Between Love, Fate and, Sacrifice.
Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia.
.
.
"Bahkan untuk melihat ayahku sendiri aku harus merugikan orang lain."
Minseok menunduk dalam, menatap lantai dan membiarkan air menetes membasahinya dilantai tepat setelah Luhan pergi. Ia masih dalam posisinya, berlutut tanpa niat akan berdiri. Kakinya kaku, tidak bisa menopangnya berdiri dan melakukan hal yang sama seperti Luhan, pergi berlari ketempat yang jauh dimana dia bisa meluapkan rasa sedih tak berkesudahannya. Kim Minseok yang malang, Kim Minseok yang membuat kesialan. Julukan yang melekatnya sejak kecil atau bahkan sejak ia belum lahir.
Hidupnya lengkap, sempurna untuk disebut sebagai trouble maker.
"Itu mungkin karena Min oppa. Kakek marah-marah karena Tae oppa sakit dan dia malah membuat masalah." Luna kecil bercerita pada ibunya. Tentang Taemin yang jatuh sakit dan Minseok yang berkelahi dengan anak SMP.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Soonkyu, seraya menyisiri rambut panjang Luna untuk diikat.
"Oppa SMP itu muntah-muntah karena perutnya ditendang Min oppa lima kali, Min oppa sudah akan memukul oppa SMP itu tapi guru datang dan melerai mereka, kejadiannya di sekitar sekolahan. Aku tidak lihat karena TK perempuan belum keluar. Aneh kan eomma, Min oppa tidak pulang dengan bus SD yang biasanya membawanya pulang tapi malah disekitaran TK ku."
Luna bercerita panjang. "Mungkin Min oppa ingin menjemputmu, pulang dengan kau dan Tae oppa, lalu makan siang dengan harabeoji, kalian membuat janji seperti itukan?"
"Majjayo" Minseok kecil duduk meringkuk didepan pintu kamar Taemin yang bersebelahan dengan kamar Luna, ia berniat meminta maaf karena tidak sengaja memukul kepalanya ketika ia akan menendang anak SMP yang mengganggu Taemin. Tapi didalam ada Jinki dan Juhyun – orangtua Taemin yang sedang menjaga anaknya.
Taemin demam, ia jatuh dan kepalanya membentur tembok setelah Minseok tidak sengaja memukulnya, tubuhnya yang kecil itu oleng karena hantaman Minseok dan ia sangat merasa bersalah, tapi untuk masuk dan mengatakan sekarang, ia takut. Takut dimarahi karena Juhyun immonya tampak sangat marah.
"Aku ingin makan siang dengan harabeoji, seperti Taemin dan Luna, makanya aku kabur dari bus jemputan dan pergi keTK. Tapi aku malah mencelakai adikku. Ini semua gara-gara aku." Minseok kecil tentu saja menangis, dia takut juga merasa bersalah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Jinki memang tidak memarahinya seperti kakeknya, dia hanya diam tapi Minseok tahu, pamannya itu pasti kecewa, Minseok begitu disayanginya tapi malah mencelakai anaknya.
"Min oppa bawa sial ya eomma? Harabeoji sangat tidak menyukainya. Kenapa dulu dia dipungut oleh Jinki samchon dan Juhyun immo"
"Sst, jangan bicara sembarangan. Min oppa itu keluarga kita, anaknya Sungmin samchon." Tegur Soonkyu, ia tidak menyalahkan anaknya, merasa wajar karena biar bagaimanapun Luna msih terlalu muda untuk tahu yang sesungguhnya tapi ia juga tidak bisa membiarkan anaknya ini bicara sembarangan, bagaimana kalau Minseok mendengar, ia pasti sakit hati.
"Bahkan setelah menjadi Kim, aku masih membawa sial."
…
XiuHan – LuMin
Yaoi – Mpreg
…
Bayangan punggung Minseok menghilang dibalik tikungan lumayan gelap ketika Sehun dan Hangeng tiba dirumah sakit, UGD dimana Luhan sedang berada, pihak rumah sakit menghubungi kediaman Tan malam ini untuk mengabarkan kalau Luhan masuk rumah sakit. Sehun dan pamannya itu lantas panik, dan Hangeng tanpa pikir panjang langsung menembus keramaian kota untuk sampai di rumah sakit.
Ia pernah menerima kabar Luhan masuk rumah sakit karena kecelakan di sekolah dulu, dan sejak itu ia menjaga anaknya dalam pengawasan, Luhan tidak pernah mengalami sakit yang serius apalagi masuk UGD namun malam ini ia mendapat kabar itu, terkejut dan panik adalah hal yang ia rasakan, maka dari itu ia langsung pergi ke rumah sakit. Ia tidak mau anak semata wayangnya kenapa-kenapa, Luhannya yang berharga tidak boleh terluka. Itu adalah moto hidup seorang Hangeng Tan.
Sementara Hangeng melangkah memasuki ruang UGD, Sehun dengan langkah lebar menyusul bayangan Minseok.
…
Luhan terbangun pada akhirnya, dengan ayah yang duduk disamping tempat tidur. Kepalanya sakit luar biasa, membuat Hangeng Tan langsung memanggil dokter. Ditangani langsung, dokter menyarankan Luhan untuk berkonsultasi mengenai syaraf, dan dokter Henry adalah tujuan Hanggeng. Ini pasti mengenai amnesianya. Secara keseluruhan Luhan tidak apa-apa, hanya tangannya yang terluka dan pecahan kaca sudah dibersihkan.
"Apa yang terjadi?" tanya Hangeng ketika mereka memasuki mobil untuk segera pulang, Luhan mengerjap, memandang ayahnya dalam lalu bertanya. "Ba, apa sebelumnya aku mengenal seseorang bernama Mingssok? Ah bukan, Minseok. Mungkinkah aku pernah bercerita?"
Hanggeng mengernyit kemudian menggeleng, ia merasa baru pernah mendengar nama itu. "Tidak, aku mendengarnya pertama kali, ada apa?"
"Aku melihatnya, bocah gembul disekolah, aku berbohong sesuatu padanya dan hari ini aku melakukannya, aku membohongi Minseok tanpa sadar."
"Apa mereka orang yang sama?"
Luhan menoleh lagi, sayangnya dia tidak melihat, wajah sigembul buram dalam bayangannya, dan ketika dengan kuat dia ingin melihat disaat itulah sakit kepala mendera, rasanya begitu sakit, pingsan adalah puncaknya. Jadi apakah mereka adalah orang yang sama ia tidak tahu.
"Aku tidak melihatnya." Luhan berkata lirih, terdengar putus asa, dia sungguh ingin tahu keseluruhan ingatannya, kenapa hanya anak itu yang ia lupakan, dia terlihat begitu akrab dalam ingatannya tapi kenapa justeru itu yang ia lupakan, sesuatu semacam pertengkaran pernah terjadi atau bagaimana, Luhan benar-benar ingin mengingatnya.
"Jangan dipaksa Luhan, itu akan menyakitimu. Perlahan saja" Hangeng meremas pundak anaknya yang sedang berusaha mengingat "Besok kita temui dokter Lau lagi, dan ceritakan apa yang kau ingat."
…
"Bolehkan harabeoji? Hanya sebulan, sebelum natal aku janji akan pulang" Luna merengek, meminta liburan sebelum musim dingin ia ingin pergi ke Shanghai , berlibur dengan teman-temannya.
"Kau bisa terjebak salju, musim dingin tidak memungkinkan untuk penerbangan." Tuan Lee tidak rela, cucunya terancam tidak akan pulang dan tidak bisa merayakan natal bersama jika ia memaksa pergi.
"Aku akan pulang sebelum natal, kalau perlu sebelum Desember, masa hanya aku yang tidak pergi semua teman-temanku pergi, Joy saja boleh pergi."
"Joy ingin ke Jeju dan itupun bersama Sungjae, sedangkan kau? Kau sendiri Luna-ya, kau juga ingin keluar negeri. Harabeoji hanya khawatir kau tidak akan melewatkan natal bersama kita, kau pasti kesepian."
"Setidaknya jika Luna terjebak di Shanghai dia bersama teman-temannya, bayangkan dengan Minseok hyung, dia bahkan sendirian sepanjang empat tahun. Aku sampai berfikir apa dia ingat kalau hari sedang natal atau tidak, atau mungkin malah diasibuk menimbun uang, Minseok hyung sangat terobsesi dengan uang karena orang yang paling dicintainya didunia ini seorang yang gila uang."
"Lee Taemin"Jinki menegur, memang apa yang dikatakan anaknya benar, namun cukup kasar untuk ukuran menyindir kakeknya sendiri, Taemin mengedikan bahu "Ada yang salah?" Tanya Taemin lalu mengedarkan pandangan, menatap satu-satu seluruh orang yang duduk sedang makan malam, dan tatapan terakhirnya pada ayahnya. "Aku benarkan? Berkat siapa kita hidup mewah? Minseok hyung, kita gembira bersama, makan semaunya, saling bertemu setiap hari. Sementara Minseok hyung? Aku bahkan tidak yakin dia ingat makan, Minseok hyung sakit, tapi tidak ada yang mengobati bahkan aku yakin ada orang yang tidak tahu dan juga Minseok hyung enggan berobat, kenapa? Karena baginya asal kita tertawa dan bahagia maka tubuhnya sehat."
"Abeoji" anak Taemin menyentuh lengan ayahnya, mata sang ayah berair dan itu membuatnya ingin ikut menangis. "Luna-ya" pandangan Taemin pindah pada Luna "Jika kau pergi ke China, pastikan kau tidak bertemu dengan Minseok hyung. Karena dia tidak akan pulang lagi tahun ini." Taemin bangkit dari duduknya dan membawa anaknya, makan malam itu tidak akan baik jika ia tetap disana.
Jinki menghela nafas, karena merasakan hal yang sama seperti Taemin maka ia memutuskan pergi juga membawa serta isterinya. Hingga tersisa keluarga Park, tuan Lee dan Taeyong dalam posisi canggung.
…
Minseok membuka pintu kamar mandinya dan melepas kemeja putihnya yang berlumur darah, darah Luhan yang menempeli pakaiannya ketika dia membawa Luhan kerumah sakit, lumayan banyak, dan malam-malam begini dia harus mencuci, dengan sedikit malas Minseok melepas kemejanya dan mengguyurnya dengan air.
Cairan merah meluntur dari pakaian yang ia kucek.
Lu-
Tubuhnya yang gembul menipa tanah sesaat setelah tangan yang saling bertautan itu terlepas, bising kemudian terjadi "Ming-
Tangan berjari kecil itu terulur, ingin menggapai tangan yang lain namun belum sampai tangan itu jatuh, tidak sadar, air mengalir dari mata tanpa lipatan dan ia menggumam "Mianhae"
Minseok mundur dua langkah dan menabrak tembok ketika kilasan dua bocah jatuh dari atas gedung, kepalanya langsung pusing dan nafasnya langsung memburu.
"Apa itu?"
Minseok bertanya pada dirinya sendiri, "Lu? Ming? Apa itu Luna? Ming? Nuguya Ming?"
Sedang sibuk berfikir tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Minseok terlonjak kaget. Melupakan pakaiannya yang masih berlumuran darah ia mengelap tangan dan mengambil ponselnya.
Nama Luna tertulis dilayar, membuatnya mengernyit bingung, ada apa Luna mengiriminya pesan.
Trouble maker adalah pesan pembuka dari Luna.
Aku benci oppa, kenapa semua selalu gara-gara oppa. Aku hanya ingin liburan tapi harus gagal karena oppa, oppa merusak kesenanganku bahkan sekarang aku tidak bisa keluar kamar gara-gara sedang perang dingin, Taemin oppa bahkan sampai berkata kasar pada harabeoji ini semua gara-gara oppa. Tidak bisakah oppa membuat semua orang senang? Apa sekarang China menjadi daerah jajahan oppa sehingga aku tidak bisa kesana?-
Tidak mau melanjutkan membaca pesannya, Minseok lebih memilih menghubungi Luna langsung. Disebrang sambungan sudah terhubung namun tidak membuka suara. "Wae?" tanya Minseok. Namun Luna belum menjawab. Minseok hanya bisa menghela nafas.
"Biar kutebak, kau ingin pergi berlibur dengan teman-temanmu tapi harabeoji tidak mengizinkan?"
Ada segurat senang yang menyelubungi hati Minseok, kakeknya adil ternyata.
"Ani, Tae oppa yang melarang, dia bilang kami harus menjaga perasaan oppa, dan jika aku diizinkan nanti aku tidak boleh ke Beijing agar tidak bertemu denganmu-
"Kenapa kau harus memikirkan perkataan Taemin? Kau tahu sendiri dia bagaimana, kalau kau mau pergi ya pergi saja, Beijing itu luas, jika memang kau tidak mau menemuiku, kecil juga kan kemungkinan kita bertemu" sela Minseok. Kesedihan datang.
"Aku mungkin tidak peduli dengan perkataan Tae oppageunde,harabeoji? Dia sangat peduli, Tae oppa itu cucu kesayangan harabeoji, dan gara-gara dia membelamu semua rencanaku gagal, aku sudah menantikan ini sejak lama tapi harus batal hanya gara-gara harus memikirkan hal konyol." Minseok mematikan sambungan, dan langsung menghubungi Taemin, tidak menunggu lama sambungan terhubung.
"Apa yang kau lakukan Lee Taemin?"
"Na? wae?"
"Jangan pura-pura bodoh, apa yang baru kau katakan pada harabeoji? Kau melarang Luna untuk liburan dengan menggunakan aku sebagai alasan? Kau pikir kau ini apa? Pahlawan?"
Diam cukup lama dan itu malah terasa aneh bagi Minseok.
Dari pintu yang sedikit terbuka, Taemin bisa melihat Luna mengerang kesal, mengumpati Minseok yang memutuskan sambungan begitu saja padahal dia belum selesai bicara. Dan Taemin hanya menyungging senyum, "Luna mengadu padamu? Dia penjahat yang menakutkan."
"Lee Taemin"
"Kau terlalu naïf hyung. Apa kau pikir dengan menjadi dirimu yang sekarang kelak kau akan dapatkan kebaikan? Kebahagiaan? Omong kosong."
Lalu jika dengan aku menjadi egois apa aku dapatkan kebahagiaan?
Taemin menghela nafas, mengintip lagi pada Luna yang sedang coba menghubungi Minseok. "Satu cucunya merengek pergi, satu cucunya merengek kembali, kau tahu mana yang dituruti? Dia yang meminta pergi, neon nuguya? Kau juga cucunya hyung, jika Luna ingin pergi, seharusnya kau juga boleh kembali"
Aku akan kembali, tahun depan aku kembali. Atau jika aku selesaikan semua pekerjaanku sedikit lebih cepat aku akan pulang saat itu juga.
"Omong kosong, tahun depan? Apa karena kau dapat undangannya?"
"Undangan?"
"Kau bahkan tidak tahu, SM Group akan ke Hawaii tahun depan, semua diboyong kesana untuk sebuah perjalanan, apa kau terima undangannya? Kau bahkan tidak tahu jadi apa kau yakin akan pulang tahun depan?"
Diam lagi, Taemin mendongakan kepalanya keatas, mencegah air mengalir dari mata, mencegah suaranya bergetar, ia ingin menjadi kuat, ia ingin menampar kakaknya dengan kata-katanya agar sadar, sadar bahwa ia hanya diberikan sebuah janji palsu.
Tidak akan ada tahun depan, tahun depan atau tahun depannya lagi bagimu hyung, kau tahu kau membuang waktumu dengan percuma jika kebahagiaan yang kau tunggu adalah kasih sayang dan pengakuan harabeoji. Kau boleh egois, angkuhlah sedikit seperti keturunan Cho, kau bagian dari mereka, darah angkuh mengalir dalam dirimu.
…
"Jadi kau ditinggal pamanmu ketika mengejar seseorang dirumah sakit?" Johnny bertanya pada Sehun yang baru saja duduk di kursi penumpang mobilnya.
"Ini sesuatu yang menyebalkan, jadi berhenti berbicara karena aku tahu kau bermaksud mengejek." Sehun berkata sarkas sambil memasang sabuk pengaman sedikit keras, mengundang Johnny tertawa renyah dan merasa terhibur, Sehun yang meletus-letus seperti ini adalah hiburan menyenangkan bagi matanya.
"Ya! Ya! Hati-hati dengan itu, kau bisa merusaknya."
"Ini mulur dan tidak akan sobek mesti aku menarik ini sampai ke Chicago jadi jangan berlebihan."
"Kau akan kebingungan kalau menariknya sampai ke Chicago, kau bodoh dalam bahasa Inggris."
"Ya!"
"HAHA"
Johnny lebih muda satu tahun dari Sehun, namun perawakan mereka seperti seumuran, bahkan jika kalian mengenal secara dekat, Johnny akan terasa lebih dewasa ketimang Sehun, Johnny sejak kecil mendapat didikan sebagai calon penerus perusahaan, hidupnya disiplin dan terarah, bukan maksudnya hidup Sehun ini tidak beraturan, hanya saja, Sehun lebih bebas, dibebaskan untuk memilih apa yang dia inginkan, mungkin karena Sehun bukan anak satu-satunya jadi dia bisa memilih apa yang dia inginkan, berbeda dengan Johnny, dia anak satu-satunya, dari keluarga konglomerat, lelaki satu-satunya dan otomatis dia dituntut banyak hal, sementara Sehun? Dia anak bungsu dan kakaknya laki-laki. Dia dimanja dan apa yang dia inginkan selalu dituruti, tidak hanya oleh orangtua dan kakaknya tapi juga semua anggota keluarganya, dan yang paling menentang gaya memanjakan Sehun adalah Luhan, menurutnya jika terus seperti itu Sehun tidak akan dewasa, and see. Apa yang dikatakan Luhan terbukti.
Sehun manja luar biasa dan satu-satunya yang membuatnya terlihat istimewa adalah tubuh, wajah dan penampilannya yang sempurna, selebihnya? Dia seperti bayi yang terjebak ditubuh orang dewasa. Dan beruntungnya ia berteman dengan Johnny yang sempurna secara keseluruhan, tapi tidak sempurnanya adalah ia juga berteman dengan Jongin, sigila bungsu dari Kim, dan itu merupakan satu-satunya kecacatan bagi sisempurna Johnny Cho, akan ada bahasan mengenai Jongin, mungkin jika aku tidak malas menceritakan bagaimana gilanya tiga sahabat ini, okay lupakan.
"Kau membawa ponsel dan bukannya menghubungi pamanmu malah menghubungi aku, menggerutu padaku dan bukannya pada pamanmu, kau benar-benar merepotkan" Johnny melirik sedikit pada Sehun lalu fokus lagi pada kemudinya.
"Kau pikir aku berani? Menggerutu pada pamanku dan Luhan hyung akan menerkaku, Hiii" Sehun bergidik, membayangkan Luhan yang ayu itu menerkamnya. Jika menerkamnya lalu dilempari uang untuk belanja selama sebulan sih no problem, tapi kalau yang jadi sasaran adalah bokong seksinya dengan cara ditendang habis-habisan kan serem.
"Luhan?"
"Eoh wae?"
"Apa paman yang kau maksud itu Zhoumi?"
"Zhoumi? Zhoumi nuguya?"
"Molla." Kemudian Johnny tertawa, membuat Sehun mendecih dan menatap Johnny sinis.
"Dasar aneh."
…
"Mu-
Mungkin apa hyung?Hyung ingin mengatakan kalau mungkin undangan itu belum sampai? Kau keluarga, bukankah bagi keluarga undangan tidak diperlukan? Kau seharusnya diberitahu sejak awal, sejak sebelum aku tahu tapi sampai sekarang bahkan kau belum tahu. Kau bukan orang bodoh, kau pasti tahu apa artinya.
"Berhenti berkata hal konyol Taemin-ah, kau selalu memikirkan hal yang tidak perlu, Luna ingin liburan dan gara-gara kau mengatakan sesuatu yang konyol kau membuatnya gagal, kau tidak kasihan padanya, dia sudah menunggu lama untuk ini."
Hal konyol? Minseok dapat mendengar Taemin terkekah, Lalu kau hyung? Kau juga sudah lama menunggu untuk pulang, empat tahun kau menunggu dan kau harus mengalah lagi, kau tidak akan pulang tahun ini, terancam tidak pulang lagi tahun depan. Apa harabeoji sedang mencoba membuangmu? Dan itu kau sebut konyol? Apa sakit hatimu sesuatu yang harus diabaikan?
"Ta-Taemin-ah-
Jika hal konyol yang kau maksud adalah aku mencoba memikirkan kau yang mungkin terluka dengan ketidak adilan harabeoji padamu maka maafkan aku, aku memang selalu berkata hal yang tidak penting, karena aku hanya merindukanmu tapi aku malah membuat saudaraku yang lain mengalami kegagalan. Mianhae.
Sambungan terputus dan Minseok tahu benar kalau dia telah menyakiti hati adiknya. Taemin yang bermaksud baik malah ia lukai hatinya, bukannya Minseok ingin melukai Taemin, hanya saja dia takut. Takut kalau Taemin merasakan apa yang dia rasakan, kalau Taemin pada akhirnya dibenci gara-gara membangkang dan terlalu membelanya, Minseok tidak mau, jikapun ada yang menderita, cukup dia saja, orang tuanya berdosa karena telah membangkang pada orang tuanya, maka biarkanlah Minseok yang menebus.
Ibunya telah tenang bersama tuhan dan biarkan kepergiannya tenang, meski anaknya disini mendapat ketidak adilan, ayahnya sudah bahagia dengan keluarganya yang sempurna maka biarlah kesempurnaan itu selalu terjaga, meskipun kesempurnaan itu dibangun dari kemalangan anaknya. Seseorang yang menanam pasti akan menuai, mereka telah menanam Minseok untuk hidup, ketika hasil tanaman mereka tidak sesuai dengan harapan maka biarlah ia yang menikmati hasil panen ini. Minseok ibarat hasil panenan yang gagal, jadi siapapun tidak akan meliriknya.
Tidak dengan orang lain apalagi Taemin, untuk merasakan apa yang dia rasakan. Taemin terlalu berharga untuknya. "Maafkan aku jika aku melukaimu Taemin-ah, jika aku memang sedang coba dibuang oleh harabeoji, memang itu sewajarnya, hasil panen yang gagal apalagi yang harus dilakukan kecuali dibuang."
…
Luhan
Direktur
Teriakan itu terus Luhan ulang-ulang sambil dia berbaring memandang langit-langit kamarnya. Ada persamaan dalam nada panggil tersebut, seakan orang yang memanggilnya adalah orang yang sama, tapi jika memang orang yang sama yang melakukannya, kenapa Minseok tidak mengenalinya, jika anak dalam ingatan Luhan adalah Minseok kenapa lelaki itu tidak ingat padanya.
Wajah Luhan tidak berubah sejak ia kecil tapi, Minseok orang Korea dan ia China. Ada tembok besar disana, jikapun itu Minseok bagaimana mereka saling mengenal? Kejadian dimana Luhan mengalami kecelakaan adalah ketika dia sekolah dasar dan Luhan menghabiskan sekolahnya di China tempat itu sangat ia kenali sampai sekarang bahkan semua teman-temannya, dan dia masuk sekolah umum, sedangkan Minseok, dia masuk sekolah olahraga sejak kecil, seperti yang diakuinya ketika mereka bermain bola waktu itu.
Tidak mau, aku kan lebih tua darimu. Kenapa hars panggil Lu-ge, harusnya kau yang panggil aku gege, akukan lebih tua darimu.
Hanya beda satu bulan, lagipula kau lebih pendek, kau lebih imut dan aku lebih pantas jadi gege mu. Ayo panggil aku Lu-ge.
Tidak mau, kau yang panggil aku gege.
Dasar gendut, marmut yang tidak penurut. Baozi haha.
Kau mengejek aku ya? Dasar rusa cantik, kau ini laki-laki apa bukan, kenapa kau cantik seperti perempuan.
Kau cari mati ya.
Luhan cantik Luhan cantik wlee wlee.
Dasar gendut, marmut pantat besar. Baozi.
Ingatan itu adalah ingatan pertama setelah sekian lama ia tidak lagi mengalami sakit kepala karena teringat sesuatu, dan yang membuatnya mengingat justru adalah orang yang baru ditemuinya, Minseok adalah orang yang asing baginya tapi kenapa justru dia yang sekarang mengacaukan pikiran Luhan. Belum lagi Luhan tidak pernah sepeduli ini pada orang lain. Dan ketika ingatannya tidak sengaja menyerempet pada Minseok, ingatan tentang Minseok melutut dihadapannya terngiang.
"Kau tidak perlu melakukan ini, kau tahu kau tidak salah"
Anak yang berdiri membelakangi Luhan itu tampak menggeleng, pundaknya bergetar dan Luhan tahu kalau dia menangis. "Tidak, kalo aku tidak dirumah aku tidak akan membuat siapapun terluka, aku tidak akan menyusahkan siapapun lagi."
"Demi tuhan pemikiran dari mana itu, kau tidak menyusahkan siapapun, kau tahu bibimu hanya sedang kesal saja kemarin."
"Tapi itu benar kan? Aku membuatnya sakit. Aku memang brandalan seperti yang kakek katakan. Anak SD bisa membuat anak SMP masuk rumah sakit aku membuat kakek malu."
Tubuh yang lebih kecil itu ditarik dalam pelukan seorang laki-laki yang sedang berjongkok menyamakan tingginya dengan sang anak, lelaki itu berderai air mata. "Dengar nak, kau tidak salah, apa yang kau lakukan adalah kau ingin membela adikmu dan paman benar-benar berterimakasih, berhenti menyebutmu brandalan, kau membuat hatiku terluka. Jangan dengarkan apa yang kakekmu katakan, kau adalah pahlawan kau tahu."
"Paman jangan bohong, kemarin paman mendiamkan aku karena paman marahkan padaku. Maaf, aku membuatnya sakit, maaf membuat paman repot dengan mengantarkan aku kemari, maaf membuat paman dan kakek bertengkar lagi, maaf membuat paman malu sudah memungutku maaf-
"A-ap-apa yang kau katakan"
Disaat itulah Luhan seperti diseret kembali pada masalalu dan melihat potongan kisah lama bocah lain yang seperti dia alami tadi siang, kali ini efeknya bukan kepalanya yang sakit, tapi bagian dadanya sebelah kiri, seperti ditembak secara tepat sasaran, sakit sekali.
"Minseok? Apa itu dia? Apa mereka adalah orang yang sama? Kenapa cara mereka meminta maaf benar-benar persis? Hatinya benar-benar sakit mengingat ini, Luhan harus mengingatnya, Luhan harus mengingat ini bagaimanapun caranya. Seseorang dalam ingatannya pasti adalah seseorang yang berharga baginya, jika orang dalam ingatannya bukan siapa-siapa kenapa begitu mendesak untuk diingat.
Aku benar-benar ingin memoriku kembali.
…
Ayahku hidup bahagia dengan keluarganya, memiliki seorang anak yang pintar, tampan dan membanggakan, diusianya yang masih muda dia sudah mendapat didikan dari orang tuanya untuk dapat meneruskan bisnis keluarganya. Dalam keluarga dia adalah seorang bintang.
Ibuku, ibuku sudah meninggal tepat setelah melahirkan aku, aku dibesarkan oleh nenekku dan menggunakan namanya, dulu ibuku adalah anak kebanggaan keluarga, semua orang mencintainya, tapi garagara bertemu dengan ayahku, ibuku menjadi dibenci.
Tapi bukan karena ayahku ibuku dikucilkan, orangtua ibuku membuka pintunya lebar-lebar jika pada akhirnya ia mau meninggalkan ayahku, akhirnya ibuku melakukannya namun ada satu masalahnya, ada diriku dalam perutnya, dalam dirinya. Dalam diri seorang pria hiduplah sebuah janin yang sangat sehat, ibuku menolak menggugurkan aku, dia kukuh untuk mempertahankanku, dan dia berjanji sampai saat melahirkan saja, setelah melahirkan ia akan pergi dari rumah orang tuanya, dan membangun hidup denganku, hanya denganku, berdua.
Tapi sebelum bisa melihat aku, dia sudah keburu pergi, menghadap tuhan dan meninggalkan aku sendiri, keluarga yang ditinggalkan oleh ibuku tentu saja malu, merasa aneh karena seorang pria bisa hamil. Jadi yang sebenarnya membuat ibuku dikucilkan adalah aku.
Bukan ayahku yang meninggalkan ibuku, bukan ibuku yang membangkang pada orang tuanya, tapi aku, jika saja aku tidak ada, mungkin ibuku masih hidup, mungkin juga dia memiliki keluarga sempurna seperti ayahku, sekali lagi itu semua karena diriku.
Dan ketika fakta bahwa sekarang kakek ingin membuangku karena aku anak yang tidak lazim bukankah seharusnya wajar, yang kakek inginkan adalah ibuku bukan aku, tapi kenapa hatiku sungguh sakit. Bahkan lebih sakit ketika kepalaku terkena batu besar saat aku SD.
Fakta itu adalah fakta yang menyakitkan, mengingat bagaimana menderitanya orang lain gara-gara aku jauh lebih buruk daripada apapun. Jika boleh Minseok berharap, dia tidak ingin ingat apapun, inginnya bahwa yang terjadi adalah mimpi, sehingga ketika ia terbangun nanti ia tersenyum gembira, semua orang menantinya, menyayanginya dan mencintainya.
Aku benar-benar ingin memoriku hilang.
…
TBC?
…
Balasan Review 1 – 3
(Guest)sinta lang : Iya dia mulai inget, yah Luhan kan emang gak bisa lupa sama Baozi-nya. Hehe.
HamsterXiumin : Karena Luhan lebih agresif hehe, maksudnya dia lebih akag terbuka sama orang lain dan dia gampang penasaran, kalau Minseok itu lebih ke seriusnya, gitu nggak ya? Kalau nggak salah hehe.
(Guest)Hzakeea : Ini sudah dilanjut, begitulah hidup uri Minnie, kasian. Huhu. Ingatan Luhan kembali setelah tuan puterinya nyium Luhan haha, nanti juga lama-lama inget.
(Guest) : Jangan sedih, aku jadi merasa bersalah, tabok aja si Luhan biar kamu nggak sedih. Hehe.
(Guest)Laras Sekar Kinanthi : Kamu suka moment XiuHan? Kalo aku suka kamu. Hehe.
(Guest)minnie : Kebahagiaan Minseok akan datang pada waktunya. Do'ain ya biar uri Xiuxiu bahagia. Amin.
(Guest)ditha KhX : Iya si evil Kyu jahat banget, mari kita cekek dia bersama, aku juga mau cekek dia, kesel banget aku.
asda45613 : Karena itu identik dengan mereka, soccer couple dan sweet moment mereka yang paling gimana itu pas di Asian Dream Cup jadi aku masukin ajalah, mumpung gambarannya ada.
Park RinHyun-Uchiha : Jangan nangis, jangan sedih.
nimuixkim90 : Aku juga kesel sama kakeknya Minseok dan Kyuhyun, tapi mau bagaimana dianya gitu, moment XiuHan main bola? Itu banyak baget, pas mereka free time dari schedule di ISAC dan yang paling tuh di Asian Dream Cup yang mereka sampai pelukan seakan dunia milik berdua, yang lain cuma numpang, uh, kangen bgt moment mereka sungguh. Okay aku akan melestarikan. Nggak akan se-complex inheritors, tenang aja.
jiraniatriana : Kasian ya Minseoknya? Huhu.
HamsterXiumin : Soccer couple, aku suka nyebut mereka itu, kalo udah masalah bola yang aku inget itu bukan Christiano Ronaldo atau Lionel Messi tapi XiuHan ini. Dalam MV Luhan sama Jaehyun ya? Iya itu yang terakhir Luhan bareng EXO? Ah jadi nginget-inget mantan deh.
(Guest)shinta lang : Iya begitulah, sesuai judul Amnesia Parsial.
(Guest)Laras Sekar Kinanthi : Sudah kejawab kan ibunya Minseok siapa, iya Minseok kasian banget.
(Guest)dhita krishanxiu : Sudah kejawabkan siapa ayah Minseok dan masih hidup atau enggak.
jiraniatriana : Sudah kejawab kan Sungmin bisa hamil atau tidak. Dan siapa ayah Minseok.
Park Eun Yeong : Aduh jangan nangis, tapi iya Minseok emang kasian bgt.
(Guest)Alin326 : Semua akan dilanjut, Cuma kalau untuk update bareng-bareng kadang nggak bisa karena beberapa alasan. Terimakasih udah suka sama tulisan aku.
(Guest)Dhita KrisHanXiu : Mereka akan berjuang, tolong dukungannya, Hehe.
(Guest)Laras Sekar Kinanthi : Iya mereka ilang ingatan sesuai judulnya Amnesia Parsial. Terimakasih sudah suka tulisan aku.
jvngri : Apa sejauh ini sudah menjawab pertanyaan kamu? Maaf baru membalas review kamu sekarang.
(Guest) : Bener banget, iya kalo Luhan emang cantik sekilas menurutku tapi kalao Xiuxiu dia ganteng sekilas, eh. Ditabok Xiu. Hehe.
asda45613 : Terimakasih sudah suka FFku, semua akan dilanjut tapi nggak bisa barengan update nya karena beberapa faktor.
(Guest)malaslogin : cia cia cia terimakasih mau nungguin FFku ini, aku seneng banget ada yang nungguin.
nimuixkim90 : Nggak tahu, tapi kayaknya nggak berat deh, nggak akan seberat Inheritors intinya.
(Guest)Laras Sekar Kinanthi : sudah sudah sudah, Lee Sooman itu kakeknya Minseok, hehe. Anggap saja ini Ramadan Edition hehe.
jiraniatriana : Iya sesuai judul Amnesia Parsial, kayaknya kalau bikin Sehun cool mulu gak asik jadi ya aku bikin dia kayak gini, asli-asli palsu hehe.
Ragnhild Seo : Semoga seru ya, Amin. Hwaiting juga buat kamu.
nimuixkim90 : Akan saya lestarikan. Haha.
Park Eun Yeong : Dia jadi anak malang, sampai bikin aku pengen nyekik diriku sendiri, huhu.
…
Thanks To*
Terimakasih buat yang udah mau Review, Follow dan Favorite, seneng banget rasanya aku, dan maaf baru bisa bales review sekarang. Maafken-maafken maafkan saya.
.
.
Damchoo
