Between Love, Fate and, Sacrifice.
Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia.
.
.
Untuk beberapa saat mereka saling memandang tepat dimata dengan tangan saling bertautan, atmosfir berubah canggung saat Minseok menarik cepat tangannya yang saling bergenggaman dengan Luhan, ia berdeham kecil, membuang pandangan dan berlari kecil menuju sibundar hitam putih yang sedang bersembunyi dibalik tiang gawang, seakan dia malu melihat Minseok dan Luhan yang bergenggaman.
Mengambil sibundar dan membawanya kedalam pelukan, Luhan yang melihat berfikir, lelaki dewasa macam apa yang membawa bola dalam pelukan, sebenarnya pikiran Luhan itu adalah pikiran menghina, menghina Minseok yang katanya sudah dewasa tapi seperti anak-anak, namun begitu tangannya menyentuh dada sebelah kirinya, dimana detak jantungnya berdebar menggila, tangannya meremas jarinya sendiri.
Minseok memgang dadanya dengan tangan yang tadi bergenggaman dengan Luhan, ada perasaan menggila yang membuat jantunya seperti ingin menjebol dadanya, debaran itu tidak beraturan, memburu dan sangat keras sampai ia harus menjauh dari Luhan agar pria itu tidak mendengar bunyi jantungnya.
Ini jelas perasaan yang tidak dibenarkan, kenapa jantungnya begitu menggila, ini perasaan yang salah atau sebenarnya Minseok memiliki penyakit berbahaya yang berhubungan dengan jantung? Tidak. Ia menggeleng keras, dia masih muda dan mana mungkin ia mengidap penyakit berbahaya, asal tahu saja Minseok ini seorang gulu bela diri disalah satu akademi beladiri, meski terkesan kecil dan mungil namun Minseok ini menyimpan roti sobek dibalik bajunya.
Itu berasal dari Minseok yang hidup sehat dan olahraga secara teratur, jadi tidak mungkin ia mengidap penyakit berbahaya.
"Bola itu tidak akan menembus gawang jika hanya kau pandangi seperti itu Mingssok." Luhan datang tak terduga lalu mengambil alih bola sepak yang sedari tadi berada dibawah kakinya dan sedang dalam jangkauan matanya.
Ia memperhatikan, lelaki yang memiliki tinggi tidak jauh berbeda itu sedang menggiring bola, melayangkan tendangan dan bola itu masuk begitu mulus. Berlari mengambil sibundar dan menendangnya kearah Minseok, berhenti tepat dibawah kaki Minseok. "Aku sedang dalam pikiran tidak baik Mingssok, maafkan aku." seru Luhan. Ia meminta maaf sekali lagi, tanpa menjawab ia menggiring bola, melakukan hal yang sama dan mencetak gol dengan tidak kalah mulus dengan Luhan.
Dia membalikan tubuh menghadap Luhan. "Aku juga minta maaf Lu sajang, membuatmu menunggu padahal itu untuk sesuatu yang penting."
Luhan menaikan alisnya, tapi begitu tahu kemana arah perkataan Minseok ia berjalan mendekat. "Pasti aku orang yang sangat tidak sopan ya? Kau tahu ayahku selalu memarahiku karena sifat mengaduku, itu bukan salahmu."
Minseok mengedikan bahu "Aku bukankah seorang bawahan memang seharusnya patuh pada atasan, dan sekarang kau atasanku."
Minseok kembali fokus dengan bolanya, sampai Luhan berlari kecil dan merebut, saling berebut bola seakan mereka dalam lapangan sesungguhnya, dalam pertandingan yang ditonton orang-orang, sampai Minseok mampu membuat Luhan kewalahan, satu kosong tercetak sudah "Kau benar-benar penipu." Alis Minseok mengernyit. "Dibalik wajah bayimu itu rupanya kau laki-laki sejati." Pujinya dengan nafas terengah.
"Karena itulah ada istilah don't judge book by this cover" Minseok memutar badan melewati Luhan, mengambil bola yang sedang dalam kekuasaan pria itu melewati antara dua kakinya, Luhan kecolongan lagi, gerakan Minseok yang kelewat gesit membuat Luhan mengerang, dia sepertinya akhir-akhir ini sudah jarang olahraga, ia mudah sekali lelah. Gol kedua dicetak Minseok, melihat Luhan yang berjalan dengan masih terengah ia menendang bolanya pada Luhan. Dan dia membaringkan tubuhnya terlentang diatas rumput sintetis, ia melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya, ah rupanya Luhan lawan yang sengit, untuk tiga puluh menit pertama baru dia bisa mencetak gol pertama.
"Kau pasti dulu seorag atlet ya? Gerakanmu sungguh cepat." Komentar Luhan sambil ikut membaringkan tubuhnya disamping Minseok, membuat yang lebih kecil sedikit terlonjak.
"Aku sekolah olahraga ketika SD." Sahut Minseok tanpa menoleh pada Luhan, kemudian diam, hanya terdengar deru nafas masing-masing yang masih memburu, sampai Luhan menopang kepalanya dengan sebelah tangan dan memandang wajah Minseok yang matanya terpejam.
"Kim Mingssok" gumam Luhan tanpa sadar, perlahan mata Minseok terbuka. Ia lumayan kaget melihat posisi Luhan yang demikian dan pandangannya lumayan menakutkan, terlebih keringat yang menetes melewati dagunya membuat dia terlihat seksi. Seharusnya Minseok ditampar karena berfikir seperti itu, otaknya bermasalah, bagaimana bisa dia berfikir demikan padahal Luhan sama dengannya. Lelaki.
"Mingssok/Luhan" panggil mereka bersama.
"Naega Minseok irang, Min Seok. Mingssokkie ani-
Mingssokkie anira. Hapalkan namaku baik-baik kau kan cerdas. Perkataan Minseok terpotng pada suara dirinya ketika kecil yang mengiang, matanya lalu menatap Luhan yang menautkan alisnya.
"Mingssok" panggil Luhan lagi, Minseok berdeham. "Namaku Minseok, Luhan. Bukan Mingssok."
"Oh, apa aku salah."
"Hmm"
.
.
LuMin – XiuHan
Yaoi – Mpreg
.
.
Luhan keluar dari lift ketika matanya menangkap sosok mungil Minseok berjalan membawa kantong plastik ukuran sedang dari arah kafetaria menuju kekantor divisinya. Hari ini setelah melakukan penandatanganan kerja sama, Minseok resmi bekerja dikantor Luhan, penandatanganan kerja sama akan dilakukan secara resmi dan terbuka bulan depan, setelah Luhan menyelesaikan proyek dengan perusahaan lokal yang ia tangani dengan Kris dan bulan ini ia akan melakukan kerjasama dengan perusahaan Korea namun bukan SM Group, melainkan dengan salah satu perusahaan yang berkecimpung dibidang real estat dan hari ini juga mereka tiba, sore nanti Luhan akan melakukan pertemuan.
Luhan yang awalnya ingin makan siang, langkahnya malah menuju sebrang, lift yang membawanya kelantai atas, dia mengikuti Minseok. Rupanya lelaki mungil berwajah bayi itu kembali keruangannya yang diisi empat orang, Luhan mengernyit. Minseok ditempatkan dalam ruangan yang didalamnya diisi untuk empat orang? Tidak salah? Hey Minseok adalah seorang perwakilan pekerja, perwakilan yang dikirim oleh sebuah perusahaan pasti merupakan orang yang memiliki potensi memimpin perusahaan dimasa depan, tapi kenapa dari cara penempatan Minseok, seakan ia hanya staf biasa.
"Direktur Lu-
Sst, Luhan menempelkan jarinya dibibir saat seorang melihatnya, dan akan memasuki ruangan dimana Minseok sedang sibuk dengan komputer dihadapannya dan memakan makan siangnya,dengan isyarat jari, ia menyuruh orang itu untuk mendekat. "Kau tahu siapa dia?" tanya Luhan sambil menunjuk Minseok.
"Xiumin?"
"Eum. Apa dia pekerja baru kita?"
"Dia seorang perwakilan yang kemarin ikut rapat dengan direksi untuk kerjasama dengan perusahaan Korea."
"Perwakilan?"
Orang tadi mengangguk, orang bernama Wei Zhang dari id cardnya dan dia adalah seorang pegawai tetap kantor Luhan. "Bukankah jika dia perwakilan dia akan ditempatkan diruangan direksi?" tanya Luhan sambil mengernyitkan keningnya.
"Memang, tapi Xiumin bukan pimpinan perwakilan, dia hanya anggota, pimpinan perwakilan dari perusahaannya kembali ke Korea minggu kemarin dan karena Xiumin memiliki pekerjaan untuk dua bulan kedepan maka dia yang bertanggung jawab selama pimpinannya belum kembali."
Minseok berhenti mengunyah ketika kepalanya terasa pening, ia belum tidur semalam karena mengerjakan laporan bulanan yang belum ia selesaikan, ia kurang tidur, belum sarapan dan sebenarnya tubuhnya sudah bergetar karena kelaparan tapi ketika sedang diisi, perutnya mual dan menolak makanan. Meski begitu ia tetap menelan bulat-bulat makanannya, ia butuh tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan ini karena deadlinenya adalah jam dua siang.
Sekarang sudah jam setengah satu dan berarti waktunya sudah hampir habis, sebenarnya ini bukan pekerjaannya tapi milik Jongdae, dan berhubung Jongdae sudah tidak disini maka, pekerjaan sejenis merampungkan laporan bulanan adalah tugas Minseok.
Minseok sedang mengejar waktu, ia berusaha semua pekerjaannya dalam satu bulan ini bisa selesai agar ia bisa kembali ke Korea, kakeknya berjanji akan mengizinkannya pulang jika pekerjaannya telah selesai dua bulan yang akan datang, namun Minseok berusaha agar secepat mungkin dia selesai, ia rindu rumah dan ingin merayakan natal dengan keluarga.
Minseok meneguk kopinya untuk membantu menelan makanannya sekaligus menghilangkan rasa asam dibibirnya. Setelah sedikit rasa mual hilang dalam perutnya, Minseok melihat jam dingding, dia terperanjat, menyingkirkan makan siangnya yang masih setengah dan berkutat dengan laporan dimonitor dihadapannya kembali, jam satu lima belas menit, dia terlalu banyak melamun rupanya. Dia harus cepat.
"Apa yang sedang dia kerjakan?" Luhan mengalihkan pandangan pada Wei Zhang setelah beberapa menit memperhatikan Minseok.
"Dari yang saya dengar, itu pekerjaan untuk perusahaannya, laporan kerja untuk perusahaan kita baru saja saya antar keruangan anda."
Luhan terdiam cukup lama sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali keruangannya, mencari laporan kerja yang dibuat oleh Minseok dan meneliti hasilnya, ia ternganga dengan pekerjaan Minseok yang menurutnya sempurna, rapih dan tanpa celah, orang seperti ini yang SM tempatkan pada seorang staff? Mereka memiliki segudang orang cerdas atau ini adalah bentuk diskriminatif? Sepertinya pimpnan SM Group adalah orang yang aneh atau dia sakit?.
Itu karena aku tidak bisa dalam satu sekolah dengan saudaraku.
Kenapa?
Karena kami berbeda.
Kau juga cucunya kan? Apa yang membedakan?
Aku tidak secerdas saudaraku yang selalu peringkat pertama dalam ujian matematika, kalau kami disekolah yang sama pasti aku akan terlihat sekali bodohnya.
Itu tidak masuk akal, hanya karena kau tidak pandai dibidang matematika bukan berarti kau bodoh, kecuali kalau kau tidak pandai dalam semua hal.
Memangnya aku bisa apa? Aku bisa berkelahi dan karena itulah aku disebut brandalan.
Itu aneh dan kau terlalu merendah, ujian seni rupa dan lukis kau menjadi yang terbaik, olahragamu juga bagus, kau belajar dengan sangat baik disemua hal, dan yang kau lakukan seakan kau mendiskriminasi dirimu sendiri.
Luhan berpegangan pada meja ketika kepalanya terasa pening, dengan cepat ia mengambil botol kecil dalam saku dan mengambil dua butir, ia meminumnya dengan cepat. Rasanya sesak tiba-tiba sampai tidak sadar ia menjatuhkan air mata.
…
Barisan penyambut berjejer dipintu utama lobi perusahaan, dipimpin langsung oleh direktur utama –Zhoumi dan disampingnya Luhan berdiri menyampingi, yang akan datang adalah salah satu tamu penting, pemilik kerja sama dan salah satu pemegang saham, namanya Cho Kyuhyun. Selain berhubungan dalam kerjasama perusahaan, Kyuhyun dan Zhoumi juga merupakan kawan lama. Luhan sebenarnya sudah mengatakan pada pamannya untuk tidak ikut menyambut karena kepalanya pusing, namun karena Kyuhyun datang dengan anaknya, maka Luhan memutuskan ikut menyambut, dari yang ia dengar anak Kyuhyun adalah seumuran Sehun, tapi ilmu bisnisnya sudah sangat hebat karena mendapatkan didikan sejak kecil dan Luhan sangat salut, berbeda sekali dengan sepupunya itu, iya Sehun sangat hebat dalam berbisnis, bisnis menghabiskan uangnya. Ah itu bukan bisnis kan, tapi pemerasan.
Duh mengingat Sehun sungguh membuatnya kesal, ia seperti diserang jantungan mendadak, dan nafasnya benar-benar memburu membuat ia ingin berteriak. Untung sepupunya, kalau bukan, sudah ia piting kepala Sehun sampai lepas.
"Ada apa?" tanya Zhoumi saat melihat wajah Luhan yang berkeruh. "Ah bukan apa-apa, apa tamunya sudah datang?"
Zhoumi menunjuk mobil-mobil yang melintasi area parkiran lalu beberapa orang dengan stelan resmi turun, mulai memasuki gedung yang dipimpin oleh Kyuhyun. Luhan terpaku sejenak dengan wajah itu, wajah yang terlihat tidak asing, ah akhir-akhir ini dia sering merasa semua orang tidak asing, ia membuang pandangan, mengabaikan pembicaraan dan perkenalan antara pamannya dengan anak Kyuhyun, tepat ketika itu matanya jatuh pada sesosok manusia yang bersembunyi dibalik pilar. Matanya menatap lurus pada sosok.
Cho kyuhyun.
"Jadi Minseok cucu angkat ya halmeoni?" nenek Minseok tertegun mendengar cucunya bertanya demikian,malam ini ia sedang berada dikamar Minseok, menemani bocah kecil gembulnya belajar. Berhubung suaminya sedang pergi keluar kota untuk pekerjaan, jadi ia tidak perlu mengurusi suaminya yang pasti sibuk diruang kerja, maka ia memilki waktu lebih untuk menemani cucunya yang sudah tidak punya orang tua.
"Halmeoni, cucu angkat itu apa?"
"Minseok ini ngomong apa? Kenapa bertanya seperti itu?"
"Kata teman-teman Minseok, kalau Minseok itu dulu dipungut dari panti asuhan supaya Juhyun immo dan Jinki samchon punya anak. Seperti itu ya?"
"Tidak, bukankah kau sudah tahu kalau ayahmu itu Lee Sungmin, anak sulung halmeoni dan harabeoji."
"Guende, uri eomma eodieso? Aku tidak pernah melihatnya Taemin dan Luna punya eomma tapi Minseok tidak, dan Minseok juga hanya bisa melihat abeoji di foto saja, mereka kemana?"
Tenggorokan Minseon – nenek Minseok terasa sakit, matanya memanas, astaga bocah polos ini, bagaimana cara menjelaskan padanya. Bagaimana cara menjelaskan pada bocah ini dengan jelas, padat dan mudah dimengerti. "Halmeoni kenapa diam? Ah, Minseok ingat, abeoji berada disurga, apa eomma bersama abeoji? Kan mereka sepasang suami isteri, jadi kalau abeoji disurga eomma pasti ikut juga kan? seperti Juhyun dan Soonkyu immo yang selalu mengikuti suami mereka, benarkan halmeoni?"
"Kau bisa menganggapnya seperti itu. Tapi, Minseok kaget tidak kalau halmeoni katakan Minseok tidak punya eomma, tapi punya dua appa."
Minseok mengernyit, memasang tampang berfikir yang benar-benar mirip dengan Sungmin, kemudian dia menggeleng. "Kalau tidak punya eomma, bagaimana aku dilahirkan? Kata songsaemnin, semua orang pasti punya eomma."
"Ah benar juga, tapi memang ada lho yang seperti itu, tidak punya eomma tapi punya dua appa."
"Apa Minseok juga?"
"Ne, karena Minseok sangat istimewa, maknya hanya punya dua appa. Mau tahu tidak siapa appa Minseok satu lagi selain Sungmin appa."
Wajah Minseok sudah berubah agak pucat setelah mendengar kata istimewa namun ia tetap mengangguk. "Namanya Kyuhyun, Cho Kyuhyun."
"Abeoji"
Meski telah beberapa kali melihat Kyuhyun, entah kenapa Minseok tidak pernah tidak menangis, terlebih ketika dengan bangga lelaki itu membanggakan anak sulungny Cho Youngho, senyumnya yang penuh kebanggaan itu kenapa bukan ditunjukan padanya? Dia anak Kyuhyun jika ada yang ingin tahu, sayangnya tidak ada. Tidak ada yang ingin tahu dan tidak ada yang peduli. Karena, jika diibaratkan dalam film, Minseok hanya seorang pemeran pembantu yang serbaguna. Ia segera berbalik, menyender sebentar pada pilar seraya menghapus air matanya, kemudian pergi, sudah cukup. Minseok hanya ingin melihat ayahnya, dan karena keinginannya sudah terpenuhi maka ia harus pergi, ia masih memiliki segudang pekerjaan yang menanti.
"Luhan."
Luhan tersentak ketika pamannya menyiku sedikit lengannya dan perhatiannya kembali pada pamannya. "Ada apa?" tanya Luhan setengah berbisik. "Perkenalkan dirimu, kau sedang memperhatikan apasih?"
"Ah maaf, bukan apa-apa." Luhan menggeleng lalu memperkenalkan diri setelah meminta maaf. Setelah sesi pengenalan dan penyambutan, semua tamu dibawa masuk keruangan dimana tempat itu telah disediakan, namun pikiran Luhan tidak fokus, ia memikirkan Minseok, kenapa dia bersembuyi dibalik pilar sambil memandang dengan tatapan seperti itu, jika tidak salah, Minseok melayangkan tatapan sendu yang penuh harapan, apa mereka mengenal? Krabat Minseok yang memiliki sifat seperti kakek Minseok yang menyuruhnya berlutut?
"Maaf tuan Cho."
Kyuhyun menoleh pada Luhan. "Ya" sahutnya. "Boleh aku bertanya sesuatu yang tidak penting?"
"Tanyakan saja."
"Apa kau mengenal Minseok? Kim Minseok?"
…
"Xiumin kau belum pulang?" seseorang rekan kerja baru yang ia ketahui namanya Wei Zhang bertanya, dia sudah bersiap pulang dan sedang membereskan mejanya. "Sebentar lagi selesai, kau sudah mau pulang?"
"Ya, ayah dan ibuku sudah menunggu. Katanya kakek dan nenekku datang dari Wuhan."
Gerak jemari Minseok terhenti bersamaan dengan perkataan Wei Zhang. "Benarkah? Pasti menyenangkan sekali ya?"
"Hmm, adiku ulangtahun jadi kakek dan nenekku datang."
Minseok hanya ber-oh ria, "Katakan selamat ulangtahun untuk adikmu ya, semoga panjang umur."
"Xiexie"
Wei Zhang berlalu begitu saja, tinggal Minseok seorang diri yang masih berkutat dengan pekerjaan, hatinya sedang gusar jadi menyibukan diri adalah cara yang paling tepat, sampai tempatnya bekerja terbuka lagi, "Ada yang tertinggal?" tanya Minseok tanpa mengalihkan diri dari layar dihadapannya sampai suara itu terdengar. "Ini sudah waktunya jam pulang kerja Mingssok."
"Luhan, ah maaf maksudku direktur Lu."
"Jangan sok ramah Mingssok, kita hanya berdua."
"Maaf, ada keperluan apa anda kemari?"
Luhan yang tidak sabaran langsung menarik Minseok keluar tanpa peduli rontaan Minseok yang minta dilepaskan, ketika mereka sampai di lorong sepi, ia berhasil menghempaskan tangan Luhan. "Lepaskan aku, ada apa sih denganmu?" Minseok nyaris membentak jika tidak ingat kalau ia sedang bicara dengan direkturnya.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Mengintip tamu dari balik pilar, kau pikir aku tidak lihat"
Mnseok otomatis terdiam, Luhan melihatnya? "Ya, aku melihatnya dan kau tahu, mereka juga melihatnya, mereka mengeluhkan sikapmu dan mengkritik kalau perusahaan kita memiliki penguntit, kau membuat mereka tidak nyaman." Seakan mengerti dengan isi kepala Minseok, Luhan berkata dengan kilat marah dan suaranya naik satu oktaf yang langsung membuat Minseok terdiam.
"Kenapa diam? Kau bisa jelaskan kenapa kau bersikap demikian?"
Tanpa Luhan duga, Minseok berlutut dihadapannya, menundukan kepalanya kemudian mengatakan sesuatu yang ia yakin sambil setengah menahan tangis. "Maafkan aku, aku membuat perusahaanmu dan klienmu dalam kerugian, maaf sudah bertindak aneh, maaf sudah membuatmu dan klienmu tidak nyaman." Minseok berkata. Dan Luhan mengutuk mulutnya, bodoh. Kenapa dia mengatakan hal itu? kenapa ia membuat kebohongan.
Niatnya ingin menemui Minseok adalah bertanya, apakah sebelum ini mereka pernah bertemu, karena setiap ia mengingat sesuatu selalu itu berhubungan dengan Minseok, tapi kenapa mulutnya malah mengatakan hal yang tidak masuk akal? Dan kenapa Minseok malah bersikap seperti ini.
"A-ap-apa yang kau lak-lakukan Minseok." Luhan tergagap.
"Maafkan aku"
…
"Apa kau mengenal Minseok? Kim Minseok?"
"Tidak"
Kyuhyun menghela nafas, kenal Minseok? Apakah dia kenal? Atau tidak? Nyatanya Minseok adalah anaknya, anaknya bersama Sungmin. Anaknya yang kebingunan menentukan marga sehingga secara individu dia memutuskan untuk menggunakan marga yang entah milik siapa. Kim, Kim Minseok begitu dia dikenal selama ini.
Entah takdir semacam apa yang ditulis tuhan untuk Minseok sehingga sepanjang ia hidup sampai sekarang, Minseok selalu malang, keluarga Cho keras menolak Minseok sehingga mereka tidak mengizinkan Minseok menyemeatkan nama Cho dibelakang namanya, sementara keluarga Lee, dia malah menempatkan Minseok pada anggota keluarga yang merupakan pendatang, maksudnya dimata hukum Minseok hanya tercatat sebagai cucu angkat.
Kejam? Tentu saja, dan mengetahui anaknya hidup secara tidak adil, bohong rasanya Kyuhyun tidak sedih, tentu saja dia sedih juga merasa jahat. Fakta jika ia adalah sumber masalahnya adalah hal yang paling menyakitkan. Ia dan Sungmin telah berjanji, meskipun setelah mereka mengatakan pada keluarga masing-masing kalau mereka saling mencintai namun ditolak dan ditentang, mereka telah berjanji akan tetap bersama.
Mereka sudah menikah diam-diam begitu keduanya tahu kalau Sungmin ternyata bisa hamil, bahagia adalah sesuatu yang rasanya kurang menggambarkan perasaan mereka yang lebih dari bahagia, namun disaat yang sama ia jatuh sakit, sakit yang disebabkan karena dia pernah mengalami kecelakaan, Kyuhyun lupa kalau penyebab kecelakaan itu dia harus sering-sering memeriksakan diri, disaat ia masuk rumah sakit ia ditarik kembali keluarganya dan meninggalkan Sungmin yang sudah hamil besar, mereka memberikan penawaran bagi Sungmin, jika ingin keluarga Cho membiayayi pengobatan Kyuhyun maka Sungmin harus rela pergi dan melupakan apa yang sudah terjadi.
Ia malakukannya dengan senang hati. Sungmin kemudian kembali pada orang tuanya, ia ditolak tentu saja, karena dia dianggap aneh, lelaki bisa hamil adalah sesuatu yang mengejutkan, namun karena ibu Sungmin, lelaki itu diterima kembali dengan syarat ia harus pergi setelah melahirkan dan membawa anaknya jauh-jauh dari keluarga Lee, namun sebelum janji itu ditepati Sungmin meninggal sesaat setelah melahirkan.
Bayi Minseok terombang-ambing hidupnya, bayi gembul yang sangat sehat itu terancam dimasukan kepanti asuhan, tapi lagi-lagi karena ibu Sungmin yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan bayi itu, ia bersikeras untuk mengasuhnya, meski tuan Lee begitu tidak suka. Bayi yang kemudian diberi nama Minseok, mengambil dari nama neneknya Minseon dan mengganti huruf N menjadi K. Lee Minseok nama lahirnya. Namun entah sejak kapan, Minseok tidak lagi menggunakan nama Lee tapi berubah menjadi Kim.
Kyuhyun menghela nafas ketika mengingat anak malangnya, anak dari orang yang benar-benar ia cintai namun menimbulkan kemalangan.
…
Argh dasar gila. Luhan meninju cermin didepannya sampai pecah. Sedari tadi ia terus mengumpati kebodohan mutulnya yang tidak bisa dikontrol. Kebohongan macam apa yang telah kau ucapkan Luhan? Kau tidak berniat berbohong, niatmu menemui Minseok adalah menanyakan apakah Minseok pernah bertemu dengannya sebelum pertemuan saat ini? Karena setiap kali ia mengingat sesuatu yang ia yakini penyebab ia mengalami hilang ingatan, selalu saja itu berhubungan dengan Minseok. Tapi yang terjadi? Ia malah mengatakan kebohongan tak berdasar yang keluar begitu saja dari mulutnya.
Apa maksud Luhan mengatakan itu? Dan juga, kenapa Minseok langsung berlutut seperti itu.
Luhan mengerang lagi, dan memukul cermin didepannya lagi sampai tangannya mulai menunjukan cairan merah, tanda kalau tangannya mulai mengeluarkan darah akibat terluka.
Bocah gembul berlari mengelilingi lapangan super besar siang itu seorang diri, wajahnya sudah pucat dengan mulut terbuka lebar, baju yang dikenakannya sudah basah kuyup seakan dia baru berendam dalam bak atau terjatuh pada kolam renang, sungguh basah, namun sepasang kakinya seakan tidak lelah dan dia terus berlari.
Dan ketika akhirnya sigembul berhenti berlari, beberapa saat kemudian ia jatuh terkapar, tubuhnya dilentangkan menghadap keatas, Luhan, bocah yang seumuran dengan sigembul lantas berlari, menuju ketempat sigembul dan duduk disampingnya, meraih tangannya lalu bertanya. "Baozi kau tidak apa? Wajahmu pucat."
"Luhan"
"Ne"
"Jangan berkelahi, tanganmu terluka"
"Aku membelamu, kau tidak salah."
"Tapi jangan berbohong."
Luhan terdiam, ia berbohong dan ia tahu itu salah. Tapi sungguh ia tidak bermaksud untuk membohongi
"Direktur."
Minseok memekik kaget ketika ia memasuki toilet dan mendapati Luhan sedang terduduk dilantai kamar mandi dengan tangan yang penuh darah memegangi kepalanya. "Direktur tanganmu terluka." Minseok menyeru lagi, kemudian mengambil ponselnya dan menekan nomor darurat.
Minseok yang sibuk tidak sadar sedang diperhatikan oleh Luhan ditengah sakit luar biasa yang mendera kepalanya. Sebelum semuanya gelap, suara lengkingan itu terdengar, nyata, nyaring dan sulit dibedakan.
Luhan
"Direktur"
…
TBC?
…
Maaf masih belum bisa bales review. Tapi aku baca kok. Sayang kalian. Kisskiss. Choo
