Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia.

.

.

Kim Minseok dan Cho Kyuhyun, mata mereka bertemu sepersekian detik tepat di depan lift setelah Minseok menekan tombol, tuan Cho itu datang dengan rombongannya, anaknya dan juga Luhan, dalam sekian detik tatapan Minseok. Ada kesakitan di sana saat Minseok menatap Kyuhyun dengan tatapan memuja, namun Kyuhyun menatapnya dengan biasa, kalian tidak mengenal jadi wajar, kata Minseok dalam hati untuk mengobati kesakitan itu.

Lalu sepersekian detik yang lain matanya bertemu dengan Luhan, dan di saat itu ia mundur dua langkah, membungkuk dalam pada Luhan dan rombongan Kyuhyun, menunggu cukup lama, ketika semua rombongan masuk dalam lift baru Minseok mengangkat badannya. Matanya memanas saat itu juga, tapi dia tidak menangis, matanya sudah terlalu sembab dan dia tidak mau menambahinya.

Kalian tidak saling mengenal, dia adalah Cho dan kau adalah- ? Kim. Iya kau adalah Kim, hafalkan dengan baik Kim Minseok. Minseok menekan marga Kim dinamanya, dia harus ingat dia adalah Kim, Kim Minseok jadi tidak perlu menangis hanya karena Cho mengabaikannya. Kim dan Cho bertentangan.

Cho adalah tuan dan Kim adalah pesuruh, Lee adalah tuan dan Kim adalah pesuruh. Itulah derajatmu diantara mereka Kim Minseok. Kau hanya figuran serbaguna.

XiuHan – LuMin

Yaoi – Mpreg

Luhan menggigiti jarinya siang itu setelah menerima kiriman amplop coklat besar berisi pesanannya, antara buka atau tidak dia ragu karena ketakutan, ia takut entah untuk alasan apa, hanya takut saja rasanya. Tapi jika tidak dibuka maka itu sama saja ia membuang-buang waktu, untuk apa menyewa orang untuk mengamati, mengawasi dan mencarikan informasi kalau pada akhirnya ia hanya akan menaruh hasilnya ditumpukan dokumen kemudian menjadi sampah, tidak. Bukan sayang pada uangnya tapi ada sesuatu yang besar yang mendorongnya takut.

Hanya saja, tepat ketika ia sudah membuka penutup amplop, pria jangkung bermata tajam membuka pintu ruangannya tanpa permisi. "Kris?" Luhan meletakan kembali amplop di tangannya dan berdiri menyambut kedatangan Kris. "Kau sudah dengar?" Kris bertanya, mengabaikan sapaan Luhan dan membuat Luhan mengerut bingung, tahu? Tahu apa?

"Apa?"

"Rapat direksi diadakan lima belas menit lagi, akan ada transfer pegawai dan SM mengajukan percepatan penandatanganan kerja sama, dengan kata lain kita harus bergabung, SM Group, Wu7 dan Cho Corp."

"Apa? Itu terlalu mendadak Kris dan itu tidak mungkin, Wu7 dan Cho Corp sudah setengah jalan dan jika SM akan masuk saat ini, artinya kita harus memulai dari awal."

"Itulah mengapa ada rapat direksi."

"Gila, mentang-mentang perusahaan besar mereka seenaknya." Umpat Luhan tidak terima, tersinggung dan dia benar-benar merasa sedang dihina.

"Aku tahu ini memang gila, tapi aku sudah membaca rancangan kerja dan proposal pengajuan itu, keuntungan yang kita dapat semakin besar, dan cara kerja SM benar-benar rapih, ini jauh lebih mengagumkan dari proposal Youngho."

"Kau mudah tergiur dengan tawaran besar, ini bukan masalah itu Kris, ini tentang harga diri."

"Katakan itu pada harga dirimu setelah membaca ini." Kris melemparkan dua map warna merah muda di atas meja Luhan, dan langsung diambil dan dibaca olehnya, pekerjaan Minseok, batin Luhan.

"Ini adalah pekerjaan paling sempurna dan rapih yang pernah kutemui, untuk ukuran staf biasa dia melebihi siapapun bahkan pamanmu, aku tidak bermaksud menghina tapi pekerjaanmu saja tidak semengagumkan ini. Ingat, dia hanya staf dan mampu merancang segala sesuatunya dengan sempurna, bayangkan jika kita menjalin kerjasama dengan SM secara keseluruhan?"

Luhan mengalihakan pandangananya pada Kris, "Kau yakin dengan ini?"

"Dengan masuknya dia dalam tim kita, aku yakin."

Rapat direksi tiga perusahaan, perombakan kontrak kerja yang akan mengalami perubahan besar-besaran. Dalam satu ruangan terdapat meja melingkar, dimana secara kebetulan Minseok duduk berhadapan dengan Cho Kyuhyun yang duduk bersebelahan dengan Luhan dan tepat di sebelah kiri Luhan, duduklah Cho Youngho. Minseok merasa gugup. Dalam satu ruangan dengan orang yang tidak pernah ia duga sebelumnya membuat dadanya berdegup kencang, bagaimana dia akan melaksanakan rapat ini dengan benar, gambaran yang Minseok lihat pasti dia akan gagap, mungkin sebelum benar-benar dibuang kakeknya, Minseok lebih dahulu akan dipecat, dibuat menjadi miskin, dibuang, menjadi glandangan lalu mati dijalanan, Happy Ending.

Seperti itu gambaran yang Minseok lihat seputar dirinya. Minseok terus menundukan kepalanya hingga tidak sadar ada dua pasang mata yang terus mengawasinya. Luhan.

Mata rusa setajam elang itu menatap begitu intens Minseok yang sedang menunduk dan hanya bisa dilihat helaian rambutnya saja, demi tuhan, Minseok laki-laki, kenapa dia begitu peduli. Ayolah, pada Sehun yang merupakan saudaranya sendiri saja dia tidak pernah sepeduli ini cenderung malah tidak peduli, tapi kenapa pada Minseok? Seakan pria itu langsung menyita seluruh perhatian Luhan. Sial, sepertinya ada yang salah dengan Luhan.

Kyuhyun, lelaki itu memandang kepala anaknya yang tertunduk dengan tatapan sendu, ia ingat betul bagaimana Minseok membungkuk padanya tadi pagi saat betemu di depan lift. Astaga Minseok menunjukan penghormatan yang begitu dalam dan sementara dia? Dia hanya meliriknya sekilas kemudian berlalu begitu saja.

Sungmin hyung. Lelaki yang amat Kyuhyun cintai, mengenakan coat super besar untuk menutupi perut besarnya, rambutnya sedikit memanjang, beruntung wajahnya lumayan cantik sebagai seorang pria maka tidak aneh tidak ada yang sadar jika lelaki itu adalah seorang pria, dia menatap Kyuhyun yang kini mematung diapit oleh kedua orangtuanya, ia baru diizinkan keluar rumah sakit.

Ingin sekali rasanya ia berlari dan memeluk belahan jiwanya, jika saja tidak dengan erat pergelangan tangannya dicekal oleh ayahnya. Sedikit susah lelaki itu mendekat padanya, membungkuk dalam sebagai tanda penghormatan.

"Semoga kalian sehat dan panjang umur." Sungmin menggigit bibir bawahnya dan menghembuskan nafasnya yang berat perlahan "Do'akan juga untuk kami." Sungmin berkata, tatapannya tertuju pada Kyuhyun sejenak, lalu pada kedua orangtua Kyuhyun. "Aku akan memeriksakan anakku, bulan-

"Kami tidak perlu tahu itu Lee-ssi. Kami tidak bertanya." Ibu Kyuhyun menyela.

"Aku ingin bercerita, karena tidak sengaja bertemu dan tadi anakku menendang ketika melihat kalian, mungkin dia ingin menyapa." Sungmin menghela nafas beratnya lagi. "Selamat atas kepulanganmu dari rumah sakit, kuharap tuhan mengangkat sakitmu dan kau dibebaskan dari segala penyakit, aku sudah menuruti keinginan anakku menyapa kalian, Kyuhyun-ssi bisakah kau menolongku sebentar."

Kyuhyun tidak menjawab dia sibuk menggigit bibirnya agar tidak menyebut nama Sungmin dan menangis di depannya, dan kedua orang tuanya juga tidak menjawab, maka dari itu Sungmin hanya bisa menyunggingkan senyum kecil, dalam matanya tersirat luka, Kyuhyun ingin menolong, merangkul, memeluk dan menenangkannya, tapi dia bisa apa.

"Bisakah kau menyentuh perutku sebentar, sapa dia meski hanya satu detik" Sungmin mengulurkan tangannya, bermaksud mengambil tangan Kyuhyun, namun belum sempat menyetuh permukaan suaminya itu, tuan Cho menepis keras tangan Sungmin.

"Kau bilang hanya ingin menyapa? Jauhkan tanganmu itu dari anakku."

Sungmin membungkuk dalam lagi. "Ah maaf, aku pasti mengganggu kalian. Kalau begitu lebih baik aku pergi saja. Permisi."

Kyuhyun mengalihkan pandangan, tidak ingin melanjutkan bayangan masalalu yang menyakitkan, "Do'amu dikabulkan tuhan hyung, aku tetap sehat dan masih hidup sampai sekarang, hanya saja hatiku diluputi kesalahan yang akan menenggelamkanku dineraka, Minseok? Dia tumbuh dengan baik, sehat, cerdas dan sangat mirip denganmu. Harusnya kau melihatnya" jerit hati Kyuhyun.

"Harabeoji-" perkataan Taemin terhenti ketika dalam ruangannya ayahnya juga sedang disana, mereka bersi tegang. Mungkin habis berdebat, Taemin rasa ini seperti apa yang ingin ia katakan.

"Suatu saat abeoji akan merasakan penyesalannya. Kau menaruh kebencian terhadap seorang bayi yang tidak bersalah, memusuhinya hingga dewasa dan sekarang kau secara terang-terangan ingin mengenyahkan dia dari keluarga? Darah Lee mengalir dalam tubuh Minseok, Minseok adalah Sungmin hyung yang terlahir kemabil. Hanya karena dia lahir dari seorang lelaki apa itu alasan untuknya menerima perlakuan tidak adil ini?"

"Aku tidak mencoba membuangnya, atas dasar apa kau menuduhku demikian." Jinki berdecak, tidak habis pikir dengan ayahnya.

"Melarangnya kembali pada waktu yang seharusnya, kau empat kali melakukannya, semua pekerja kembali pada waktu yang telah ditentukan, sedangkan Minseok? Dia selalu tertunda kepulangannya sampai akhirnya dia tidak kembali, menyuruhnya mengurus semua pekerjaan padahal itu adalah tugas dari staff di China, lalu sekarang? Kau mengajukan besar-besaran pembuatan kerja sama dengan tiga perusahaan? Apa lagi artinya, kau ingin menambah pekerjaan Minseok, kau membuat Minseok menjadi pekerja dibawah Wu7, supaya apa? Supaya ketika dia kembali ketanah kelahirannya disaat itu dia sadar kalau keluarga yang dirindukannya sedang melakukan perjalanan ke keluar negeri. Jadi apa artinya kalau bukan membuangnya?" mengingat bocah malangnya, Jinki tidak bisa tidak menahan air mata, Taemin yang masih diambang pintu juga ikut merasakannya, ikut terenyuh dan menangis.

Jika Minseok ikut dalam perjalanannya, aku takut kalau aku akan melakukan kesalahan, mengabaikannya dan membuatnya tersisihkan, dia akan menjadi bahan gosip semua orang dan Lee Sooman tidak mau.

"Mungkin seharusnya memang sejak dulu Minseok tidak pernah menjadi Lee, setidaknya jika dia di panti asuhan dia akan mendapat orangtua yang mengadopsinya, menginginkannya dan mencintainya sepenuh hati, bukannya seperti ini, dia diantara semua keluarganya tapi seperti di kandang singa, dia diantara keluarganya tapi dia seperti orang asing, dia diantara keluarganya tapi dia diakui hanya sebagai cucu angkat" Jinki menghela nafas sebentar. "Minseok adalah yang paling kau benci, karena sesuatu yang tidak masuk akal kau membencinya dan pada saatnya nanti dia juga yang akan membuatmu menyesal" pungkas Jinki lalu berjalan keluar, merasa tidak tahu harus berbuat apa karena apa yang ingin ia katakan telah tersampaikan, Taemin memilih pergi mengikuti ayahnya dan meninggalkan kakeknya sendirian.

"Aku sudah menyesal sejak awal, sejak Sungmin pergi, aku sudah menyesal tapi untuk mengubah sikapku itu menyulitkan, terlalu banyak airmata yang sudah aku buat untuknya, maka sampai akhir biarlah seperti ini, jika pada akhirnya Minseok membenciku mungkin itu adalah hukuman bagiku." Lee Sooman terduduk di kursinya dengan kepala tertunduk.

Rapat direksi selesai dengan keputusan akhir sesuai dugaan, tiga perusahaan menjalin kerja sama, dan sekarang Minseok baru saja keluar dari ruang administrasi, menyerahkan data diri dan mengambil id card barunya sebagai tim pekerja dari LH7 Goals. Kim Xiumin, namanya dan fotonya tertera disana, secara resmi Minseok bekerja dibawah tangan Luhan. Rencana yang dicanangkan dalam kerja sama adalah tiga tahun, dalam tiga tahun jika kerja sama ini sukses maka LH7 Goals akan membangun gedung sendiri, Minseok tersenyum getir sambil melihat benda di tangannya.

"Tiga tahun ya?" ia bergumam dengan senyuman getirnya. Mungkin memang benar Minseok sedang coba dibuang. Ia menghembus nafas berat, Minseok mengambil ponselnya, mengetikan sesuatu dalam ponselnya lalu menekan tanda send, Minseok menimbang-nimbang ponselnya, menunggu balasan dari sebrang dengan sabar, sambil berjalan dia tidak memperhatikan sekitar dan. Bruk. Minseok bertabrakan dengan seseorang.

Ponselnya jatuh, membentur lantai, kemudian tertutup akan map-map yang dibawa oleh.

"Luhan" Minseok menyebut nama Luhan dengan cukup keras dan itu membuatnya menjadi pusat perhatian, sadar akan kesalahannya, Minseok menampar pipinya sendiri, menunduk dalam lalu berkata. "Ah maafkan saya atas ketidak sopanan saya, maaf karena tidak hati-hati, maaf tidak memperhatikan-

"Berhenti minta maaf Mingssok, aku yang salah."

"Eh."

Luhan menyela ketika bayangan anak kecil sedang meminta maaf pada pamannya melintas lagi, dengan cepat ia berdiri, mengambil semua miliknya yang jatuh tidak lupa dia mengambil ponsel Minseok, menarik tangan pria yang lebih pendek darinya kemudian dia berdeham. Mengulurkan benda segi empat ditangannya pada Minseok yang masih kaget.

"Aku sedang mengecek laporan untuk pimpinan saat kita bertabrakan, jadi berhenti meminta maaf. Ini milikmu, cepat ambil karena aku sedang terburu-buru." Ucap Luhan tegas, dan Minseok hanya bisa mendengar dan menerima ponselnya sambil menunduk, setelah mengatakan itu Luhan pergi begitu saja, namun saat sudah akan mencapai pilar, Luhan berlari, bersembunyi dibalik tembok dan memegangi dadanya sebelah kiri, ya tuhan jantung Luhan berdebar, sangat kencang, keras seperti ingin menjebol dadanya, sial perasaan apa ini. Puas menenangkan hatinya, Luhan melongokan kepalanya sedikit, mengintip keberadaan Minseok yang sekarang sedang.

Minseok mengulurkan saputangan milik Kyuhyun yang tidak sengaja jatuh, saputangan bermotif daun maple yang kini hanya dipandangi oleh sang pemiliknya. "Tuan tidak sengaja menjatuhkannya, saya melihat nama anda tertulis di sana dan karena saya melihat anda, saya ingin mengembalikannya."

Kata Minseok karena Kyuhyun tidak bergeming, Minseok menemukan saputangan itu ketika dia pergi ke kamar mandi sebelum ikut rapat direksi, dia merasa gugup dan butuh mencuci wajahnya, disaat itulah ia mendapati sebuah kain tergeletak di depan wastafel, sedikit basah dan ketika ia melihatnya, ia terpesona, rajutan daun maple ditengahnya sungguh sempurna di bawahnya tertulis At Gwanghwamun – Cho Kyuhyun.

Membuat Minseok berspekulasi kalau itu pasti milik ayahnya, ah bukan – milik tuan Cho maksudnya. "I-ini-

"Ah, saya menemukannya di kamar mandi, tuan tidak sengaja menjatuhkannya, saya melihat nama anda tertulis di sana dan karena saya melihat anda, saya ingin mengembalikannya." Minseok mengulangi kalimatnya yang sepertinya tidak didengar oleh Kyuhyun.

"Terimakasih kalau begitu."

"Sama-sama" kata Minseok, lalu dia berbalik namun ketika dia baru dua langkah, sesuatu yang mengejutkan terjadi. "Ah, Minseok." Kyuhyun memanggilnya, memanggil namanya dengan begitu lembut, yang sontak menghentikan langkah Minseok, dengan pelan dia berbalik, matanya sudah berkaca-kaca sesuatu yang mustahil barusaja terjadi dan Minseok bahagia.

"Ye?"

Kyuhyun berdeham, membuang pandangan namun dia berkata. "Aku ingin berterimakasih padamu sudah menemukan ini, mau kah kau kutraktir minum kopi? Apa kau menyukai kopi?"

Minseok menggigit bibirnya, aku suka kopi, sangat menyukainya, dan aku mau minum kopi pemberianmu. Baru Minseok ingin mengatakan itu sebuah suara mengintrupsi.

"Abeoji." Kyuhyun menoleh, di ujung sana Youngho sedang berdiri menunggu sang ayah "Jadi pergi tidak, kau berjanji padaku kalau presentasiku bagus kau akan menemaniku ke pameran, palli." Youngho berteriak.

Apa kau akan pergi dengan Youngho atau denganku? Aku menerima kopi darimu, aku tidak bohong tentang itu, aku benar-benar menyukainya. Aku suka kopi.

"Ah, aku mengambil ini yang tertinggal, maaf membuatmu menunggu." Kyuhyun berbalik lalu melangkah.

Bodoh, seharusnya kau tahu, Youngho lebih berharga dibandingkan apapun, Minseok kau hanya angin lalu.

"Chogiyo" Minseok menghentikan langkah Kyuhyun, lelaki itu berbalik dan manatap Minseok lagi. "Terimakasih kopinya tuan, aku sangat menikmati pemberianmu, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk minum denganku. Aku tidak akan melupakannya."

Bercakap dengan Kyuhyun, sebenarnya apa hubungan mereka? Luhan ingat betul bagaimana tatapan Minseok waktu itu, Kyuhyun jelas mengatakan kalau ia tidak mengenal Minseok, namun dari cara bagaimana mereka bertatap, mereka seakan memiliki hubungan yang erat, seperti-

"Astaga." Luhan terlonjak ketika pamannya menepuk punggunggnya, tidak keras memang namun kekagetan yang timbul itulah yang membuatnya memekik keras. "Paman mengagetkan aku, aku bisa jantungan dan mati muda." Grutu Luhan pada Zhoumi.

"Salahkan telingamu yang tidak mendengar itu, aku sudah memanggilmu berkali-kali kau malah sibuk mengintipi orang, apa ada seorang gadis yang menarik perhatianmu." Zhoumi ikut melongok, menilik pada kerumunan namun tidak ada gadis berlalu lalang kecuali ibu-ibu pembersih kaca.

"Aku tidak mengintip, paman jangan sembarangan dan menuduhku. Ah, kebetulan kita bertemu disini, ini, aku berniat menyerahkan ini padamu untuk laporan perusahaan kita." Kata Luhan lalu menyerahkan laporannya pada pamannya kemudian pergi.

"Dasar bocah tidak sopan, kau harus mengantarnya keruanganku, astaga, aku akan mecatmu bocah tengik." Umpat Zhoumi pada Luhan namun hanya dibalas lambaian tangan oleh keponakannya.

Dalam perjalanan Luhan kembali keruangannya, Luhan melewati ruangan tempat dimana Minseok berada, pria berwajah bayi itu sedang duduk dengan kepala tertunduk, jika diperhatikan Minseok selalu menunduk jika sedang duduk, menyembunyikan wajahnya seakan dia buruk rupa, tapi tentu saja alasan Minseok menyembuyikan wajah bukan karena itu, Minseok seperti menyembunyikan hal lain.

Menyembunyikan mataku, agar tidak ada yang melihat mataku dan membaca perasaanku. Seseorang yang bisa membaca pikiran adalah mereka yang melihat matanya, karena itu aku tidak suka seseorang melihat mataku dan aku lebih suka menyembunyikan mataku dengan cara menunduk.

"Direktur Lu?"

"Katakan pada sekertarisku untuk mengatur ulang jadwalku, aku ada urusan mendadak." Tidak peduli siapa yang menyapa, Luhan langsung berkata kemudian pergi begitu saja, dia butuh menemui dr. Lau. Ia menghubungi ayahnya. "Ba aku akan kerumah sakit sekarang, aku tidak bisa menunggumu" tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, Luhan langsung memutuskan sambungan, menaruh ponselnya kembali kedalam saku kemudian dia bergegas menuju mobil.

Luhan mengabaikan apapun, bahkan panggilan Kris sekalipun.

"Ada apa?" Minseok bertanya pada Wei Zhang yang baru saja masuk.

"Aku memergoki direktur sedang berdiri di depan ruangan kita, ketika aku bertanya dia malah meminta aku untuk mengatakan pada sekertarisnya kalau dia ada urusan mendadak." Jawabnya pada Minseok.

"Direktur?"

"Ya, dia aneh akhir-akhir ini. Ah aku harus menyampaikan pesan itu, sekalian mengantar laporan kerjaku. Sampai nanti Xiu."

"Hmm"

Setelah Wei Zhang pergi, kening Minseok berkerut, direktur? Apa yang dimaksud Wei adalah Luhan? Dia juga direktur kan, tapi untuk apa dia berdiri disana, ah dia sangat aneh, mengingat Luhan hati Minseok terasa nyeri, entah kenapa, seerti seakan dia memiliki luka dan Luhan adalah pisau yang membuatnya terluka, benar-benar sakit.

Minseok kembali menundukan kepalanya dan memejamkan matanya, waktu istirahat ini dia ingin memanfaatkannya untuk tidur, semalam ia tidak tidur dan mungkin lima belas menit tidurnya akan membuatnya kembali segar, sudah beberapa hari ini Minseok kurang tidur, alasannya karena dia menyelesaikan semua pekerjaan karena benar-benar ingin pulang, maka ia menyelesaikannya secepat mungkin meski harus mengurangi waktu istirahatnya. Tapi berhubung sekarang dia sudah bergabung dengan LH7 Goals maka kesempatan pulangnya sudah hilang, tidak peduli semua pekerjaannya selesai atau tidak dia tidak akan pulang, dua bulan lagi, tahun depan, tahun depan dan baru pulang ditahun berikutnya. Minseok mungkin sudah menjadi orang asing saat itu.

"Apa kau mengalami sakit kepala setiap menerima ingatan masalalu itu?" tanya Henry setelah Luhan selesai bercerita. "Sesekali iya, tapi sesekali hatiku yang sakit."

Henry mengernyit, mengerutkan keningnya mendengar pengakuan Luhan. "Kau bilang apa? Hatimu sakit?"

Luhan mengangguk, menyentuh dada kirinya dan berkata. "Aku mengalaminya beberapa kali, ketika ingatan itu muncul aku tidak pusing hanya saja hatiku benar-benar sakit." Tutur Luhan, Henry berdeham dan sedikit menyunggingkan senyuman.

"Kau bisa ceritakan kejadian semacam apa yang membuat hatimu sakit?"

Luhan mengingat, lalu dengan lancar ia bercerita, ditengah-tengah ia bercerita sesekali ia melihat pada Henry dan ia sangat yakin kalau lelaki itu sedang menahan tawa, ketika akhirnya ia selesai Henry berdeham, menatap Luhan sejenak lalu meminta maaf. "Aku tidak mencoba mentertawai kisah sedih itu hanya saja, apa kau yakin itu bagian dari ingatanmu yang hilang maksudku, mungkin kau sedang mengingat kekasihmu." Kata Henry.

"Ha?"

"Maksudku, dari yang kau ceritakan kupikir dia adalah seseorang yang berarti dalam hidupmu, seperti kekasih, kekasih biasanya bersarang di dalam hati dan karena hatimu yang merasa sakit ketika ingatan itu datang mungkin saja kau sedang mengingat kekasihmu." Jelas Henry. "Kekasih" dan Luhan menggumam dengan bingung, pasalnya. "Tapi dia laki-laki."

Henry kembali menyunggingkan senyumnya yang mirip roti mochi. "Ada yang salah? Jika bukan kekasih ada kemungkinan itu cinta, orang yang ada dalam ingatanmu itu adalah orang yang kau cintai, cinta juga bersarang dalam hati kan"

"Lalu, apa ada kemungkinan orang yang membuatku mengingat secara tiba-tiba adalah orang yang sama dengan yang ada dalam pikiranku."

Henry menjentikan jarinya, meletakan pulpen dan melipat tangannya diatas meja, mencondongkan tubuhnya pada Luhan. "Ada dua kemungkinan, dia mirip atau memang benar-benar dia."

"Apa aku bisa mengembalikan ingatanku?"

"Ingatanmu akan kembali, kemajuanmu begitu pesat, kau hanya butuh terapi dua kali lebih sering dan kau akan dapatkan kembali ingatanmu, tapi jangan memaksa, jangan tanamkan keharusan untuk segera mengingat, itu bisa melukai syarafmu yang lain, natural saja, meski dua kali lebih sering waktu yang akan digunakan hanya berkisaran menit. Kau tidak boleh membuat sebuah keharusan."

Sehun memasukan ponselnya kedalam saku ketika yang ditunggunya muncul, pemuda bermata panda yang sedang memutar-mutar tongkat wushunya dengan tangan kanannya. "Nuna" panggil Sehun, mendengar seseorang memanggilannya, pemuda bernama Zitao itu menoleh "Sehun" ia balas menyapa. Setengah berlari, Sehun menghampirinya.

"Baru selesai?" Sehun langsung bertanya dan Zitao mengangguk senang. "Kau tidak latihan?" lalu ia bertanya.

"Hanya akhir pekan" sahut Sehun "Mau minum dulu? Aku traktir?" sekali lagi Zitao mengangguk lalu mengikuti langkah Sehun sambil berangkulan, Sehun merangkul Zitao. Zitao adalah pemuda yang Sehun temui ketika pemuda itu menghadiri salah satu event mengenai martial art yang diadakan di Seoul.

Saat itu Sehun tidak tahu menahu masalah beladiri atau seni beladiri, namun berkat kakak kelasnya yang merupakan teman dekatnya memaksanya untuk menemani, akhirnya Sehun ikut. Datang pada acara tentang bela diri dan seninya dan disana Sehun bertemu dengan Zitao, ketika dia melakukan penampilannya mewakili akademinya, disaat itulah Sehun terpesona, Zitao sangat karismatik saat itu.

Sehun lalu mendaftar pada akademi beladiri dan mempelajari taekwondo, tidak hanaya itu, ia juga mendaftar akademi wushu, namun wushu dipelajarinya ketika ia mengunjungi pamannya di China, empat kali persatu tahun, dan disana dia mengenal Minseok.

Mata Minseok terbuka dan pandangannya disambut oleh keramaian, taman dihari dimana musim semi sedang berlangsung, bunga-bunga bermekaran dan itu sangat indah, banyak orang datang mengunjungi taman termasuk.

"Minseon" Minseok menoleh, merasa dipanggil seseorang, namun ketika ia menoleh, seorang wanita juga menoleh dan saat itu Minseok sadar, neneknya disana bersama seorang bocah kecil, gembul dan itu Minseok "Eomma, appa belikan Sungmin es krim besar dua, satu untukku dan satu untuk eomma" bocah itu berkata dan saat itu Minseok tersenyum getir, eomma? Bisik Minseok.

"Kau belikan dia es krim lagi? Ini sudah ketiga kalinya Sooman-ah, kau mau membuat gigi anakmu lepas diusia muda" Minseon mengomel pada lelaki bernama Sooman yang memegang dua balon besar dan satu kap es krim ukuran besar.

"Anak kita meminta sayang, apa aku harus melarangnya?"

"Kau selalu memanjakannya"

"Dia anakku kan, ada yang salah dengan memanjakan anak sendiri?" Sooman berkata, seraya mengambil Sungmin kecil kepangkuannya, menyuapi anak kecilnya itu dengan penuh kasih sayang.

"Memang tidak salah, hanya saja Sungmin terlalu sering makan es krim, giginya bisa sakit."

"Sungmin tidak sakit gigi kok, gigi Sungmin kan kuat" sikecil Sungmin menunjukan sederet gigi putihnya yang kecil-kecil dan tampak sehat.

"Awas kalau nanti kau mengeluh sakit, eomma akan membuang semua es krim di rumah kau dengar?"

"Appa akan belikan lagi, appa tidak akan biarkan Sungmin sakit, kalau aku sakit appa akan panggilkan dokter terbaik."

Luhan menumpukan wajahnya tepat di hadapan Minseok, mengamati wajah Minseok dengan begitu dekat. Lelaki ini tertidur di ruangannya yang sempit, dimejanya yang banyak sekali tumpukan berkas.

"Kau siapa Minseok?" tanya Luhan lirih, tanpa ingin mengganggu tidur Minseok. Awalnya ia tersenyum sambil mengamati wajah tidur itu, namun ketika sebutir air mengalir dari mata Minseok, Luhan cukup terkagetkan.

Apa Minseok menangis? Tanya Luhan, dan detik berikutnya tubuh Minseok semakin bergetar. Minseok pasti mimpi buruk. Luhan menyentuh punggung Minseok, bermaksud membangunkan namun diurungkan, jika ia membangunkan Minseok apa yang harus ia katakan, berdiri disana tiba-tiba kemudian membangunkannya, pasti akan menimbulkan kecanggungan dan tanda tanya besar.

Seorang bocah bermata rusa yang mengenakan kemeja corak tentara menepuk paha Minseok, yang tengah terisak sambil duduk sambil memandang lurus, dia membawa sebotol air mineral ketika Minseok menoleh padanya, dia menjulurkan botol ditangannya, dengan senyuman tiga jarinya.

Mata itu, senyuman itu, tatapan itu, hidung itu.

Minseok terbangun ketika merasakan dingin disekitar wajahnya, di hadapannya kini berdiri satu botol air mineral, dan ketika ia melihat pada pintu, sekilas terlihat bayangan Luhan yang melintas.

"Luhan" Minseok mengangkat diri dan saat itu sebuah selimut kecil jatuh kelantai, seseorang membentangkannya diatas punggung Minseok ketika dia tidur? Mungkin kah itu Luhan?

"Tidak mungkin" Minseok menggeleng, mengambil botol dihadapannya dan menegugnya sampai hanya tersisa setengah.

TBC?

Kayaknya moment LuMin-nya dikit banget ya? Setelah chapter ini akan aku usahakan momentnya sebanyak mungkin, dan maaf kalau aku terlalu menistakan Minseok. Aku sudah bilang kan kalau ini terinspirasi dari The Moon That Embraces The Sun dan Dil Hai Tumhaara(Film India). Tokoh Minseok dari karakter Pangeran Yang Myeong di The Moon dan Shaloo di Dil Hai.

Balasan Review

jvngri : Minseok kuat kok, Luhan sedang berusaha mengingat. Dan aku akan semangat, membuat kehidupan mereka bahagia. Hehe. Laki-laki bisa hamil itu Cuma keajaiban dan kalau di dunia FFn mah mungkin-mungkin aja. Kayak cerita ini.

asda45613 : Aku nggak tahu apakah muka Minseok itu pantas dinistakan atau tidak, hanya saja, yang ada dipikiran aku kayak gitu. Huhu, maafkan aku yang sudah menistakan Xiukita tercinta. Kuharap aku tidak dibekukan sama para Elsa dan Xiuminstand.

XiLunara : Aku juga gregetan, Luhan sedang berusaha mengingat. Minminnya masih meratapi kesedihannya.

Park RinHyun-Uchiha : Luhan akan ingat, Taemin? Nggak tahu weh *Ditabok hehe.

: Terimakasih sudah suka, okay aku semangat kok.

Emvy551 : Mari kita menguliti Mister Jamban bersama-sama, hehe.

jiraniatriana : Karena Minseok itu baik hati dan penyayang keluarga, makanya dia gak mau nglakuin itu. Iya, sambil nulis juga kadang aku bercampur emosi, kadang kesel, marah, kadang sampe nangis sendiri. Aku kasian sama Minnie tapi idenya yang muncul gitu, aku harus bagaimana?

(Guest)minnie : Umin akan datang, siap-siap membangun keluarga bahagia, dan harus tahan ya nanti banyak tetangga yang bakal berkunjung pengen liat Umin dan pengen nyubitin pipinya yang gembul itu, dan aku akan datang kerumah kamu. Hehe.

(Guest)dhita krishanxiu : Aku aminkan do'amu ya. Semoga cerita ini berakhir dengan bahagia.

(Guest)Hzakeea : Iya itu orang emang yang paling tega, sama Xiukita. Luhan sedang coba mengingat dan dia sangat ingin ngatannya kembali.

(Guest)Laras Sekar Kinanthi : Kabur, tolong saya mau dibunuh. Aku jadi takut kamu, padahal aku suka kamu Laras-ah, saranghae, jangan bunuh aku ya. Buingbuing.

(Guest)sinta lang : Taemin disini ceritanya yang paling sayang sama Minseok, makanya dia nggak tega kalo Minseoknya digituin, dan aku juga mewek pas ngetik bagian itu, TT

(Guest)KyungXe : Iya dia sedih banget. TT

KKXL99 : Maafkan saya, karena bikin mewek.

Thanks to*

Buat semua yang suka sama review cerita ini. aku nggak tahu harus ngungkapinnya gimana, intinya aku sayang dan cinta kalian semua. Berkat FFn aku jadi punya temen baru yang banyak dan baik kayak kalian semua. Saranghae.

.

.

Happy XiuHan Day.