya.

"Bagaimana kau sebut ini kesalahan. Apa kau tidak memikirkan Shion?" tanya Ino dengan sedikit amarah.

Ino berusaha menempatkan posisinya sebagai Shion. Bagaimana seorang wanita bisa bertahan di saat dirinya hamil sedangkan ayah dari bayi itu menyebutnya kesalahan? Seorang anak bukan kesalahan!

"Kau yang salah! Kau terlalu bodoh hingga membuat ini terjadi! Jika kau tidak mampu, lalu kenapa kau melakukannya? Kau akan menjadi ayah tapi sifat bodohmu itu masih ada!" bentak Ino. Ia tengah berdiri menghadap Naruto yang sedikit mendongak ke arahnya.

Ino tidak tau persis bagaimana ia bisa semarah itu. Hanya saja hatinya sedikit merasakan sakit mengetahu fakta ini. Secara teori sebenarnya Ino tak berhak mencampuri urusan Naruto dan tak ada alasan baginya untuk merasakan rasa sesak di dadanya.

"Aku harus kembali. Tolong jangan lakukan hal bodoh lagi!" Ino berbalik dan setengah berlari ia meninggalkan Naruto. Ia berlari kembali ke cottage-nya.

.

.

Ino menutup pintu pondok dengan cukup keras. Ia menyandarkan diri dan mengatur napasnya. Selain tubuhnya lelah sehabis berlari, ia juga merasakan lelah pikiran.

"Okaeri." suara Itachi terdengar dari arah dapur.

Oh, rupanya suaminya masih tetap di pondok.

"Tadaima...," ujar Ino. Ia menuju ke asal suara.

"Eh?!" Ino mematung di ambang pintu. Ia melihat Itachi merapikan meja makan. Terdapat lilin dan bunga di atas meja sebagai hiasan. Dan hidangan juga sudah tersedia, ada dua porsi steak dan dua gelas wine juga botol penuh yang masih tersegel.

Itachi menyiapkan semua ini? Terlihat seperti makan malam romantis di jam makan siang.

"Uchiha-san?" tanya Ino. Ia mendekat ke arah Itachi yang sedang menarik kursi untuk mempersilahkan dirinya duduk.

Ino masih tidak percaya. Ia sesekali mengusap kedua matanya atau bahkan mencubit perutnya sendiri. Setelah obrolan di taman tadi dan sekarang sikap manis Itachi, apa semua ini nyata?

"Maaf membuatmu marah tadi." Itachi mendudukkan dirinya di kursi seberang. Ia menatap ke arah Ino yang tengah membuka mulutnya karena kaget.

"T—tunggu?! Uchiha-san, kau deman?" tanya Ino. Barusan Itachi meminta maaf? Tunggu! Ini salah!

"Tidak. Aku hanya ingin meminta maaf. Kau memaafkanku, Ino?" tanya Itachi. Pandangan mata pria itu tidak lepas dari Ino.

Ino mengerjapkan matanya beberapa kali. Itachi memanggilnya dengan nama kecil. Terdengar amat lembut di telinga Ino.

"I-iya! Tentu saja memaafkanku!" Ino mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Ia ingin menangis haru. Apa yang membuat suaminya berubah semanis itu? Apa Kami-sama sudah mengabulkan permohonannya secepat ini?

Itachi mengambil gelas wine-nya dan mengarahkannya ke depan untuk bersulang, "untuk pernikahan kita?"

Itachi tidak membiarkannya bernapas sejenak dan kini pria itu kembali membuatnya terkejut. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia terharu.

"Ah, iya! Tapi aku belum legal untuk meminum itu," ujar Ino. Ia tersenyum kaku.

"Mencicipinya tidak masalah, bukan? Lagipula aku sudah memesan wine terbaik di kota ini," balas Itachi. Ia masih memegang gelas wine dan tidak berniat menurunkannya.

"Menolak?" tanya Itachi.

Ino tidak menjawab. Ia tidak mungkin mencicipi wine di saat umurnya masih 18 tahun.

Itachi lantas berdiri. Ia membuka pintu kulkas dan mengambil botol penuh jus jeruk, "aku sudah menyiapkan minuman lain, untung ya."

Itachi menuang jus jeruk ke dalam gelas baru dan meletakkannya di dekat Ino.

Ino mengambil segelas jus jeruk dan bersulang dengan Itachi hingga bunyi 'ting' terdengar di seluruh ruangan, "untuk pernikahan kita."

Ino meminum jus jeruk yang terasa menyegarkan saat melewati kerongkongannya. Minuman dingin memang pilihan terbaik setelah ia harus berlari dari taman kembali ke pondok. Ingatannya sedikit terulang ke belakang saat bertemu Shion dan Naruto. Ia meletakkan kembali gelas dan tersenyum.

"Cobalah steak-nya," ucap Itachi. Ia mulai mengiris steak pesanannya dan mulai makan. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Ino. Istrinya sudah ikut memakan steak dan kini ia tengah mengunyah dengan tenang.

'Uchiha-san kenapa, sih? Ah! Aku senang, hanya saja... ini terlalu mendadak! Aneh tapi aku... Senang!" Ino tersenyum di sela kegiatan makannya.

Keduanya makan dengan tenang seperti kebiasaan keluarga Uchiha. Ino sudah paham itu meski acara makan sebenarnya akan membosankan tanpa obrolan ringan. Keluarga Uchiha memang berbeda dengan Yamanaka.

"Ugh?!" Ino meletakkan garpunya tiba-tiba. Ada sesuatu yang salah pada tubuhnya. Mendadak saja, ia merasakan panas padahal sebelumnya ia baik-baik saja. Ino merasakan rasa tak nyaman di area pangkal pahanya.

"U-Uchiha-san?" panggil Ino dengan terbata. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang kian bertambah cepat.

Itachi yang terpanggil segera meletakkan garpunya. Ia menatap Ino dengan ekspresi datarnya. Tidak ada raut wajah yang hangat seperti beberapa menit yang lalu.

"A-apa yang kau... lakukan padamu?" tanya Ino. Kini ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa aneh yang semakin sulit dikendalikan. Ia merasa dirinya ingin untuk disentuh. Ino menginginkan Itachi menyentuhnya seperti layaknya suami dan istri.

"Aku tidak melakukan apapun." Itachi tak bangun dari tempatnya. Ia masih duduk dengan tenang sambil memperhatikan Ino yang terlihat semakin kacau.

"Bohong!" teriak Ino. Ia kehilangan kesabaran. Di saat seperti ini bukan berarti ia tidak bisa marah. Justru mengingat sikap manis Itachi sebelumnya, harusnya Ino sudah paham. Ada yang tidak beres dan benar saja, Itachi telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya —duga Ino.

Itachi mulai berdiri, "lepaskan saja, kau tidak perlu menahannya."

Brak!

"Brengsek!" Ino menggebrak meja. Sudah cukup Ino bersikap manis di depan Itachi. Biarkan sekarang waktunya ia menunjukkan sisi lainnya.

"Apa... S-salahku?" Ino bertumpu dengan kedua tangannya di meja. Ia memejamkan matanya dengan erat. Makin lama ia tidak mampu menahan hasratnya.

"Kau akan melakukannya sendiri atau... butuh bantuan dari suamimu?" tanya Itachi tanpa rasa bersalah. Ia menyeringai lebar.

Ino ingin menangis. Ino berpikir semakin hari sikap Itachi semakin kejam di matanya. Apalagi setelah ini, Ino benar-benar merasa bahwa pernikahan ini adalah suatu penyesalan terbesarnya. Ino tidak mempermasalahkan sikap Itachi yang terus mengabaikannya tapi tidak dengan mencampur obat ke minumannya. Itu adalah tindakan kriminal, bukan?

"K-kau kejam!" Ino berbalik dan hendak pergi ke kamar.

Bruk!

Ino terjatuh ke lantai. Rasanya untuk berjalan saja tidak mampu. Hanya ada satu cara untuk menghilangkan efek dari obat ini yaitu dengan memuaskan dirinya sendiri. Tapi... ini hal baru bagi Ino. Ia butuh pertolongan dari Itachi.

"Butuh bantuan, Nona?" Tak disangka, Itachi sudah berjongkok di samping Ino. Ia menyentuh punggung Ino dan itu menyebabkan sensasi yang berbeda pada Ino.

Ino menggigit bibir bawahnya dengan cukup kuat. Ia membenci Itachi namun di sisi lain ia membutuhkan pria itu.

"Tolong...," ucap Ino dengan lirih.

Itachi tak menjawab namun ia menggendong Ino tanpa meminta persetujuan. Ia menggendong Ino menuju kamar mereka dan membaringkan tubuh Ino secara perlahan di atas kasur.

"Aku tidak akan bermain lembut, Nona. Jadi jangan salahkan aku jika kau tidak dapar berjalan besok," ucap Itachi sambil melepas satu per satu pakaian yang ia kenakan.

Sama hanya seperti Itachi, Ino pun ikut menanggalkan pakaiannya dengan sedikit bergetar. Kini keduanya tengah telanjang bulat.

Darah mengumpul di sekitar pipinya, Ino memerah. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya. Bukan seperti ini yang ia inginkan walai sebenarnya kegiatan yang akan mereka lalukan bukanlah sebuah dosa. Mereka legal melakukannya, namun Ino kesal dengan alasannya. Bukan karena cinta, 'kan?

Itachi menindih Ino. Ia bertumpu dengan tangan kirinya sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk meraba tubuh Ino. Tangan hangat Itachi menggerayangi tubuhnya dan memberikan sensasi geli.

"Ugh...," desah Ino tertahan. Ia tak berani menatap wajah Itachi. Kini ia memejamkan matanya namun ia dapat mengetahui wajah Itachi sangat dekat dengannya saat merasakan hembusan napas menerpa kulit lehernya.

"Panggil namaku," bisik Itachi dengan suara yang terdengar sexy di telinga Ino. Pria itu mengigit pelan daun telinga Ino hingga ia mendesah lagi.

Ino menggeliat di bawah Itachi. Rasa tak nyamanya perlahan menghilang setelah mendapat sentuhan dari Itachi.

Bibir keduanya kembali menyatu. Itachi melumat bibir Ino dengan sedikit kasar dan menuntut. Itachi seolah tidak memberikan kesempatan Ino untuk mengimbanginya. Lidah Itachi memaksa masuk dan keduanya saling membelit.

"U-Uchiha-san..." Ino mengambil napas dalam-dalam saat ciuman panas mereka selesai.

Sedari tadi tangan Itachi tak tinggal diam. Ia bermain di daerah pangkal paha Ino. Bukan hal baru bagi pria itu mengingat ia sudah pernah menikah. Itachi memuaskan Ino dengan baik hingga wanita itu memekik saat meraih puncaknya. Ino membuka kedua matanya dan melihat Itachi secara dekat. Wajah Itachi berkeringat sama seperti dirinya. Terlihat sangat tampan dan menggoda.

"Persiapkan dirimu. Ini akan sedikit sakit di awal," Itachi menyeringai dan membuat Ino sedikit bergidik.

Ini adalah hari terakhir bagi Ino menyandang status perawannya.

ooooo

Ino terbangun dengan rasa pegal di seluruh tubuhnya. Dan belum lagi dengan rasa nyeri di sekitar pangkal pahanya. Ia enggan untuk bangun untuk sekedar membasuh muka ataupun mengosok giginya.

Ino tidur membelakangi Itachi. Ia menarik selimut hingga menutupi sampai sebatas hidungnya. Ia tidak mau mengingat kegiatan keduanya kemarin. Menyesal? Sedikit atau bahkan banyak. Mereka melakukannya tanpa cinta, Ino tau itu.

"Bodoh...," ucap Ino perlahan. Ingatan kegiatan panas mereka kembali muncul. Itachi tidak menyebut namanya saat meraih puncaknya. Pria itu menyebut nama mantan istrinya —Konan.

'Hanya jadi alat, ya?' batin Ino. Tak terasa setetes air mata jatuh membasahi bantal yang ia kenakan. Ino menutup mulutnya dengan punggung tangan. Ia tidak mau tangisannya terdengar.

Kasurnya bergerak dan Ino mampu merasakannya. Oh! Tentu saja itu Itachi. Pria itu bangun dan memunguti pakaiannya. Terdengar bunyi pintu kamar mandi dan tak lama setelah itu bunyi shower terdengar. Ino tetap diam dengan posisinya. Ia tak ada niatan untuk bangun pagi ini. Biarkan ia bermalas-malasan hingga nanti malam atau kalau bisa hingga besok dan besoknya lagi. Ia tidak ingin bangun.

ooooo

"Kau lagi? Kenapa ke sini?" tanya Naruto. Ia memasang wajah masam saat melihat Shion berdiri di hadapannya. Wanita itu lagi-lagi datang menemui Naruto di waktu pagi seperti ini.

Shion melengos masuk. Ia seperti menganggap apartemen ini adalah miliknya juga.

"Memangnya salah aku menemui ayah dari bayiku? Oops! Bayi kita maksudku," ucap Shion. Ia mendudukkan dirinya di sofa. Ia menyalakan TV dan mengganti saluran dengan asal.

Pipi Naruto memerah saat mengingat ia akan menjadi seorang ayah. Bukan karena bahagia namun karena ia malu dan menyesal.

"Ini terlalu pagi." Naruto berdiri di dekat Shion. Ia tidak ikut duduk di sana.

"Bisakah kau bersikap manis sedikit saja?" tanya Shion tanpa melihat ke arah Naruto. Tangannya yang semula memegang remot berganti menjadi memegang ponselnya sendiri.

"Aku tidak peduli!" Naruto meninggikan suaranya.

Shion meletakkan ponselnya, "terserah saja. Aku tidak mau tau, sih. Intinya saja, kau harus bertanggung jawab. Buat dirimu menjadi calon ayah yang baik, bodoh!"

"Tch!" umpat Naruto tertahan. Ia mengepalkan kedua tangannya.

Semakin ke sini, sifat asli Shion mulai muncul. Wanita itu tidak semanis parasnya.

"Aku haus. Ada jus tidak?" tanya Shion. Ia bangun dan berjalan ke dapur.

Naruto melihat Shion berjalan menjauh darinya. Ia mendudukkan dirinya di sofa dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa menegang.

"Eh?" Naruto melirik ke arah ponsel Shion. Lampu notifikasinya berkedip-kedip sebelum layar ponselnya menyala dan memperlihatkan sosok yang tak asing baginya.

Naruto melihat ke arah dapur untuk memastikan Shion masih ada di sana dan tidak berniat kembali segera. Wanita itu sibuk menuangkan jus jeruk dan meminumnya sambil duduk di kursi bar. Aman!

Naruto meraih ponsel biru metalik itu dan melihat wallpaper-nya dari dekat.

Sebuah potret dengan latar sebuah pantai. Ada tiga orang di foto itu. Seorang laki-laki dan dua orang perempuan tersenyum menghadap kamera. Ketiga orang yang Naruto kenal.

Suigetsu yang merupakan mantan pacar Ino.

Karin, sepupunya. Dan yang terakhir adalah...

Shion.

Apa hubungan ketiga orang ini?

Naruto menggeser kunci layar dan masuk ke galeri foto. Ia melihat ratusan foto tak jelas Shion. Ia tak menyerah. Naruto terus menggeser ke bawah hingga menemukan satu foto yang membuatnya membuka mulut karena terkejut. Sangat terkejut.

"Shion!" panggil Naruto. Ia berdiri dan segera menghampiri Shion.

Wanita itu terkejut dan meletakkan gelasnya. Ia ikut bangun dari kursi dan menunggu Naruto sampai di dekatnya.

"Jelaskan tentang foto ini!" Naruto memperlihatkan foto yang ada di ponsel Shion. Ia menyodorkan layar tepat di wajah Shion.

"Lancang sekali kau! Ini privasi!" teriak Shion. Ia ingin merebut ponselnya kembali namun Naruto lebih dulu mengangkat tinggi tangannya. Shion tidak mampu meraih ponselnya dari tangan Naruto.

"Jelaskan sekarang!" bentak Naruto. Rasanya tidak ada yang perlu bersikap lembut sekarang.

"Apa hubunganmu dengan Suigetsu, Karin dan...," Naruto memberi jeda dengan menarik napasnya.

"Ino?" tanya Naruto. Ia menatap tajam ke arah Shion seperti seekor elang yang hendak menerkam mangsanya.

Shion bergeming dan berusaha menghindari tatapan tajam Naruto.

"Bukankah kau bilang baru mengenal Ino? Tapi mengapa kau mempunyai fotonya? Kau membuntuti Ino? Siapa kau?" Naruto melempar banyak pertanyaan sekaligus. Wajahnya kembali memerah bukan karena malu namun ia sedang menahan amarah untuk tidak kembali meledak hebat.

"Aku mengambilnya dari media sosial!" jawab Shion. Ia melirik ke kiri. Dari gelagatnya saja sudah terlihat, Shion tengah berbohong sekarang.

"Shion, berhenti menipuku!" Naruto sedikit mengguncangkan kedua bahu Shion. Ia ingin kebenaran bukan alasan belaka.

Shion tak lagi membuang mukanya. Kini ia menatap Naruto, "aku tidak berbohong!"

"Shit! Berhenti membual! Katakan sejujurnya! Kau juga mengenal Karin, 'kan?" tanya Naruto lagi. Sama seperti sebelumnya ia masih meninggikan suaranya.

"Baiklah! Akan ku katakan yang sebenarnya!" Shion menyerah. Ia menepis tangan Naruto yang ada di bahunya.

'Sial! Kenapa harus ketahuan dulu, sih?!' batin Shion kesal.

"Aku..." Shion sedikit menundukkan kepalanya.

-to be continued-

Halloo haiii, maaf atas keterlambatannya yah. Maaf membuat kalian menunggu. Semoga chapter 11 ini tidak mengecewakan ya. Apabila ada kesalahan, aku minta maaf. Untuk kedepannya aku akan berusaha melakukan yang terbaik!

Soal adegan dewasanya maaf aku belum bisa bikin yang eksplisit eheheh. Maaf sekali!

Sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih untuk teman-teman yang menyempatkan waktu untuk membaca fanfiksi ini. Aku juga akan membalas review kalian di sini.

himewulan: terima kasih untuk semangatnya ya, Hime-san. Aku benar-benar senang, kamu mau menunggu kelanjutan cerita ini. Semoga chapter selanjutnya tidak mengecewakan ya. Sekali lagi terima kasih!

Guest: semoga saja ya, ditunggu kelanjutannya!

Yamanaka mei: haloo, Mei-san! Terima kasih sudah mampir dan menyemangatiku. Kedepannya aku akan berusaha lebih baik lagi agar tidak mengecewakan. Soal adegan hot-nya maaf kalo kurang ya. Maaf! Yamanaka mei, maaf membuatmu menunggu lama!

Kyudo Yl: Hallo Kyudo-san, maaf kalau tidak menemukan mature content-nya ya. Aku langsung main pasang warn aja, takut ada yang di bawah umur malah baca eheheh. Terima kasih banyak untuk dukungannya!

Maaf jika ada yang terlewat, itu bukan kesengajaan.

Oh ya, karena sekarang sedang ada event #INOcentDYE20 jadi aku bakalan telat publish lagi karena aku ingin berpartisipasi dulu di event itu. Apalagi besok masuk bulan Juli dan itu event-nya SasuIno, lho! Aku akan muncul dengan cerita baru. Jadi mohon pengertiannya ya, aku tetap berusaha meneruskan fakfiksi ini sampai selesai, kok. Tapi tolong beri aku waktu, ya! Terima kasih banyak!

See you next chapter!