Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia.
.
.
Lima tahun kemudian setelah Minseok dilahirkan dan tumbuh. Ditahun kelima saat itu Minseok kecil berjalan seorang diri dikoridor salah satu rumah sakit bergengsi di ibukota, dia baru dari kafetaria rumah sakit ingin membeli minuman dingin dan diberikan kepada Taemin, adiknya menangis keras sedari tadi karena ibunya sedang ada diruang oprasi, hari ini bibi Joohyun akan melahirkan, anak kedua sekaligus adik Taemin. Semua orang panik. Kekenya sibuk menenangkan Taemin karena Jinki sedang menemani isterinya, lelaki itu kewalahan karena Taemin terus memanggil-manggil ibunya.
Minseok kecil ingat, ketika Taemin menangis dan memanggil ibunya sewaktu enggan sekolah, bibi Joohyun memberikannya minuman dingin yang manis, karena itu dia berinisiatif membelikannya, untungnya kafetaria dekat dengan ruang oprasi, maka tanpa repot-repot dia pergi sendiri, dan untungnya dia juga membawa uang, sebenarnya itu bukan uang, tapi plastik yang berharga.
Sambil berjalan Minseok kecil sambil bersenandung, menyanyikan sekaligus menghafalkan lagu yang tadi pagi diajarkan guru diTKnya, sedang asik dengan dunianya, tanpa sengaja tubuh Minseok kecil yang gendut menabrak kaki seseorang, seorang lelaki yang kira-kira seumuran kakeknya, semua yang dibawa Minseok jatuh, menggelinding dan pecah, Minseok memandangi minuman dingin yang manis itu dengan tatapan kaget bercampur sedih. "Itu untuk Taemin" gumamnya.
"Oh astaga" silelaki itu terlonjak, dengan cepat ia berjongkok memunguti dua minuman lain yang masih utuh, "Ini milikmu nak, kau tidak apa"
Dia menyerahkannya pada Minseok, sikecil tersenyum senang, ah rupanya masih ada yang terselamatkan, dia bisa menenangkan Taemin dan membagi yang satunya dengan Luna, ia bisa membeli lagi nanti.
Tapi ketika Minseok siap menerima, lelaki itu malah kembali menjatuhkan. Senyum Minseok lepas kemudian. "Ahjussi" lirih Minseok bingung, kenapa lelaki itu kemudian menjatuhkan lagi padahal tadi dia terburu mengambilkan untuknya.
"Minseok Lee?"
"Ne"
Minseok tertegun ketika lelaki itu mengetahui namanya, dari mana dia tahu?
"Apa kau cucu Lee Sooman?" oh, jadi dia mengenal kakeknya, dia teman kakeknya, senyum Minseok mengembang lagi, dengan bangga dia menjawab. "Ne, dia harabeojiku" menyatakan kalau dia adalah cucu Lee Sooman dan dia bahagia dengan kenyataan tersebut, tapi sungguh tanpa di duga, kebencian yang tersirat dari mata itu tampak jelas kemudian, mata silelaki menyala marah, minuman dingin milik Minseok yang tinggal satu dibanting keras, menimbulkan pekikan dari orang yang melihat, Minseok kecil membringsut takut dia siap menangis.
"Jadi kau anak itu? Anak menjijikan yang menyusahkan keluargaku?"
"Ahjussi"
"Tidak, jangan panggil aku dan jangan bicara denganku. Aku jijik dengan suaramu, kau sama saja dengan keluargamu yang lain, menyingkir dari hadapanku sekarang, pergi sana sebelum aku mematahkan lehermu"
Tentu saja, bagi seorang anak yang tidak tahu apa-apa kemudian dikatai sebegitu kejamnya, Minseok hanya bisa menangis, dia menangis keras tapi tidak tahu harus memanggil siapa. Kakeknya melarangnya menangis, katanya dia laki-laki dan tidak boleh menjadi cengeng, pamannya? Pamannya sedang bersama bibinya, pada akhirnya Minseok kecil menangis tanpa tahu harus meminta pertolongan, sampai seorang wanita menarik silelaki menjauh dari Minseok karena menjadi pusat perhatian.
…
LuMin – XiuHan
Yaoi – Mpreg
…
Minseok menghela nafas panjang, pertanyaan Youngho mengingatkannya pada kejadian itu. Menjijikan?
"Ya, anak dari pasangan sejenis itu menjijikan" sahutnya pada akhirnya. Sejak kecil Minseok memang sudah terdoktrin demikian, kekeknya memang tidak mengatakan sekejam kakek Cho, namun sikap dan tindakannya mengatakan hal yang sama, Minseok sendiri terkadang merasa jijik pada dirinya sendiri, dia membuat cinta ayah dan ibunya dipandang sebelah mata, dihina dan membuat ibunya kehilangan cinta keluarganya, dia adalah pembawa sial, sedikit kebahagiannya adalah, ayahnya memiliki kehidupan yang sempurna, rasa syukurnya tidak pernah lupa ia ucapkan untuk itu.
"Hey, itu tidak mungkin hyung. Lelaki-
"Kau berkata demikan? Kau tidak menerima cinta sejenis seharusnya jangan menghakimi. Kau terdengar seperti seorang rasis" ketika Sehun akan berbicara, Luhan menyela. Matanya menyipit ketika menatap Minseok, terlihat tidak terima dengan perkataan lelaki terpendek diantara mereka berempat.
"Kau tahu, dengan kau berkata demikian kaulah yang menjijikan."
Ada senyum kemenangan dimata Luhan, itu senyum karena melihat Minseok seperti ditampar kenyataan, tanpa Luhan ketahui dia menyakiti Minseok lebih semakin dalam. Lelaki itu berdeham, menegakan tubunya lalu mengangkat dagu, dia menatap Luhan dengan matanya yang tiba-tiba berkaca.
"Ya, aku memang menjijikan."
Minseok berbalik setelah mengatakan itu, meninggalkan ketiga orang yang menatapnya dengan pandangan berbeda.
Sehun tersadar lebih dahulu, apa ini? Apa yang baru saja terjadi? Kenapa situasinya menjadi seperti ini.
"Hyung ini bicara apa sih?" Sehun memandang tidak suka pada Luhan, Luhan memang menyebalkan tapi tidak pernah ia menyangka kalau mulutnya seperti tidak dididik. "Dan kau Youngho, aku tidak tahu kenapa nada bicaramu menjadi seperti itu dan apa maksudmu mengatakan aku menyukai Zitao, tantang orientasi sex ku kau tidak perlu tahu, yang menilai nama baik keluargaku bukan kau jadi jangan bicara sembarangan."
"Sehun-
"Hyung, untuk ukuran seseorang yang baru mengenal, kau terlalu lancang berkata demikian, kau tidak tahu Minseok hyung, dia punya hati yang bisa merasakan. Menyebutnya menjijikan? Kau pikir dia bangkai binatang?" tatapan Sehun berpindah pada Luhan, menyela lelaki itu yang siap mengeluarkan suaranya.
Kemudian dia berbalik, berjalan lebih cepat untuk mengejar Minseok, dia tidak bodoh untuk melihat kekagetan dan rasa sakit hati yang menyala dimata Minseok. Lelaki itu pasti sakit hati dengan perkataan Luhan.
…
Koridor akademi terasa begitu panjang bagi Minseok, sepanjang dia melangkah air dari matanya tidak pernah berhenti dari matanya. Dia mengakui kalau yang dikatakan Luhan adalah benar bahkan dirinya mengakui sejak kecil, sejak kebenaran bahwa ibunya adalah seorang lelaki dan dia yang membuat ibunya meninggal Minseok sudah menganggap dirinya menjijikan.
Seandainya kau tidak ada, Sungmin pasti masih hidup dan memiliki keluarga yang normal, Sungmin bisa membuat Kyuhyun menyesal, tapi kau, bayi menjijikan yang tidak diharapkan lahir, membunuh Sungmin dan membuat keluarga Lee tercemar, memiliki anak lelaki yang aneh yang bisa melahirkan.
Tapi kenapa ketika Luhan yang mengatakannya rasanya berbeda, sakitnya lebih menusuk nyeri didadanya seperti seseorang memukul langsung.
"Kau berkata demikan? Kau tidak menerima cinta sejenis seharusnya jangan menghakimi. Kau terdengar seperti seorang rasis"
"Kau tahu, dengan kau berkata demikian kaulah yang menjijikan."
Dia bukannya rasis, dia hanya … menjawab pertanyaan Youngho, dan memang menjijikan, dirinya menjijikan, dimatanya dan dimata kakek Lee dan kakek Cho.
Bahkan Kyuhyun – ayah kandungnya sendiri.
Minseok menghapus air matanya yang mengalir semakin deras, sakit sekali rasanya. Untuk ukuran seorang yang baru mengenal Minseok merasa reaksinya begitu berlebihan. Minseok berlebihan? Tentu.
Disaat dia tengah meratap dari dalam sakunya terasa bergetar, ponselnya bergetar kemudian berbunyi, dia segera merogohnya. Ah dari kakeknya, tumben. Minseok tentu saja mengembangkan senyumnya, kakeknya menghubunginya dihari libur.
"Yeoboseyo" seru Minseok kelewat gembira, tangisnya hilang seakan dia tidak pernah menitihkan airmata. "Eoh harabeoji"
[Sedang apa Minseok?] Minseok tidak salah dengarkan? Kakeknya? Lelaki itu baru bertanya dia sedang apa? Sungguh? "Baru selesai mengajar" Ada jeda cukup lama, Minseok membayangkan pasti kakeknya mengerutkan keningnya, memikirkan mengajar apa.
[Mengajar? Mengajar apa?]
"Ilmu bela diri, aku menjadi salah satu tenaga pendidik disebuah akademi, untuk mengisiwaktu luangku diakhir pekan, jadi dalam seminggu aku mengajar dua kali."
[Oh] Ah, Minseok sedikit kecewa dengan tanggapan kakenya, tapi ia segera menghapuskan kekecewaan itu, karena kakeknya menanyakan ia sedang apa itu sudah membahagiakan, artinya dia perhatian. Disebrang sana, Minseok mendengar kakeknya berdeham kemudian dia memanggilnya.
[Minseok]
"Ne"
[Apa kau sedang sibuk?] sibuk? "Tidak" apakah kakeknya akan berbicara sesuatu? Mengobrol dengannya?
[Kalau begitu datanglah ke bandara sekarang, aku butuh kau untuk disana] Bandara? "Harabeoji datang ke Beijing?"
[Tidak, bukan aku. Tapi temanmu, aku akan mengirimkan rincian mengenai dia kepadamu lewat pesan]
Senyuman Minseok hilang kemudian "Apa ini untuk pekerjaan?" tolong katakan tidak.
[Hm dia pimpinan direksi untuk kerja sama tiga perusahaan, dia orang China jadi kau hanya perlu menjemputnya dan mengantarnya pada alamat yang akan aku kirimkan] Minseok menatapi kuku jarinya sambil menggumam tidak jelas, matanya berkabut lagi dan tidak menunggu waktu lama airnya mengalir seperti air terjun.
[Kau mengatakan sesuatu Minseok?]
"Ani, aku akan segera kesana."
[Kalau begitu aku akan kirimkan mengenai dia padamu sekarang, kututup telponnya dulu]
Bahkan sebelum Minseok menjawab, sambungan telepon sudah mati, jadi yang tadi itu basa-basi. Hah, kenapa sakitnya datang lagi, tadi dia merasa sangat bahagia kemudian seperti membalikan telapak tangan, sakitnya muncul lagi, lebih dalam dan lebih perih.
Bukan saatnya mengasihani diri Minseok, sekarang waktunya bekerja. Hanya dengan bekerja dia akan melupakan kesedihan. Seumur hidupnya mungkin dia harus bekerja supaya dia tidak mengingat kesedihan.
…
Sehun pulang sendirian, dengan wajah masam juga kesal, apa dia baru bertengkar Luhan? Ah, aneh sekali jika mereka marahan sampai membuat wajah Sehun semuram ini, mereka memang biasa bertengkar dan kemudian kembali lagi seperti tidak pernah terjadi pertengkaran. Tapi sekarang?
"Kau sendiri? Dimana Luhan?" Hangeng menengok kebelakang, meski ia yakin kalau anaknya tidak ada. "Molla" Eh, jadi anak itu benar-benar marah? "Kalian bertengkar? Lalu kau naik apa pulang?"
"Aku tidak mau menjawab pertanyaan siapapun aku sedang marah."
"Ya sudah, biasa saja dong"
Eh, Hangeng ikutan kesal. Dia kan bertanya baik-baik kenapa dia jadi marah-marah padanya? Dia punya anak kepribadiannya demikian, terlalu fokus dan sangat posesif, sementara keponakan? Dia memiliki kepribadian yang meletus-letus, tapi sangat manja. Yeah sangat manja, mungkin kalau hanya melihat sekilas semua orang akan mengecapnya sebagai ice prince, tapi kalau yang sudah mengenalnya.
Sehun itu gila luar dalam, sumpah. Kata Luhan. Kadang dia mengakui, karena Sehun dan teman-temannya adalah biang masalah. "Kau dimana Luhan?"
[…]
"Luhan"
[Ah baba, nanti aku telepon lagi]
Ya ampun, belum juga bicara banyak, sedang dimana coba, sampai panggilan ayahnya sendiri dimatikan begitu saja.
…
Untuk ukuran seseorang yang baru mengenal kau terlalu lancang berkata demikian.
Untuk seseorang yang baru mengenal kau terlalu lancang.
Untuk ukuran seseoang yang baru mengenal.
Untuk ukuran seseorang –
Yang baru mengenal?
Baru mengenal?
Argh. Luhan sungguh frustasi. Ya dia memang baru mengenal, mengenal sipantat besar itu tapi kenapa dia merasa marah dikatai demikian. Baru mengenal?
Kita baru mengenal, kau akan menjauhiku kalau kau tahu bagaimana aku. Sebelumnya aku tidak punya teman.
Kita sudah berteman sejak aku menjadi murid pindahan Ming, kau berkata demikian karena aku ini bukan orang Korea? Kau rasis ….
Ming? Nama itu muncul lagi, kenapa ingatan itu hanya sepotong demi sepotong? Ming? Siapa Ming ini? Ming – Ming – Ming. Ming-ssok?
Mingssok? Minseok?
Mungkinkah? Apa memang mungkin Minseok adalah temannya ketika sekolah dulu, teman yang jatuh bersamanya dari lantai dua gedung sekolah?
Aku tidak rasis.
Kau bilang saja kalau kau ingin menjauhiku, kau ingin punya teman yang lain selain aku kan?
Tidak, aku tidak masalah jika seluruh dunia ini menjauhiku, asalkan kau Luhan, jangan.
"Argh apa ini?"
Minum obatnya jika kau merasakan pusing, obat ini akan meredakan pusingmu. Tidak, dia tidak boleh minum obat hari ini, kalau dia meminumnya dia akan menghentikan ingatan yang sedang muncul dan itu akan memperlambat dia mengingat. Tapi sakit kepalanya sungguh tidak tertahankan, jika tidak minum dia bisa pingsan disini, tidak mungkin dia pingsan disini.
…
Minseok duduk pada kursi tunggu dengan sabar, namanya Zhang Yixing. Pemuda mengenakan stelan jas formal. Dia seorang pipminan direktur. Dari profil yang ia baca atas kiriman kakeknya, Minseok ciut nyali. Ah dia bahkan lebih muda darinya, tapi dia sudah menunjukan kewibawaan yang menakjubkan, dari prestasi yang telah buat, Minseok rasa ia tahu kenapa pria bernama Zhang Yixing ini yang dipilih kakeknya menjadi pimpinan SM di China. Ah dia bahkan belum ada apa-apanya.
Sejak dulu, sejak dia lulus kuliah dan bekerja dia tidak pernah naik jabatan, dia tidak pernah dilirik untuk mendapatkan promosi jabatan seperti teman-temannya. Sejak jaman kuliah dia memang tidak memiliki minat terhadap sekolah ekonomi, dia suka semua hal yang berbau lapangan, kerja diluar dan bukannya dibalik meja, tapi kakeknya sangat senang ketika Taemin mengatakan kalau dia ingin sekolah bisnis.
"Kau bisa masuk sekolah bisnis saat kuliah nanti. Harabeoji akan memasukanmu ke universitas terbaik agar bisa mendidikmu menjadi pebisnis yang hebat"
"Jinja?"
"Tentu saja"
Dan sejak saat itu Minseok belajar dengan keras untuk menembus unversitas terbaik dan mengambil sekolah bisnis, dia berhasil tapi sayang, rupanya kakeknya tidak mengizinkan dia masuk pada jurusan yang sama seperti Taemin.
"Aku sudah menyiapkan pendidikan untukmu. Kau akan masuk jurusan ekonomi. Jurusan itu sudah aku siapkan untuk Taemin"
"Tapi harabeoji, aku dapat beasiswa. Aku tidak masalah satu jurusan dengan Taemin aku-
"Kau bukan orang miskin Minseok, lupakan beasiswa itu. kau tidak keberatan satu jurusan dengan Taemin tapi-
"Harabeoji sangat keberatan kalau aku ada diantara semua keluarga Lee, aku pasti pembawa sial sekali" Ia membuang nafasnya berlebihan, mengapa? Minseok suka bertanya-tanya. Mengapa ia dikucilkan? Hanya karena dia anak aneh? Yang laihir dari seorang lelaki? Toh meski begitu dia tetaplah keluarga Lee kan?
Darah Lee mengalir dalam tubuhnya. Bukankah dulu katanya Lee Sungmin adalah anak kesayangan? Bukannya seharusnya mereka menyayangi Minseok? Tapi kenapa sebaliknya? Dia dikucilkan, dianggap seperti bakteri yang kotor yang harus dijauhkan sejauh mungkin, kenapa? Karena kau yang membuat Sungmin meninggal. Ah benar juga, yang mereka sayangi adalah Lee Sungmin dan yang mereka harapkan adalah Lee Sungmin dan karena demi menyelamatkan Minseok , Sungmin menukarnya dengan nyawa. Jadi sudah dibiarkan hidup seharusnya kau bersyukur Minseok, setelah diberi hati jangan meminta jantung.
Lamunannya pecah, seiring keributan yang terjadi dibelakngnya. Seseorang jatuh pingsan. Siapa itu? Rasa penasarannya tersentuh. Akan sangat tidak manusiawi kalau dia hanya diam dan duduk padahal orang-orang mengerubunginya, Minseok bukan orang yang tidak memiliki kepedulian.
"Luhan" pekiknya kaget ketika berhasil melihat siapa yang terbaring dilantai, seorang pria yang sempat memenuhi otaknya dan membuatnya menangis keras. Pergi Minseok, abaikan dia. Dia telah menyakiti hatimu. "Kau mengenalnya?" seseorang langsung bertanya, menatap Minseok yang tadi memekik keras, ah tidak mungkin kalau dia bilang tidak kenal, dia sudah memekik penuh kekagetan tadi, bagaimana ini.
"Dia-kami, mm-
"Ah kau harus membawanya kedokter, jangan banyak berfikir"
…
Ketika Luhan terbangun hari itu, dia sudah terbaring dirumah sakit dengan menggunakan piama pasien. Hal terakhir yang dia ingat, Minseok. Sedang duduk menunggu seseorang dibandara, dan sekarang yang ia mendengar suaranya sedang menerima telepon, dibalkon yang ada dikamarnya, suara itu terdengar sangat jelas.
[Ne harabeoji, mianhamnida. Aku- aku akan minta maaf besok… ah malam ini? Aku akan mengusahakannya harabeoji. … bukan, aku hanya berfikir… Ah iya harabeoji baiklah. Aku akan segera kesana sekarang]
Luhan pura-pura tidur lagi ketika Minseok berjalan kearahnya, dia tidak mau Minseok merasa canggung karena dia mendengar pembicaraannya tadi.
"Jahat sekali" gumamnya kecil. "Aku harus pergi, tapi aku akan seperti penjahat meninggalkanmu disini sendirian, apa yang harus aku lakukan?"
Apakah Luhan harus membuka matanya? Mengatakan pada Minseok ia bebas pergi? Ia tidak masalah sendirian.
"Aku banyak membuat kesalahan hari ini" Minseok menghela nafas pelan. "Tadinya aku berniat langsung pulang dan istirahat, tapi tidak bisa. Kakekku menghubungiku dan memintaku menjemput seseorang, seseorang dengan jabatan penting dikantor, orang-orang seperti dia memiliki tempat khusus dihati kakekku, dan aku mau tidak mau harus melakukannya. Aku kebandara tapi berakhir disini"
Apa Minseok menyesal telah menolongnya?
"Aku tidak menyesal menolongmu, sungguh dan maafkan aku menangis disini. Aku cengeng, lelaki cengeng menambah daftar yang membuat aku menjijikan. Aku tidak tahu Luhan, tapi saat kau menatapku dan mengatai aku menjijikan hatiku sakit luarbiasa, meski aku sadari memang aku demikian, kau salah paham"
Apa maksudnya?
"Kau salah paham jika menganggap aku rasis. Aku tidak menganggap pasangan sejenis menjijikan, tidak sama sekali, kenapa? Karena aku ayah dan ibuku juga demikian. Mereka sejenis dan dapat memiliki aku.
Luhan terbatuk saat itu juga, mengagetkan Minseok yang tadinya menunduk, Luhan tidak bisa berpura-pura tidur lagi, namun sebisa mungkin dia harus terlihat seperti dia baru bangun, seperti dia baru sadar dan dia harus berpura-pura lemah.
"Direktur anda sadar?" Minseok dengan cepat menghapus air matanya, menekan tombol merah ditepi ranjang. "Mingseok" dan Luhan berpura-pura kaget mendengar suara Minseok. Dia harus berpura-pura, supaya Minseok tidak berfikir kalau dia mendengar apa yang Minseok katakan.
"Tadi anda pingsan dibandara. Saya membawa kemari, tapi maaf saya belum menghubungi keluarga anda, saya tidak menemukan ponsel anda dimana-mana"
Ah dia ingat, karena takut direcoki ayahnya ketika sedang menjadi stalker Minseok, maka ia meninggalkannya dimobil. Tidak berapa lama dokter muncul dan memeriksa Luhan, tidak ada yang mengkhawatirkan dan besok dia boleh langsung pulang.
"Anda bisa menghubungi keluarga anda" Minseok mengulurkan ponselnya, Luhan hanya menatap sebentar sebelum ia memilih menarik pergelangan tangan Minseok. "Bisakah kau temani aku?"
"Saya harus pergi"
"Pergilah dan bisakah kau kembali setelah urusanmu selesai?"
…
Pergilah dan bisakah kau kembali setelah urusanmu selesai. Minseok terus berfikir apa maksud dari perkataan Luhan itu, jadi lelaki itu menginginkannya datang lagi? Untuk apa? Kenapa? Bukankah dia menyebutnya menjijikan, dia tampak tidak suka padanya. Lalu kenapa dia menyuruhnya datang lagi.
Dan kenapa dia menurutinya? Astaga ada apa ini? Bukankah tadi siang dia merasa sangat membenci Luhan, sakit hati.
"Permisi" lalu kenapa dia kembali? Dia sudah dari tempat Zhang Yixing, memohon maaf dan sekarang ia disini, berdiri dengan kikuk di ambang pintu kamar UGD Luhan, ada apa dengan dirinya?
"Ada apa denganmu Minseok?"
"Aku tidak apa?"
"Lalu kenapa masih disana?"
Luhan menaikan alisnya memandangi Minseok yang berdiri dengan keraguan, seperti seorang gadis diundang masuk kedalam kamar seorang pria yang mendapat predikat Casanova.
"Anda-
"Maafkan aku" Sebelum Minseok mengucapkan perkataannya, Luhan menyela lebih dulu, dia harus meminta maaf, Luhan dirundung perasaan tidak enak beberapa hari, pasalnya untuk beberapa kejadian dia melihat Minseok menangis dan semua disebabkan oleh Luhan.
"Untuk apa?"
"Ini tentang waktu itu, ketika aku mengatakan mengenai keluhan tuan Cho dan rombongannya. Aku berbohong untuk itu, aku lepas kendali, aku hanya tidak tahu bagaimana bertanya."
"Memang apa yang ingin kau tahu?"
Luhan menatap Minseok, dari tatapannya sepertinya Minseok sudah melupakan kejadian itu.
"Aku- kenapa kau berdiri bersembunyi sambil memperhatikan tuan Cho"
Minseok mengedipkan matanya beberapa kali, kenapa? Karena aku merindukan ayahku. "Karena aku mengaguminya, aku pernah melihat berita mengenai Cho Kyuhyun"
Menjadi suami yang diidamkan banyak orang – Cho Kyuhyun utamakan anak dibandingkan perusahaan. Cho Youngho kecil pernah mengalami sakit yang membuatnya sampai usia lima tahun tidak bisa berjalan, Cho Kyuhun rehat dari semua urusan bisnisnya dan full mencurahkan kasih sayang agar anaknya tidak merasa berkecil hati.
"Kupikir pasti menyenangkan jika ayahku semacam dia, ketika berita tuan muda Cho lumpuh, aku-
"Suster akan menjagamu Minseok. Ingat jangan hubungi paman-pamanmu karena mereka sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri"
Minseok kecil mengangguk lemah dibangsal rumah sakit setelah kakenya mengatakan hal itu. Minseok sudah sadar, dia mengalami koma selama satu minggu karena jatuh, ia diantar ke rumah sakit dan dijaga oleh staff rumah sakit. Minseok tidak tahu kenapa dia bisa jatuh namun hal terakhir yang dia ingat adalah dia menonton berita mengenai keluarga Cho dimana anak pertama mengalami sakit yang menyebabkannya lumpuh. Minseok berfikir mungkin saat itu dia tidak fokus, adiknya belum bisa berjalan meski sudah lima tahun sehingga kaki kecilnya menyandung batu hingga jatuh, entahlah.
"Harabeoji akan pergi?" Minseok biertanya ketika kakenya meraih mantel hitam yang tersampir di kursi duduk. "Aku harus kembali ke kantor, jadilah anak baik dan lekaslah sembuh"
Pintu tertutup kemudian. Si bocah gembul membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya, tiba-tiba rasa iri dan sakit hati menyeruak dalam dada, mendadak ia membenci semua hal. Pikiran bocahnya merancau, kenapa? Dia sakit, tapi kenapa tidak ada yang menjaganya, untuk pertama kalinya seumur hidup, Minseok mengalami sakit dan masuk kerumah sakit, biasanya paling-paling dia sakit perut karena kelaparan, ia tidak makan dengan baik, tapi sekalinya makan ia akan memakan semua yang bisa masuk kedalam perut yang menyebabkan perutnya begah.
Atau jika tidak dia akan sakit kepala karena terlalu banyak membaca buku, belajar dan latihan olahraga. Kali ini dia sakit sungguhan, dirawat rumah sakit, tapi sama saja, dia seorang diri dan tidak ada yang menjaga, sementara yang lain. Sampai rehat bekerja demi menemani anaknya yang sakit, kenapa tidak ada yang melakukannya untuk Minseok, tidak butuh banyak orang, satu saja. Setidaknya dengan begitu dia merasa hidupnya sedikit berarti.
"Aku juga sedang sakit"
"Apa kau mengalami hal yang sama seperti Youngho?"
"Sakitku bukan sesuatu yang membahayakan, karena seharu setelah aku bangun aku diperbolehkan pulang, tapi sejak saat itu aku bersumpah akan menjaga kesehatanku seumur hidup, jika aku sakit meski itu hanya sehari, kupikir lebih baik aku langsung mati besoknya"
"Hey, kenapa pikiran orang-orang Korea seakan menggampangkan kematian, kau tidak berfikir bagaimana keluargamu yang kau tinggalkan itu akan menimbulkan luka" Luhan membuang pandangan dari Minseok saat mengatakan hal tersebut tidak ingin menunjukan wajahnya yang berkeruh tiba-tiba, sehingga tidak mengetahui kalau Minseok menjatuhkan air matanya dan segera dihapus.
"Jika kau menjadi aku saat itu, kau pasti akan mengatakan hal yang sama"
"Lalu apa setelah itu kau tidak pernah sakit lagi?"
Minseok mengangguk, sejak saat itu Minseok tidak pernah sakit, bisa dibilang Minseok hanya sakit parah satu kali seumur hidupnya, lupakan tentang hatinya yang sakit tak berdarah.
…
"Luhan hyung kan sudah besar, kenapa samchon khawatir sekali sih"
Sehun memasukan kripik kentang kedalam mulut dengan kesal, pamannya itu menunggu anak bujangnya tapi seperti menunggu anak perawan belum pulang, ya ampun Luhan itukan laki-laki sudah dewasa pula, jadi tidak perlulah sekhawatir itu. Lagipula Luhan punya apartemen jadi jika tidak pulang kemari ya paling diapartemennya.
"Kalian sungguh sedang marahan?" Hangeng melemparkan ponselnya keatas meja dan dia duduk disamping Sehun, merebut toples kripik dan mencomotnya, memasukan dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Sehun.
"Aku sudah menceritakan, kenapa samchon masih bertanya lagi, itu benar-benar membuatku kesal" Hangeng menhela nafas, dia sudah dengar, Sehun sudah bercerita tapi ia tidak habis pikir dengan maksud cerita itu. Kenapa? "Kenapa Luhan sampai berkata sekasar itu?"
Jadi Sehun hanya bercerita mengenai ia kesal terhadap Luhan karena mengatai gurunya menjijikan, yang benar saja, itu keterlaluan dan Sehun memang pantas marah.
"Aku tidak tahu kenapa mereka semua jadi membicarakan hal-hal aneh, intinya Miseok hyung mengungkapkan kalau dia membenci pasangan sejenis"
Hangeng tersedak kripiknya setelah mendengar perkataan Sehun, apa tadi? Pasangan sejenis?
"Ya ahjussi"
"Apa tadi kau bilang? Pasangan sejenis? Apa maksudmu? Luhan marah kalau ada yang tidak menerima? Apa?"
"Mungkin Luhan hyung menyimpang makanya dia merasa tersinggung- Aa"
Hangeng memukul keras punggung Sehun. "Jangan aneh-aneh kalau bicara tuan Oh" dan yang lebih tua pergi begitu saja dari sana"
…
Anak dari sesama sejenis? Luhan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Minseok yang terlelap bertumpu lengan. Minseok tidur dirumah sakit untuk menemani Luhan dan besok akan mengantarnya pulang, seperti musim semi semerbak bau harum menyeruak dari dalam perutnya, Luhan suka fakta itu.
"Kau tidak menjijikan Minseok" Luhan membisik supaya tidur Minseok tidak terganggu, dia sedang mengamati, merekam semua hal yang terlihat begitu indah. "Maaf berkata sekasar itu padamu"
Luhan kecil dan Minseok kecil bertatapan, tatapan mereka sengit penuh kemarahan meski terhalang air yang menutupi bola mata indah dua bocah tersebut.
"Aku akan tunjukan kenapa aku marah"
Luhan kecil maju satu langkah demi satu langkah mendekat, dengan gerakan secepat mungkin, Luhan kecil menarik pundak Minseok.
Ia menabrakan bibir mungilnya diatas bibir mungil yang lain. "Aku suka padamu Minseok"
…
To Be Continue…
…
Ahirnya aku update yang ini. Aku tuh ngrasa lama banget sampe mau kaya ilang ide untuk nglanjut FF ini, tapi gak boleh. Aku harus lanjut, mempertanggungjawabkan apa yang sudah aku lakukan dong hehe, ah iya kayaknya aku punya kecenderungan menulis sesuatu yang sedih, hampir semua FFku itu sedih, duhduh maafin aku, kalian jangan sedih-sedih. We going Ko Ko Bob, duh bawaannya mau nyanyi aja sejak lagu itu bertengger di playlist hp. Aku banti pane name, jadi panggilnya Babee-nim ya. Ini untuk menyamakan sama wattpad hehe. Terimakasih untuk semua yang mau baca, foll, rev, fav. Cinta kalian.
