Between Love, Fate and, Sacrifice.
Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia
…
Damchoo
LuMin/XiuHan
Yaoi
…
Pemuda kecil berwajah bayi itu menghembuskan nafas beratnya. Penuturan di ujung sana seakan merobek-robek hatinya. Semua yang sudah di persiapkan menjadi sia-sia. Niatnya, minggu besok dia – Minseok akan kembali ke Korea – tanah kelahirannya. Menemui orang-orang yang di sayanginya dan kegiatan lain yang sudah ia rencanakan, namun hari ini, seseorang menghubungi, dari pihak SM Group, mengatakan kalau waktu pulangnya di undur dua bulan lagi. Menggenapkan waktu tinggalnya di Beijing menjadi empat tahun.
Yeah, empat tahun. Minseok sudah tinggal di Beijing selama hampir empat tahun dan selama itu dia tidak pulang, menjadi pekerja yang mewakili perusahaan. Dan sekarang ketika ia seharusnya selesai dari pekerjaannya yang jauh dari tanah air, nyatanya pihak perusahaan malah menambah waktu kerja dan Minseok tidak bisa menolak.
"Ne, aku tahu ha-sajangnim." Ujarnya akhirnya. Kemudian sambungan terputus. Dengan lemas ia memasukan benda kotak tersebut kedalam saku, berjalan menuju kembali keruang kerjanya.
Ketika mata kucingnya melihat kalender diatas meja, tangan kecilnya mengulur, mengambil benda itu dan mengeluarkan sepidol merah dari laci. Menyilang pada lingkaran yang sudah ia tandai. Tanda yang ia berikan untuk menyemangati dirinya karena ia akan pulang. "Dicoret lagi hyung? Sebuah suara mengintrupsi ketika Minseok sedang mencoret tanda tersebut, dengan sedikit memaksa, Minseok melengkungkan bibirnya. "Ne, aku tidak jadi pulang minggu depan. Aku harus menyelesaikan sesuatu dan baru pulang dua bulan kemudian." Jawabnya seraya kembali memusatkan pandangan pada kalender.
Dan tanpa sepengetahuan Minseok, kening rekannya yang juga dari Korea yang bernama Jongdae mengerut. "Dua bulan lagi? Hyung yakin?"
"Eum, sajangnim baru saja menghubungiku." Minseok menyahut tanpa menoleh, baru ketika. "Bukankah dua bulan lagi sudah masuk musim dingin? Tidak mungkin kau bisa pulang saat itu. penerbangan pasti di liburkan." Minseok menoleh lagi pada Jongdae, benar, bukankah dua bulan lagi sudah masuk musim dingin. Tidak mungkin ia pulang saat sudah masuk musim dingin, karena penerbangan pasti libur. Badai salju merupakan ancaman.
Matanya memanas tiba-tiba. Ingin menagis tapi tidak mau Jongdae melihatnya. Jadi Minseok hanya berlalu begitu saja, meninggalkan Jongdae yang bingung dengan sikapnya.
…
"Musim dingin masih dua bulan lagi dan kau sudah akan merepotkan aku sedari sekarang? Aku ini orang sibuk tuan muda Oh, aku tidak punya waktu untuk menemanimu." Berkali-kali Luhan mengerang pada line telepon di sebrang, Oh Sehun, keponakannya dari Korea yang baru saja menghubungi dan minta di jemput. Dia mengatakan dengan jelas kalau anak itu sudah menunggu sejak satu jam di bandara.
"Kau tahu alamat apartemenku dan password nya. Kenapa tidak langsung datang saja."
Luhan menjauhkan ponselnya dari jangkauan telinga sebelum ia menjadi tuli di masa muda, suara Sehun melengking, keras dan menyebalkan. Inilah yang paling tidak di sukainya, sifat manja remaja itu dan suka mengancam. Aku akan mengadukan pada paman Han kalau kau tidak menjemputku. Ancaman bocah, silahkan saja. Adukan aku, ku penggal kepalamu. Ingin rasanya Luhan mengatakan itu jika tidak ingat kalau Sehun sangat cengeng. Lelaki macam apa yang suka menangis tidak manly. Begitu ejek Luhan jika Sehun menangis.
Tapi memang dasar Sehun, tidak peduli bagaimanapun ejekan Luhan dia hanya menanggapi, sepertinya yang di katakan Luhan hyung itu bukan aku. Mungkin dia kesal dengan temannya yang menyebalkan. Oh god. Kenapa keponakannya sebodoh itu.
"Baiklah aku jemput sekarang. Dan berhenti berteriak-teriak. Memalukan." Teriak Luhan di depan ponselnya, membuat seseorang yang sedang duduk di ruangannya mengerutkan hidung. Mengatakan agar tidak berteriak tapi dia sendiri juga berteriak bukankah sama saja kalau Luhan itu memalukan.
"Aku harus pergi Kris, sepertinya kita tunda dulu pembicaraan ini." katanya tanpa tenaga. Kris hanya mengedikan bahu. "Ya sudah, lagi pula client kita juga tidak bisa datang hari ini."
"Dia harus bersyukur karena aku sedang kesal pada Sehun, kalau saja anak itu tidak merusak mood ku mungkin aku sudah membatalkan kerja sama kita."
…
Damchoo
LuMin – XiuHan
Yaoi – Mpreg
…
Satu minggu sudah berlalu sejak kedatangan Oh perusuh Sehun. Tidak ada hari tenang bagi Luhan, hari-harinya menjadi begitu menyebalkan dan mengesalkan, ayahnya seperti peneror dan menjadi semenyebalkan Sehun.
Seperti hari ini, hari minggu yang biasanya dihabiskan oleh Luhan untuk bermalas-malasan malah menjadi supir dan harus mendengarkan celoteh tidak berguna dari anak yang katanya memiliki julukan Ice Prince, oh tuhan orang bodoh mana yang memberikan julukan itu.
"Bagaimana kalau Shanghai? Ah tidak, tahun lalu aku baru kesana. Sebenarnya kalau kesana lagi tidak apa, tapi masa dua kali, hyung tidak punya saran, payah sekali." Ejek Sehun, sama sekali tidak peduli dengan wajah Luhan yang mengeruh.
Pergi saja ke-neraka bukankah kau belum kesana. Batin Luhan berkata jahat. "Ah hyung, kita ke sana dulu, aku ingin makan dan membeli beberapa pakaian. Kajja kajja."
Lagi Sehun bersuara, sambil menunjuk gedung pusat perbelanjaan yang cukup besar, dan Luhan yang malas meladeni omongan Sehun lebih memilih mengikuti kemauan anak itu, lagi pula ia juga bisa sarapan disana mengingat Luhan belum sempat sarapan karena Sehun merusuhinya pagi-pagi buta.
…
"Bisakah aku tetap pulang besok? Aku sudah memesan tiket." dengan gugup Minseok mengutarakan keinginannya pada sang atasan. Meski dengan jelas di katakan kalau ia bisa pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya dua bulan lagi. Minseok berfikir mungkin karena atasannya lupa kalau dua bulan lagi sudah masuk musim dingin.
Kau tidak mendengarku kemarin. Apa kau ingin lalai dari pekerjaan?.
"Aniya, geunde bukankah dua bulan lagi adalah musim dingin. Jika aku tidak pulang minggu depan maka aku juga tidak akan pulang tahun ini." sudah ingin menumpahkan air mata tapi coba di tahan, agar suaranya tidak serak. Meski sebenarnya suaranya sudah bergetar sedari tadi.
Apa bedanya dengan pulang besok atau tahun depan? Bukankah sama saja.
"Tapi tahun ini juga bertepatan dengan Natal aku ingin-
Baiklah, kau pulang besok, dan aku akan ke Beijing menggantikan pekerjaanmu, kau senang?
Minseok menggeleng, bersamaan dengan air matanya yang menetes. Bukan seperti itu maksudnya, karena tahun ini ia pulang dan bertepatan dengan Natal, Minseok ingin pulang karena merindukan keluarganya, merindukan suasana Korea dan semua hal yang telah ia tinggalkan selama hampir empat tahun. Bukankah berkumpul dengan keluarga adalah hal yang paling menyenangkan ketika natal.
"Bukan seperti itu maksudku." Katanya akhirnya, suaranya sudah bergetar karena mengatakan sambil menangis.
Lalu bagaimana maksudmu? Kau bilang ingin pulang, ketika aku mengizinkan kau malah berkata seperti itu.
"Kalau harabeoji ke Beijing saat aku kembali itu tidak akan ada gunanya. Aku ingin pulang karena merindukanmu."
(…)
Terdiam, di ujung sana tidak membalas. Begitupun Minseok, yang masih mencoba menahan isakannya. Dengan cara menggigit bibir sampai ia merasa ada yang asin menyapa indrea perasanya.
Berhentilah bersikap seperti perempuan, kau ini laki-laki. Kau tidak akan mati hanya karena memendam rasa rindu kan. Lagi pula bukankah kita berbicara setiap hari.
Iya, memang. Tapi pembicaraan itu tidak pernah lepas dari pekerjaan, tidak pernah sekalipun menanyakan bagaimana keadaanku. Sedikit saja, tidakkah kau ingin tahu tentang diriku.
Aku akan mengirim kado Natal untukmu. Anggap saja seperti aku mendatangimu. Berhentilah menjadi lelaki cengeng, Taemin bahkan berhenti menangis ketika berusia empat belas tahun. Aku bisa mendengar isakmu dari sini. Sudah ku tutup dulu, aku sedang sibuk sekarang.
Sambungan terputus, bahkan sebelum Minseok memberikan jawaban. Dengan lemas, ia menurunkan ponselnya, bersandar pada dingding untuk membantunya berdiri dengan benar. Saat ini ia sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan untuk menemani Jongdae berbelanja oleh-oleh.
Sesuai rencana, besok lelaki kelahiran 1992 itu akan pulang, dia adalah teman Minseok yang bekerja di perusahaan yang sama SM Group. Dan hari ini minta ditemani untuk berbelanja sekaligus menyegarkan otak karena pekerjaan akhir-akhir ini sangat menumpuk ditambah akan adanya kerjasama baru dengan salah satu perusahaan China yang sedang berkembang pesat.
…
Luhan hanya mengikuti tanpa minat pada bocah kelahiran 1994 yang sedang sibuk memilih ini-itu sambil berceloteh ria. Ini cocok ini cocok ini cocok, astaga semua yang dilihat dikatakan cocok, kenapa tidak sekalian membeli tokonya. Luhan rasa toko ini cocok untuk Sehun.
Mengabaikan Sehun, Luhan berjalan memisahkan diri, ia sudah ada ditoko pakaian, mungin tidak ada salahnya ia juga membeli sesuatu. Sampai matanya tertuju pada mannequin yang di balut pakaian dengan papan plang bertulis Winter Edition. Sebuah mantel hangat berbahan wol berwarna gelap, lehernya di lilit syal warna senada dan sebuah beanie kotak-kotak bertulis Boss.
Sebegitu menarikkah, sampai tanpa sadar kakinya berjalan pada patung tersebut. Ketika ia sampai dan mengulurkan tangannya, tangan lain ikut menyentuh dibagian yang sama dimana tangan Luhan jatuh, seorang lelaki mungil bermata kucing yang kini menatapnya. Beberapa saat bertatapan sampai keduanya sadar, menarik tangan masing-masing lalu menunduk, mendadak gugup.
"Ah maaf, apa anda menginginkan ini?" tanya Luhan.
"Jika anda tidak mengambilnya, maka akan aku ambil."
"Oh ambilah, aku tidak terlalu menginginkannya." Luhan memang tidak terlalu menginginkan, hanya tertarik.
"Xiexie."
Dug dug dug. Nafas Luhan tercekat. Jantungnya menggila, ada apa ini. Kenapa sesuatu di dadanya yang sebelah kiri seakan ingin mendobrak lepas dari tempatnya. Dan kenapa di sekitaran wajah bulat itu seperti ada bunga-bunga dan bintang-bintang warna pink. Ya tuhan ada apakah dengan mata Luhan. Sampai-
"Min-saem."
Suara Sehun membuyarkan aura pink-pink disekitaran wajah bulat tersebut dan ia menoleh. "Sehun." Luhan kembali bisa bernafas dengan baik yang tanpa sadar sedari tadi di tahan. Dan, apakah baru saja dia menyebut nama Sehun? Mereka saling kenal?.
"Kau disini? Sedang apa?" jadi mereka memang benar-benar saling mengenal, sampai bercakap-cakap tanpa memperdulikannya. Ah sepertinya si mungil ini satu tanah air dengan Sehun.
"Aku sedang menemani temanku berbelanja oleh-oleh. Kau sendiri?"
"Menemani Luhan hyung berbelanja juga."
Heh, apa tadi katanya. Luhan sontak memelototkan matanya sebagai bentuk protes. Tapi Sehun sepertinya memang tidak peduli. "Oh, jadi dia hyung-mu?"
"Ne, dia anak pamanku yang orang China."
Mata Luhan bertatap lagi dengan orang yang di panggil Min dan lagi-lagi warna pink-pink tersebut muncul lagi.
"Halo, nama saya Xiumin, senang bertemu denganmu."
"Dia bisa bahasa Korea, jangan terlalu kaku." Ingin sekali Luhan memukul Sehun sampai pingsan agar bisa diam dan membiarkan dia bicara, Luhan bisa berbicara jadi Sehun tidak perlu repot-repot menjawabkan pertanyaannya.
"Oh, jinja."
"Ne, aku bisa bahasa Korea karena pernah tinggal di sana." Potong Luhan ketika Sehun ingin menjawab.
"Minseok hyung." Lagi sebuah suara muncul dari belakang Xiumin. Dan bisa dikenali dengan jelas kalau suara tersebut adalah milik Jongdae. "Oh kau sudah selesai Dae-ya?" Luhan mengerutkan keningnya. Minseok? Seperti pernah dengar nama itu. Hah, bukankah tadi lelaki mungil berwajah bayi itu mengatakan kalau namanya adalah Xiumin, lalu kenapa sekarang di panggil Minseok.
"Minseok itu nama asli Min-saem." Sepert Tahu, Sehun berbisik. "Tidak tanya." Tidak peduli, Sehun kembali berbisik. "Dia itu guru bela diriku"
"Sungguh?"
"Katanya tidak tanya."
Oh sungguh menyebalkan.
…
Tuan Lee menatap ponsel di tangannya dengan perasaan yang campur aduk, benarkah cara yang ditempuhnya? Demi tidak menyakiti perasaan bocah malang itu dia harus menjauhkannya sejauh mungkin dari tuan Lee? Bocah malang cucu sulungnya yang terabaikan, bukannya tidak sayang tapi setiap kali melihat wajahnya ia selalu teringat akan puteranya. Putera sulungnya yang begitu disayanginya namun malah mencoreng nama keluarga, menghadirkan Minseok yang seharusnya menjadi kebanggaan keluarga malah menjadi yang paling diasingkan.
"Temukanlah kebahagiaanmu disana nak, jangan pernah pikirkan aku dan belajarlah menjadi egois."
Katanya, sambil mengusapi nomor ponsel milik sang cucu dengan air mata nyaris luber, jika saja ketukan di pintu tidak terdengar. Setelah mengatakan masuk, seorang wanita muda bersama anaknya masuk, itu Naeun – isteri Taemin salah satu cucunya dari anak bungsu.
"Harabeoji."
…
Jongdae dan Sehun selesai berbelanja menjelang siang, Luhan tidak membeli apapun dan Minseok hanya membeli satu set pakaian musim dingin yang tadi dilihatnya bersama Luhan, dua orang itu kemudian hanya mengikuti doa orang lainnya yang sibuk berbelanja, Jongdae sesekali bertukar pendapat tentang barang yang akan dibelinya dengan Sehun, sedikit bersyukur Luhan, ia bertemu dengan Minseok dan Jongdae juga Sehun mengajak mereka berbelanja besama, karena dengan begitu Jongdae akan sedikit memberi saran kalau yang akan di beli Sehun kurang cocok atau tadi yang semacam itu sudah dibelinya.
Mengontrol pengeluaran Luhan. Pengeluaran Luhan? Tentu saja, setelah puas dengan semua keinginannya pasti yang disuruh membayar adalah Luhan, dengan alasan Aku tidak membawa mata uang China, lagipula aku datang kesini hanya berbekal tubuh dan pakaian yang kukenakan. Itu karena Sehun percaya semua keinginannya akan dipenuhi oleh Luhan, iya di penuhi dengan sangat tidak ikhlas, dia bekerja siang dan malam Sehun tinggal mengulurkan tangannya setiap datang. Enak sekali pemuda bermarga OH itu.
"Anda tidak berbelanja juga? kulihat Sehun sangat bersemangat?" yaeh bersemangat menghabiskan uangku. Kata hati Luhan menangapi perkataan Minseok, tapi yang keluar dari mulutnya malah. "Tidak, lemariku sudah tidak tersisa ruang untuk diisi lagi." Balasnya, kemudian diam lagi, Minseok itu sangat kecil, diantara mereka semua Minseok paling kecil dan sangat imut, Luhan berfikir Minseok pasti seumuran dengan Sehun atau mungkin lebih muda. Wajahnya itu seperti bayi, pipinya sangat bulat, putih, bersih seperti
"Baozi"
"Hah? Anda berbicara sesuatu?" tanya Minseok yang kebetulan mendengar bisikan Luhan.
"Huh, tidak aku hanya, eum lapar, tiba-tiba ingin makan baozi. Haha." Katanya disertai tawa canggung, Luhan gerogi apalagi saat Minseok menatapnya begitu, haih, ingat Luhan dia laki-laki sama sepertimu.
"Oh, kalau begitu anda bisa makan saja duluan, akan ku katakan pada-
"Kenapa tidak kita saja, kau dan aku makan bersama, toh kita sama-sama diabaikan" sela Luhan cepat, tidak mendapati respon dari Minseok karena dia hanya menatapnya, dengan berani Luhan menarik tangan Minseok dan memasuki salah satu rumah makan.
"Hey, bagaimana kalau mereka mencari kita?" tanya Minseok saat mereka sudah duduk di bangku dekat jendela. Luhan mengibas-ibaskan sebelah tangannya. "Biarlah, mereka sudah dewasa, lagipula kau tidak lelah mengikuti orang berbelanja tanpa ikut berpartisipasi." Benar juga sih apa yang dikatakan oleh Luhan, lagipula ia juga belum sarapan karena Jongdae merusuhinya pagi-pagi buta.
Aku ada di rumah makan Dae-ya. Jika kau lapar susul saja tidak jauh dari tempatmu belanja. Pesan Minseok pada Jongdae.
Setelah itu canggung lagi, baik Minseok maupun Luhan merasa tidak ada yang mau membuka pembicaraan, Minseok sih memang dasarnya pendiam dan Luhan, ini adalah pertama kalinya merasa segugup ini terlebih bersama laki-laki pula, ya tuhan.
Seorang waiter datang, menanyakan apa pesanan mereka dan disaat keduanya bersamaan menyebutkan menu yang sama, barulah mereka membuka pembicaraan. "Kau suka kopi?" tanya Luhan karena mereka sama-sama memesan kopi sebagai minuman. Minseok mengangguk, "Setelah minum kopi aku merasa segar." Katanya dan diangguki oleh Luhan. "Jarang sekali anak-anak menyukai kopi, Sehun suka sesuatu yang manis dan bubble tea adalah minuman favoritnya."
Anak-anak? Sedikit kernyitan tumbuh di kening Minseok? Apa dia tidak salah dengar?.
"Siapa yang anda sebut anak-anak?"
"Hah" tentu saja Luhan kaget, Minseok bertanya dengan begitu tegas, apa ia sudah menyinggung perasaannya. "Kau, tentu saja." sahut Luhan. "Hey apa kau tersinggung karena aku menyebutmu anak-anak. Memang benarkan?"
"Anak-anak pantatmu? Memangnya aku seperti bocah dimatamu?" hilang sudah sikap sopan yang tadi Minseok gunakan karena mengingat kalau Luhan ini kakak laki-laki Sehun yang merupakan muridnya. "Bercerminlah bung, kau memang terlihat seperti bocah. Aku berani bertaruh kau pasti lebih muda dari Sehun kan. Jadi kenapa harus tidak terima seperti itu."
Wah, wah wah. Luhan berhasil membuat Minseok naik pitam. Menyuruhnya bercermin, Minseok sudah bercermin asal dia tahu saja. lebih muda dari Sehun memangnya berapa sih umur lelaki didepannya ini. "Kau pikir berapa usiaku, aku ini bahkan lebih tua darimu jadi bersikaplah sopan tuan. Kau bisa kaget kalau tahu berapa umurku."
"Memangnya berapa? Paling-
"Kalian meninggalkan kami katanya untuk makan tapi malah berdebat, kau tidak lihat kalian menakuti pelayan yang membawa pesanan kalian." Suara Sehun, mengintrupsi perkataan Luhan. Lalu dua laki-laki itu menoleh pada sumber suara dan benar saja, seorang pelayan sedang berdiri agak jauh membawa pesanan mereka, ia pasti takut karena seorang bocah sedang berdebat dengan Luhan menggunakan perpaduan dua bahasa. Benar-benar seperti bocah kan.
"Hyung kenapa kau berdebat dengan Min-saem?"
"Panggil hyung saja Sehun, kita kan sedang tidak belajar." Ujar Minseok.
"Jinjia? Ah, arraseo hyungnim." Kata Sehun patuh. "Ngomong-ngomong, apa yang kalian ributkan?"
"Hyungnim?" tanya Luhan, merasa sedikit aneh mendengar Sehun memanggil bocah menyebalkan itu dengan sebutan kakak laki-laki. "Tentu saja, kan Min-hyung lebih tua dariku, bahkan lebih tua darimu."
"Hah?"
"Kau pasti tidak percaya kan hyung, pasti karena tubunya yang kecil dan wajahnya seperti bayi, kukira dia juga dulu adalah teman satu akademi tapi melihat pakaiannya dia malah guruku dan sangat kebetulan dia dari Korea jadi kami mudah dekat." Jelas Sehun panjang kali lebar. Sekilas dapat Luhan lihat senyum kemenangan di wajah bayi tersebut, tapi Luhan tetap tidak percaya, mana mungkin wajah seperti itu dikatakan lebih tua. Ya ampun.
"Sudahlah, lagipula aneh sekali kalian meributkan siapa yang lebih tua, bukankah semakin tua semakin cepat menemui tuhan."
"Mati maksudmu? Jadi kau mendoakan aku mati terlebih dahulu begitu?" Jongdae hanya meringis mendengar protesan Minseok, bukan seperti itu sih maksudnya, tapi biasanya begitukan siapa yang lebih tua dia duluan yang akan dipanggil tuhan? Tidak juga sih bayi yang baru lahir langsung meninggal juga banyak kan.
"Aku hanya bercanda hyung. Hehe" ujar Jongdae sambil mengusak-usak manjakan wajahnya di lengan Minseok. Jongdae sibuk dengan permintaan maafnya pada Minseok, Luhan malah sedang mencoba berfikir keras, sepertinya dia juga pernah melakukan hal tersebut, mendebatkan tentang umur dengan seseorang. Orang yang hanya lebih tua satu bulan namun Luhan memaksanya untuk memanggil dia Lu-ge. Tapi siapa? Dimana?.
"Hyung."
"Eh. Apa?"
"Kau kenapa? Melamun? Memikirkan sesuatu?"
"Kau ingin tahu?"
"Tidak."
"Ya sudah."
…
"Bagaimana kalau setelah ini kita belanja?" usul Taemin setelah menelan habis seluruh makanan yang tersedia dihadapannya sambil memandang kakeknya dengan binar mata yang memancarkan kebahagian, namun bukannya dibalas dengan kebahagiaan pula Taemin malah dibalas dengan kernyitan dari kakek dan isterinya.
"Belanja? Tidak biasanya kau ingin belanja? Ingin membuat pesta?" itu Naeun, bertanya pada sang suami karena merasa aneh. "Hmm, menyambut Minseok hyung, bukankah besok dia akan pulang, aku penasaran sekali bagaimana dia sekarang, apa semakin tinggi atau semakin imut, dia itu seperti bayi, kau pasti menyukainya kalau bertemu. Dia sangat baik" Jelasnya pada Naeun, memang isteri Taemin itu belum sempat bertemu dengan Minseok karena ketika pertemuan dua keluarga. Keluarga Son dan Lee, Minseok sudah berangkat paginya ke Beijing dan ketika Taemin menikah Minseok juga tidak bisa pulang karena sedang pergi ke Jepang.
"Saudara laki-lakimu yang lebih tua tiga tahun namun wajahnya sangat imut tapi pandai beladiri itu? Yang selalu kau ceritakan?" Balas Naeun, merasa tidak asing dengan nama Minseok, yeah Taemin memang sangat hobi bercerita tentang saudaranya yang lebih tua tapi sangat imut itu.
"Iya. Waktu aku TK dan diganggu anak-anak SMP bahkan hyung yang menolongku dan menghajar anak-anak SMP itu padahal saat itu hyung masih kelas tiga, bukankah dia sangat hebat?"
"Apakah jiwa preman itu begitu membanggakan? Itu bukan karena dia berani tapi dia brandalan." Tuan Lee menyahut, menyerobot sesuatu yang ingin diucapkan Naeun, membuat pasangan suami isteri itu menoleh pada lelaki yang masih sibuk menyuapi cicitnya. Menyadari kalau dia sedang di pandangi tuan Lee meletakan garpu di atas meja dan menatap pasangan tersebut. "Minseok tidak akan pulang besok, dua bulan lagi setelah semua pekerjaannya selesai baru dia akan pulang jadi belanjanya dua bulan lagi saja."
"Dua bulan? Bukankah dua bulan lagi sudah masuk musim dingin, itu tidak mungkin bagi Minseok hyung untuk pulang."
"Kalau begitu ia pulang tahun depan."
"Tahun depan? Itu berarti Minseok hyung melewatkan natal bersama kita dan juga tidakkah ini terlalu lama, itu hampir empat tahun dia dinegeri orang."
"Aku akan mengirim paket untuknya, lagipula dia saja tidak protes kenapa kau yang sedang kalang kabut."
"Tidak protes atau harabeoji yang tidak mau mendengar protesnya?"
"Aku sudah menawarkan, dan dia lebih memilih menyelesaikan dulu pekerjaannya sebelum kembali."
"Apa yang harebeoji tawarkan?"
"Dia pulang ke Korea dan aku datang ke Beijing untuk menyelesaikan pekerjaannya."
Tidak habis pikir, kakek macam apa yang memberikan pilihan seperti itu, tentu saja Minseok akan memilih menyelesaikan semua pekerjaannya baru pulang, lagipula jika kakeknya pergi, siapa yang akan ditemui Minseok mengingat orang yang paling disayangi lelaki itu adalah kakeknya. Orang tuanya sudah meninggal dan kakeknya adalah alasan Minseok rindu rumah, tapi jika seseorang yang sangat ingin ia temui memberikan pilihan seperti itu, pastilah Minseok hanya bisa diam tanpa protes.
…
Tidak mau, aku kan lebih tua darimu. Kenapa harup panggil Lu-ge, harusnya kau yang panggil aku gege, akukan lebih tua darimu.
Hanya beda satu bulan, lagipula kau lebih pendek, kau lebih imut dan aku lebih pantas jadi gege mu. Ayo panggil aku Lu-ge.
Tidak mau, kau yang panggil aku gege.
Dasar gendut, marmut yang tidak penurut. Baozi haha.
Kau mengejek aku ya? Dasar rusa cantik, kau ini laki-laki apa bukan, kenapa kau cantik seperti perempuan.
Kau cari mati ya.
Luhan cantik Luhan cantik wlee wlee.
Dasar gendut, marmut pantat besar. Baozi.
Tangan Minseok reflek memegang lengan Luhan yang kebetulan berjalan dibelakang lelaki tersebut, Luhan seperti akan jatuh pingsan ketika mereka baru keluar dari rumah makan. "Kau kenapa? Tidak apa?" tanya Minseok yang melihat Luhan berwajah pucat.
"Tidak apa. Hanya pusing." Balasnya.
"Tapi wajahmu pucat." Lagi Minseok berkomentar. "Hyung kenapa?" tanya Sehun yang tidak sengaja melihat Minseok menopang Luhan. "Aku tidak apa, kepalaku tiba-tiba pusing saja."
"Ingat sesuatu? Si marmut gendut lagi ya?"
Marmut gendut?
Pertanyaan Sehun hanya disahuti dengan senyuman, menandakan kalau apa yang dikatakan sepupunya adalah benar. "Kau sudah jarang mengingatnya lagi hyung, tapi kenapa sekarang tiba-tiba teringat lagi?"
"Sudahlah lupakan, lagipula hanya sekilas tidak perlu dicemaskan."
"Kau harus kedokter hyung."
Disisi lain, Minseok hanya terdiam mendengarkan percakapan Luhan dan Sehun yang sama sekali tidak dimengertinya sambil masih memegangi lengan Luhan, kalau-kalau lelaki itu oleng lagi, baru ketika tepukan pelan dipunggung tangannya, Minseok menoleh, mendapati Luhan sedang mencoba melepaskan tangannya dari pria itu yang otomatis membuat Minseok melepaskan tautan lalu tersenyum canggung. Setelah itu mereka berpisah, Minseok dan Jongdae pulang dengan mobil Minseok dan Luhan serta Sehun menggunakan mobil Luhan.
Dalam perjalanan, tiba-tiba Minseok mengingat sesuatu, marmut gendut dan baozi, ia sempat mendengar dua kata tersebut, baozi dari Luhan dan marmut dari Sehun, entahlah itu seperti memiliki makna lain ditelinga Minseok, seperti pernah mendengarnya tapi entah dimana dan dari siapa. Minseok seperti baru mengalami déjà vu dan itu bersama Luhan.
"Hyung."
"Oh?"
"Kau melamun ya?"
"Ah ani, wae?"
"Jadi kau tidak mendengar aku? Aku tanya kau beli apa?" Jongdae mengulangi pertanyaannya sambil tetap fokus pada kemudi. "Oh, aku membeli pakaian musim dingin, besok titip ya, berikan pada Lee sajang."
…
"Jadi kau mengingat lagi? Lihat wajahnya?" tanya Hangeng, ayah Luhan setelah mendengar cerita anaknya. Hari ini Luhan memutuskan untuk menginap dirumah ayahnya karena merasa ia butuh curhat pada sang ayah, ibunya sudah meninggal maka ayahnyalah orang yang selalu Luhan curhati entah itu masalah pekerjaan maupun hati dan sepertinya masalah yang terkadang mengiang diotaknya adalah masalah hati, pasalnya setiap kali ia mendapatkan ingatan yang samar tanpa melihat wajah orang yang berbicara padanya, hati Luhan selalu sakit, berdenyut nyeri dan Luhan menjadi lemah.
"Tidak, hanya suara. Aku seperti merasa déjà vu, tapi dia baru saja kutemui."
"Dia? Maksudmu."
"Aku bertemu dengan seseorang dan kami berdebat. Perdebatan itulah yang membuatku merasa déjà vu."
"Mungkin karena kau terlalu merindukannya dan ketika menemukan seseorang yang berkarakter mirip itu membuat pikiranmu rancau, sudah jangan dipikirkan. Besok siang baba temani kau ke dokter, kita tanyakan apakah itu berbahaya atau tidak. Sekarang istirahatlah. Bukankah kau ada pertemuan pagi besok, mengenai kerja sama dengan perusahaan Korea kan?"
Luhan hanya mengangguk, sebagai jawaban, lalu keluar dari kamar ayahnya. Melenggang menaiki lantai dua dimana kamarnya berada, kamar bertema sepakbola dan angka tujuh. Luhan berbaring diranjang, sudah lama sekali ia tidak berbaring disana, karena sejak memiliki perusahaan sendiri Luhan juga memutuskan membeli apartemen untuk ditinggalinya karena lebih dekat dengan tempat kerja, hanya sesekali saja ia menginap ditempat ayahnya, jika ayahnya sedang tidak memiliki dinas dan jika Luhan sedang mengalami gundah, disaat itulah Luhan ada dirumah.
"Siapa kau?"
…
Kau harus panggil aku gege.
Tidak mau, aku kan lebih tua darimu. Kenapa harup panggil …-ge, harusnya kau yang panggil aku gege, akukan lebih tua darimu.
Hanya beda satu bulan Minseok, lagipula kau lebih pendek, kau lebih imut dan aku lebih pantas jadi gege mu. Ayo panggil aku …-ge.
Tidak mau, kau yang panggil aku gege.
Dasar gendut, marmut yang tidak penurut. Baozi haha.
Kau mengejek aku ya? Dasar rusa cantik, kau ini laki-laki apa bukan, kenapa kau cantik seperti perempuan.
Kau cari mati ya.
… cantik … cantik wlee wlee.
Dasar gendut, marmut pantat besar. Baozi.
Minseok terbangun, setelah sekian lama tidak bermimpi tentang perdebatan tidak mutu dengan seseorang yang entah siapa, kini Minseok kembali dihantui, ini pasti ada kaitannya dengan perdebatan yang dilakukannya dengan Luhan tadi siang. Minseok jadi jengkel gara-gara Luhan ia jadi harus dihantui mimpi yang terkadang membuatnya sakit kepala, mimpi yang hanya berisi suara tanpa bisa melihat rupa dari pemilik suara tersebut, sebenarnya mimpi apa ini? Apa berkaitan dengan masalalunya, tapi apa yang terjadi dengan masalalu Minseok sehingga dia melupakan sesuatu yang kini seperti mendesak ingatan dan harus di ingat. Terlebih saiapa dia? Siapa orang itu apakah dia penting bagi Minseok?.
"Siapa kau."
…
TBC/END?
…
30 Mei 2017
