Between Love, Fate and, Sacrifice.
Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia.
.
.
LuMin – XiuHan
Yaoi – Mpreg
.
.
Jika tengah malam sudah terbangun karena mimpi aneh yang membuatnya sakit kepala, biasanya Minseok tidak akan bisa tidur lagi, maka ia menyibakan selimutnya dan berjalan kearah balkon, membuka sedikit tirainya lalu memandang langit, langitnnya sungguh gelap, hitam tapi tidak terlihat menakutkan. Hanya terasa begitu sepi saja, sesepi hidup Minseok yang selalu sendiri, masak sendiri, makan sendiri, mencuci baju sendiri apapun sendiri.
Minseok punya keluarga, keluarga yang besar yang terdiri kakek, paman, bibi dan keponakan-keponakan, tapi anehnya dia seperti sebatang kara, seluruh keluarganya berada di tanah air sementara dia ditanah orang, berkupul dengan semua orang yang disayangi didalam satu rumah besar serupa istana, terdengar sangat menyenangkan yah tentu daja dan itu adalah permintaan kakeknya, setelah neneknya meninggal semua keluarga diboyong kerumah kakeknya yang super besar yang dulu ditinggali kakek, nenek dan Minseok kecil saja.
Minseok kecil berfikir, mungkin akan menyenangkan jika semua keluarga tinggal satu rumah, rumah akan sangat ramai dan Minseok punya teman tapi nyatanya sama saja, Minseok kecil semakin malah merasa kesepian dan semakin terabaikan. Lee Taemin menjadi pusat perhatian semua orang dengan kecerdasan dan keceriaannya belum lagi ketika Luna Park yang suka menyanyi-nyanyi dimanapun berada membuat semua orang tersenyum dan ikut bersenandung kecil mengikuti alunan suara gadis yang lebih muda beberapa bulan dari Taemin.
Ketika Lee Taeyong lahir dengan begitu tampan disusul dengan Joy Park setahun kemudian. Keluarga mereka semakin besar karena kehadiran anggota baru didua tahun berturut-turut setelah semua orang berkumpul menjadi satu diatap yang sama, semakin meramaikan dan semua orang menyambut mereka dengan sangat baik.
Lima anak itu tumbuh bersama dengan Minseok sebagai sulung, Minseok adalah anak sematawayang dari Lee tertua – Lee Sungmin yang telah meninggal tepat dimana hari Minseok dilahirkan. Luna Park dan Joy Park adalah anak dari Lee kedua, Lee Soonkyu yang menikah dengan Park Jungsoo. Lee Taemin dan Lee Taeyong adalah putera dari anak bungsu Lee Jinki dan Bae Juhyun. Double Lee dan Park masih memiliki orang tua utuh dan hanya Minseok yang sudah yatim piatu, mungkin karena itulah ia merasa kesepian, ketika pulang sekolah akan ada yang menyambut dan menanyai mereka. Bagaimana sekolah mu nak? Menyenangkan? Ada PR? Dan blablabla.
Ketika nenek masih ada itu masih mending bagi Minseok karena Minseok merasa diperhatikan namun setelah kepergian sang nenek semua sirna, memang bibinya dan pamannya terkadang memasuki kamarnya dan menanyakan sedang apa? Ada PR? Bagaimana sekolahnya tapi itu hanya sesekali dan itupun jika sempat. Tentu saja karena anak-anak mereka pastilah lebih diutamakan ketimbang Minseok yang hanya keponakan.
Jika tidak Minseok kecil hanya bisa melihat dan sangat iri, ketika nilai ulangan mendapat nilai sempurna dan ditunjukan pada orang tua, Minseok juga ingin tapi tidak bisa. Pernah suatu ketika ia ingin menunjukannya pada kakeknya.
"Harabeoji harabeoji." Teriak sikecil Minseok saat sudah berdiri didepan meja kerja kakeknya, saat itu kakeknya sedang bekerja dan seharusnya Minseok tahu kalau teriakannya akan mengganggu konsentrasi kakeknya namun keinginan untuk menunjukan nilai sempurnanya mengalahkan segalanya, sehingga ketika tidak sengaja ia menyenggol gelas berisi air minum, kakeknya marah besar. "Astaga Minseok. Apa yang kau lakukan? Aku mengerjakaan ini sejak tadi dan baru saja selesai, kau malah menghancurkannya. Ruangan ini bukan taman bermain bocah, ini tempat kerja dan tahukan kalau dilarang masuk sembarangan."
"Mianhaeharabeoji, Minseok tidak sengaja. Minseok hanya ingin menunjukan ini." katanya dengan mata berair dan tangan keduanya saling menggosok satu samalain.
"Apa sih ini. Hanya kertas tidak berguna seperti ini kau menghancurkan pekerjaanku." kakek Minseok menghempaskan kertas ditangan Minseok ke genangan air bekas minum tumpah sehingga kertas itu basah, Minseok tentu saja menjerit, kertas ulangannya harus dikumpulkan lagi besok.
"Harabeoji itu hasil ulanganku, dan besok harus dikumpulkan."
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku. Aku bisa mengganti setumpuk-
"Appa" suara Jinki mengintrupsi perkataan tuan Lee, anak bungsunya datang dan langsung membawa Minseok dalam pelukan, keponakannya itu tubuhnya sudah bergetar karena takut tapi ayahnya malah semakin menatap nyalang. "Pantaskah seorang kakek melakukan itu pada cucunya, Minseok ini cucu appa, anak Sungmin hyung. Kenapa appa memperlakukannya seperti dia ini anak musuhmu."
Dan pertengkaran panjang terjadi.
Minseok menggelengkan kepalanya untuk mengusir ingatan-ingatan menyakitkan masa kecilnya jika sudah melamun, pasti segala macam ingatan akan muncul karena lamunannya akan bercabang-cabang. Meski begitu Minseok tetaplah Minseok, tetap ingin kembali dan menemui semua keluarganya di Korea, tidak peduli dia tidak dianggap tapi bagi Minseok keluarga adalah segalanya, melihat mereka tertawa bahagia saat suka cita menyambut natal dan tahun baru adalah sesuatu yang bisa mengobati sakit dihatinya. Minseok tidak meminta lebih, meskipun nantinya ia hanya akan dikamar saja namun ketika tawa mereka terdengar hingga ketelinga rasanya sudah membahagiakan bagi Minseok. Sesederhana itulah keinginannya.
…
Untuk kesekian kalinya Luhan menghela nafas, sejak ia memasuki kamar beberapa jam yang lalu dan mencoba tidur namun gagal, Luhan memilih duduk di depan kaca didekat balkon kamar sambil menatapi langit yang terasa begitu hampa, hitam kelam dan tanpa bintang, sepi sekali kan, membosankan. Luhan seperti itu, sekalinya tidur bangunya sulit minta ampun tapi ketika sudah kesulitan tidur, maka semalaman ia tidak akan memejamkan mata, sampai ketika cahaya oranye mulai muncul, mata Luhan belum bisa terpejam dan jam menandakan ia harus segera mandi, bersiap-siap lalu pergi ke kantor, pagi ini dia memiliki pertemuan penting, dengan Kris dan perwakilan dari salah satu perusahaan Korea dan beberapa perusahaan untuk menjalin kerja sama.
Luhan harap orang itu datang, tidak seperti satu minggu yang lalu, membatalkan seenak perutnya dengan alasan yang sangat tidak profesional, maaf sepertinya kami tidak bisa melakukan pertemuan hari ini, rekanku jatuh sakit. Cih, sakit apa yang begitu tiba-tiba. Sakit jantung mendadak karena di putuskan pacarnya? Yang benar saja.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap Luhan turun kebawah untuk sarapan, ayahnya sudah duduk disana sambil meminum kopi dan membaca koran, ternyata Sehun juga sudah turun, sedang bermain dengan ponselnya, berkirim pesan rupanya, ah sepertinya dengan pujaan hati, lihat saja ekspresinya, terlihat begitu senang dan sesekali semburat merah muncul dipipi super putihnya.
Bagaimana kalau noona, itu artinya kakak. Baca Luhan dengan suara keras ketika Sehun selesai mengetik, nama dalam kontak tersebut tidak jelas karena Sehun menggunakan kode. "Ya hyung" teriak Sehun kesal sambil menyembunyikan ponselnya.
"Dasar bocah, sekolah dulu yang benar baru pacaran, masih kecil sudah cinta-cintaan." Kata Luhan yang hanya di tanggapi gelengan oleh sang ayah. "Biar saja sih hyung, bilang saja kalau iri. Kau kan tidak laku. Sudah tua kok masih jomblo.
"Biar saja aku jomblo itu menandakan kalau aku hanya menyerahkan cintaku pada orang yang kucintai yang akan bersumpah sehidup semati."
"Sudahlah, kalian ini suka sekali berdebat kalau bertemu, semua hal menjadi masalah. Biarkan Sehun jika sudah memiliki tambatan hati itu seharusnya menjadi tamparan untukmu Lu, kau sudah duapuluh tujuh tahun dan yang ada di otakmu hanya kerja, kerja dan kerja, sudah seharusnya kau mencari pasangan kan."
Dan Luhan hanya mencibir, lagi-lagi ayahnya membela sipucat sialan Oh itu. "Yayaya. Akan kubawakan kekasihku nanti, jangan kaget jika kalian bertemu dengannya ya."
"Kau sudah punya?" tanya Sehun dan Hanggeng bersama. Luhan hanya nyengir sambil menatap gantian ayah dan keponakannya lalu menggeleng. Bagaimana mau mencari pacar Luhan kan sibuk. Begitu pikir lelaki 27 tahun tersebut.
…
"Hyung bisa pergi tanpa menungguku, kau kan punya pertemuan pagi ini hyung." Kata Jongdae pada Minseok yang terlihat gelisah, saat ini mereka sedang dibandara, mengantarkan lelaki berwajah kotak tersebut tapi perhatian Minseok sesekali tertuju pada jam yang melingkari pergelangan tangannya, kentara sekali kalau dia sedang memperhitungkan waktu. "Tapi kau belum pergi Dae." Ujar Minseok. "Tidak apa hyung, aku tinggal menunggu sebentar lagi. Tapi kalau kau kan ini masalah pekerjaan hyung, jika kerja sama ini tidak berhasil aku takut kau kena marah, hyung pergi saja."
"Benar tidak apa?"
"Sungguh hyung, akan ku kabari kalau aku sudah di pesawat dan juga kalau aku sudah tiba di Korea."
"Janji kan?"
"Iya hyung aku janji."
Sebelum pergi mereka berpelukan, dengan raut muka bersalah Minseok mengusak kepala orang yang sudah ia anggap adik sendiri itu. Dan Jongdae hanya menanggapinya dengan senyuman. Setelah tiba di mobilnya, Minseok mengirimkan pesan balasan pada orang yang sedari tadi menanyakan kapan Minseok akan tiba.
Empat puluh menit kemudian Minseok sudah tiba di depan gedung pertemuan dan terlihat jejeran mobil sudah memenuhi parkiran. Minseok sedikit gugup, biasanya dia ditemani Jongdae sebagai rekannya tapi sekarang ia sendiri dan ini sangat menjadi beban.
"Maaf saya terlambat." Ujar Minseok sambil membungkukan badan pada orang-orang yang sudah duduk menempati kursi masing-masing.
"Minseok." Sampai sebuah suara mengintrupsi. Dan suara itu sedikit asing namun Minseok mengenalnya. Ketika ia mengangkat kepala, terlihatlah mata rusa menyebalkan yang menatapnya dengan kernyitan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya mereka bersama, mengabaikan pandangan orang-orang yang melihat heran. "Seharusnya aku yang bertanya bodoh, kau sedang apa?" balas Luhan.
"Kau mengataiku bodoh? Hey tuan jaga bicaramu ya."
"Kalau bukan bodoh apalagi. Kau datang terlambat dan membuat semua orang menunggu, lagipula yang mengataimu bodoh bukan aku, tapi Lee sajangnim pemilik SM Group tempatmu bekerja. Kau tahu aku sudah mengadukan ketidakprofesionalanmu" Kata Luhan menekan semua kata yang keluar dari mulutnya. Yang secara otomatis membuat Minseok membolakan matanya sejenak, benar-benar sejenak karena detik kemudian, ia membungkuk dalam, matanya memanas, ia malu sekali tapi ia harus minta maaf. Mungkin ini memang salahnya. "Maafkan aku, telah datang terlambat." ujarya.
Luhan tidak tahu, kemana sinar keberanian yang memancar dimata lelaki mungil itu, apa sesuatu yang salah telah di ucapkannya. Kenapa bisa langsung membuat mood Minseok sebegitu berubahnya. Luhan sangat yakin kalau tadi ketika Minseok mengangkat kepalanya dia melihat sebutir bening diujung mata Minseok, hatinya tiba-tiba dirubungi perasaan tidak enak dan ia begitu merasa bersalah. Meskipun tidak tahu apa kesalahannya. Entah kenapa Luhan jadi merasa begitu jahat, seperti dia telah melukai perasaan Minseok.
Selama pertemuan yang dihadiri sekitar delapan atau sembilan orang, mata Luhan sama sekali tidak lepas dari Minseok yang hanya menunduk dan sesekali mencatat, menjelaskan dengan kikuk kemudian meminta maaf, hingga pertemuan dihentikan sejenak. Dan Minseok adalah orang pertama yang keluar dari ruangan. Berlari menuju ketoilet dan Luhan mengikutinya. Minseok memasuki salah satu bilik dan Luhan melakukan hal yang sama dengan memasuki bilik tepat disebelahnya.
Aku mengantar Jongdae dulu. Terdengar Minseok berkata, ah dia ingat. Hari ini Jongdae akan kembali ke Korea, seperti yang ia dengar kemarin. Aku lupa kalau pertemuannya pagi ku- Ne aku tidak akan mengulangi kebodohanku lagi.
Luhan tertegun, suara Minseok bergetar. Sepertinya dia tahu kenapa Minseok tadi langsung berubah, pasti karena ia mengatainya bodoh dan mengatakan kalau yang mengatakannya bodoh adalah atasannya. Tapi bukankah seorang atasan biasa mengatai bawahannya bodoh kan. Minseok tidak mungkin sesensitif itu kan, menangis hanya karena dikatai bodoh.
Cheoseoungeo harabeoji. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan berlutut jika itu diperlukan kalau perlu didepan semua orang. Neharabeoji.
Harabeoji? Kening Luhan berkerut, ketika akhirnya Minseok keluar dari dalam bilik setelah selesai berbicara Luhan masih terdiam di tempat. Kakek macam apa yang mengatai cucunya bodoh dan memintanya untuk berlutut memohon maaf. Mungkinkah Luhan salah dengar? Ketika ponselnya berbunyi barulah Luhan tersadar kembali.
"Aada apa?" itu Kris, diujung sana yang mengatakan kalau pertemuannya akan segera di mulai dan Luhan harus bergegas. Tapi ketika ia membuka sedikit pintu bilik, ia melihat Minseok masih disana, mencuci wajahnya dengan air berkali-kali yang justru membasahi sedikit bajunya. Mata dan hidung itu memerah. Minseok menangis. Dan reflek Luhan menyentuh dadanya, nyeri tiba-tiba.
Men-dial nomor Kris, Luhan berkata setelah sambungan terhubung. "Undur waktunya sampai selesai makan siang Kris, aku ada urusan mendadak." Tanpa menunggu jawaban, Luhan mengantongi ponselnya dan mengintip Minseok lagi. Melihatnya demikian membuat Luhan berspekulasi kalau hubungan Minseok dan kakeknya tidak terlalu baik. Seandainya ia tahu akan begini, Luhan memilih membiarkan dirinya berdebat dengan Minseok meski berakhir tanpa pemenang dari pada mengadukannya dan membuat Minseok terlihat begitu menyedihkan.
Berlutut jika diperlukan kalau perlu didepan semua orang. Setega itukah apakah orang yang di panggil Minseok kakek adalah kakek kandung? Teganya menyuruh cucunya untuk berlutut hanya untuk memohon maaf, dan didepan umum pula. Jikapun itu terjadi Minseok bukan hanya akan memalukan dirinya sendiri tapi perusahaannya, hanya karena dia terlambat dalam pertemuan penting permintaannya begitu berlebihan. Tanpa sadar airmata juga jatuh dari mata Luhan. Sakit mendera tiba-tiba seakan ia yang merasakan.
…
Selesai pertemuan, Luhan ingin mengejar Minseok, entah kenapa dia ingin meminta maaf, namun tercegat deringan ponsel disakunya, dan disaat yang sama Minseok jika mengambil ponselnya, berbelok di koridor lalu menghilang dalam sekejap. Dan Luhan mengambil ponselnya sendiri, melihat dilayar rupanya ayahnya. Ah dia ingat kalau hari ini dia punya janji untuk pergi kedokter. Dia harus memeriksakan diri perihal ingatan-ingatan yang terkadang muncul, jika hanya muncul itu bukan masalah namun terkadang mambuatnya sakit kepala.
"Iya ba." Sahut Luhan setelah babanya berbicara, mengatakan kalau ia sudah menunggu dilobi, setelah itu tanpa pikir panjang Luhan mengantongi ponselnya kembali dan menuju kelantai dasar dimana ayahnya sedang menunggu. Sepanjang menuju lobi Luhan terus saja berfikir kalau ada yang salah dengan dirinya, kenapa? Kenapa dia harus begitu peduli terhadap Minseok yang padahal baru dikenalnya belum lama, biasanya juga dia akan mengabaikan, terlebih untuk orang-orang seperti Minseok yang menurutnya sangat tidak profesional juga tidak berguna.
Terlambat dalam pertemuan penting adalah sesuatu yang sangat fatal, mudah gugup dan kikuk, lalu dia terlalu pendiam dan penurut. Entah hubungan semacam apa antara Minseok dengan orang yang dipanggilnya kakek, tapi mengatakan dengan mudah untuk meminta maaf bahkan berlutut adalah gambaran orang yang mudah ditindas dan selalu mengalah, lemah dan inilah kenapa Luhan mengatakan orang-orang seperti Minseok tidak berguna.
Tapi, anehnya Luhan malah merasa bersalah, terlebih karena yang membuat Minseok kena damprat adalah berkat Luhan, karena Luhan yang secara langsung mengadukan Minseok pada atasannya pada pimpinan SM Group. Ini salah, semuanya salah dan ini bukan diri Luhan yang sesungguhnya. Tapi kenapa dia seperti ini?
"Baba." Panggilnya ketika sepasang mata rusanya menangkap sang ayah seperti sedang memandang seseorang. "Oh, kau sudah datang." Kata ayahnya sambil menolehkan kepalanya pada Luhan.
"Baba sedang memperhatikan apa" tanya Luhan sambil mengintip kebelakang, dimana tadi ayahnya memandang.
"Tidak, aku hanya merasa seperti melihat teman."
"Temanmu?"
"Anaknya kurasa, karena dia terlihat seumuran dengan Sehun atau lebih muda kupikir."
Sesaat dalam pikirannya terlintas Minseok, silelaki dewasa berwajah bayi. Katanya sih lebih tua Minseok namun Luhan tidak percaya, masih tidak percaya meski Sehun mengatakan hal yang sama. "Teman apa?"
"Dulu teman seperguruan tinggi, ah sudahlah mungkin salah lihat. Sebaiknya kita cepat, aku sudah membuatkan janji dengan dokter." Katanya seraya sedikit menarik Luhan.
…
"Aku sangat sibuk Taemin-ah." Ujar Minseok sambil memandangi kuku-kuku jarinya. Sambil lagi-lagi menumpahkan air matanya yang sudah tumpah entah kesekian kalinya. Kali ini memang bukan kata-kata menyakitkan tapi meremas hatinya, ia sudah rindu tapi tidak bisa bertemu. Video call pun tidak bisa, ia takut Taemin menyadari kalau matanya sembab.
Sibuk apa hyung? Menimbun uang untuk harabeoji? Dia sudah kaya lebih baik kau pikirkan saja dirimu kau pantas bahagia hyung.
"Aku bahagia Taemin-ah, memang apa yang membuatku tidak bahagia, aku bekerja, punya uang dan aku bebas melakukan apapun yang aku mau."
Apa kau tidak mau kembali? Ini hampir empat tahun hyung. Kau tidak ingin mengunjungi Sungmin ahjussi? Tidak rindu?
Minseok menelan ludahnya, menggigit bibirnya keras-keras untuk meredam isak, tidak. Taemin tidak boleh mendengar isaknya. "Aku punya hal yang lebih penting untuk diutamakan, aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal semacam itu."
Mengunjungi ibumu sesuatu yang tidak penting? Hyung tidak sakit kan?
"Sepertinya aku harus pergi Taemin-ah, aku masih ada pekerjaan. Pyong."
Dan Minseok menjatuhkan ponselnya, menenggelamkan wajahnya dilipatan tangan yang bertumpu dengan stir mobil, ia rindu, rindu semua hal yang ada ditanah kelahirannya, namun mau bagaimana? Seseorang tidak ingin melihatnya. Dan Minseok bisa apa, jika ia memaksa kembali bukan tidak mungkin semua yang buruk akan terjadi.
Malam natal dan tahun baru keluarga Lee pasti akan hancur jika Minseok pulang, pasalnya sang anggota keluarga yang paling dihormati tidak ada, dan Minseok sebagai anggota keluarga yang tidak diinginkan pasti akan semakin dicap sebagai perusak suasana, maka bukankah lebih baik ia tidak pulang dan menjadi anak penurut. Toh dimanapun ia berada ia akan tetap merasakan sukacita natal kan.
…
"Minseok-hyung terlalu mencintai harabeoji." Kata Taemin seraya melemparkan ponselnya, kemudian mendengar desahan ayahnya. Sama seperti Taemin, Jinki – ayah Taemin juga frustasi. Keponakannya yang satu ini bisa dibilang yang paling keras kepala, paling malang, tapi paling berjasa, yang sayangnya paling tidak dihargai.
Minseok keras kepala karena mau saja menuruti perintah konyol yang memintanya untuk mengundur waktu pulangnya padahal sudah sejak lama ia diizinkan pulang bersama dengan semua pekerja yang ditempatkan dinegeri tirai bambu tersebut.
Paling malang karena pengunduran itu dilakukan secara sengaja dan karena alasan pribadi, karena Minseok dianggap anak yang tidak lazim dan karena demi mempertahankan Minseok tuan Lee kehilangan anak kesayangannya, paling malang karena sangat tidak diinginkan kehadirannya.
Tapi justru karena Minseoklah semua keluarga Lee bisa hidup nyaman bergelimangan harta seperti sekarang, karena disaat semua orang menikmati waktu libur dan bersenang-senang maka Minseok sedang sibuk bekerja, disaat semua orang sedang keliling tempat hiburan bersama keluarga, Minseok sedang keliling dunia bersama tumpukan berkas-berkas untuk meluaskan kerja sama dan membangun cabang baru, jika semua orang bekerja sama untuk memenangkan tender dan perjanjian kerja sama baru, Minseok sibuk seorang diri mengejar dan mencari untuk pembukaan kerja sama. Lima puluh persen dari keuntungan perusahaan adalah hasil kerja keras Minseok tapi seakan itu belum cukup untuk menghapuskan pandangan tidak masuk akal dari tuan besar Lee, dilahirkan secara berbeda yang kemudian ibunya meninggal, itu bukan kesalahan si anak, itulah takdir dan pengorbanan bagi anak dari sang ibu, tapi tuan besar Lee menumpahkan semua kesalahan pada Minseok, seakan anak itu adalah sumber kesialan yang menyebabkan anak kesayangannya meninggal.
"Dia seperti Sungmin hyung, keras kepala." Desah Jinki seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
…
Dokter muda bernama Henry Lau itu memperhatikan hasil rongten Luhan yang baru saja keluar limabelas menit yang lalu, ia sudah mendengar semua keluhan dari Luhan makanya dia memutuskan melakukan rongten pada kepala Luhan dan rupanya dugaannya benar, dikepala Luhan terdapat bekas luka akibat benturan yang cukup besar dan menyebabkan Luhan mengalami amnesia.
"Amnesia?" Hangeng dan Luhan berkata bersama kemudian berpandangan.
"Iya, jadi apa Luhan pernah mengalami benturan dikepalanya?" tanya Henry.
"Itu ketika dia masih duduk dibangku sekolah dasar" ucap Hangeng seraya mengingat, memang Luhan pernah mengalami sebuah bentruan, kecelakaan disekolah, terjatuh dari lantai dua. "Tapi dari dokter yang sebelumnya menangani Luhan mengatakan kalau dia tidak mengalami apapun dan hanya geger otak, dia tidak melupakan apapun."
"Amnesia parsial jadi yang dilupakan adalah beberapa kejadian, kejadian yang membuatnya kehilangan memorinya atau ada kemungkinan lain, keinginan yang terlalu dalam untuk mengingat atau karena dia enggan untuk mengingatnya lagi, kurasa amnesia Luhan bertahan hingga sekarang."
Hangeng dan Luhan saling bertatapan, sebelum Hangeng menoleh pada Henry, mengangguk sekilas dan menghela nafas. "Ketika dia disekolah dasar aku tidak tahu bagaimana ceritanya tapi dari yang kudengar dia bertengkar dengan salah seorang teman dan mereka terjatuh bersama." Katanya.
"Aku tidak tahu." Luhan bersuara dan itu membuat Henry menyunggingkan senyumnya. "Itulah penyebabnya, salah satunya."
"Apa amnesia ini bisa disembuhkan dok?" tanya Luhan. Henry mengangguk, menarik secarik kertas dan menuliskan sesuatu. "Tentu, kau bisa menebus obat ini sebagai pengobatan awal." Henry menyerahkan kertas tersebut pada Luhan "Dan untuk selanjutnya kita bisa melakukan terapi." Sambungnya.
…
Minseok berjalan menyusuri jalanan seorang diri di malam hari, hari ini adalah hari pertama dimana ia kemana-mana harus sendiri mengingat Jongdae sudah terbang ke Korea dan bahkan sudah mengatakan kalau lelaki itu telah tiba dengan selamat, Minseok ikut senang, baginya Jongdae sudah seperti adik yang selalu kemana-mana bersama, membagi kisah bersama dan berjuang ditanah orang bersama, jadi jika ia mendengar Jongdae senang dengan kepulangannya Minseok juga senang, meski tidak dipungkiri dia juga sedih karena tidak bisa pulang, tapi ya sudahlah mau bagaimanapun Minseok akan terus disini sampai tahun berganti.
Dan jika sedang galau seperti ini, tempat tujuan Minseok adalah satu. Lapangan sepak bola milik sebuah, sekolahan yang sudah lama tidak terpakai, maksudnya sekolahan itu sudah lama kosong karena mereka memiliki gedung baru, gedung yang lebih besar dan fasilitasnya jauh lebih memadai. Sekolahan itu masih dirawat meski sudah tidak dipakai namun tetap saja bangunan yang sudah tidak terpakai terlihat menakutkan dan jarang orang mau berkunjung terlebih malam hari, tapi tentu saja itu tidak berlaku bagi Minseok, ia sudah sering kesana dan ia sudah sangat hafal tempat itu dan selama ia disana tidak pernah terjadi apapun.
Selain itu, Minseok memiliki kesenangan sendiri jika sedang disana. Ia bebas berteriak, mengekspresikan dirinya dan mengeluarkan semua keluh kesahnya, dan hal itu bisa membuat hatinya terasa lebih ringan esok pagi, karena itulah Minseok tidak takut dengan apapun.
"Minseok." Namun ketika terdengar suara dari arah kanan yang lebih tepatnya penghubung antara gedung sekolah dan lapangan Minseok terlonjak kaget, ia bakhan jatuh terduduk saking kagetnya, jantungnya memburu cepat sampai rasanya akan keluar dari tempatnya.
"Apa aku mengagetkanmu?" tanya suara itu lagi, dan ketika nafasnya dirasa tenang perlahan ia membuka mata, kemudian memicing setelah itu. Luhan? Sipemilik suara itu adalah Luhan.
"Sedang apa kau disini?" tanya Minseok. Seraya bangkit dan mengabaikan tangan Luhan yang terulur untuk membantu. "Seharusnya aku yang bertanya, kau sedang apa?" balas Luhan, kenapa mereka selalu bertemu dan dalam keadaan yang tidak mengenakan sehingga memicu pertengkaran.
"Aku sering datang kemari." Ujar Minseok seraya berjalan semakin kedalam memasuki lapangan meninggalkan Luhan yang masih ditepi lapangan.
"Kau sering datang kemari? Untuk apa? Berkencan dengan hantu?" kata Luhan, tapi kakinya mengikuti Minseok. Mengekori Minseok sampai lelaki berwajah bayi tersebut mengeluarkan benda bundar, bola sepak. "Kau ingin bermain bola?"
"Kau pikir apa? Berkencan dengan hantu?"
Luhan terkekah jadi hobi baru Minseok setelah berdebat dengan Luhan adalah mengikuti kata-katanya. "Memangnya kau bisa? Kakimu itu kecil dan pasti- aw" Luhan jatuh terduduk ketika dengan keras benda bundar itu mendarat tepat diperutnya, ya tuhan sangat keras sampai Luhan yakin akan ada bekas melingkar diperut seksinya. "Ya! Kau uhuk, mau uh, mambunuhku ya." Kata Luhan kepayahan sambil sedikit berguling dirumput sintetis lapangan.
"Eoh, aku akan membunuhmu yang selalu menghinaku, memang kenapa kalau kakiku kecil itu menjadi masalah untukmu?"
"Akukan bertanya? Kau saja yang mudah tersinggung." Balas Luhan yang sudah terduduk meski masih memegangi perutnya. "Aku ini bodoh Luhan, tapi aku masih bisa menata bahasaku untuk ku utarakan pada oranglain agar tidak memancing kemarahan, sementara kau? Orang yang cerdas namun tidak bisa menata bahasamu dengan benar kau harus tahu tidak semua yang kau katakan bisa diterima orang lain."
Seperti sekarang, Minseok tahu Luhan pasti bercanda hanya saja candaan itu tidak pada waktu yang tepat, Minseok tidak bermaksud melayangkan bola itu dengan kekuatan penuh untuk delayangkan pada Luhan itu hanya reflek, sejenis bentuk protesan yang coba ia layangkan pada siapapun yang saat ini berada dihadapaanya.
Minseok mengambil bola yang menggelinding disekitar kakinya, ketika ia berbalik Luhan merasa sesuatu menetes mengenai tangannya. Dengan cepat ia bangun dan mengejar Minseok yang mulai memainkan bola dengan kaki kecilnya. "Maafkan aku." ujarnya, seraya mengambil alih bola dikaki Minseok dan memainkan dengan kakinya. Minseok tidak menjawab.
"Aku terbiasa berdebat dan saling menghina dengan Sehun, tapi aku selalu kalah karena dia menutup pertengkaran kami dengan sesuatu yang tidak masuk akal."
Minseok menatap Luhan yang pandangannya tertuju pada sibundar. "Tapi ketika kita berdebat aku merasa itu sesuatu yang menyenangkan karena tidak akan berakhir jika tidak ada yang melerai."
"Apa itu sesuatu yang menarik? Harus kau banggakan?" Luhan melambungkan bolanya setinggi dada lalu menendang dari jarak cukup jauh dan mencetak gol, bola terjatuh menggelinding, Luhan menatap Minseok.
"Memang bukan hal yang harus dibanggakan tapi itu menyenangkan"
Minseok dan Luhan reflek saling memegang tangan masing-masing, menarik satu sama lain yang hampir oleng kerena pusing tiba-tiba.
Kau hampir mencetak gol dan itu sangat keren.
Itu sanya hampir baozi. Itu tidak keren dan aku malah malu.
Kenapa harus malu?
Apa hampir mencetak gol adalah sesuatu yang menarik sehingga harus kubanggakan?
Memang bukan hal yang harus dibanggakan tapi itu menyenangkan.
Luhan dan Minseok bertatapan dengan tangan saling bertautan. Mata keduanya mengerjap saling memandang satu sama lain dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau kenapa?" tanya Luhan lebih dulu. "Hanya pusing, kau?"
"Nado"
…
TBC?
…
Ada yang nanya apakah ini akan se-complex kayak INHERITORS? Jawabannya nggak, ini akan lebih ringan meski kesannya ada banyak karakter tapi dari sebayangan aku sebagai author nya kayaknya XiuHan nya akan lebih mendominasi, dan untuk INHERITORS sama Me and, My Dad akan tetep dilanjut cuma belum sekarang, soalnya lagi bulan Ramadan dan nggak mungkin aku ngetik Me and, My Dad yang akan banyak itu nya. Untuk rate FF ini kenapa aku kasih M karena isinya mereka yang udah dewasa dan aku menggunakan umur asli bagi tokoh utama(LuMin)
L
U
Love
M
I
N
Damchoo
