Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia.

.

.

"Appa sayang Sungmin?"

Lee Sooman menghembuskan nafasnya berlebihan, mengambil sendok es krim dan menyuapkan kedalam mulutnya. "Ani, appa sayang eomma"

Sungmin kecil mengerucutkan bibirnya. Marah pada sang ayah lalu mengambil sendok yang tadi dipegangnya, menjauhkan kap es krim kemudian berkata. "Sungmin juga tidak sayang appa. Jangan ambil es krimku. Ini punyaku" kata anak kecil itu lucu, membuat Minseon dan Sooman terkekah, secara bersamaan mereka memeluk putera mereka, membuat Sungmin yang bertubuh lumayan gemuk itu terbungkus kedua orang tuanya.

"Tentu saja appa sayang Sungmin, di dunia ini Sungmin dan eomma yang paling appa sayangi." Di dalam pelukan Sungmin nyengir lebar menampilkan gigi-gigi timunya. "Sungmin juga sayang appa, Sungmin akan jadi appa suatu saat nanti seperti appa" tangan kecilnya memeluk tubuh besar ayahnya. Yang lebih tua tersenyum, mengeratkan pelukan itu.

"Jadilah appa yang lebih hebat dariku, agar anakmu lebih bangga padamu dan aku, jadikan aku bangga padamu karena menjadi ayah yang hebat. Aku akan menunggu waktu ketika aku menjadi kakek."

Minseok yang berdiri sambil memandang keluarga kecil yang tengah piknik di taman itu seketika menumpahkan air matanya. Yang sekarang di depan matanya adalah keluarga kecil Lee. Dimana pasangan Lee masih muda dan ayahnya masih seorang bayi.

Ketika tengah menangis dan memandangi keluarga tersebut, seorang bocah seumuran ayahnya menepuki pahanya, Minseok tertegun sejenak, anak ini? Apa anak ini melihatnya? Apa seseorang memasuki mimpinya? Siapa anak ini dan bisa melihatnya? Disaat otaknya sedang dipenuhi banyak pertanyaan, matanya teralihkan pada tangan si bocah, dia mengulurkan satu botol air mineral.

Lalu tersenyum lebar. Minseok terpaku pada senyuman itu, itu tidak asing. Wajah itu, mata itu, hidung itu, bibir itu dan senyuman itu.

"Luhan"

Malam sudah datang ketika Luhan sampai di kantornya. Ini sudah jam pulang, namun bukannya kembali kerumah ayah atau apartemennya, Luhan malah memilih kembali kekantor. Ada dorongan kuat untuk kembali kegedung itu. Alasannya tidak jelas namun yang jelas dia ingin melihat Minseok.

Memastikan si wajah bayi berpipi bulat seperti baozi itu sudah pulang atau belum. Ia pernah menemukan Minseok masih ada dikantor dan berkutat dengan komputernya ketika jam pulang sudah lewat, berakhir dengan Luhan bertengkar dengannya dan sekarang tangannya dibebat penuh.

Mengingat kejadian itu, Luhan sejujurnya menyesal, dia sudah berbohong dan belum meminta maaf, namun disisi lain Luhan merasa sedikit senang dia jadi mengalami ingatan hebat yang membuatnya pingsan dan dia berakhir menemui Henry, jika bukan karena itu Luhan mungkin hanya akan meminum obat saja dan menunda waktu terapi.

Ketika melewati pintu utama, matanya tertuju pada tempat penjual minuman. Dia tidak haus, namun kakinya melangkah begitu saja dan tangannya merogoh saku, mencari apakah ada uang recehan dikantongnya atau tidak. Dan dia menemukan, koin receh yang sudah lusuh, banyak kain jahitan dan bekas kertas kena cuci.

"Aku lupa menyimpan ini di kantongku" Luhan mengedikan bahu, dengan acuh lalu memasukannya pada lubang, matanya mencari-cari minuman manakah yang mungkin bisa ia beli dan rupanya hanya satu botol air mineral yang bisa ia terima dengan uang recehnya.

"Aku tidak haus, aku hanya menyumbang uang recehku padamu kotak minum" Luhan menepuk dua kali kotak boks dihadapannya setelah berkata. Untung kantor sudah lumayan sepi, kalau ramai mungkin Luhan sudah dikatai gila, berbicara dengan kotak penjual minuman.

Melambungkn minuman yang tidak diinginkannya tapi dibelinya, Luhan berlari kecil, menuju lift dan tidak perlu menunggu lama, dia sudah berada di ruangan Minseok.

Benarkan dugaannya. Minseok belum pulang dan masih dalam posisi yang sama ketika Luhan pergi.

Luhan meletakan botolnya dihadapan Minseok, kemudian Luhan berjongkok, menumpukan kepalanya pada tangan yang terlipat. "Kau siapa Minseok" tanya Luhan lirih, tanpa ingin mengganggu tidurnya. Mengusap pelan pipinya dan itu membuat Luhan tersenyum. Namun senyuman itu bertahan sejenak, karena detik berikutnya tangannya tertimpa air, Luhan yakin itu berasal dari mata Minseok.

Apa Minseok mimpi buruk adalah pertanyaan pertama Luhan, atau dia mengganggu tidur pria itu adalah yang kedua. Isakan semakin terdengar, sampai Minseok melenguh-lenguh tidak jelas, dan Luhan berspekulasi, Minseok pasti mimpi buruk, tangannya tergugah untuk menepuk punggung Minseok, membangunkan pria itu dari mimpi yang mungkin mengganggu dan dan membuatnya menangis, namun satu hal terpikir bersamaan dengan itu.

Jika dia membangunkan Minseok, kemudian dia bangun dan mendapatinya disana, apa yang akan ia katakan? Kecanggungan dan pertanyaan pasti akan timbul. Luhan mengurungkan karena hal itu, dia tidak mau berada dalam situasi yang canggung dengan Minseok, maka ia melepaskan sesuatu dilehernya, selimut kecil yang Luhan jadikan syal kemudian ia bentangkan di atas punggung Minseok.

"Jangan menangis, itu hanya mimpi."

Chu.

Mata Luhan mengerjap, kaget dengan apa yang baru saja dilakukannya, dengan cepat dia menarik diri, menyembunyikan bibirnya dengan posisi masih membungkuk. Matanya beralih pada kening Minseok. Astaga apa yang kulakukan, batin Luhan bertanya. Sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba tubuh di depannya menunjukan pergerakan, Luhan mengangkat badannya bergerak gelisah. Yang ada dipikirannya hanya satu.

Aku harus pergi.

Hawa disekitar wajahnya tiba-tiba dingin, Minseok menggigil tiba-tiba, dengan malas dan mata setengah terbuka, Minseok mengangkat kepalanya, ia melihat bayangan Luhan sekilas, sedang berjalan menuju keluar dengan tergesa.

"Luhan?" bisiknya, tapi segera menggeleng. Tidak mungkin, ia melirik jam dan ini sudah jam pulang lewat. Tidak mungkin lelaki itu ada disekitar sini dijam segini. Mengabaikan bayangan Luhan, Minseok mengangkat tubuhnya, sesuatu jatuh dari punggung dan itu selimut kecil, seseorang membentangkannya. Siapa? Belum sempat meredakan kebingungan akan selimut tersebut, mata Minseok kini jatuh pada botol minuman dihadapannya, "Luhan" ia berkata lagi. Teringat mimpinya, bocah kecil yang memberinya minum yang menurutnya mirip lelaki itu.

"Tidak mungkin Luhan, ini pasti staff dari pantry" katanya acuh lalu mengambil botol tersebut, membuka dan meminumnya.

LuMin – XiuHan

Yaoi – Mpreg

Minseok menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya, mengisi paru-paru lalu meregangkan ototnya. Udara pagi ibukota negeri tirai bambu ini sungguh segar, sudah lama ia tidak melakukan olahraga pagi, terakhir ia melakukannya, ketika dia harus menjadi pembicara disalah satu event untuk SM di Taipei, saat itu dia olahraga untuk menurunkan berat badannya karena dia akan tampil dan diliput sebagai dokumentasi, dan itu sudah lama sekali, sekarang Minseok olahraga bukan untuk menurunkan berat badannya, namun dia merasa kalau dia butuh olahraga, ketika bermain sepak bola kemarin, otot-ototnya terasa kaku dan itu karena dia sudah jarang melakukan olahraga.

Maka dari itu sekarang ia bangun pagi-pagi dan berlari mengelilingi kota, sambil menyegarkan pikiran juga mengeluarkan keringat dalam tubuhnya. Ia meregangkan lagi otot-ototnya, lalu memandang pada danau dibawah jembatan, indah sekali, hamparan airnya terlihat begitu bersih, bening dan berkilau. Ketika sedang asik memandang kebawah tiba-tiba dari arah belakang, terasa seseorang menarik lengannya, tubuhnya berputar cepat akibat tarikan tersebut, karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, dia terjatuh.

Luhan butuh penyegaran, Sehun brisik, sejak dini hari dia sudah terbangun, meributkan ia dan ayahnya, membangunkan semua orang, bibi pembantu rumah tangga, tukang kebun sampai hampir menelpon supir ayah Luhan hanya untuk mencari sragam wushu-nya.

Hari ini Sehun akan kembali berlatih, masuk kembali pada akademi bela diri yang beberapa tahun terakhir ini diikutinya, yang diikuti ketika dia hanya berada di China, ketika di Korea, ia belajar taekwondo.

Sangat menyebalkan bagi Luhan yang hobi bermalas-malasan dihari libur. Ia berniat tidak akan keluar kamar hari ini, ingin meditasi dan merilekskan syaraf otaknya, supaya ketika dia memulai terapi dia sudah dalam keadaan maksimal dan ia semakin cepat mendapat ingatannya.

Namun semua rencananya gagal total hanya karena simenyebalkan Sehun, dengan suara sumbangnya dia menghebohkan kediaman ayahnya pagi buta hanya untuk mencari sragam yang bahkan akan dipakai jam sepuluh nanti. Ini adalah berkat didikan keluarganya yang selalu memanjakannya.

Seharusnya Luhan kemarin pulang keapartemennya saja, sehingga rencananya berjalan lancar tanpa gangguan. Dia mengerang, menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal. Ia tidak punya niat olahraga pagi atau melakukan jogging maka dari itu, Luhan bahkan mengenakan celana jeans kaos tanpa lengan dan coat coklat tebal.

Sedang sibuk menggerutu, matanya menangkap sosok manusia, Mingseok, batinya. Dia sedang menungging di pembatas jalan, matanya melebar. Mingseok akan bunuh diri. Dan pemikiran itu yang terlintas dibenaknya pertama kali.

Dengan langkah lebar ia berlari menghampiri Minseok lalu menarik lengannya, tubuh yang gembul tersebut ternyata ringan, sangat ringan bagi orang yang memiliki perawakan bantet seperti Minseok dan karena dia terlalu keras menariknya, tubuh itu berputar sebelum akhirnya jatuh menimpa Luhan.

Dug dug dug.

Itu bunyi detak jantung Luhan yang terdengar keras, seperti akan menjebol tulang didadanya. Wajah itu, hidungnya, bibirnya, pipinya dan rambut lepeknya. Terlihat begitu cantik, dengan keringat sebesar biji jagungnya itu juga membuatnya terlihat seksi, mulutnya yang sedikit terbuka rasanya Luhan ingin mengambilnya, menyecapnya dengan bibirnya sendiri dan. Argh, sialan pemikiran apa ini Luhan? Apa kau sudah gila.

Luhan mengutuk pikirannya yang tiba-tiba menjadi gila, demi tuhan dia seorang lelaki. Apa salahnya dengan laki-laki? Luhan vesri kecil, bertanduk dan mengenakan pakaian merah dan hitam, membawa garpu besar dengan api menyala disekujur tubuhnya muncul, duduk didaun telinga kiri, membisik padanya dengan semburan sedikit panas disana.

Benar juga apa salahnya kalau dia laki-laki. Luhan membatin lagi. Tapi kemudian Luhan versi kecil, mengenakan jubah putih membawa sebuah kitab dengan sayap mengepak ikut membisik. Kau lelaki normal Luhan, dia laki-laki dan laki-laki tidak boleh merasakan perasaan semacam itu terhadap lelaki lain.

Dia canitk Luhan, lebih dari perempuan. Malaikat bertanduk

Tapi dia laki-laki Luhan. Malaikat bersayap.

Dengarkan aku Luhan, bukankah bibirnya sangat seksi? Pasti manis rasanya Luhan, coba cecap sedikit. Malaikat bertanduk.

Jangan Luhan, ciuman pertamamu harus dengan isterimu kelak, jangan ikuti hawa nafsu. Malaikat bersayap.

"Diam!"

Minseok rasa Luhan gila, lelaki yang kini terbaring dibawahnya sambil memeluk dirinya sangat erat, entah hal bodoh apa yang baru saja dia lakukan sampai mereka berakhir dalam posisi demikian. "Luhan lepaskan aku" Minseok membisik, tidak mau mengundang perhatian, meski dia sadari kalau dengan posisi demikian mereka sudah menjadi pusat perhatian.

"Luhan" lelaki itu tidak bergeming, semakin menatap intens padanya, Minseok merinding jujur saja. "Kita mengundang perhatian, menjadi pusat perhatian, lepaskan aku bodoh" Luhan tidak bergeming, namun dirasakan oleh Minseok kalau kepala itu semakin mendekat. "Luhan apa yang kau lakukan-

"Diam!" Minseok tertegun, sialan, kenapa dia membentak Minseok.

Chu.

Mata Minseok membola, ketika bibir Luhan mengecup sedikit bibirnya, lalu tanpa bisa ditahan tangan Minseok melayang, memukul wajah Luhan lalu pekikan disekitar terdengar.

Mata Luhan mengerjap-ngerjap sambil merasakan nyeri diwajah, ketika tangannya terlepas dari tubuhnya disaat itulah Minseok melepaskan diri. "Dasar gila" seru Minseok tepat diwajah. Sepertinya Luhan belum sadar dengan apa yang dilakukanya meski pukulan sudah mendarat diwajahnya dan Minseok yakin kalau setelah ini wajah dengan kulit putih itu akan membiru. Baru setelah Minseok menendang tulang keringnya Luhan memekik, "Ya"

Matanya menatap tajam pada Luhan sengit dan penuh kemarahan. "Kenapa kau menendangku, sudah untung aku menolongmu, kalau tidak kau sudah mati" Minseok memundurkan kepalanya, mengernyit tidak mengerti dengan perkataan Luhan, sudah mati?

"Kau mau melompat kesanakan? Mau bunuh diri hah?" wah Luhan membuat Minseok naik pitam, bunuh diri? Atas dasar apa lelaki ini menuduhnya mau bunuh diri, dia pikir Minseok ini anak kemarin sore yang sedang patah hati. "Dasar gila" desis Minseok lalu pergi, namun ketika dia baru satu langkah meninggalkan Luhan tangannya itu dicekal. "Apa kau bilang? Gila? Hey, tidak mau berterima kasih padaku? Aku sudah menolongmu, dan kau harus minta maaf, kau sudah menendang kakiku."

Minseok menarik nafas dalam-dalam, menenangkan perasaannya yang memburu dan mengendalikan rasa yang aneh ketika matanya bertemu tatap dengan Luhan, pipinya memanas ketika dia melihat bibir Luhan. "Kenapa diam? Ah, atau kau marah ya karena tadi kau mencoba bunuh diri lalu aku gagalkan?" Luhan melipat tangan didada, astaga mereka semakin menjadi pusat perhatian, Luhan berkata dengan begitu gamblang membuat Minseok semakin malu.

"Dasar gila, kau ini laki-laki atau bukan hah, kau menarik pria tulen yang sedang mengamati keadaan air lalu kau menciumnya tanpa permisi, hey cantik jika kau sedang frustasi ditinggal pacarmu kau salah orang menarikku, aku sudah punya isteri dan anak, meskipun kau secantik Marlin Monroe tapi maaf isteri ku tetap yang terbaik." Minseok dengan puas mengembangkan senyumnya ketika melihat wajah pias Luhan, matanya membola sempurna, rahangnya jatuh dengan tidak elegan, jangan lupakan asap yang keluar dari semua lubang diwajah lelaki itu, Luhan sudah membuatnya malu dengan menciumnya ditempat umum, maka dia juga harus malu. Tidak ada lelaki yang mau dianggap cantik dan Luhan sepertinya juga demikian.

"Apa kau bilang? Kau menyebutku apa?"

Luhan maju selangkah, membuat pria dihadapannya otomatis mundur, dia baru menyebutnya apa? Cantik, sialan sigendut ini. "Hey marmut, kutanya ya wanita mana yang mau menikah denganmu, astaga, tidak ada wanita yang mau menikah dengan lelaki bantet"

"Setidaknya aku benar-benar laki-laki, wajahku sangat tampan seperti member EXO, tidak cantik seperti artis wanita, hey kurasa kau sangat cocok menjadi anggota girl group"

"Kau cari mati ya? Dasar gendut, marmut pantat besar. Baozi haha."

"Kau mengejek aku ya? Dasar rusa cantik, kau ini laki-laki apa bukan, kenapa kau cantik seperti perempuan."

"Kau cari mati ya."

"Luhan cantik Luhan cantik wlee wlee."

"Dasar gendut, marmut pantat besar. Baozi."

Luhan dan Minseok menggenggam tangan masing-masing, saling menarik mencegah mereka jatuh terjungkang kebelakang, disaat yang sama ketika itu ingatan masalalu yang seperti dilengkapi, seperti seakan bukan lagi potongan dan ada bagian yang hilang, baik Minseok maupun Luhan lalu menatap satu sama lain, samar-samar bayangan seseorang muncul didepan mata. Keduanya mengerjap bersamaan, masih menatap satu sama lain. "Kau" ucap mereka bersamaan.

"Gege, jangan brisik, kalian berteriak-teriak mengganggu orang lain. Tempat ini bukan milik kalian" seorang bocah perempuan mengintrupsi memarahi Luhan dan Minseok yang sedang adu pandang dan terdiam. Tapi setelah mendengar perkataan anak itu mereka lalu menatap sekitar, banyak yang berbisik-bisik, menatap tidak suka dan ada juga yang terkekah-kekah geli melihat mereka.

"Jangan brisik, kalian sangat suka berteriak kalau sudah bersama, kalian pikir tempat ini milik kalian, serasa dunia milik berdua begitu?" dua bocah itu menatap gadis kecil lain yang baru saja memarahi mereka.

Lalu pandangan mereka mengedar keseluruh tempat, rupanya mereka sudah menjadi pusat perhatian, berbagai tatapan terarah pada mereka, rasanya seperti diintimidasi secara berjamaah.

Luhan dan Minseok lalu mengerjap lagi, apa itu? Hati masing-masing bertanya pada diri sendiri.

"Ah maafkan kami, dia sedang menyebalkan dan ah, sebenarnya dia selalu menyebalkan" Luhan menoleh kesamping, mengamati Minseok dengan pikirannya yang bercabang dan melayang, seperti menganang pada masalalu. Ingatan itu muncul kembali secara perlahan.

Bocah gembul yang tadi berdebat dengan Luhan membungkuk pada gadis kecil yang baru memarahi mereka. "Ah maafkan kami, kau tahukan kalau Luhan menyebalkan."

"Mingssok"

Minseok menoleh dengan perlahan.

"Kenapa kau selalu memanggilku Mingssok? Namaku Minseok"

"Ke-kenapa k-ka-kau s-selalu memanggilku Mi-Ming-Mingssok? Namaku Minseok" kata Minseok tergagap, ada apa ini? Tanya hati Minseok yang merasa aneh terhadap diri sendiri. Lidahnya kelu untuk bertanya tapi dia tetap mengeluarkan isi hatinya.

Luhan masih terdiam, tidak membalas pertanyaan Minseok namun tatapanya begitu tajam, seperti menusuk hingga relung hati sampai genggaman tangan mereka melemah, pandangannya berkabut, Luhan dan Minseok sama-sama meneteskan air mata tanpa alasan.

Dada sebelah kiri masing-masing terasa sakit, Luhan mundur secara definisif, langkah demi langkah dia semakin jauh sampai kemudian dia berbalik, secepat yang dia bisa dia pergi dari sana, meninggalkan Minseok yang masih terpaku disana dengan air mata semakin deras jatuhnya.

Lu-ge

"Luhan"

Ada sakit yang tidak bisa dijelaskan ketika dia melihat Luhan pergi menjauhinya. Menatapnya dengan tatapan takut seakan Minseok bisa menghancurkannya dengan matanya. Disini, disudut hatinya yang paling dalam seperti semua kesakitan membuncah seperti lahar, membakar semua rongga dalam dadanya.

Dari sekian banyak orang yang meninggalkan aku, tidak akan masalah jika mereka pergi, tapi bisakah kau tidak?

Maksudmu?

Kau jangan pergi, jangan pernah tinggalkan aku.

Aku tidak akan meninggalkanmu, kita akan bersama selamanya.

Selamanya?

Selamanya.

"Ige mwoya?" Minseok mengeluh sakit, dadanya benar-benar nyeri luar biasa. Apa ini? Kesakitan apa? Ingatan apa? Dan siapa yang berjanji padanya.

"Laoshi, kau baik-baik saja?" Minseok saat ini sedang berada di akademi beladiri, dia sedang mengajar. Seperti akhir pekan biasanya, pekerjaannya adalah guru beladiri, taekwondo, kendo, wuhsu dan anggar. Dari empat olahraga beladiri, dia mengajar per-empat jam dalam satu beladiri.

"Aku baik-baik saja, Zitao." Akunya.

"Tapi wajahmu pucat, kau berkeringat banyak, atau ini air mata. Laoshi aku panggilkan tim kesehatan ya?"

"Aku baik-baik saja Zitao, aku akan kembali ke tempat latihan"

"Tapi-

Tidak mpedulikan kecemasan Zitao – salah satu murid berbakat di akademi yang mengkhawatirkannya, dia melenggang pergi, menghapus air matanya yang masih saja mengalir deras, Minseok tidak tahu kenapa. Dia hanya merasa sakit tapi tidak bisa menjelaskan rasa sakit itu kenapa, rasanya seperti berkalilipat dari kesakitan biasanya.

Seperti inikah cerita hidup yang tertulis dalam buku kehidupan Lee Minseok? Menyedihkan sekali.

"Baba pernah menjadi seorang seorang kepala pelatihan militer di Korea, itu ketika kau masih kecil" Hangeng menatap Luhan yang sedang mendengarkan dengan serius. "Kau, kenapa tiba-tiba ingin tahu tentang Korea?" Hangeng bertanya, bukannya dia enggan bercerita, hanya saja Luhan pernah mengatakan kalau dia tidak mau mendengar semua hal yang menyangkut Negara itu.

Negara yang membuatnya mengalami kecelakaan dan trauma, bahkan saat sudah kembali ke China, Luhan sempat mogok sekolah, entah kenapa tapi Luhan selalu berkata untuk seseorang pergi, Hangeng membawa kedokter dan mereka menyimpulkan kalau Luhan trauma dan mengalami gangguan kepercayaan diri, butuh waktu cukup lama untuk Luhan kembali seperti semula, maka dari itu ketika dia tiba-tiba bertanya tentang masa kecil terlebih apakah dia pernah tinggal di Korea, Hanggeng bingung sedikit takut.

"Aku perlahan bisa melihat seseorang, aku hanya ingin memastikan."

"Itu sudah lama sekali, kau ingat kenapa kau pernah homeschooling?" sebentar lelaki itu mengingat, kemudian dia mengangguk, dia pernah home schooling dan menjalani sekolah dirumah sekitar tiga tahun kalau tidak salah sebelum akhirnya memasuki sekolah umum.

"Ketika baba menjadi pelatih militer di Korea, kau ikut bersama baba, kita tinggal disana selama dua tahun dan sekolah. Sekolahmu adalah sekolah khusus anak laki-laki dan sekolahan itu memiliki asrama. Baba tidak tahu bagaimana sekolahmu karena kau tidak banyak bercerita, menurut para guru tidak ada yang janggal atau aneh terjadi sampai kau mengalami kecelakaan, kau dan seorang bocah terjatuh dari lantai dua, menurut saksi mata kalian bertengkar, anak itu mendorongmu namun kau menarik tangannya sehingga dia ikut terjatuh."

Jadi dia pernah tinggal di Korea? Sekolah disana dan disana juga dia kehilangan memorinya, jika dari yang dia dengar dari ayahnya, Luhan terjatuh bersama seorang anak, anak itu tentu laki-laki karena Luhan sekolah disekolahan khusus laki-laki, sistem sekolah Korea memang begitu, meskipun ada yang umum namun pembagian perempuan dan laki-laki juga ada.

Kalian bertengkar, maksudnya Luhan dan anak itu? Tapi menurut bayangan yang sering muncul dalam kepalanya, Luhan dan anak itu tampak akrab, itu seperti kenangan manis, mungkinkah salah satu dari mereka membuat kesalahan saat sebelum kecelakaan?

Tapi anak dalam bayangannya adalah anak laki-laki yang bahkan menangis ketika dikirimi paket natal dari seseorang, anak itu lemah dan mudah menangis, untuk melakukan hal kriminal dengan mendorong temannya dari lantai dua sepertinya tidak mungkin.

Ketukan dari luar pintu membuat lamunan Luhan pecah, dia menoleh lalu menurunkan kaca mobil, Cho Youngho. "Youngho?"

"Luhan-ssi"

"Anda berada disini? Menjemput seseorang?" Youngho bertanya. Saat ini Luhan berada diakademi, akademi tempat Sehun berlatih wushu, awalnya dia berniat menemui Henry untuk berkonsultasi tapi ayahnya mengatakan kalau sebaiknya minggu depan saja, supaya sang ayah bisa ikut dan memberikan sedikit keterangan, keterangan ayahnya memang sangat dibutuhkan karena Luhan tidak mengingat. Merasa mungkin itu lebih baik makanya dia mengiyakan, dan memilih menjemput Sehun seperti perintah ayahnya, sesuatu yang seharusnya orangtua itu tahu, kalau Luhan malas berurusan dengan Sehun.

Anak itu menyebalkan, menyebalkan dunia akhirat, selepas latihan biasanya dia akan merengek minta ini itu dan menghabiskan banyak pengeluaran, tapi kalau tidak dituruti dia akan marah, mogok bicara dan mogok makan, bocah sekali. Dia sih tidak peduli, tapi ayahnya? Jangan ditanya, kasih sayang Hanggeng pada Sehun sungguh luar biasa, kadang membuat Luhan bertanya-tanya, yang anak lelaki itu sebenarnya Luhan atau Sehun? Huh.

"Ya, menjemput" sahutnya malas, malas menyebut nama Sehun sehingga dia hanya menyahut sekenanya.

"Menjemput?" dan sialnya Youngho sangat kepo. "Kau sendiri sedang apa? Kau belajar atau?" maka dia memutuskan mengalihkan, bertanya balik. "Aku menjemput temanku"

Luhan mengangguk paham, kalau dilihat Youngho sudah memiliki bentuk tubuh yang bagus, dia pasti olahraga secara teratur, tidak seperti Sehun yang krempeng, yang olahraga seminggu hanya dua kali, diakhir pekan dan itu tidak dilakukan dengan benar, hah. Sehun ini nantinya mau jadi apa ya.

Aku bisa menjadi model, aku tampan dan tinggi. Sehun tidak punya masa depan. Itu yang akan Luhan katakan jika Sehun menjawab pertanyaannya demikian.

"Mau minum kopi? Katanya ada kafetaria didalam, sambil menunggu aku ingin mengobrol sesuatu."

Luhan menimbang sebentar, tidak berapa lama dia mengangguk. Mungkin ada baiknya dia minum kopi, menyegarkan pikiran dan mengalihkan sebentar pikirannya pada sesuatu yang mungkin ada baiknya dilupakan atau tidak seharusnya dilupakan.

"Boleh saja."

"Hyung tidak sehat ya?" Sehun berjalan menyamai langkah Minseok, mereka keluar bersama, jam mengajar Minseok sudah selesai begitupun jam latihan Sehun. Mereka bertemu dikelas terakhir karena jam ajar terakhir Minseok adalah wushu.

"Tidak, aku baik-baik saja." Minseok memaksakan senyumnya, dia tidak bohong, tubuhnya memang baik, ia hanya merasa ada masalah dengan hatinya, bukan sakit hati semacam ditinggal kekasih atau sejenisnya, ini lebih mendalam, sakitnya teramat namun tidak bisa dijelaskan kenapa atau apa penyebabnya.

Sejak Luhan meninggalkannya tadi pagi dengan tatapan yang sulit diartikan, sejak saat itu rasa sakitnya datang, dan Minseok jelas menolak itu adalah alasannya, demi tuhan apa yang membuatnya berprasangka demikian, ditinggalkan dengan tatapan sulit diartikan sudah biasa terjadi padanya lagipula.

"Tapi kau seperti tidak bertenaga, matamu sembab dan wajahmu merah." Reflek, Minseok menyentuh pipinya, sedikit terasa panas.

"Sehun" baru Minseok akan menjawab, terdengar suara memanggil Sehun, dari koridor yang akan membawa orang menuju kafetaria, dua orang beda tinggi berdiri, Luhan dan Youngho.

Mata Minseok menatap bergantian, perasaannya saja atau mereka berdua memang menatapnya, hanya menatapnya padahal tadi mereka memanggil Sehun. "Luhan hyung, Johnny" Minseok menoleh pada Sehun, Sehun mengenal Youngho? Johnny adalah sapaan akrab bagi Youngho karena anak itu selama ini menetap di luar negeri, sementara jika ia menggunakan nama Korea-nya itu jika dia dalam sebuah acara formal.

"Kalian datang? Bersama? Saling mengenal? Bagaimana caranya?" Sehun bertanya secara beruntun, sambil jarinya menunjuk dua lelaki yang kini berada dihadapan mereka.

"Bukankah kau Kim Xiumin? Staff SM Group" Minseok mencoba berfikir positif, nada suara dalam pertanyaan Youngho terdengar mencemooh. "Ya! Kau mengabaikan aku" protes Sehun namun tidak digubris oleh Youngho.

"Iya, itu aku, selamat sore." Minseok menyahut sopan. Dalam pikirannya dia harus segera pergi. Berada diantara Luhan dan Youngho tidak akan baik, Luhan menatapnya dengan tajam, Youngho menatapnya merendahkan, jelas dia tidak bisa berada diantara mereka.

"Kau" Baru Minseok akan pergi, Youngho berkata lagi, mengamati Minseok dari ujung kaki hingga kepala. "Mengajar disini?"

"Iya, saya guru disini"

"Ada apa dengan situasi ini, berhenti berbicara dengan nada menakutkan seperti itu, apa para pekerja kantoran sekaku ini kalau bertemu teman diluar? Membosankan sekali" Sehun berdecak, mencoba mencairkan suasana. Dia merasa, dalam nada bicara Youngho ada nada ingin menjatuhkan, sungguh seperti bukan anak itu saja.

"Sehun"

"Nuna"

Dan perhatiannya terpecah, oleh panggilan bernada ceria oleh seseorang yang baru saja keluar dari salah satu ruangan, sepertinya baru selesai. "Nuna?" ah sialan. Sehun melirik Yongho dan Luhan yang menyeru bersama, kening mereka berkertu saat ini.

"Kau sudah selesai, ah ini teman-temanmu? Halo aku Zitao" Zitao membungkukan badanya, mencoba gaya Korea yang selalu Sehun lakukan jika bertemu dengan Minseok.

"Kau laki-laki kan?" Luhan bertanya dengan keningnya yang masih berkerut. Dan Sehun harap-harap cemas dengan reaksi Zitao, apa yang akan Luhan lakukan, dari tadi diam, kenapa sekarang tiba-tiba buka suara.

"Tentu saja, memangnya aku terlihat seperti perempuan?"

"Lalu kenapa Sehun memanggilmu nuna?"

"Nuna? Ah, Sehun bilang itu artinya kakak, aku satu tahun lebih tua darinya."

Rahang Luhan dan Youngho jatuh seketika, sementara Minseok hanya terkekah. Dia sudah tahu masalahnya, awalnya dia juga bereaksi seperti Luhan dan Youngho namun mendengar cerita Sehun, dia hanya mengiyakan, dan tidak banyak protes. Minseok tidak suka ikut campur urusan orang lain.

"Memang-

"Hyung" seru Sehun untuk menghentikan perkataan Luhan tapi sayangnya Yongho malah melanjutkan. "Tapi nuna itu artinya kakak perempuan"

Sehun mendelik pada Youngho, perlahan dia berbalik arah, menatap lagi pada Zitao yang wajahnya sudah memerah. "Sehun menghinaku ya? Kau jahat sekali."

"Bukan begitu, nu-ah Zitao" terlambat, sipanda sudah pergi, berlari meninggalkan keempat orang itu.

"Kau tidak menyukainya kan Hun?"

"Maksudmu?" Sehun membalikan badan, menatap Luhan dan Yongho dengan kesal, sialan dua orang ini, Luhan malah sekarang tampak santai-santai saja dan menunggu jawaban Sehun.

"Dengan kau memanggilnya nuna, kau tidak bermaksud menganggapnya perempuan karena kau menyukainya kan?"

Sehun mengerjap, menyukai Zitao? Mereka laki-laki. Sehun memang menyukai Zitao, tapi makna sukanya dan alasan dia memanggil Zitao dengan sebutan nuna, apakah rasa suka yang sama seperti yang dimaksud Youngho?

"Kau tidak bermaksud menjadi gay dan mencemarkan nama baik keluargamu kan"

Entah kenapa perkataan itu terasa seperti diarahkan padanya, Minseok menoleh perlahan pada Youngho yang sedang menatap Sehun penuh introgasi. "Hubungan sejenis itu menjijikan Hun, bisa membuatmu menjadi pengemis cinta apalagi kalau kau punya anak"

Senyum diwajah Minseok luruh, nada sinis, mencemooh, jijik dan sejenisnya tertuang dalam perkataan Youngho, kenapa terasa seperti seakan Youngho memang menunjukan kalimat itu untuknya.

"Bodoh, laki-laki mana bisa hamil."

"Mungkin saja, iyakan Xiumin-ssi" kepala Youngho berputar dan tatapannya jatuh pada manik mata Minseok.

Ia mengerjap ketika namanya dipanggil, ada sringai dimata Youngho yang ia lihat. Sinar mata itu persisi sekali milik kakek Cho, ayahnya Kyuhyun. Darah mendesir diperutnya, mendadak dia kelu. Menjijikan? Anak dari pasangan sejenis adalah menjijikan?

"Ya, anak dari pasangan sejenis itu menjijikan"

TBC

Sebelumnya mau ngucapin, Takkoballahumina wa mingkum, Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin. Maaf sekali updatenya sangat lama. Aku mengalami block dibeberapa bagian dan hampir semua fanfic. Untungnya sekarang udah sembuh.

Thanks to*

Buat semua yang masih nunggu, yang udah review, follow dan favorite. Tapi maaf ya aku nggak bisa bales review. Tapi aku baca kok tenang aja. Dan buat yang PM, ini sudah aku update.