Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia.
.
.
Cerita ini terlalu membosankan, kenapa? Karena selalu berisi kisah sedih, kisah sedih tokoh utama yang selalu menguras air mata. Bisakah cerita ini menjadi sebuah kisah yang bahagia? Aku sangat ingin membaca sebuah kisah bahagia. Kisah dimana tokoh utama dan tokoh pendamping pemeran utama bahagia, tertawa, tersenyum dan melakukan hal manis disetiap scene.
.
.
a Fanfiction
by
Moonbabee
.
.
"Minseok"
Luhan datang lagi. Hari ini dia bergaya dengan sangat santai dan menebarkan senyuman yang sangat lebar membuat Minseok dan Sehun berpandangan bingung. Dua pemuda beda tinggi dan usia itu saling menatap, tukar pandang sebelum semua pandangan jatuh pada tangan Luhan yang menarik pergelangan tangan Minseok seraya melemparkan kunci mobil pada Sehun. "Kau pulanglah dengan mobilku, aku ada urusan dengan Minseok."
Tanpa menunggu jawaban, Luhan sudah membawa Minseok pada parkiran dimana Minseok memarkir mobil yang bentuknya sangat tidak sesuai dengan Minseok, mobil itu terlihat terlalu maskulin, terlalu keren dan terlalu manly. Mobil warna hitam yang merupakan mobil keluaran KIA. "Ini mobil milik Jongdae, dia meninggalkannya karena setelah tahun baru dia kembali kesini, ini bukan milikku." Kata Minseok.
Lelaki berbadan kecil itu tahu apa maksud dari tatapan Luhan, mobil seperti ini memang terlalu keren jika dia yang memkai dan Minseok terlalu sayang mengeluarkan uang banyak hanya untuk membeli mobil semacam ini toh dari perusahaan diberikan fasilitas kendaraan.
"Aku tidak tanya Minseok"
Minseok mengedikan bahu sambil membuka pintu mobil dan masuk. "Kau memang tidak tanya tapi tatapanmu mengatakan kalau mobil ini terlalu keren untukku."
"Kau ini sensitive sekali."
"Aku tidak sensitive, tapi memang demikian. Lagipula untuk apa kau mengikutiku? Ada urusan apa?"
Luhan ikut memasuki mobil disamping kemudi, menolehkan kepalanya lalu menyunggingkan senyuman yang sangat lebar lagi. "Aku ingin minta maaf, untuk segalanya yang telah aku lakukan padamu dan katakan padamu. Minseok maukah kau menjadi temanku?" kata Luhan sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada Minseok.
.
.
"Kau sudah bertemu dengannya?"
Luhan membalikan badannya mendengar pertanyaan beruntun yang membuat kepalanya berdentum-dentum, apa maksud ayahnya? "Maksud baba?"
"Lee Minseok? Dia adalah anak yang jatuh bersamamu dari lantai dua disekolahmu dulu"
"Lee Minseok? Namanya Kim Minseok, Ba. Bagaimana baba tahu kalau dia-dia yang jatuh bersamaku?"
Hangeng menatap Luhan sebelum menceritakan hal yang sudah lama dia pendam sendiri, anak yang jatuh bersama Luhan yang sangat mirip dengan sahabatnya.
"Saat kau sadar, itu diminggu kedua setelah kecelakaan. Kau sadar lebih dahulu dari Minseok tapi ketika aku bertanya apakah kau mau melihat temanmu untuk menanyai keadaannya, kau berteriak histeris dan mengatakan dia bukan temanku, dia jahat dan kau membencinya. Lalu kau meminta untuk segera pulang ke Beijing, malamnya kita langsung terbang ke Beijing dan kau menjalani perawatan disini"
.
.
"Jangan menangis" seorang bocah gembul menghapus air mata seorang bocah berbadan kurus yang sedang duduk sambil menangis di pojok kelas sendirian, jam istirahat sudah dimulai tapi bukannya keluar anak itu malah menangis dipojok dan tidak mau keluar sehingga si gembul mendekatinya.
Dengan senyuman bulat bakpau isi dagingnya dia tunjukan pada sibocah kurus. "Jangan mendekat padaku, kau sama saja"
Sikurus menepis tangan gembul itu. "Kita sama-sama anak baru. Bagaimana bisa kau mengatakan kalau aku sama saja dengan mereka" katanya lalu bersidakep dada dan berjongkok dihadapan si kurus. "Kau tidak punya teman, aku tidak punya teman jadi bagaimana kalau kita berteman saja? Maukah kau menjadi temanku?" Si gembul mengulurkan kelingking kecilnya yang seperti sosis pada si kurus.
Dimasa lalu hal ini terjadi. Batin Luhan dengan senyuman semakin lebar.
Minseok bukannya langsung mengaitkan jarinya pada Luhan, dia malah mengedipkan matanya sambil menatap kelingking itu. "Berteman itu bukan hal yang mudah Luhan."
"Aku baru mengenalmu dan kau baru mengenal aku, jadi bagaimana bisa kau menganggapnya sulit, jadi aku tanya sekali lagi, maukah kau menjadi temanku?"
Si kurus menerima uluran si gembul. "Minseok"
"Luhan"
"Mari kita berteman Luhan"
"Mari kita kerumahmu Minseok"
"Apa?"
"Hey, awal menjalin pertemanan adalah mengunjungi rumah temannya, jadi ayo kerumahmu. Kau kan sudah kerumahku jadi, temanku mari ajak temanmu ini berkunjung."
"Kalau kau kerumahku aku akan menunjukan semua isi rumahku, rumahku sangat besar, barang-barang ayahku sangat keren, dia adalah tentara dan sekarang dia menjadi pelatih di camp militer. Kalau dirumahmu ada apa saja?"
"Banyak orang"
"Banyak orang? Wah pasti rumahmu sangat ramai ya? Apa aku bisa berkunjung kerumahmu?"
Si kurus menoleh antusias sedangkan si gembul hanya memberikan senyuman terbaiknya pada sahabatnya. "Kau tidak akan suka disana, disana tidak ada mainan dan tidak ada hal keren"
"Aku akan membawa mainan kalau begitu, kita bisa main bersama dan mengajak orang-orang bermain, mereka tidak nakal kan?"
"Kau tidak bisa main dengan mereka, aku tidak pernah main dengan mereka, mereka tidak nakal tapi"
"Dirumahmu pasti tidak ada yang keren ya Min, ck kalau begitu kerumahku saja"
Minseok mengerutkan keningnya, dia menoleh sebentar lalu memandang lurus lagi. "Ada apa dengan suaramu Luhan?" Minseok keheranan, Luhan bersuara serak dan langsung membuang pandangan ke jendela.
Aku seperti membaca kisah sedih, sial kenapa bayangan yang muncul harus membuatku terenyuh. "Kerumahku saja, ada mainan keren dirumahku."
"Mainan?"
Lalu Minseok tergelak dengan hebat, tawa yang tidak pernah Luhan dengar, air yang hampir jatuh dari mata sontak terhenti dan Luhan menoleh kesampingnya. "Kau pikir aku bocah yang datang kerumah temannya untuk meminjam mainan, astaga aku ini sudah dewasa dan tidak butuh mainan." Minseok masih tergelak, Luhan menatapnya dan perlahan ikut tertawa. Cantiknya.
"Tapi baiklah, aku akan kerumahmu, kita lihat mainan kerenmu itu, buat aku tersanjung dengan melihat sisi lain pimpinan kerjasama 3 perusahaan"
Jika hidupmu hanya berisi kisah sedih, mulai hari ini aku akan membuatnya menjadi kisah bahagia. Minseok, aku tidak tahu kenapa aku menolak melihatmu dulu, tapi aku akan mencoba mengingatnya dan jika kau memang salah satu kepingan pahit hidupku aku tidak akan menyesal telah membuatmu tertawa tapi kurasa ada kesalah pahaman, jika memang kau kepingan pahit mana mungkin aku sangat ingin mengenalmu. Aku mulai mengingatmu dan aku ingin mengenalmu kembali Minseok.
.
.
Ayahku adalah seorang tentara.
"Luhan anak tentara" Minseok berkata ketika melihat foto Luhan kecil mengenakan baju tentara dan duduk dibawah pohon bungan dengan senyuman kekanakannya.
Minseok terus mengelilingi dan menjelajahi jajaran foto yang terpajang diseluruh meja, nakas, dinding dan atas lemari, semuanya tentang Luhan, dari bayi Luhan sampai Luhan yang sekarang, mulai dari ketika difoto menangis sampai sekarang pintar bergaya.
Orang tua Luhan pasti sangat menyayangi anak mereka, Luhan anak tungal dan mereka memajang foto Luhan diseluruh ruangan. Perkembangan Luhan terpantau dengan baik.
Jemari Minseok berheti pada jajaran foto Luhan bersama ayahnya. Mulai dari Luhan latihan sepak bola, berada di TK dan menangis karena dirubungi gadis-gadis. Luhan sepertinya popular.
"Aku sangat membenci ayahku" Luhan datang dan langsung menutup deretan foto dimana dia bersama ayahnya. "Tidak ada ayah yang paling jahat selain ayaku. Dengan teganya dia memotret aku ketika menangis dihadapan para gadis, astaga dia menjatuhkan harga diriku" Luhan mengoceh.
"Aku juga membenci ayahku" Luhan menoleh sebentar pada Minseok, sebentar lalu sibuk kembali pada jajaran fotonya. "Kurasa anak laki-laki cenderung membenci ayah mereka, tapi daripada membenci ayahku aku lebih membenci ibuku." Luhan mendengus, ada kesedihan dimatanya. "Dia meninggalkan aku sesaat setelah melahirkan aku. bukankah dia kejam"
"Aku juga membenci ibuku"
Air mata Luhan menetes tanpa bisa di kontrol lalu mendekat pada Minseok. "Berhenti mengikuti aku Minseok, dasar peniru ulung"
"Rupanya kita punya nasib yang mirip ya" Minseok terkekah kecil. "Ibuku juga meninggal setelah melahirkan aku" Dan aku membenci karena fakta itu, kenapa dia melahirkan aku untuk dibenci, seharusnya dia menuruti perkataan orang tuanya, membunuh aku dan dia hidup dengan benar, dia pasti menjadi orang hebat, daripada melahirkan aku yang tidak berguna. Dia sungguh menyia-nyiakan nyawanya demi aku.
"Kurasa begitu, jadi mari menangislah bersamaku Minseok, kurasa benci kita adalah sesuatu yang sejenis, aku benci tapi rindu" Luhan memeluk tubuh Minseok dengan sangat erat. Dan mereka menangis bersama, Minseok membalas pelukan itu sampai keduanya menangis tersendu, terisak kemudian tergelak.
"Kita sungguh sahabat sejati" Luhan berkata lebih dahulu.
"Terimakasih Luhan"
"Terimakasih Minseok"
"Untuk?"
"Mau menjadi temanku"
"Mari berteman selamanya Minseok"
"Mari berteman selamanya Luhan"
"Apa aku melewatkan sesuatu?"
Sebuah suara berat terdengar, Hangeng Tan – ayah Luhan datang dengan seragam militernya, dia mungkin sudah berumur namun seragamnya membuatnya terlihat gagah dan senyuman cerianya meruntuhkan kesan keras pekerja militer. "Baba"
Luhan melepaskan pelukan dari Minseok dengan kening menaut, "Kau tampak seperti ibu-ibu komplek yang abru saja belanja."
"Aku memang ibumu, ayahmu, temanmu, kakakmu dan rivalmu untuk menarik hati para gadis"
"Astaga, kau sudah terlalu tua, sini aku yang bawa, nanti kau encok"
"Dasar sialan"
"Ngomong-ngomong kemana mobilmu?"
Luhan menyerahkan satu belanjaannya pada Minseok lalu menyuruh pemuda yang hanya berdiri sambil memperhatikan untuk membawanya kedapur. "Tata sekalian Minseok, kami buruk dalam hal bebenah" Luhan berteriak. "Dasar keterlaluan, dia tamu bodoh"
"Toh dia mau" Luhan mengedikan bahunya. "Mobilku dibawa Sehun."
Hangeng dan Luhan muncul dengan belanjaan lain dan ketika mereka sampai di dapur mereka cukup terkejut dengan kerja Minseok. "Kau benar laki-laki Minseok?" Hanggeng bertanya dengan polos. "Maksud paman?"
"Kau menata semua belanjaanku dengan sangat rapi, kau yakin kau laki-laki? Luhan jujur mengenai buruk dalam berbenah aku-
"Dasar ayah macam apa sih, menjelek-jelekan anaknya sendiri" Luhan menendang pantat Hanggeng yang membuat lelaki itu mengaduh. "Dasar sialan."
Mata Minseok melihat Luhan adalah dirinya dan Hangeng adalah Kyuhyun. Membayangkan bagaimana kedekatan mereka selayaknya teman pasti menyenangkan, jangan bermimpi Minseok, memanjat terlalu tinggi ketika jatuh sakit. Apalagi kau sangat buruk saat memanjat.
"Kakekku sangat tidak menyukai sesuatu yang brantakan"
Minseok membalikan badan dan melanjutkan menyimpan belanjaan milik Hangeng, "Karena kakekku pernah terpeleset penghapus sekolahku dan masuk rumah sakit, dia punya dahar tinggi" jika bersamaku.
"Sudahlah baba pergi saja sana, kau disini hanya menjelek-jelekan aku saja, aku akan kekamar bersama Minseok setelah ini. jangan ganggu anak muda"
"Menjelek-jelekan laki-laki didepan laki-laki itu tidak masalah Luhan, takut sekali kalau aibmu terbongkar. Minseok hati-hati ya, Luhan sangat mudah jatuh cinta, apalagi melihat yang montok-montok"
"Baba"
"Sudahlah, jangan dengarkan orangtua itu. Maklum dia sudah menduda selama 27 tahun, dia suka yang montok-montok"
Minseok tidak mengerti, sebenarnya apa maksud Luhan dan Hangeng. "Jangan dipikirkan, itu hanya joke tidak bermutu. Ayo kekamarku."
.
.
Hangeng memandang album foto dirinya dan teman-temannya termasuk isterinya disana, album foto yang hampir tiga dekade yang tidak pernah dia tunjukan pada siapapun termasuk Luhan, foto aneh-aneh dan foto dia bersama teman-temannya melakukan gila-gilaan. "Dia sungguh mirip denganmu" seseorang yang duduk disampingnya, senyuman bulat dengan mata yang tetrlihat begitu ceria dan penuh kebahagiaan.
"Syangnya tatapannya tidak sebahagia dirimu, beban dan derita, dia seperti menanggung itu seumur hidupnya" Hangeng menghela nafas, membalik halaman lagi yang masih ada gambar seseorang yang mirip dengan Minseok.
Ia berpose dengan dirinya, hanya berdua dan disana Hangeng memandangnya dengan lembut. "Satu tipe, kurasa cara pandang kami sama"
.
.
Antara Cinta, Takdir dan Pengorbanan.
Antara cinta kita, takdirku atau pengeorbanan untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan.
Aku mencintaimu dan kau mencintaiku, tapi aku tidak ditakdirkan untukmu dan kau tidak ditakdirkan untukku. Jadi aku akan mundur, kau dan kehidupan sempurnamu memang sangat cocok dengan dia yang juga sempurna, jangan hiraukan aku, kumohon.
Cinta adalah sesuatu dimana mengorbankan dan menjadi korban, aku berkorban untukmu, untuk cinta kita dan takdir yang ada. Aku bukan korban dan kau tidak mengorbankan aku, semuanya karena memang seperti inilah jalannya.
.
.
Luhan terbangun dari tidur siangnya dengan nafas terengah dan baju yang basah, rambut basah juga seluruh tubuh, seakan Luhan baru terjebur pada kolam renang lalu dijatuhkan pada tempat tidur, dia terkejut hebat, segera dengan panik dia duduk, tapi begitu melihat seseorng tidur pula disampingnya dengan lelap seperti bayi, panik itu luruh seketika, tapi tidak berapa lama air mengalir dari mata.
Luhan memejamkan mata sambil dirinya mengatur nafas, menetralkan detak jantung yang bergemuruh seperti akan terjadi badai. "Mimpi apa itu?" kata Luhan setelah meneguk habis satu gelas minuman yang ada dinakas.
Bertumpu dengan tangan Luhan memperhatikan wajah tidur Minseok, dia mengenang lagi, mengingat sejak pertemuan awal dengan Minseok sampai saat ini.
"Aku mulai mengingatnya Minseok" Luhan berucap pelan, tidak mau mengganggu tidur cantik Minseok yang terlihat begitu damai. Iseng Luhan mengambil ponselnya, membidik wajah terpejam Minseok menggunakan kamera ponselnya. Melihat betapa indahnya Minseok, Luhan terkikik.
Luhan bermaksud memandangi Minseok, wajah Minseok, hidung, mata tapi pandangannya malah jatuh tidak bisa berpaling pada belahan bibir itu. Dia sangat ingat. Kemarin malam dia mengecupnya, mencium sampai sebuah ingatan panjang diwaktu kejadian mereka berdua jatuh.
Apa yang membuat mereka bertengkar? Dan bagaimana mungkin dia gila, jadi dia gila sejak kecil, anak SD memiliki pemikiran untuk mencium seseorang itu juga gila kan? Tapi, pipi Luhan merona, menundukan wajah semakin dekat hingga nafas Minseok terasa pada ujung hidungnya.
Mencium Minseok, dia jadi ingat siapa anak yang jatuh bersamanya, apakah? Apakah jika dia mencium lagi dia akan mendapatkan sedikit demi sedikit ingatannya? Tanpa bersusah-susah? Hanya mencium saja?
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Oh" reflek, Luhan menjauhkan dirinya, bringsut menuju ujung tempat tidur saat Minseok membuka mata secara mengagetkan seraya bertanya. "K-kau sudah bangun?" Luhan bertanya gugup, Minseok mengangkat tubuhnya sambil mengulat.
"Eoh, kau bergerak-gerak terus"
"Benarkah? Ah maafkan aku"
Minseok mengernyit, Luhan terlihat aneh, kenapa harus minta maaf? Lagipula dia memang sudah harus bangun, ia sudah banyak tidur dan justru Minseok harus berterimakasih dengan Luhan, dia bisa tidur dengan nyenyak, sudah berapa hari dia kesulitan tidur. "Terimakasih" Minseok merangkak mendekat, duduk bersandar pada kepala ranjang sambil memandang kesamping. "Untuk?"
Minseok mengerucutkan bibirnya, menatap lurus pada tembok berisi gambar-gambar club sepak bola. "Aku mengalami insomnia belakangan, dan berkat kau aku bisa tidur dengan nyenyak"
"Kau bisa menginap disini jika kau butuh tidur berkualitas, aku akan menidurkanmu dengan nyaman"
"Maksudmu?" perkataan Luhan terdengar ambigu, menidurkan?
"Ahaha, maksudku, aku akan mengarangkan sebuah cerita supaya kau tidur dengan nyaman, agar semakin akrab, chingu-ya" Luhan berdeham di akhir kalimat. "Tidak bisa, aku banyak pekerjaan."
"Dasar workaholic" Luhan mencibir.
"Bukan workaholic tapi memang tanggung jawab, aku tidak bisa lari dari tanggungjawabku"
Tanggap Minseok atas cibiran Luhan. Diam, tidak ada yang bicara, keduanya menatap lurus kedepan sampai Luhan menoleh kesamping, memerhatikan Minseok, bagaimana wajahnya, bulu matanya, pipinya dan lagi-lagi matanya jatuh pada bibir Minseok, namun bukan keinginan untuk mencium sekarang yang muncul.
Sebuah bingkai senyuman bocah yang menggemaskan, pipi Minseok sudah tidak sebulat ketika dia kecil, tapi lemak bayi yang enggan hilang mastih terlihat, Minseok masih gembul dan menggemaskan, sebuah kebahagian membuncah dalam hati Luhan, kurasa aku suka padamu Minseok, selain karena aku mulai mengingat dirimu, ada satuhal yang lebih aku suka, karena itu kau. Kim Minseok.
"Ya!" Minseok memekik, karena Luhan tiba-tiba memeluknya sangat erat, menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Minseok dan lelaki berwajah bayi itu merasakan bibir Luhan menempel disana.
"Nan bogoshipo" bisik Luhan, tanpa menjauhkan wajahnya dari leher Minseok, bibirnya bergerak tepat pada permukaan kulit Minseok yang super halus, Minseok benar-benar seperti bayi, bukan saja wajahnya, kulitnya juga.
"Aku pasti merindukanmu" bocah gembul itu menepuk-nepuk telapakan tangan bocah kurus yang ada dalam genggamannya. Liburan semester sudah datang, waktunya penghuni asrama kembali kerumah, begitu juga Luhan dan Minseok, mereka kembali, Luhan sudah dijemput dan dia menangis pasalnya akan berpisah dengan Minseok untuk waktu yang lama, dia akan kembali ke negaranya.
"Nado" Minseok bergerak maju dan mengusap lelehan airmata yang mengalir dari mata rusa milik Luhan. "Aku akan lebih merindukanmu, jangan menangis, kau bilang kau manly"
"Memangnya manly tidak boleh menangis? Boleh saja kan"
Minseok terkekah. Luhan ini lucu sekali. "Boleh, tapi kau menangis seperti bayi kehilangan empengnya. Sudah diam, sana pergi kau bilang ayahmu menunggu, aku mau ke halte"
"Kau tidak menunggu jemputan?"
"Makanya aku harus kehalte jemputanku ada disana"
"Minseok berikan nomor ponselmu, aku akan menghubungimu kalau sudah sampai"
…
Minseok menyentuh dadanya sebelah kiri, saat ini jam sudah menunjukan pukul delapan malam, dia sudah pulang dari rumah Luhan dan sedang bekerja depan laptop ketika ponselnya berbunyi nyaring. Itu Luhan.
Hatinya berdentum.
Minseok dan Luhan duduk dilantai saling diam, mereka bingung dengan apa yang akan mereka lakukan, baik Luhan maupun Minseok, sebenanya mereka tidak terlalu dekat, malah dihampir semua pertemuan dan interaksi, mereka selalu bertengkar dan tidak bisa disebut sebagai teman, Luhan sudah banyak melakukan kesalahan, sekarang mereka malah duduk bersama didalam ruangan, ruangan pribadi bernama kamar yang tidak lain kamar Luhan.
Sesuatu yang sangat aneh, Luhan sangat tidak menyukai seseorang masuk kedalam kamarnya, termasuk ayahnya, untuk membersihkan kamarnya Luhan lebih suka menggunakan jasa robot, tapi kenapa dengan mudah ia membiarkan Minseok masuk? Mengamati seluruh ruangan dan sesekali berdecak.
Ini aneh, Luhan seharusnya tidak suka, tapi ini sebaliknya, entah mengapa, meski hanya duduk berdua tanpa melakukan apapun, Luhan senang.
"Kita mau apa?" Minseok bertanya pada Luhan, memecah lamunan Luhan yang juga kebingungan. "Kita mau apa?" Luhan balas bertanya, Minseok menatap Luhan dengan kening berkerut, Luhan tertawa karena itu. "Aku juga tidak tahu" Luhan tertawa kemudian menjatuhkan tubuhnya, ia berbaring terlentang, tidak lama setelah itu, Minseok juga melakukan hal yang sama, ia berbaring, kepalanya dijatuhkan pada perut Luhan dan menutup wajahnya dengan topi yang ia kenakan. "Kalau begitu aku mau mencoba tidur" Kata Minseok. "Aku lelah tapi belakangan tidak bisa tidur"
Mereka kemudian diam, Minseok sedang mencoba tidur dan Luhan mencoba menetralkan nafasnya, perutnya pasti kembang kempis dalam tempo yang cepat, jantungnya gemuruh tiba-tiba, dia harus menahan nafas, tapi berapa lama? "Aku akan sulit bernafas kalau kau tidur seperti ini Minseok" Luhan berucap sebiasa mungkin, supaya suara gugupnya tidak terdengar.
Minseok mengangkat diri, duduk bersila kemudian, memakai topinya dan memandang lurus, Luhan terkekah. "Aku bercanda, kau bisa tiduran lagi" katanya, menepuk-nepuk perutnya yang tdai digunakan sebagai bantal.
"Tidak mau" oh, Minseok terdengar merajuk. Luhan bangun, masih dengan kekahan, ia menslonjorkan kakinya, mengulurkan tangannya pada leher Minseok. "Oho, kau merajuke?"
Minseok tidak menjawab, membiarkan Luhan menekan-nekan lehernya, biarlah, toh enak, seperti sedang dipijat. Tapi tawanya sungguh menyebalkan, sampai dia menarik tangannya Luhan masih terkekah-kekah, Minseok kesal, sekarang gantian tangannya yang terulur.
Menjepit mulut Luhan seraya sedikit menarik. Minseok tersenyum geli, "Bibirmu seperti bebek"
Luhan menatap jari Minseok yang menjepit bibirnya, lalu melihat pada senyum yang tersungging disana, manis sekali. "Bibirku sangat seksi ya?"
Minseok mendengus. "Seperti bebek"
"Ada apa?" Minseok mengangkat panggilan itu.
…
"Sedang apa?"
Luhan menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur dan memeluk bantal yang tadi siang digunakan Minseok untuk tidur.
[Mengerjakan laporan kerja]
Luhan berdecak, merasa kesal kenapa Minseok suka sekali berkutat dengan pekerjaan, Minseok seperti robot pekerja padahal dia yang pimpinan pada beberapa pekerjaan saja santai, Luhan malah pimpinan pekerjaan gabungan dengan tiga perusahaan besar, dia masih bisa bersantai dan bermain-main, tapi Minseok malah sibuk sendiri.
[Kenapa kau berdecak?]
"Kau itu tidak punya kehidupan pribadi ya Min? Aku tidak pernah melihatmu santai barang sedikit, kau lembur di jam aktif kerja, lalu dihari libur kau masih bekerja, menjadi guru ketika siang dan malamnya mengerjakan pekerjaan kantor, kurasa ini bukan sekedar karena tanggung jawab, kau memang workaholic" kata Luhan panjang.
[Memang ada yang salah ya jika aku workaholic? Kenapa kau yang protes? Kau seperti-]
Alis Luhan terangkat. Kenapa Minseok tidak melanjutkan perkataannya, seperti apa? Dia seperti siapa?
"Minseok?"
…
"Memang ada yang salah ya dari workaholic? Kenapa kau yang protes? Kau seperti- babak-bapak, bapakku saja tidak pernah protes. Minseok terhenti pada setengah kalimatnya, yang setengah lagi ia lanjutkan dalam hati.
Bahkan ayahnya tidak peduli sama sekali padanya, bahkan tahu kalau dia punya anak lain selain anaknya saat ini juga belum tentu, Kyuhyun belum tentu tahu jika anaknya bukan hanya Yeongho.
[Minseok?]
"Kau seperti nenekku, crewet"
Minseok jadi merindukan neneknya, nenek yang selalu menyayanginya dan menemaninya makan malam, selalu suka ketika Minseok mengalami kenaikan berat badan, ketika Minseok kesusahan berlari dan berakhir jatuh, neneknya akan tertawa, memuji betapa lucu dan menggemaskan dirinya. Sayangnya orang baik selalu cepat dipanggil tuhan.
[Aku bertanya, Baozi. Kau malah mengejek, hey aku terlalu tampan untuk menjadi nenek-nenek]
Minseok terkekah kecil, dia suka saat Luhan memanggilnya Baozi, "Kenapa kau memanggilku seperti itu? Mengejek aku? Aku gendut begitu?"
Luhan terdiam diujung sana, Minseok yakin kalau Luhan sedang gugup, kenapa? Ia mendengar deru nafas Luhan tidak beraturan, ada yang salah dengan pertanyaannya.
[Itu karena kau imut]Tut…tut…tut.
Sambungan diputus oleh Luhan, apa yang diucapkan Luhan barusan? Melantur ya? Sedang memandangi ponselnya karena keheranan akan sikap Luhan, tidak berapa lama ponselnya bergetar lagi.
[Aku akan tidur, Minseok-ah jaljayo] Luhan mengirimkan pesan singkat.
…
To Be Continue…
…
Ada yang inget aku? Nunggu aku? Kangen aku? Huuuu, pedenya selangit. Hay hay hay, aku balik lagi. Apa ini terlalu lama? Maaf kalo kelamaan. Hehe, kemarin-kemarin aku keasikan di wattpad. Sebenernya belakangan lagi sambal bikin FF baru, jadi FF yang udah di publish nggak sengaja aku anggurin. Jeongmal mianhe.
